Anda di halaman 1dari 13

KONSEP MANUSIA DALAM ALQURAN

NAMA : MAULANA IBRAHIM ASSEGAFF 201445500164

MUTHIA MUTHMAINAH 2014455001

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI


Konsep Manusia dalam Al-Quran

1. Konsep manusa dalam perspektif

Al-Quran adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.


untuk segenap manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan
manusia, mengajarkan tauhid dan menyucikan manusia dengan berbagai
ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat membawa
kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial,
membimbing manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri,
mengembangkan kepribadiannya, serta meningkatkan diri manusia ke taraf
kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan kebahagiaan di
dunia dan akhirat.

Al-Quran juga mendorong manusia untuk merenungkan perihal


dirinya, dan keajaiban penciptaannya, serta keakuratan pembentukannya.
Sebab, pengenalan manusia terhadap dirinya dapat mengantarkannya pada
marifatullah, sebagaimana tersirat dalam Surah at-Taariq ayat 5-7.

.

. .

Maka, hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia diciptakan. Ia


diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan
tulang dada. (Q.S. at-Taariq [86]: 5-7)
Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa
Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhan-nya.
Berbicara tentang manusia berarti kita berbicara tentang diri kita
sendiri ebagai makhluk yang paling unik di bumi ini. Banyak di antara
ciptaan Allah yang telah disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia
merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk
yang lain. Menurut Ismail Rajfi manusia adalah makhluk kosmis yang sangat
penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat
yang diperlukan.
Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah
dikaruniainya akal.
Dengan dikarunia akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan
potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam
semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah. Selain itu manusia juga
dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati). Dengan qolbunya manusia dapat
menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan,
kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual.

Dasar perspektif konsep manusia


Nuthfah
nuthfatun adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah
bertemu dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan
yang satu kepada yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang
lain.
Riset para ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung
spermatozoa (sperma) air mani juga tersusun dari berbagai campuran yang
berlainan yang mempunyai fungsi masing-masing, misalnya mengandung
gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi spermatozoa,
menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar
memudahkan pergerakan sperma. Air mani yang tersusun dari berbagai
campuran tersebut telah disebutkan dalam Al- Qur'an. "Yang membuat
segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari sari pati air yang hina (mani)". (QS. As Sajdah : 7-8).
Kata-kata sulalah (saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang
mendasar atau "bagian dari satu kesatuan".

Alaqah
Peringkat pembentukan alaqah ialah pada hujung minggu pertama / hari
ketujuh . Pada hari yang ketujuh telor yang sudah disenyawakan itu akan
tertanam di dinding rahim (qarar makin). Selepas itu Kami mengubah nutfah
menjadi alaqah.
" Kemudian Kami mengubah nutfah menjadi alaqah" al-Mukminun : 14'.
Alaqah secara bahasa mempunyai arti sesuatu yang mengambang atau
menempel, sedangkan pada 'alaqah ini embrio berbentuk segumpal darah
sebagaimana ditegaskan Allah SWT : "Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah" (QS. Al 'Alaq : 2)
'Alaqah merupakan bahan dasar bayi yang berupa sel tunggal, dalam istilah
biologi sel ini disebut zigot sebagai "segumpal darah", istilah 'alaqah ini juga
tersebut dalam firman Allah SWT : "kemudian mani itu menjadi segumpal
darah, lalu Allah menciptakannya,dan menyempurnakannya". (QS. Al
Qiyamah : 38).

Mudghah
Pembentukan mudghah dikatakan berlaku pada minggu keempat. Perkataan
mudghah disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran iaitu surah al-Hajj
ayat 5 dan surah al-Mukminun ayat 14
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna,
agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang
Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami
keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan
dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. al-Hajj ayat 5)
"...lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,..." ( QS. Al Mukminun : 14)
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang
mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung
serta alur-alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio
hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot
dan tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah
ibnu Asid : "Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah
Ta`ala mengirim malaikat untuk membentuknya dan menciptakan
pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan tulang. Kemudian malaikat
bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau perempuan ? Dan Allah
memutuskan apa yang dikehendakiNya, .." (HR. Muslim)
Diperingkat ini sudah berlaku pembentukan otak, saraf tunjang, telinga dan
anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem pernafasan bayi sudah
terbentuk.Vilus yang tertanam di dalam otot-otot ibu kini mempunyai saluran
darahnya sendiri. Jantung bayi pula mula berdengup. Untuk perkembangan
seterusnya, darah mula mengalir dengan lebih banyak lagi kesitu bagi
membekalkan oksigen dan pemakanan yang secukupnya. Menjelang tujuh
minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi sendiri

IZAM DAN LAHM


Pada peringkat ini iaitu minggu kelima, keenam dan ketujuh ialah peringkat
pembentukan tulang yang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang
belulang telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka tersebut.
Firman Allah yang bermaksud :
"Lalu Kami mengubahkan pula mudghah itu menjadi izam da kemudiannya
Kami membalutkan Izam dengan daging" al-Mukminun : 14
Kemudian pada minggu ketujuh terbentuk pula satu sistem yang kompleks.
Pada tahap ini perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang belakang mula
terbentuk. Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran pernafasan
dari mulut ke hidung dan juga ke pau-paru mula kelihatan. Begitu juga
dengan organ pembiakan, kalenjar, hati, buah penggang, pundi air kencing
dan lain-lain terbentuk dengan lebih sempurna lagi. Kaki dan tangan juga
mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan mulut semakin sempurna. Pada
minggu kelapan semuanya telah sempurna dan lengkap.
Peniupan Ruh
Iaitu peringkat peniupan roh. Para ulamak Islam menyatakan bilakah roh
ditiupkan ke dalam jasad yang sedang berkembang? Mereka hanya sepakat
mengatakan peniupan roh ini berlaku selepas empat puluh hari dan selepas
terbentuknya organ-organ tubuh termasuklah organ seks. Nilai kehidupan
mereka telah pun bermula sejak di alam rahim lagi. Ketika di alam rahim
perkembangan mereka bukanlah proses perkembangan fizikal semata-mata
tetapi telahpun mempunyai hubungan dengan Allah s.w.t melalui ikatan
kesaksian sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran surah
al-A'raf : 172.
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul
(Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (al-
A'raf : 172.)
Dengan ini entiti roh dan jasad saling bantu membantu untuk meningkatkan
martabat dan kejadian insan disisi Allah s.w.t
Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba,
tanpa adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna.
Tentang ruh ini Allah Ta`ala berfirman : "Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh. Katakanlah "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah
kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Isra' : 85)
Para ahli ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada
badan. Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses
penentuan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses
peniupan ruh pada embrio tersebut ketika berumur 120 hari sebagaimana
disebutkan pada hadits dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas'ud RA. yang
sudah tersebut di atas.
Hal lain yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah bahwa embrio terselubungi
oleh tiga kegelapan "dzulumatin tsalats". Para pakar embriologi
menyebutkan bahwa maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah ; 1. Dinding
bagian dalam perut ibu, 2. Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik.
Maha benar Allah Ta`ala dengan firmanNya : "Dia menjadikan kamu dalam
perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan". (QS. Az Zumar
: 6)

2. Unsur dan ciri-ciri manusia


Ciri-ciri yang dimiliki manusia sebagai keturunan Adam dan Hawa. Artinya
ciri-ciri yang sama antara AdamHawa dengan umat manusia pada
umumnya. Ciri-ciri itu antara lain sebagai berikut:

1. Keimanan akan adanya Allah. Keberadaan Adam dan Hawa di surga


lalu melakukan pelanggaran atas larangan Allah, dan tobat mereka yang
di-terima Allah hingga diturunkannya mereka ke bumi membuktikan
bahwa Adam dan Hawa ber-iman kepada Allah. Keimanan kepada Allah
meru-pakan ciri-ciri manusia yang diwariskan kepada kita melalui gena-
gena berbarengan dengan ciri-ciri lainnya. Simak (QS AI-
Araf : 23 dan QS AI-Araf : 172-173).
2. Pengetahuan. Adam diberi anugerah pengetahuan oleh Allah
sehingga praktis semua umat manusia memiliki potensi untuk memiliki
dan mengem bangkan pengetahuan, dan dituntut untuk mencari
pengetahuan dan mengajarkannya. Pada sejumlah orang potensi itu
bersifat aktif, sedangkan pada orang-orang lain tertekan. Simak (QS Al-
Baqarah : 31-33).
3. Ketergesa-gesaan dan keingintahuan. Adam dan Hawa melakukan
eksperimen pertama dengan mendekati pohon terlarang dan memakan
buah-nya. Barangkali ide itu timbul dari keingintahuan mereka apakah
janji setan benar, bahwa jika mereka makan buah pohon terlarang itu
akan menjadi malaikat dan kekal. Mereka pun tergesa-gesa meng-iya
akan rayuan setan dan melalaikan pesan Tuhan, hingga mereka
menyadari kesalahan mereka dan malu, karena tiba-tiba bagian-bagian
tertentu dari tubuh mereka terlihat, Keingintahuan pada anak cucu Adam
secara praktik mendorong mereka melakukan segala eksperimen dalam
berbagai ma-cam bidang, sedangkan ketergesa-gesaan
menyebabkannya ingin berjalan lebih cepat, dan memperoleh segala
sesuatu lebih cepat, sebagai sisi positif keberhasuan-keberhasilan ilmiah.
Suatu kebetulan yang menarik, bahwa banyak eksperimen dilaku-kan
para ilmuwan dengan tujuan tertentu, tetapi dalam banyak kasus
menghasilkan hal yang ber-beda. Dan sejarah sains penuh dengan
penemuan-penemuan yang tidak terduga semacam itu. Lihat (QS Al-
Anbiaya : 37).
4. Status. Adam diberi status sebagai khalif ah untuk menguasai burni.
Karena itulah praktis semua manusia tergoda dan tergila-gila mengejar
status (kekuasaan). Keinginan mengejar status, kekuasa-an dan
supremasi inilah yang sering menimbulkan gangguan stabilitas, baik
dalam lingkup kepentingan kehidupan berpribadi, bertetangga, bersuku,
berbangsa dan bernegara.Renungkan QS AI-Baqarah : 30, QS Shad : 26,
dan (QS AI-Anam : 165).
5. Penguasaan energi. Manusia cenderung menggali dan hingga batas
tertentu mengeksploitasi energi alam semesta untuk memenuhi
kebutuhan dan ketamakan hidup mereka. Salah satu perolehan ilmiah
utama manusia adalah kemampuan untuk menguasai dan
memanfaatkan berbagai energi, seperti hidrotermal, tenaga nuklir,
tenaga surya, dan sebagainya.
6. Kenikmatan. Adam dan Hawa diperintahkan Allah bertempat tinggal
di surga dan menikmati segala macam makanan dan minuman yang
tersedia di sana sesuka hati, kecuali mengkonsumsi makanan dari pohon
terlarang. Adam dan Hawa diberi ke-hidupan ideal yang penuh
kenikmatan. Banyak upaya ilmiah ditujukan untuk mendatangkan ke-
nikmatanyang dikejar kepada manusia. Sebagian dari hasil temuan yang
mendatangkan kenikmatan itu membawa manfaat, namun tidak sedikit
hal-halyang dianggap mendatangkan kenikmatan itu membawa
mudarat. Perhatikan (QS Al-Araf : 19 dan QS AI-Baqarah : 219).
7. Panjang umur. Kematian adalah unsur yang meng-hantui manusia.
Adam dan Hawa ingin melepaskan diri dari rasa takut akan kematian ini,
dan ingin hidup selama-lamanya dengan memakan buah dari pohon
keabadian. Ketakutan akan kematian praktis dimiliki oleh semua umat
manusia, dan kebanyakan dari manusia ingin menjalani kehidup-an
selama mungkin. Kalau bisa seribu tahun! Se-bagian besar penelitian
ilmiah tanpa disadari barangkali ditujukan untuk mendapatkan sarana-
sarana meningkatkan rentang umur manusia. Banyak di antara kita
mentaati perintah Tuhan karena ingin sekali berumur panjang dan
memper-oleh kenikmatan selama-lamanya dalam surga. Sebagaimana
disinyalir dalam (QS AI-Baqarah : 96 dan QS AI-Araf : 20).
8. Pakaian dan rasa malu. Ketika melakukan pelang-garan,
tersingkaplah kemaluan Adam dan Hawa, sehingga mereka berusaha
menutupi organ tubuh mereka dengan dedaunan. Barangkali karena
adanya rasa malu inilah manusia mengenakan kain untuk
menyembunyikan dan menutup bagian-bagian tubuh mereka yang
sangat pribadi, di sam-ping adanya faktor lain, untuk menghias dan me-
lindungi tubuh dari panas dan dingin. Simak penjelasan Allah dalam QS
AI-Araf : 22, 26-27.
9. Tergoda. Adam dan Hawa tergoda setan memakan buah terlarang,
kemudian insaf atas kesalahan mereka dan bertobat memohon ampun
kepada Allah. Sebagian besar umat manusia terjerumus dalam
perangkap setan, sehingga melanggar aturan Allah dan melakukan
perbuatan dosa, tetapi cepat atau lambat, banyak di antara mereka
lantas bertobat dan memohon ampunan-Nya. Gena-gena yang
membawa warisan berbagai ciri tersebut di atas tampaknya bersifat aktif
pada sejumlah orang dan/atau tertekan pada orang lain dengan kadar
yang berbeda-beda. Perhatikan (QS AI-Baqarah : 35-36 danQS AI-
lsra :85).

3. Asal-usul manusia

pada suatu ketika, Allah SWT menitahkan kepada malaikat Jibril supaya turun
ke bumi untuk mengambil sebahagian tanahnya untuk mencipta Adam,
Akan tetapi apabila beliau sampai ke bumi , bumi enggan membenarkan
tanahnya diambil untuk dijadikan Adam, kerana bumi khuatir Adam jadi
maksiat kepada Allah. Lalu Jibril kembali ke hadrat Tuhan, ia tidak dapat
berbuat apa-apa, mendengar sumpah bumi. Begitulah seterusnya, Allah
memerintah malaikat Mikail, jawapan bumi masih sama dan selepas itu Allah
memerintahkan malaikat Israfil, tetapi malangnya jawapan bumi masih tidak
berganjak, dan masing-masin kembali dengan tangan yang hampa.

Lalu yang terakhir, Allah menyuruh malaikat Izrail turun ke bumi. Kata Allah:
Hai Izrail engkaulah kini yang aku tugaskan mengambil tanah. Meskipun
bumi bersumpah-sumpah dengan ucapan bagaimanapun jangan engkau
mundur. Katakan bahawa kerjakan atas perintah dan atas namaKu. Apabila
Izrail turun ke bumi dan menyampaikan perintah Allah kepada bumi, maka
akhirnya barulah bumi mengizinkan akan tanahnya itu diambil. Setelah Izrail
mengambil beberapa jenis tanah, kembalilah dia ke hadrat Allah.Lalu Allah
berfirman :Ya Izrail, pertama engkau yang Ku-tugaskan mengambil tanah,
dan kemudian di belakang hari kelak akan kutugaskan engkau mencabut
roh manusia.Maka khuatirlah Izrail kerana bimbang dibenci oleh uma
manusia.

Lalu Allah berfirman lagi: tidak, mereka tidak akan memusuhi kamu, Aku
yang mengaturnya, dan aku jadikan kematian mereka itu
bersebab, terbunuh,terbakar,sakit dan sebagainya.

TANAH YANG BAGAIMANA DIJADIKAN?

1. Tanah tempat bakal berdirinya Baitul Mugaddis

2. Tanah Bukit Tursina


3. Tanah Iraq

4. Tanah Aden

5. Tanah Al-Kautsar

6. Tanah tempat bakal berdirinya Baitullah

7. Tanah Paris

8. Tanah Khurasan

9. Tanah Babylon

10. Tanah India

11. Tanah syurga

12. Tanah Thaif

Kata Ibnu Abbas :

1. Kepala Adam dari tanah Baitul-Muqaddis, kerana di situlah otak


manusia,dan disitulah tempatnya akal.
2. Telinganya dari tanah Bukit Thursina, kerana dia alat pendengar dan
tempat menerima nasihat.
3. Dahinya dari tanah Iraq,kerana disitu tempat sujud kepada Allah.
4. Mukanya dari tanah Aden, kerana disitu tempat berhias dan
tempat kecantikan.
5. Matanya dari tanah telaga Al-Kautsar, tempat menarik perhatian.
6. Giginya dari tanah Al-Kautsar, tempat memanis-manis.
7. Tangan kanannya dari tanah Kaabah, untuk mencari nafkah
dan kerjasama,sesama manusia.
8. Tangan kirinya dari tanah Paris,tempat beristinjak.
9. Perutnya dari tanah Babylon.Disitulah tempat seks(berahi) dan tipudaya
syaitan untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
10. Tulangnya dari tanah Bukit Thursina, alat peneguh tubuh manusia.
11. Dua kakinya dari tanah India, tempat berdiri dan jalan.
12. Hatinya dari tanah syurga Firdaus, kerana di situlah
iman, keyakinan,ilmu,kemahuan dan sebagainya.
13. Lidahnya dari tanah Thaif, tempat mengucap Syahadat, bersyukur dan
mendoakan kepada Tuhan.

4. Martabat manusia

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling tinggi derajadnya dibanding


makhluk lain. Di dalam kitab suci Alquran, Allah SWT menggunakan
beberapa istilah yang pada dasarnya menjelaskan tentang konsep manusia,
bahkan istilah-istilah itu disebutkan lebih dari satu kali. Istilah-istilah manusia
dalam Alquran memiliki arti yang berbeda-beda. Berikut tujuh istilah
'manusia' dalam Alquran, sebagai berikut:
a. Konsep al-Basyar
Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Quran dengan
menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia
basyar adalah , menunjukkan makna bahwa manusia adalah anak keturunan
Nabi Adam as dan makhluk fisik yang juga suka makan serta minum. Kata
'basyar' disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali
dalam bentuk 'mutsanna' atau 'jama'. Sebagai makhluk yang bersifat fisik,
manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Kehidupan
manusia terikat dengan kaidah prinsip kehidupan biologis seperti
berkembang biakSebagaimana halnya dengan makhluk biologis lain, seperti
binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai
makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:
12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani
itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik.
Secara sederhana, Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia
dinamai basyar karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-
kulit binatang yang lain. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa mengacu
pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama,
ia, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-
Basyr ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah
dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-Basyr ini juga dapat
tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk
biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara
benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan
primer, sekunder dan tersier.
b. Konsep Al-Insan
Al Ihsan memiliki arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Istilah ini
menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir
dibanding dengan makhluk lainnya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari
apa yang dilihatnya, mengetahui yang benar dan yang salah, serta dapat
meminta izin ketika menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Manusia
dalam istilah ini merupakan makhluk yang dapat dididik, memiliki potensi
yang dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:
1. Bukankah Telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya
mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi .
c. Konsep Al-Nas
Menunjukkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat
hidup sendiri. Manusia harus menjaga hubungan baik dengan manusia
lainnya. Dari awal terciptanya, seorang manusia berawal dari sepasang laki-
laki dan wanita. Ini menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara
dan saling membantu.
Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula dari
pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang menjadi
masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesis di dunia ini,
menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling
menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam
konsep an-naas.ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa kami mewahyukan
kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada
manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka
mempunyai kedudukan yang Tinggi di sisi Tuhan mereka". orang-orang kafir
berkata: "Sesungguhnya orang Ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang
sihir yang nyata".
d. Konsep Bani Adam
Manusia dalam istilah ini memiliki arti keturunan Adam. Istilah ini
digunakan untuk menyebut manusia bila dilihat dari asal keturunannya.
Istilah 'Bani Adam' disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat Alquran.
Menurut Thabathabai dalam Samsul Nizar : penggunaan kata bani Adam
menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada
tiga aspek yang dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai
dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna
manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan
terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran.
Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka
ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran
sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam
dibanding makhluk-Nya yang lain.ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-
Quran, yang artinya:
Artinya : Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam
supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagi kamu",
e. Konsep Al-Ins
Al Ins memiliki arti tidak liar atau tidak biadab. Istilah Al Ins
berkebalikan dengan istilah al jins atau jin yang bersifat metafisik dan liar. Jin
hidup bebas di alam yang tidak dapat dirasakan dengan panca indra.
Berbeda dengan manusia yang disebut menggunakan istilah al ins. manusia
adalah makhluk yang tidak liar, artinya jelas dan dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Kata Al Ins disebutkan sebanyak 18 kali dalam
Alquran, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat, Quraish Shihab
mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka manusia adalah
makhluk yang kasat mata. Sedangkan jin adalah makhluk halus yang tidak
tampak,ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Anaam ayat
112,
Artinya :Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka
membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-
indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya
mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang
mereka ada-adakan.
f. Konsep Abd. Allah
Manusia itu pada hakikatnya adalah turunan dari manusia pertama
yang bernama Adam, karena itulah disebut Bani Adam (Keturunan Adam).
Jawaban ini tentu tidak salah, tetapi ada rahasia yang sangat agung kenapa
Allah menyebut manusia sebagai Bani Adam. ditegaskan oleh Allah SWT
dalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 70 , yang artinya:
Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut
mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-
baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas
kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.
Jika kita simak ayat diatas, kenapa Allah tidak menyebutkan nama lain dari
manusia seperti, insan, basyar atau an-Naas, tetapi Allah menggunakan
istilah Bani Adam ? tentu ada rahasia besar yang terkandung dalam istilah
Bani Adam.
Al Quran merupakan kalam yang agung, karena itu pemilihan katanya
pun sangat selektif dan tentu saja sangat sesuai dengan tuntutan alur kalam.
Pada ayat di atas Allah secara tegas mengatakan bahwa Dia memuliakan
anak-anak Adam dengan memberi mereka akal, bisa berbicara, bisa menulis,
bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bentuk tubuh
yang baik, bisa berdiri tegak serta bisa mengatur kehidupan, baik sekarang
di dunia maupun untuk nanti di akhirat.
g. Konsep Khalifah Allah
Khalifah berarti pengganti, yaitu pengganti dari jenis makhluk yang lain,
atau pengganti, dalam arti makhluk yang diberi wewenang oleh Allah agar
melaksanakan perintahNya di muka bumi. Pada hakikatnya eksistensi
manusia dalam kehidupan dunia ini adalah untuk melaksanakan
kekhalifahan, yaitu membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya ini.,
sesuai dengan kehendak Penciptanya. Peran yang dilakonkan oleh manusia
menurut statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua
jalur, yaitu jalur horizontal dan jalur vertikal.
Peran dalam jalur horizontal mengacu kepada bagaimana manusia mengatur
hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam sekitarnya.
Sedangkan peran dalam jalur vertikal menggambarkan bagaimana manusia
berperan sebagai mandataris Allah. Dalam peran ini manusia penting
menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya untuk menguasai alam dan
sesama manusia adalah karena penegasan dari Penciptanya.