Anda di halaman 1dari 89

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR FUNGSI DAN PERKEMBANGAN HEWAN

SISTEM PENCERNAAN

Disusun Oleh :

Kelompok 3

1 Sri Kumaiyah (15030654004)

2 KELAS
Lilik PENDIDIKAN
Putri Amiwati SAINS 15-A
(15030654013)

3 Savinah Itsnawati (15030654020)

4 Lilis Pitrianingsih (15030654022)


PENDIDIKAN IPA 2015-A

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PEGETAHUAN ALAM
JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI S1 PENDIDIKAN SAINS

2017

1
Abstrak

SISTEM PENCERNAAN

Praktikum Struktur, Fungsi dan Perkembangan Hewan mengenai Sisem


Pencernaan dilakukan pada tanggal 25 April 2017 dan 02 Mei 2017 di
Laboratorium Sains Unesa, yang bertujuan untuk mengidentifikasi nutrisi
yang terkandung dalam sampel makanan yang digunakan, dan
mengidentifikasi keberadaan enzim pencernaan dan empedu dalam
sistem pencernaan. Metode yang digunakan dengan mempersiapkan bahan-
bahan makanan yang akan digunakan untuk sampel, kemudian membedah ikan
diambil empedu dan dicampur minyak, membuat ekstrak usus yang akan
dicampurkan pada sampel. Pada percobaan uji karbohidrat, membuat sampel uji
karbohidrat yang kemudian ditambahkan dengan benedict. Pada percobaan uji pati,
sampel yang telah dibuat ditambahkan dengan IKI. Pada uji protein, sampel yang
telah dibuat ditambahkan dengan biuret, diamati perubahan warnanya.
Bedasarkan percobaan diperoleh hasil bahwa untuk uji pengaruh
empedu terhadap lemak, cairan empedu berwarna hijau yang
menunjukkan bahwa cairan tersebut mengandung pigmen
biliverdin. Secara teori fungsi empedu antara lain sebagai
emulgator dalam proses pencernaan lemak dalam usus. Pada
identifikasi karbohidrat perubahan warna berwarna hijau, kuning,
orange (merah bata) sampai orange kecoklatan warna tersebut
mengindikasikan adanya karbohidrat pada sampel sukrosa,
fruktosa, glukosa, kentang, nanas, alpukat, mie. Pada uji amilase
pada percobaan menghasilkan warna hijau dan tidak terdapat
endapan merah bata. Pada uji maltase pada percobaan
menghasilkan warna hijau tua. Pada uji pati warna biru kehitaman,
sampel yang mengandung yaitu larutan pati, nasi, tepung
maizena). Pada uji protein warna ungu, sampel yang mengandung
yaitu larutan albumin, kacang tanah, tahu putih, kacang kedelai.
Pada uji tripsin tidak mengalami perubahan warna tetap biru. Hasil
tersebut ada yang sudah sesuai dengan teori dan ada yang belum. Hal tersebut
dikarenakan pemilihan sampel yang kurang, proses penumbukan sampel yang kurang
halus dan pada waktu pemanasan yang waktunya tidak dikontrol atau diperhatikan
.Sebagai harapan semoga pengamatan ini dapat bermanfaat dan sebagai
pembanding dalam pengamatan yang sama dengan metode yang berbeda atau
lainnya.

Kata kunci: Sistem Pencernaa, Uji Empedu, Uji Identifikasi Karbohidrat, Uji
Identifikasi Pati, Uji Identifikasi Protein, Uji Amilase, Uji Maltase, Uji
Trpsin, dan Larutan Sampel.

1
DAFTAR ISI

Abstrak.................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................... ii
Bab I Pendahuluan.............................................................. 1
A. Latar Belakang...................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................. 3
C. Tujuan................................................................... 4
Bab II Kajian Teori.............................................................. 5
Bab III Metode Percobaan.................................................. 31
A. Alat dan Bahan..................................................... 31
B. Rancangan Percobaan........................................... 33
C. Langkah Kerja...................................................... 35
D. Alur Percobaan..................................................... 39
Bab IV Data dan Analisis.................................................... 47
A. Data....................................................................... 47
B. Analisis................................................................. 53
C. Pembahasan.......................................................... 56
D. Diskusi.................................................................. 69
Bab V Penutup..................................................................... 74
A. Kesimpulan........................................................... 74
B. Saran..................................................................... 76
DAFTAR PUSTAKA.............................................................. 77
LAMPIRAN........................................................................... 79
Lampiran Dokumentasi.......................................................... 79

2
3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering makan makanan yang di butuhkan
oleh tubuh kita dalam proses makan memakan makanan ada berbagai proses
disebut Sistem pencernaan. System pencernaan terdiri dari organ yang memmbatu
dalam pencernaan makanan dan asimilasi nutrisi. Jadi pencernaan adalah proses
pemecahan partikel makanan yang kompleks baik secara mekanik maupun
kimiawi dalam bentuk yang sederhana dari utrisi yang dapat dengan mudah
digunakan oleh tubuh. Sistem pencernaan merupakan proses yang kompleks yang
terdiri dari pemecahan massa zat makanan yang besar menjadi partikel kecil yang
tubuh mampu dalam menggunakannya sebagai bahan bakar. Pencernaan mekanik
adalah mematahkan partikel makanan menjadi partikel yang lebih kecill dengan
proses fisik seperti mengunyah menghancurkan makanan dimulut. Pencernaan
mekanik meningkatkan luas permukaan untuk reaksi enzimatik, sehingga
meningkatkan laju reaksi kimia secara tidak langsung. Proses pengubahan
makanan menjadi partikel yang lebih kecil melalui reaksi enzimatik disebut
pencernaann kimiawi. Enzim yang digunakan untuk katalis reaksi dengan
memisahkan ikatan kimia dalam proses hidrolisis ada tiga enzim pencernaan
yaitu: karbohidrat, lipase, dan protase. Yang hidrolisi karbohidrat , lemak, dan
protein masing-masing enzim ditemukan di air liur, asam lambung, cairan
prankreas dan getah usus kecil masing-masing.
Berdasarkan hal tersebut dilakukan praktikum mengenai system pencernan
makanan dimana praktikum ini menguji kandungan nutrisi makanan dengan
menggunakan indikator sesuai pengujian bahan makanan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagi
berikut:
1. Bagaimana organ-organ penyusun sistem pencernaan pada vertebrata?
2. Bagaimana mengidentifikasi pengaruh empedu terhadap minyak?
3. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
Protein?
4. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
Tripsin ?

4
5. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
Karbohidrat?
6. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
enzim Amilase?
7. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
enzim Maltase?
8. Bagaimana mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
Pati?

C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan praktikum adalah:
1. Mengetahui organ-organ penyusun sistem pencernaan pada vertebrata
2. Mengidentifikasi pengaruh empedu terhadap minyak
3. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan Protein
4. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan Tripsin
5. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan
Karbohidrat
6. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan enzim
Amilase
7. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan enzim
Maltase
8. Mengidentifikasi larutan sampel terhadap adanya kandunngan Pati

BAB II

KAJIAN TEORI

A. EMPEDU

Empedu adalah cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau
kekuningan, yang disekresikan oleh hepatosit hati pada sebagian besar vertebrata.

5
Empedu dihasilkan secara terus-menerus oleh hati, akan tetapi ditampung dalam
sebuah alat penampungan yaitu kantung empedu diantara waktu makan. Bila
makanan masuk ke duodenum, lepasnya kolesistokinin akan merangsang
kontraksi kantung empedu dan keluarnya empedu akan dihimpun ke dalam
duodenum (Panil, 2004).

Empedu prodak hati yang mempunyai peranan penting pada pencernaan


makanan terutama lemak. Empedu hati, sebelum disekresi kelumen intestinal
lebih dahulu disimpan dikandung empedu. Kandung empedu akan mengosongkan
isinya selama proses pencernaan berlangsung di dalam intestin. Empedu dan
kelenjar pancreas bermuara ditempat yang sama di dalam intestin. Pengosongan
empedu dirangsang oleh hormon kolesistokinin, salah satu komponen hormone
Boyliss & Starling selama berada di dalam kandung empedu, empedu akan
mengalami proses pemekatan melalui cara absorpsi air (Hardjasasmita, 1992).

Empedu terdiri dari garam-garam empedu, elektrolit, pigmen empedu


(misalnya bilirubin), kolesterol dan lemak. Fungsi empedu adalah untuk
membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel darah
merah dan kelebihan kolesterol) serta membantu pencernaan dan penyerapan
lemak. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak
dan vitamin yang larut dalam lemak, sehingga membantu menyerapnya dari usus.
Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dirubah menjadi
bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam empedu. Berbagai
protein yang memegang peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi
dalam empedu.

Dalam empedu terdapat senyawa-senyawa yang penting, diantaranya garam


empedu, zat warna empedu, lesitin, kolesterol dan garam-garam anorganik. Garam
empedu merupakan berperan dalam absorpsi lemak dan vitamin-vitamin A, D, E
dan K yang larut dalam lemak. Garam empedu merendahkan tegangan permukaan
dan memperbesar daya pengemulsi lemak. Dengan demikian akan memudahkan
kerja lipase. Lebih lanjut garam empedu bereaksi dengan asam lemak
menghasilkan senyawa kompleks yng lebih mudah larut dan mudah terabsorpsi
sebagai hasil proses lipolisis (Tim Dosen, 2013).

6
Cairan empedu merupakan cairan jernih, berwarna kuning, agak kental dan
mempunyai rasa pahit. Selama 24 jam dihasilkan cairan empedu sebanyak 500
mL sampai 700 mL dan mempunyai pH antara 6,9 sampai 7,7. Kontraksi dan
pengenduran kandung empedu diatur oleh hormon kolesistokinin yang dibentuk
dalam sel usus, terutama protein dan lemak. Cairan empedu mengandung zat-zat
anorganik, yaitu HCO3, Cl-, Na+ dan K+ serta zat-zat organic, yaitu asam-asam
empedu, bilirubin dan kolesterol. Asam-asam empedu yang penting ialah asam
kolat dan asam deoksikolat. Beberapa fungsi asam empedu antara lain: sebagai
emulgator dalam proses pencernaan lemak dalam usus; dapat mengaktifkan lipase
dalam cairan pancreas; membantu mengadsorbsi asam-asam lemak, kolesterol,
vitamin D dan K serta karoten; sebagai perangsang aliran cairan empedu dari hati;
dan menjaga agar kolesterol tetap larut dalam cairan empedu sebab bila
perbandingan asam empedu dengan kolesterol rendah, akan menyebabkan
terjadinya beberapa endapan kolesterol (Anna Poedjiadi, 1994; 244).

Meskipun hati bukan suatu organ yang tepat dari pencernaan, sekresinya dan
empedu memegang peranan penting dalam pencernaan lemak. Empedu dihasilkan
secara terus-menerus oleh hati, tapi ditampung dalam sebuah alat penampung
ialah kantung empedu diantara waktu makan. Bila makanan masuk ke duodenum,
lepasnya kolesistokinin akan merangsang konsentrasi kantung empedu dan
keluarnya empedu yang dihimpun ke dalam duodenum. Empedu kecuali garam
empedu mengandung bahan lainnya, antara lain ialah pigmen empedu, pigmen
empedu ini adalah hasil pemecahan pigmen sel darah merah, hemoglobin, yang
dipindahkan oleh hati dari sel-sel darah merah yang tua. Warna kecoklatan pigmen
empedu ini memberi warna coklat yang khass dari feses atau tinja (Kimball,
1983).

Asam-asam empedu membantu emulsifikasi lipid yang dimakan, suatu proses


yang memudahkan pencernaan enzimatik dan absorbsi lemak diet. Asam-asam
deoksikolat dan litokolat adalah asam-asam empedu sekunder yang disintesis
dalam usus lewat kerjanya enzim-enzim bakteri pada asam-asam empedu primer.
Hanya sebagian asam-asam empedu primer yang terdapat dalam usus diubah
menjadi asam empedu sekunder (Hardjasasmita, 1992).

7
Empedu sebagian besar adalah hasil dari excretory dan sebagian adalah
sekresi dari pencernaan. Garam-garam empedu termasuk ke dalam kelompok
garam natrium dan kalium dari asam empedu yang berkonjugasi dengan glisin
atau taurin suatu derifat/turunan darisistin. Garam empedu menyebabkan
meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak,
sehingga membantu penyerapannya dari usus. Hemoglobin yang berasal dari
penghancuran sel darah merah dirubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam
empedu) dan dibuang ke dalam empedu. Berbagai protein yang memegang
peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu
(Hardjasasmita, 1992).

Pada rongga mulut terdapat tiga macam kelenjar ludah (saliva) yang
menghasilkan cairan ludah. Kelenjar-kelenjar tersebut adalah: kelenjar parotis,
yang terletak di dekat telinga, kelenjar sublingualis yang terletak di bawah rahang
atas, kelenjar sub mandibularis yang terletak di bawah lidah. Di dalam cairan
ludah mengandung sebanyak 90% air, dan sisanya terdiri atas garam-garam
bikarbonat, lendir (mukus), lizozim (enzim penghancur bakteri), dan amilase
(ptialin). Ketiga kelenjar ludah setiap harinya dapat menghasilkan lebih kurang
1600 cc air ludah. Cairan ludah berfungsi untuk memudahkan dalam menelan
makanan karena makanan tercampur dengan lendir dan air, melindungi rongga
mulut dari kekeringan, panas, asam dan basa, serta membantu pencernaan
kimiawi, karena kelenjar ludah menghasilkan enzim ptialin (amilase) yang
berperan dalam pencernaan amilum menjadi maltosa dan glukosa, enzim ini
berfungsi dengan baik pada pH netral (pH 7) (Poedjadi, 2009).

Empedu adalah cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau
kekuningan, yang disekresikan oleh hepatosit hati pada sebagian besar vertebrata.
Empedu dihasilkan secaraterus-menerus oleh hati, akan tetapi ditampung dalam
sebuah alat penampungan yaitu kantung empedu diantara waktu makan. Bila
makanan masuk ke duodenum, lepasnya kolesistokinin akan merangsang
kontraksi kantung empedu dan keluarnya empedu akan dihimpun ke dalam
duodenum (Kimball, 1983).

Fungsi cairan empedu adalah untuk mencerna makanan di dalam usus,


terutama lemak. Cairan empedu dari hati ini sebagian disalurkan langsung ke usus

8
dan bercampurdengan makanan yang akan dicerna. Sementara sebagian cairan
lagi masuk ke kantung empedu. Disini sebagian air akan diserap/dibuang,
sehingga cairannya akan lebih pekat. Cairan empedu yang pekat ini lebih efektif
untuk mencerna makananan dibandingkan yang langsung dari hati tadi (Anonim,
2013).

Saliva mempunyai pH antar 5,75 sampai 7,05. Pada umumnya pH saliva


sedikit dibawah 7. Rangsangan yang menyebabkan pengeluaran saliva dari
kelenjar saliva adalah pikiran tentang makanan yang disukai, adanya bau makanan
yang sedap atau melihat makanan yang diharapkan sehingga menimbulkan selera.
Rangsangan demikian disebut rangsangan reflex. Rangsangan keluarnya saliva
karena adanya makanan dalam mulut disebut rangsangan mekanik, sedangkan
rasa makanan yang lezat atau manis dapat menimbulkan rangsangan yang disebut
rangsangan kimiawi (Poedjadi, 2009).

B. PROTEIN

Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh. Karena
zat ini berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah
sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O, dan N (Winarno.1992).

Protein merupakan bagian terpenting dari sel-sel tubuh dan merupakan


bagian terbesar dari substansi kering dari organ-organ tubuh dan otot. Segala
jenis protein mengandung unsur nitrogen karbon, hidrogen, oksigen, dan
belerang (Sediaoetama.1976).

Menurut Adams (1988) merupakan kumpulan dari beberapa asam amino.


Asam amino mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan
belerang. Asam amino dikelompokkan menjadi 2(dua) yaitu kelompok
asam (oksigen, karbon, dan belerang) dan kelompok amino (nitrogen dan
hidrogen) yang menempel pada atom karbon. Protein mempunyai fungsi utama
yaitu sebagai zat pembangun dalam tubuh dan juga berfungsi sebagai bahan
bakar dan zat pengatur. Protein sebagai zat pembangun karena menjadi
bahan pembentukan jaringan-jaringan baru yang selalu terjadi dalam
tubuh,terutama pada masa pertumbuhan, protein juga menggantikan
jaringan tubuh yang rusak dan yang perlu dirombak serta

9
mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein sebagai bahan bakar karena
protein mengandung karbon yang digunakan tubuh sebagai bahan bakar.

Protein akan dibakar ketika keperluan tubuh akan energi tidak terpenuhi
oleh karbohidrat dan lemak. Sehingga protein tidak dapat digunakan untuk
proses pembentukan jaringan.Protein sebagai zat pengatur karena protein
mengatur keseimbangan cairan dalam jaringan dan pembuluh darah. Selain itu
protein juga dapat membentuk enzim dan hormon yang dibutuhkan oleh
tubuh untuk kelancaran metabolisme. (Sari, Mayang, 2011)

Kandungan unsur-unsur didalam bermacam-macam protein dalam


persentase sebagai berikut: karbon ( 50-55% ), hidrogen ( 6,5-7,3%), oksigen ( 20-
24% ), nitrogen ( 15-18% ), belerang ( 0,4-2,5%), dan fosfor ( 0,1-1,0% ).
Yang ketika dijumlah akan kurang dari 100%. Hal ini diakibatkan adanya
unsur-unsur lain yang jumlahna sangat sedikit. Protein adalah satu-satunya
gizi yang mengandunggizinitrogen yang menyebabkan berpotensi sebagai
racun. Protein terdapat di dalam kulit, rambut, otot, tanduk, sutera, putih telur,
dan sebagainya.

Untuk mengetahui kandungan zat nutrient yang terdapat dalam bahan


makanan digunakan indicator uji makanan yang biasa dikenal dengan istilah
reagen. Beberapa reagen yang banyak digunakan untuk mendeterminasi
kandungan nutrient dalam makanan adalah:

1. Lugol / kalium yodida


Digunakan untuk menunjukkan kandungan bahan makanan jenis amilum
(tepung).
2. Benedict / fehling A dan Fehling B
Digunakan untuk menunjukkan kandungan bahan makanan kelompok gula
(monosakarida dan di sakarida)
3. Millon / Molisch / Biuret
Digunakan untuk menunjukkan bahan makanan kelompok protein, jika
larutan sampel terbukti mengandung protein maka akan bewarna ungu
4. Sudan III / etanol / kertas buram
Digunakan untuk menunjukkan bahan makanan yang mengandung lemak /
minyak.
5. Metilen Blue
Digunakan untuk menunjukkan bahan makanan yang mengandung
vitamin.

10
C. TRIPSIN
1. Enzim Tripsin
Tripsin adalah bagian dari sistem pencernaan dan mendegradasi protein,
sehingga enzim yang dikenal sebagai protease. Molekul aktif di pankreas dan
diangkut ke usus kecil, di mana itu diaktifkan untuk mencerna molekul
makanan. Protease merupakan enzim yang mempercepat kerusakan protein.
Asam amino adalah blok bangunan protein, dan mereka dihubungkan oleh
ikatan peptida. Tujuan akhir dari pencernaan protein adalah untuk
menurunkan mereka untuk asam amino, yang dapat dimanfaatkan dalam
metabolisme sel. Tripsin yang awalnya disintesis di pankreas dalam bentuk
yang dikenal sebagai tripsinogen, sebuah zymogen. Molekul ini lebih besar
tidak aktif sampai diangkut ke usus kecil dan ditindaklanjuti oleh
enteropeptidase, jenis lain dari protease. Setelah langkah ini telah terjadi,
tripsin dapat mengaktifkan sendiri. (Columbia Encyclopedia. 2010).
2. Pereaksi Benedict

Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula


(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida
dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji Benedict,
pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus
aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa
bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton,
maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana
basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict, untuk
mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan,
sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi
benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini
larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau,
kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat jika kandungan glukosa
tinggi (Robert, 2002).

3. Pereaksi Biuret

Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada
pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa

11
akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun
protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini
positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam
amino bebas atau dipeptida. Tujuan dari pengujian biuret ini adalah untuk
mengetahui adanya ikatan peptide. Adapun prosedurnya yaitu pertama
tama, protein bereaksi dengan NaOH dan CuSO 4. Fungsi dari NaOH itu
adalah mencegah endapan Cu (OH)2, dan memecah ikatan protein menjadi
urea, sebagai katalisator. Adapun fungsi CuSO4adalah sebagai pendonor Cu2+ .
seperti yang telah diuraikan sebelumnya reaksi positif ditandai dengan
terjadinya warna ungu karena adanya kompleks yang terjadi antara ikatan
peptida dengan O dari air. Reaksi ini disebut reaksi biuret karena positif
terhadap kondensasi 2 molekul urea (Panji, 2015).
Uji biuret digunakan untuk menunjukkan adanya ikatan peptida dalam
suatu zat yang diuji. Adanya ikatan peptida mengindikasikan adanya protein,
karena asam amino berikatan dengan asam amino yang lain melalui ikatan
peptida membentuk protein. Ikatan peptida merupakan ikatan yang terbentuk
ketika atom karbon dari gugus karboksil suatu molekul berikatan dengan
atom nitrogen dari gugus amina molekul lain. Reaksi tersebut melepaskan
molekul air sehingga disebut reaksi kondensasi (Panji, 2015).

Gambar 2.1 Reaksi kondensasi

Sumber : http://www.edubio.info/2013/11/uji-biuret.html

Gambar di atas menunjukkan adanya dua molekul asam amino yang


berikatan dengan ikatan peptida dan membentuk molekul protein. Ikatan
peptida tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan
perubahan warna. Reaksi positif uji biuret ditunjukkan dengan munculnya
warna ungu atau merah muda akibat adanya persenyawaan antara Cu++ dari
reagen biuret dengan NH dari ikatan peptida dan O dari air. Semakin panjang

12
ikatan peptida (banyak asam amino yang berikatan) akan memunculkan
warna ungu, semakin pendek ikatan peptida (sedikit asam amino yang
berikatan) akan memunculkan warna merah muda. Uji biuret biasa digunakan
untuk uji protein secara umum. Uji biuret akan menunjukkan hasil negatif
pada asam amino bebas karena tidak memiliki ikatan peptida. Gambar
disamping menunjukkaan hasil positif uji biuret terhadap suatu larutan yang
ditandai dengan berubahnya larutan menjadi berwarna ungu (Panji, 2015).

D. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang terdapat


dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O. Karbohidrat
sebenarnya adalah polisakarida aldehida dan keton atau turunan mereka. Salah
satu perbedaan utama antara berbagai tipe-tipe karbohidrat ialah ukurannya.
Monosakarida adalah satuan karbohidrat yang tersederhana, mereka tidak dapat
dihidrolisis enjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida dapat
diikat bersama-sama membentuk dimer, trimer dan sebagainya dan akhirnya
polimer.. Sedangkan monosakarida yang mengandung gugus aldehid disebut
aldosa. Glukosa, galaktosa, ribose, dan deoksiribosa semuanya adalah aldosa.
Monosakarida seperti fruktosa dengan gugus keton disebut ketosa. Karbohidrat
tersusun dari dua atau delapan satuan monosakarida dirujuk sebagai oligosakarida
(Poedjiadi, 2006).

Karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan merupakan cadangan makanan


yang disimpan dalam akar, batang, dan biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat
dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asam amino, gliserol
lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan (Sirajuddin dan Najamuddin, 2011). Karbohidrat ditemukan pada setiap
sel makhluk hidup yang berperan antara lain sebagai alat komunikasi sel
(Winarno, 2008).

Menurut Poedjiadi (2006), berdasarkan sifat-sifatnya terhadap zat-zat


penghidrolisis karbohidrat dibagi dalam 4 kelompok utama yaitu:

13
1. Monosakarida yaitu karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisa menjadi senyawa
yang lebih sederhana terdiri dari satu gugus cincin. Contoh dari monosakarida
yang terdapat di dalam tubuh ialah glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
2. Disakarida senyawa yang terbentuk dari gabungan dua molekul atau lebih
monosakarida. Contoh disakarida ialah sukrosa, maltosa dan laktosa.
3. Glikosida yaitu senyawa yang terdiri dari gabungan molekul gula & molekul
non gula.
4. Polisakarida yaitu polimer yang tersusun oleh lebih dari lima belas monomer
gula. Dibedakan menjadi dua yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida.

Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, yang


menyediakan 4 kalori (kilojoule) energi pangan per gram. Karbohidrat juga
mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan,
misalnya: rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat
berguna untuk mencegah timbulnya ketois, pemecahan tubuh protein yang
berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak
dan protein. Karbohidrat adalah sumber kalori terbesar dalam makanan sehari-hari
dan biasanya merupakan 40-45% dari asupan kalori kita. Selain menjadi sumber
energi utama makhluk hidup, karbohidrat juga menjadi komponen struktur
penting pada makhluk hidup dalam serat (fiber), seperti selulosa, pektin serta
lignin. Ada dua macam karbohidrat yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat
simpleks. Karbohidrat kompleks misalnya nasi, biji-bijian, kentang, dan jagung,
sedangkan contoh Karbohidrat simpleks adalah gula dan pemanis lainnya. Nama
lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab "sakkar" yang
artinya gula. Melihat struktur molekulnya, karbohidrat lebih tepat didefenisikan
sebagai polihidroksialdehid atau polihidroksiketon (Fessenden, 1990).

Dalam tubuh manusia karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino
dan sebagian lemak. Tetapi sebagian besar karbohidrat diperoleh dari bahan
makanan yang dimakan sehari-hari, terutama bahan makanan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Pada tanaman karbohidrat dibentuk dari reaksi CO 2 dan H2O
dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis dalam sel tanaman yang
berklorofil (Winarno, 2004).

Glukosa terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur,
buah, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Selain dari sumber

14
tersebut, glukosa dihasilkan pula sebagai hasil cernaan pati menjadi dekstrin,
dekstrin berubah menjadi maltose, dan akhirnya menjadi dua molekul gula
glukosa (Marstyo, 1995).

Glukosa memegang peranan sangat penting dalam ilmu gizi. Dalam proses
metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh
dan di dalam sel merupakan sumber energi. Dalam keadaan normal, system syaraf
pusat hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energy. Fruktosa,
dinamakan juga levulosa atau gula buah adalah gula paling manis. Fruktosa
mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, C6H12O6 namun
strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan
lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Gula ini terdapat dalam madu bersama
glukosa, dalam buah, nektar bunga, dan juga di dalam sayur. (Almatsier, 2009).
Gambar 2.1 berikut merupakan gambar struktur glukosa dan fruktosa.

Gambar 2.1 Struktur Glukosa dan Fruktosa

Sedangkan oligosakarida adalah karbohidrat yang terdiri dari 3-10 unit


monosakarida. Contohnya ialah rafinosa trisakarida (Gal-Glc-Fuc) dan stasiosa
tetrasakarida (Gal-GalGlc-Fuc). Keduanya terdapat pada biji-bijian. Karena tidak
dapat dicerna pada usus halus, keduanya menyediakan substrat untuk fermentasi
bakteri di usus besar dan khususnya pembentukan gas (gas lambung) (Michael
dkk, 2013). Polisakarida ialah karbohidrat yang lebih dari sepuluh satuan
monosakarida dan dapat berantai lurus atau bercabang. Kebanyakan dari gula
tersebut mengandung beberapa ratus atau bahkan ribuan gula sederhana.
Polisakarida dirombak dalam saluran pencernaan menjadi karbohidrat yang
sederhana dengan kelengkapan tingkatan yang beragam (Yazid, 2006).
Polisakarida dibuat oleh tumbuhan dari karbondioksida dan air (karbohidrat
nabati) serta sedikit dari hewan (karbohidrat hewani). Di dalam tumbuhan

15
karbohidrat mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai simpanan energi dan
sebagai penguat struktur tumbuhan tersebut. Sumber energy tersebut terdapat
dalam bentuk zat tepung (amylum) dan zat gula (mono dan disakarida). Timbunan
zat tepung terdapat di dalam biji, akar, dan batang. Sedangkan gula terdapat di
dalam daging buah dan di dalam cairan tumbuhan, misalnya di dalam batang tebu.
Karbohidrat sebagai penguat struktur tumbuhan terdapat sebagai selulosa di dalam
dinding sel. Perbedaan khas antara sel tumbuhan dan sel hewan ialah pada sel
tumbuhan terdapat dinding sel yang mengandung selulosa, sedangkan sel hewan
tidak memiliki dinding sel (Sediaoetama, 2002).

Tiga polisakarida yang sangat penting dalam gizi manusia adalah pati,
glikogen dan selulosa. Dari ketiganya, hanya pati dan glikogen yang menyediakan
energi bagi tubuh. Sedangkan selulosa penting dalam gizi manusia karena
menyediakan serat yang diperlukan dalam makanan.

Pati merupakan polisakarida yang ditemukan dalam butiran padi-padian dan


umbi umbian serta buah buahan seperti pisang. Pada pisang misalnya yang
menjadi manis setelah masak akibat zat pati yang terkandung terurai menjadi gula
sederhana seperti glukosa. Jika zat pati dimasak, molekulnya akan pecah menjadi
molekul yang lebih kecil semacam gula yang dinamakan dekstrin. Kemudian
dekstrin berurai lagi menjadi maltose dan kemudian menjadi glukosa. Demikian
pula dengan zat pati yang dimakan oleh manusia, karena enzim akhirnya berubah
menjadi glukosa. Kemudian masuk dalam darah dan menjadi energi bagi sel-sel
tubuh manusia.

Jika persediaan glukosa dalam darah meningkat, kelebihannya akan disimpan


di dalam hati sebagai polisakarida yang disebut glikogen. Jika seseorang lapar dan
belum sempat makan, energi yang diperlukan tubuh diperoleh dari pembakaran
glikogen yang terdapat di dalam otot dan hati. Jika tubuh kelebihan karbohidrat
maka kelebihan itu akan disimpan sebagai lemak (Suhardjo, 1986).

Pati yang terdapat di berbagai tanaman terdiri dari partikel-partikel halus


disebut granula dengan bentuk dan ukuran sesuai masing-masing tumbuhan.
Granula pati sangat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang namun jelas
tampak pada pengujian mikroskop. Pati yang belum dimasak tidak mudah dicerna
karena granulanya terkandung dalam dinding sel-sel tanaman dan tidak mudah

16
bagi cairan pencernaan untuk menembusnya. Memasak dapat melembutkan
dinding sel dan membuat air mampu memasuki granula dan memecahnya menjadi
gelatin (Michael, 2013).

Polisakarida yang lain yaitu selulosa banyak terdapat dalam sayur berupa
serat kasar. Selulosa merupakan karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan tidak
menghasilkan energy sehingga tidak mengakibatkan kegemukan pada badan.

Meskipun demikian, jenis karbohidrat ini berguna bagi tubuh yaitu


memberikan rasa kenyang dan melancarkan pembuangan tinja (defekasi).
Makanan yang mengandung selulosa rendah akan memberikan kesulitan
pembuangan tinja dan terjadi sembelit (obstipasi) (Sediaoetama, 2000)

Karbohidrat memiliki berbagai macam fungsi bagi tubuh. Almatsier dalam


bukunya menyebutkannya sebagai berikut:

1. Sumber energi.
2. Pemberi rasa manis pada makanan. Karbohidrat memberi rasa manis pada
makanan, khususnya mono dan disakarida. Alat kecapan manusia
merasakan rasa manis tersebut.
3. Penghemat protein.
4. Pengatur metabolisme lemak.
5. Membantu pengeluaran feses (Almatsier, 2009).

Karbohidrat juga merupakan bagian dari struktur sel, dalam bentuk


glikoprotein. Reseptor seluler yang terdapat pada permukaan membrane sel adalah
suatu glikoprotein. Selain itu, di dalam hidangan karbohidrat memudahkan
pemberian bentuk kepada makanan, misalnya dalam bentuk kue. Dalam proses
fermentasi, karbohidrat mempunyai sifat-sifat khusus untuk mendapatkan hasil
olah yang disukai konsumen. Jika dipanaskan pada suhu tinggi, karbohidrat
menjadi caramel yang beraroma khas. Mono dan disakarida berfungsi sebagai
pemanis di dalam makanan. Rasa manis merupakan kualitas kecapan yang
disenangi manusia sejak lahir. Kalau seorang bayi atau anak kecil diberi pilihan
dari berbagai rasa (manis, pahit, asin, dan asam) maka rasa manis akan menjadi
pilihan utama. Tingkat manis sebagai standard yaitu sukrosa (100), fruktosa (173),
glukosa (74), galaktosa (32), maltose (32), dan laktosa (16) (Sediaoetama, 2000).

17
Adanya karbohidrat dalam makanan dapat diidentifikasi secara kualitatif
maupun kuantitatif. Uji kualitatif karbohidrat yang mendasarkan pada
pembentukan warna dapat dilakukan dengan cara:

1. Uji molish Uji ini berlaku umum, baik untuk aldosa maupun ketosa.
Caranya, karbohidrat ditambah H2SO4 melalui dinding-dinding tabung.
Asam sulfat akan menyerap air dan membentuk furfural yang selanjutnya
dikopling dengan -naphtol membentuk senyawa gabungan berwarna
ungu. Jika yang dideteksi pentose akan terbentuk furfural, sementara itu
jika aldosa yang dideteksi akan terbentuk hidroksimetilfurfural (Rahman,
2007).
2. Uji selliwanof Uji ini positif terhadap ketosa, misal fruktosa. Akan tetapi
negative terhadap aldosa. Pereaksi dibuat dengan mencampurkan
resorsinol dengan HCl pekat kemudian diencerkan dengan akuades. Uji
dilakukan dengan menambahkan larutan sampel ke dalam pereaksi lalu
dipanaskan dalam air mendidih. Adanya warna merah menunjukkan
adanya ketosa (Maria, 2010).
3. Uji benedict Uji ini positif untuk gula pereduksi/ gula inversi seperti
glukosa dan fruktosa. Caranya gula reduksi ditambahkan dengan
campuran CuSO4 (tembaga sulfat), natrium sitrat (NaSO3) dan natrium
karbonat (NaCO3) lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro
oksida (Cu2O) yang berwarna merah coklat. Uji ini terjadi dalam suasana
basa/alkalis karena gula akan mereduksi dalam suasana basa. Natrium
sitrat berfungsi sebagai pengkelat Cu dengan membentuk kompleks Cu-
sitrat. Natrium karbonat berfungsi untuk menciptakan suasana basa.
Berikut ini bentuk reaksi yang terjadi pada uji benedict. Gambar 2.2
berikut merupakan gambar reaksi pada uji benedict.

Gambar 2.2 Reaksi pada Uji Benedict

4. Uji fehling Uji ini hampir sama dengan uji benedict yang bertumpu pada
adanya gula pereduksi pada karbohidrat. Cara ujinya: gula reduksi

18
ditambah campuran larutan CuSO4 dalam suasana alkalis (dengan
ditambah NaOH) dan ditambah dengan Chelating agent, lalu dipanaskan
maka akan terbentuk endapan kupro oksida.
5. Uji iodium Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk
kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. Amilum atau pati yang dengan
iodium menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah
anggur, sedangkan glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis akan
membentuk warna merah.

Sedangkan uji kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya:

1. Metode luff school Metode ini dapat digunakan untuk menentukan


kandungan glukosa dalam bahan yang akan diuji (contohnya buah)
berdasarkan pada reaksi titrasi iodometri dari kelebihan Cu. (Maria,
2010)
2. Metode dinitrosalisilat (DNS) Metode ini dapat digunakan untuk
mengukur gula pereduksi dengan teknik kolorimetri. Teknik ini hanya
bisa mendeteksi satu gula pereduksi, misalnya glukosa. Gugus aldehida
yang dimiliki oleh glukosa akan dioksidasi oleh asam 3,5
dinitrosalisilat menjadi gugus karboksil.
3. Metode asam fenol sulfat Metode ini disebut juga dengan metode TS
(total sugar) yang digunakan untuk mengukur total gula. Metode ini
dapat mengukur dua molekul gula pereduksi
E. AMILASE
1. Pencernaan Kimiawi

Makanan diproses secara kimiawi di dalam sistem pencernaan


menggunakan bahan kimia yang dihasilkan oleh saluran cerna yang disebut
enzim. Enzim adalah suatu protein yang mempunyai kerja mempercepat
terjadinya reaksi kimia. Bahan makanan dicerna menjadi bahan lain yang
lebih sederhana dan mudah diserap oleh tubuh untuk selanjutnya menjadi sari
makanan yang akan diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh (Shodiqin,2015).
Secara umum enzim memiliki sifat: bekerja pada substrat tertentu,
memerlukan suhu tertentu dan keasaman (pH) tertentu pula. Suatu enzim
tidak dapat bekerja pada substrat lain. Molekul enzim juga akan rusak oleh
suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
2. Enzim Amilase

19
Enzim amilase merupakan enzim yang mampu bertindak sebagai katalis
dalam reaksi hidrolisis pati oleh air membentuk gula. Gula merupakan produk
konstituen utama dalam industri makanan dan minuman (Widiasa, 2007).
Kemampuan enzim dalam memproduksi gula dipengaruhi terutama oleh
kemampuan enzim sebagai katalis proses produksi, yang dapat dikuantifikasi
melalui pengujian aktivtas enzim. Terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi aktivitas enzim. Pengujian aktivitas enzim sebaiknya
dilakukan pada kondisi optimum sehingga hasil kuantifikasi yang didapatkan
lebih akurat.
Proses pengolahan pati menjadi gula sebenarnya dapat dilakukan dengan
menggunakan dua jenis katalis, yaitu katalis asam dan katalis enzim.
Pengolahan pati degan bantuan katalis enzim terdiri dari dua tahap, yaitu
likuifaksi dan sakarifikasi. Pada tahap likuifaksi, enzim yang digunakan
adalah enzim -amilase. Enzim -amilase membantu proses hidrolisis pati
(polisakarida) menjadi oligosakarida, berupa limit dekstrin dan senyawa
oligosakarida lainnya.
Enzim -amilase memiliki nama kimiawi, yaitu endo-1,4--D-glucan
glucohydrolase, EC 3.2.1.1. Enzim -amilase merupakan enzim ekstraseluler
yang mampu memotong ikatan 1,4--D-glikosidik antara monomer glukosa
pada rantai linier amilosa. Enzim ini dikategorikan sebagai endoenzim karena
pemotongan pati dilakukan secara acak dari dalam (Megazyme, 2015). Enzim
-amilase disusun oleh protein. Ion kalsium berperan sebagai stabilisator dan
activator allosteric. Beberapa enzim memiliki lebih dari satu bagian aktif
untuk mengikat substrat supaya enzim dapat mengikat substrat lain ketika
sudah terikat dengan suatu substrat tertentu. Sifat enzim inilah yang disebut
sebagai allosteric. Enzim -amilase bersifat calsium metalloenzymes sehingga
tidak dapat berfungsi tanpa adanya ion kalsium.
Sebagian besar enzim -amilase memotong karbohidrat rantai panjang
baik secara endoamilase. Akan tetapi, terdapat beberapa enzim -amilase
yang memotong karbohidrat. Secara eksoamilase, tergantung dari sumber enzim
-amilase dihasilkan. Hasil penguraian oleh -amilase adalah dekstrin, limit
dextrin, oligosakarida, dan turunan siklodextrin. Dextrin adalah campuran
oligosakarida kompleks yang memiliki rumus molekul C 6H10O3. Dextrin
merupakan produk antara pati dan dekstrosa/glukosa.

20
F. MALTASE

1. Enzim
Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang
berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa
habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja dengan cara
menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan
demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim
menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah
terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya
setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi
kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat
tetap. Sebagai contoh, enzim -amilase hanya dapat digunakan pada proses
perombakan pati menjadi glukosa. Enzim dipelajari
dalam enzimologi (Campbell,1995).
Enzim membantu proses metabolisme di dalam tubuh. Enzim banyak
terdapat pada makanan segar karena enzim sangat sensitive terhadap panas
dan akan rusak dalam proses pemasakan dan pasteurisasi. Enzim berperan
penting bagi kehidupan dengan cara menjalankan seluruh metabolisme tubuh.
Kita tidak dapat mencerna atau menyerap makanan dan kita pun bisa mati
jika tidak ada enzim dalam tubuh. Enzim adalah biokatalisator spesifik yang
bergabung dengan koenzim (vitamin dan mineral) yang menjalankan roda
kehidupan melalui metabolisme agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada
umumnya kita sudah mengetahui kegunaan vitamin dan mineral bagi tubuh,
akan tetapi kemungkinan besar Anda tidak menyadari bahwa vitamin tidak
akan diaktifkan dalam tubuh sampai bergabung dengan enzim
(Campbell,1995).
Jumlah enzim yang kecil di dalam sel mempersulit pengukuran kadarnya
di dalam ekstrak jaringan atau cairan. Untungnya, aktivitas katalitis yang
dimiliki enzim dapat menjadi sarana pemeriksaan yang sensitive dan spesifik
bagi pengukuran kadar enzim itu sendiri. Kemampuan mengatalitis
transformasi ribuan, puluhan ribu, atau bahkan lebih molekul substat menjadi
produk dalam periode waktu yang singkat memberikan kepada setiap molekul

21
enzim kemampuan untuk secara kimiawi menguatkan keberadaannya
(Lehninger, 1995).
Untuk mengukur kadar enzim di dalam sebuah sampel ekstrak jaringan
atau cairan biologik lain, kecepatan reaksi yang dikatalitis oleh enzim dalam
sampel tersebut harus ditentukan. Dalam kondisi yang tepat, hasil pengukuran
kecepatan reaksi harus sebanding dengan jumlah enzim yang ada. Karena
jumlah molekul atau massa enzim yang ada sukar ditentukan, hasil
pengukuran tersebut dinyatakan dalam unit enzim. Jumlah relatif enzim
dalam berbagai ekstrak kemudian dapat dibandingkan (Lehninger, 1995).

2. Enzim Maltase
Enzim Maltase adalah enzim saluran pencernaan yang berfungsi untuk
mengubah maltosamenjadi glukosa + glukosa. Proses ini dibutuhkan
karena glukosa lebih mudah direaksikan secara kimia oleh tubuh untuk
menjadi sumber energi. Enzim Maltase merupakan salah satu enzim pada
getah pankreas yang disekresikan ke dalam usus halus saat proses
pencernaan. Jadi, enzim maltase ini melanjutkan fungsi enzim karbohidrase
yang telah dijalankan di pankreas. Enzim sukrose berfungsi untuk mengubah
sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. (Saktiono, 1989).

a) Maltosa

Maltosa merupakan salah satu jenis disakarida yang didapatkan melalui


proses pemecahan pati atau amilum oleh enzim amilase. Maltosa terbentuk
dari proses hidrolisis oleh enzim amilase pada pati yang dapat ditemui di biji
berkecambah.Selain itu juga, maltosa juga bisa dibentuk melalui pemecahan
glikogen dan pati selama pencernaan. Beberapa fungsi maltosa yaitu dapat
digunakan dalam pembuatan minuman ringan, bir, dan makanan.Maltosa
yaitu biomolekul yang mempunyai gugus karbohidrat dimana di dalamnya

22
terbagi menjadi tiga kelompok menjadi unsur penting, yaitu lemak, protein,
dan karbohidrat. Karbohidrat tersusun oleh C, H, O yang didefinisikan
sebagai atau polihidroksi atau aldehida polihidroksi keton (Jutono, dkk,
1980).

Pada umumnya, hal ini dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni


oligosakarida, polisakarida, dan monosakarida. Sedangkan maltosa adalah
disakarida yang terbentuk dari bersatunya dua unit dari monosakarida.
Keduanya memiliki masing-masing enam karbon sehingga dapat disebut
dengan heksosaMeskipun maltosa tidak mempunyai fungsi khusus di dalam
tubuh, tapi senyawa ini dapat digunakan untuk pemanis buatan secara massal
dalam bentuk sirup ataupun bubuk. Selain itu juga dapat ditambahkan ke
berbagai sukrosa bebas dan makanan manis seperti permen karet, permen,
selai, cokelat, roti, dan es krim.Fungsi ini bisa di dapatkan apabila produsen
telah mengubah maltosa menjadi alkohol gula disakarida atau yang sering
disebut maltilol. Maltosa memiliki rasa manis yang relatif rendah daripada
fruktosa dan glukosa. Tingkat rasa manis ini sekitar 1/6 dari manisnya
fruktosa dan 1/2 dari manis glukosa (Jutono, dkk, 1980).

Tubuh dapat menyerap maltosa secara perlahan sekitar 50 hingga 60


persen dari maltilol, sedangkan sisanya akan di fermentasi atau diekskresi di
dalam usus.Pada tubuh mahkluk hidup, maltosa terbentuk dari proses
pemecahan amilum oleh amilase dan amilase merupakan hasil dari pankreas
dan kelenjar ludah. Sedangkan pada tumbuhan, maltosa didapatkan pada fase
perkecambahan. Senyawa ini akan diuraikan lagi dalam reaksi hidrolisis
hingga menjadi 2 senyawa glukosa. Proses pemecahan glukosa dari maltosa
dapat dikatalis menggunakan enzim maltase (Jutono, dkk, 1980).

Sudah diketahui bahwa maltosa merupakan disakarida hasil dari dua


molekul glukosa. Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengidentifikasi adanya maltosa di berbagai makanan. Cara pertama dapat
dilakukan dengan uji benedict.Dalam uji coba ini maltosa akan menghasilkan
suatu endapan berwarna kuning karena maltosa memiliki sifat sebagai
pereduksi. Selain itu, ada uji barfoed yang juga bisa digunakan untuk

23
identifikasi maltosa. Pada pengujian ini pun maltosa juga menghasilkan
endapan. Hal ini berarti bahwa maltosa merupakan disakarida.Cara yang
terakhir adalah uji seliwanoff. Pada uji coba ini, maltosa akan membentuk
warna merah. Berdasarkan beberapa uji coba ini dapat membantu kita dalam
menentukan biji-bijian, buah-buahan, makanan atau minuman apa saja yang
mengandung maltosa. Sehingga kita dapat menentukan menakar kebutuhan
nutrisi dalam tubuh (Jutono, dkk,1980).

b) Glukosa

Glukosa adalah gula monosakarida yang merupakan salah satu karbohidrat


terpenting yang digunakan tubuh sebagai sumber tenaga. Dalam metabolisme
manusia, glukosa bertanggung jawab untuk menyediakan energi. Meski
demikian, terlalu banyak glukosa dalam makanan telah dikaitkan dengan
komplikasi kesehatan seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung dan kanker.
Maka dari itu, asupannya perlu dibatasi terutama pada mereka yang menderita
diabetes (Suriawiria, 1985).

Makanan tinggi pati dan gula yang lebih rendah seperti laktosa pada
akhirnya juga akan dicerna untuk menghasilkan glukosa. Hal ini karena
makanan tersebut terdiri dari glukosa dan unit gula tunggal lain seperti
galaktosa yang dihubungkan oleh ikatan khusus. Makanan tinggi pati ini
meliputi jagung, beras dan kentang (Suriawiria, 1985).

G. ENZIM DALAM SYSTEM PENCERNAAN


Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein)
yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat
proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia.
Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul
zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses
reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi
pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah reaksi.
Dengan tidak adanya enzim. Lalu lintas kimiawi melalui jalur-jalur
metabolisme akan menjadi sangat macet. Enzim dikenal untuk
pertama kalinya sebagai protein oleh sumber pada tahun 1926

24
yang telah berhasil mengisolasi urease dari kara pedang (Jack
bean) (Muchtadi, Deddy. 2009).
Urease adalah enzim yang dapat menguraikan urea menjadi
CO2 dan NH3 beberapa tahun kemudian Nhorthrop dan Kunitz
dapat mengisolasi pepsin, tripsin, kimotripsin. Selanjutnya makin
banyak enzim yang telah dapat diisolasi dan telah dibuktikan
bahwa enzim tersebut ialah suatu protein. Enzim adalah protein
yang berperan sebagai katalis dalam metabolisme makhluk
hidup. Enzim berperan untuk mempercepat reaksi kimia yang
terjadi di dalam tubuh makhluk hidup, tetapi enzim itu sendiri
tidak ikut bereaksi. Enzim berperan secara lebih spesifik dalam
hal menentukan reaksi mana yang akan dipacu dibandingkan
dengan katalisator anorganik sehingga ribuan reaksi dapat
berlangsung dengan tidak menghasilkan produk sampingan yang
beracun. Enzim adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh sel-
sel hidup. Inilah mengapa enzim tersebut katalis hayati atau
organik atau sarana katalitik. Katalis juga menampakan spesifik
atau kekhususan. Artinya suatu katalis tertentu akan berfungsi
pada hanya suatu jenis reaksi tertentu saja. Ada 2 (dua) cara
kerja enzim :
1. Lock and key (gembok dan anak kunci)
Setiap enzim memiliki sisi aktif yang tersusun dari
sejumlah asam amino. Bentuk sisi aktif ini sangat spesifik,
sehingga hanya molekul dengan bentuk tertentu yang
dapat menjadi substrat bagi enzim.
2. Induced fit (induksi pas)
Sisi aktif enzim merupakan bentuk yang tidak kaku
(fleksibel). Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim,
bentuk sisi aktif berubah bentuk sesuai dengan bentuk
substrat kemudian terbentuk kompleks enzim-substrat.
Pada saat produk sudah terlepas dari kompleks, maka
enzim lepas dan kembali bereaksi dengan substrat yang
lain. Enzim bekerja dengan cara mengkatalis reaksi

25
sehingga meningkatkan kecepatan reaksi yang dilakukan
dengan menurunkan energi aktivasi (energi yang
dibutuhkan untuk reaksi). Kerja enzim dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya ialah:
a) Suhu, semakin tinggi suhu, kerja enzim juga akan
meningkat.
b) pH, pengaruh pH terhadap suatu enzim bervariasi
tergantung jenisnya
c) Konsentrasi substart, semakin tinggi konsentrasi
substrat, semakin meningkat juga kerja enzim tetapi
akan mencapai titik maksimal pada konsentrasi
tertentu.
d) Konsentrasi enzim, semakin tinggi konsentrasi enzim,
semakin meningkat juga kerja enzim
e) Adanya aktivator. Aktivator merupakan zat yang
memicu kerja enzim

H. PENGERTIAN AMILUM (PATI)


Pati merupakan polisakarida yang ditemukan dalam butiran
padi-padian dan umbi umbian serta buah buahan seperti pisang.
Polisakarida yang lain yaitu selulosa banyak terdapat dalam
sayur berupa serat kasar. Selulosa merupakan karbohidrat yang
tidak dapat dicerna dan tidak menghasilkan energy sehingga
tidak mengakibatkan kegemukan pada badan.
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak
larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau.
Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan
untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk
fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga
menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting. Pati
tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin,
dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat

26
keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket
(Irawan, M. 2007).
Pada pisang misalnya yang menjadi manis setelah masak
akibat zat pati yang terkandung terurai menjadi gula sederhana
seperti glukosa. Jika zat pati dimasak, molekulnya akan pecah
menjadi molekul yang lebih kecil semacam gula yang dinamakan
dekstrin. Kemudian dekstrin berurai lagi menjadi maltose dan
kemudian menjadi glukosa. Demikian pula dengan zat pati yang
dimakan oleh manusia, karena enzim akhirnya berubah menjadi
glukosa. Kemudian masuk dalam darah dan menjadi energi bagi
sel-sel tubuh manusia. Jika persediaan glukosa dalam darah
menigkat, kelebhannya akan disimpan didalam hati sebagai
polisakarida yang disebut glikogen. Jika seseorang lapar dan
belum sempat makan, energi yang diperlukan tubuh diperoleh
dari pembakaran glikogen yang terdpat didalam otot dn hati. Jika
tubuh kelebihan karbohidrat maka kelebihan itu akan disimpan
sebagai lemak (Hutagalung, Halomoan. 2004).
Pati yang terdapat di berbagai tanaman terdiri dari partikel-
partikel halus disebut granula dengan bentuk dan ukuran sesuai
masing-masing tumbuhan. Granula pati sangat halus dan tidak
dapat dilihat oleh mata telanjang namun jelas tampak pada
pengujian mikroskop. Pati yang belum dimasak tidak mudah
dicerna karena granulanya terkandung dalam dinding sel-sel
tanaman dan tidak mudah bagi cairan pencernaan untuk
menembusnya. Memasak dapat melembutkan dinding sel dan
membuat air mampu memasuki granula dan memecahnya
menjadi gelatin.

I. UJI IODIUM
Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk
kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. Amilum atau pati
yang dengan iodium menghasilkan warna biru, dekstrin
menghasilkan warna merah anggur, sedangkan glikogen dan

27
sebagian pati yang terhidrolisis akan membentuk warna merah.
Percobaan uji iod ini bertujuan untuk memisahkan antara
polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iod memberikan
warna kompleks dengan polisakarida. Amilum memberikan warna
biru pada iod, sedangkan glikogen dan tepung yang sudah
dihidrolisis sebagian (eritrodekstrin) memberikan warna merah
sampai coklat dengan iodium. Sampel amilum yang diujikan
menghasilkan warna iodium yaitu biru tua, sampel glukosa dan
akuades menghasilkan warna kuning. Amilosa memberikan
warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak
bereaksi. Membuktikan bahwa glukosa dan akuades bukanlah
polisakarida dan amilum termasuk pada polisakarida (Yayan,
Sunarya dan Agus Setiabudi. 2007).
Amilum, jika bahan makanan ditetesi dengan larutan lugol
akan berwarna ungu, biru tua, hijau gelap, dan hitam maka
bahan makanan tersebut mengandung amilum. Semakin gelap
warna yang di hasilkan maka semakin banyak kandungan
amilum yang terdapat pada bahan makanan tersebut (Almatsier,
Sunita. 2010).

J. KENTANG
Komposisi kimia kentang sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor, antara lain varietas, keadaan tanah yang ditanami, pupuk
yang digunakan, umur umbi ketika dipanen, waktu dan suhu
penyimpanan. Perubahan komposisi umbi selama pertumbuhan
meliputi naiknya kadar pati dan sukrosa serta turunnya kadar air
dan gula pereduksi. Komposisi kimia kentang dibandingkan
jagung dan ubi kayu dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Pati kentang memiliki viskositas maksimum yang paling
tinggi, tetapi memiliki viskositas pada fase pendinginan yang
lebih rendah dibandingkan dengan pati jagung. Hal ini
dikarenakan pati kentang memiliki kandungan amilosa yang

28
rendah. Amilosa yang relatif rendah menyebabkan kemampuan
membentuk gel yang kurang kuat (Sumardjo, Damin. 2009).
Parameter Jagung Kentang Ubi Kayu
Air (%) 15,17 68,72 64,62
Abu (%) 1,70 1,05 0,26
Lemak (%) 4,14 0,10 0,40
Protein (%) 8,93 2,45 1,23
Pati (%) 66,55 20,63 30,79
- Amilosa (%) 19,57 7,05 7,02
- Amilopektin (%) 46,98 13,58 23,77
Rasio
29:71 34:66 23:77
amilosa:amilopektin
Ca (%) 0,06 0,02 0,02
Pati resisten (%)
6,62 6,30 6,01

Tabel 2.1. Komposisi kimia kentang dibandingkan jagung dan ubi


kayu

K. KACANG MERAH

Kacang merah (Phaseolus vulgaris L) termasuk dalam Famili


Leguminoseae alias polong-polongan. Satu keluarga dengan
kacang hijau, kacang kedelai dan kacang tolo. Kacang merah
mudah didapatkan karena sudah ditanam di seluruh propinsi di
Indonesia. Daerah sentral penghasil kacang merah adalah Jawa
Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Bengkulu dan
Nusa Tenggara Timur.
Kacang merah kering merupakan sumber karbohidrat
kompleks, serat, vitamin B (terutama asam folat dan vitamin B1),
kalsium, fosfor, zat besi dan protein. Kacang merah merupakan
sumber serat yang baik. Setiap 100 gram kacang merah kering
menyediakan serat sekitar 24 gram, yang terdiri dari campuran
serat larut dan tidak larut air. Serat larut dapat menurunkan
konsentrasi kolesterol dan gula darah. Kacang merah juga
merupakan salah satu jenis kacang yang mengandung senyawa

29
bioaktif polifenol dalam bentuk prosianidin sekitar 7%-9%
terutama pada kulitnya. Polifenol mempunyai aktivitas
antibakteri yaitu menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Kacang merah termasuk salah satu jenis sayuran yang mudah
mengalami kerusakan setelah pemanenan baik kerusakan fisik,
mekanis, maupun mikrobiologis. Oleh karena itu perlu dilakukan
proses pengolahan pada bahan untuk memperpanjang masa
simpan. Memperpanjang masa simpan kacang merah
dimasyarakat umumnya hanya dilakukan pengeringan dengan
sinar matahari. Pengolahan lebih lanjut dari kacang merah belum
banyak dikembangkan. Sehingga pemanfaatan kacang merah
belum optimal (Almatsier, Sunita. 2010).

Tabel 2.2. Nilai gizi kacang merah per 100 gram bahan
L. NASI

30
Nasi adalah makanan pokok hasil olahan beras yang biasa
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Nasi mengandung energi
sebesar 176 kilokalori, protein 3,3 gram, karbohidrat 0 gram,
lemak 0 gram, kalsium 4,9 miligram, fosfor 0 miligram, dan zat
besi 0 miligram. Selain itu di dalam Nasi juga terkandung
vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0 miligram dan vitamin C 0
miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian
terhadap 100 gram Nasi, dengan jumlah yang dapat dimakan
sebanyak 100 % (Harper, dkk., terj. Suhardjo. 1986).

M. TEPUNG MAIZENA
Tepung jagung, pati jagung, atau tepung maizena adalah pati
yang didapatkan dari endosperma biji jagung. Tepung jagung
merupakan bahan makanan populer yang biasa digunakan
sebagai bahan pengental sup atau saus, dan digunakan untuk
membuat sirup jagung dan pemanis lainnya.
Tepung jagung digunakan sebagai bahan pengental pada
makanan berbasis cairan (seperti sup). Tepung jagung dapat
membentuk adonan ketika dicampur dengan air dingin. Nugget
ayam menggunakan tepung jagung untuk meningkatkan
penyerapan minyak dan kerenyahan ketika penggorengan.
Tepung jagung dapat diolah menjadi bioplastik. Tepung jagung
juga digunakan sebagai bahan anti lengket pada proses
transportasi gula dan produk yang terbuat dari lateks, termasuk
kondom dan sarung tangan medis (Michael E.J. Lean, terj.
Nilamsari dan Fajriyah. 2013).
Jeni Pati Abu Protei Lema Karbohid
s pati (%) (%) n (%) k (%) rat (%)
Ubi 11,50 0,007 0,602 0,086 87,80
jalar 5 0,007 1,289 0,122 86,06
Ubi 12,52 0,003 0,685 0,060 87,42
kayu 4 0,005 0,669 0,085 81,91
Jag 11,83
ung 0

31
Ken 17,33
tang 2

Tabel 2.3. Hasil analisis proksimat beberapa jenis pati

32
BAB III
METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Rak tabung reaksi 1 buah
b. Tempat pembiusan 1 buah
c. Tabung reaksi 10 buah
d. Gelas beker 250 mL 1 buah
e. Penjepit tabung reaksi 1 buah
f. Papan bedah 1 buah
g. Dissecting set 1 set
h. Pipet tetes 3 buah
i. Mortal 1 buah
j. Alu 1 buah
k. Gelas ukur 10 mL 1 buah
l. Kawat kasa 1 buah
m. Kaki tiga 1 buah
n. Bunsen 1 buah
2. Bahan
a. Larutan benedict 20 mL
b. Larutan biuret 16 mL
c. Larutan glukosa 5% 2 mL
d. Larutan fruktosa 10% 2 mL
e. Larutran sukrosa 5% 2 mL
f. Larutan iodin (IKI) 12 tetes
g. Larutan gula/pati 2 mL
h. Minyak 4 mL
i. Kloroform 25 mL
j. Aquades 1000 mL
k. Toluene 5 tetes
l. Korek api 1 buah

33
m. Kertas label 1 lembar
n. Gliserin 50% 20 mL
o. Ikan mas 2 ekor
p. Sampel eksperimen :

1) Nasi 1 kotak
2) Mie 1 bungkus
3) Kentang 1 buah
4) Kacang merah 1 bungkus
5) Tempe 1 buah
6) Tahu 1 buah
7) Menjes 1 buah
8) Kacang tanah 1 bungkus
9) Kedelai 1 bungkus
10) Telur ayam kampung 1 buah
11) Susu kedelai 1 botol
12) Nanas 1 buah
13) Alpukat 1 buah
14) Mie 1 bungkus
15) Tepung maizena 1 kotak
16) Tepung terigu 1 bungkus
17)
18)

34
B. Rancangan Percobaan
1. Tahap persiapan
19)
20)
21)
22)
23)
Membedah ikan
24) mas Diambil usus halus, Memasukkan ekstrak usus ke
kemudian ditumbuk dalam botol kemudian dibungkus
25)
ditambahkan 20 mL dengan kantong plastik hitam,
26) gliserin dan 5 tetes disimpan 7 hari
27) toluene
2. Membuat larutan sampel
28)
29)
30)
31)
32)
Sampel
33) disiapkan Sampel padat Sampel disiapkan
ditumbuk sebanyak 1,5 mL
34)
3. Tahap eksperimen
a. Tes pengaruh empedu terhadap lemak
35)
36)
37)
38)
39)
Kantung empedu diambil Mengencerkan cairan Menyiapkan cairan empedu
kemudian40)
cairan empedu empedu hingga volume dan aquades 2 mL pada tabung
dimasukkan dalam gelas ukur 2 mL reaksi yang berbeda,
41)
ditambahkan minyak 2 mL
42) pada setiap tabung reaksi
43)
44)
45)
46)
47)
48)
49)
50)
51)
Hasil setelah dikocok Mengocok kedua
52) tabung selama 5 menit
b. Identifikasi protein
53)
54)
55)
56)
57)Menyiapkan 6 jenis Mengamati perubahan warna
Menambahkan biuret 2 mL
setelah didiamkan.
58)larutan sampel untuk pada tiap tabung reaksi
dimasukkan kedalam
59)
tabung reaksi
60)
c. Pembuktian adanya tripsin
61)
62)
63)
64)
65) Menyiapkan 1 mL Memanaskan Setelah Amati dan catat
sampel untuk tabung hingga didinginkan, perubahan yang
66) tabung A dan B sampel mendidih tetesi reagen terjadi
67) biuret
d. Identifikasi karbohidrat
68)
69)
70)
71)
72) Larutan sampel + Mengocok Mendidihkan Amati dan catat
73) benedict 1,5 mL larutan larutan selama 5 perubahan yang
menit terjadi
74)
e. Pembuktian adanya amilase dan maltase
75)
76)
77)
78)
79)
Menyiapkan Memanaskan
Menyiapkan isi Meneteskan larutan
tabung A80)
dan B untukntabung C tabung C ke tabung tabung A dan B
diisi benedict 2 dan D A, tabung D ke selama 5 menit
81)
mL tabung B
82)
83)
84)
85)
86)
87)
88)
Mengulangi langkah yang Mengamati dan
89) sama dengan sampel berbeda mencatat perubahan
90) (nasi) untuk maltase. Catat yang terjadi (amilase)
91) dan amati hasilnya

f. Identifikasi pati
92)
93)
94)
95)
96)
Menyiapkan larutan Meneteskan 2-3 Mengocok larutan Catat dan amati
97)sampel yang berbeda IKI pada setiap perubahan yang terjadi
untuk 6 tabung
98) reaksi tabung reaksi

99)
100)
C. Langkah Kerja
1. Tahap persiapan
a. Membedah ikan mas pada bagian perut.
b. Memisahkan usus dari organ lainnya dengan hati-hati.
c. Mengambil usus halus dengan cara memotongnya dari bagian akhir
lambung hingga awal usus besar.
d. Mengambil kantung empedu dengan hati-hati agar tidak pecah.
e. Membuka usus halus dengan cara menyayatnya secara longitudinal.
f. Membersihkan usus halus dengan akuades.
g. Menghaluskan usus halus dan 20 mL gliserin 50% dengan
menggunakan mortal alu.
h. Menambahkan 5 tetes toluene, menghaluskan kembali. Setelah halus,
masukkan usus tersebut ke dalam botol, kemudian tutup rapat.
i. Membungkus botol dengan kertas karbon hitam dan kantong plastik
hitam.
j. Menyimpan ekstrak usus halus tersebut dalam ruang gelap selama 6-7
hari.
k. Menyaring ekstrak usus dengan kertas saring sehingga ekstrak usus
siap digunakan untuk uji enzim setelah 7 hari didiamkan.
2. Membuat larutan sampel
a. Membuat prediksi kandungan makanan yang mungkin terkandung
dalam sampel yang uji. Catat prediksi.
b. Membuatlah sampel kontrol untuk memastikan validitas hasil
eksperimen
101) Pengontrol negative tidak akan menghasilkan perubahan
warna. Sampel pengontrol negatif merupakan sampel yang berisi zat
nonreaktif seperti air. Misalnya, jikaingin menguji keberadaan
monosakarida, uji kimia yang dilakukan menggunakan larutan
Benedict akan menghasilkan warna biru ketika dicampur dengan air.
Warna biru ini merupakan warna asli Benedict. Pengontrol positif
akan menghasilkan perubahan warna yang mengindikasikan
keberadaan senyawa kimia yang diuji Sebagai contoh, larutan 5%
glukosa akan bereaksi dengan larutan Benedict dan merubah warna
biru menjadi warna merah kecoklatan.
102)
3. Persiapan Sampel
a. Memotong sampel padat menjadi bagian kecil-kecil lalu haluskan
dengan mortal. mengambil sedikit sampel yang sudah dihaluskan
sehingga dapat dilarutkan dengan aquades sebanyak 1.5 mL di dalam
tabung reaksi. Jika sampel cair, masukkan sampel ke dalam tabung
reaksi sebanyak 1.5 mL.
b. Mengisi masing-masing tabung dengan volume yang sama jika
sampelnya sama.
103)
4. Tahap Eksperimen
104) Bagian I. Tes Pengaruh Empedu terhadap Lemak
a. Menyediakan dua tabung reaksi. Beri label 1 dan 2.
b. Menuangkan isi kantung empedu dalam tabung 1 dengan cara
menggunting sedikit permukaannya di atas tabung reaksi.
c. Mengencerkan empedu dengan akuades sehingga volumenya menjadi
2 mL.
d. Memasukkan 2 mL akuades ke dalam tabung 2 sebagai kontrol.
e. Menambahkan 2 mL minyak goreng ke dalam masing-masing tabung
reaksi.
f. Mengocok kedua tabung dengan kuat dan biarkan selama 5-10 menit.
g. Mengamati apa yang terjadi pada kedua larutan dalam tabung.
h. Membandingkan besar gumpalan lemak dalam masing-masing tabung.
i. Mencatat hasilnya pada Tabel 1
105) Bagian II. Protein
a. Identifikasi Protein
1) Memprediksikan senyawa organik yang mungkin terkandung
dalam sampel eksperimen. Catat prediksi dalam Tabel 2.
2) Memberi label pada tabung reaksi, tabung 1 s.d. tabung 6.
3) Menyiapkan larutan sampel yang telah dibuat sebelumnya.
4) Menambahkan biuret ke dalam tabung reaksi masing-masing 2 mL.
5) Mendiamkan tabung reaksi selama beberapa menit sampai terlihat
perubahan warna yang mirip dengan pengontrol positif.
6) Mencatat hasil eksperimen dalam Tabel 3.
7) Membersihkan tabung reaksi yang digunakan.
106)
b. Pembuktian Adanya Tripsin
1) Menyiapkan dua tabung reaksi dan diberi label A dan B.
2) Memasukkan 1 mL sampel yang terindikasi mengandung protein
ke dalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 1 mL.
3) Memanaskan tabung hingga mendidih.
4) Mendinginkan kedua tabung reaksi. Setelah dingin, masukkan 1
mL ekstrak usus ke dalam tabung A dan 1 mL akuades ke dalam
tabung B. Diamkan selama 5-10 menit.
5) Meneteskan masing-masing 5 tetes reagen biuret ke dalam tabung
A dan B. Amati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing
tabung reaksi.
6) Mencatat hasilnya pada Tabel 4.
107)
108) Bagian III. Karbohidrat
a. Identifikasi Karbohidrat
1) Menyiapkan kaki tiga, bunsen, dan kasa untuk memanaskan air
sebanyak 150 mL menggunakan gelas beker berukuran 250 mL.
Memasukkan dua atau tiga batu didih ke dalam gelas beker. Batu
didih merupakan indikator mendidihnya suatu zat. Memanaskan air
hingga mendidih.
2) Memberi label tabung reaksi dengan angka 1 s.d. 8. Usahakan agar
kertas label tidak mudah lepas.
3) Menyiapkan larutan sampel yang telah buat sebelumnya.
4) Meneteskan larutan Benedict sebanyak 1.5 mL ke masing-masing
tabung reaksi.
5) Mengocok tabung reaksi perlahan sehingga larutan sampel
tercampur dengan larutan Benedict.
6) Meletakkan setiap tabung reaksi ke dalam gelas beker yang berisi
air mendidih selama lima menit.Pindahkan tabung reaksi dari gelas
beker tersebut. Amati apa yang terjadi.
7) Mencatat hasil yang teramati pada Tabel 5.
8) Membersihkan tabung reaksi yang telah digunakan.
109)
b. Pembuktian Adanya Amilase dan Maltase
1) Menyediakan dua tabung reaksi dan berilah label A dan B.
Memasukkan 2 mL reagen Benedict ke dalam masing-masing
tabung reaksi.
2) Menyiapkan dua tabung lain dan berilah label C dan D.
Memasukkan 2 mL larutan sampel yang terindikasi adanya
karbohidrat ke dalam tabung C dan D.
3) Memasukkan 1 mL ekstrak usus ke dalam tabung C dan 1 mL
akuades ke dalam tabung D. Kocok kedua tabung tersebut selama
5-10 menit.
4) Meneteskan sebanyak 5 tetes larutan dalam tabung C ke dalam
tabung A dan laruan dalam tabung D ke tabung B.
5) Memanaskan tabung A dan B selama 5 menit dan amati perubahan
warna yang terjadi pada larutan tabung A dan B.
6) Mencatat hasil yang teramati pada Tabel 6.
7) Membersihkan tabung reaksi yang telah gunakan.
8) Mengulangi langkah 1-5 dengan sampel yang berbeda untuk uji
maltase.
9) Mencatat hasil yang teramati pada tabel 7.
110)
c. Identifikasi Pati (Oligosakarida)
1) Memberi label pada setiap tabung reaksi mulai tabel 1 s.d. 6.
2) Menyiapkan larutan sampel yang telah dibuat sebelumnya.
3) Meneteskan 2 sampai 3 IKI ke masing-masing tabung reaksi.
Kocok tabung reaksi perlahan.
4) Mencatat hasil eksperimen pada Tabel 8.
5) Membersihkan tabung reaksi dan alat-alat yang telah digunakan.
I. Alur Kerja
1. Tahap persiapan
111)
Ikan Mas
112)
- dibedah dibagian perut
113)
- dipisahkan usus dari organ lainnya dengan
114) hati-hati (akhir lambung awal usus
halus)
115) - diambil kantung empedu
K
116)
Usus Halus
117)

118) - dibuka dengan cara menyayatnya secara

119) longitudinal
- dibersihkan usus halus dengan aquades
120) - dihaluskan dan ditambahkan 20mL gliserin
50%
121) - ditambahkan 5 tetes toluene dan dihaluskan
122) kembali
- dimasukkan dalam botol dan dibungkus
123)
kertas karbon hitam.
124) - disimpan selama 6-7 hari
- disaring ekstrak usus dengan kertas saring
125)

126)
Ekstrak Usus
127)

2. Persiapan Sampel

128)
Sampel Cair
129) Sampel Padat

130)
- dimasukkan kedalam - dipotong menjadi bagian kecil-kecil
131)
tabung reaksi sebanyak dan dihaluskan dengan mortal
1,5 mL
132)

Larutan Sampel 133)


Tumbukan Sampel
134)

135) - dilarutkan dengan aquades


1,5 mL dalam tabung reaksi
136)

137)
Larutan Sampel
138)

3. Tahap Eksperimen
139) Bagian I. Tes Pengaruh Empedu terhadap Lemak
140) Empedu

141) -dituangkan pada gelas ukur ,


142) ditambahkan sampai volumenya
sampai 2 mL dan dimasukkan kedalam
143)
tabung reaksi 1, tabung reaksi 2 di isi
144)
dengan aquades sebanyak 2 mL.
145)

146) Minyak
147)
- ditambahkan pada tabung reaksi 1 dan tabung
148) reaksi 2 masing-masing 2 mL.
- dikocok kedua tabung dengan kuat
149) - dibiarkan selama 5- 10 menit.
- dibandingkan gumpalan lemak yang terbentuk.
150)

151)

152) Hasil

153)

154)

155)

156)

157)

158)

159)

160)
161) Bagian II. Protein
1. Identifikasi Protein
162)
Larutan sampel
163)

164) - dimasukkan ke dalam tabung reaksi

165) - diberi tabel pada tabung 1 sampai 6


- diteteskan larutan NaOH 10% ke dalam masing-masing
166)
tabung reaksi sebanyak 20 tetes. Dan dikocok tabung reaksi
167) perlahan

168) - ditambahkan 4 tetes 0.5% CuSO4 ke masing-masing


tabung reaksi. Kocok tabung reaksi perlahan.
169)
- diamkan tabung reaksi selama beberapa menit sampai
170)
terlihat perubahan warna yang mirip dengan pengontrol
171) positif.
172) - diamati dan catat perubahannya

173)Hasil

2. Pembuktian Adanya Tripsin


Larutan
174) Sampel

175)
- diberi label A dan B
176)
- dimasukkan sampel yang terindikasi mengandung protein ke
177) dalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 1 mL

178) - dipanaskan hingga mendidih

179) - didinginkan dan ditambahkan 1mL ekstrak usus ke dalam tabung


A dan 1 mL aquades ke dalam tabung B.
180)
- didiamkan 5-10 menit
181)
- diteteskan masing-masing 5 tetes reagen biuret ke dalam tabung A
182)
dan B.
183)
- diamati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing tabung
184)
reaksi.
185)
- dicatat hasilnya pada tabel 4
186)
Hasil
187) Bagian III. Karbohidrat
1. Identifikasi Karbohidrat
188) Larutan
Sampel
189)
- di beri label tabung reaksi dengan angka 1
190) sampai 8
191) - dimasukkan ke tabung reaksi
192) - diteteskan larutan Benedict sebanyak 1.5
193) mL ke masing-masing tabung reaksi.
Air
194) - di kocok perlahan sehingga larutan
- dipanaskan sebanyak 150 mL sampel tercampur dengan larutan Benedict.
menggunakan
195) gelas beker
- diletakkan setiap tabung reaksi ke dalam
- dimasukkan
196) dua atau tiga batu gelas beker yang berisi air mendidih selama
didih ke dalam gelas beker lima menit
197)

198)

199) Larutan Sampel +


Biuret
200)
201) - dipindahkandari gelas beker
202) - di amati perubahan yang terjadi
203)
- di catat hasil pada tabel 5
204)
205) Hasil
206)
207)

208)

209)

210)

211)

212)

213)
2. Pembuktian Adanya Amilase
214)
Benedict
215)

216)- dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi.


- di beri label A dan B
217)

218)

Tabung Berisi
219)
Reagen Benedict
220)

221)
Larutan Sampel Larutan Sampel

222)
- di beri label C pada tabung reaksi - di beri label D pada tabung
223) reaksi
- dimasukkan 2 mL larutan sampel
224)yang terindikasi adanya karbohidrat - dimasukkan 2 mL larutan
sampel yang terindikasi adanya
225)- dimasukkan 1 mL ekstrak usus karbohidrat
226)- di kocok tabung tersebut selama 5- - dimasukkan 1 mL akuades
10 menit
227) - di kocok tabung tersebut selama
- diteteskan ke dalam tabung A 5-10 menit
228)sebanyak 5 tetes
- diteteskan ke dalam tabung B
229)
sebanyak 5 tetes
230)
- dipanaskan selama 5
231)
menit
232)
- diamati perubahannya
233) dan dicatat

234)
Hasil
235)

236)

237)

238)
3. Pembuktian Adanya Maltase
239)
Benedict
240)

241)- dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi.


- di beri label A dan B
242)

243)

Tabung Berisi
244)
Reagen Benedict
245)

246)
Larutan Sampel Larutan Sampel
247)
- di beri label C pada tabung reaksi - di beri label D pada tabung
248) reaksi
- dimasukkan 2 mL larutan sampel
249)yang terindikasi adanya karbohidrat - dimasukkan 2 mL larutan
sampel yang terindikasi adanya
250)- dimasukkan 1 mL ekstrak usus karbohidrat
251)- di kocok tabung tersebut selama 5- -dimasukkan 1 mL akuades
10 menit
252) - di kocok tabung tersebut selama
- diteteskan ke dalam tabung A 5-10 menit
253)sebanyak 5 tetes
- diteteskan ke dalam tabung B
254)
sebanyak 5 tetes
255)
- dipanaskan selama 5
256) menit

257) - diamati perubahannya


dan dicatat
258)

259) Hasil

260)

261)

262)

263)
264)

4. Identifikasi Pati (Oligosakarida)


265)
Larutan
266)
Sampel
267)
- dimasukkan ke 6 tabung reaksi
268)
- di beri label pada setiap tabung reaksi mulai tabel 1 s.d. 6.
269)
- diteteskan 2 sampai 3 IKI ke masing-masing tabung reaksi.
270)
- di kocok tabung reaksi perlahan.
271)
- di catat hasilnya
272)
273)
274)
275)
Hasil
276)
277)
278)

279)
280)
281)
282)
283)
284)
285)
286)
287)
288)
289)
290)
291)
292)
293)
294) BAB IV

295) DATA DAN ANALISIS


296)
A. DATA
297) Berdasarkan pengamatan yang telah
dilakukan, diperoleh data sebagai berikut :
298) Tabel 4.1. Hasil pengamatan pengaruh empedu terhadap lemak

299) 301) Hasil Pengamatan

304) 305) Sesu


300)
Se dah
La
diberi
Minyak

306) 307) 308) Sebelum dikocok:


Sa E Terdapat 3 lapisan
yaitu:
310) Lapisan
309)
atas : berisi air
Be 311) Lapisan
tengah berisi minyak
312) Lapisan
bawah berisi cairan
empedu

Setelah dikocok
313) Terbentuk 2
lapisan :

314) Lapisan
atas : larutan busa yang
berwarna hijau keruh

315) Lapisan
bawah: Larutan
empedu berwarna hijau
pekat

316) 317) 318) Sebelum dikocok


Sa Aq 320) Lapisan
atas: Minyak berwarna
kuning kental
319)
Ti 321) Lapisan
bawah : air berwarna
jernih

Setelah dikocok
322) Lapisan
atas: berwarna putih
keruh.

323) Lapisan
bawah: larutan tidak
berwarna atau jernih

324)

325) Tabel 4.2. Hasil pengamatan identifikasi karbohidrat


328) Warna 329)
326) Larutan Ke
Tab 327)
333) 334)
La
S S
330)
(A

337) 338) 339) 340)


336)
A B B Tid
A

341) 342) 343) 344) 345)


Su B O Ad
347) 348) 349) 350)
346)
Gl B O Ad

352) 353) 354) 355)


351)
Fr B O Ad
D

359)
T

357) 358) 360) 362)


356)
Ke B l Ad

361)
l

364) 365) 366) 367)


363)
Na B O Ad

369) 370) 371) 372)


368)
Al H K Ad
G

374) 375) 376) 377)


373)
Mi B O Ad
H

378)
379) Tabel 4.3. Pembuktian adanya amilase
383) Dit
380) 382) Dikoc 384) Setelah
381) Larutan Sampel ambah
No ok dipanaskan
benedict
387)
389) War 391) Warna :
392) Hijau
W na :
393) Terdapat
390) Bir
lapisan :
u
394) Bening agak
385) 386) Kentang + 388) Kuni
kuning di
1 Ekstrak usus ng keruh
permukaan
395) Terdapat
endapan :
396) Berwarna
kuning (-)

399) Warn 401)


War 403) Warna :
404) Hijau
a: na :
397) 398) Kentang + 405) Terdapat
400) Kuni 402) Bir
2 Aquades lapisan :
ng (-) u
406) Biru bening
keruh 407)

408) Keterangan : (-) = muda


409)

410)

411) Tabel 4.4. Hasil Pembuktian adanya maltase


412) Ta 413) La 414) W
bung rutan arna
I Larut
an

415) A 416) Be 417) Bir


nedict u

418) B 419) Be 420) Bir


nedict u

421) C 422) Na 423) Put


si ih

424) D 425) Na 426) Put


si ih
427)
428) Tabel 4.4.1. Hasil Pembuktian adanya maltase
429) Ta 430) La 431) W
bung rutan arna
II Larut
an

432) Sa 433) Ta 434) Put


mpel bung ih
C C+
Ekstra
ks
Usus

435) Sa 436) Ta 437) Put


mpel bung ih
D D+
Aquad
es

438)
439)
440)
441)
442) Tabel 4.4.2. Hasil Pembuktian adanya maltase
443) Ta 444) La 445) W
bung rutan arna
Total Larut
an

446) Sa 447) Ta 448) Hij


mpel bung A au Tua
C +
Laruta
n II C
449) Sa 450) Ta 451) Bir
mpel bung A u
D +
Laruta
n II D

452)
453) Tabel 4.5. Hasil pengamatan identifikasi pati
457) Keber
454) T 456) Warna adaan Pati
455) Larutan
abung Hasil Reaksi 458) (Ada
atau Tidak)

459) 1 460) 1,5 mL pati yang 461) Biru


462) Ada
dipanaskan kehitaman

463) 2 464) 1,5 mL aquades 465) Merah


466) Tidak
kecoklatan

467) 3 468) Sampel 1: larutan 469) Biru


470) Ada
nasi kehitaman

471) 4 472) Sampel 2:


473) Biru
larutan tepung 474) Ada
kehitaman
maizena

475) 5 476) Sampel 3:


477) Coklat
larutan 478) Tidak
tua
kentang

479) 6 480) Sampel 4:


larutan kacang 481) Coklat 482) Tidak
merah

483)

484)

485) Tabel 4.6. Hasil pengamatan identifikasi protein


489) Keber
486) T 488) Warna
487) Larutan adaan Protein
abung Hasil Reaksi
ada/tidak ada
490) 1 491) 1,5 ml larutan 492) Ungu (+) 493) Ada
albumin
494) 2 495) 1,5 ml Aquades 496) Biru (+) 497) Tidak
ada
498) 3 499) Sampel 1 kacang 500) Ungu(+) 501) Ada
tanah
502) 4 503) Sampel 2 tahu 504) Ungu(+) 505) Ada
putih
506) 5 507) Sampel 3 menjes 508) Coklat 509) Tidak
ada
510) 6 511) Sampel 4 kacang 512) Ungu (+) 513) Ada
kedelai
514)
515) Tabel 4.7. Pembuktian adanya tripsin

517) Dipanaskan 518) Ditam 522) Ditambah biuret


516) L 521) Dita
bah
arutan 524) Seb 525) Ses 519) ekstra mbah 528) Tabun 529) Tabu
sampel elum udah k usus aquades (B) gA ng B
520) (A)

530) K 531) War 535) War 539) Warna 544) Warn 549) Ter 552) Ter
edelai na : na : : a: dapat 3 dapat 3
532) Puti 536) Puti 540) Putih 545) Putih
lapisan : lapisan :
h keruh h keruh kekuningan keruh
533) Vol 537) Vol 541) 546) Ter a.Lapisan I a. Lapisan I
ume : ume : Terdapat 2 dapat 2 coklat hijau
534) 1 538) 1
lapisan : lapisan : kehitaman kekuningan
mL mL
b.Lapisan II b.Lapisan II
a. Lapisan atas a.Lapisan atas
550) Putih 553) Cokla
kuning (-) putih keruh
kekuningan t kehitaman
keruh (+)
b. Endapan b.Endapan c.Endapan c.Endapan
kedelai kedelai kedelai kedelai
berwarna berwarna berwarna berwarna
putih keruh putih keruh putih putih keruh
(++) (++) kekuningan (++)
542) 547)keruh (++) 554)
V V
551)

543) 2 mL 548) 2 mL

555) Keterangan :

556) (++) = lebih

557) (+) = sedikit

558) (-) = muda


559)

B. ANALISIS
1. Pengaruh empedu terhadap lemak
560) Pada uji identifikasi empedu terhadap lemak menggunakan
dua pembanding. Tabung pertama ditambahkan dengan cairan empedu
dan tabung yang satunya dengan tidak ditambahkan cairan empedu.
Sebelumnya empedu ditambahkan dengan aquades sampai volumenya
2ml sedangkan tabung yang lain diisi dengan aquades dengan volume
yang sama. Kemudian ditambahkan minyak pada masing-masing tabung
dengan volume yang dikontrol. Sebelum dikocok dan didiamkan selama
10 menit, cairan didalam tabung reaksi yang dikontrol tersusun atas dua
lapisan dimana lapisan atas yang berwarna kuning yaitu minyak dan
lapisan bawah tidak berwarna atau jernih yaitu air. Setelah dikocok dan
didiamkan selama 10 menit, air dan minyak tetap tidak dapat tercampur.
Cairan tetap tersusun atas dua lapisan dengan keadaan sama sebelum
dilakukannya pengocokan. Akan tetapi, lapisan minyak yang berada di
atas membentuk beberapa gumpalan yang cukup besar berwarna putih
keruh dan lapisan bawah tidak berwarna atau jernih. Sedangkan pada
tabung reaksi yang ditambahkan cairan empedu, sebelum dikocok dan
didiamkan selama 10 menit, cairan didalam tabung reaksi yang dikontrol
tersusun atas tiga lapisan yaitu lapisan air, minyak, dan cairan empedu.
Setelah dikocok dan didiamkan selama 10 menit, hanya terdapat dua
lapisan cairan di dalam tabung reaksi. Lapisan busa yang berwarna hijau
keruh yang terletak paling atas, dan lapisan bawah berupa cairan berwarna
hijau pekat.
561)
2. Identifikasi karbohidrat
562) Pada percobaan dengan melakukan uji dalam praktikum
identifikasi karbohidrat ini dilakukan beberapa uji yaitu mengenai
identifikasi umum adanya karbohidrat pada suatu bahan. Dimana, bahan
yang digunakan dalam hal ini adalah aquades, glukosa, fruktosa, sukrosa,
kentang, nanas, alpukat, mie. Dalam identifikasi karbohidrat uji yang
digunakan adalah uji benedict dengan karbohidrat. Dari 8 bahan tersebut
dijadikan menjadi larutan sampel. Sampel padat dipotong menjadi bagian
kecil-kecil dan dihaluskan setelah itu dilarutkan dengan aquades 1,5 ml.
Larutan sampel tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
diteteskan larutan benedict sebanyak 1,5 ml ke dalam masing-masing
tabung reaksi. Setelah itu dikocok secara perlahan sehingga larutan
sampel tercampur dan meletakkan setiap tabung reaksi ke dalam gelas
beker yang berisi air mendidih selama 5 menit. Pada tabung A
menggunakan larutan aquades yang ditetesi menggunakan benedict
sebanyak 1,5 ml dan dikocok sebelum dipanaskan larutan berwarna biru
setelah dipanaskan larutan tetap tidak mengalami perubahan. Pada tabung
B menggunakan larutan sampel sukrosa kemudian ditetesi dengan
benedict dengan volume1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan warna larutan biru bening setelah dipanaskan larutan berubah
warna menjadi merah bata (+++) dan terdapat endapan. Pada tabung C
menggunakan larutan sampel glukosa kemudian ditetesi dengan benedict
dengan volume1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum dipanaskan
warna larutan biru bening setelah dipanaskan larutan berubah warna
menjadi merah bata (++) warna ini lebih terang daripada larutan sukrosa
dan juga terdapat endapan. Pada tabung D menggunakan larutan sampel
fruktosa kemudian ditetesi dengan benedict dengan volume 1,5 ml dan
dikocok hingga tercampur sebelum dipanaskan warna larutan biru bening
setelah dipanaskan larutan berubah warna menjadi merah bata (+) warna
tersebut lebih terang daripada larutan glukosa dan terdapat endapan pula.
Pada tabung E menggunakan larutan sampel kentang kemudian ditetesi
dengan benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur
sebelum dipanaskan warna larutan biru keruh setelah dipanaskan terdapat
2 lapisan yaitu lapisan atas berwarna merah bata (+) lebih terang dari
larutan sukrosa dan glukosa dan lapisan bawah berwarna hijau. Pada
tabung F menggunakan larutan sampel nanas kemudian ditetesi dengan
benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan larutan berwarna biru kehijauan setelah dipanaskan larutan
berubah warna menjadi merah bata (++) perubahan warna pada larutan ini
sama dengan larutan glukosa. Pada tabung G menggunakan larutan
sampel alpukat kemudian ditetesi dengan benedict dengan volume 1,5 ml
dan dikocok hingga tercampur sebelum dipanaskan warna larutan hijau
keruh setelah dipanaskan larutan berubah warna menjadi kuning dan
terdapat endapan merah bata pada bagian bawah. Pada tabung H
menggunakan laturan sampel mie kemudian ditetesi dengan benedict
dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum dipanaskan
warna larutan biru keruh setelah dipanaskan larutan berubah warna
menjadi merah bata yang cenderung kecoklatan dan terdapat endapan.
563)
3. Pembuktian adanya amilase
564) Berdasarkan data pada tabel 4.3 dapat dianalisis bahwa
pada percobaan pembuktian adanya amilase pada larutan sampel yaitu
larutan kentang, pada perlakuan 1, kentang ditambahkan dengan 1 mL
ekstrak usus setelah dikocok berwarna kuning keruh, setelah ditambah 2
mL reagen benedict kedalam tabung larutan berubah menjadi berwarna
biru, setelah dipanaskan larutan berubah warna menjadi hijau dan terdapat
lapisan bening agak kekuningan pada bagian permukaanya serta terdapat
endapat berwarna kuning muda. Perlakuan 2 yaitu larutan kentang setelah
ditambahkan dengan 1 mL aquades setelah dikocok berwarna kuning
muda keruh, setelah ditambahkan larutan 2 mL reagen benedict kedalam
tabung, larutan berubah warna menjadi biru, setelah dipanaskan larutan
berubah warna menjadi hijau dan terdapat lapisan biru bening.
565)
4. Pembuktian adanya maltase
566) Pada tabel 4.4 terdapat empat tabung yaitu tabung A,
tabung B, tabung C, tabung D. Tabung A dan tabung B berisi larutan I
yaitu larutan Benedict yang berwarna biru, sedangkan pada tabung C dan
tabung D berisi larutan I yaitu larutan Nasi yang berwarna putih. Pada
tabel kedua (4.4.1) terdapat dua tabung yaitu sampel C dan sampel D.
Sampel C yaitu terdapat larutan II yang berisi larutan tabung C
ditambahkan dengan ekstrak usus yang berwana putih kekuningan,
sedangkan sampel D yaitu terdapat larutan II yang berisi larutan tabung D
ditambahkan dengan aquades yang berwana putih. Pada tabel ketiga
(4.4.2) terdapat dua tabung yaitu sampel C dan sampel D. Sampel C yaitu
terdapat larutan total yang berisi larutan tabung A ditambahkan dengan
larutan II C yang berwana hijau tua, sedangkan sampel D yaitu terdapat
larutan total yang berisi larutan tabung A ditambahkan dengan larutan II D
yang berwana Biru.
567)
5. Identifikasi pati
568) Berdasarkan data pada tabel 4.5 dapat
dianalisis bahwa untuk identifikasi pati menggunakan
enam tabung dengan sampel masing-masing tabung
berbeda dan dengan sampel tersebut ditambahkan
dengan IKI, tabung pertama dengan larutan yang dipakai
adalah sebanyak 1,5 mL pati yang dipanaskan dan
ditambahkan dengan IKI, warna hasil reaksi yang
dihasilkan yaitu biru kehitaman, yang menandakan adanya
keberadaan pati. Pada tabung kedua diisi dengan larutan
1,5 mL aquades yang ditambahkan dengan IKI warna hasil
reaksinya yaitu merah kecoklatan, menandakan tidak ada
keberadaan pati didalamnya. Tabung ketiga dengan
menggunakan sampel berupa larutan nasi ditamhkan
dengan IKI warna hasil reaksi yang dihasilkan berwarna
biru kehitaman, menandakan ada keberadaan pati
didalamnya. Tabung keempat dengan larutan sampel yang
kedua menggunakan larutan tepung maizena ditambahkan
dengan IKI, perubahan warna hasil reaksi berwarna biru
kehitaman, hasil tersebut menandakan keberadaan pati
didalamnya. Pada tabung kelima, sampel yang digunakan
adalah larutan kentang yang ditambahkan dengan IKI
menghasilkan warna hasil reaksi berwarna coklat tua,
warna tersebut mengindikasikan tidak adanya pati
didalamnya. Tabung keenam, dengan sampel yang
digunakan berupa larutan kacang merah yang
ditambahkan dengan IKI, warna reaksi yang dihasilkan
berwarna coklat, manandakan kberadaan pati didalamnya.
569)
6. Identifikasi protein
570) Bedasarkan data tabel 4.6 di atas dapat di analisis sebagai
berikut pada tabung 1 terisi larutan 1,5 ml larutan albumin setelah diberi
larutan biuret bewarna ungu (+) dan terdapat adanya protein, pada tabung
2 terisi larutan 1,5 ml larutan aquades setelah diberi larutan biuret
bewarna biru atau tetap dann tidak terdapat adanya protein, pada tabung
3 dengan sampel 1 terisi larutan 2 ml larutan kacang tanah setelah diberi
larutan biuret bewarna ungu (+) dan terdapat adanya protein, pada tabung
4 dengan sampel 2 terisi larutan 2 ml larutan tahu putih setelah diberi
larutan biuret bewarna ungu (+) dan terdapat adanya protein, pada tabung
5 dengan sampel 3 terisi larutan 2 ml larutan menjes setelah diberi
larutan biuret bewarna coklat dan tidak terdapat adanya protein, pada
tabung terakhir dengan sampel 4 terisi larutan 2 ml larutan kacang
kedelai setelah diberi larutan biuret bewarna ungu (+) dan terdapat
adanya protein.
571)
7. Pembuktian adanya tripsin
572) Berdasarkan tabel 4.7 yaitu percobaan pembuktian adanya
tripsin dengan larutan sampel yaitu larutan kedelai. Sebelum dan sesudah
dipanaskan larutan kedelai tidak mengalami perubahan warna yaitu tetap
berwarna putih keruh. Larutan sampel pada tabung A ditambahkan ekstrak
usus sebanyak 1 mL sehingga larutan berubah warna menjadi putih
kekuningan dan terdapat dua lapisan yaitu lapisan atas berwarna kuning
muda keruh dan lapisan kedua berupa endapan kedelai berwarna putih
lebih keruh. Larutan sampel pada tabung B ditambahkan 1 mL aquades,
warna larutan tidak mengalami perubahan namun terdapat dua lapisan
yaitu lapisan atas berwarna putih sedikit keruh dan endapan kedelai
berwarna putih lebih keruh. Setelah penambahan biuret sebanyak 5 tetes
pada masing-masing tabung, pada tabung A terdapat tiga lapisan yaitu
lapisan pertama berwarna coklat kehitaman kemudian lapisan kedua
berwarna putih kekuningan dan ketiga berupa endapan kedelai berwarna
putih kekuningan sangat keruh. Pada tabung B terdapat tiga lapisan yaitu
lapisan pertama berwarna hijau kekuningan, lapisan kedua berwarna
coklat kehitaman dan lapisan bawah berupa endapan kedelai berwarna
putih sangat keruh.
573)
C. PEMBAHASAN
1. Pengaruh empedu terhadap lemak
574)
575)

576)

577) Gambar Cairan Empedu Dan Larutan Aquades

578) Pada percobaan yang telah dilakukan untuk pengaruh


empedu terhadap lemak, kedua tabung reaksi sama-sama diisi dengan 2
ml minyak goreng. Perbedaannya yaitu, tabung reaksi yang pertama
ditambahkan dengan cairan empedu ikan, sedangkan tabung reaksi yang
kedua ditambahkan dengan aquades. Kemudian, kedua tabung sama-
sama dikocok dan diamati perubahan yang terjadi. Setelah diamati,
keadaan cairan pada tabung reaksi yang pertama setelah dikocok dan
didiamkan 10 menit, tabung reaksi yang awalnya terdapat 3 lapisan
berubah menjadi 2 lapisan cairan. yaitu lapisan atas berupa busa yang
berwarna hijau keruh dan lapisan bawah yang berwarna hijau pekat. Hal
ini dapat terjadi karena empedu berfungsi untuk mengemulsi globulus
lemak besar dalam usus halus yang kemudian menghasilkan globulus
lemak lebih kecil dan area permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim.
Cairan empedu berwarna hijau yang menunjukkan bahwa cairan tersebut
mengandung pigmen biliverdin. Secara teori fungsi empedu antara lain
sebagai emulgator dalam proses pencernaan lemak dalam usus; dapat
mengaktifkan lipase dalam cairan pancreas; membantu mengadsorbsi
asam-asam lemak, kolesterol, vitamin D dan K serta karoten; sebagai
perangsang aliran cairan empedu dari hati; dan menjaga agar kolesterol
tetap larut dalam cairan empedu sebab bila perbandingan asam empedu
dengan kolesterol rendah, akan menyebabkan terjadinya beberapa
endapan kolesterol (Anna Poedjiadi, 1994; 244). Berdasarkan percobaan
tidak terjadi endapan hal ini disebabkan karena kolesterol (minyak) tidak
larut dengan cairan empedu. Hal ini terjdi karena perbandingan asam
empedu dengan kolesterol tinggi. Selain itu, kurangnya teliti praktikan
dalam menentukan lamanya waktu. Sedangkan pada tabung reaksi kedua
keadaan cairan pada tabung reaksi yang kedua baik sebelum maupun
setelah dikocok dan didiamkan selama 10 menit tetap sama yaitu
tersusun atas dua lapisan dimana lapisan atas yang berwarna putih keruh
(minyak) dan lapisan bawah tidak berwarna atau jernih (air). Selain itu,
terdapat gumpalan-gumpalan minyak yang cukup besar pada lapisan atas
setelah dikocok. Minyak dan air yang tidak bercampur disebabkan oleh
perbedaan besar massa jenis kedua cairan. Air memiliki massa jenis yang
lebih besar dari minyak sehingga lapisan air terletak di bagian bawah dan
minyak di bagian atas. Minyak goreng tidak larut dalam air karena tidak
dibungkus oleh emulator yang membentuk kilomikron yang dapat
melarutkan lemak dalam air. Emulsifikasi merupakan proses pelapisan
lemak untuk memperkecil ukuran lemak sehingga memiliki luas
permukaan yang lebih besar. Dengan luas permukaan yang lebih besar ini
enzim lipase akan lebih mudah menghidrolisis lemak yang kemudian
diemulsikan menjadi tetesan-tetesan halus sehingga lebih mudah untuk
diserap usus. Hal tersebut juga ditunjukkan dengan adanya busa pada
tabung reaksi pertama dan lapisan minyak yang memiliki gumpalan lebih
kecil daripada gumpalan minyak yang terdapat pada cairan di tabung
reaksi yang kedua.
579)
2. Identifikasi karbohidrat
580) Pada percobaan uji identifikasi karbohidrat. Karbohidrat
dikelompokkan menjadi empat kelompok penting yaitu monosa-karida,
disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida merupakan
karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis dan tidak kehilangan sifat
gulanya. Contoh dari monosakarida adalah ribosa, arabinosa, fruktosa,
glukosa, dan lainnya. Golongan monosakarida ini biasanya
dikelompokkan dalam triosa, tetrafosfat, pentosaheksosa, dan heptosa.
Disakarida merupakan karbohidrat yang bila dihidrolisis menghasilkan
dua monosakarida yang sama atau berbeda. Contohnya adalah sukrosa
yang jika dihidrolisis akan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
Oligosakarida merupakan karbohidrat yang bila dihidrolisis
menghasilkan tiga hingga sepuluh monosakarida. Contohnya adalah
raffinosa yang dihidrolisis menghasilkan glukosa, fruktosa, dan
galaktosa. Kelompok karbohidrat yang terakhir adalah polisakarida yang
merupakan polimer monosakarida yang memiliki bobot molekul yang
tinggi. Bila dihidrolisis akan menghasilkan lebih dari sepuluh
monosakarida. Contohnya adalah amilum, dekstrin, glikogen, selulosa
dan lainnya. Pada percobaan dari 8 sampel dilakukan pengujian
karbohidrat dengan uji kualitatif yaitu menggunakan uji benedict. Uji
Benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi adalah gula yang mengalami
reaksi hidrolisis dan bisa diurai menjadi sedikitnya dua buah
monosakarida. Gula pereduksi bereaksi dengan pereaksi maka akan
menghasilkan endapan berwarna merah bata (Cu2O). Gula pereduksi
didasarkan pada prinsip reduksi Cu2+ menjadi Cu+ yang mengendap
sebagai Cu2O berwarna merah bata. Pada percobaan pertama dengan
tabung A menggunakan larutan aquades yang ditetesi menggunakan
benedict sebanyak 1,5 ml dan dikocok sebelum dipanaskan larutan
berwarna biru setelah dipanaskan larutan tetap tidak mengalami
perubahan. Hal ini disebabkan larutan aquades tidak menggandung
glukosa. Pada percobaan kedua dengan tabung B menggunakan larutan
sukrosa kemudian ditetesi dengan benedict dengan volume1,5 ml dan
dikocok hingga tercampur sebelum dipanaskan warna larutan biru bening
setelah dipanaskan larutan berubah warna menjadi merah bata (+++) dan
terdapat endapan. Dari hasil pengamatan sukrosa bereaksi positif
terhadap uji Benedict. Glukosa bereaksi positif disebabkan karena
glukosa mampu mereduksi senyawa pengoksidasi, dimana yang
pereduksinya adalah ujung yang mengandung aldehida. Hal ini sesuai
dengan literature Anam, dkk (2013) bahwa gula reduksi adalah
monosakarida (glukosa,fruktosa,dan galaktosa), glukosa dapat mereduksi
ion Cu2+ dan mengendap sebagai Cu2O yang berwarna merah bata. Pada
percobaan ketiga dengan tabung C menggunakan larutan glukosa
kemudian ditetesi dengan benedict dengan volume1,5 ml dan dikocok
hingga tercampur sebelum dipanaskan warna larutan biru bening setelah
dipanaskan larutan berubah warna menjadi merah bata (++) dan terdapat
endapan. Glukosa bereaksi positif disebabkan karena glukosa mampu
mereduksi senywa pengoksidasi, dimana yang pereduksinya adalah ujung
yang mengndung aldehida. Hal ini sesuai dengan literature Anam, dkk
(2013) bahwa gula reduksi adalah monosakarida (glukosa,fruktosa,dan
galaktosa), glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dan mengendap sebagai
Cu2O yang berwarna merah bata. Pada percobaan keempat dengan
tabung D menggunakan larutan fruktosa kemudian ditetesi dengan
benedict dengan volume1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan warna larutan biru bening setelah dipanaskan larutan berubah
warna menjadi merah bata (+) dan terdapat endapan. Meskipun fruktosa
bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi
keton maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan maltosa dalam
suasana basa memberikan hasil positif (+) dengan pereaksi benedict.
Oleh karena itu, fruktosa menghasilkan warna merah bata yang lebih
terang daripada sukrosa dan fruktosa karena bukan gula pereduksi. Pada
percobaan kelima dengan tabung E menggunakan larutan sampel kentang
kemudian ditetesi dengan benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok
hingga tercampur sebelum dipanaskan warna larutan biru keruh setelah
dipanaskan terdapat 2 lapisan yaitu lapisan atas berwarna merah bata (+)
lebih terang dari larutan sukrosa dan glukosa dan lapisan bawah
berwarna hijau. Menurut teori selama proses proses pemanasan larutan
akan berubah menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning,
orange, merah dan merah bata/coklat (kandungan glukosa
tinggi ) (Winarno,1994). Pada percobaan ini menunjukkan bahwa
kentang mengandung glukosa tinggi akan tetapi warna lapisan atas lebih
terang dari sukrosa dan glukosa. Hal ini disebabkan karena kesalahan
praktikan pada saat perlakuan yaitu pada saat mengocok larutan sampel
dengan benedict belum tercampur secara merata. Pada percobaan keenam
dengan tabung F menggunakan larutan sampel nanas kemudian ditetesi
dengan benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur
sebelum dipanaskan larutan berwarna biru kehijauan setelah dipanaskan
larutan berubah warna menjadi merah bata (++). Pada nanas kandungan
karbohidrat lebih banyak daripada kentang dengan ditunjukkan warna
merah bata keruh yang mana warna dan endapannya lebih mendekati
dengan larutan glukosa. Pada percobaan ketuju dengan tabung G
menggunakan lartutan sampel alpukat kemudian ditetesi dengan benedict
dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan warna larutan hijau keruh setelah dipanaskan larutan berubah
warna menjadi kuning dan terdapat endapan merah bata pada bagian
bawah. Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa selama proses
pemanasan larutan akan berubah menjadi biru (tanpa adanya glukosa),
hijau, kuning, orange, merah dan merah bata/coklat (kandungan glukosa
tinggi) (Winarno,1994). Pada percobaan telah sesuai dengan teori karena
warna menjadi kuning karena mengandung glukosa dan sebagai hasil
reaksi dari glukosa yang dapat mereduksi ion Cu2+ dan mengendap
sebagai Cu2O yang berwarna merah bata. Percobaan kedelapan dengan
tabung H menggunakan laturan sampel mie kemudian ditetesi dengan
benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan warna larutan biru keruh setelah dipanaskan larutan berubah
warna menjadi merah bata yang cenderung kecoklatan dan terdapat
endapan. Pada mie mengandung glukosa, karbohidrat, dan protein.
581)

3. Pembuktian adanya amilase


582) Uji pembuktian adanya enzim amilase pada sampel pertama
yaitu, menunjukkan hasil bahwa tabung A (Larutan kentang, ekstrak usus
dan Benedict) berwarna hijau sedangkan tabung B (Larutan kentang,
aquades dan Benedict) berwarna hijau. Pada praktikum ini tidak terdapat
endapan yang berwarna merah bata, namun terdapat perubahan warna
larutan pada tabung A dari biru menjadi hijau agak kekuningan serta
terbentuk endapan berwarna kuning muda. Pada tabung B, terjadi
perubahan warna dari biru menjadi hijau dan terdapat lapisan bening
berwarna kebiruan pada bagian permukaan.
583) Pada uji karbohidrat dengan menggunakan reagen benedict,
reaksi positif dapat ditunjukkan dengan adanya endapan merah bata.
Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kupri sulfat menjadi ion Cu+ yang
dapat bereaksi dengan gula (pereduksi) akan menjadi Cu2O yang ditandai
dengan terbentuknya endapan merah bata.
584) Perubahan warna yang terjadi menunjukkan adanya reaksi
yang berlangsung antara kentang sebagai sumber amilum, ekstrak usus
dan Benedict. Warna yang terbentuk merupakan hasil dari pelepasan ion
Cu2+ oleh katalis. Amilum dalam larutan bereaksi dengan enzim yang
terdapat dalam ekstrak usus. Amilum dipecah oleh enzim menjadi
senyawa yang lebih sederhana. Hasil dari reaksi pemecahan tersebut
bereaksi dengan reagen Benedict, sehingga dalam percobaan ini
menghasilkan perubahan warna pada larutan di tabung A. Berikut adalah
reaksi antara Benedict dan amilum :
585) Amilum + amilase Disakarida + maltosa
586) R- CH (maltosa) + 2CuO R- COOH + Cu 2O tidak
terbentuk endapan merah bata.
587) Tidak terbentuknya endapan pada tabung B, dapat terjadi
karena konsentrasi enzim yang kurang mencukupi untuk mengkatalis
amilum sebagai substrat sehingga tidak dihasilkan produk atau prodek
yang dihasilkan sangat sedikit. Penyebab lain dapat disebabkan oleh
kurang sesuainya proses penyimpanan ekstrak usus, kurang halus dalam
menumbuk sampel maupun proses pemanasan sampel yang terlalu lama
sehingga kandungan amilum berkurang. Selain itu, penggunaan sampel
yang kurang sesuai dengan hasil dari uji karbohidrat paling positif
(mengalami perubahan warna menjadi merah bata) yang seharusnya
digunakan untuk uji amilase.
588)
4. Pembuktian adanya maltase
589) Enzim Maltase adalah enzim saluran pencernaan yang
berfungsi untuk mengubah maltosa menjadi glukosa + glukosa. Proses ini
dibutuhkan karena glukosa lebih mudah direaksikan secara kimia oleh
tubuh untuk menjadi sumber energi. Enzim Maltase merupakan salah
satu enzim pada getah pankreas yang disekresikan ke dalam usus halus
saat proses pencernaan. Jadi, enzim maltase ini melanjutkan fungsi enzim
karbohidrase yang telah dijalankan di pankreas. Enzim sukrose berfungsi
untuk mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. (Saktiono,
1989).
590) Maltosa adalah disakarida yang terbentuk dari dua molekul
glukosa. Ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom
karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus OH
glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi.
Maltosa merupakan hasil antara dalam proses hidrolisis amilum (tepung
kanji matang encer) dengan asam maupun dengan enzim. Telah diketahui
bahwa hidrolisis amilum (tepung kanji matang encer) akan memberikan
hasil akhir glukosa + glukosa. Dalam tubuh, amilum mengalami
hidrolisis menjadi maltosa oleh enzim amilase. Maltosa ini kemudian
diuraikan oleh enzim maltase menjadi glukosa yang digunakan oleh
tubuh.
591) Pada sampel C yang dicampur dengan ekstrak usus dan
reagen benedict terjadi perubahan warna yaitu hijua tua. Pada sampel C
yang dicampur dengan ekstrak usus dan ditambahkan dengan reagen
benedict terjadi perubahan warna yaitu hijua tua, berarti larutan tersebut
mengandung karbohidrat karena pada larutan tersebut ada enzim maltase
yang dapat merubah maltosa menjadi glukosa. ada terdapat endapan
Cu2O berwarna hijau tua pada bagian bawah. Perubahan ini terjadi
karena pada usus ikan mengandung enzim maltase yang mengubah
maltosa (gula disakarida) menjadi gula monosakarida (glukosa). Ikatan
iakatan pada maltosa dipecah oleh enzim yang terdapat pada usus ikan
mas yang berarti terjadi reaksi kimia sehingga akan terjadi perubahan
warna.
592) Pada sampel D yaitu aquades yang dicampur dengan
ditambahkan dengan reagen benedict dari sebelum perlakuan berwarna
biru dan setelah dipanaskan 5 menit warna yang diperoleh tetap. Pada
sampel D yang dicampur dengan aquades dan ditambahkan dengan
reagen benedict tidak terjadi perubahan warna berarti aquades tidak
mengandung karbohidrat karena pada larutan tersebut tidak ada enzim
maltase yang dapat merubah maltase menjadi glukosa.
593)
5. Identifikasi pati
594) Berdasarkan pada percobaan pati atau amilum
merupakan polisakarida yang ditemukan dalam butiran
padi-padian dan umbi umbian serta buah buahan seperti
pisang. Pati adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut
dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau.
Pada uji identifikasi pati pada makanan sampel yang telah
digunakan diatas yang tebukti adanya kandungan pati
didalamnya yaitu sampel larutan nasi, larutan tepung
maizena, dan pati yang dipanaskan. Sampel tersebut
menunujukkan adanya perubahan warna menjadi biru
kehitaman. Hasil tersebut sesuai dengan teori bahwa
polisakarida dengan penambahan iodium akan
membentuk kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik.
Amilum atau pati yang dengan iodium menghasilkan
warna biru. Sampel amilum yang diujikan menghasilkan
warna iodium yaitu biru tua. Amilum, jika bahan makanan
ditetesi dengan larutan iodium akan berwarna ungu, biru
tua, hijau gelap, dan hitam maka bahan makanan
tersebut mengandung amilum. Semakin gelap warna yang
di hasilkan maka semakin banyak kandungan amilum
yang terdapat pada bahan makanan tersebut. Pati dan
iodium membentuk ikatan kompleks berwarna biru. Pati
dalam suasana asam bila dipanaskan dapat terhidrolisis
menjadi senyawa yang lebih sederhana, hasilnya diuji
dengan iodium yang akan memberikan warna biru. Hasil
warna biru kehitaman tersebut didapatkan dikarenakan
pada pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk
rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi tiap
unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat
membentuk kompleks dengan molekul iodium yang
masuk kedalam spiralnya, sehingga menghasilkan warna
biru.
595) Berdasarkan pada percobaan untuk larutan
kentang dan kacang merah dihasilkan warna coklat yang
mengindikasikan warna tersebut tidak mengandung
amilum. Pada larutan kentang seharusnya mengandung
amilum, tetapi tidak sampai banyak seperti nasi dan
tepung maizena atau pati jagung. Hasil tersebut tidak
sesuai dengan teori untuk larutan kentang yang tidak
mengandung pati, pada teori yang tercantum pada tabel
kandungan pati kentang lebih banyak yaitu 17,332%
dibandingkan dengan kandungan pati jagung yang
sebesar 11,830%. Hasil ketidak sesuaian tersebut
dikarenakan dalam membuat larutan kentang pada waktu
menumbuknya tidak sampai halus sehingga masih ada
endapan atau gumpalan kentang tersbut, hal tersebut
dapat mempengaruhi pencampuran IKI dengan larutan
kentang yang tidak bisa tercampur dengan baik. Sehingga
warna yang ditunjukkan juga kurang jelas. Pada larutan
kacang merah untuk kandungan amilumnya sedikit
sehingga meskipun kacang merah merupakan karbohidrat
namun untuk kandungan amilumnya tidak terlihat jika
ditetesi iodium, terlihat perubahan warnanya tidak biru
kehitaman melainkan masih coklat.
596)
6. Identifikasi protein
597) Pada pengamatan identifikasi protein, digunakan larutan
pembanding yaitu larutan albumin dan aquades sebagai larutan kontrol.
Adapun larutan sample yaitu larutan kacang tanah, tahu putih , menjes
dan kacang kedelai Pada larutan albumin, warna sebelum diberi
perlakuan adalah kuning cerah dan menjadi ungu (+). Pada aquades
sebelum diberi perlakuan berwarna bening menjadi berwarna biru cerah.
Pada kacang tanah, warna sebelum ada perlakuan adalah putih
kecoklatan dan berubah menjadi ungu( + ). Pada kacang kedelai dan
tempe menjes, warna sebelum putih kekuningan dan tempe menjes
bewarna kecoklatan dan sesudah adalah pada kacang kedelai bewarna
ungu (+) sedangkan pada tempe menjes warna setelah diberi larutan
biuret bewarna coklat,. Berdasarkan hasil perubahan warna, diketahui
bahwa larutan albumin, kacang tanah, tahu putih dan kacang kedelai
terindikasi adanya senyawa protein karena adanya perubahan warna
menjadi ungu. Adapun aquades tidak terindikasi, karena tidak adanya
perubahan warna atau tidak berubah menjadi warna ungu setelah diberi
perlakuan.
598)
7. Pembuktian adanya tripsin
599) Pada percobaan pembuktian adanya tripsin, digunakan
sampel larutan kedelai karena pada percobaan identifikasi protein,
kedelai yang juga sebagai salah satu larutan sampel termasuk
mengandung protein. Pada perlakuan 1, setelah larutan sampel
dipanaskan tetap berwarna putih keruh. Setelah dingin ditambah 1 mL
ekstrak usus sambil didiamkan 5 menit, terjadi perubahan warna menjadi
putih kekuningan dan terdapat dua lapisan yaitu lapisan atas berwarna
kuning muda keruh dan lapisan kedua berupa endapan kedelai berwarna
putih lebih keruh.
600) Fungsi proses pendinginan adalah untuk menurunkan suhu
penyususn utama yang terkandung dalam kedelai. Apabila dalam keadaan
suhu larutan sampel tinggi, kemudian ekstrak usus ditambahkan, maka
enzim pada ekstrak usus akan rusak dan tidak dapat bekerja.
601) Pada percobaan uji pembuktian adanya tripsin ini belum
dapat dibuktikan terdapat adanya enzim tripsin, karena pada percobaan
ini setelah proses penambahan ekstrak usus maupun aquades dan
penambahan biuret untuk masing-masing tabung tidak terdapat hasil
yang menunjukkan adanya perubahan warna larutan menjadi ungu.
Apabila larutan yang dihasilkan berwarna ungu dikarenakan pada ekstrak
usus ikan mas terdapat enzim tripsin yang mengubah protein yang ada
pada kedelai menjadi asam amino, sehingga terjadi reaksi kimia sehingga
akan tampak adanya perubahan warna. Berikut adalah reaksi yang dapat
terjadi :
602) Protein pepsin (pepton, polipeptida) tripsin
(polipeptida, asam amino)
603) Enzim tripsin adalah enzim yang dihasilkan oleh pankreas
yang dapat memecah polipeptida menjadi asam-asam amino
penyusunnya. Keberadaan enzim ini diindikasikan dengan pembentukan
warna ungu dari reagen biuret yang ditambahkan. Tidak berubahnya
larutan menjadi warna ungu dapat disebabkan oleh beberapa faktor
diantarannya yaitu penyimpanan ekstrak usus yang kurang sesuai,
pemilihan sampel yang kurang tepat karena seharusnya digunakan
sampel tahu karena pada percobaan identifikasi protein, larutan tahu
mengalami perubahan yang hasilnya sangat mendekati warna ungu,
maupun proses penumbukan sampel yang kurang halus.
604)
605)
606)
607)
D. Diskusi
608) 1. Larutan indikator apa yang digunakan untuk menguji
keberadaan senyawa-senyawa kimia berikut dan perubahan warna apa
yang mengindikasikan keberadaan senyawa-senyawa tersebut.
609) JAWABAN :

610) a) Pada uji protein : Pengujian protein menggunakan larutan


indikator biuret, jika warna bahan makanan setelah dikocok berubah
menjadi hijau toska atau biru muda berarti bahan makanan tersebut
mengandung protein.

611) b) Pada uji amilase dan maltase : Pengujian adanya amilase dan
maltase menggunakan larutan indikator benedict, jika bahan makanan
tersebut mengandung amilase dan maltase maka menghasilkan adanya
endapan berwarna merah bata.
612) c) Pada uji pati : Pengujian adanya pati dengan larutan indikator
iodin, jika bahan makanan tersebut mengandung pati maka menghasilkan
warna yaitu biru.
613) d) Pada uji karbohidrat : Pengujian karbohidrat (monosakarida)
menggunakan larutan benedict, jika bahan makanan tersebut mengandung
karbohidrat maka menghasilkan perubahan warna yaitu merah bata.
614) e) Pada uji tripsi : Pengujian adanya enzim tripsin menggunakan
larutan indikator biuret, jika bahan makanan tersebut mengandung tripsin
maka menghasilkan perubahan warna yaitu ungu.
615) 2. Apakah tujuan menggunakan albumin, fruktosa, dan
glukosa sebagai sampel dalam eksperimen ini?
616) JAWABAN :

617) Tujuan :
618) a) Amilum sebagai kontrol positif dari uji protein
619) b) Glukosa dan fruktosa sebagai kontrol positif dalam uji
karbohidrat (monosakarida)
620) 3. Apakah tujuan menggunakan air di setiap sampel eksperimen?
621) JAWABAN :
622) Tujuan menggunakan air dalam setiap sampel pengujian adalah
sebagai pelarut bahan-bahan yang akan menjadi sampel dan kontrol
negatif dalam setiap uji yang dilakukan.
623) 4. Sampel sukrosa dalam uji monosakarida merupakan
pengontrol negatif. Mengapa sampel ini tidak bereaksi dengan
reagen Benedict?
624) JAWABAN :

625) Pada hal ini terjadi karena sukrosa tidak dapat mereduksi ion Cu++
yang terdapat pada reagen Benedict.
626) 5. Buatlah daftar senyawa kimia yang terkandung dalam
setiap makanan yang Anda uji.
627) JAWABAN :

628) a) Kandungan kimia kedelai : Protein, air, zat besi, kalsium,


sodium, fosfor, hidokarbon, vitamin a, b1, b2, b12, serat, nicotinic acid,
linoleic acid, fatty acid, niacin, lechitin, oleat, arakhidrat, lysine, threonine,
proteinochromogen, saponin, isoflavon, genistein.

629) b) Kandungan kimia nasi : Jumlah kandungan energi nasi = 176


kkal, protein nasi = 3,3 gr, kalsium nasi = 4,9 mg dan karohidrat.

630) c) Kandungan kimia kacang tanah : Lemak, mengandungi protein


yang tinggi, zat besi, vitamin e dan kalsium, vitamin b kompleks dan
fosforus, vitamin a dan k, lesitin, kolin dan kalsium.

631) d) Kandungan kimia kentang : Energi kentang = 83 kkal, protein


kentang = 2 gr, lemak kentang = 0,1 gr, karbohidrat kentang = 19,1 gr,
kalsium kentang = 11 mg, fosfor kentang = 56 mg, zat besi kentang = 1
mg, vitamin b1 kentang = 0,11 mg, vitamin c kentang = 17 mg

632) 6. Bagaimana perbandingan hasil eksperimen dengan


prediksi awal yang Anda lakukan? Jelaskan.
633) JAWABAN :
634) Ada yang tidk sesuai dengan teori dikarenakan kurang lamanya
pada saat pemanasan, srta kurang telitinya praktikan. Namun, ntuk
keseluruhan hasil eksperimen pada masing-masing bahan hampir sama
dengan prediksi yang sebelumnya telah dilakukan dan sudah sesuia
dengan teori.
635) 7. Mengapa pada eksperimen ini harus menggunakan usus
ikan yang masih segar?
636) JAWABAN :

637) Karena belum mengalami denaturasi atau pengrusakan selain itu


dalam usus yang segar masih mempunyai enzim yang aktif.
638) 8. Ciri-ciri apa yang dapat Anda kemukakan yang
merupakan bukti adanya enzim maltase, amilase, dan tripsin
dari eksperimen ini?
639) JAWABAN :

640) a) Enzim amilase akan menghidrolisis amilum menjadi disakarida


yang terdiri atas maltosa, fruktosa, dan sukrosa.
641) b) Maltosa ini akan dipecah oleh enzim maltase menjadi glukosa
yang dibuktikan dengan adanya perubahan warna menjadi ungu.
642) c) Perubahan warna menjadi ungu artinya protein (proteosa)
menjadi asam amino dengan bantuan enzim tripsin yang terdapat pada
duodenum.
643) 9. Apa pengaruh cairan empedu terhadap minyak? Mengapa proses
ini penting dalam pencernaan lemak?

644) JAWABAN :

645) Garam empedu membantu absorbsi zat terlarut lemak dengan cara
memfasilitasi jalurnya menembus membran sel ini biasa disebut absorbsi
lemak. Prosesnya pada dasarnya akan memecahkan ikatan lemak pada
minyak hingga menjadi bagian terkecil dan larut.
646) 10. Mengapa ekstrak usus harus disimpan selama 1 minggu
sebelum diuji?
647) JAWABAN :

648) Pada waktu satu minggu adalah waktu dimana optimum bagi
gliserin untuk meluruhkan enzim pencernaan pada usus halus. Pada saat
itulah toluen memainkan perannya yaitu sebagai pengawet yang menjaga
enzim dari kerusakan atau membusuk selama penyimpanan.
649) 11. Uraikan urutan hidrolisa amilum.
650) JAWABAN :

651) a) Dirongga mulut amilum sudah mulai mengalami pencernaan


oleh enzim ptyalin yang terdapat didalam air liur (saliva). Amilum yang
dicerna didalam mulut berubah menjadi lebih halus yang disebut bolus.

652) b) Bolus ditelan kedalam gaster . didalam gaster proses pencernaan


amylum dan ptyalin tetap berlangsung

653) c) Didalam lambung tidak ada enzim yang dapat memecah


karbohidrat. Jika makanan yang dimakan hanya terdiri dari karbohidrat
saja maka akan tinggal didalam gaster selama 2 jam. Dan segera
diteruskan keduodenum. Bolus yang merupakan gumplan padat sekarang
menjadi lebih cair dan disebut chimus

654) d) Diduodenum chymus dicampur dengan sekresi pancreas yang


mengandung enzim amylopepsin .

655) e) Karbohidrat yang tidak dapat dicerna dialirkan terus kecolon dan
dibantu dengan mikroba yang terdapat didalam usus melalui proses
fermentasi dan menghasilkan energy untuk keperluan mikroba tersebut .
fermentasi yang meningkat didalam colon menghasilkan banyak gas
karbondioksida yang dikeluarkan dalam bentuk flatus (kentut). Sisa
karbohidrat yang masih ada dibuang dalam bentuk tinja.

656) 12. Berdasar pada apa yang telah Anda pelajari dari
eksperimen ini, jelaskan mengapa kita perlu mengkonsumsi
berbagai macam makanan untuk menjaga sel kita.
657) JAWABAN :
658) Semua makhluk hidup akan selalu melakukan aktivitas
setiap harinya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh tubuh manusia.
Tentunya akan selalu membutuhkan energi setiap saat. Energi yang
dibutuhkan oleh tubuh dapat diperoleh melalui berbagai jenis makanan
yang dimakan setiap harinya. Makanan-makanan tersebut diperoleh dalam
bentuk bahan organik yang dapat diperoleh dari makhluk hidup lainnya,
seperti hewan dan tumbuhan. Selain itu, makanan yang kita makanan
harus memiliki kandungan yang diperlukan oleh tubuh, seperti,
karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan lemak. Selanjutnya makanan
tersebut akan dicerna dan diserap oleh tubuh.

659) Sesungguhnya manfaat makanan bagi tubuh kita, yaitu


untuk:

a) Pertubuhan badan

b) Mengganti sel-sel yang rusak

c) Memperoleh energi dan kalor

d) Meningkatkan daya tahan tubuh dari suatu penyakit

660) Untuk mendapatkan tubuh yang sehat, kita harus selalu


mengkonsumsi makan yang bergizi. Makanan yang bergizi yaitu
makanan yang mengandung zat-zat makanan yang penting bagi tubuh
yang meliputi:

a) Karbohidrat atau zat tepung

b) Protein

c) Lemak

d) Vitamin

e) Mineral, dan

f) Air

661)
662)

663)

664)

665) BAB V

666) PENUTUP

667) A. Kesimpulan

1. Pada tes pengaruh empedu terhadap lemak. Pada percobaan yang telah
dilakukan untuk pengaruh empedu terhadap lemak, kedua tabung reaksi
sama-sama diisi dengan 2 ml minyak goreng. Perbedaannya yaitu, tabung
reaksi yang pertama ditambahkan dengan cairan empedu ikan, sedangkan
tabung reaksi yang kedua ditambahkan dengan aquades. Berdasarkan
percobaan tidak terjadi endapan hal ini disebabkan karena kolesterol
(minyak) tidak larut dengan cairan empedu. Hal ini terjdi karena
perbandingan asam empedu dengan kolesterol tinggi.
2. Pada uji protein. Berdasarkan hasil perubahan warna, diketahui bahwa
larutan albumin, kacang tanah, tahu putih dan kacang kedelai terindikasi
adanya senyawa protein karena adanya perubahan warna menjadi ungu.
Adapun aquades tidak terindikasi, karena tidak adanya perubahan warna
atau tidak berubah menjadi warna ungu setelah diberi perlakuan.
3. Pada uji pembuktian adanya tripsin. Pada percobaan uji pembuktian
adanya tripsin ini belum dapat dibuktikan terdapat adanya enzim tripsin,
karena pada percobaan ini setelah proses penambahan ekstrak usus
maupun aquades dan penambahan biuret untuk masing-masing tabung
tidak terdapat hasil yang menunjukkan adanya perubahan warna larutan
menjadi ungu. Apabila larutan yang dihasilkan berwarna ungu dikarenakan
pada ekstrak usus ikan mas terdapat enzim tripsin yang mengubah protein
yang ada pada kedelai menjadi asam amino, sehingga terjadi reaksi kimia
sehingga akan tampak adanya perubahan warna.
4. Pada uji karbohidrat. Pada percobaan telah sesuai dengan teori karena
warna menjadi kuning karena mengandung glukosa dan sebagai hasil
reaksi dari glukosa yang dapat mereduksi ion Cu2+ dan mengendap
sebagai Cu2O yang berwarna merah bata. Percobaan kedelapan dengan
tabung H menggunakan laturan sampel mie kemudian ditetesi dengan
benedict dengan volume 1,5 ml dan dikocok hingga tercampur sebelum
dipanaskan warna larutan biru keruh setelah dipanaskan larutan berubah
warna menjadi merah bata yang cenderung kecoklatan dan terdapat
endapan. Pada mie mengandung glukosa, karbohidrat, dan protein.
5. Pada uji pembuktian adanya amilase. Uji pembuktian adanya enzim
amilase pada sampel pertama yaitu, menunjukkan hasil bahwa tabung A
(Larutan kentang, ekstrak usus dan Benedict) berwarna hijau sedangkan
tabung B (Larutan kentang, aquades dan Benedict) berwarna hijau. Pada
praktikum ini tidak susuai, karena seharusnya terdapat endapan yang
berwarna merah bata, namun terdapat perubahan warna larutan pada
tabung A dari biru menjadi hijau agak kekuningan serta terbentuk endapan
berwarna kuning muda. Pada tabung B, terjadi perubahan warna dari biru
menjadi hijau dan terdapat lapisan bening berwarna kebiruan pada bagian
permukaan.
6. Pada uji pembuktian adanya maltase. Pada sampel C yang dicampur
dengan ekstrak usus dan ditambahkan dengan reagen benedict terjadi
perubahan warna yaitu hijua tua, berarti larutan tersebut mengandung
karbohidrat karena pada larutan tersebut ada enzim maltase yang dapat
merubah maltosa menjadi glukosa. Terdapat endapan Cu2O berwarna hijau
tua pada bagian bawah. Perubahan ini terjadi karena pada usus ikan
mengandung enzim maltase yang mengubah maltosa (gula disakarida)
menjadi gula monosakarida (glukosa). Ikatan iakatan pada maltosa
dipecah oleh enzim yang terdapat pada usus ikan mas yang berarti terjadi
reaksi kimia sehingga akan terjadi perubahan warna. Pada sampel D yang
dicampur dengan aquades dan ditambahkan dengan reagen benedict tidak
terjadi perubahan warna berarti aquades tidak mengandung karbohidrat
karena pada larutan tersebut tidak ada enzim maltase yang dapat merubah
maltase menjadi glukosa.
7. Pada percobaan identifikasi pati. Berdasarkan pada percobaan untuk
larutan kentang dan kacang merah dihasilkan warna coklat yang
mengindikasikan warna tersebut tidak mengandung amilum. Pada larutan
kentang seharusnya mengandung amilum, tetapi tidak sampai banyak
seperti nasi dan tepung maizena atau pati jagung. Hasil tersebut tidak
sesuai dengan teori untuk larutan kentang yang tidak mengandung pati,
pada teori yang tercantum pada tabel kandungan pati kentang lebih banyak
yaitu 17,332% dibandingkan dengan kandungan pati jagung yang sebesar
11,830%.

668) B. Saran

1. Untuk praktikan sebaiknya memahami secara keseluruhan agar tidak


terjadi pada saat praktium berlangsung dan tidak mempengaruhi hasil yang
didapatkan.
2. Jika praktikan memang sudah memahami keseluruhan praktikum, maka
sebaiknya lebih teliti lagi.
3. Untuk bahan-bahan yang ada sebaiknya dikoordinir dengan baik agar
memaksimalkan semua bahan dipakai dan tidak ada yang dibuang.
4. Sebaiknya lebih efektif dan efisien lagi dalam memanfaatkan waktu
praktikum mengingat waktu yang diberikan sangat terbatas, namun
praktikum membutuhkan waktu yang banyak.

669)
670)
671)
672)
673)
674)
675)
676)
677)
678)
679)
680)
681)
682)
683)
684)
685)
686)
687) DAFTAR PUSTAKA
688)
689) Abdul Rahman, dkk. 2007. Analisis Makanan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
690) Adams M. 2005. Superfood for optimum health: Chlorella and Spirulina.
New York: Truth Publishing International,
691) Ahmad Djaeni Sediaoetama. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi
Jilid 1. Jakarta: Dian Rakyat
692) Almatsier, Sunita. (2010). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
693) Arjuna. 2008. Tentang Batu Empedu. http://tentang-batu-empedu-
wikipedia.com.html. Diakses tanggal 05 Mei 2017
694) Columbia Encyclopedia. 2010. Trypsin . Columbia : The Columbia
University Press
695) Erika, Kusmawati. 2011. Empedu..
http://themaczmanchemistry.blogspot.com. Diakses tanggal 05 Mei 2017
696) Estien Yazid, dkk. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa
Analis. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
697) Fajriyah, dkk. 2013. Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
698) Hardjasasmita Pantjita. 1992. Ikhtisar Biokimia Dasar A. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
699) Harper, dkk., terj. Suhardjo. 1986. Pangan, Gizi dan
Pertanian. Jakarta: UI Press,
700) Hutagalung, Halomoan. 2004. Karbohidrat.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3561/1/gizi-
halomoan.pdf). Diakses pada tanggal 05 Mei 2017.
701) Irawan, M. 2007. Karbohidrat. (http://www.pssplab.com/journal/03.pdf).
Diakses pada tanggal 05 Mei 2017.
702) Kimball John. W. 1983. Biologi Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
703) Maria Bintang. 2010. Biokimia-Teknik Penelitian. Jakarta:
Erlangga.
704) Marsetyo, dkk. 1995. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan, dan
Produktivitas Kerja). Jakarta: Rineka Cipta.
705) Megazyme. 2015. Alpha-amylase assay procedure (amylase sd method).
Megazyme International Ireland.
706) Michael E.J. Lean, terj. Nilamsari dan Fajriyah. 2013. Ilmu Pangan, Gizi,
dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
707) Muchtadi, Deddy. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung: Alfabeta.
708) Panil, Zulbadar. 2004. Memahami Teori dan Praktek Biokimia Dasar
Medis. Buku Kedokteran EGC: Jakarta
709) Panji. 2015. Uji Biuret (Online). Diakses dari
http://www.edubio.info/2013/11/uji-biuret.html pada 5 Mei 2017.
710) Poedjiadi Anna. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.
711) Robert D. Simoni; Robert L. Hill & Martha Vaughan . 2002. "Benedict's
Solution, a Reagent for Measuring Reducing Sugars: the Clinical
Chemistry of Stanley R. Benedict". J. Biol. Chem. 277 (16): 1011. Pada
5 Mei 2017.
712) Sediaoetama, D. A. 1976. Ilmu Gizi dan Ilmu DIIT Didaerah Tropik. Jakarta
: PN Balai Pustaka Skoog, A. D. 1991. Fundamentals of Analytical
Chemistry. Seventh Edition. USA : Sounders College Publishing.
713) Shodiqin, Ahmad. 2015. Proses Pencernaan Pada Manusia Secara
Mekanis dan Kimiawi (Online). Diakses dari
http://www.guruipa.com/2015/12/poses-pencernaan-pada-manusia-secara-
mekanis-dan-kimiawi.html pada 6 Mei 2017.
714) Suhardjo, dkk. 1986. Pangan, Gizi dan Pertanian. Jakarta:
UI Press.
715) Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksata. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC
716)
717) Sunita Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia
718) Tim Dosen. 2013. Penuntun Praktikum Biokimia. UIN: Makassar.
719) Winarno F. G. dan A. Rahman, 1974. Protein Sumber dan Peranannya
Departemen Teknologi Hasil Pertanian. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
720) Widiasa, I. N. 2007. Combination of reverse osmosis and
electrodeionization for simultaneous sugar recovery and salts removal
from sugar wastewater. Reaktor 11 91-97.
721) Yayan, Sunarya dan Agus Setiabudi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar
Kimia. Jakarta: PT Setia Purn.
722)
723)
724)
725)
726)
727)
728)
729) LAMPIRAN DOKUMENTASI

730)

731)

732)

733)

734)

735)

736) Sampel Karbohidrat Sebelum Dipanaskan


Identifikasi
737) Protein

738)

739)

740)

741)

742)

743)
Sampel Karbohidrat Sebelum Dipanaskan
Sampel Karbohidrat Sesudah Dipanaskan
744)

745)

746)

747)

748)

749)

750)

751)

752) terhadap Lemak


Uji Pengaruh Empedu Uji Pengaruh Empedu terhadap Lemak

Uji Pengaruh Empedu terhadap Lemak


753)

754)

755)

756)

757) Uji Keberadaan


Sampel
Maltase
758)

759)

760)

761)

762)

763)

764)
Sampel Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Maltase
765) Maltase

766)

767)

768)

769)

770)

771)

772)

Sampel 773)
Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Maltase Maltase
774)

775)

776)

777)
778)

779)

780)

781)

782)

Sampel 783)
Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Maltase Maltase
784)

785)

786)

787)

788)

789)

790)
Sampel Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Maltase
791) Maltase

792)

793)

794)

795)

796)

797)

Uji Identifikasi Pati Uji Identifikasi Pati


Sampel (aquades) Sampel (pati)
798)

799)

800)

801)

802)

803)

804)
Uji Identifikasi Pati Uji Identifikasi Pati
Sampel (larutan kacang merah) Sampel (larutan kentang)
805)

806)

807)

808)

809)

810)

811)
Uji Identifikasi Pati Uji Identifikasi Pati
Sampel (larutan
812)tepung maizena) Sampel (larutan nasi)

813)

814)

815)

816)

817)

818)

819)

820)
Uji Keberadaan Tripsin Uji Keberadaan Tripsin
Sampel (Larutan kedelai ) Sampel (Larutan kedelai )
821)

822)

823)

824)

825)

826)

827)

Uji Keberadaan
828) Tripsin Uji Keberadaan Tripsin
Sampel (Larutan kedelai ) Sampel (Larutan kedelai )
829)

830)

831)

832)

833)

834)

835)
Sampel Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Amilase
836) Amilase

837)

838)

839)

840)

841)

842)

843)

Sampel Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan


Amilase Amilase
844)

845)

846)

847)

848)

849)

850)

851)
Sampel Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Amilase
852) Amilase

853)

854)

855)

856)

857)

858)

859)

Sampel 860)
Uji Keberadaan Sampel Uji Keberadaan
Amilase Amilase
861)

862)

863)

864)