Anda di halaman 1dari 6

Assalamu alaikum

Bagaimana hukumnya jika menceritakan masalah/kejelekan seseorang ke orang lain, agar kita dan orang
lain bisa mengambil pelajaran untuk tidak melakukan hal seperti itu?

Dari Putri Maros

Jawaban

Wa alaikum salam warahmatullah..


Menceritakan kejelekan dan keburukan orang lain terbagi menjadi dua:
1. Menceritakan keburukan dan kejelekan dengan menyebut nama orang tersebut, maka ini termasuk
dalam kategori ghibah sebagaimana sabda Rasulullah ketika menjelaskan tentang ghibah, beliau
bersabda:

Artinya: engkau menyebut sesuatu pada saudaramu yang ia benci. (HR. Muslim)
Amalan ini secara prinsip adalah haram, kecuali jika ada maslahat yang kuat yang diharapkan, seperti
menjadi saksi, atau konsultasi pernikahan dll.
2. Menyebutkan keburukan tanpa menyebut nama personal tertentu, dan ini diperbolehkan sebagaimana
dilakukan oleh Nabi kita Muhammad dalam beberapa kesempatan, beliau pernah mengatakan:

Bagaimana keadaan suatu kaum yang melakukan perbuatan ini atau itu

Beliau juga pernah mengatakan:


..
Bagaimana keadaan suatu kaum yang mengangkat pandangannya ke langit ketika shalat.

Akan sangat baik jika kita selalu menyibukkan diri dengan aib kita dan beristighfar darinya, sebab salah
satu tanda kebahagiaan seseorang adalah ketika ia menyibukkan dengan aibnya sendiri dan melupakan
aib orang lain, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi kita:

Artinya: Berbahagialah bagi orang yang menyibukkan diri dengan aibnya dan melupakan orang lain. HR
Bazzar dan dihasankan oleh Ibnu Hajar.
Yang dimaksud dengan menyibukkan diri dengan aibnya adalah menghitung-hitung dan mengevaluasi
aib dan dosa-dosanya sendiri.

Wallahu alam

Dijawab oleh Ustadz Lukmanul Hakim Lc

Assalamualaikum ust
Saya mau bertanya Bolehkah kita tidak bermazhab karena di era modern ini katanya tidak sesuai lagi jika
kita bermazhab?
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jika yang dimaksud bermazhab di sini adalah mazhab fiqih, maka mempelajari ilmu fiqih dengan segala
permasalahannya pada dasarnya sama dengan disiplin ilmu Islam lainnya, membutuhkan sebuah
methode dan manhaj yang jelas dan teruji. Hal ini disebabkan, cabang (furu) ilmu fiqih sangat banyak
mengikuti pola dasar ilmu fiqih tersebut yang bersifat amaliy (praktis), sehingga permasalahannya sangat
dinamis dan mengalami perubahan sesuai dengan perubahan tempat dan kondisi. Olehnya itu, terkadang
para fuqaha mempunyai pendapat yang berbeda dalam satu permasalahan. Maka dari sisi ini seorang
pembelajar fiqih membutuhkan sebuah methode yang tepat agar ia dapat mempelajari ilmu fiqih tersebut
secara tepat dan sistematis.

Dari sini, kehadiran empat mazhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) merupakan anugerah dan
nikmat Allah yang patut disyukuri. Mazhab fiqih ini telah melalui proses yang sangat panjang hingga
sampai pada tingkat kemapanan dan kematangannya. Meskipun dalam perkembangannya mengalami
pasang surut, tetapi tidak dapat dipungkiri sejarah telah membuktikan eksistensinya hingga detik ini.
Begitu banyak ulama fiqih bahkan para ulama yang sampai pada tingkatan ijtihad mutlak, dilahirkan dari
rahim empat mazhab fiqih ini.

Adalah hal yang keliru jika dikatakan bahwa bermazhab merupakan sesuatu yang dicela atau tidak
dianjurkan dalam mengaplikasikan ajaran Islam, apalagi sampai menuduhnya keluar dari koridor
ahlussunnah. Anggapan dan tuduhan ini bertentangan dengan sejarah perkembangan Islam yang telah
berabad-abad lamanya menyebar dalam nuansa kemadzhaban yang sangat kental, hingga hari ini.

Di Afghanistan, Kazakhstan, India, Pakistan, Bangladesh, Turki dan sebagian Negara Eropa Timur
terkenal dengan pengikut mazhab Hanafi. Di sebagian besar Negara di benua Afrika terkenal dengan
Mazhab Malikinya. Mazhab Hambali diamalkan oleh sebagian penduduk negeri Syam dan kawasan teluk.
Demikian juga dengan mazhab Syafii yang tersebar di berbagai kawasan hingga ke Asia Tenggara. Hal
ini merupakan bukti sejarah dan perpanjangan tangan dari apa yang telah diwariskan oleh kaum salaf
ummat ini. Menelisik sejarah, setelah wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat berpencar ke berbagi
wilayah, sehingga penduduk wilayah yang menjadi tempat menetap para sahabat tersebut banyak
dipengaruhi oleh mazhab (baca: pendapat) dan fatwa-fatwa yang disampaikan oleh sahabat tersebut.

Imam Ibn al-Qayyim Rahimahullah- berkata:

Tersebarnya agama, fikih, dan ilmu di tengah ummat berasal dari murid-murid Ibnu Masud, Zaid ibn
Tsabit, Abdullah Ibn Umar, Abdullah Ibn Abbas. Maka ilmu kebanyakan dari ummat ini berasal dari empat
tokoh ini. Ilmu penduduk kota Madinah berasal dari murid-murid Zaid Ibn Tsabit dan Abdullah Ibn Umar,
Adapun ilmu penduduk Mekkah berasal dari murid-murid Abdullah Ibn Abbas, adapun penduduk Irak
maka ilmu mereka berasal dari murid-murid Abdullah Ibn Masud. (Ilam al-Muwaqqiin 1/17)

Terlepas dari beberapa faktor utama yang menjadikan keempat mazhab tersebut eksis, yang terpenting
adalah tidak ada dari kalangan ulama Ahlussunnah sejak dahulu hingga sekarang, yang menganggap
bahwa berafiliasi dan menisbatkan diri kepada mazhab tertentu dari empat mazhab sunni ini adalah
sebuah kekeliruan, apalagi menganggapnya bukan bagian dari pengamalan salaf dan ahlussunnah.
Bahkan tidak keliru jika pengamalan Islam melalui mazhab yang diakui merupakan ijma (konsensus)
yang tidak dapat terbantahkan. Syeikh Muhammad Ibn Ibrahim Rahimahullah- berkata:




:

Bermazhab dengan salah satu mazhab yang empat dibolehkan, bahkan dibolehkan menurut Ijma atau
mendekati ijma dan tidak ada larangan di dalamnya untuk menisbatkan diri ke salah satu Imam yang
empat, karena sesungguhnya mereka adalah para Imam berdasarkan Ijma ulama. Dan dalam masalah
(bermazhab) ini terdapat tiga golongan: Kelompok yang berpendapat tidak perlu bermazhab, dan ini
adalah pendapat yang keliru, kelompok yang jumud terhadap mazhab tertentu dan tidak berusaha untuk
mencari (pendapat yang kuat), dan kelompok yang berpandangan bahwa bermazhab dibolehkan dan
tidak mengandung unsur yang terlarang, dan apa yang dirajihkan berdasarkan dalil menurut salah satu
mazhab yang empat atau selainnya maka itulah yang mereka ambil. (Fatawa wa Rasail Samaahah as-
Syaikh Muhammad Ibn Ibrahim 2/17).

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa bermazhab dengan salah satu mazhab yang muktabar
dengan tujuan untuk mempelajari fiqih secara bertahap dan sistematis adalah masuk dalam perkara yang
dibolehkan dan dalam hal ini sebaiknya mempelajari mazhab yang sesuai dengan mazhab yang
diamalkan oleh kaum muslimin di negerinya, seperti mazhab Syafii di Indonesia. Adapun jika bermazhab
difahami sebagai bagian dari tuntutan agama yang dibagun di atas fanatisme (taasshub) apalagi sampai
meninggalkan dalil yang shahih dan jelas dengan alasan bertentangan dengan perkataan imam atau
mazhab yang diyakininya maka bermazhab dalam pengertian ini adalah tercela dan terlarang. Wallahu
Taala Alam.

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc. MA


(Anggota Dewan Syariah WI & Mahasiswa S3 King Saud University Riyadh KSA)

Hukum Taziyah Pada Orang Yang Wafat Dalam Keadaan Kafir atau Musyrik Maulana La Eda, L.c Mei
28, 2016 896 Views 80 SHARES FacebookTwitter Seorang muslim dibolehkan untuk melakukan taziyah
kekeluarga orang yang wafat dalam keadaan kafir atau musyrik bila mereka kafir dzimmi (yang berada
dalam naungan negeri islam) atau muaahid (yang terikat akad perjanjian damai dengan negeri islam),
dan bukan termasuk orang kafir yang memerangi umat islam (jenis kafir harbiy). Hal ini merupakan
pendapat banyak ulama termasuk Imam Syafii dinukil dalam Al-Majmu: 5/275-, dan Abu Hanifah
dinukil dalam Hasyiah Ibnu Abidin: 3/140-. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Boleh bagi seorang
muslim untuk melakukan taziyah kepada kafir dzimmi karena kematian kerabatnya yang juga kafir
dzimmiy. (Raudhah Al-Thalibin: 2/145). Dalil kebolehannya adalah dalil umum dari hadis Anas
radhiyallahuanhu: Dahulu ada seorang anak Yahudi yang membantu Nabi. Suatu ketika si anak ini sakit.
Rasulullah menengoknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, dan berkata, Masuklah ke dalam Islam.
Anak tersebut memandang bapaknya yang hadir di dekatnya. Bapaknya berkata,Patuhilah (perkataan)
Abul Qasim, maka anak itupun masuk Islam. Setelah itu Nabi keluar seraya berkata, Segala puji bagi
Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari siksa neraka. (HR. al-Bukhari: 1356). Hanya saja dalam
bertaziyah kepada keluarga orang yang wafat dalam kondisi kafir atau musyrik, kita tidak boleh
mendoakan baginya ampunan dan rahmat di alam kubur karena doa ini khusus diperuntukkan bagi
seorang yang wafat dalam keadaan muslim, adapun orang yang mati dalam keadaan kafir/musyrik maka
tidak didoakan rahmat dan ampunan, sebagaimana dalam ayat:
Artinya: Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang

beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik
itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah
penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113) Akan tetapi boleh mendoakan keluarganya tersebut agar
bersabar, dan mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah taala. Juga dalam proses taziyah ini
hendaknya diniatkan untuk dakwah dengan menampakkan kemuliaan dan akhlak islami, sehingga
dengannya mereka dapat tertarik dengan agama islam atau aqidah yang shahih. Tujuan dan maslahat
baik inilah yang didorong oleh Komite Fatwa Arab Saudi dalam Fatawa mereka (9/132) ketika seorang
muslim mentaziyah orang kafir atau musyrik. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kebolehan bertaziyah
pada keluarga orang wafat dalam kondisi kafir/musyrik ini dibolehkan dengan beberapa syarat: 1.Orang
kafir atau musyrik tersebut adalah kafir dzimmi (yang berada dalam naungan negeri islam) atau muaahid
(yang terikat akad perjanjian damai dengan negeri islam), dan bukan termasuk orang kafir yang
memerangi umat islam (jenis kafir harbiy). 2.Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan bagi si mayit
yang kafir atau musyrik tersebut. Catatan: Sebagian ulama berpendapat tidak bolehnya melakukan
taziyah ini kepada orang kafir, namun yang paling benar adalah kebolehannya sebagaimana disebutkan
diatas, tentunya dengan syarat-syarat yang juga telah disebutkan diatas. Wallaahu alam. Oleh Ustad
Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah

Sumber Dari -> http://wahdah.or.id/hukum-taziyah-pada-orang-yang-wafat-dalam-keadaan-kafir-atau-


musyrik/ .

Seorang Pria Berjanji Melamar, Apa Yang Harus


Dilakukan ?
admin wahdah Maret 3, 2017 732 Views

665
SHARES
FacebookTwitter
Afwan ustadz, ada seorang lelaki yang pernah menyatakan ingin melamar saya dan saya arahkan untuk
menyampaikan hal ini langsung kepada ayah saya. Namun ia belum bisa segera menyampaikan hal
tersebut kepada orang tua saya karena masih ingin berbakti kepada kedua orang tuanya (merenovasi
rumah orang tuanya dan memberangkatkan umroh sehingga belum siap secara materi).

Setelah mengutarakan hal tesebut melalui whatsapp, kami tidak pernah berhubungan lagi, namun saya
mendengar kabar dari seseorang bahwa dia akan melamar 10 bulan ke depan. Saya merasa waktu
tersebut terlalu lama untuk menunggu karena tidak bisa dipungkiri, penyakit hati mudah sekali mengusik
dan saya takut melakukan zina hati dalam jangka waktu penantian tersebut. Bagaimana nasihat ustadz
untuk kami, dan apa yang harus saya sampaikan kepada lelaki tersebut? Syukran
Mutmainnah makassar
Jawaban:
Wa alaikum salam warahmatullah..

Hayyakillahu ya ukhti..
Sesungguhnya janji dari seorang ikhwah kepada akhwat untuk melamarnya bukanlah akad syari yang
mengikat, mungkin saja ikhwah tersebut dapat memenuhi janjinya dan mungkin juga ada kendala yang
lain sehingga tidak dapat melaksanakan janjinya.
Oleh karena itu,, sebenarnya kendali dalam masalah ini ada di tangan ukhti, maka solusinya
tergantung kecenderungan dan kehendak ukhti.
1. Ukhti bisa memberikan nasehat ke ikhwah tersebut untuk tidak menunda kebaikan dan ibadah
menikah manakala sudah mampu dan mapan, sebab menunda-nunda hal tersebut padahal sudah
mampu dan mapan bisa saja merupakan bagian dari was-was yang ditanamkan oleh setan,, ingatkan dia
dengan Hadits Nabi:


Wahai para pemuda,, jika kalian telah memiliki kemampuan maka menikahlah.
Dan bisa juga diberikan peringatan bahwa mengulur waktu dan memberi harapan kepada seorang wanita
untuk mengkhitbahnya dapat menghadirkan dampak buruk bagi keduanya, diantaranya berupa
tersanderanya hati dengan kegelisahan dan kekhawatiran, dan dipenuhinya dengan angan-angan dan
pikiran palsu, bahkan bukan tidak mungkin setan menjerumuskan ke dalam hubungan yang terlarang.

Namun dalam menyampaikan nasehat ini, sebaiknya ukhti tidak melakukannya sendiri, bisa meminta
bantuan dengan orang-orang terpercaya sehingga tidak membuka kesempatan bagi setan untuk merusak
hati.

2. Ukhti juga bisa bersabar menunggu pinangan dari ikhwah tersebut, khususnya jika ada indikasi
bahwa dia baik agamanya dan akhlaknya. Namun sikap ini bukan tanpa resiko,, justru ada resiko besar
yg mengancam,, berupa terfitnahnya hati dengan masalah ini, dan terjajahnya kalbu dengan kegalauan
dan kegelisahan, Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi manusia bagiannya dari zina,, dan ia pasti akan
mendapatkannya,, zina nya mata adalah melihat, zinanya lisan berbicara, dan zinanya hati berangan-
angan dan berhasrat,, dan kemaluan kemudian yang mewujudkan (zina) tersebut atau tidak.
Tentu ini merupakan musibah, yang dapat melemahkan iman di dalam dada, olehnya jika ukhti memilih
sikap ini, diperlukan upaya yang tidak kecil agar terhindar dari fitnah, usul kami adalah:
A. Anggap tidak ada janji ikhwah tersebut kepada ukhti,, karena janji tersebut bukan akad yang mengikat,
dan tidak memiliki konsekuensi apapun terhadap hubungan laki-laki dan wanita, karena jika ukhti
senantiasa mengingat janji tersebut,, maka bisa melambungkan angan-angan ukhti ke langit yang
tertinggi kemudian berpotensi untuk terfitnah.

B. Sibukkan diri dengan aktifitas yang bermanfaat, sehingga bisa membantu mengaburkan dan
melupakan janji tersebut.

C. Memutus komunikasi dengan ikhwah tersebut,sehingga tidak dimanfaatkan oleh setan untuk
menaburkan fitnah ke dalam hati.
D. Tanamkan dalam hati bahwa jika ada ikhwah lain yang datang meminang, dan dia baik agama dan
akhlaq, dan ukhti juga telah meminta petunjuk kepada Allah dengan istikhoroh, maka hendaknya diterima
lamaran tersebut, dan jangan menolak hanya dikarenakan janji yang belum tentu ditepati.

3. Ukhti juga bisa bersikap tegas, dengan menetapkan waktu untuk mengkhitbah,, jika batasan
waktunya telah lewat, maka tidak ada penantian untuknya dan ukhti dapat menampakkan sikap
keberatan untuk menunggu janji tersebut. Mungkin sikap ini terlalu kejam, namun banyak sisi positif
yang dipetik,, diantaranya adalah terjaganya dari fitnah.

Dan jika ukhti melaksanakan hal ini dengan penuh kejujuran, ingin menjaga kesucian hati ukhti dan demi
menggapai ridho ilahi,, niscaya Allah akan membalas dengan yang lebih baik, Rasulullah bersabda:
.
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang
lebih baik dari yang ditinggalkan.
Akhirnya,, untaian doa kami menutup nasehat ini,, semoga ukhti diberi pilihan yang terbaik oleh Allah,
Amiin.
Wallahu alam.
Dijawab oleh Ust. Lukman Hakim, Lc
(Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan Mahasiswa S2 Jurusan
Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)