Anda di halaman 1dari 6

Modul Praktikum IV

Kompor Biobriket

A. Tujuan Percobaan
1. Memahami cara kerja kompor biobriket
2. Menghitung efisiensi kompor biobriket
B. Pendahuluan
Kompor biobriket adalah alat masak yang menggunakan bahan bakar dari biomassa. Bahan
yang digunakan untuk membuat kompor berpengaruh terhadap kualitas kompor, baik dari sudut
penampilan, daya tahan kompor, atau mobilitasnya[1].
Kompor biobriket harus memiliki komponen-komponen yang utama terdiri dari ruang bakar
(dinding primer) sebagai tempat proses pembakaran. Garangan yaitu cara untuk meningkatkan
efisiensi pembakaran salah satunya dengan adanya grate, karena udara dapat terdistribusi merata
kebagian bawah bahan bakar yang merupakan hasil percampuran udara dengan volatile matter.
Kondisi ini akan mengurangi panas yang hilang kedinding sehingga akan meningkatkan laju
pembakaran api yang tetap. Sebelum masuk keruang pembakaran udara akan terpanaskan. Sarangan
yaitu tempat dudukan briket batubara dalam ruang bakar dan juga berfungsi sebagai tempat aliran
udara primer. Lubang panci yaitu lingkaran lubang panci harus dibuat sedemikian rupa agar dapat
meminimalisasi gas buang untuk keluar. Terakhir ada pengatur udara yang berfungsi untuk mengatur
induksi udara dalam kompor yang dapat mengatur daya keluaran kompor[1].
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), kompor biobriket harus memenuhi syarat
konstruksi seperti pada Tabel 2.2[2].

16
Gambar 1. Konstruksi kompor biobriket[2]
Keterangan:
1. Dudukan alat masak 10. Tempat abu
2. Pengarah udara tersier 11. Ruang bakar
3. Pengarah udara sekunder 12. Sarangan
4. Dinding udara primer 13. Penyangga
5. Dinding udara sekunder 14. Lubang udara
6. Dinding udara tersier 15. Pengatur udara primer
7. Lubang masuk udara primer 16 Kaki kompor
8. Lubang masuk udara sekunder 17. Blower
9. Lubang udara tersier

C. Teori Pembakaran

Pembakaran adalah suatu reaksi kimia yang melibatkan pencampuran bahan bakar dan oksigen
untuk menghasilkan panas dan produk pembakaran[3].
Beberapa syarat agar dapat terjadi suatu proses pembakaran, yaitu:
a. Adanya bahan bakar
Bahan bakar didefinisikan sebagai bahan yang apabila terbakar dapat meneruskan proses
pembakaran dengan sendirinya disertai dengan pengeluaran kalor. Secara umum, unsur yang
terkandung dalam bahan bakar adalah C, H, S.
b. Adanya suplai oksigen
Oksigen yang digunakan dapat berupa oksigen murni atau oksigen yang berasal dari udara.
c. Adanya energi panas
Energi panas berfungsi untuk mengaktivasi reaksi pembakaran (ignition) [4].
Contoh reaksi pembakaran:
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Reaksi di atas adalah reaksi sempurna yang terjadi pada proses pembakaran. Namun, pada
kenyataannya proses pembakaran yang terjadi seringkali menghasilkan pembakaran yang tidak
sempurna sehingga reaksi pembakaran yang terjadi menghasilkan karbon monoksida (CO). Emisi gas
CO berasal dari reaksi oksidasi tidak sempurna hidrokarbon dan karbon yang terkandung dalam
bahan bakar. Untuk memperoleh reaksi yang sempurna menuju pembentukan karbon dioksida (CO2),
harus dipenuhi tiga syarat: kecukupan waktu tinggal reaksi untuk reaksi CO ke CO 2, kecukupan

17
oksigen untuk menyempurnakan reaksi oksidasi, dan temperatur reaksi yang cukup tinggi untuk
memperbesar kinetika reaksi oksidasi[5].
D. Performa Pembakaran Kompor Biobriket

1. Emisi Gas Karbon Monoksida (CO)

Emisi biobriket dihasilkan dari pembakaran biomassa dalam kompor. Emisi ini dapat
menyebabkan polusi udara berupa gas CO, sulfur, nitrogen oksida, dan hidrokarbon. Pada penelitian
ini gas buang yang akan diukur adalah emisi gas CO, karena emisi gas CO menunjukkan adanya
kesempurnaan dalam proses pembakaran. Emisi gas CO berasal dari reaksi oksidasi tidak sempurna
hidrokarbon dan karbon yang terkandung dalam biobriket. Untuk mendapatkan reaksi oksidasi yang
sempurna, maka pembakaran harus memenuhi syarat untuk memberikan pengaruh terhadap emisi
gas CO yaitu waktu reaksi yang cukup lama, jumlah oksigen yang cukup untuk reaksi, dan
temperatur yang tinggi[10].
2. Efisiensi Termal

Efisiensi termal adalah perbandingan antara nilai kalor yang diterima oleh air dengan nilai
kalor yang diberikan oleh biobriket. Pada penelitian ini, perhitungan untuk menentukan besar
efisiensi didefinisikan pada Persamaan 2.1[13] :
ma ca T ma L
T 100
mk LHV
(2.1)
dengan ma = massa air (kg), ma = massa air yang menguap (kg), L = kalor laten air = 2268000
(J/kg), T = perubahaan temperatur (C), mk = massa bahan bakar yang telah dibakar (kg), Ca =
panas jenis air = 4186 (J/(C.kg)), LHV= entalpi biobriket (J/kg).
Pembakaran yang baik harus memiliki nilai efisiensi termal yang sangat tinggi agar panas
yang dihasilkan merata. Kalor yang diberikan dari biobriket akan mempengaruhi perubahan
temperatur air hingga mencapai titik didih. Mula-mula air yang telah diketahui massanya kemudian
dipanaskan sampai mencapai titik didih yang kemudian digunakan untuk menghitung efisiensi
termal sesuai dengan Persamaan 2.1.

E. Pengujian Kinerja Kompor Biobriket

18
Pada pengujian kinerja kompor akan diuji tiga karakteristik pembakaran biobriket yaitu
waktu ignisi, emisi CO, dan efisiensi termal. Briobriket yang digunakan sudah dicetak merupakan
pencampuran rami dan tongkol jagung. Komposisi briobriketnya adalah 50R:50TJ, 70R:30TJ,
30R:70TJ. Media kompor yang digunakan adalah 3 kompor konvensional dan 1 buah kompor yang
telah dimodifikasi. Dari gambar 3.2 diketahui skema yang digunakan untuk penelitian ini. Diketahui
juga penyusunan biobriket pemasakan. Temperatur pembakaran briket didalam kompor dan
temperatur air diukur dengan menggunakan termokopel, serta gas CO hasil pembakaran
menggunakan Gas Analyzer.
Kompor ini memiliki blower pada bagian bawah kompor yang dapat divariasikan
kecepatannya. Blower berfungsi sebagai mengatur kecukupan udara ketika pembakaran terjadi dan
memperbesar transfer panas secara konveksi. Hal ini akan memudahkan untuk mengatur kecepatan
nyala api dari pembakaran.

1. Pengujian waktu penyalaan (ignisi)


Adapun tahapan dalam pengujian waktu penyalaan (ignasi) adalah:
1. Tempatkan kompor yang akan diuji pada tempat yang telah disediakan
2. Isi kompor dengan biobriket yang sudah diketahui beratnya sesuai kapasitas kompor (misal
30R:70TK)
3. Masukan air kedalam bejana
4. Nyalakan kompor
5. Letakan termokopel diatas / menempel biobriket didalam kompor pembakaran. Hubungkan
corong kompor dengan termokopel.
6. Catat waktu penyalaan biobriket. Dimulai pada saat diletakannya biobriket dalam kompor
hingga waktu ketika temperatur yang dicapainya pada kondisi terbentuknya bara api pada
biobriket (sekitar 60oC).
7. Tunggu sampai pembakaran biobriket selesai ditandai oleh emisi CO yang berkurang dengan
temperatur sekitar 60oC.

2. Pengujian Emisi CO
Pengujian emisi CO dilakukan dengan menggunakan alat Sensor Gas Analyzersebagai
detektor gas CO. Adapun prosedur yang dilakukan sebagai berikut:
19
1. Siapkan alat pemasakan berupa kompor yang telah berisikan biobriket
2. Letakan Sensor Gas Analyzeryang disekitar kompor biobriket.
3. Bakar 1 kg bahan bakar biobriket dengan komposisi tertentu (misal 30-70)
4. Ketika pembakaran terjadi, gas keluar dari kompor sehingga kadar emisinya tertangkap dan
selanjutnya dibaca oleh sensor dalam gas Analyzer.
5. Catat konsentrasi CO yang keluar dari selang pada kompor
6. Ulangi percobaan menggunakan variasi komposisi % berat biobriket yang berbeda.
7. Membuat grafik temperatur terhadap emisi CO yang dihasilkan untuk melihat kualitas
pembakaran yang dihasilkan dari sistem pembakaran pada kompor biobriket.

3. Pengujian Efisiensi Termal


Pengujian efisiensi dilakukan dengan Water Boiling Test yang mana air dalam panci
dipanaskan, kemudian dengan pengukuran temperatur, massa air, dan massa bahan bakar, akan
dihitung nilai efisiensinya. Adapun prosedur penelitiannya adalah:
1. Hubungkan termokopel pada kompor
2. Letakan biobriket pada kompor
3. Bakar kurang lebih 1 kg biobriket dengan komposisi tertentu
4. Letakan panci yang berisi air diatas kompor
5. Letakan termokopel hingga menyentuh badan air
6. Catat kenaikan suhu yang terjadi pada air
7. Ukur massa air setelah pembakaran selesai
8. Ukur efisiensi termal sampai biobriket habis untuk satu kali pembakaran.
9. Ulangi percobaan 1-8 menggunakan bahan bakar biobriket dengan komposisi yang lain.

20
21