Anda di halaman 1dari 6

Menumbuhkan Sikap Percaya Diri dan Jujur Sejak Dini Hingga Usia Lanjut

Untuk Memberantas Cikal Bakal Korupsi

Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai Nasional FSLN 2017

Membangun Generasi Abad 21

Disusun oleh:

Kartini

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2017

1
Menumbuhkan Sikap Percaya Diri dan Jujur Sejak Dini Hingga Usia Lanjut
Untuk Memberantas Cikal Bakal Korupsi

Kartini, Institut Pertanian Bogor

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang berada


diperingkat ke empat jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah China, India
dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 258.316.051 jiwa
dengan luas wilayah sebesar 1.904.569 km2 atau sebanding dengan 3,5% dari
Jumlah Penduduk Dunia. Seiring dengan pertambahan penduduk Indonesia
permasalahan di negara ini pun semakin meningkat. Salah satunya adalah korupsi.
Korupsi berasal dari bahasa Latin Corruptio atau Corruptus, dalam bahasa
Eropa, seperti di Inggris dan Perancis Corruption serta Belanda Corruptie,
dan dalam bahasa Indonesia menjadi Korupsi. Secara harfiah korupsi berarti
suatu kebusukan, keburukan, ketidakjujuran, atau dapat disuap. Menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta korupsi diartikan sebagai,
perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan
sebagainya. Definisi Korupsi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya)
untuk keuntungan pribadi atau orang lain (Andrisman 2010). z

Bagaimana perkembangan korupsi di Indonesia?

Perkembangan korupsi di Indonesia sudah terjadi sejak zaman Hindia


Belanda, pada masa pemerintahan Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi.
Pada masa kolonial Hindia Belanda kegiatan korupsi yang terjadi masih
sederhana, misal pada perumusan pasal-pasal KUHP, suap atau memaksa
seseorang untuk memberikan sesuatu kepada pejabat/pegawai. Masa
Pemerintahan rezim Orde Baru yang tidak demokratis dan militerisme merupakan
titik awal berkembangnya korupsi di semua aspek kehidupan dan seolah-olah
menjadi budaya masyarakat Indonesia (Rifai, 2007). Pada Era Masa Reformasi
korupsi di Indonesia benar -benar berkembang pesat. Bahkan masyarakat umum
pun ibarat makan garam dengan maraknya kasus korupsi yang terus meningkat.
Jika pada masa Orde Baru dan sebelumnya korupsi lebih banyak dilakukan oleh

2
kalangan elit pemerintahan, namun pada Era Reformasi saat ini hampir seluruh
elemen penyelenggara Negara mulai dari pejabat tertinggi sampai pejabat
terendah dalam instansi tertentu pun sudah terjangkit virus yang sangat berbahaya
ini (Rahayu, 2013).
Korupsi yang semakin berkembang menjadi latar belakang terbentuknya
suatu komisi yang mengatasi, menanggulangi, dan memberantas korupsi di
Indonesia. Sesuai UU No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi (KPK). Hal ini selanjutnya membawa sebuah perubahan besar
dalam sejarah pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia. Kasus pajak
yang melibatkan Gayus Tambunan, kasus Bank Century, serta kasus Wisma Atlet
yang melibatkan Nazaruddin, kasus penyuapan yang melibatkan Arthalita
Suryani, Kasus Bank Indonesia yang melibatkan Aulia Pohan, Kasus BLBI, Kasus
korupsi APBD di sejumlah daerah, Kasus kriminalisasi KPK yang melibatkan
pimpinan KPK, dan kasus yang melibatkan Anggodo serta kasus-kasus korupsi
lain di daerah di mana responden berdomisili merupakan salah satu bukti nyata
pentingnya dukungan terhadap KPK dalam memberantas korupsi (Anonim, 2011).
Meskipun demikian, pemberantasan korupsi di Indonesia bukan hanya
menjadi tanggung jawab KPK saja. Dukungan dari semua pihak seperti
pemerintah, lembaga instansi, lembaga pendidikan, masyarakat, keluarga bahkan
diri sendiri pun sangatlah penting. Seperti yang dikutip dari Tempo.co, Jakarta,
Lembaga Transparency International (TI) merilis data indeks persepsi korupsi
(Corruption Perception Index) untuk tahun 2015. Dalam laporan tersebut, ada 168
negara yang diamati lembaga tersebut dengan ketentuan semakin besar skor yang
didapat, maka semakin bersih negara tersebut dari korupsi. Skor maksimal adalah
100. Indonesia menempati peringkat ke 88 dengan skor CPI 36. Skor yang
diperoleh ini meningkat dua poin dari tahun 2014 dimana Indonesai menduduki
peringkat ke 107. Dalam hal ini, Ilham Saenong, Direktur Program Transparency
International Indonesia mengatakan bahwa peningkatan CPI yang diraih Indonesia
dipengaruhi oleh akuntabilitas publik yang meningkat dan juga pencegahan
korupsi yang dinilai efektif dimana KPK sangat berperan penting. CPI merupakan
indeks gabungan yang mengacu pada persepsi yang bersumber dari World
Economic Forum 2015 dan Bertelsmann Fundation Index. CPI sendiri

3
menggambarkan persepsi korupsi terhadap penyalahgunaan wewenang demi
kepentingan pribadi yang mencakup sektor publik, administrasi pemerintahan, dan
politik. Namun demikian, CPI tidak bisa dijadikan ukuran mutlak dalam menilai
persepsi korupsi. Karena korupsi merupakan suatu tindakan yang sejatinya tidak
mungkin untuk di ukur.
Korupsi merupakan tindakan yang sangat merugikan baik negara, rakyat,
keluarga bahkan diri sendiri. Bagi negara, tindakan korupsi telah membawa
ancaman bagi pembangunan dan keberlanjutan bangsa. Bagi rakyat, korupsi telah
membawa penderitaan tersendiri yang harus dihadapi dimana para pelaku korupsi
atau koruptor banyak yang menghabiskan uang rakyat demi kesenangan pribadi
melalui pajak-pajak negara, hasil pertanian dan perkebunan, peternakan, perairan
dan lain-lain. Tidak hanya itu, secara tidak langsung tindakan korupsi membawa
pengaruh terhadap kehidupan keluarga dan dirinya sendiri.
Dalam agama apapun tindakan korupsi merupakan suatu tindakan dosa
besar yang merugikan dirinya sendiri. Korupsi merupakan tindakan kecurangan
dan penipuan. Dalam agama Islam, Allah dan Rasul-Nya sangatlah melarang
perbuatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullan saw pernah berkata barang siapa
yang tidak jujur, maka ia bukanlah golongan kami. Begitu pula dengan agama
lain yang melarang keras tindakan penipuan ini.

Lalu, bagaimana masalah korupsi di Indonesia dapat diatasi?

Dalam hal apapun, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya.
Begitu juga dengan masalah korupsi di negeri tercinta, Indonesia. Indonesia
seperti yang telah dijelaskan di awal merupakan negara dengan penduduk terbesar
ke empat di dunia dengan jumlah penduduk terbesar didalamnya adalah pemuda.
Pemuda sebagai aset kemajuan bangsa haruslah memiliki sikap percaya diri dan
jujur. Kedua sikap ini merupakan tonggak awal untuk memberantas tindakan
korupsi di Indonesia. Cikal bakal para koruptor berasal dari para pemuda-pemudi
dan anak bangsa yang tidak memiliki kepercayaan diri dan sikap jujur, terutama
pada diri sendiri. Melihat perkembangan pemuda Indonesia di zaman sekarang,
perlu dilakukan suatu tindakan untuk menumbuhkan kedua sikap ini. Dalam hal

4
ini, peran orang tua, guru, pendidik, lingkungan, masyarakat bahkan diri sendiri
membawa pengaruh besar lahirnya sikap ini. Mental yang kuat, percaya diri yang
tinggi dan sikap jujur bukanlah hal mudah untuk diterapkan. Sikap-sikap ini perlu
terus di kontrol dan di latih sejak usia dini hingga usia lanjut. Mengapa usia lanjut
pun perlu di kontrol? Hal ini bisa di jawab melalui perubahan demi perubahan
yang pernah di alami. Baik tingkah laku, pemikiran, ataupun sesuatu yang pernah
dirasakan. Oleh karena itu, untuk memberantas cikal bakal tindakan korupsi di
Indonesia perlu ditumbuhkan sikap percaya diri yang tinggi dan jujur, terutama
pada diri sendiri.

Daftar Pustaka

5
Eddy Rifai, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bandar Lampung : Program
Pascasarjana Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2007,
hlm. 9.

Amin Rahayu, Sejarah Korupsi di Indonesia, 26 September 2013,


http://swaramuslim.net/siyasah/more.php

Tri Andrisman, Tindak Pidana Khusus Diluar KUHP, Bandar Lampung :


Universitas Lampung, 2010, hlm.37.

Anonim. Laporan Survey Persepsi Masyarakat Tentang Korupsi dan KPK.


Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK. 2011, hlm. 9.
http://acch.kpk.go.id/survei-persepsi-masyarakat-tentangkorupsi-dan-kpk.