Anda di halaman 1dari 22

PENAMBAHAN KWIK SEAL SEBAGAI LCM TERHADAP SIFAT FISIK

LUMPUR PEMBORAN BAHAN DASAR AIR TAWAR DENGAN SISTEM


PADATAN RENDAH
(LOW SOLID MUD) DAN KCL POLYMER

Mochamad Irwan S
Mahasiswa Jurusan Teknik Perminyakan USAKTI, Jakarta, Indonesia.

RINGKASAN

Lumpur pemboran merupakan salah satu bagian yang sangat penting didalam
operasi pemboran. Penentuan komposisi serta pemilihan jenis dari suatu lumpur
pemboran yang akan digunakan pada pemboran suatu formasi tertentu harus tepat,
sehingga dapat menunjang kelancaran dan menentukan keberhasilan operasi
pemboran tersebut serta menghindari dari kesulitan kesulitan yang dapat timbul.
Adapun kesulitan tersebut misalnya kehilangan lumpur pemboran yang diakibatkan
berat jenis lumpur yang terlalu besar. Salah satu problema pemboran yaitu hilangnya
lumpur pemboran yang diakibatkan berat jenis lumpur yang terlalu besar, untuk
mencegah kehilangan lumpur pemboran tersebut digunakan kwik seal sebagai LCM
terhadap rheologi lumpur dan sifat fisiknya dengan menggunakan lumpur pemboran
bahan dasar air tawar dengan system lumpur padatan rendah dan system lumpur
KCL-polymer
.

ABSTRACT

Drilling mud is one very importan part in drilling operations. Determination of


the composition and selection of a drilling mud that will be used in drilling a
particular formation to be precise, so it can support smooth and determine the success
of drilling operation and avoid the difficulties that may arise. The difficulty is for
example due to loss of drilling mud density of mud is that is too big. One problem is
the loss of drilling mud drilling caused mud density that is too large, to prevent loss
of drilling mud is used as an LCM kwik seal against mud rheological andd physical
properties by using drilling mud ingredients fresh water with low solids mud system
and mud system KCL-Polymer.
I. PENDAHULUAN

Lumpur pemboran adalah menggangu kelancaran dalam


fluida yang digunakan yang di desain pemboran itu sendiri. Hal ini dapat
untuk membantu proses pemboran. dilihat dari fungsi atau kegunaan
Komposisi dan sifat fisik lumpur utama dari lumpur pemboran, yaitu
sangat berpengaruh terhadap suatu sebagai berikut :
operasi pemboran, karena salah satu 1. Pengangkatan Serpih Bor
faktor yang menentukan berhasil 2. Membersihkan Dasar Lubang.
tidaknya suatu pemboran adalah 3. Mendinginkan dan Melumasi
tergantung pada lumpur bor yang Pahat.
digunakan. Kecepatan pemboran, 4. Melindungi Dinding Lubang
efisiensi, keselamatan, dan biaya Supaya Stabil.
pemboran sangat tergantung dari 5. Menjaga atau Mengimbangi
Lumpur pemboran yang digunakan. Tekanan Formasi.
Karena berbagai faktor pemboran 6. Menahan / Serbuk Bor dan
yang ada maka lumpur pemboran Padatan Lainnya Jika Sirkulasi
mutlak diperlukan pada proses Dihentikan.
tersebut. Penentuan komposisi serta 7. Membantu Didalam
pemilihan jenis dari suatu lumpur Mengevaluasi Formasi dan
pemboran yang akan digunakan pada Melindungi Produktivitas
pemboran suatu formasi tertentu Formasi.
harus tepat, sehingga dapat 8. Menunjang Berat Dari
menunjang kelancaran dan Rangkaian Bor dan Selubung.
menentukan keberhasilan operasi 9. Menghantarkan Daya Hidrolika
pemboran tersebut serta menghindari Kepahat.
dari kesulitan kesulitan yang dapat 10. Mencegah dan Menghambat
timbul. Laju Korosi.
11. Sebagai Media Logging.
II. TEORI DASAR 12. Sebagai Tenaga Penggerak.
2.1 Fungsi Lumpur Pemboran

Lumpur pemboran memiliki 2.2 Sistem Sirkulasi Lumpur


peranan yang sangat penting dalam Pemboran
suatu operasi pemboran. Kecepatan, Fungsi utama dari sistem
efisiensi, keselamatan dan biaya sirkulasi adalah untuk mengangkat
pemboran sangat tergantung kepada serbuk bor dari dasar lubang menuju
sifat- sifat lumpur bor. Lumpur permukaan pada waktu operasi
pemboran sangat berguna untuk pemboran. Skema sistim sirkulasi
menanggulangi masalah masalah lumpur pemboran berawal dari
dalam pemboran yang dapat lumpur pemboran yang mengalir dari
tangki penghisap dimana lumpur dengan bahan dasar minyak (oil base
menuju pompa lumpur, kemudian mud). Lumpur bor berdasarkan fasa
dari pompa lumpur mengalir melalui cairnya yaitu air dan minyak dapat
sambungan pipa menuju stand pipe diklasifikasikan sebagai berikut :
masuk kedalam rangkaian pipa bor 1. Water base mud
sampai ke pahat bor. Melalui corong Lumpur jenis ini yang paling
pahat bor, lumpur naik keruang banyak digunakan, karena
annulus diantara rangkaian bor biayanya relatif murah. Lumpur
dengan lubang menuju permukaan ini terbagi atas fresh water mud
dan melalui peralatan pengontrol dan salt water mud, dan apabila
padatan dan tangki, lumpur kembali dilihat dari komposisinya
ke tangki penghisap. lumpur ini terbagi lagi sebagai
berikut :
2.3 Komposisi Lumpur a) Gel spud mud
Pemboran b) Lignosulfonate mud
Komposisi dari lumpur c) Polimer mud
pemboran tergantung pada d) Sea water mud
kebutuhan dan kondisi dari operasi 2. Oil base mud
pemboran. Lubang yang dibor Faedah oil base mud
melalui formasi yang berbeda-beda didasarkan pada kenyataan
membutuhkan lumpur yang berlainan bahwa filtratnya adalah
juga. Pertimbangan ekonomi, minyak, karena itu tidak akan
kontaminasi, jenis air yang tersedia, menghidratkan shale atau clay
tekanan, dan temperatur merupakan yang sensitif baik terhadap
faktor penting dalam menentukan formasi biasa maupun formasi
pemilihan jenis lumpur yang akan produktif. Kegunaan terbesar
dipakai. dari oil base nud ini adalah
Lumpur pemboran yang paling pada complesi dan kerja ulang
banyak digunakan adalah lumpur sumur. Kegunaan yang lain
pemboran dengan bahan dasar air adalah untuk melepaskan drill
(water base mud) dimana air sebagai pipe yang terjepit ,
fasa cair kontinyu dan sebagai mempermudah pemasangan
pelarut atau penahan materimateri casing dan liner. Oil base mud
didalam lumpur. ini harus ditempatkan pada
suatu tangki besi untuk
2.4 Jenis Lumpur Pemboran menghindarkan kontaminasi
air.
Pada umumnya lumpur
3. Emulsion mud
pemboran dibagi dalam dua sistem,
yaitu lumpur bor dengan bahan dasar Terbagi atas oil in water
air (water base mud) dan lumpur bor emulsion dan water in oil
emulsion tergantung dari fasa kg/l, gr/cc dan lb/gal. Densitas
yang terdispersi. lumpur adalah berat lumpur dibagi
dengan volume lumpur atau dapat
2.5 Komposisi Semen Pemboran dinyatakan dengan persamaan
Bubur semen yang digunakan berikut :

pada operasi penyemenan sumur BJ ..(2.3)
air
pemboran terdiri dari komponen
dasar dan komponen-komponen Dimana :
tambahan. Komponen dasarnya BJ = Densitas Lumpur, ppg
adalah portland cement dan air, = Densitas Lumpur, ppg
sedangkan komponen tambahannya air = Densitas air, ppg
adalah satu atau beberapa macam
aditif yang dapat menjadikan semen 2.5.2 Viskositas Lumpur
pemboran memiliki sifat fisik khusus Percobaan
yang sesuai dengan kebutuhan Pada lumpur bor, viskositas
pemboran sumur. merupakan suatu tahanan terhadap
aliran lumpur yang memegang
2.5.1 Densitas Lumpur Pemboran peranan dalam pengangkatan serbuk
Densitas atau berat jenis bor ke permukaan.Semakin kental
sangat penting diketahui untuk lumpur maka pengangkatan
menentukan besarnya tekanan cuttingmakin baik. Apabila lumpur
hidrostatik kolom lumpur untuk tiap tidak cukup kental maka
kedalaman. Lumpur harus dikontrol pengangkatan serbuk bor kurang
agar dapat memberikan tekanan sempurna dan akan mengakibatkan
hidrostatik yang cukup untuk serbuk bor tertinggal didalam lubang
mencegah masuknya cairan formasi bor sehingga menyebabkan
kedalam lubang bor, tetapi tekanan rangkaian pipa pemboran akan
tersebut tidak boleh terlalu besar terjepit. Akan tetapi apabila lumpur
karena akan mengakibatkan formasi mempunyai viskositas yang besar
pecah dan lumpur hilang kedalam sekali maka akan dapat
formasi. Oleh karena itu berat jenis mengakibatkan problem pada
Lumpur pemboran perlu pemisahan cutting permukaan.
direncanakan sebaik-baiknya dan Menurut Poiseille, viskositas
disesuaikan dengan keadaan tekanan lumpur dapat dinyatakan dengan
formasi. persamaan berikut:
Densitas suatu fluida adalah F
Shear Stress
berat fluida dibagi volumenya pada A ..
temperatur dan tekanan tertentu. Shear Rate V
r
Satuan dimensi yang dipakai adalah
(2.4)
PV = 600 300....(2.5)
Dimana: YP = 300 PV.....(2.6)
= Viskositas , Cp 600
AV = ................
F = Gaya yang bekerja pada 2
Sistem, dyne (2.7)
A = Luas penampang, cm/det Dimana:
V = Kecepatan alir, cm/det PV = Plastic Viscosity, cp
R = Jarak aliran, cm. YP = Yield Point, cp
Sedangkan lumpur AV = Apparent Viscosity,
merupakan fluida Non Newtonian. lbs/100 ft.
Pada fluida Non Newtonian dikenal
dengan adanya plastic viscosity, 2.5.3 Gel Strength
yield pointdan apparent viscosity.
Pada saat sirkulasi berhenti,
Plastic viscosity adalah suatu
lumpur akan mengagar atau menjadi
tahanan terhadap aliran yang
gel. Hal ini disebabkan oleh adanya
disebabkan oleh adanya gesekan-
gaya tarik-menarik antara partikel
gesekan antara padatan dalam
padatan lumpur dalam kondisi statis,
lumpur, padatan cairan dan gesekan
gaya mengagar inilah yang disebut
antara lapisan cairan, dimana plastic
gel strength.
viscositymerupakan hasil torsi dari
Diwaktu lumpur berhenti
pembacaan pada alat viscometer.
melakukan sirkulasi, lumpur harus
Torsi pada putaran 600 rpm
mempunyai gel strength yang dapat
dikurangi torsi pada putaran 300
menahan serbuk lumpur bor dan
rpm, yield point adalah gaya elektro
material pemberat lumpur agar tidak
kimia antara padatan-padatan,
turun. Akan tetapi jika gel strength
cairan-cairan, cairan-padatan pada
terlalu tinggi akan menyebabkan
zat kimia dalam kondisi dinamis
kerja pompa terlalu berat untuk
yang berhubungan dengan pola
memulai sirkulasi kembali.
aliran, pengangkatan serpih,
Walaupun pompa mempunyai daya
kehilangan tekanan di annular dan
yang kuat, pompa tidak boleh
konstaminasi. Yield point merupakan
memompakan lumpur dengan daya
hasil dari torsi pada putaran 300 rpm
yang besar karena dapat
dikurangi plastic viscosity,
menyebabkan formasi pecah.Gel
sedangkan apparent viscosity adalah
strengthdapat diukur dengan
keadaan dimana fluida Non
menggunakan Stromer Viscometer.
Newtonian, dimana apparent
viscosity merupakan hasil torsi pada
2.5.4 Laju Tapisan
putaran 600 rpm dibagi dua dan
dapat ditulis dengan persamaan Lumpur pemboran terdiri dari
sebagai berikut: komponen padat dan cair. Karena
pada umumnya lubang sumur Derajat keasaman (pH)
mempunyai pori-pori, maka lumpur pemboran dipakai untuk
komponen cair dari lumpur akan menentukan tingkat kebasaan dan
masuk kedalam dinding lubang bor keasaman dari lumpur bor. pH dari
yang disebut sebagai laju tapisan. Zat lumpur yang dipakai berkisar antara
cair yang masuk ini disebut filtrate, 8.5 sampai 12, jadi lumpur pemboran
kegunaan laju tapisan adalah yang digunakan adalah dalam
membentuk mud cake pada dinding suasana basa. Kalau lumpur bor
lubang bor. Secara matematis dalam suasana asam maka cutting
hubungan tersebut dapat ditulis: yang keluar dari lubang bor akan
T 2 1 halus atau hancur, sehingga tidak
Q2=Q1 2 ........................
T1 dapat ditentukan batuan apakah yang
...(2.8) ditembus oleh mata bor. Dengan kata
dimana: lain sulit untuk mendapatkan
Q2 = Volume fluid loss yang informasi dari cutting. Selain dari
dicari selama waktu T2 menit, cc. pada itu peralatan-peralatan yang
Q1 = Volume fluid loss yang dilalui oleh lumpur saat sedang
diketahui selama T1 menit, cc. sirkulasi atau tidak mudah berkarat.

2.5.5 Mud Cake 2.6 Lumpur Air Garam

Mud cake yang baik Lumpur air garam adalah


sebaiknya tipis agar tidak lumpur yang mempunyai konsentrasi
memperkecil lubang bor dan garam (NaCl) diatas 1.000 ppm(1%),
mengurangi kemungkinan terjepitnya konsentrasi garam dapat mencapai
pipa bor, serta pada filtrate yang jenuh ( 300.000 ppm). Konsentrasi
masuk kedalam formasi tidak terlalu garam dalam lumpur berasal dari :
berlebihan. Selain itu mud cakeharus 1. Pemboran batuan garam (salt
bersifat impermeable supaya invasi stringers).
mud filtrat tidak berlangsung terus, 2. Aliran air asin.
untuk itu mud cakejuga harus cepat 3. Garam yang sengaja
terbentuk dan harus tahan terhadap ditambahkan.
elektrolit. Apabila sifat-sifat mud 4. Garam dari air pembuat lumpur.
cake kurang baik (misalnya masih Pada waktu pemboran,
permeable) maka filtrat akan formasi batuan garam mungkin
menginvasi kedalam formasi akan dijumpai, dan jika lumpur yang
semakin banyak. dipakai adalah air tawar maka garam
akan larut kedalam lumpur. Jika
2.5.6 Derajat Keasaman jumlah garam yang dijumpai besar,
maka dianjurkan untuk
menggunakan lumpur air tawar jenuh
(salt saturated mud) atau lumpur ini saya menggunakan sistem
minyak. prehydrated, di mana ini merupakan
sistem dengan menggunakan
2.7 Pengaruh NaCl Terhadap bentonite yang dikembangkan lebih
Bentonite dahulu di dalam air tawar yang
Viskositas, daya agar, tapisan bertujuan untuk meningkatkan daya
dari pH adalah sifat-sifat lumpur pengentalan dalam bentonite, baru
yang dipengaruhi oleh kadar garam. kemudian dilarutkan dalam air asin
Ion-ion Na+ dan Cl- merubah sifat- sehingga dapat diperoleh
sifat dari lempung dan daya tolak pengentalan yang tinggi hasil dari
antar lempeng menjadi berkurang, mixing. Sistem ini telah banyak
sehingga lempung menjadi dipakai hampir disemua pemboran
terflokulasi, ini adalah penumpukan lepas pantai. Keuntungan dari sistem
(aggregasi) lempeng-lempeng, dan ini dibandingkan sistem lain adalah
ini akan menurunkan viskositas dan kadar perawatan yang lebih rendah
daya agar akan tetapi meningkatkan dan kadar padatan yang lebih rendah,
laju tapisan. Dengan demikian jika laju tapisan mudah dikontrol
bentonite kering langsung sehingga kita dapat hasil yang
ditambahkan kedalam air asin daya optimal dari sistem ini serta
pengentalannya akan menurun. pembiayaan yang lebih efisien.
Untuk meningkatkan daya
2.9 Perubahan Temperatur
pengentalan bentonite maka dibuat
dahulu larutan bentonite dalam air Pada proses pemboran, akan
tawar (prehydrated bentonite) terjadi perubahan temperatur yang
kemudian harus dilarutkan dalam air diakibatkan oleh gesekan antara mata
asin, sehingga diperoleh pengentalan bor dengan lapisan yang ditembus,
yang lebih tinggi. oleh karena itu lumpur pemboran
juga akan merasakan dampak dari
2.8 Sistem Lumpur Bentonite perubahan temperatur, di mana akan
Prehydrasi terjadi perubahan pada sifat sifat
Salah satu faktor penting yang fisik lumpur tersebut. Semakin dalam
perlu diperhatikan untuk lubang yang dibor, maka akan
menghasilkan lumpur bor yang semakin tinggi juga temperaturnya.
optimal adalah viskositas, dengan
dipakainya bentonite pada lumpur ini III. ANALISA DI
bertujuan untuk menaikkan LABORATORIUM
viscositas lumpur yang didasarkan III.1 Tujuan Pengamatan
karena bentonite mempunyai
beberapa sifat yang menguntungkan. Percobaan yang dilakukan
Pada percobaan yang saya lakukan dilaboratorium bertujuan untuk
mengetahui sifat sifat fisik lumpur Sistem saturated salt water
bor dengan bahan dasar air asin, adalah lumpur pemboran yang
berdasarkan data data dijenuhkan dengan garam (Nacl).
hasilpenelitian yang dilakukan Maksudnya agar lumpur pemboran
setelah penambahan bentonite dalam tidak bereaksi didalam aliran air asin.
komposisi lumpur tersebut. Aliran air asin ini dapat
Adapun sifat sifat fisik menimbulkan penggumpalan
yang dianalisa yaitu : Berat Jenis lempung, viscositas, daya agar dan
Lumpur, Viscositas, Pengukuran laju tapisan meningkat.
Plastic Viscosity, Yield Point, Percobaan yang dilakukan
Apparent Viscosity dan Gel Strength pada penelitian ini meliputi
disamping laju tapisan serta pH pembuatan lumpur sesuai dengan
lumpur. komposisi yang ditentukan kemudian
dianalisa sifat fisiknya seperti berat
3.2 Jenis Lumpur Yang Dipakai jenis, Viscositas, Plastic Viscosity,
Yield Point, Gel Strength,
Lumpur pemboran
LajuTapisan dan pH lumpur. Untuk
mempunyai tiga jenis, yaitu lumpur
memperoleh data-data sifat fisik
pemboran dengan bahan dasar
lumpur ini, maka di butuhkan alat-
minyak (oil base mud), air (water
alat di laboratorium seperti :
base mud), dan lumpur gas
1. Mixer.
(pneumatic).
2. Mud Balance.
Lumpur dengan bahan dasar
3. Fann VG Meter.
air dibagi menjadi lumpur dengan air
4. API Filter Press.
tawar dan lumpur dengan air asin.
5. pH Stripe.
Dengan melakukan kegiatan
Sedangkan komposisi lumpur
pemboran lumpur yang sering
yang digunakan dalam melakukan
digunakan adalah lumpur dengan
penelitian dilaboratorium, antara
bahan dasar air, hal ini disebabkan
lain:
lumpur dengan bahan dasar air
1. Larutan NaCl.
mudah sekali didapat dan harganya
2. Soda Ash. (menetralisir Ca)
relatif lebih murah dari pada lumpur
3. Bentonite. (bahan dasar)
berbahan dasar minyak atau gas.
4. KOH.(menaikan pH)
Lumpur yang digunakan dalam
5. PHPA. (viscosifier)
percobaan ini adalah lumpur
6. Pac R. (viscosifier)
berbahan dasar air asin.
7. Pac LV. (viscosifier)
3.3 Sistem Lumpur Bahan 8. K. Soltex. (menstabilkan sifat
Dasar Salinitas fisik lumpur)
9. Lignite.(thinner).
3.3.1 Penentuan Berat Jenis viskositas tinggi (kental) dan
sebaliknya adalah thin mud (encer).
Mud balance adalah suatu
alat yang digunakan untuk mengukur
berat jenis lumpur bor di lapangan.
Untuk mendapatkan pengukuran
yang didasarkan atau density air,
maka mud balance harus dikalibrasi
lebih dahulu dengan air murni 8,33
ppg atau 1 gr/cc pada temperature
80F sebelum alat tersebut digunakan
untuk mengukur lumpur yang dibuat. Gambar 3.3
Skema gambar mud Marsh funnel
balance dilihat pada Gambar 3.1
3.3.3 Penentuan Rheologi
Lumpur

Sifat-sifat rheologi dari


lumpur pemboran berguna untuk
mengetahui serta mengukur sifat-
sifat aliran dari lumpur, dimana
dalam pengukuran dipakai alat yang
disebut Fann VG Meter(6 speed).
Gambar 3.1 Fann VG Meter atau
Mud Balance Rheometer merupakan alat yang
dipergunakan untuk mengukur
3.3.2 Penentuan Viskositas
plastic viscosity, yield point,
Lumpur
apparent viscosity dan gel strength
Viskositas yang dimaksud dari lumpur bor. Prinsipnya adalah
adalah viskositas yang diukur dengan beberapa torsi yang dihasilkan bila
marsh funnel dengan lumpur diaduk dengan kecepatan
memperhitungkan viskositas dalam tertentu. Fann VG Meter adalah
satuan detik/quart dan dilaksanakan suatu alat yang bekerja berdasarkan
secara kontinyu. Peralatan tersebut perputaran dan silinder yang
perlu dikalibrasi terlebih dahulu digerakkan oleh tenaga listrik atau
dengan menggunakan air tawar. diputar dengan tangan (handcrank).
Didalam operasi pemboran, Percobaan yang dilakukan di
viskositas yang baik adalah antara 36 laboratorium telah disesuaikan untuk
45 marsh funnel. Istilah thick mud mendapatkan suatu tatapan, bahwa
digunakan untuk lumpur dengan perhitungan besarnya plastic
viscosity, yield point dan apparent
viscosity didapat dari hasil 3.3.5 Penentuan Laju Tapisan
pembacaan pada lempengan dan Mud Cake
pengukuran dengan kecepatan rotor
600 rpm dan 300 rpm. Air tapisan diukur menurut
API yang dilakukan dengan tekanan
3.3.4 Penentuan Gel Strength 100 psi selama 30 menit. Pengukuran
air tapisan dan tebal ampas dilakukan
Gel strength adalah suatu dengan alat yang disebut Filter Press.
daya pembentukan agar dari suatu Filter Press lebih ditekankan
fluida pada kondisi statis, sifat ini untuk mengetahui sifat-sifat lumpur
menunjukan kemampuan lumpur didasar lubang sumur dimana suhu
didalam menahan atau dan tekanannya tinggi. Seperti pada
mengapungkan serpih pemboran API, Filter Press terdiri dari sebuah
pada saat tidak ada sirkulasi. tabung silinder untuk tempat lumpur
Keadaan yang sama untuk kondisi yang akan diperiksa, tetapi tabung
yang dinamis dikenal sebagai yield silinder ini disesuaikan khusus untuk
point. Daya agar biasanya tekanan sampai 100 psi, dilengkapi
diklasifikasikan menjadi dua macam dengan peralatan tekanan yang
yaitu: Daya agar kuat dan Daya agar kesemuanya disangga oleh sebuah
lemah. Daya agar kuat dijelaskan penyangga yang memadai.
sebagai sesuatu yang awalnya rendah Apabila filtration loss dan
tapi memiliki kenaikan waktu yang mud cake tidak dikontrol, maka akan
tetap, hal ini disebabkan karena menimbulkan berbagai masalah
tingginya kadar padatan didalam selama operasi pemboran maupun
lumpur. Daya agar lemah selama tahap produksi. Filtrat yang
permulaannya tidak terlalu tinggi besar, buruk pengaruhnya terhadap
tetapi hanya naik sedikit pada waktu formasi karena menyebabkan
yang lama. pengurangan permeabilitas efektif
Berikut adalah Gambar dari terhadap minyak dan juga lumpur
alat Fann VG meter. akan banyak kehilangan fase cairnya.
Mud cake yang tebal akan menjepit
pipa pemboran sehingga sulit
diangkat dan diputar, sedangkan
filtrationnya akan menyusup ke
formasi dan dapat menimbulkan
damage pada formasi.
Pembentukan filtration loss
dan mud cake adalah dua kejadian
dalam pemboran yang berhubungan
Gambar 3.4
erat, baik waktu maupun kejadiannya
Fann VG Meter
maupun sebab dan akibatnya. Oleh
karena itu maka pengukuran Hot Roller adalah sebuah alat
dilakukan secara bersamaan. yang digunakan sebagai simulasi
dilapangan pengeboran. Cara kerja
alat ini dengan memberikan
temperature dan berputar dengan
harapan dapat mengikuti keadaan
dilapangan pengeboran.
Hasil yang didapat dari
penggunaan Hot Roller adalah
adanya penurunan Rheologi dan sifat
Rheologi disebabkan oleh
peningkatan temperature.

Gambar 3.5
API Filter Press

3.3.6 Penentuan pH Lumpur

pH adalah suatu ukuran yang


menyatakan derajat kebasahan dari
suatu cairan, pH dari lumpur perlu
diketahui karena semua tahu bahwa
kita tidak menghendaki lumpur yang
bersifat asam (korosif).
Gambar 3.6
pH lumpur dapat ditentukan
Hot Roller
dengan dua cara, yaitu secara
electrometric dan calorimeter. 3.3.7 Ion Chlorida
Dalam penelitian ini kita bisa
menggunakana secara calorimeter Pengetesan ion Chlorida atau
yaitu dengan memakai kertas pH kadar garam akan cocok untuk
indikator. Dengan melihat adanya daerah dimana cairan pemboran
perubahan warna pada kertas pH terkontaminasi oleh garam( Cl- ).
indikator, kemudian cocokan pada
harga batasan pH indikator. Untuk IV. ANALISA HASIL
mencapai kelarutan yang optimum PENELITIAN
pada sistem lumpur padatan rendah 4.1 Standar Lumpur Percobaan
maka tingkat kelarutan pH harus Dalam pengujian lumpur
dijaga antara 9 11. dibutuhkan standarisasi sifat-sifat
lumpur pemboran sebagai acuan
3.3.7 Hot Roller
dimana harga dari masing-masing
sifat fisik lumpur pemboran itu
sangat penting untuk menunjang Viskositas menyatakan
kelancaran pengeboran, dimana pada kekentalan dari lumpur bor, dimana
rentang harga tersebut lumpur dapat viskositas lumpur memegang
berfungsi dengan baik. peranan dalam pengangkatan serbuk
bor ke permukaan.
4.2 Berat Jenis Lumpur Bor Diketahui hasil pengamatan
Berat jenis adalah berat jenis di laboratorium dari viskositas terjadi
persatuan volume dari lumpur yang penurunan pada penambahan
-
memiliki pengaruh terhadap daya konsentrasi Cl begitu juga di setiap
apung ( Bouyancy Effect ) terhadap kenaikan suhu pada masing masing
partikel padatan. Semakin besar berat komposisi, tetapi pada komposisi
jenis lumpur maka semakin tinggi lumpur F adanya penambahan
kemampuan pengangkatannya additif Pac R dan Pac L dapat
karena kecepatan gelincir (slip) dari menaikan kembali harga viskositas
partikel padat menjadi berkurang. menjadi kembali stabil. Hasil
dapat diketahui hasil pengukuran viscositas di
pengamatan di laboratorium dari laboratorium dapat dilihat sebagai
berat jenis lumpur terjadi penurunan berikut:
nilai lumpur pada penambahan
Tabel 4.3
konsentrasi Cl- di setiap kenaikan
suhu pada masing masing Hasil Pengukuran Viskositas Lumpur
komposisi, dengan penambahan Pac Terhadap Berbagai Temperatur
R, Pac L pada komposisi lumpur
F dapat menstabilkan kembali
harga berat jenis sehingga
mengalami kenaikan sehingga
viskositas menjadi tinggi dan adanya
perubahan suhu maka terjadi
penurunan harga densitas, hal ini
lumpur tersebut menjadi encer.
Berikut adalah hasil
pengamatan Berat Jenis tersebut :
BERAT JENIS (lb/gal)
Tabel 4.2 Hot Roller
Hasil Pengukuran Berat Jenis Kompo Temperatur (F)
Lumpur Pada Berbagai Temperatur sisi
80 200 300

A 8.45 8.40 8.35

4.3 Viskositas Lumpur B 8.50 8.45 8.40

C 8.50 8.53 8.45

D 8.60 8.58 8.55

E 8.65 8.60 8.57

F 8.67 8.63 8.58


VISCOSITAS (Sec/Quart) padatan cairan dan gesekan antara
lapisan cairan. Plastic viscosity
Hot Roller
Kompo Temperatur (F) berupa garis antara pembacaan
sisi reading 600 dan 300 atau hasil torsi
80 200 300 pada putaran 600 rpm dikurangi torsi
A 98 78 67 pada putaran 300 rpm.
Dari hasil pengamatan tabel
B 86 73 59 4.4 dengan konsentrasi Cl- terjadi
C 65 59 51 penurunan harga Plastic Viscosity
begitu juga di setiap kenaikan suhu
D 56 50 43 pada masing masing komposisi,
E 47 43 37 tetapi dengan adanya penambahan K.
Soltex dan lignite pada komposisi
F 78 66 54
lumpur F mengalami kenaikan
4.4 Rheologi Lumpur sehingga stabil kembali. Berikut
tabel hasil pengamatan dari Plastic
Rheology adalah ilmu yang viscosity.
mempelajari aliran dari perubahan
bentuk suatu materi yang berbeda Tabel 4.4
padatan, cairan dan gas. Ada dua Hasil Analisa Plastic Viscosity
parameter yang penting untuk Terhadap Berbagai Temperatur
menganalisa gerak aliran fluida,
yaitu tegangan geser dan laju PLASTIC VISCOSITY (Cps)
pergeseran. Dengan menggunakan
Kompo Hot Roller
alat Fann VG Meter, plastic viscosity,
sisi Temperatur (F)
yield point, apparent viscosity dan
gel strength dapat diukur. 80 200 300
Plastic
A 25 17 13.5
Viskosity (PV) B 19.5 15 11
Partikel padatan yang non C 12 11 9
aktif dapat juga menimbulkan
D 9.5 8 6
kenaikan viskositas, maka untuk
mengetahui pengaruhnya terhadap E 7 5.5 4.5
sifat-sifat lumpur diukurlah harga
F 19 15 11
plastic viscosity-nya. Jadi plastic
viscosity ini adalah suatu tahanan
terhadap aliran yang disebabkan oleh
adanya gerakan-gerakan antara Yield Point
padatan-padatan didalam lumpur,
Yield Point adalah mengukur Gel strength adalah suatu
gaya elektro kimia antara padat- daya pembentuk agar dari suatu
padat, cairan-cairan, cairan-padatan fluida pada kondisi statik, sifat ini
pada zat kimia dalam kondisi menunjukkan kemampuan lumpur
dinamis yang berhubungan dengan didalam menahan atau
pola aliran. mengapungkan serpih bor pada saat
Dari hasil pengamatan tabel tidak ada. Diwaktu lumpur berhenti
4.5 dengan penambahan konsentrasi melakukan sirkulasi, lumpur harus
Cl- terjadi penurunan begitu juga mempunyai gel strength yang dapat
dengan kenaikan suhu di masing menahan serbuk lumpur bor dan
masing komposisi, tetapi dengan material pemberat lumpur agar tidak
penambahan lignite pada komposisi turun. Akan tetapi jika gel strength
lumpur F dapat menstabilkan terlalu tinggi akan menyebabkan
sehingga harga Yield Point kerja pompa terlalu berat untuk
mengalami kenaikan. memulai sirkulasi kembali. Dibawah
Berikut tabel hasil ini ditampilkan hasil data percobaan
pengukuran Yield Point di gel strength 10 detik dan 10 menit.
laboratorium :
Tabel 4.6
Tabel 4.5 Hasil Analisa Gel Strength 10 Sekon
Hasil Analisa Yield Point Terhadap Temperatur

Terhadap Temperatur GEL STRENGTH 10 SEC


(lb/100ft2)
YIELD POINT (lb/100ft2) Hot Roller
Kompo Temperatur (F)
Hot Roller
Kompo sisi
Temperatur (F) 80 200 300
sisi
80 200 300 A 13 10 7
A 27 22 19 B 11 8 6
B 25 21 15 C 9 7 5.5
C 19 15 11 D 5 3.5 2
D 15 12 8 E 3.5 2.5 1.5
E 11 9 6.5 F 7 6 5
F 18 14 10

4.5 Gel Strength


Tabel 4.7
Hasil Analisa Gel Strength 10 menit masuk kedalam standar
Terhadap Temperatur laboratorium, hal ini disebabkan
pemakaian Pac-R dan Lignite yang
GEL STRENGTH 10 MIN dapat menurunkan laju tapisan,
(lb/100ft2) selain itu juga Lignite sangat tahan
terhadap panas.
Hot Roller Berikut tabel hasil
Komposi Temperatur (F)
pengukuran Laju Tapisan di
si
80 200 300 laboratorium :

A 18 16 12 Tabel 4.8
Hasil Analisa Laju Tapisan Terhadap
B 15 13 9
Berbagai Temperatur
C 12 10 8
LAJU TAPISAN (cc)
D 9 8 7
Hot Roller
E 6 4.5 3 Kompo Temperatur (F)
sisi
F 18 14 10 80 200 300

A 11.8 13 14.4

B 12.2 16 17.8

4.6 Laju Tapisan C 15.2 17.4 19.2

D 16.4 18 20
Laju tapisan adalah
kehilangan sebagian dari fluida E 17.8 19.2 21.6
(biasanya air dan larutan kimia) dari
F 9 10.6 11.8
lumpur yang masuk kedalam formasi
yang permeable. Merupakan indikasi
jumlah cairan yang masuk kedalam
formasi yang sangat tergantung pada 4.7 Mud Cake
temperatur, tekanan dan padatan.
Pengukuran air tapisan
Harga laju tapisan yang bagus yaitu
menurut standar API dilakukan
< 12,4 ml/30 menit yang dimiliki
dengan tekanan 100 psi dan waktu
oleh semua komposisi.
selama 30 menit pada suhu ruangan.
Dapat dilihat tingginya
Pengukuran air tapisan ini disertai
temperatur dapat meningkatkan
dengan tebal ampas hasil
harga laju tapisan. tetapi pada
penyaringan dari alat Filter Press,
komposisi lumpur F mengalami
tebal ampas inilah yang diukur
harga laju tapisan yang stabil serta
sebagai tebal mud cake.
Tabel 4.9 ( OH-) yang terdapat dalam lumpur
Hasil Analisa Mud Cake Terhadap yang mempengaruhi kereaktifan
Temperatur bahan-bahan kimia yang digunakan
dalam lumpur.
MUD CAKE (mm) pH perlu diketahui untuk
Hot Roller mencegah lumpur yang bersifat asam
Kompos Temperatur (F) yang dapat mengakibatkan korosi
isi pada peralatan yang dipakai. pH
80 200 300
lumpur dapat ditentukan dengan dua
A 0.25 0.5 1 cara, yaitu secara electrometric
menggunakan pH meter dan
B 0.35 0.75 1.15 menggunakan pH indicator yang
C 0.5 0.92 1.35 sesuai dengan komposisi yang
ditetapkan dan prosedur kerja yang
D 0.75 0.93 1.45 ditentukan.
E 1 1.35 1.65 Tabel 4.10
F 0.7 1 1.5 Hasil Analisa pH Terhadap Berbagai
Temperatur

PH FILTRATE

Hot Roller
Komposi Temperatur (F)
si
80 200 300

A 10 9.2 8.5

B 9.75 9 8.3

C 9.65 8.75 8.15

D 9.5 8.8 8.10

E 9.2 8.8 8
4.8 pH Meter F 11.5 10.5 9.5
pH adalah pengukuran nilai
keasaman atau kebasaan suatu
lumpur. Keasaman memiliki pH dari
1 sampai dengan 7. pH menyatakan 4.8 Penetesan Ion
konsentrasi dari gugus hidroksil Chlorida ( Cl- )
KADAR GARAM (ppm) Hasil Analisa ion chlorida Terhadap
Berbagai Temperatur
Hot Roller
Kompo Temperatur (F)
sisi V. PEMBAHASAN
80 200 300
Lumpur pemboran sangat
A 980 940 900
diperlukan dalam suatu kegiatan
B 4950 4870 4770 operasi pemboran, kadang seiring
dengan meningkatnya temperatur di
C 9980 9980 9820
dalam formasi dapat mengakibatkan
1500 1487 turunnya nilai nilai rheology yang
D 0 0 14790 diperlukan lumpur tersebut. Nilai
Plastic Viscosity, Yield Point, Gel
1980 1975
E 0 0 19500 Strength serta tebalnya mud cake
dapat sesuai dengan nilai standar
1950 1910 kondisi lapangan untuk lumpur
F 0 0 18900 pemboran. Apabila sifat sifat
rheology dari lumpur tersebut
Pengetesan ion Chlorida atau
menurun, dapat mengakibatkan
kadar garam akan cocok untuk
permasalahan seperti mengendapnya
daerah dimana cairan pemboran
lumpur didasar formasi, terjepitnya
terkontaminasi oleh garam ( Cl- ).
rangkaian karena terlalu tebalnya
Kandungan garam (Cl)
mudcake atau timbulnya korosi pada
ditentukan untuk mengetahui kadar
peralatan pemboran karena nilai pH (
garam dari lumpur. Naiknya kadar
bersifat asam ).
garam dari lumpur disebabkan
Lumpur yang diuji adalah
cutting garam yang masuk kedalam
lumpur bahan dasar air tawar dengan
lumpur disaat menembus formasi
system prehydrate bentonite, agar
yang mengandung garam, dengan
system lumpur prehydrate bentonite
kata lain lumpur terkontaminasi oleh
dapat mengembang maka perlu
garam.
adanya pencampuran dengan air
Dapat dilihat hasil
tawar terlebih dahulu kemudian baru
pengukuran ion chlorida terjadi
dicampurkan dengan air garam.
penurunan pada penambahan
- Komposisi lumpur yang digunakan
konsentrasi Cl begitu juga dengan
A, B, C, D, E dan F
kenaikan suhu di setiap komposisi,
dengan dasar yang sama dan hanya
berikut hasil pengukuran ion chlorida
konsentrasi kadar garam yang
di laboratorium :
berbeda beda pada setiap
Tabel 4.11 komposisinya, yaitu komposisi
lumpur A dengan konsentrasi Cl-
1000 ppm, komposisi lumpur B garam dan temperatur yang berbeda
dengan konsentrasi Cl- 5000 ppm, (tiga macam temperatur).
komposisi lumpur C dengan Jika diperhatikan pada
konsentrasi Cl- 10000 ppm, lampiran B.1 dapat dilihat terjadi
komposisi lumpur D dengan penurunan densitas seiring kenaikan
konsentrasi Cl- 15000 ppm, temperatur sampai 300 oF, akan
komposisi lumpur E dengan tetapi penurunan yang terjadi tidak
konsentrasi Cl- 20000 ppm, terlalu signifikan dan masih berada
komposisi lumpur F dengan pada batas standar laboratorium, hal
konsentrasi Cl- 20000 ppm, serta ini dikarenakan lumpur sangat encer
penambahan Pac R, Pac Lv, K. bila temperatur semakin tinggi.
Soltek, lignite pada komposisi Densitas seluruh komposisi yang
lumpur F. Kemudian lumpur yang diuji masih berada pada standar
sudah dibuat dimasukan kedalam densitas lumpur yang diharapkan
Hot Roller dan diproses selama 16 sesuai standar laboratorium.
jam dengan pengaruh temperatur Apabila viscositas turun
ruang(80 F, 200 F, 300 F) sampai dibawah harga tersebut,
terhadap sifat sifat fisik lumpur maka perlu ditambahkan komposisi
seperti berat jenis, viskositas, Pac R dan komposisi Pac LV
rheologi lumpur (plastic viscosity, untuk menaikkan harga viscositas.
Bila diperhatikan lampiran
yield point, apparent viscosity), gel
B.2 dapat dilihat terjadinya
strength, laju tapisan dan pH lumpur
penurunan Viscositas seiring dengan
akan dibahas mengenai hasil dari
kenaikan temperatur, dimana lumpur
penelitian yang dilakukan
dengan komposisi lumpur A
dilaboratorium dengan mengamati
kurang cocok dipakai karena
hasil tabel A (Lampiran A) yang
memiliki nilai yang lebih tinggi,
merupakan hasil dari grafik pada
tetapi pada komposisi lumpur E
Lampiran B kemudian dibandingkan
terlalu encer untuk harga standar.
dengan standar lumpur Pengeboran
Untuk komposisi lumpur B hanya
( Tabel 4.1 )
mengalami viskositas yg baik di
Didalam pengetesan alat
temperatur 300 oF sebesar 59
Fann VG Meter, ada dua kondisi
sec/quart, sedangkan komposisi
yaitu kondisi statis dan kondisi
lumpur C, D dan F merupakan
dinamis, dimana kondisi statis
komposisi lumpur dengan nilai
adalah gel strength 10 detik dan 10
optimal dipakai sampai pada
menit, kondisi dinamis adalah plastic
temperatur 300 oF yaitu sebesar 51
viscosity, yield point dan apparent
sec/quart, 43 sec/quart, 54 sec/quart.
viscosity. Terlihat perbedaan yang
Di samping itu, dilakukan juga
mendasar antara enam macam kadar
perhitungan terhadap Plastic dan 11 lb/100ft. Untuk komposisi
Viscosity (PV). lumpur D dan E baik digunakan
Dari hasil pengujian Plastic pada temperatur 80 oF 200 oF. maka
Viscosity ( PV ) dilaboratorium komposisi yang paling efektif untuk
diperlihatkan pada lampiran B.3 digunakan adalah komposisi lumpur
harga Plastic Viscosity ini didapat F karena dapat bertahan sampai
dari persamaan 2.5 . Jika temperatur 300 oF yaitu sebesar 10
diperhatikan pada lampiran B.3 Pada lb/100ft .
komposisi lumpur A tidak dapat Hasil pengamatan Gel
digunakan karena mempunyai nilai Strength 10 detik bila diamati pada
Plastic Viscosity yang sangat besar lampiran B.5 komposisi lumpur A
dari harga standar, sedangkan dan B yakni konsentrasi Cl- 1.000
komposisi lumpur D dan E dan Cl- 5.000 tidak ada yang
memiliki nilai Plastic Viscosity yang memenuhi standar lumpur pemboran
rendah sehingga tidak memenuhi karena nilainya sangat tinggi dari
spesifikasi yang di berikan jadi tidak harga standar, sedang untuk
dapat digunakan. maka dapat dilihat komposisi lumpur D yakni
komposisi yang efektif adalah konsentrasi Cl-15.000 dapat
komposisi lumpur B dan F yang digunakan karena memenuhi harga
memiliki nilai Plastic Viscosity 11 cp standar disemua temperatur.
dan dapat tahan sampai pada Komposisi lumpur F baik
temperatur 300 oF, dan bila digunakan karena masih mempunyai
temperatur lebih tinggi lagi akan nilai harga standar spesifikasi
mengakibatkan turunnya harga walaupun dipanaskan sampai
Plastic Viscosity dan mengurangi o
temperatur 300 F yaitu sebesar 5
kekentalan pada lumpur. Beberapa lb/100ft. Untuk komposisi lumpur
sifat fisik lain yang diuji yakni Yield C tidak ada yang memenuhi
Point, Gel Strength, dan Water Loss standar laboratorium lumpur karena
serta kadar pH. nilai tinggi dari harga standar.
Yield point untuk masing Dari hasil penelitian Gel
masing temperatur yang ada pada Strength 10 menit yang dilakukan
lampiran B.4 diperoleh dari dilaboratorium maka didapat
persamaan 2.6 , bila diamati pada lampiran B.6 , bila diamati harga
lampiran B.4 komposisi lumpur A yang optimal dimiliki oleh lumpur
tidak dapat digunakan karena tidak komposisi lumpur A dan F yang
memenuhi standar laboratorium optimal bila dipakai pada temperatur
lumpur. Sedang untuk komposisi 300 oF yaitu sebesar 12 lb/100ft dan
lumpur B dan C hanya baik 10 lb/100ft, sedangkan komposisi
dipakai pada temperatur 300 oF yaitu lumpur D dan E tidak dapat
masing masing sebesar 15 lb/100ft digunakan karena nilai rendah
dibawah harga standar laboratorium ini tidak akan berpengaruh juga kita
lumpur. Untuk komposisi lumpur menambahkan bentonite, akan tetapi,
C dapat digunakan pada penambahan KOH akan menaikkan
temperatur 80 F dan 200 oF,
o
kadar pH tersebut. Jika diamati pada
sedangkan komposisi lumpur B lampiran B.9 komposisi lumpur B,
dapat digunakan pada temperatur C dan D hanya baik pada
200 oF dan 300 oF. Kenaikan temperatur ruang yaitu sebesar 9,75 ,
temperatur akan menyebabkan 9,65 , 9,5 sedangkan komposisi
turunnya harga Gel Strength yang lumpur A dan E tidak baik
mengakibatkan daya rekah berkurang karena nilai pH dibawah standar
pada temperatur tinggi. laboratorium lumpur. Pada
Hasil pengamatan water loss komposisi lumpur F semuanya
ini dapat dilihat pada lampiran B.7 memiliki nilai pH yang baik pada
bila diamati komposisi lumpur F temperatur 80 oF sampai 300 oF yaitu
memiliki komposisi yang ideal sebesar 9,5 .
dimana semua komposisi tersebut
masih berada pada batas optimal VI. KESIMPULAN
water loss yaitu sebesar 11,8 cc.
1. Lumpur prehidrasi bentonite
Komposisi lumpur A hanya baik
mampu mempertahankan
pada temperatur ruang yaitu sebesar
densitasnya lumpurnya sampai
11,8 cc. Akan tetapi jika temperatur
dengan temperatur 300 oF
semakin ditambahkan menaikkan
dimana dari hasil pengamatan
laju tapisan yang akan menyebabkan
masih di dapatkan harga
sirkulasi lumpur berhenti dan
densitas yang berada pada nilai
dinding formasi menjadi tebal dan
standar lumpur pemboran.
membentuk mud cake pada dinding
2. Hasil pengamatan pada
formasi.
viskositas komposisi lumpur
Hasil penelitian mud cake ini
C, D dan F yang mampu
ditunjukkan pada lampiran B.8 yang
mempertahankan harga
menunjukkan kenaikan harga mud
viskositasnya dalam kondisi
cake, akan tetapi, kendati water loss
ideal hingga temperatur 300 oF,
mengalami kenaikan, ternyata Mud
yaitu sebesar 51 sec/quart, 43
Cake yang tercipta masih berada
sec/quart, 54 sec/quart.
pada batas standar harga mud cake
3. Hasil pengamatan Plastic
lumpur pemboran yaitu < 1,5 mm.
Viscosity yang baik pada
Untuk pH, dengan
penambahan temperatur dan
dinaikkannya temperatur juga terjadi
salinitas yaitu komposisi lumpur
penurunan harga pH pada masing
B dan F bertahan suhu
masing komposisi yang dapat
temperatur 300F sebesar 11 cp
diamati pada lampiran B.9. Harga pH
pada masing masing
komposisi, sebab dengan memenuhi kondisi ideal pada
penambahan temperatur lumpur temperatur 80F sampai 300F
semakin encer. yaitu sebesar 11,8 cc.
4. Pada pengamatan Yield Point 8. Harga mud cake yang
terjadi penurunan yang masih memenuhi kondisi ideal adalah
bertahan pada kondisi ideal komposisi lumpur F tetap
sampai dengan temperatur stabil pada temperatur hingga
300F, yaitu pada komposisi 300 F sebesar 1,5 mm.
lumpur B, C dan F. Harga 9. Pengamatan pada pH
yield point masing masing mengalami penurunan namun
komposisi lumpur tersebut masih dapat di kontrol dengan
sebesar 15 lb/100ft, 11 lb/100ft, penggunaan KOH sehingga
10 lb/100ft. tidak melewati kondisi ideal
5. Harga Gel Strength 10 detik yang diberikan. Harga pH
pada pengujian lumpur ini lumpur yang memenuhi kondisi
mengalami penurunan seiring ideal adalah komposisi lumpur
dengan penambahan salinitas F pada temperatur 80F
pada berbagai temperatur, hasil sampai 300F yaitu sebesar 9,5.
pengamatan yang memenuhi 10. Dari hasil penelitian di
kondisi ideal adalah komposisi laboratorium, maka lumpur
lumpur D pada temperatur 80 yang paling baik dan memenuhi
300 F, komposisi lumpur F standar rheologi lumpur bor
pada temperatur 300 F sebesar akibat adanya pengaruh salinitas
5 lb/100ft, semakin tinggi dan temperatur tinggi adalah
temperatur maka harga Gel komposisi lumpur F dengan
Strength semakin turun. konsentrasi Cl- 20.000 ppm.
6. Pada Gel Strength 10 menit
yang memenuhi syarat kondisi DAFTAR PUSTAKA
ideal adalah komposisi lumpur
1. Lummos, J.L, Drilling Fluids
A pada temperatur 300 F
Optmediwt Practical Field
sebesar 12 lb/100ft, komposisi
Approach , Penn Co., Tulsa,
lumpur B pada temperatur
Oklahoma, 1986.
200 F sampai 300 F, 2. Magcobar, Drilling Fluid
komposisi lumpur F pada Engineering Manual, Dresser
temperatur 300 F sebesar 10 Industries, Houston, Texas. 1977.
lb/100ft. kecilnya gel strength 3. Mud Technology , Handbook,
akibat dari pengaruh temperatur Baroid Research Product Sevice,
dan salinitas tinggi. NL Industries Inc, Houston,
7. Pada Laju Tapisan harga Laju Texas, 1965.
komposisi lumpur F yang
4. Penuntun Praktikum Konservasi
Lumpur Pemboran , Jurusan
Teknik Perminyakan FTKE
USAKTI, Jakarta.
5. Robani Sadya, Diktat Teknik
Lumpur Bor , Jurusan Teknik
Perminyakan, Universitas
Trisakti, Jakarta.
6. Robani Sadya, Diktat Teknik
Pemboran I , Jurusan Teknik
Perminyakan, Universitas
Trisakti, Jakarta.
7. Rudi Rubiandi, Teknik
Pemboran II , Jurusan Teknik
Perminyakan, ITB, Bandung,
1993.
8. Shebubakar, H.G. dan Sadiya R.,
Teknik Pemboran Volume I ,
Jurusan Teknik Perminyakan,
Universitas Trisakti, Jakarta,
1987.
9. Spesification For Drilling
Fluid Material , American
Petroleum Institute, API
th
Spesification 13A, 13 edition,
1990.
10. Teknologi Lumpur Pemboran
Minyak. Lemigas, Jakarta.
1993.