Anda di halaman 1dari 6

I.

Formula umum suatu eliksir :

1. Zat aktif
Zat Aktif Obat adalah unsur dalam obat yang memiliki khasiat
menyembuhkan penyakit (Deviarny et Al, 2012).
2. Bahan tambahan, terdiri dari :
a) Pelarut

Biasanya dalam sediaan larutan digunakan air suling sebagai pelarut


(Depkes RI, 1979). Atau dapat digunakan campuran pelarut yang saling
bercampur (Depkes RI, 1995).

Sebagai pelarut utama pada eliksir digunakan etanol yang


dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan
Gliserol, sorbitol dan propilenglikol; sebagai pengganti gula dapat
digunakan sirop gula (Depkes RI, 1979).

b) Kosolven

Untuk obat-obat yang akan dibuat dalam sediaan berbentuk larutan


harus diperhatikan kelarutannya karena dapat mempengaruhi absorbsinya.
Penambahan pelarut atau kosolven merupakan salah satu upaya
peningkatan kelarutan suatu obat yang mempunyai kelarutan kecil atau
praktis tidak larut dalam air (Sumarny, et al, 2015).

Sistem kosolven bekerja dengan mengurangi tegangan antar muka


antara larutan dan zat terlarut hidrofobik. Kosolven memiliki gugus
pemberi dan atau penerima ikatan hidrogen serta daerah hidrokarbon yang
kecil. Daerah ikatan hidrofilik hidrogen memastikan kelarutan air,
sementara daerah hidrofobik hidrokarbon mengganggu ikatan hidrogen air,
mengurangi daya tarik antarmolekul keseluruhan air. Kosolven dapat
mengganggu ikatan antar molekul pada air sehingga meningkatkan
kelarutan senyawa hidrofobik (Sumarny, et al, 2015).

Kosolven yang biasa digunakan dalam suatu sediaan adalah seperti


etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah rutin
digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan
pembawa berair. Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat
dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa
juga peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus
penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan
berair (Yalkowsky, 1981).

c) Pengawet

Pertumbuhan jamur dan fermentasinya dalam eliksir dapat


dihambat jika pembawa mengandung lebih dari 20% alkohol, gliserol
dan propilen glikol (Coopers , 1975).

Konsentrasi pengawet untuk sediaan oral :

Metil paraben 0,015-0,2%


Propil paraben 0,01-0,02%
Asam benzoat 0,01-0,10% untuk oral solution, dan 0,15% untuk oral
sirup
Asam dan garam sorbat 0,05-0,2% (Rowe, 2003).

Kriteria pengawet yang ideal

Efektif terhadapmikroba dan berspektrum luas


Stabil secara fisika, kimia, dan mikrobiologi terhadap life time produk
Tidak toksik, cukup melarut, tersatukan dengan komponen formula
lainnya, rasa dan bau dapat diterima pada konsentrasi yang digunakan
(Lachman, 1986).

Sebagai pengawet dapat digunakan turunan hidroksi-benzoat,


misalnya metil p- hidroksibenzoat dan propil p- hidroksibenzoat.
Pemakaian pengawet ini didasarkan atas rentang kerja pengawet tsb pada
pH 4-8. Kombinasi keduanya sering digunakan, karena dapat memperluas
spektrum kerja menjadi anti jamur dan anti bakteri (Lachman, 1986).

d) Pemanis
Penambahan bahan pemanis digunakan untuk sirup yang mengandung
pewangi, gliserol, sorbitol, sirup onvert dan Na sakarin. Sakarin dapat
membantu menutupi rasa pahit dari sediaan antibiotika seperti neomisin
(Coopers, 1975).

Pemanis yang biasa digunakan pada eliksir adalah gula atau pemanis
lain sebagai pengganti gula dapat digunakan sirupus simpleks (Depkes RI,
1979). Dapat juga digunakan gliserin dengan konsentrasi 20% (Rowe,
2009).

Catatan : Larutan gula encer merupakan medium yang baik untuk


pertumbuhan cendawan, ragi dan jasad renik lain, karena itu semua alat
yang dipakai dalam pembuatan sirup harus benar-benar bersih.
Pertumbuhan jasad renik umumnya diperlambat jika kadar sakarosa lebih
besar dari 65%, tetapi kepekatan ini memungkinkan terjadinya
penghabluran sukrosa. Selain itu dapat menyebabkan caplocking pada
tutup botol. Oleh karena itu kadar yang dipakai sekitar 20-35% saja.

e) Perasa

USP XVIII NF XIII


Aromatic elixir Acacia syrup
Cherry syrup Aromatic Eriodictyon syrup
Citric acid syrup High alkoholic elixir
Cocoa syrup Iso-alkoholic elixir
Glycyrrhizae syrup Low alkoholic elixir
Orange syrup Tolu balsam syrup
Raspberry syrup Tolu balsam tincture
Wild cherry syrup

Rasa Flavour

Asin Vanila, maple, peach, apricot


Pahit Cherry, walnut, coklat

Manis Buah-buahan, vanila, berry

Asam Jeruk, rootbeer, rasberry

f) Pewarna

Bahan pewarna yang biasa digunakan dalam eliksir adalah dengan


konsentrasi yang biasa digunakan 0,01-0,1% (Coopers, 1975).

Zat warna yang biasa digunakan dalam eliksir :

larutan Hasil Warna Eliksir


Amaranth Magenta red Paracetamol paed
Seny tartrazin Safiron Streptomisin paed
Green S Hijau Ephedrin, Isoni
Neomisin, Fenobar
Piperazin Sitrat

g) Pembau/pewangi

Untuk sediaan eliksir, bahan pemanis dan pewangi rasa buah lebih
banyak digunakan daripada pembawa aromatik dan ekstrak cairan
liquorice. Pewangi rasa buah yang sering digunakan adalah:

- Black currant syrups dalam Eliksir Chloral paed.


- Juice Raspberry pekat dengan sirup invert dalam Parasetamol Eliksir.
- Lemon spirit dengan sirup dan sirup invert dalam Ephedrin Eliksir.
- Compound Orange Spirit dengan gliserol dalam Phenobarbital Eliksir
(Coopers, 1975).

Adapun beberapa pewangi yang biasa digunakan dalam bidang


farmasi antara lain : Anethole, Benzaldehide, Ethyl vanillin, Mentol,
Metil salisilat, Monosodium Glutamat, Peppermint oil, Peppermint spirit,
Rose oil, Rose water, stronger, Thymol, Vanillin, dan Monte-Bove
peppermint air (Lachman, 1986).

h) Anti caplocking agent

Untuk mencegah kristalisasi gula pada daerah leher botol (cap


locking), maka umumnya digunakan alkohol polyhydric seperti
sorbitol, gliserol, atau propilenglikol (Aulton, 1988).

Untuk anticaplokcing agent dapat juga digunakan sorbitol (15-30%),


fruktosa atau larutan maltitol (Rowe, 2009).

II. Formula Eliksir Paracetamol

Tiap 5 mL mengandung :
Acetaminophenum 120 mg
Glycerolum 2,5 mL
Propilenglycolum 500 L
Sorbitol solution 70 % 1,25 mL
Aethanolum 500 L
Zat tambahan yang cocok qs
Aquades ad 5 mL
(Depkes RI, 1978).

III. Monografi dari bahan eliksir Paracetamol


(Lafie)
Daftar Pustaka

Aulton, M.E. 1988. Pharmaceutics, The Science of Dosage Form


Design.London : ChurcillLivingstone.

Cooper, J. W., Gunn, 1975, Dispensing for Pharmaceutical Students, Twelfth Ed.
10, ltd, London : Pitman Medical Publishing co.

Depkes RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta : Depkes RI.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.

Deviarny, Chris, Henny Lucida, dan Safni. 2012. Uji Stabilitas Kimia Natrium
Askorbil Fosfat Dalam Mikroemulsi Dan Analisisnya Dengan HPLC.
Jurnal Farmasi Andalas. Vol 1(1). ISSN : 2302-8254.

Lachman, L., Lieberman, H.A., and Kanig, J.L.,.1986. The Theory and Practice
of Industrial Pharmacy,2nd ed. Philadelphia. Lea and Febiger.

Rowe. 2003. Handbook of Pharmaceutical Excipients 3rd Eddition. London : RPS


Publishing.

Rowe. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Eddition. London : RPS


Publishing.

Sumarny, Ros, Liliek Nurhidayati, Siti Sofiah, Yati Sumiyati, Fransiska Diana
Santi. 2015. Efek Antioksidan Larutan Kosolven Ekstrak Kulit Buah
Manggis (Garcinia mangostana L.). Jurnal Keefarmasian Indonesia. Vol 13
(1). Hlm 35-39. ISSN : 1693-1831

Yalkowsky, S.H. 1981. Techniques of Solubilization of Drugs. New York :


Marcel Dekker Inc.

Anda mungkin juga menyukai