Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan
rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini.

Dalam makalah ini kami akan membahas masalah Area Dasar Laut Internasional yang
merupakan salah satu materi dalam mata kuliah Hukum Laut. Semoga makalah ini bermanfaat
untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Haluoleo.

Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen
pengajar kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan
datang.

Kendari, 15 November 2015

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................1

DAFTAR ISI ....................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .....................................................................................................3


B. Rumusan Masalah ................................................................................................4
C. Tujuan Penulisan...................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

A. Area Dasar Laut Internasional...............................................................................5


B. Pengawasan Area Dasar Laut International..........................................................5
C. Alih teknologi Pada Area Dasar Laut Internasional..............................................5
D. Lembaga Dan Anggota Internasional Sea-Bed Authority (ISBA)........................6
E. Penyelesaian Sengketa Pada Area Dasar Laut International.................................11
F. Hak Dan Kewajiban Indonesia Mengenai Area Dasar Laut International 12

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ..........................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................14

BAB I

PENDAHULUAN
2
A. LATAR BELAKANG

Konvensi Hukum Laut 1982 merupakan aturan internasional yang didalamnya mengatur
bidang dasar laut internasional tentang pengelolaan dasar laut internasional dan tanah di
bawahnya. Dasar laut internasional atau yang biasa disebut kawasan atau area dasar laut
internasional diatur dalam Bab XI pasal 133 pasal 191 Konvensi Hukum Laut 1982.

Pengertian area atau kawasan menurut konvensi hokum laut 1982 berbunyi: Area means
the seabed and ocean floor and subsoil there of,beyond the limits jurisdiction. yang
diterjemahkan bebas sebagai berikut: Area dasar laut adalah dasar laut ,dasar samudra dan
tanah dibawahnya di luar yuridiksi nasional.

Didalam dasar laut dan tanah dibawahnya terdapat kekayaan dasar laut, kekayaan dasar
laut sesuai dengan konvensi hukum laut 1982 pasal 133 yaitu yang berbunyi : Resources
means all solid, liquid or gaseous mineral resources in situ in the area ar or beneath the sea
bed including polymetalic nodules. yang diterjemahkan bebas kekayaan area dasar laut
international adalah segala kekayaan mineral yang bersifat padat ,cair atau gas diarea /
kawasan atau tanah dibawah dasar laut termasuk bahan polimetalik yang kemudian semua
hasil dari kekayaan dari area / kawasan tersebut di sebut mineral.

Hukum laut internasional merupakan salah satu cabang disiplin ilmu dari hukum
internasional, hal-hal yang diatur sudah tentu mengenai laut secara internasional. Bidang
pengaturan dari hukum laut telah melalui beberapa tahapan dalam perkembangannya, hal ini
ditunjukkan dengan adanya United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (Unclos
1982) ke-3 (tiga) di Montego Bay, Jamaika pada tahun 1982.

Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 saat ini adalah aturan yang sangat
komprehensif dalam hal mengatur urusan kelautan, dan dalam perkembangannya mengalami
proses-proses yang sangat rumit. Dari sekian banyak bidang-bidang kelautan yang ada
dalam Unclos 1982, maka pembahasan selanjutnya akan melakukan kajian terkait dengan
Kawasan Dasar Laut (International Sea-Bed Area).

B. RUMUSAN MASALAH

a. Area Dasar Laut Internasional

3
b. Pengawasan Area Dasar Laut International

c. Alih teknologi Pada Area Dasar Laut Internasional

d. Lembaga Dan Anggota Internasional Sea-Bed Authority (ISBA)

e. Penyelesaian Sengketa Pada Area Dasar Laut International

f. Hak Dan Kewajiban Indonesia Mengenai Area Dasar Laut International

C. TUJUAN PENULISAN

Untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Hukum Laut dan untuk mengetahui tentang Area
Dasar Laut International, Pengawasan, Alih Teknologi, Lembaga dan anggota ISBA dan penyelesaian
sengketa pada Area Dasar Laut international.

BAB II

PEMBAHASAN

4
A. Area Dasar Laut International
Area Dasar Laut dan tanah dibawahnya yang diatur dalam bab XI konvensi hukum laut
1982 merupakan warisan bersama bersama umat manusia yang tunduk dan patuh pada
aturan internasional (Common Heritage Of Mankind ).
Pada Area Dasar Laut internasioanal tersebut tidak boleh ada negara yang mengklaim
kedaulatan karena semua kekayaan hanya untuk kepentingan seluruh umat manusia yang
dikelola oleh suatu badan Internasional yaitu Badan Otorita Dasar laut Internasional
(International Sea-Bed Authority yang disingkat ISBA) sehingga pengelolaan kawasan dasar
laut tersebut bisa dikelola oleh negara-negara yang mempunyai teknologi berdasarkan
persetujuan ISBA.

B. Pengawasan Area Dasar Laut International


Pengawasan kegiatan dan pengelolaan dasar laut internasional dan tanah di bawahnya
dilaksanakan oleh ISBA (International Sea-Bed Authority) berdasarkan pasal 151 konvensi
hukum laut 1982 yang berbunyi : Activities in the area means all activities of exploration
for and exploration of the resources of the area.

C. Alih Teknologi Pada Area Dasar Laut International


Alih Teknologi (Transfer of Technology) Pengetahuan Ilmiah (Scientific Knowledge) di
lakukan oleh ISBA bekerja sama dengan Negara-negara tertentu biasanya dengan Negara
maju yang hasilnya diperuntukan bagi perusahaan atau Negara tertentu biasanya Negara
berkembang sebagaimana diatur dalam konvensi hukum laut 1982 Pasal 144.

Pasal 144
Alih teknologi

1. Otorita harus mengambil tindakan-tindakan sesuai dengan Konvensi ini:


a) untuk memperoleh teknologi dan pengetahuan ilmiah yang bertalian dengan
kegiatan-kegiatan di Kawasan; dan
b) untuk memajukan dan mendorong alih teknologi dan pengetahuan ilmiah
tersebut kepada Negara-negara berkembang sehingga semua Negara Peserta
mendapat manfaat dari padanya.

2. Untuk tujuan ini Otorita dan Negara-negara Peserta harus bekerjasama dalam
menggalakkan alih teknologi dan pengetahuan ilmiah yang bertalian dengan kegiatan-
kegiatan di Kawasan sehingga Perusahaan dan semua Negara Peserta dapat
memperoleh manfaat dari padanya. Khususnya mereka harus memprakarsai dan
memajukan :
a) program-program untuk alih teknologi ke Perusahaan dan ke Negara-negara
berkembang berkenaan dengan kegiatan-kegiatan di Kawasan, termasuk, inter

5
alia, memudahkan akses Perusahaan dan Negara-negara berkembang pada
teknologi yang relevan, dengan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang
wajar dan pantas.
b) tindakan-tindakan yang diarahkan untuk memajukan teknologi Perusahaan dan
teknologi domestik Negaranegara berkembang, terutama dengan memberikan
kesempatan-kesempatan kepada personil Perusahaan dan Negara-negara
berkembang untuk mengikuti latihan dalam ilmu dan teknologi kelautan dan
berperan serta secara penuh dalam kegiatan-kegiatan di Kawasan.

D. Lembaga dan Anggota International Sea_Bed Authority (ISBA)


Dalam pengaturan dan pengelolaan Area Dasar Laut internasional dan tanah dibawahnya
perlu adanya suatu lembaga. Lembaga yang mengelola kekayaan dasar laut internasional
adalah ISBA (International Sea-Bed Authority). Sesuai dengan Konvensi hukum laut tahun
1982 pasal 156 bahwa semua Negara peserta konvensi adalah anggota ISBA (Ipso Facto)
yang berkedudukan di Jamaika.

International Sea-Bed Authority adalah organisasi otonom yang memiliki fungsi sebagai
alat legitimasi formil untuk menyetujui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di kawasan dasar
laut serta bersama-sama mengelola hasil kekayaannya. Karena diketahui bahwa kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi dikawasan dasar laut menghasilkan industri yang besar, maka
Otorita didirikan sebagai badan yang membatasi dan mencegah kesewenang-wenangan
kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh negara maju.

- Fungsi International Sea-Bed Authority


Pengawasan produksi dilakukan oleh Badan Otorita Internasional atas kekayaan
dikawasan yang di dalamnya terdapat minyak, gas, dan mineral lainnya. Pihak yang
melakukan produksi adalah negara atau perusahaan setelah mendapat izin dari ISBA
tersebut sebagaimana diatur oleh Pasal 151 Konvensi Hukum Laut 1982. Produksi di
Kawasan berupa Aactivities in the Area means all activities of exploration for, and
exploitationof, the resources of the Area

Pasal 151
Kebijaksanaan-kebijaksanaan Produksi

1. (a) Dengan tidak mengurangi sasaran-sasaran yang tercantum dalam pasal 150 dan
untuk melaksanakan ketentuan sub-ayat (h) pasal tersebut Otorita, bertindak melalui
forum-forum yang ada atau pengaturan-pengaturan baru atau perjanjian-perjanjian
yang tepat, dalam mana semua pihak yang berkepentingan berperan serta, termasuk
baik produsen-produsen maupun konsumen-konsumen, harus mengambil tindakan-
tindakan yang perlu untuk meningkatkan pertumbuhan, efisiensi dan stabilitas pasar-

6
pasar komoditi yang dihasilkan oleh mineral-mineral yang berasal dari Kawasan,
pada tingkat harga yang memberi keuntungan bagi para produsen dan layak bagi para
konsumen. Semua Negara Peserta harus bekerja sama untuk mencapai tujuan ini.

(b) Otorita mempunyai hak untuk berperan serta dalam setiap konperensi komoditi
mengenai komoditi-komoditi tersebut dan dimana semua pihak-pihak yang
berkepentingan termasuk para produsen dari konsumen, berperan serta. Otorita
mempunyai hak untuk menjadi pihak dalam setiap pengaturan dan perjanjian yang
dihasilkan konperensi tersebut. Peran serta Otorita dalam setiap badan yang dibentuk
menurut pengaturan-pengaturan atau perjanjian-perjanjian demikian harus bertalian
dengan produksi di Kawasan dan sesuai dengan ketentuanketentuan badan tersebut
yang relevan.

(c) Otorita harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya berdasarkan pengaturan


atau perjanjian sebagaimana disebut dalam ayat ini dengan cara yang menjamin
pelaksanaan yang seragam dan non-diskriminasi mengenai semua produksi mineral-
mineral yang bersangkutan di Kawasan. Dalam melakukan hal itu, Otorita harus
bertindak dengan cara konsisten dengan ketentuan-ketentuan kontrak-kontrak yang
ada dan rencana kerja Perusahaan yang telah disetujui.

2. (a) Selama masa peralihan sebagaimana ditetapkan dalam ayat 3, produksi komersial
tidak dilakukan menurut rencana kerja yang sudah disetujui sampai operator telah
mengajukan permohonan untuk dan telah diberikan ijin produksi oleh Otorita. Ijin
produksi tersebut tidak boleh diajukan atau dikeluarkan untuk masa lebih dari lima
tahun sebelum produksi komersial pertama yang telah direncanakan berdasarkan
rencana kerja dimulai, kecuali dengan memperhatikan sifat dan waktu perkembangan
proyek, ketentuan-ketentuan, peraturanperaturan dan prosedur-prosedur Otorita
menentukan jangka waktu yang lain.

(b) Dalam permohonan ijin produksi, operator harus menyebutkan secara tegas
jumlah nikel setiap tahun yang di harapkan akan didapatkan berdasarkan rencana
kerja yang telah disetujui. Permohonan tersebut harus memuat rencana pengeluaran-
pengeluaran yang dilakukan operator, setelah ia menerima ijin yang diperhitungkan
secara wajar untuk memungkinkannya memulai produksi komersial pada tanggal
yang direncanakan.

(c) Untuk tujuan sub-ayat (a) dan (b), Otorita harus menetapkan syarat-syarat
pelaksanaan yang tepat sesuai dengan Lampiran III pasal 17.

(d) Otorita harus mengeluarkan ijin produksi untuk tingkat produksi yang diajukan,
kecuali jika jumlah tingkat itu dan tingkat-tingkat yang sudah diijinkan melampaui
pagu produksi nikel, sebagaimana yang diperhitungkan menurut ayat 4 dalam tahun

7
dikeluarkannya ijin produksi, selama tiap tahun produksi, yang direncanakan itu
masih berada dalam masa peralihan.

(e) Apabila dikeluarkan, ijin produksi dan permohonan yang disetujui itu akan
menjadi bagian dari renana kerja yang disetujui

(f) Apabila permohonan operator untuk ijin produksi ditolak menurut sub-ayat (d),
setiap waktu operator tersebut dapat mengajukan lagi permohonan kepada Otorita.

3. Masa peralihan akan mulai berlaku lima tahun sebelum tanggal 1 Januari dari tahun
dalam mana produksi komersial pertama direncanakan dimulai berdasarkan rencana
kerja yang disetujui. Apabila produksi komersial pertama ditangguhkan lebih lama
dari tahun yang direncanakan semula, permulaan masa peralihan dan pagu produksi
yang diperhitungkan semula akan disesuaikan dengan penangguhan tersebut. Masa
peralihan akan berlangsung selama 25 tahun atau sampai akhir Konperensi
Peninjauan Kembali sebagaimana disebut dalam pasal 155 atau sampai hari mulai
berlakunya pengaturan-pengaturan atau perjanjian-perjanjian baru seperti tersebut
dalam ayat 1, yang mana saja yang paling dahulu. Otorita akan mulai kembali
memegang kekuasaan yang ditetapkan dalam pasal ini untuk sisa masa peralihan jika
pengaturan-pengaturan atau perjanjian-perjanjian tersebut telah tidak berlaku lagi atau
menjadi tidak efektif lagi karena sebab apapun.

4. (a) Pagu produksi untuk setiap tahun dalam masa peralihan adalah jumlah dari :
(i) perbedaan antara trend line values konsumsi nikel, yang dihitung menurut
sub-ayat (b) untuk satu tahun sebelum tahun dimulainya produksi komersial
pertama dan satu tahun sebelum dimulainya masa peralihan; dan
(ii) enampuluh persen dari perbedaan antara trend line values untuk konsumsi
nikel, yang dihitung menurut sub-ayat (b), untuk tahun ijin produksi yang
diajukan dan satu tahun sebelum tahun produksi komersial yang pertama.
(iii) (b) untuk tujuan sub-ayat (a) :
(i) trend line values yang digunakan untuk menghitung pagu produksi
nikel adalah nilai konsumsi nikel tahunan berdasarkan trend line yang
dihitung selama tahun mana ijin produksi telah diberikan. Trend line
akan didasarkan pada regresi linear dari logaritmus konsumsi nikel
yang sebenarnya untuk masa 15 tahun terakhir untuk mana data
tersebut masih tersedia, dengan faktor waktu sebagai variabel
independen. Trend line ini akan disebut trend line yang asli.
(ii) apabila tingkat pertambahan tahun trend line yang asli kurang dari 3
persen, maka trend line yang digunakan untuk menentukan jumlah
yang disebut dalam sub-ayat (a) sebaliknya adalah satu tingkat
pertumbuhan/garis yang melampaui trend line yang asli pada nilai
untuk tahun pertama dari masa waktu 15 tahun yang relevan, dan

8
bertambah sebesar 3 persen setahun; tetapi dengan ketentuan bahwa
pagu produksi yang ditentukan untuk tiap tahun selama masa peralihan
bagaimanapun tidak boleh melebihi selisih antara trend line values
yang asli untuk tahun itu dan trend line values yang asli untuk satu
tahun sebelum dimulainya masa peralihan.

5. Otorita harus mencadangkan untuk produksi pertama Perusahaan sejumlah 38.000


metrik ton nikel dari pagu produksi yang ada di hitung menurut ayat 4.

6. (a) seorang operator setiap tahunnya boleh memproduksi kurang dari atau sampai 8
persen lebih dari tingkat produksi tiap tahun mineral-mineral yang berasal dari nodul-
nodul polimetalik sebagaimana ditentukan dalam ijin produksinya, dengan ketentuan
bahwa jumlah produksi secara keseluruhan tidak boleh lebih dari apa yang ditentukan
dalam ijin. Setiap kelebihan di atas 8 persen hingga 20 persen pada setiap tahun, atau
setiap kelebihan dalam tahun pertama dan tahun-tahun berikutnya sesudah dua tahun
berturut-turut dalam waktu mana telah terjadi kelebihan, harus dirundingkan dengan
Otorita dimana operator diharuskan untuk mendapatkan ijin produksi tambahan untuk
menutup kelebihan tadi.
(b) permohonan-permohonan untuk ijin produksi tambahan tersebut harus
dipertimbangkan oleh Otorita hanya sesudah semua permohonan yang belum
diputuskan yang diajukan oleh operator-operator yang belum menerima ijin
produksi telah ditangani dan setelah mempertimbangkan pula sepatutnya
kemungkinan pemohonpemohon lainnya. Otorita harus berpegang pada asas tidak
melebihi jumlah produksi total yang diijinkan menurut pagu produksi tiap tahun
dalam masa peralihan. Otorita tidak akan mengijinkan produksi berdasarkan
rencana kerja manapun untuk suatu jumlah lebih dari 46.500 metrik ton nikel tiap
tahun.
7. Tingkat-tingkat produksi logam-logam lain seperti tembaga, cobalt dan mangan yang
diperoleh dari nodul-nodul polimetalik yang diambil berdasarkan suatu ijin produksi,
tidak boleh lebih tinggi dari tingkat yang akan diproduksi seandainya operator telah
memproduksikan tingkat tertinggi nikel dari nodul-nodul tersebut menurut pasal ini.
Otorita harus menetapkan ketentuan-ketentuan, peraturan-peraturan dan prosedur-
prosedur sesuai dengan Lampiran III pasal 17 untuk melaksanakan ketentuan ayat ini.

8. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan praktek-praktek


ekonomi yang tidak adil berdasarkan perjanjian-perjanjian perdagangan multilateral
yang relevan, harus diterapkan dalam eksplorasi dan eksploitasi mineral-mineral yang
berasal dari Kawasan. Dalam penyelesaian sengketa yang timbul berdasarkan
ketentuan ini, Negara-negara Peserta yang merupakan Pihak-pihak pada perjanjian-
perjanjian perdagangan multilateral tersebut harus menggunakan Prosedur-prosedur
Penyelesaian sengketa dalam Perjanjian-Perjanjian tersebut.

9
9. Otorita mempunyai kekuasaan untuk membatasi tingkat produksi mineral-mineral
yang berasal dari kawasan, selain mineral-mineral yang berasal dari nodul-nodul
polimetalik, berdasarkan syarat-syarat dan dengan menggunakan metode-metode
yang dianggap memadai dengan menetapkan Peraturan-Peraturan yang sesuai dengan
Pasal 161 ayat 8.

10. Atas rekomendasi Dewan berdasarkan nasehat dari Komisi Perencanaan Ekonomi.
Majelis harus menetapkan sistem ganti rugi atau mengambil tindakan-tindakan lain
berupa bantuan penyesuaian ekonomi termasuk kerjasama dengan badan-badan
khusus dan organisasi-organisasi internasional lain untuk membantu Negara-negara
berkembang yang menderita akibat buruk yang berat terhadap penerimaan ekspor
atau ekonomi mereka yang diakibatkan oleh penurunan harga mineral atau jumlah
ekspor mineral itu, sejauh penurunan tersebut disebabkan oleh kegiatan-kegiatan di
Kawasan. Otorita atas permintaan harus memprakarsai penelaahan mengenai
masalahmasalah yang dihadapi oleh Negara-negara tersebut yang mungkin terkena
pengaruh paling berat, dengan maksud untuk memperkecil kesulitan-kesulitan dan
membantu mereka dalam penyesuaian ekonominya.

Kelembagaan yang mengatur pengelolaan kekayaan di Kawasan adalah dilakukan


oleh Badan Otorita Internasional atau ISBA. Pasal 156 Konvensi Hukum Laut 1982
menyatakan bahwa semua negara peserta Konvensi adalah ipso facto anggota ISBA
yangberkedudukan di Jamaika.ISBA dapat membentuk pusat-pusat regional yang
diperlukan bagi pelaksanaan fungsi Otorita. Badan Otorita ini mempunyai badan-badan
utama (principalorgan), yaitu Majelis (an Assembly), Dewan (a Council), Sekretariat (a
Secretariat), danPerusahaan (the Enterprise).

Dalam kerangka penyelesaian sengketa tentang pemanfaatan kekayaaan di


Kawasan tersebut telah dibentuk Kamar Sengketa Dasar Laut yang merupakan bagian
dari Pengadilan Internasional Hukum Laut (Sea-Bed Disputes Chamber of the
International Tribunal For The Law of the Sea). Kamar Sengketa Dasar Laut tersebut
mempunyai jurisdiksi atas kegiatan dikawasan yang dilakukan oleh Negara, Perusahaan,
organisasi internasional atau kontrak-kontrak antara ISBA dengan pihak lainnya
sebagaimana diatur oleh Pasal 186-187 Konvensi Hukum Laut 1982.

Demikian juga Chamber harus memberikan pendpat berupa nasihat (advisory


opinion) atas permintaan Majelis atau Dewan mengenai persoalan hukum yangtimbul

10
dalam ruang lingkup kegiatan di Kawasan sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 191
Konvensi Hukum Laut 1982.

E. Penyelesaian Sengketa Pada Area Dasar Laut International


Apabila terjadi permasalahan mengenai pengelolaan dasar laut internasional maka telah
dibentuk suatu kamar sengketa dasar laut yang merupakan bagian dari pengadilan
internasional hukum laut (Sea-Bed disputes chamber of the international tribunal for the law
of the sea). Kamar sengketa dasar laut tersebut mempunyai huridiksi atas kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan, Negara, Organisasi Internasional, sebagaimana diatur dalam
pasal 186-187 konvensi hukum laut 1982. Chamber harus memberikan pendapat berupa
nasehat (Advisory Opinion) atas permintaan majelis atau dewan mengenai persoalan hukum
yang timbul dalam ruang lingkup kegiatan di area dasar laut sebagaimana tercantum didalam
pasal 191 konvensi hukum laut 1982.

Pasal 191
Pendapat berupa nasihat

Kamar Sengketa Dasar Laut harus memberikan pendapat berupa nasehat atas permintaan
Majelis atau Dewan mengenai persoalan hukum yang timbul dalam ruang lingkup kegiatan
mereka. Pendapat demikian harus diberikan sebagai suatu hal yang mendesak.

F. Hak dan Kewajiban Indonesia Mengenai Area Dasar Laut Internasional


Area dasar laut international dan tanah dibawahnya dibawah pengelolaan Internatiaonal
Sea-Bed Authority ( ISBA ) mempunyai staus Common Heritage Of Mankind yaitu semua
kekayaan di area dasar laut international dalah warisan bersama uamat manusia. Kewajiban
Indonesia adalah berpartisipasi dalam ekploitasi dan eksplorasi bekerja sama dengan Negara
lain, Organisasi internasional atau perusahaan dalam negeri atau asing untuk mengelola
dasar laut internasional bila mampu, dan sebagai anggota ISBA turut serta menngawasi
Kegiatan di Area laut internasional.

Apabila terjadi permasalahan mengenai pengelolaan dasar laut internasional maka telah
dibentuk suatu kamar sengketa dasar laut yang merupakan bagian dari pengadilan
international hukum laut (Sea-Bed Disputes Chamber of The International Tribunal For The
Law of The Sea).

- Peran Indonesia mengenai Area Dasar Laut Internasional:


Indonesia berkonsentrasi menjaga dan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam
di laut baik hayati maupun nonhayati yang berada di bawah kedaulatan dan jurisdiksi
Indonesia, seperti di perairan kepulauan, laut territorial, zona ekonomi eksklusif, dan
landas kontinen.

11
Pemerintah Indonesia aktif mengikuti sidang ISBA yang dilakukan setiap tahun,
untuk mengikuti perkembangan-perkembangan mengenai potensi pertambangan di dasar
laut.

- Hak dan Kewajiban Indonesia


Kawasan yang berada di luar jurisdiksi nasional (landas kontinen) dan berada di
bawah pengelolaan Badan Otorita Dasar Laut Internasional atau ISBA itu mempunyai
status common heritage of mankind, yaitu semua kekayaan di Kawasan adalah warisan
bersama umat manusia. Oleh karena itu tidak ada kewajiban khusus yang dimiliki oleh
setiap Negara termasuk Indonesia. Kewajiban Indonesia adalah berpartisipasi dalam
eksplorasi dan eksploitasi bekerja sama dengan negara, organisasi internasional, atau
perusahaan dalam negeri atau asing.

BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN

Area dasar laut adalah dasar laut , dasar samudra dan tanah dibawahnya di luar yuridiksi
nasional. Kekayaan Area Dasar Laut internasional adalah segala kekayaan mineral yang
bersifat padat , cair atau gas diarea / kawasan atau tanah dibawah dasar laut termasuk bahan
polimetalik yang kemudian semua hasil dari kekayaan dari area / kawasan tersebut di sebut
mineral-mineral.

Apabila terjadi permasalahan mengenai pengelolaan dasar laut internasional maka telah
dibentuk suatu kamar sengketa dasar laut yang merupakan bagian dari pengadilan
internasional hukum laut (Sea-Bed Disputes Chamber of The International Tribunal For The
Law of The Sea).

12
DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Bram, Deni. Hukum Lingkungan Hidup. Bekasi: Gramata, 2014

Daud Silalahi, M. Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakkan Hukum Lingkungan Indonesia.
Bandung: Alumni, 2001

Hardjasoemantri, Koesnadi. Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991.

Sunggono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007

Taufik Makarao, Mohammad. Aspek-Aspek Hukum Lingkungan. Jakarta: PT. Indeks, 2006

Internet:
http:// beritadaerah.co.id

13
14