Anda di halaman 1dari 56

PROFIL PELAYANAN KESEHATAN DI

UPTD PUSKESMAS KUTA ALAM


PERIODE 6 MARET- 18 MARET 2017

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior Pada Bagian Kedokteran Keluarga
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Disusun Oleh :
Meutia Handini
Ety Suhira
Amelia Wijaya Agustin
Dwinka Syafira Eljatin
Dwi Priyanto
Suci Dika Utari

Pembimbing:
dr. Prita Amelia Siregar
dr. Erliana, M.Kes
dr. Wilda Febrya Minin

SMF/ BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karuniaNya sehingga tim penulis dapat menyelesaikan Laporan Pelayanan
Kesehatan di Puskesmas Kuta Alam periode 6 Maret- 18 Maret 2017.Sholawat
dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari zaman jahiliyah ke zaman Islamiyah juga kepada sahabat dan keluarga
beliau.
Penulis berterima kasih kepada kepala UPTD Puskesmas Kuta alam dr.
Prita Amelia Siregar,dokter pembimbing dr. Erliana, M.Kes dan dr. Wilda Febrya
Minin beserta seluruh staf yang telah banyak membimbing kami mulai dari
pelaksanaan tugas hingga pembuatan laporan ini, juga kepada teman sejawat
dokter muda yang telah turut memberikan kontribusinya sehingga semua tugas
dapat dilaksanakan dengan baik.
Penulis menyadari banyak kekurangan yang ada pada tulisan ini, sehingga
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan dan
perbaikan dimasa yang akan datang.

Banda Aceh, Maret 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan dasar yang amat penting di


indonesia. Puskesmas merupakan unit yang strategis dalam mendukung
terwujudnya perubahan status kesehatan masyarakat menuju peningkatan derajat
kesehatan yang optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal tentu
diperlukan upaya pembangunan sistem pelayanan kesehatan dasar yang mampu
memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat selaku konsumen dari pelayanan
kesehatan dasar tersebut.
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan
dalam sistem pelayanan kesehatan, harus melakukan upaya kesehatan wajib
(basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuaikan dengan
kondisi, kebutuhan, tuntutan, kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah
daerah setempat. Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya kesehatan yang
bersifat menyeluruh dan terpadu dilaksanakan melalui upaya peningkatan,
pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan disertai dengan upaya penunjang yang
diperlukan. Ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitas,
sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan.

1.2 Tujuan Penulisan


Fakultas Kedokteran dalam sistem pendidikannya berorientasi kepada
masyarakat, dalam hal ini mahasiswa yang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior
pada bagian family medicine memiliki kesempatan untuk ditempatkan di
Puskesmas.

Tujuan penulisan laporan ini adalah:


Tujuan Penulisan laporan
1. Agar peserta yang sedang menjalani kepaniteraan klinik senior dapat lebih
memahami konsep dasar dan aplikasi pelayanan kesehatan di tingkat
puskesmas
2. Agar peserta yang sedang menjalani kepaniteraan klinik dapat membangun
karakter dan mental sebagai seorang dokter yang memberikan pelayanan
kesehatan yang terbaik tidak hanya di tingkat pengobatan ketika kontak
langsung dengan pasien namun juga di tingkat promosi kesehatan dan
tindakan preventif dalam peran serta mengupayakan kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya
3. Agar peserta yang sedang menjalani kepaniteraan klinik dapat mengetahui
manajemen suatu puskesmas, baik dalam hal cakupan, program, serta hal
lain yang terkait dengan hal yang dapat mewujudkan visi dan misi suatu
puskesmas.
4. Sebagai salah satu bentuk laporan sederhana profil singkat dan
pertanggungjawaban kegiatan di kepaniteraan Klinik Senior Stase Family
Medicine.
5. Sebagai bahan pembelajaran mengetahui karakteristik penduduk dan pola
persebaran penyakit di Kecamatan Kuta alam.
BAB II
DATA PUSKESMAS KUTA ALAM

1. Demografi
UPTD Puskesmas Kuta Alam adalah puskesmas induk yang terletak di jalan
Tgk. Hasyim Banta Muda di Kelurahan Mulia. Bangunan Puskesmas Kuta Alam
memiliki luas tanah berjumlah 2.100 m2 dan berjarak 2 km dari pusat Kota
Banda Aceh atau 1,5 km dari Rumah Sakit Zainal Abidin, Provinsi Aceh.
Puskesmas Kuta Alam Pertama kali dibangun tahun 1975. Secara geografis
puskesmas Kuta Alam memiliki batas-batas wilayah seperti berikut:
1. di sebelah barat, wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam berbatasan dengan
Kecamatan Kuta Alam.
2. di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Syiah Kuala
3. di sebelah utara dengan Selat Malaka
4. di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Baiturrahman.
Wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam terdiri dari 6 (enam) gampong dengan
luas wilayah administratif adalah 3.28,4 hektar. Gampong tersebut terdiri dari
Peunayong, Laksana, Keuramat, Kuta Alam, Beurawe, dan Mulia. Dari sumber
data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk yang berada di wilayah kerja
tersebut adalah 27.530 jiwa yang terdiridari 14.265 jiwa laki-laki dan 13.265 jiwa
perempuan. Jumlah Pasangan Usia Subur 5.121 jiwa dan jumlah Wanita Usia
Subur berjumlah 7.158 jiwa.
Gambar2.1: Peta Lokasi Puskesmas Kuta Alam
Gambar 1.3 : Visi, Misi, Motto, Kebijakan Mutu Puskesmas Kuta Alam
Grafik 2.1Data Jumlah Penduduk setiap gampong di wilayah kerja
puskesmas kuta alam tahun 2015

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk terbanyak


ada di Beurawe dengan total penduduk 5.817 jiwa sedangkan desa dengan jumlah
penduduk paling sedikit ada Peunayong dengan jumlah penduduk 2.799 jiwa.
Untuk mencukupi pelayanan kesehatan pada wilayah kerja puskesmas Kuta
Alam, diperlukan sarana dan prasarana yang dapat membantu kegiatan atau upaya
kesehatan diluar puskesmas. Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di
Puskesmas Kuta alam adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan yang ada di Wilayah
Puskesmas Kuta alam

No Sarana Jumlah Keterangan


1 Puskesmas Pembantu 1 1 Pustu Beurawe
2 Poskesdes 0

3 Posyandu 7

4 Klinik Bersalin 2

5 Praktek Dokter Swasta 38

6 Praktek Bidan Swasta 0

7 SD/MI 9

8 SMP/MTs 6
9 SMA 9

10 Pesantren 2

11 PAUD 21

2. Tenaga Kesehatan Puskesmas Kuta Alam


Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
kesehatan serta memiliki pengetahuandan atau keterampilan melalui pendidikan
dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.Situasi ketenagaan di Puskesmas Kuta alam setiap
tahun selalu berubah karena adanya pegawai yang masuk dan yang
pindah.Keadaan ketenagaan pada tahun 2015 dapat dilihat pada grafik di bawah
ini.
Tabel 2.2 Status Kepegawaian yang ada di Wilayah Puskesmas Kuta alam

No Status Kepegawaian Jumlah


1 PNS 35
2 PTT 6
3 Kontrak 3
4 Petugas kebersihan 1
Total 45
Sumber : Puskesmas Kuta alam, 2015

BAB III
UPAYA PELAYANAN PUSKESMAS KUTA ALAM

Sesuai dengan tenaga dan fasilitas yang ada, maka pelaksanaan


pelayanankesehatan yang dilaksanakan terdiri dari upaya kesehatan wajib dan
upayakesehatan pengembangan.Upaya kesehatan wajib terdiri dari promosi
kesehatan, kesehatanlingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga
berencana, perbaikangizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular danpengobatan.Upaya kesehatan pengembangan yang dilaksanakan di
kuta alam adalah kesehatan usia lanjut, kesehatan mata/pencegahan
kebutaan,kesehatan jiwa, usaha kesehatan gigi dan mulut, perawatan
kesehatanmasyarakat, bina kesehatan tradisional, bina kesehatan kerja,
laboratoriumsederhana, peran serta masyarakat, usaha kesehatan masyarakat dan
pencacatandan pelaporan.

3.1 Upaya Kesehatan Wajib


1. Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah penyuluhan kesehatan masyarakat yang bertujuan
agar untukmeningkatkanpengetahuan, perubahan sikap dan tindakan
individu/masyarakat dalam bidangkesehatan, sehingga mampu melaksanakan cara
hidup sehat bagi diri sendirimaupun lingkungannya. Setiap petugas harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang teknis medis dan bidang
penyuluhan kesehatan meliputi:
a. Keluarga berencana
b. Makanan ibu hamil dan menyusui
c. Gizi pada anak balita
d. Kebersihan lingkungan dan personal hygine
e. Pembinaan kesehatan remaja
Kegiatan-kegiatan yang dijalankan adalah pembinaan kesehatan melalui
penyuluhan di dalam gedung(puskesmas) dan luar gedung (posyandu, sekolah,
desa dan lain-lain), yang pelaksanaannya bisa melibatkan perorangan/kelompok.
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
Keadaan lingkungan fisik dan biologis penduduk Indonesia boleh dikatakan
belum baik dan memadai, hanya sebagian kecil penduduk yang menikmatai air
bersih dan fasilitas penyehatan lingkungan. Tempat pengelolaan makanan dan
minuman, tempat-tempat umum, pembinaan rumah sehat serta tempat
pembuangan sampah menjadi perhatian utama dari program kesehatan
lingkungan.
Upaya kesehatan lingkungan melalui kegiatan sanitasi dasar. Kegiatanyang
dilakukan selalu mengikut sertakan peran serta masyarakat dan
keterpaduanpengelolaan melalui analisis dampak lingkungan yang bertujuan
untuk merubah,menanggulangi dan menghilangkan unsur fisik yang dapat
memberikan pengaruhjelek terhadap kesehatan masyarakat dengan harapan angka
kesakitan terutamapenyakit menular dapat diturunkan atau dihilangkan.Adapun
kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar tercapai tujuan sepertiyang disebutkan di
atas adalah:
a. Penyehatan air bersih
b. Penyehatan pembuangan kotoran
c. Penyehatan lingkungan pemukiman
d. Pengawasan peredaran dan penggunaan pestisida
e. Pengawasan pengelolaan sampah
f. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum dan tempat pembuatan
penjualanmakanan minuman.

3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Serta Keluarga Berencana


A. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Upaya kesehatan ibu anak adalah upaya dibidang kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu melahirkan, ibu
menyusui, bayi, anak balita serta anak prasekolah. Salah satu unsur yang penting
untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan di antara ibu, bayi dan anak
sekolah adalah memberikan pemeliharaan yang cukup baik pada waktu hamil
yang dimulai sedini mungkin. Penurunan angka kematian ibu maternal dan anak
balita serta penurunan angka kelahiran merupakan sasaran prioritas dalam
pembangunan di bidang kesehatan.
Tujuan rogram KIA adalah tercapainya kemampuan hidup sehat
melaluipeningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarga untuk
menujuNorma Kecil Keluarga Bahagia Sejahtera (NKKBS) serta meningkatnya
derajatkesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal
yangmerupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.Adapun
Kegiatan KIA di puskesmas kuta alam meliputi:
A.kegiatan di dalam gedung
a. Pemeriksaan ibu hamil, bersalin, menyusui, bayi dan balita.
b. Pemeriksaan imunisasi terhadap ibu dan balita.
c. Penyuluhan gizi setiap kunjungan ibu hamil dan balita.
d. Pemberian Vitamin A dan tablet besi (Fe)
e. Pendeteksian dan pemeliharaan ibu hamil dan balita resiko tinggi.
f. membuat laporan bulanan dari hasil program dan pembuatan PWS.
B.kegiatan di luar gedung (Posyandu)
a. Penyuluhan bagi ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu menyusui
b. Pemeriksaan ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita.
c. Pemberian imunisasi TT.
d. Pemberian Tablet besi (Fe)
e. meningkatkan pengetahuan dan peran serta kader posyandu dalam
menunjang program kesehatan ibu dan anak.
B. Upaya Keluarga Berencana
Keberhasilan pembangunan, baik pembangunan fisik maupun ekonomi pada
hakekatnya tergantung pada unsur manusianya. Perkembangan penduduk yang
tinggi dapat menghambat pertumbuhan hasil pembangunan, termasuk
pembangunan kesehatan. Oleh kerena itu pengendalian pertumbuhan penduduk
melalui program keluarga berencana (KB) merupakan hal yang sangat penting.
Keberhasilan KB akan berpengaruh secara timbal balik dengan penurunan
angka kematian bayi, angka kematian anak balita dan angka kematian ibu. Oleh
karena itu diperlukan peningkatan program KB, terutama melalui upaya
pelestarian pemakaian alat kontrasepsi efektif terpilih yang diikuti dengan
pengayoman medis bagi peserta/akseptor yang memerlukan. Kegiatan KB di
puskesmas Kuta Alam adalah:
a. Komunikasi informasi dan edukasi
b. Pembinaan dan pengayoman medis kontrasepsi peserta KB
c. Pelayanan kontrasepsi kepada akseptor dengan metode yang diinginkan
d. Pencatatan dan pelaporan.
4. Perbaikan Gizi Masyarakat
Program perbaikan gizi keluarga bertujuan untuk menurunkan
angkapenyakit gizi kurang yang umumnya banyak diderita oleh masyarakat
yangberpenghasilan rendah (baik di pedesaan maupun perkotaan), terutama pada
anakbalita dan wanita. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, dilakukan
beberapausaha antara lain melalui perbaikan pada konsumsi pangan yang makin
beranekaragam, seimbang dan bergizi. Sasaran pelaksanaan program usaha
peningkatangizi adalah:
a. Penurunan Prevalensi KKP ( kurang kalori protein) pada balita
b. Penurunan Prevalensi kurang vitamin A di daerah rawan dengan
pemberian vitamin A dosis tinggi.
c. Penurunan Prevalensi anemia gizi pada ibu hamil melalui perbaikan gizi
keluarga (UPGK)
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut dilakukan usaha-usahasebagai
berikut:
a. Penyuluhan gizi
b. Penimbangan bayi/balita
c. Pemberian makanan tambahan (PMT)
d. Pemberian Vitamin A dosis tinggi untuk balita dan ibu hamil setiap bulan
Februari dan Agustus
e. Pemberian tablet besi (Fe) untuk ibu hamil dan menyusui
f. Pelatihan dan pembinaan Posyandu
g. Pemantauan/survei konsumsi gizi
h. Melaksanakan PWS Gizi/Pemantauan Status Gizi (PSG)

5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular


Pemberantasan penyakit menular berarti menghilangkan atau merubahcara
berpindahnya penyakit menular dan/atau infeksi yang dapat
mengakibatkanterjadinya kesakitan, kecacatan bahkan kematian.Untuk mencapai
tujuan tersebut P2M telah melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Kegiatan pencegahan penyakit yaitu imunisasi
b. Kegiatan pengobatan penyakit, yaitu pengobatan terhadap penyakit
ISPA,Diare, TB Paru, Penyakit Kusta dan penyakit akibat gigitan hewan
(kera, anjingdan kucing).
c. Kegiatan pencegahan dan pemberantasan vektor, yaitu kegiatan
berupapenyuluhan, pemberantasan sarang nyamuk, pemberian abatisasi
danpenyemprotan/fogging terhadap nyamuk demam berdarah dan
nyamuk malaria.Dengan demikian usaha P2M adalah kegiatan yang
menitikberatkan padakegiatan pencegahan dan penanggulangan berupa
penyuluhan tentang penyakitmenular dan akibatnya serta pelayanan
imunisasi bagi bayi, anak, calon pengantindan ibu hamil. Kegiatan
penanggulangan adalah pengobatan terhadap penderita,mengadakan
kunjungan rumah dan rujukan untuk kasus-kasus yang
memerlukanpenanganan yang lebih lengkap.
d. Pelacakan kasus bila ada kasus KLB (Kejadian Luar Biasa)
Kegiatan program TB di puskesmas kuta alam, setiap pasien yang memiliki
riwayat batuk yang berkepanjangan (lebih dari 2 minggu) dilakukan screening TB
dengan cara pemeriksaan sputum. Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari, jika
hasil BTA positif, maka dilakukan edukasi ke pasien untuk melakukan foto
thoraks untuk mengkonfirmasi diagnosis TB.

6. Upaya Pengobatan
Usaha pengobatan adalah segala bentuk kegiatan pelayanan pengobatanyang
diberikan kepada seseorang untuk menghilangkan penyakit atau gejala-gejalanya,
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan cara yang khusus untukkeperluan
tersebut. Bentuk pelayanan pengobatan di puskesmas kuta alam diarahkan pada
kemampuan pengenalan diagnosa penyakit dan pengobatan sederhana. Pasien
yang berkunjung ke puskesmas kuta alam sebagian besar adalah pasien berobat
jalan. Bila penderita memerlukan tindakan dan terapi lebih lanjut, penderita akan
di rujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki sarana kesehatan yang lebih lengkap.

4.Upaya Kesehatan Pengembangan


Upaya kesehatan pengembangan yang dilaksanakan di PuskesmasKuta alam
adalah:
1. Upaya kesehatan sekolah
Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan serta
membina dan mengembangkan nilai dan tingkah laku menuju hidup sehat pada
anak usia sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengadakan kunjungan-
kunjungan ke sekolah-sekolah dengan melakukan:
a. Penyuluhan kesehatan dan penyelenggaraan pendidikan kesehatan
b. Melakukan pemeriksaan umum meliputi mata, hidung, telinga, kuku,
gusi, gigi, mulut, serta persona hygine secara keseluruhan.
c. Pengukuran tinggi badan dan berat badan
d. Kegitan perbaikan gizi melalui PMT-AS
e. Pelatihan dokter kecil
f. Penjaringan anak sekolah
g. Imunisasi (BIAS)DT, Campak dan TT
h. Pengobatan
i. Rujukan
Hambatan yang dirasakan adalah terbatasnya dana dan belum tersedianya
UKS pada sekolah yang berada di wilayah kerja puskesmas kuta alam.
2. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
Usaha Kesehatan Masyarakat merupakan perpaduan antara keperawatan dan
kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta masyarakat yang aktifdan
mengutamakan peningkatan pelayanan, pencegahan secara
berkesinambungantanpa mengakibatkan pengobatan dan pemulihan.Sasaran
kegiatan ini ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, danmasyarakat serta
likungannya yang diprioritaskan di daerah rawan. Upaya inidilaksanakan
terintegrasi dengan kegiatan kegiatan pokok puskesmas. Tujuan program ini
adalah:
a. Masyarakat memahami pengertian sehat dan sakit
b. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus
masyarakat untuk melaksanakan upaya keperawatan dasar untuk
mengatasi masalah kesehatan.
c. Terlayaninya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan keperawatan.
d. Terlayaninya kelompok khusus (panti) yang memerlukan pembinaan dan
asuhan perawatan.
e. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang memerlukan penanganan, tindak
lanjut dan asuhan perawatan di puskesmas dan rumah.

3. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut


Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut adalah usaha kesehatan gigi
dasarparipurna yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat di
wilayahkerja Puskesmas Kuta alam dengan prioritas masyarakat berpenghasilan
rendah,khususnya masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan
mulut.Sasaran pelaksanaan kegiatan ini adalah ibu hamil, menyusui, anak-
anakdan usia lanjut. Usaha yang dilaksanakan meliputi:
a. Penyuluhan di sekolah dan di posyandu mengenai pentingnya kesehatan
gigi
b. Pemeriksaan dan pengobatan gigi anak sekolah (UKGS)
c. Pemeriksaan, perawatan dan pengobatan di Poliklinik gigi
d. Rujukan
e. Pencatatan dan pelaporan
4. Kesehatan Jiwa
Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhanekonomi,
dapat menimbulkan beberapa masalah psikososial yang mempengaruhitaraf
kesehatan jiwa masyarakat. Upaya kesehatan jiwa Puskesmas adalah
upayakesehatan jiwa yangdilaksanakan di tingkat Puskesmas secara khusus
danterintegrasi dengan program lainnya. Kegiatan-kegiatan usaha kesehatan
jiwameliputi:
a. Pengenalan dini gangguan jiwa
b. Pemberian upaya pertolongan pertama
c. Rujukan ke Rumah Sakit Jiwa
d. Pencatatan dan pelaporan

6.Kesehatan Usia Lanjut


Dalam rangka pemerataan pembangunan pelayanan kesehatan bagi
seluruhpenduduk Indonesia maka dilakukan pembinaan kesehatan bagi yang
berusialanjut (USILA), tujuannya untuk meningkatkan derajat kesehatan para
USILAagar selama mungkin aktif, mandiri dan berguna.Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan pada kelompok usia ini adalah :
a. Penyuluhan kesehatan/gizi
b. Pemeriksaan berkala setiap triwulan
c. Proteksi dan tindakan khusus Usila
d. Konseling
e. Pencatatan dan Pelaporan

7.Upaya Kesehatan Managemen Terpadu Balita Sakit

Program MTBS ini sesuai dengan program-program terkait seperti


penanganan diare, ISPA, malaria, pemberian imunisasi, vitamin A, dan
sebagainya. Tujuan dari program ini adalah untuk mengajarkan proses
managemen kaus kepada perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain yang
menangani balita sakit dan bayi muda di fasilitas kesehatan seperti puskesmas
maupun kunjungan rumah. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah:
a. menilai tanda-tanda dan gejala penyakit, status imunisasi, status gizi dan
pemberian vitamin A.
b. Membuat klasifikasi
c. Menentukan tindakan yang sesuai dengan klasifikasi aak dan memutuska
apakah seorang anak perlu dirujuk atau tidak.
d. Memberikan pegobatan prarujukan yang penting, seperti dosis pertama
antibiotik, vitamin A, sutikan kinin dan lain sebagainya.
e. Melakukan tidakan di fasilitas kesehatan (preventif dan kuratif)
f. Mengajari ibu cara memberi obat di rumah dan asuha dasar bayi muda
g. Memberikan koseling kepada ibu mengenai pemberian makanan pada
anak termasuk pemberian ASI
h. Melakukan penilaian ulang dan memberi perawatan yang tepat pada saat
anak datang kembali untuk pelayanan tindak lanjut.

8.Upaya Kesehatan Peduli Remaja

PKPR adalah pelayanan kesehatan kepada remaja yang mengakses semua


golongan remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien. Tujuan
program ini adalah untuk mengoptimalisasi pelayanan kesehatan remaja di
puskesmas. Kegiatan PKPR di puskesmas yaitu:
a. Pemberian informasi dan edukasi
b. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukan
c. Konseling
d. Pelatihan pendidik/konselor sebaya
e. Pelayanan rujukan

Program ini bertujuan untuk membantu para remaja dalam menyelesaikan


atau menemukan solusi yang tepat terhadap berbagai masalah yang dihadapi
dalam kehidupan dan pergaulan, membantu dan membimbing kreatifitas dan
sebagainya. Penyuluhan dilakukan di sekolah-sekolah menegah (SLTP/SLTA).

9.Upaya Laboratorium Sederhana


Upaya ini dilakukan untuk menunjang usaha pemberantasan
penyakitmenular, penyelidikan, epidemiologi, dan pembinaan kesehatan.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam laboratorium puskesmas kuta alam
adalah:
a. pemeriksaan hematologi
b. pemeriksaan kimia darah
c. pemeriksaan urin rutin
d. pemeriksaan parasitologi
e. pemeriksaan serologi (tes widal)

10.Program Inovasi
A. program IMS
infeksi menular seksual adalah infeksi yang salah satu penularannya melalui
hubungan seksual. Layanan IMS komprehensif artinya pelayanan IMS yang
efektif dan efisien bagi kelompok berprilaku resiko tinggi (WPS, waria, LSL,
pelanggan dan pasangannya) dan kelompok berprilaku resiko rendah (remaja,
klien KIA/KB dan ibu hamil) yang lengkap dan memadai di bawah satu atap dan
terintegrasi dengan layanan lain yang dibutuhkan mulai dari:
a. anamnesa
b. pemeriksaan fisik dan pengambilan sampel
c. pemeriksaan laboratorium
d. diagnosis dan pengobatan yang benar dan tepat
e. konseling tentang penyakit IMS dan pengobatannya
f. demonstrasi cara pemakaian kondom dan melepasnya
b. program VCT
Voluntary counceling and testing (VCT) sebagai strategi kesehatan
masyarakat. Pelayanan VCT dapat digunakan untuk mengubah perilaku beresiko
dan memberikan informasi tentang pencegahan HIV. Klien dimungkinkan
mendapat pengetahuan tetang cara penularan, pencegahan dan pengobatan
terhadap HIV seperti penggunaan kondom, tidak berbagi alat suntik dan
menggunakan alat suntik steril.

11. Pencatatan dan Pelaporan


Untuk mengamati dan menilai status Puskesmas, dilakukan suatu
sistempencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP). Semua Kegiatan
yangdilaksanakan baik di dalam gedung dan di luar gedung, akan dicatat
dandilaporkan.Pelaporan yang diperlukan dibuat secara terpadu meliputi
datakegiatan/program untuk monitoring dan perencanaan kegiatan selanjutnya.
Laporan-Iaporan kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Laporan Mingguan
b. Laporan Bulanan
c. Laporan Triwulan
d. Laporan Tahunan
e. Laporan Kejadian Luar Biasa (KLB)
BAB IV
LAMPIRAN
Gambar 4.1 : Ruang Pertemuan Puskesmas Kuta Alam

Gambar 4.2 : Ruang Pendaftaran Pasien Puskesmas Kuta Alam


Gambar 4.3: Ruang Tunggu Anak-Anak Pasien Kuta Alam
Gambar 4.5 :Salah Satu Ruangan Poli Klinik Puskesmas Kuta Alam
Gambar 4.6 : Informasi Kesehatan dan BPJS Puskesmas Kuta Alam

Gambar 4.7: Jadwal Posyandu di Kec. Kuta Alam


Banda Aceh, 15 Maret 2017

Disetujui oleh
Kepala UPTD Puskesmas Kuta Alam

dr. Prita Amelia Siregar


NIP. 19760120 200604 2 009

Pembimbing
Pembimbing

dr.Erliana, M.Kes dr. Wilda


Febrya Minin
NIP. 19760120 200604 2 009 NIP.
19840220 201412 2 001

PROMOSI
KESEHATAN
PKM BATOH
SMF/BAGIAN ILMU

KEDOKTERAN KELUARGA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH
KUALA
BANDA ACEH
2017

LAPORAN KEGIATAN KEPANITERAAN KLINIK


SENIOR
PUSKESMAS BATOH KOTA BANDA ACEH
PERIODE 20 MARET 01 APRIL 2017

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menjalani


Kepaniteraan Klinik
di SMF/Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Disusun oleh :
Meutia Handiny
Ety Suhira
Amelia Wijaya Agustin
Dwinka Safira Eljatin
Dwi Prianto
Suci Dika

Pembimbing:
dr. Elvira Mustafa, M.Kes
dr. Hasnur Elfiyeni
dr.Yessi Sunari Wahfar

SMF/BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH
KUALA
BANDA ACEH
2017
LEMBARAN PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN KEPANITERAAN KLINIK
SENIOR
PUSKESMAS BATOH KOTA BANDA ACEH
PERIODE 20 MARET 01 APRIL 2017

Disusun Oleh:
Meutia Handiny
Ety Suhira
Amelia Wijaya Agustin
Dwinka Safira Eljatin
Dwi Prianto
Suci Dika

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior
pada Bagian Family Medicine Fakultas Kedokteran Unsyiah
di Puskesmas Batoh Kota Banda Aceh

Disahkan Oleh :
Banda Aceh, 24 Maret 2017

Dokter Pembimbing I Dokter Pembimbing II

dr. Hasnur Elfiyeni dr.Yessi Sunari Wahfar


NIP. 19761024 200604 2 007 NIP. 19770702 201001 2 010

Mengetahui
Kepala Puskesmas Batoh

dr. Elvira Mustafa, M.Kes


NIP. 19750728 200604 2 007

Kepala Bagian Family Medicine

KATA PENGANTAR
Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si
NIP. 19831012 201404 2 001
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT karena atas berkah dan rahmat-Nya lah penulis dapat
menyelesaikan Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior pada
Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Unsyiah di
Puskesmas Kuta Alam periode 20 Maret s/d 01 April 2017.
Penyusunan laporan ini berdasarkan data-data yang ada,
bimbingan dan hasil pengamatan yang dilakukan di Puskesmas
Batoh selama mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior
Fakultas Kedokteran Unsyiah.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan
kepada Kepala Puskesmas Batoh dr. Elvira Mustafa dan dokter
pembimbing saya dr. Hasnur Elfiyeni dan dr. Yessi Sunari Wahfar
beserta seluruh staf yang telah banyak membimbing saya mulai
pelaksanaan tugas hingga pembuatan laporan ini, juga kepada
teman-teman dokter muda yang telah turut memberikan
kontribusinya berupa ide, semangat dan dukungan moral, tak
lupa pula kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
semua tugas dapat dilaksanakan dengan baik.
Saya menyadari dengan segala kerendahan hati bahwa
tulisan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat.

Banda

Aceh, Maret 2017

Penulis
LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN
(PENYULUHAN OUTDOOR) TENTANG DIFTERI DI
POSYANDU DESA COT MESJID, POSYANDU SUKA DAMAI
DAN SEKOLAH DASAR NEGERI 53 KOTA BANDA ACEH

I. PENDAHULUAN
Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I). Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman
Corynebacterium diphtheria, oleh karena itu penyakitnya diberi nama serupa
dengan kuman penyebabnya. Sebelum era vaksinasi, racun yang dihasilkan oleh
kuman ini sering meyebabkan penyakit yang serius, bahkan dapat menimbulkan
kematian. Tapi sejak vaksin difteri ditemukan dan imunisasi terhadap difteri
digalakkan, jumlah kasus penyakit dan kematian akibat kuman difteri menurun
dengan drastis
Namun rendahnya kesadaran masyarakat aceh akan imunisasi
menyebabkan 2 bulan terakhir ini banyak sekali kasus difteri yang ditemukan dan
menyebabkan kematian. Hal ini menyebabkan masyarakat resah, dan bertanya-
tanya sebenarnya apa difteri itu dan bagaimana gejalanya serta bagaimana
penularannya. Oleh karena itu kami mengangkat kasus ini untuk dijadikan topic
pada promosi kesehatan di puskesmas kami.

II. NAMA KEGIATAN


Penyuluhan Tentang Difteri

III. TUJUAN KEGIATAN


1. Menjelaskan tentang latar belakang dan definisi Difteri
2. Menjelaskan tentang penyebab Difteri
3. Menjelaskan tentang tanda dan gejala Difteri
4. Menjelaskan tentang pengelolaan, pencegahan dan komplikasi
Difteri
IV. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada tanggal:
Hari/Tanggal : Senin, Rabu, Kamis/ 20, 22-23 Maret
2017
Waktu : 09.00 wib s/d selesai
Tempat : Posyandu Desa Cot Mesjid,
Posyandu Suka Damai, Sekolah Dasar
Negeri 53 Kota Banda Aceh
Topik : Difteri

V. PESERTA KEGIATAN
Kegiatan diikuti oleh pasien dan keluarga pasien yang
datang ke Posyandu Desa Cot Mesjid, Posyandu Suka Damai dan
Sekolah Dasar Negeri 53 Kota Banda Aceh.

VI. METODE PENYULUHAN


Adapun metode penyuluhan yang dilakukan yaitu dengan
cara komunikasi langsung kepada pasien dan keluarga pasien
yang datang ke Pustu Brawe, Posyandu Suka Damai, Sekolah
Dasar Negeri 53 Kota Banda Aceh materi penyuluhan yang sudah
dipersiapkan sebelumnya dan memberi kesempatan interaksi
tanya jawab sesudah materi penyuluhan selesai disampaikan.
Metode kegiatan penyuluhan dibagi dalam 3 tahap yaitu :
a. Tahap pengenalan dan penggalian pengetahuan
peserta
Setelah memberi salam dan perkenalan pemateri terlebih
dahulu menyampaikan maksud dan tujuan diberikan
penyuluhan sebelum materi disampaikan.
b. Penyampaian Materi
Materi disampaikan dengan menggunakan alat bantu
penyajian berupa poster. Dan disela materi penyaji
memberikan kesempatan bertanya jika ada materi yang
tidak dimengerti.
c. Penutup
Setelah penyampaian materi, penyaji memberikan
kesempatan peserta untuk bertanya.

VII. MATERI PENYULUHAN


1. Definisi
Difteria adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil,
faring,laring, hidung, adakalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta
kadang-kadang konjungtiva atau vagina.

2. Penyebab
Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheria. Berbentuk
batang gram positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh
kuman sifatnya tidak invasive, tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu
exotoxin. Toxin difteri ini, karena mempunayi efek patoligik meyebabkan
orang jadi sakit. Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheria ini
yaitu : type mitis, type intermedius dan type gravis. Corynebacterium
diphtheria dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19
tipe.

3. Gejala klinis
Difteri hidung (nasal diphtheria) bila penderita menderita pilek dengan
ingus yang bercampur darah. Prevalesi Difteri ini 2 % dari total kasus
difteri. Bila tidak diobati akan berlangsung mingguan dan merupakan
sumber utama penularan..
Difteri faring (pharingeal diphtheriae)dan tonsil dengan gejala radang akut
tenggorokan, demam sampai dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat,
tampak lemah, nafas berbau, timbul pembengkakan kelenjar leher. Pada
difteri jenis ini juga akan tampak membran berwarna putih keabu abuan
kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding belakang mulut
(faring).
Difteri laring ( laryngo trachealdiphtheriae ) dengan gejala tidak bisa
bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat
celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar
leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa
mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas.
Difteri kutaneus (cutaneous diphtheriae) dan vaginal dengan gejala berupa
luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membrane
diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri,
luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa-apa.

4. Pengelolaan dan Pencegahan


Setiap orang dapat terinfeksi oleh difteri,tetapi kerentanan terhadap
infeksi tergantung dari pernah tidaknya ia terinfeksi oleh difteri dan juga
pada kekebalannya. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kebal akan
mendapat kekebalan pasif, tetapi tak akan lebih dari 6 bulan dan pada
umur 1 tahun kekebalannya habis sama sekali. Seseorang yang sembuh
dari penyakit difteri tidak selalu mempunyai kekebalan abadi. Paling baik
adalah kekebalan yang didapat secara aktif dengan imunisasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan
dengan tetanus dan pertusis (DPT) sebanyak tiga kali sejak bayi berumur
dua bulan dengan selang penyuntikan satu dua bulan. Pemberian
imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri,
pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin
akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara
mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas . Berdasarkan program
dari Departemen Kesehatan RI imunisasi perlu diulang pada saat usia
sekolah dasar yaitu bersamaan dengan tetanus yaitu DT sebanyak 1 kali.
Sayangnya kekebalan hanya diiperoleh selama 10 tahun setelah imunisasi,
sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap
10 tahun sekali.
Selain pemberian imunisasi perlu juga diberikan penyuluhan
kepada masyarakat terutama kepada orang tua tentang bahaya dari difteria
dan perlunya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak. Dan
perlu juga untuk menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan.
Penyakit menular seperti difteri mudah menular dalam lingkungan yang
buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itulah, selain menjaga
kebersihan diri, kita juga harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Disamping itu juga perlu diperhatikan makanan yang kita konsumsi harus
bersih. Jika kita harus membeli makanan di luar, pilihlah warung yang
bersih. Jika telah terserang difteri, penderita sebaiknya dirawat dengan
baik untuk mempercepat kesembuhan dan agar tidak menjadisumber
penularan bagi yang lain. Pengobatan difteri difokuskan untuk
Menetralkan toksin (racun) difteri dan untuk membunuh kuman
Corynebacterium diphtheriae penyebab difteri. Setelah terserang difteri
satu kali, biasanya penderita tidak akan terserang lagi seumur hidup.
Melihat bahayanya penyakit ini maka bila ada anak yang sakit dan
ditemukan gejala diatas maka harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit
untuk segera mendapatkan penanganan. Pasien biasanya akan masuk rumah
sakit untuk diopname dan diisolasi dari orang lain guna mencegah penularan.
Di rumah sakit akan dilakukan pengawasan yang ketat terhadap fungsi fungsi
vital penderita untuk mencegah terjadinya komplikasi. Mengenai obat,
penderita umumnya akan diberikan antibiotika, steroid, dan ADS (Anti
Diphteria Serum)

5. Komplikasi
Komplikasi bisa dipengaruhi oleh virulensi kuman, luas membran, jumlah
toksin, waktu antara timbulnya penyakit dengan pemberian antitoksin.
Komplikasi difteri terdiri dari :
1.Infeksi sekunder, biasanya oleh kuman streptokokus dan stafilokokus
2.Infeksi Lokal : obstruksi jalan nafas akibat membran atau oedema jalan
nafas
3.Infeksi Sistemik karena efek eksotoksin
Komplikasi yang terjadi antara lain kerusakan jantung, yang bisa berlanjut
menjadi gagal jantung. Kerusakan sistem saraf berupa kelumpuhan saraf
penyebab gerakan tak terkoordinasi. Kerusakan saraf bahkan bisa berakibat
kelumpuhan, dan kerusakan ginjal
VIII. TANYA JAWAB DENGAN PESERTA
Posyandu Desa Cot Mesjid:
1. Apakah anak usia 8 tahun harus di lakukan imunisasi difteri?
Jawaban: Bila pasien kontak dengan penderita difteri, harus
di lakukan vaksinasi difteri.

2. Mengapa penyakit difteri dapat mengakibatkan kematian?


Jawaban: Komplikasi difteri dapat mengakibatkaan
meningitis, infeksi jantung, syok sepsis, serta henti janung.

Posyandu Suka Damai:

Sekolah Dasar Negeri 53:

IX. PENUTUP
Penyuluhan telah dilakukan kepada pasien dan keluarga
pasien yang datang ke Posyandu Desa Cot Mesjid, Posyandu
Suka Damai, Sekolah Dasar Negeri 53 Kota Banda Aceh dan
tanggapan para peserta penyuluhan cukup baik dan antusias
dalam mendengarkan materi. Adapun harapan yang ingin dicapai
dengan adanya penyuluhan ini adalah peserta dapat mengetahui
mengenai difteri.

X. DOKUMENTASI KEGIATAN PENYULUHAN OUTDOOR

1.Posyandu Desa Cot Mesjid

2.Posyandu Suka Damai

3.Sekolah Dasar Negeri 53


Banda Aceh, 24 Maret 2017
Mengetahui,

Dokter Pembimbing I Dokter Pembimbing II

dr. Hasnur Elfiyeni dr.Yessi Sunari Wahfar


NIP. 19761024 200604 2 007 NIP. 19770702 201001 2 010

Disetujui
Kepala Puskesmas Batoh

dr. Elvira Mustafa, M.Kes


NIP. 19750728 200604 2 007
Lampiran
Poster Difteri
LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN
(PENYULUHAN OUTDOOR) TENTANG KANKER SERVIKS DI
POSYANDU DESA SUKA DAMAI

I. PENDAHULUAN
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia
epitel di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina
dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi
pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang
senggama atau vagina. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia
35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa
yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut
lesi prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker
leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Saat ini terdapat 138
jenis HPV yang sudah dapat teridentifikasi yang 40 di antaranya dapat ditularkan
lewat hubungan seksual. Beberapa tipe HPV virus risiko rendah jarang
menimbulkan kanker, sedangkan tipe yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik
tipe risiko tinggi maupun tipe risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada sel tetapi pada umumnya hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat
memicu kanker.
Virus HPV risiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual
adalah tipe 7,16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, dan mungkin
masih terdapat beberapa tipe yang lain. Beberapa penelitian mengemukakan
bahwa lebih dari 90% kanker leher rahim disebabkan oleh tipe 16 dan 18. Yang
membedakan antara HPV risiko tinggi dengan HPV risiko rendah adalah satu
asam amino saja. Asam amino tersebut adalah aspartat pada HPV risiko tinggi dan
glisin pada HPV risiko rendah dan sedang. Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri
menyebabkan lebih dari 50% kanker leher rahim. Seseorang yang sudah terkena
infeksi HPV 16 memiliki resiko kemungkinan terkena kanker leher rahim sebesar
5%.
Dinyatakan pula bahwa tidak terdapat perbedaan probabilitas terjadinya
kanker serviks pada infeksi HPV-16 dan infeksi HPV-18 baik secara sendiri-
sendiri maupun bersamaan. Akan tetapi sifat onkogenik HPV-18 lebih tinggi
daripada HPV-16 yang dibuktikan pada sel kultur dimana transformasi HPV-18
adalah 5 kali lebih besar dibandingkan dengan HPV-16.
Selain itu, didapatkan pula bahwa respon imun pada HPV-18 dapat
meningkatkan virulensi virus dimana mekanismenya belum jelas. HPV-16
berhubungan dengan skuamous cell carcinoma serviks sedangkan HPV-18
berhubungan dengan adenocarcinoma serviks. Prognosis dari adenocarcinoma
kanker serviks lebih buruk dibandingkan squamous cell carcinoma. Peran infeksi
HPV sebagai faktor risiko mayor kanker serviks telah mendekati kesepakatan,
tanpa mengecilkan arti faktor risiko minor seperti umur, paritas, aktivitas seksual
dini/prilaku seksual, dan meroko, pil kontrasepsi, genetik, infeksi virus lain dan
beberapa infeksi kronis lain pada serviks seperti klamidia trakomatis dan HSV-2.

III. NAMA KEGIATAN


Penyuluhan Tentang Kanker Serviks

III. TUJUAN KEGIATAN


1. Sebagai tindakan promotif untuk mendorong masyarakat agar ikut
berperan dalam mencegah kanker serviks
2. Memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada masyarakat tentang
kanker serviks
3. Sebagai wahana mempererat tali silaturahmi antar mahasiswa kedokteran
dengan elemen masyarakat.
4. Mengaplikasikan ilmu yang didapat oleh mahasiswa selama pendidikan
profesi dokter ke masyarakat sekitar.

IV. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN


Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada tanggal:
Hari/Tanggal : Rabu/22 Maret 2017
Waktu : 09.30 wib s/d 11.30 wib
Tempat : Posyandu Desa Suka Damai
Topik : Kanker Serviks
V. PESERTA KEGIATAN
Kegiatan diikuti oleh masyarakat yang datang ke posyandu
sukadamai.

VI. METODE PENYULUHAN


Adapun metode penyuluhan yang dilakukan yaitu dengan
cara presentasi langsung kepada masyarakat yang datang ke
Posyandu Desa Suka Damai dengan materi penyuluhan yang
sudah dipersiapkan sebelumnya serta memberi kesempatan
interaksi tanya jawab sesudah materi penyuluhan selesai
disampaikan. Metode kegiatan penyuluhan dibagi dalam 3 tahap
yaitu :
a. Tahap pengenalan dan penggalian pengetahuan
peserta
Setelah memberi salam dan perkenalan pemateri terlebih
dahulu menyampaikan maksud dan tujuan diberikan
penyuluhan sebelum materi disampaikan.
b. Penyampaian Materi
Materi disampaikan dengan menggunakan alat bantu
penyajian berupaleaflet. Dan disela materi penyaji
memberikan kesempatan bertanya jika ada materi yang
tidak dimengerti.
c. Penutup
Setelah penyampaian materi, penyaji memberikan
kesempatan peserta untuk bertanya.

VII. MATERI PENYULUHAN


1.Definisi Kanker Serviks
Kanker serviks adalah tumor ganas primer yang berasal dari metaplasia
epitel di daerah skuamokolumner junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina
dan mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi
pada serviks atau leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang
merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang
senggama atau vagina. Kanker leher rahim biasanya menyerang wanita berusia
35-55 tahun. Sebanyak 90% dari kanker leher rahim berasal dari sel skuamosa
yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Kanker seviks uteri adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel
skuamosa. Sebelum terjadinya kanker, akan didahului oleh keadaan yang disebut
lesi prakanker atau neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyebab utama kanker
leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV).

2. Faktor resiko kanker leher rahim


Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi kanker serviks yaitu :
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin
tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim.
Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan
dari meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen
serta makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.
Usia pertama kali menikah. Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu
muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim
10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah pada usia > 20 tahun.
Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang.
Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau belum.
Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit
bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita
berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada
usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16 tahun.
Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada
usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan
terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk
zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa
berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati
dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari
sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini
akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks
dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu
rentan terhadap perubahan.
Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan.
Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah
satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di
permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak
terkendali sehingga menjadi kanker.
Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-
obatan antiseptik maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang
merangsang terjadinya kanker.
Wanita yang merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena
kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian
menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat
lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan
serviks di samping meropakan ko-karsinogen infeksi virus. Nikotin,
mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi
terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru maupun serviks. Namun
tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang dikonsumsi yang
bisa menyebabkan kanker leher rahim.
Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia. Wanita yang terkena
penyakit akibat hubungan seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus HPV
diduga sebagai penyebab utama terjadinya kanker leher rahim sehingga wanita
yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker leher rahim.
Paritas (jumlah kelahiran). Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak
anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur
yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk
golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim. Dengan
seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi
perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan
memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab
terjadinya penyakit kanker leher rahim.
Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama. Penggunaan kontrasepsi
oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih dari 4 tahun dapat meningkatkan
risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali. Kontrasepsi oral mungkin dapat
meningkatkan risiko kanker leher rahim karena jaringan leher rahim merupakan
salah satu sasaran yang disukai oleh hormon steroid perempuan. Hingga tahun
2004, telah dilakukan studi epidemiologis tentang hubungan antara kanker leher
rahim dan penggunaan kontrasepsi oral. Meskipun demikian, efek penggunaan
kontrasepsi oral terhadap risiko kanker leher rahim masih kontroversional.
Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Khasbiyah (2004) dengan
menggunakan studi kasus kontrol. Hasil studi tidak menemukan adanya
peningkatan risiko pada perempuan pengguna atau mantan pengguna kontrasepsi
oral karena hasil penelitian tidak memperlihatkan hubungan dengan nilai p>0,05.
3. Klasifikasi stadium kanker
Penentuan tahapan klinis penting dalam memperkirakan penyebaran
penyakit, membantu prognosis rencana tindakan, dan memberikan arti
perbandingan dari metode terapi. Tahapan stadium klinis yang dipakai sekarang
ialah pembagian yang ditentukan oleh The International Federation Of
Gynecologi And Obstetric (FIGO) tahun 1976. Pembagian ini didasarkan atas
pemeriksaan klinik, radiologi, suktase endoserviks dan biopsi. Tahapan tahapan
tersebut yaitu : a. Karsinoma pre invasif b. Karsinoma in-situ, karsinoma
intraepitel c. Kasinoma invasive
Tabel 2.1. Stadium kanker serviks menurut klasifikasi

4. Gejala klinis kanker serviks


Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker
ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan
getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi
dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.
Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan
kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal,
terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala
berupa ketidak teraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan
penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus
serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah
yang keluar berbentuk mukoid.
Nyeri dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah
lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi,
sekret dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta
mukosa vulva. Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin
progresif. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada
klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal
toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar
berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal.
Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal
ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.
Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga
merupakan gejala penyakit lanjut. Pada pemeriksaan Pap Smear ditemukannya
sel-sel abnormal di bagian bawah serviks yang dapat dideteksi melalui, atau yang
baru-baru ini disosialisasikan yaitu dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat.
Sering kali kanker serviks tidak menimbulkan gejala. Namun bila sudah
berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala seperti
pendarahan serta keputihan pada vagina yang tidak normal, sakit saat buang air
kecil dan rasa sakit saat berhubungan seksual.

5. Diagnosis kanker serviks


Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan.
Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan.
Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti
palpasi, inspeksi, kolposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi,
proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan
tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan
sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat
dilakukan untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi,
venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum
dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran
karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut (Suharto, 2007) :
1. Pemeriksaan pap smear
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada
pasien yang tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada sekret
yang diambil dari porsi serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada
wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu.
Setelah tiga kali hasil pemeriksaan pap smear setiap tiga tahun sekali sampai usia
65 tahun. Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker leher rahim
secara akurat dan dengan biaya yang tidak mahal, akibatnya angka kematian
akibat kanker leher rahim pun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita
yang telah aktif secara seksual sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu
1 kali setiap tahun. Apabila selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil
pemeriksaan yang normal, maka pemeriksaan pap smear bisa dilakukan setiap 2
atau 3 tahun sekali. Hasil pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut
(Prayetni,1999): a. Normal. b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum
bersifat ganas). c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas). d.
Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar). e. Kanker
invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ
tubuh lainnya).

6.Pencegahan kanker serviks


Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat dan
menghindari faktor- faktor penyebab kanker meliputi (Dalimartha, 2004) :
1. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada usia muda,
pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti pasangan seks. Wanita yang
berhubungan seksual dibawah usia 20 tahun serta sering berganti pasangan
beresiko tinggi terkena infeksi. Namun hal ini tak menutup kemungkinan akan
terjadi pada wanita yang telah setia pada satu pasangan saja.
2. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah mempunyai anak perlu
melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali atau menurut petunjuk dokter.
Pemeriksaan Pap smear adalah cara untuk mendeteksi dini kanker serviks.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit dengan biaya yang relatif
terjangkau dan hasilnya akurat.
Disarankan untuk melakukan tes Pap setelah usia 25 tahun atau setelah
aktif berhubungan seksual dengan frekuensi dua kali dalam setahun. Bila dua kali
tes Pap berturut-turut menghasilkan negatif, maka tes Pap dapat dilakukan sekali
setahun. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan
terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid
Capture II System (HCII).
3. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom, karena
dapat memberi perlindungan terhadap kanker leher rahim.
4. Memperbanyak makan sayur dan buah segar. Faktor nutrisi juga dapat
mengatasi masalah kanker mulut rahim. Penelitian mendapatkan hubungan yang
terbalik antara konsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning (banyak
mengandung beta karoten atau vitamin A, vitamin C dan vitamin E) dengan
kejadian neoplasia intra epithelial juga kanker serviks. Artinya semakin banyak
makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, maka akan semakin kecil risiko
untuk kena penyakit kanker mulut rahim 5. Pada pertengahan tahun 2006 telah
beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab
kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan
menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari
penyakit kanker serviks, vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari
ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.Yang perlu
ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan
yang berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan
sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena
kanker serviks bisa menurun hingga 75%.

7. Pengobatan kanker serviks


Terapi karsinoma serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan
secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang
sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan la njutan (tim kanker / tim
onkologi). Pemilihan pengobatan kanker leher rahim tergantung pada lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita, dan rencana
penderita untuk hamil lagi. Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan
pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah
diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi.
Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa kriosurgeri (pembekuan),
kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi), pembedahan laser untuk
menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di
sekitarnya dan LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi
(Wiknjosastro, 1997).
1. Pembedahan Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan
serviks paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan
pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau
konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak.
Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan
ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap
6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk
menjalani histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat
kuratif maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan
penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat dihilangkan.
Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti memperbaiki keadaan
penderita. Histerektomi adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk
mengangkat uterus dan serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya
dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien
sebaiknya sebelum menopause, atau bila keadaan umum baik, dapat juga pada
pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Pasien juga harus bebas dari penyakit
umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung, ginjal dan hepar.
2. Terapi penyinaran (radioterapi) .
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta
mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B,
III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan
tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah
mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau
bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan
sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika
urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan
pada stadium I sampai III B. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul,
maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada
stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif yang
masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi
tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada dua
jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal yaitu sinar berasal dari sebuah mesin besar
dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan
sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. Keduannya adalah melalui radiasi
internal yaitu zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung
ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita
dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2
minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah iritasi rektum dan vagina,
kerusakan kandung kemih dan rektum dan ovarium berhenti berfungsi (Gale &
Charette, 2000).
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat
melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya
untuk membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan
pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiag nosis.
Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat
sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin
hanya diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan
adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit
dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika kanker
menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk
memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi secara kombinasi telah
digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal
belum memberikan keuntungan yang memuaskan. Contoh obat yang digunakan
pada kasus kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin
Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain lain (Prayetni, 1997).

8.Prognosis kanker serviks


Prognosis kanker serviks adalah buruk. Prognosis yang buruk tersebut
dihubungkan dengan 85-90 % kanker serviks terdiagnosis pada stadium invasif,
stadium lanjut, bahkan stadium terminal (Suwiyoga, 2000; Nugroho, 2000).
Selama ini, beberapa cara dipakai menentukan faktor prognosis adalah
berdasarkan klinis dan histopatologis seperti keadaan umum, stadium, besar tumor
primer, jenis sel, derajat diferensiasi Broders. Prognosis kanker serviks tergantung
dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari
90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk stadium IV
kurang dari 30% (Geene,1998; Kenneth, 2000).
1. Stadium 0 100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.
2. Stadium 1 Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi IA dan IB. Dari
semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate
sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%. Ini
tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.
3. Stadium 2 Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. Dari semua
wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar
70-90%. Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.
4. Stadium 3 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%.
5. Stadium 4 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%. 6.
Stadium 5 Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 5-10%.

VIII. TANYA JAWAB DENGAN PESERTA


Tidak ada pertanyaan.

IX. PENUTUP
Penyuluhan telah dilakukan kepada masyarakat yang datang
ke Posyandu Desa Suka Damai. Para peserta penyuluhan tanpa
cukup baik dan antusias dalam mendengarkan materi yang
disampaikan. Adapun harapan yang ingin dicapai dengan adanya
penyuluhan ini adalah peserta dapat mengetahui mengenai
bagaimana pencegahan kanker serviks. Diharapkan para peserta
penyuluhan dapat mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-
hari mengenai apa yang telah disampaikan dalam penyuluhan
tersebut.
X. DOKUMENTASI KEGIATAN PENYULUHAN

Banda Aceh, 25 Maret 2017


Mengetahui,
Dokter Pembimbing I Dokter Pembimbing II

dr. Hasnur Elfiyeni dr.Yessi Sunari Wahfar


NIP. 19761024 200604 2 007 NIP. 19770702 201001 2 010

Disetujui
Kepala Puskesmas Batoh

dr. Elvira Mustafa, M.Kes


NIP. 19750728 200604 2 007

Lampiran
Leaflet Kanker Serviks
WASPADA BAHAYA BAGAIMANA
KANKER SERVIK!!!
GEJALANYA??
Pendarahan pada
vagina yang terjadi
setelah berhubungan
seks, di luar masa
menstruasi, atau
setelah menopause.

APA ITU KANKER


SERVIK??
Kanker yang muncul pada leher rahim
wanita. Leher rahim sendiri berfungsi
sebagai pintu masuk menuju rahim dari
vagina
LAKUKAN
BAGAIMANA CARA
MENCEGAH KANKER PEMERIKSAAN
SERVIK?? PAPSMEAR!!
1. Konsumsi gizi seimbang yang banyak
mengandung vit. C dan vit A
2. TIDAK BERGANTI pasangan seksual
3. TIDAK MELAKUKAN hubungan
seksual < 20 tahun
4. Vaksinasi HPV
Bagian Family Medicine
5. JANGAN memasukkan apapun kedalam FK UNSYIAH
Meutia Handiny
Ety Suhira
vagina, misalnya bedak atau apapun. Amelia Wijaya
Dwinka Safira
Dwi Prianto
Suci Dika Utari