Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PENCAPAN

PENCAPAN RINTANG WARNA DENGAN ZAT WARNA REAKTIF PAD


AKAIN KAPAS

DENGAN MENGGUNAKAN RESIN MELAMIN

Disusun oleh:

Sintia Sunardi 14020055

Neng Endah P.S. 14020059

Raran Deawati 14020062

Ryan Alif F. 14020070

Rosika Rahmawati 13020073

Kelompok :6

Grup : 3K3

Dosen : Ikhwanul Muslim, S.ST., MT.

Asisten : Sukirman S.ST

POLITEKNIK STTT BANDUNG

2017
PENCAPAN RINTANG WARNA DENGAN ZAT WARNA REAKTIF PAD
AKAIN KAPAS

DENGAN MENGGUNAKAN RESIN MELAMIN

1. Maksud dan Tujuan


1.1.Maksud
Maksud dari dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui
hasil pencapan rintang yang dilakukan dengan menggunakan zat warna
reaktif pada kain kapas dengan zat perintang resin.
1.2.Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan hasil
pencapan kapas menggunakan zat warna reaktif yang merata dan
permanen dengan perintang resin.

2. Teori Dasar
2.1.Serat Kapas
Serat kapas merupakan serat alam yang berasal dari serat tumbuh-
tumbuhan yang tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari
buahnya. Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk
dalam jenis Gossypium. Species yang berkembang menjadi tanaman
industri kapas ialah Gossypium hirstum, yang kemudian dikenal sebagai
kapas Upland atau kapas Amerika. Serat kapas merupakan sumber bahan
baku utama pembuat kain katun termasuk kain rajut bahan pembuat kaos
murah.

2.1.1. Struktur Fisik Serat Kapas


Bentuk dan ukuran penampang melintang serat kapas
dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan serat yang dapat dilihat dari
tebal tipisnya dinding sel. Serat makin dewasa dinding selnya makin
tebal.Untuk menyatakan kedewasaan serat dapat dipergunakan
perbandingan antara tebal dinding dengan diameter serat.Serat
dianggap dewasa apabila tebal dinding lebih dari lumennya.
Pada satu biji kapas banyak sekali serat, yang saat
tumbuhnya tidak bersamaan sehingga menghasilkan tebal dinding
yang tidak sama. Seperlima dari jumlah serat kapas normal adalah
serat yang belum dewasa. Serat yang belum dewasa adalah serat
yang pertumbuhannya terhenti karena suatu sebab,misalnya
kondisi pertumbuhan yang jelek, letak buah pada tanaman kapas
dimana bnuah yang paling atas tumbuh paling akhir, kerusakan
karena serangga dan udara dingin, buah yang tidak dapat
membuka dan lain-lain. Serat yang belum dewasa kekuatannya
rendah dan apabila jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan
akan menimbulkan limbah yang besar.
2.1.2. Struktur Kimia Serat Kapas
Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki
struktur kimia yang sama. Hal ini bisa terlihat pada analisa
hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan bahwa selulosa
pada dasarnya mengandung residu
anhidroglukosa. Subsequent tersebut menyesun molekul
glukosa(monosakarida) dalam bentuk -glukopironase dan
berikatan bersama-sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4
atom karbon molekulnya. Formula unit pengulanganya menyerupai
selobiosa (disakarida) yang kemudian membentuk selulosa
(polisakarida).

2.1.3. Sifat Fisika Serat Kapas


- Warna
Warna serat kapas secara umum adalah putih cream, tetapi
sesungguhnya terdapat bermacam-macam warna
putih.Pengaruh mikroorganisme menyebabkan warna kapas
menjadi suram. Dalam kondisi cuaca yang jelek , warna kap[as
menjadi sangat gelap abu-abu kebiruan. Kapas yang
pertumbuhannya terhenti akan berwarna kekuningan. Warna
kapas merupakan salah satu factor penentu grade.
- Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar
selulosa dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. Kekutan
serat kapas perbundel rata- rata adalah 96.700 pound per
inci2 dengan minimum 70.000 dan maksimum 116.000 pound
per inci2. Kekuatan serat bukan kapas pada umumnya
menurundalam keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan serat
kapas dalam keadaan basah makin tinggi.
- Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-
serat selulosa alam, kira-kira dua kali mulur rami. Diantara serat
alam hanya sutera dan wol yang mempunyai mulur lebih tinggi
dari kapas. Mulur serat kapas berkisar 4 13 % bergantung
pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.
- Moisture Regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air
mempunyai pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat.Serat
kapas yang sangat kering bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya
rendah. Moisture regain serat kapas bervariasi dengan
perubahan kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya. Moiture
regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara 7 - 8,5 %
2.1.4. Sifat Kimia Serat Kapas
Serat kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka
sifat-sifat kimia kapas sama dengan sifat kimia selulosa. Serat
kapas umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan
dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi dan
penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan
kekuatan.
Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksiselulosa
biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan,
penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang lama
suhu diatas 140oC.
Pencampuran antara dua serat yang berbeda jenisnya baik
untuk benang maupun untuk kain yang sering dilakukan .Tujuan dari
pencampuran adalah untuk meningkatkan kenampakan dan
kemampuan kain yang dibentuk .Kelebihan dan kekurangan dari
sifat-sifat serat yang membentuk akan saling mempengaruhi dan
saling memperbaiki .Oleh karena itu serat campuran biasanya dari
serat sintetik kain yang dibentuk lebih ringan,dan kain dari serat-
serat alam.

2.2. Zat Warna Reaktif


Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan
reaksi dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian
daripada serat.Oleh karena itu hasil pencelupan dengan menggunakan zat
warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik. Demikian pula
karena berat molekul zat warna reaktif kecil maka kilapnya akan lebih baik
daripada zat warna direk.
Stuktur zat warna reaktif yang larut dalam air mempunyai bagian-
bagian dengan fungsi tertentu. Kromofor zat warna reaktif biasanya system
azoAkinon. Dengan berat molekul yang kecil menyebabkan daya serap zat
warnanya kecil dan menimbulkan warna warna yang muda. Adanya gugus
penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat warna
terhadap asam dan basa. Gugusan gugusan reaktif merupakan bagian zat
warna yang mudah bereaksi dengan serat.
Disamping terjadi reaksi antar zat warna dan serat dengan
membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudoester
atau eter, molekul airpun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan
molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak
reaktif lagi.

2.3.Pencapan Rintang
Pencapan rintang adalah proses pencapan dengan menggunakan
suatu zat perintang, baik yang bersifat rintang mekanik maupun rintang
kimia, sehingga apabila kemudian dicelup atau dicap tumpang maka
bagian yang dicap rintang tidak akan memberikan warna tumpang.
Pencapan rintang ( resist/reserve printing ) analog dengan pencapan
etsa, yaitu meniadakan zat warna tertentu. Dalam pencapan rintang zat
warna yang akan masuk dihalangi oleh zat perintang sehingga tidak
terjadi fiksasi zat warna. Jadi dalam pencapan rintang kain dicap dulu
dengan pasta yang mengandung zat perintang, kemudian dicelup dengan
zat warna yang tidak tahan zat perintang. Apabila kedalam pasta cap
ditambahkan zat warna disebut rintang warna, apabila tidak ditambahkan
zat warna disebut rintang putih.
Setelah dicap dengan pasta yang diberi zat perintang, kain
keseluruhan kemudian diwarnai ( dicelup pad atau dicap blok ),
menggunakan zat warana yang tidak tahan terhadap zat perintang tadi,
sehingga tidak terjadi fiksasi.
Jenis zat perintang dapat bekerja secara kimia dan fisika :
- Zat perintang yang ditambahkan dapat bekerja secara fisika, secara kimia
atau keduanya. Zat perintang yang bekerja secara fisika misalnya lilin
( wax ), lemak, resin, pengental dan pigmen seperti kaolin, ZnO, TiO 2,
atau BaSO4.
- Zat perintang yang bekerja secara kimia termasuk bermacam macam
zat kimia seperti asam, alkali, garam, zat pengoksidasi, dan zat
pereduksi.
Pemberian warna dasar pada kain yang sudah dicap dengan pasta
rintang harus secepat mungkin, supaya zat perintang tidak larut. Untuk
pencelupan dipergunakan padder ( nip padding ) yang dapat mengurangi
waktu kontak dan menghindarkan bleeding dari zat perintang.
Pencapan rintang secara kimia ialah menggunakan suatu zat kimia
yang dicampurkan kedalam pasta cap, berfungsi untuk merusak zat
warna yang dicelup atau dicap kemudian. Sehingga zat warna tersebut
tidak mempunyai afinitas lagi atau tidak bereaksi dengan serat,
menghasilkan efek rintang putih yang diinginkan.
2.4. Mekanisme pencapan
Secara garis besar pencapan rintang kimia dapat dijelaskan sebagai
berikut :

Kain dicap menggunakan pasta cap yang mengandung zat perintang


dan zat warna yang tahan zat perintang. Pembangkitan untuk warna dasar
dan warna motif dapat dilakukan dengan pengukusan atau udara panas.
Pada pembangkitan ini warna dasar akan terjad fiksasi, pada motif warna
dasar ini akan terhalangi fiksasinya oleh zat perintang, sehingga pada motif
hanya terjadi fiksasi yang dicapkan semula. Proses ini terjadi pada
pencapan rintang kimia.

Ada dua jenis pencapan rintang secara kimia :

1 Pencapan rintang putih


Maksud pencapan rintang putih adalah menghalangi terjadinya warna
pada bagian motif dengan jalan mecap bahan putih dengan pasta
perintang. Setelah pencelupan atau pencapan tumpang maka bagian
yang dicap rintang akan tetap berwarna putih.
2 Pencapan rintang berwarna
Maksud pencapan rintang berwarna adalah menghalangi terjadinya
warna dasar pada bagian motif dengan jalan mencap dengan pasta cap
yang mengandung zat warna dan zat perintang, sehingga warna tidak
dapat timbul pada bagian motif.

Pencapan rintang secara mekanik telah lama dikenal di Indonesia, yang


dikenal sebagai proses pembatikan yang menggunakan perintang lilin
atau malam.

Pencapan motif menggunakan pasta yang terdiri dari zat warna dan
zat perintang fisika seperti resin, kemudian difiksasi. Pada proses fiksasi
ini juga akan terjadi polimerisasi dari resin. Kemudian kain selulosa
dilakukan pencapan atau cap blok untuk warna dasar dengan zat warna
lainnya atau sejenis dengan zat warna.

3. Alat dan Bahan


3.1.Alat
1. Pengaduk
2. Wadah untuk pasta cap
3. Neraca
4. Rakel
5. Screen bergambar
6. Mesin Stenter
7. Wadah untuk pencucian
3.2. Bahan
1. Kain kapas
2. Zat warna reaktif
3. Urea
4. Zat anti reduksi
5. Resin (Sumitex)
6. Katalis DAP 1:1
7. Air
8. Pengental Manutex R5 5%
9. Pengental alginat

4. Resep
4.1.Resep Pasta Cap

Nama Zat Orang ke-1 Orang ke-2 Orang ke-3 Orang ke-4 Orang ke-5
Zat warna 30 gram 30 gram 30 gram 30 gram 30 gram
reaktif
Urea 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram
Zat anti 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram
reduksi
Resin 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram
Pengental 700 gram 700 gram 700 gram 700 gram 700 gram
Katalis 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram
Suhu 150oC 150oC 150oC 150oC 150oC
curing (1)
Waktu 60 detik 90 detik 120 detik 60 detik 90 detik
curing (1)
Pengerjaa Ya Ya Ya Tidak Tidak
n curing
(2)
Suhu 1500C 1500C 1500C - -
curing (2)
Waktu 2 menit 2 menit 2 menit - -
curing (2)

4.2.Resep Pasta Blok

Nama Zat Orang ke-1 Orang ke-2 Orang ke-3 Orang ke-4 Orang ke-5
Zat warna 30 gram 30 gram 30 gram 30 gram 30 gram
reaktif
(rhemazol)
Urea 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram 50 gram
Zat anti 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram
reduksi
NaHCO3 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram 20 gram
Pengental 700 gram 700 gram 700 gram 700 gram 700 gram

5. Perhitungan Resep
5.1. Perhitungan Pasta Cap

Nama Zat Perhitungan


30
1. Zat Warna Reaktif
x 75=2,25
1000
700
2. Pengental
x 75=52,5
1000
50
3. Urea
x 75=3,75
1000
20
4. Zat anti reduksi
x 75=1,5
1000
50
5. Resin
x 75=3,75
1000
20
6. Katalis
x 3,75=0,75
1000

5.2.Perhitungan Pasta Blok

Nama Zat Perhitungan


30
1. Zat Warna Reaktif
x 75=2,25
1000
700
2. Pengental
x 75=52,5
1000
50
3. Urea
x 75=3,75
1000
20
4. Zat anti reduksi
x 75=1,5
1000
20
5. NaHCO3
x 3,75=0,75
1000

6. Fungsi Zat

Nama Zat Fungsi


Memberikan warna pada bahan
1. Zat Warna Reaktif
kapas.
Membawa zat warna agar menempel
2. Pengental
pada bahan kapas.
Sebagai zat higroskopis yang
3. Urea
menjaga kelembaban pasta cap.
Mencegah tereduksinya zat warna
4. Zat anti reduksi
reaktif.
Sebagai pemberi suasana alkalis
5. NaHCO3
pada pasta cap.
6. Resin
Sebagai zat yang mempercepat
7. Katalis
reaksi yang terjadi.
Sebagai penyeimbang viskositas
8. Air
pasta cap.
7. Diagram Alir
Pencapan
(Rintang
warna/motif)

Drying
100oC, 2 menit

Curing
150oC, 60
detik-120 detik

Blok (dengan
warna dasar)

Drying
100oC, 2 menit

Curing untuk
kain 1,2, dan 3
150oC, 2 menit

Cuci sabun
panas

Bilas

Drying

Evaluasi
- ketuaan
warna
- warna pada
motif
8. Hasil Percobaan
(Hasil percobaan dilampirkan pada lampiran.)

9. Diskusi

Pada praktikum ini dilakukan proses pencapan rintang warna dengan zat
warna reaktif pada kain kapas dengan menggunakan resin melamin. Dari
percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa kain dengan warna
motif dan warna rintang yang paling tua dibandingkan dengan yang lainnya
adalah hasil pencapan 3, yaitu pencapan rintang yang dilakukan fiksasi ada
suhu 150oC selama 120 detik. Ketuaan warna pada motif diperoleh dari
adanya ikatan self cross-linking dimana pada ikatan ini terjadi polimerisasi
yang dibentu dengan kinerja katalis DAP. Ketika pasta cap yang mengandung
resin melamin menempel pada bahan, kemungkinan zat warna yang terdapat
di dalamnya akan keluar kembali dari serat dan mengakibatkan penurunan
ketuaan warna. Namun dengan adanya bantuan resin melamin yang kerjanya
dioptimalkan oleh bantuan katalis, ketika pasta cap menempel pada bahan
maka akan terjadi perubahan monomer bahan menjadi bentuk polimer yang
akan saling berikatan dengan kuat dengan sendirinya. Adanya ikatan yang
kuat ini mengakibatkan zat warna yang telah menempel pada kain terkunci
dan tidak dapat keluar kembali dari serat. Jika hal ini terjadi, maka ketuaan
warna yang dihasilkan akan baik.

Pada praktikum ini dilakukan variasi metoda curing (2). Untuk orang
pertama dan kedua, tidak dilakukan metoda curing (2) sedang untuk orang
ketiga, keempat dan kelima dilalui pada metoda curing (2). Proses curing (2)
ini berfungsi untuk memfiksasi zat warna reaktif yang telah diblok pada kain,
sehingga ketuaan warnanya baik dan tidak luntur ketika dilakukan pencucian.
Dari hasil percobaan didapatkan hasil bahwa kain sampel dengan dilakukan
proses pengerjaan curing (2) memiliki ketuaan warna blok yang baik. Hal ini
disebabkan oleh adanya proses fiksasi zat warna reaktif ketika dilakukan
pengerjaan curing pada suhu 150 oC selama 2 menit. Sedangkan pada kain
yang tidak dilakukan pengerjaan curing (2) ketuaan warnanya jelek. Dilihat
dari pudarnya zat warna hasil pengerjaan blok pada kain akibat dari tidak
terfiksasinya zat warna reaktif dan menyebabkan zat warna keluar kembali
saat proses pencucian. Akibatnya, ketuaan warnanya pun menurun.

Selain itu, pada hasil pencapan yang tidak dilakukan pengerjaan curing (2)
juga didapatkan hasil bahwa warna pada motif memudar. Hal ini disebabkan
karena proses pengerjaan rintang yang dikatakan gagal karena tidak
tercapainya konsentrasi resin melamin untuk mengadakan ikatan self cross-
linking pada bahan. Akibatnya, zat warna yang seharusnya terfiksasi akan
keluar kembali pada saat proses pencucian dan mengakibatkan penurunan
ketuaan warna.

Dalam percobaan ini variasi dalam kelompok yang digunakan adalah


variasi waktu curing (1). Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan
hasil bahwa semakin lama waktu proses pengerjaan curing, semakin tua pula
warna yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena ketika pengerjaan curing
lebih lama, semakin banyak zat warna yang terfiksasi dan semakin banyak
pula ikatan self cross-linking yang terbentuk. Akibatnya, ketuaan warnanya
pun akan baik.

10.Kesimpulan
1. Kain yang memiliki ketuaan warna motif dan warna blok yang paling baik
dibandingkan dengan yang lain adalah contoh uji dengan pengerjaan
curing (2) pada suhu 120 detik.
2. Semakin lama waktu curing maka semakin tua warna yang dihasilkan.
3. Prose curing berpengaruh terhadap ketuaan warna.
4. Waktu pengerjaan curing berpengaruh terhadap ketuaan warna.
5. Konsentrasi resin melamin berpengaruh terhadap ketuaan warna.
LAMPIRAN

1. Curing (1) : 150oC, 60 detik ; curing (2) : -


2. Curing (1) : 150oC, 90 detik ; curing (2) : -

3. Curing (1) : 150oC, 120 detik ; curing (2) : 150oC, 120 detik
4. Curing (1) : 150oC, 60 detik ; curing (2) : 150oC, 120 detik
5. Curing (1) : 150oC, 90 detik ; curing (2) : 150oC, 120 detik
DAFTAR PUSTAKA
Lubis, Arifin ,dkk., Teknologi Pencapan Tekstil. Bandung : Institut
Teknologi Tekstil, 1998
Djufri, Rashid, Ir., dkk, Teknologi Pengelantangan, Pencelupan,
danPencapan.Bandung : Institut Teknologi Tekstil, 1976
Purwanti, dkk, Pedoman Praktikum Pencapan dan
Penyempurnaan.Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil,
1978
www.google.com