Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

PENYAKIT REUMATIK (ARTHRITIS REUMATOID)

Disusun oleh:
NAMA : ROSID SAPUTRA., S.KEP
NIM : 141490135440065

PROGRAM PENDIDIKAN KEPERAWATAN PROFESI NERS


SETIKes HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2015
REUMATIK (ARTHRITIS REUMATOID)

A. PENGERTIAN
Reumatik adalah gangguan berupa kekakuan, pembengkakan, nyeri dan
kemerahan pada daerah persendian dan jaringan sekitarnya (Adellia, 2011).
Artritis Reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
(Arif Mansjoer, 2005).
Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak
sampai usia lanjut.Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur
(Felson dalam Budi Darmojo, 2002).
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak
diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam
membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan
deformitas lebih lanjut (Susan Martin Tucker, 2003).

B. KLASIFIKASI ARTRITIS REUMATOID


Buffer (2010) mengklasifikasikan reumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:
a. Reumatoid arthritis klasik
Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
b. Reumatoid arthritis deficit
Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
c. Probable Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
d. Possible Reumatoid arthritis
Pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus
berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu :
a. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak
maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
b. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi
juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
c. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

C. ETIOLOGI
Hingga kini penyebab Remotoid Artritis (RA) tidak diketahui, tetapi
beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA dipengaruhi oleh faktor-faktor :
a. Mekanisme IMUN (Antigen-Antibody) seperti interaksi antara IGC dan
faktor Reumatoid
b. Gangguan Metabolisme
c. Genetik
d. Faktor lain : nutrisi dan faktor lingkungan (pekerjaan dan psikososial)
e. Penyebab penyakit Reumatoid arthritis belum diketahui secara pasti,
namun faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas (antigen-
antibodi), faktor metabolik, dan infeksi virus (Suratun, Heryati,
Manurung & Raenah, 2008).
D. MANIFESTASI KLINIS/TANDA DAN GEJALA
Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti :
a. Nyeri persendian
b. Bengkak (Reumatoid nodule)
c. Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
d. Terbatasnya pergerakan
e. Sendi-sendi terasa panas
f. Demam (pireksia)
g. Anemia
h. Berat badan menurun
i. Kekuatan berkurang
j. Tampak warna kemerahan di sekitar sendi
k. Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
l. Pasien tampak anemik
Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti :
a. Gerakan menjadi terbatas
b. Adanya nyeri tekan
c. Deformitas bertambah pembengkakan
d. Kelemahan
e. Depresi
Jika ditinjau dari stadium penyakit, terdapat tiga stadium yaitu :
1. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat bergerak
maupun istirahat, bengkak dan kekakuan.
2. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi
juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
3. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.

E. PATOFISIOLOGI
Pada Reumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya)
terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan
enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen
sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya
pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan
menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi
yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut
otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas
otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002).
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau
penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer.Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.
Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan
sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan
kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa
menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub
chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya Reumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan
adanya masa serangan dan tidak adanya serangan.Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.Namun
pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan
kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long,
1996).

F. PATHWAY
Reaksi faktor R dengan antibodi, faktor metabolik, infeksi dengan kecenderungan
infeksi

Reaksi peradangan

Nyeri Sinovial menebal

Panus-> Nodul->Deformitas Sendi->Gg.Bodi Image


< Informasi tntg proses
pnykit
Infiltrasi ked lm os.subkondria

Kurang pengetahuan
Hambatan nutrisi pada kartilago artikularis

Kerusakan kartilago dan


Kartilago nekrosis
tulang

Tendon dan ligamen Erosi kartilago


melemah
Adhesi pada permukaan sendi
Hilangnya
kekuatan otot
Mudah luksasi Ankilosis Fibrosa->ankilosis tulang
dan subluksasi

Kekakuan sendi Terbatasnya gerakan sendi


Resiko cedera
G. KOMPLIKASI Hambatan Defisit self
Mobilitas fisik care
1. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya
prosesgranulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
2. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
3. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
4. Tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
5. Terjadi splenomegali.
6. Slenomegali merupakan pembesaran limfa,jika limfa membesar
kemampuannya untuk menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih
dan trombosit dalam sirkulasi menangkap dan menyimpan sel-sel darah
akan meningkat.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes serologi : Sedimentasi eritrosit meningkat, Darah bisa terjadi anemia
dan leukositosis, Reumatoid faktor, terjadi 50-90% penderita.
2. Sinar X dari sendi yang sakit: menunjukkan pembengkakan pada jaringan
lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan
( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang,
memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang
terjadi secara bersamaan.
3. Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium.
4. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan
irregularitas/degenerasi tulang pada sendi. Aspirasi cairan sinovial :
mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal: buram,
berkabut, munculnya warna kuning (respon inflamasi, produk-produk
pembuangan degeneratif); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas
dan komplemen (C3 dan C4).
5. Biopsi membran sinovial: menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.
6. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration)
atau atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak
leukosit dan kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.

I. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi adalah:
1. Meringankan rasa nyeri dan peradangan
2. memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal
penderita.
3. Mencegah atau memperbaiki deformitas
4. Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang
merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:
a. Istirahat
b. Latihan fisik
c. Panas
d. Pengobatan
1) Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar
salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml.
2) Natrium kolin dan asetamenofen, meningkatkan toleransi saluran
cerna terhadap terapi obat.
3) Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 600
mg/hari, mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing
sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
4) Garam emas
5) Kortikosteroid

e. Nutrisi, diet untuk penurunan berat badan yang berlebih


Bila Reumatoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi,
pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan
memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
1) Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk
mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya
kembali inflamasi.
2) Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
3) Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan
tangan.
4) Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran
pada persendian.
Terapi di mulai dengan pendidikan pasien mengenai
penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga
terjalin hubungan baik antara pasien dan keluarganya dengan
dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. Tanpa hubungan
yang baik akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien
untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang lama
(Mansjoer, dkk. 2001).
Penanganan medik pemberian salsilat atau NSAID dalam
dosis terapeutik. Kalau diberikan dalam dosis terapeutik yang
penuh, obat-obat ini akan memberikan efek anti inflamasi maupun
analgesik. Namun pasien perlu diberitahukan untuk menggunakan
obat menurut resep dokter agar kadar obat yang konsisten dalam
darah bisa dipertahankan sehingga keefektifan obat anti-inflamasi
tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal (Smeltzer & Bare,
2002).
Kecenderungan yang terdapat dalam penatalaksanaan
Reumatoid arthritis menuju pendekatan farmakologi yang lebih
agresif pada stadium penyakit yang lebih dini.Kesempatan bagi
pengendalian gejala dan perbaikan penatalaksanaan penyakit
terdapat dalam dua tahun pertama awitan penyakit tersebut
(Smeltzer & Bare, 2002).
Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas
sehari-hari, sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi
hari.Dengan air hangat pergerakan sendi menjadi lebih mudah
bergerak. Selain mengobati, kita juga bisa mencegah datangnya
penyakit ini, seperti: tidak melakukan olahraga secara berlebihan,
menjaga berat badan tetap stabil, menjaga asupan makanan selalu
seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak
memakan ikan laut. Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi
pilihan, terutama yang mengandung Omega 3.Didalam omega 3
terdapat zat yang sangat efektif untuk memelihara persendian agar
tetap lentur.

J. FOKUS PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
b. Lakukan pengukuran passive range of motion pada sendi-sendi
synovial
Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
Catat bila ada krepitasi
Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
c. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
Ukur kekuatan otot
d. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
e. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
2. Riwayat Psiko Sosial
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan
keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal),
tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama
bentuk-bentuk arthritis lainnya. Pengkajian 11 Pola Gordon :
a. Pola Persepsi Kesehatan- Pemeliharaan Kesehatan
Apakah pernah mengalami sakit pada sendi-sendi?
Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya?
Riwayat keluarga dengan RA
Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll
b. Pola Nutrisi Metabolik
Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan yang
banyak mengandung pospor (zat kapur), vitamin dan protein)
Riwayat gangguan metabolik
c. Pola Eliminasi
Adakah gangguan pada saat BAB dan BAK?
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum dan sesudah sakit
Jenis aktivitas yang dilakukan
Rasa sakit/nyeri pada saat melakukan aktivitas
Tidak mampu melakukan aktifitas berat
e. Pola Istirahat dan Tidur
Apakah ada gangguan tidur?
Kebiasaan tidur sehari
Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam setelah bangun tidur
Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur?

f. Pola Persepsi Kognitif


Adakah nyeri sendi saat digerakan atau istirahat?
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas/kaku sendi)?
Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya?
h. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama
Bagaimana hubungan dengan keluarga?
Apakah ada perubahan peran pada klien?
i. Pola Reproduksi Seksualitas
Adakah gangguan seksualitas?
j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi terhadap Stress
Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita?
k. Pola Sistem Kepercayaan
Agama yang dianut?
Adakah gangguan beribadah?
Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan

K. DIAGNOSA KEPERWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi (Proses penyakit
reumatik)
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungna dengan nyeri atau penurunan
kekuatan otot
3. Resiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi

L. FOKUS INTERVENSI
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis (Proses penyakit
reumatik)
NOC :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan nyeri teratasi dengan KH :
Pain Level (2120)
a. Skala nyeri berkurang
b. Frekuensi nyeri berkurang
c. Mampu istirahat dan tidur
d. Ekspresi wajah tenang
NOC :Pain Management (1400)
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (PQRST).
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Pengelolaan analgetik (2210)
Periksa perintah medis tentang obat, dosis, dan frekuensi obat
analgetik
Pilih obat berdasarkan tipe dan beratnya nyeri
Pilih cara pemberian IV atau IM untuk pengobatan
Kelola jadwal pemberian analgetik yang sesuai
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungna dengan nyeri atau penurunan
kekuatan otot
NOC :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 gangguan
mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil:
Mobility Level (0208)
a. Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan
kontraktur.
b. Mempertahankan atau pun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari
dan/atau kompensasi bagian tubuh.
c. Mendemonstrasikan tehnik/perilaku yang memungkinkan melakukan
aktivitas
NIC :Exercise Therapy : Ambulation (0221)
Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien
saat latihan
Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs ps.
Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan.
Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikian juga latihan resistif
dan isometris jika memungkinkan.
3. Resiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan tidak terjadi cedera dengan KH :
Risk Control (1902)
a. Klien terbebas dari cedera
b. Klien mampu menjelaskan cara untuk mencegah cedera
NIC : Environment Management (5820)
Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik
dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien
Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan
perabotan)
Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.
Memberikan penerangan yang cukup
Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien
Mengontrol lingkungan dari kebisingan
Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan pengetahuan klien meningkat dengan kriteria hasil :
Knowledge (Disease Process)(1803)
1. Mengetahui tentang penyakit
2. Dapat mendeskripsikan tindakan pencegahan untuk mencegah
komplikasi
NIC : Teaching : Disease Process(5602)
1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
2. Gambarkan tanda dan gejala, yang biasa mucul pada penyakit
3. Gambarkan proses penyakit
4. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien
5. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C., Hall, John E., (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
11.Alih bahasa.Jakarta : EGC.
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth.(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah.Jakarta : EGC.
Kumar, V., Cotran, R. S., Robbins, S. L., (2007).Buku Ajar PatologiEdisi 7.Jakarta :
EGC.
Herdman, Heather.(2010). Diagnosis Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran.
Anderson, Sylvia Price. (2006). Pathofisiologi: Konsep Klinis proses-proses penyakit
edisi 6 volume II : Jakarta. ECG.
Morhead, Sue. (2008). Nursing Outcomes Classification (NOC). America : Mosby
Mansjoer, arif. Dkk. (2009).Kapita Selekta Kedokteran :Jakarta : Media aesculapius