Anda di halaman 1dari 8

Studi Kasus PT Indo Acidatama Chemical Industry Karanganyar)

Latar Belakang Masalah

Lingkungan Hidup di Indonesia menyangkut tanah, air, dan udara dalam wilayah
negara Republik Indonesia. Semua media lingkungan hidup tersebut merupakan
wadah tempat kita tinggal, hidup serta bernafas. Media lingkungan hidup yang
sehat, akan melahirkan generasi manusia Indonesia saat ini serta generasi akan
datang yang sehat dan dinamis.

Pembangunan industri, eksploitasi hutan serta sibuk dan padatnya arus lalu
lintas akibat pembangunan yang terus berkembang, memberikan dampak
samping. Dampak samping tersebut berakibat pada tanah yang kita tinggali, air
yang kita gunakan untuk kebutuhan hidup maupun udara yang kita hirup.
Apabila tanah, air dan udara tersebut pada akhirnya tidak dapat lagi
menyediakan suatu iklim atau keadaan yang layak untuk kita gunakan,maka
pencemarah.

Pencemaran linkungan hidup bukan hanya berdampak buruk bagi kehidupan


masyarakat yang ada sekarang, namun juga akan mengancam kelangsungan
hidup generasi yang akan datang.

Oleh karena itu baik masyarakat, maupun pemerintah berhak dan wajib untuk
melindungi lingkungan hidup. Masyarakat diharapkan secara aktif dapat
berperan serta aktif dalam pelestrian lingkungan sedangkan pemerintah
berupaya dengan memberikan perlindungan bagi lingkungan hidup negaranya
dan masyarakat yang tinggal dalam lingkungan hidup negaranya melalui
berbagai peraturan perundang-undangan.

Undang-undang No.32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup mengatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat
merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana diamanatkan
dalam pasal 28H Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu wilayah di eks Karesidenan


Surakarta yang memiliki kawasan industri terbanyak dibandingkan dengan
daerah lainnya. Kabupaten Karanganyar dengan slogan Intanpari (Industri,
Pertanian dan Pariwisata) banyak berdiri industri. Industri yang ada bergerak di
berbagai sektor seperti: tekstil, kulit, kimia, obat (farmasi), kimia, wisata,
makanan dan peternakan.

Sektor industri selain meningkatkan dan memajukan taraf kehidupan


masyarakat, ternyata juga menimbulkan dampak yang negatif bagi kehidupan
masyarakat. Dampak tersebut terjadi sebagai akibat beroperasinya industri yang
tidak mengindahkan norma-norma yang ada. Bahkan kemungkinan bisa
berakibat fatal pada kerusakan lingkungan hidup, sehingga mengganggu proses
kehidupan masyarakat.

Di antara dampak negatif dari keberadaan industri atau perusahaan adalah


potensi munculnya kasus sengketa lingkungan hidup sebagai akibat
pembuangan limbah industri yang mencemari lingkungan hidup. Bahkan hal ini
sering menimbulkan gejolak sosial, seperti sengketa antara sebagian petani di
Desa Sroyo dan Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar dengan PT. Indo
Acidatama Chemical Industry.
Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu wilayah di eks Karesidenan
Surakarta yang memiliki kawasan industri terbanyak dibandingkan dengan
daerah lainnya. Kabupaten Karanganyar dengan slogan Intanpari (Industri,
Pertanian dan Pariwisata) banyak berdiri industri. Industri yang ada bergerak di
berbagai sektor seperti: tekstil, kulit, kimia, obat (farmasi), kimia, wisata,
makanan dan peternakan.
Ada dua kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang merupakan kawasan
industri yaitu di Kecamatan Palur dan Kebakkramat. Salah satu industri besar
yang berada di kecamatan Kebakkramat tepatnya di desa Kemiri adalah PT Indo
Acidatama Chemical Industry yang bergerak dalam industri agro kimia.
Oleh sebagian masyarakat terutama kaum petani di Desa Sroyo dan Kemiri, PT
Indo Acidatama diduga telah mencemari lingkungan mereka. Keberadaan Pabrik
tersebut telah menimbukan pencemaran air sungai dan sumur, polusi udara
(bau/odor), dan pencemaran tanah (pertanian) sehinga menimbulkan sejumlah
kerugian pada masyarakat. Menurut masyarakat di sekitar Pabrik pencemaran
tersebut telah terjadi semenjak tahun 1992.
Dugaan pencemaran tersebut dibuktikan dengan : (1) Keruhnya warna air sungai
(coklat pekat), (2) Timbunya gejala gatal-gatal yang dirasakan oleh sebagian
masyarakat yang menggunakan sungai sebagi tempat kebutuhan mereka sehari-
hari (pencari pasir,petani,peternak), (3) Perubahan air sumur milik penduduk, (4)
Terjadinya penurunan air sumur milik penduduk, (5) Timbulnya bau busuk (odor),
(6) Meningkatnya pengeroposan (korositas), (7) Penurunan secara drastis hasil
dari petani yang lahannya dialiri limbah cair dari pabrik.
Semenjak tahun 1992 masalah tersebut sudah sering diupayakan
penyelesaiannya, tetapi hasilnya tidak memuaskan bagi sebagian masyarakat.
Akibat kejengkelannya pada tanggal 14 Oktober 1997 sebagian penduduk yang
lahan pertaniannya dialiri limbah cair dari pabrik melakukan tindakan
pemotongan pipa aliran limbah secara paksa. Peristiwa ini membuka jalan bagi
kedua pihak untuk berdialog.
Pasal 84 UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup mengatakan bahwa Penyelesaian sengketa lingkungan hidup
dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan.[2] Pilihan
penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara sukarela oleh para pihak yang
bersengketa.[3] Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila
upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dipilih dinyatakan tidak
berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa.[4]
Dengan demikian jelas bahwa Undang-undang ini menyarankan pihak yang
bersengketa menyelesaikan sengketa mereka di luar pengadilan terlebih dahulu
sebelum menggugat melalui pengadilan. Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan ini disebut sebagai penyelesaian sengketa Non Litigasi.
Pasal 1 angka 25 menyebutkan bahwa sengketa lingkungan hidup adalah
perselisihan antara dua pihak atau lebih yang timbul dari kegiatan yang
berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup.[5]
Sengketa lingkungan hidup menurut undang-undang ini, tidak saja akibat
ditemukan bukti konkrit adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup, tetapi adanya secara patut dugaan diketemukannya pencemaran atau
perusakan lingkungan hidup tersebut dapat dijadikan pedoman.[6]
Hal ini dapat dikonfigurasikan dalam bahasa hukum sebagai pelaku
pencemaran/perusakan (pencemar/perusak) lingkungan dan korban pencemaran
perusakan (tercemar/kerusakan) lingkungannya. Subyek sengketa lingkungan
dapat berupa orang perseorangan atau kelompok orang atau badan hukum.[7]
Fokus dari penyebab sengketa ini adalah pencemaran/perusakan lingkungan dan
dugaan terhadapnya. Bentuk-bentuk konflik/ sengketa lingkungan yang sering
muncul penyebabnya adalah: (a) pencemaran (terutama pencemaran air dan
udara termasuk kebisingan); (b) perubahan tata guna lahan (land use); (c)
gangguan keamanan dan kenyamanan (insecure and amenity).[8]
Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan
dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan, yaitu para pihak
yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian, instansi pemerintah
yang terkait dengan subyek yang disengketakan, serta dapat melibatkan pihak
yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup.[9]
Selama ini lembaga pengadilan sebagai lembaga negara penegak keadilan
dalam melakukan penyelesaian sengketa lingkungan dinilai tidak memberi rasa
keadilan masyarakat, dan keadilan lingkungan. Berbagai kasus penyelesaian
sengketa pencemaran lingkungan yang diajukan ke pengadilan keputusannya
amat mengecewakan masyarakat, dan jauh dari rasa keadilan. Lembaga
pengadilan dalam menyelesaikan sengketa lingkungan selama ini masih
berorientasi pada hukum formal. Analasis studi menunjukan bahwa dalam
menyelesaikan sengketa lingkungan hakim masih belum mampu keluar dari
pendekatan tex books yang memahami hukum sebatas aturan yang bersifat
hitam putih, diterapkan laksana buku telfon. Hal ini dapat dilihat dari
ketidakberanian hakim untuk keluar dari rumusan ketentuan hukum perdata
yang bersandar pada Pasal 1365 KUHPerdata ataupun Pasal 34 UU No. 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam menangani gugatan
masyarakat.[10]
Mekanisme penyelesaian sengketa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut: (1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para
pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik
dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. (2)
Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian
sengketa sebagaimana dimaksud di atas diselesaikan dalam pertemuan
langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan
hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.(3) Dalam hal sengketa
atau beda pendapat sebagaimana dimaksud di atas tidak dapat diselesaikan,
maka atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat
diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui
seorang mediator.(4) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14
(empat belas) hari dengan bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun
melalui seorang mediator tidak berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator
tidak berhasil mempertemukan kedua belah pihak, maka para pihak dapat
menghubungi sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian
sengketa untuk menunjuk seorang mediator. (5) Setelah penunjukan mediator
oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa, dalam
waktu paling lama 7 (tujuh) hari usaha mediasi harus sudah dapat dimulai.(6)
Usaha penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui mediator dengan
memegang teguh kerahasiaan, dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh ) hari
harus tercapai kesepakatan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh
semua pihak yang terkait.(7) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda
pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat para pihak untuk
dilaksanakan dengan itikad baik serta wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri
dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak penandatanganan.(8)
Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat wajib selesai
dilaksanakan dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh) hari sejak pendaftaran.
(8) Apabila usaha perdamaian tersebut tidak dapat dicapai, maka para pihak
berdasarkan kesepakatan secara tertulis dapat mengajukan usaha
penyelesaiannya melalui lembaga arbitrase atau arbitrase adhoc.

Perihal sengketa perdata antara sebagian petani di desa sroyo dan kemiri, kecamatan
kebakkramat, karanganyar dengan pt. Indo acidatama chemical industry dapat ditempuh
melalui pembuatan perjanjian jalan peradilan non litigasi yang mencakup asas - asas
dalam hukum perdata dan hukum acara perdata yaitu :
1. Asas Kebebasan berkontrak ( freedom of conctract / beginsel der contractsvrijheid ).
Para pihak berhak secara bebas membuat kontrak dan mengatur sendiri isinya
sepanjang memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku.

2. Asas Pacta Sunt Servanda ( janji itu mengikat ). Suatu perjanjian berlaku sebagai
undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

3. Asas Konsensualitas. Suatu perjanjian sudah sah dan mengikat ketika telah tercapai
kesepakatan para pihak dan sudah memenuhi sayarat sahnya kontrak

Model penyelesaian sengketa lingkungan semacam ini dikenal sebagai model


penyelesaian Non Litigasi. Apabila terjadi sengketa yang demikian langkah
pertama yang paling tepat dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia adalah
menyelesaikan sengketa di luar pengadilan. Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan dilakukan dengan Negosiasi, Mediasi, dan Arbitrase, atau pilihan lain
dari para pihak yang bersengketa.[12]
Sejalan dengan itu Mas Akhmad Santoso memperkenalkan konsep penyelesaian
lingkungan yang dikenal dengan dengan Alternatif Dispute Resolution (ADR).
Konsep ini merupakan model penyelesaian sengketa dilakukan di luar pengadilan
secara kooperatif yang diarahkan pada suatu kesepakatan atau solusi dalam
sengketa yang bersifat menang-menang (win-win solution). Solusi menang-
menang ini merupakan kesepakatan yang mampu mencerminkan kepentingan
para pihak yang terlibat dalam sengketa.[13]
Konsep ADR merupakan jawaban atas ketidakpuasan masyarakat terhadap
sistem pengadilan. Ketidakpuasan tersebut bersumber pada persoalan waktu
yang dibutuhkan sangat lama dan beaya mahal, serta diragukan kemampuannya
menyelesaikan sengketa secara memuaskan. Pada intinya ADR dikembangkan
oleh para praktisi hukum maupun para akademisi sebagai cara penyelesaian
sengketa yang lebih memiliki akses pada keadilan.[14]
Beberapa keuntungan penyelesaian sengketa dengan menggunakan ADR yang
dikemukakan Christopher W Moore, Pertama, sifat kesukarelaan dalam proses
penyelesaian sengketa. Kedua, prosedur cepat. Ketiga, keputusan non-
judisial. Keempat, kontrol oleh manajer yang paling tahu kebutuhan
organisasi. Kelima, prosedur rahasia. Keenam. fleksibilitas lebih besar dalam
merancang syarat-syarat penyelesaian masalah. Ketujuh, hemat waktu dan
beaya. Kedelapan, adanya perlindungan dan pemeliharaan hubungan
kerja. Kesembilan, tinggi kemungkinan menyelesaikan kesepakatan. Kesepuluh,
tingkat yang lebih tinggi untuk melaksanakan kontrol dan lebih mudah untuk
memperkirakan hasil. Kesebelas, kesepakatan lebih baik dari sekedar
kompromi. Keduabelas, keputusan bertahan sepanjang waktu.

Penyelesaian sengketa melalui Negosiasi


Penyelesaian sengketa di luar pengadilan melaui negosiasi sebenarnya
merupakan cara penyelesaian yang biasa dilakukan sehari-hari oleh setiap orang
dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam negosiasi terdapat komunikasi dua arah
yang dirancang untuk mencapai kesamaan pemahaman dan kesepakatan antar
para pihak yang bersengketa. Para pihak melakukan perundingan dan
mendiskusikan bersama untuk mencapai titik kesepakatan tanpa adanya campur
tangan pihak ketiga atau pihak penengah.[16]
Negosiator menjadi kunci berhasil-tidaknya perundingan. Oleh karena itu
diperlukan sejumlah syarat agar menjadi negosiator yang efektif. Adapun syarat
tersebut meliputi: Pertama, memahami materi yang dirundingkan. Kedua,
mampu mengekspresikan pikiran-pikiran secara verbal. Ketiga, mampu berpikir
secara utuh, jernih dan cepat dalam kondisi di bawah tekanan (waktu) dan
ketidakpastian. Keempat, memiliki kemampuan dan ketrampilan mendengarkan
(cepat, tepat, dalam mereformulasi, merephrase, dan mensistematiskan materi
yang didiskusikan). Kelima, memiliki ketrampilan mengambil keputusan. Keenam,
memiliki integritas, memiliki kemampuan mempengaruhi. Ketujuh, sabar dan
mampu mengundang respek dan kepercayaan dari lawan.[17]
Fisher dan Ury mengemukakan beberapa metode yang harus dipahami agar
negosiator agar perundingannya dapat berjalan lancar. Pertama, memisahkan
antara orang dengan permasalahan. Kedua, memfokuskan pada kepentingan
bukan posisi. Ketiga, selalu mengajukan dan mengembangkan pilihan-pilihan
untuk kepentingan bersama. Keempat, menyepakati kriteria dan standar objektif
dan independen bagi pemecahan masalah. Kelima, perunding adalah poblem
solver. Keenam, tujuannya adalah kesepakatan yang win-win.[18]
Negosiasi akan dapat berlangsung efektif dalam mencapai kesepakatan akan
dipengaruhi oleh beberapa syarat atau faktor : Pertama, Pihak-pihak yang
bersengketa bersedia bernegosiasi secara sukarela berdasarkan kesadaran yang
penuh. Kedua, Keadaan atau kondisi pihak sendiri yang siap untuk
bernegosiasi. Ketiga, Para pihak mempunyai wewenang mengambil
keputusan. Keempat, Para pihak mempunyai kekuatan yang relatif seimbang
sehingga dapat menciptakan saling ketergantungan. Kelima, Mempunyai
kemauan menyelesaikan masalah secara bersama.[19]

Penyelesaian sengketa melalui Mediasi


Penyelesaian melalui mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa, dimana
para pihak yang bersengketa melakukan musyawarah guna mencari pemecahan
dengan difasilitasi oleh mediator. Para pihak yang bersengketa bisa terdiri atas
dua orang atau lebih, dalam hal ini pihak yang berperan sebagai mediator
merupakan satu kesatuan dengan pihak yang sengketa dan bersifat tidak
memihak. Mediator hanya memfasilitasi para pihak dan para pihak yang
bersengketa sendirilah yang mengajukan jalan penyelesaian.[20]
Gary Gooodpaster memberikan pengertian Mediasai sebagai proses pemecahan
masalah dimana pihak luar yang tidak memihak dan netral bekerja dengan pihak
yang bersengketa untuk membantu mereka untuk memperoleh kesepakatan
perjanjian dengan memuaskan.[21] Dalam hal ini mediator tidak mempunyai
wewenang memutuskan sengketa antara para pihak.
Moore mencatat sejumlah keuntungan mediasi yaitu : Pertama, Keputusan
hemat. Kedua, Penyelesaian cepat. Ketiga, Hasilnya memuaskan bagi semua
pihak. Keempat, Kesepakatan-kesepakatan komprehensif dan
customized. Kelima, Praktik dan belajar prosedur-prosedur penyelesaian masalah
kreatif. Keenam, Tingkat pengendalian lebih besar dan hasil bisa diduga. Ketujuh,
Pemberdayaan individu. Kedelapan, Melestarikan hubungan yang sudah berjalan
atau mengakhiri hubungan dengan cara lebih ramah. Kesembilan, Keputusan-
keputusan bisa dilaksanakan. Kesepuluh, Kesepakatan lebih baik daripada hanya
menerima hasil kompromi atau prosedur menang-kalah. Kesebelas, Keputusan
berlaku tanpa mengenal waktu.[22]
Agar mediasai dapat berguna, ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan. Pertama, dalam sengketa tersebut semua pihak mempunyai
kepentingan untuk mencapai penyelesaian melalui negosiasi. Kedua, perlu ada
kesediaan para pihak untuk memberi dan menerima (take and gave) yang
merupakan persyaratan bagi negosiasi yang didasarkan atas saling
mempercayai. Ketiga, perlu ada kerangka institusional yang mendukung adanya
mediasi dan menjamin kenetralan dari proses yang dilakukan. Keempat, perlu
adanya pengertian semua pihak bahwa proses didasarkan atas
kesukarelaan. Kelima, proses mediasi tidak dapat dipandang sebagai suatu yang
mengurangi kepentingan umum maupun menurunkan standar yang ditetapkan
oleh peraturan yang perlu dilindungi.[23]
Penyelesaian sengketa melalui Arbitrase
Sedangkan penyelesaian melalui arbitrase dilakukan dengan lembaga arbitrase,
yaitu model penyelesaian dengan menyerahkan secara suka rela suatu sengketa
pada seseorang yang berkualitas untuk menyelesaikan dengan suatu perjanjian
bahwa putusan arbitrator akan final dan mengikat.[24]
Penyelesaian melalui arbitrase mempunyai ciri : Pertama, Badan arbitrase adalah
suatu cara atau metode penyelesaian sengketa. Kedua, Penyelesaian sengketa
dilakukan oleh pihak ketiga yang secara khusus ditunjuk. Ketiga, arbitrase adalah
merupakan pengadilan perdata, yakni yang mengawasi kewenangan dan
kewajiban adalah para pihak sendiri. Keempat, Keputusan dikeluarkan oleh
badan yang bersifat final. Kelima, Keputusan Arbitrator mengikat para pihak
berdasarkan persetujuan diantara mereka. Keenam, Keputusan arbitrase terlepas
dan bebas dari campur tangan negara.[25]
Kelebihan penyelesaian arbitrase jika dibandingkan dengan melalui lembaga
pengadilan adalah: Pertama, dijamin kerahasiaan sengketa para pihak. Kedua,
dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena prosedur dan
administratif. Ketiga, para pihak dapat memilih arbitrator yang menurut
keyakinan mereka dapat mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar
belakang yang cukup masalah yang disengketakan, jujur dan adil. Keempat, para
pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta
proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase. Kelima, putusan arbitrase
merupakan putusan yang mengikat para pihak, dan dengan melalui tata cara
(prosedur) sederhana, ataupun langsung dapat dilaksanakan.[26]
Penyelesaian sengketa melalui arbitrase dinilai menguntungkan karena beberapa
alasan sebagai berikut : Pertama, Kecepatan dalam proses. Suatu persetujuan
arbitrase harus menetapkan jangka waktu, yaitu berapa lama perselisihan atau
sengketa yang diajukan pada arbitrase harus diputuskan. Apabila para pihak
tidak menentukan jangka waktu tertentu, jangka waktu penyelesaian ditentukan
oleh aturan-aturan arbitrase setempat yang dipilih. Kedua, Pemeriksaan ahli di
bidangnya. Untuk memeriksa dan memutus perkara melalui arbitrase para pihak
diberi kesempatan memilih ahli yang memiliki pengetahuan yang mendalam dan
sangat menguasai hal-hal yang disengketakan. Dengan demikian, pertimbangan-
pertimbangan yang diberikan dan putusan yang dijatuhkan dapat
dipertanggungjawabkan kwalitasnya. Ketiga, Sifat konfidensialitas. Sidang
arbitrase selalu dilakukan dalam ruang tertutup, dalam arti tidak terbuka untuk
umum, dan keputusan yang diucapkan dalam sidang tertutup hampir tidak
pernah dipublikasikan. Dengan demikian penyelesaian melalui arbitrase
diharapkan dapat menjaga kerahasiaan para pihak yang bersengketa.[27]
Penjelasan Undang-undang No 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa menyebutkan bahwa lembaga arbitrase mempunyai
kelebihan bila dibanding lembaga peradilan. Kelebihan tersebut
adalah : Pertama. Kerahasiaan sengketa para pihak dijamin. Kedua,
Keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat
dihindari. Ketiga, Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya
mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup
mengenai masalah yang disengketakan, jujur, dan adil. Keempat, Para pihak
dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaiakan masalahnya serta
proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase. Kelima, Putusan arbiter
merupakan putusan yang mengikat para pihak dan melalui tata cara (prosedur)
sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan.[28]

Munculnya kasus sengketa lingkungan hidup seperti contoh di atas menunjukkan


semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan hak-haknya untuk
mendapatkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat, serta akan pentingnya
pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sengketa lingkungan hidup yang terjadi
biasanya melibatkan masyarakat dengan dunia industri.