Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN

EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

METODOLOGI II
2.1. PENDEKATAN TEKNIS
Tahapan penyusunan evaluasi TPS 3R ini dimulai dari pengumpulan
data dan informasi, review studi terdahulu, pengumpulan data sekunder dan
primer, pengkajian standar atau aturan yang berlaku, analisis teknis
operasional, analisis keuangan, analisa kelambagaan dan analisa peran serta
masyarakat dalam pengelolaan sampah TPS 3R. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan metode deskriptif analitis untuk menjelaskan masalah-masalah
aktual secara sistematis, faktual dan akurat melalui diskripsi kondisi pengelolaan
TPS 3R.

2.2. KONSEP PENDEKATAN PELAKSANAAN


PEKERJAAN
Diagram alir pola pikir penyusunan evaluasi TPS 3R di Provinsi Bali
dapat dilihat pada Gambar 2.1 sedangkan tahapan pelaksanaan kegiatanya
dapat dilihat pada Gambar 2.2.

EVALUASI TPS 3R DI PROVINSI BALI

Aspek Teknis Dan Aspek Peraturan Dan Aspek Aspek Peran


Operasional Kelembagaan Hukum Keuangan Serta Masyarakat

Data primer Identifikasi Kondisi Eksisting


Data sekunder Dan Permasalahan

ANALISA PENGELOLAAN TPS 3R Sistem Skoring

Standar Nasional Indonesia REKOMENDASI OPTIMALISASI


Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali PENGELOLAAN TPS 3R

Gambar 2.1. Diagram Alir Pola Pikir Evaluasi TPS 3R di Provinsi Bali

BAB II 1
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Tahap Persiapan

Survey Dan Orientasi Lapangan

Pengumpulan Data :
Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan Data Primer

Identifikasi Potensi Dan Analisa :


Permsalahan Analisa Komposisi Dan Timbulan
Sampah
Aspek Teknis Dan Operasional
Aspek Kelembagaan
Aspek Keuangan
Aspek Peran Serta Masyarakat
Aspek Peraturan Dan Hukum

DISKUSI DENGAN INSTASI REKOMENDASI OPTIMALISASI


TERKAIT DAN TIM TEKNIS PENGELOLAAN TPS 3R

Gambar 2.2. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Penjelasan tahapan kegiatan penyusunan Evaluasi TPS 3R Provinsi


Bali ini dibagi menjadi 4 tahapan kegiatan dimulai dari persiapan, survey
untuk pengumpulan data, analisa dan rekomendasi optimalisasi TPS 3R.

A. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan perlu dilakukan :
1. Menyiapkan surat pengantar survey ke instansi, sesuai dengan lokasi
kegiatan yang akan dilakukan
2. Mengumpulkan studi terkait dengan pengolahan sampah TPS 3R
3. Mobilisasi personil dan penyusunan rencana kerja
Rencana kerja disusun berdasarkan target pencapaian hasil tiap tahap
kegiatan. Persiapan administratif berupa surat ijin survei, penyiapan
tabulasi data yang dibutuhkan, dan penyusunan daftar pertanyaan untuk
kuisioner dan wawancara dengan instansi terkait seperti DKP, Kelompok
Swakelola Masyarakat Pengelolaa TPS 3R dan Masyarakat layanan TPS
3R .

BAB II 2
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

B. Survey dan Orientasi Lapangan


Survey dan orientasi lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan data
sukender dan primer terhadap kondisi pengelolaan sampah di TPS 3R.
pelaksanaan survey dan orienetasi lapangan ini meliputi:
1. Kuisioner dan Wawancara
Kegiatan ini dilakukan dengan penyebaran kuisioner, dimana dilakukan
terhadap responden dengan metode random sampling, termasuk
melakukan wawancara dengan tujuan memperoleh keterangan terkait
tingkat kesadaran dan kesiapan masyarakat dalam melakukan pemilahan
sampah rumah tangga.
2. Survei / Penelitian Lapangan
Dilakukan untuk memperoleh data primer yang diperlukan dalam
analisa, yaitu kondisi fisik sarana TPS 3R, system pengelolaan sampah di
TPS 3R sampai dengan system pengangkutan sampah dari rumah tangga
menuju TPS 3R.

Tabel 2.1. Kebutuhan dan Sumber Data


No Jenis Data Sumber Data
A Data Primer
1 Lokasi TPS 3R di wilayah studi DKP
2 Kondisi sistem pengelolaan TPS 3R Survey dan KSM Pengelola
(Teknis Operasional, Kelembagaan, TPS 3R
Keuangan dan Peran Serta Masyarakat)
3 Komposisi dan Timbulan Sampah Survey Timbulan Sampah
4 Kualitas Kompos TPS 3R Survey dan Uji Laboratorium
4 Wawancara atau menyebar kuisioner Survey
agar mendapat informasi.
B Data Sekunder
1 Data Perencanaan Awal TPS 3R DKP dan Satker PLP
2 Jumlah Penduduk Wilayah Studi BPS

Survei data primer dilakukan oleh personil yang bertugas untuk


mengambil data primer yaitu surveyor. Alat bantu yang digunakan untuk
pengambilan data primer oleh surveyor ini adalah :
Cheklist dan tabel-tabel isian
Foto dokumentasi
GPS (Koordinat Lokasi).

C. Tahap Analisa
Tahap analisa ini dilakukan analisa terhadap hasil survey dan
observasi lapangan yang diperoleh dari tahapan sebelumnya. Identifikasi dan
analisa dilakukan terhadap persamalahan permasalahan yang terkait

BAB II 3
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

dengna penanganan permsalahan eksisting dan antisipasi permasalahan


dimasa depan.
Identifikasi dan analisa dilakukan dalam setiap tahap kegiatan
pengelolaan TPS 3R dengan penjelasan terhadap faktor faktor penyebab
permasalahan maupun kendala-kendala yang ada pada pelaksanaan
pengelolaan TPS 3R yang sedang/akan dilaksanakan. Selanjutnya secara rinci
beberapa hal yang perlu dianalisa adalah sebagai berikut :
1. Analisa kualitas kompos yang dihasilkan oleh TPS 3R
2. Analisis dan perhitungan sistem pengelolan persampahan pada TPS 3R,
baik aspek aspek teknik kondisi bangunan dan sarana pengolahan
sampah, aspek operasional pengelolaan TPS 3R serta menganalisis
beberapa alternatif sistem yang mungkin dapat dikembangkan.
3. Analisis terhadap kelembagaan dan fungsi kelembagaan, kecukupan
tenaga kerja, tata laksana
4. Analisa aspek pembiayaan meliputi analisis sumber pendanaan, struktur
pembiayaan, meliputi dana operasional dan pemeliharaan, dana
investasi/pembangunan dan penyediaan sarana pengolahan yang
memadai, kemampuan masyarakat dalam pembiayaan pengolahan
sampah
5. Analisa bentuk partisipasi masyarakat, materi dan metode pembinaan
masyarakat di bidang kebersihan/ penyuluhan, Pelaksanaan program
penyuluhan, Evaluasi serta pemeliharaan kondisi.

Untuk penilaian dan evaluasi TPS 3R, digunakan sistem analisa dengan
skoring sesuai dengan pentunjuk buku pedoman Tata Cara Monitoring Dan
Evaluasi Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Buku 5) oleh Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dirjen Cipta Karya, adapun
beberapa indikator yang dilakukan skoring adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2. Skoring Indikator Evaluasi


No Item Evaluasi Indikator Skor Maksimal
1. Letak Lokasi a. Letak Lokasi 4
b. Status lahan 5
c. Luas Lahan 1
2. Fisik a. Topografi 3
b. Hidrologi 3
c. Sumber Air 3
d. Penggunaan Lahan Sebelumnya 5
3. Sarana Dan Prasarana a. Pewadahan
- Pola Pewadahan 2
- Penempatan (Letak, Bahan, Metode, Ukuran) 4
b. Pengolahan Skala Rumah Tangga

BAB II 4
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

No Item Evaluasi Indikator Skor Maksimal


- Komposter (Jenis, Jumlah, Volume) 4
c. Pengolahan Skala Kawasan
- Jenis Alat Pengumpulan 3
- Pola Pengumpulan 3
- Teknologi Daur Ulang 10
- Teknologi Pengomposan 3
- Peralatan 3
- Kapasitas TPS 3R 3
- Cakupan Layanan 4
- Hasil Kompos (Warna, Bau, Bentuk) 3
- Produk Daur Ulang 10
4. Kelembagaan Dan a. Bentuk Lembaga 5
Investasi b. Struktur Organisasi 55
c. Legalitas Pembentukan 5
d. Biaya Investasi
- Pewadahan 5
- Bangunan 3
- Kendaraan Angkut 6
e. Biaya Operasional
- Honor Petugas 4
- Operasional TPS 3R 8
- Pemeliharaan 4
f. Pelaporan Keuangan 6
5. Peran Serta a. Keterlibatan Warga 5
Masyarakat b. Kelompok Aktif Masyarakat yang Terlibat 25
c. Frekuensi Pertemuan Warga tentang TPS 3R 5
6. Pengaturan a. Surat Keputusan (Pembentukan KSM, Retribusi) 5
b. Ketersediaan SOP 5
7. Operasional a. Keterangan (Berfungsi, Kurang, Tidak dan Belum) 5
b. Indikator Operasional (Pemilahan dari sumber, 40
Pengurangan Sampah Ke TPA, Kontribusi Warga,
Produksi Kompos, Pemasaran Kompos,
Pemanfaatan Kompos, Pengelolaan Sampah
Anorganik, Kegiatan Daur Ulang)

Perhitungan hasil akhir monitoring dan evaluasi berikut :


Dimana Nilai akhir evaluasi akan menunjukkan kategori/peringkat
berdasarkan klasifikasi dibawah ini :
- BERFUNGSI, jika nilai akhir = 225 - 311
- KURANG BERFUNGSI, Jika nilai akhir = 139 - 224
- TIDAK BERFUNGSI, jika nilai akhir = 51 - 138
Dari hasil akhir penilaian monev, Rencana Tindak Lanjut yang dapat
dilakukan adalah antara lain adalah sebagai berikut :

BAB II 5
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Tabel 2.3. Rencana Tindak Lanjut


Kategori Rencana Tindak Lanjut
Keberfungsian
Berfungsi 1. KSM harus terus dibina dan dioptimalkan oleh
Pemda setempat melalui kegiatan monitoring dan
pendampingan sehingga program keberlanjutan dan
partisipasi masyarakat dapat terus ditingkatkan.
2. KSM harus lebih aktif mengembangkan diri untuk
mendapatkan nilai ekono is dari kegiatan 3R ini.
3. Pengembangan TPST selain mengolah kompos
organic juga mengolah sampah plastik menjadi
pellet dimana ada kebutuhan investasi dan
perhitungan ekonomi.
Kurang Berfungsi 1. Dukungan Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait
sangat diperlukan untuk mengaktifkan kegiatan KSM
dalam hal ini perlu bantuan dana operasional seperti
subsidi gaji karyawan dan pembelian bahan bakar.
Pemda juga sebaiknya berperan dalam pemasaran
produk kompos. Pemda dalam hal ini Dinas
Kebersihan/ Dinas Pekerjaan Umum bisa bekerja
sama dengan fasilitator pemberdayaan untuk
memotivasi KSM dalam menyusun kembali Rencana
Kerja Kegiatan 3R bersama dengan aparat
pemerintahan desa maupun Kecamatan.
2. Dukungan dari masyarakat perlu ditingkatkan
melalui kegiatan sosialisasi kegiatan 3R yang dapat
dilakukan oleh KSM bekerja sama dengan Pemda
setempat.
Tidak Berfungsi 1. Revisi proses alur Perencanaan dimana tahapan
pemilihan dan penetapan fasilitator pemberdayaan
masyarakat harus ditempatkan dalam waktu yang
sama dengan pemilihan lokasi. Sehingga proses
pendampingan pada masyarakat sudah mulai dini
dilakukan sehingga KSM dapat terbentuk sebelum
pembangunan fisik dirampungkan.
2. Pada awal perencanaan, komitmen Pemda dan
masyarakat dalam hal ini KSM sudah mulai
dibicarakan dan ditetapkan dalam Agenda
Kesepakatan Kerja (MOU) sehingga diharapkan
kegiatan 3R dari awal sudah didukung oleh
Pemda/Instansi terkait seperti Dinas Kebersihan.
3. Perlu dana awal bantuan operasional dari Pemda
sebagai stimulan kegiatan.

BAB II 6
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

2.3. METODELOGI PENGELOLAAN SAMPAH 3R


Konsep 3R adalah paradigma baru dalam pola konsumsi dan produksi
disemua tingkatan dengan memberikan prioritas tertinggi pada pengelolaan
limbah yang berorientasi pada pencegahan timbulan sampah, minimisasi
limbah dengan mendorong barang yang dapat digunakan lagi dan barang
yang dapat didekomposisi secara biologi (biodegradable) dan penerapan
pembuangan limbah yang ramah lingkungan. Pelaksanaan 3R tidak hanya
menyangkut masalah sosial dalam rangka mendorong perubahan sikap dan
pola pikir menuju terwujudnya masyarakat yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan tetapi juga menyangkut pengaturan (manajemen) yang tepat
dalam pelaksanaannya.
Prinsip pertama Reduce adalah segala aktifitas yang mampu
mengurangi dan mencegah timbulan sampah. Prinsip kedua Reuse adalah
kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang
sama atau yang lain. Prinsip ketiga Recyle adalah kegiatan mengelola sampah
untuk dijadikan produk baru. Untuk mewujudkan konsep 3R salah satu cara
penerapannya adalah melalui pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis
masyarakat, yang diarahkan kepada daur ulang sampah (recycle). Hal ini
dipertimbangkan sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya,
karena adanya potensi pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku
kompos dan komponen non organik sebagai bahan sekunder kegiatan
industri seperti plastik, kertas, logam, gelas,dan lain-lain.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik
Indonesia Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang Penyelenggaraan Prasarana Dan
Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan
Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, diperlukan suatu perubahan
paradigma yang lebih mengedepankan proses pengelolaan sampah yang
ramah lingkungan, yaitu dengan melakukan upaya pengurangan dan
pemanfaatan sampah sebelum akhirnya sampah dibuang ke TPA (target 20%
pada tahun 2014).

BAB II 7
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.3. Konsep Operasional Penanganan Sampah 3R

2.3.1. Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Permukiman


Secara garis besar teknis operasional pengelolaan sampah dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Pola Operasional Pengelolaan Sampah
Menurut Revisi SNI 03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan
Sampah di Permukiman, faktor penentu dalam memilih teknik
operasional yang akan diterapkan adalah kondisi topografi dan
lingkungan, kondisi sosial, ekonomi, partisipasi masyarakat, jumlah dan
jenis timbulan sampah.
Uraian lebih rinci tentang pola operasional adalah sebagi berikut :
a. Pewadahan terdiri dari :pewadahan individual dan atau ;pewadahan
komunal
b. Jumlah wadah sampah minimal 2 buah per rumah untuk pemilahan
jenis sampah mulai di sumber yaitu (1) wadah sampah organik
untuk mewadahi sampah sisa sayuran, sisa makanan, kulit buah-
buahan, dan daun-daunan menggunakan wadah dengan warna gelap
; (2) wadah sampah anorganik untuk mewadahi sampah jenis kertas,
kardus, botol, kaca, plastik, dan lain-lain menggunakan wadah warna
terang.

BAB II 8
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

c. Pengumpulan terdiri dari :


1) pola individual tidak langsung dari rumah ke rumah;

2) pola individual langsung dengan truk untuk jalan dan fasum;

3) pola komunal langsung untuk pasar dan daerah komersial ;

4) pola komunal tidak langsung untuk permukiman padat.

BAB II 9
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

d. Pemanfaatan dan daur ulang sampai di sumber dan di TPS


e. Pemindahan sampah dilakukan di TPS atau TPS Terpadu dan di
lokasi wadah sampah komunal
f. Pengangkutan dari TPS atau TPS Terpadu atau wadah komunal ke
TPA frekuensinya dilakukan sesuai dengan jumlah sampah yang ada.
Dari uraian tersebut dapat diketahui, yang terpenting dalam operasional
adalah tentang pewadahan, pengumpulan, pemanfaatan, pemindahan
dan pengangkutan.

2. Pola Pengelolaan di Sumber Sampah Permukiman


Dalam masalah sampah, sumber sampah adalah pihak yang
menghasilkan sampah, seperti rumah tangga, restoran, toko, sekolah,
perkantoran dan lainnya.
Pengelolaan sampah di tingkat sumber dilakukan sebagai berikut :
a. Sediakan wadah sampah minimal 2 buah per rumah untuk wadah
sampah organik dan anorganik
b. Tempatkan wadah sampah anorganik di halaman bangunan
c. Pilah sampah sesuai jenis sampah. Sampah organik dan anorganik
masukan langsung ke masing-masing wadahnya ;
d. Pasang minimal 2 buah alat pengomposan rumah tangga pada setiap
bangunan yang lahannya mencukupi ;
e. Masukkan sampah organik dapur ke dalam alat pengomposan rumah
tangga individual atau komunal ;
f. Tempatkan wadah sampah organik dan anorganik di halaman
bangunan bagi sistem pengomposan skala kingkungan.

3. Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah dari sumber sampah dilakukan sebagai berikut:
a. Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak atau motor
dengan bak terbuka atau mobil bak terbuka bersekat dikerjakan
sebagai berikut :
- Kumpulkan sampah dari sumbernya minimal 2 (dua) hari sekali
- Masukkan sampah organik dan anorganik ke masing-masing bak
di dalam alat pengumpul
- Pindahkan sampah sesuai dengan jenisnya ke TPS atau TPS
Terpadu
b. Pengumpulan sampah dengan gerobak atau motor dengan bak
terbuka atau mobil bak terbuka tanpa sekat dikerjakan sebai berikut
:
- Kumpulkan sampah organik dari sumbernya minimal 2(dua) hari
sekali dan angkut ke TPS atau TPS Terpadu

BAB II 10
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

- Kumpulkan sampah anorganik sesuai jadwal yang telah


ditetapkan dapat dilakukan lebih dari 3 hari sekali oleh petugas
RT atau RW atau oleh pihak swasta

4. Pengelolaan di TPS/TPS Terbuka


Pengelolaan sampah di TPS / TPS Terbuka dilakukan sebagai berikut:
a. Pilah sampah organik dan anorganik
b. Lakukan pengomposan sampah organik skala lingkungan
c. Pilah sampah anorganik sesuai jenisnya yaitu :
- sampah anorganik yang dapat didaur ulang, misalnya membuat
barang kerajinan dari sampah, membuat kertas daur ulang,
membuat pellet plastic dari sampah kantong plastik keresek
- sampah lapak yang dapat dijual seperti kertas, kardus, plastik,
gelas / kaca, logam dan lainnya dikemas sesuai jenisnya
- sampah B3 rumah tangga
- residu sampah
d. jual sampah bernilai ekonomis ke bandar yang telah disepakati
e. kelola sampah B3 sesuai dengan ketentuan yang berlaku
f. kumpulkan residu sampah ke dalam container untuk diangkut ke
TPA sampah.

5. Pembiayaan dan Retribusi


a. Program dan Pengembangan Pembiayaan
Menurut Revisi SNI 03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan
Sampah di Permukiman, program dan pengembangan pembiayaan
yang dapat dilakukan antara lain :
- Peningkatan kapasitas pembiayaan
- Pengelolaan keuangan
- Penentuan tarif iuran sampah
- Melaksanakan kesepakatan masyarakat dan pengelola serta
konsultasi masalah prioritas pendanaan persampahan untuk
mendapatkan dukungan komitmen Bupati/Walikota
Sedangkan sumber biaya berasal dari :
- Pembiayaan pengelolaan sampah dari sumber sampah di
permukiman sampai dengan TPS bersumber dari iuran warga
- Pembiayaan pengelolaan dari TPS ke TPA bersumber dari
retribusi / jasa pelayanan berdasarkan Peraturan daerah /
Keputusan Kepala daerah Untuk kegiatan yang dapat dibiayai
meliputi kegiatan investasi dan kegiatan operasional dan
pemeliharaan sampah, yang meliputi depresiasi + biaya
operasional dan pemeliharaan

BAB II 11
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

b. Iuran dan Retribusi


Untuk iuran dan retribusi diatur dengan ketentuan sebagai berikut:
- Iuran dihitung dengan prinsip subsidi silang dari daerah komersil
ke daerah non komersil dan dari permukiman golongan
berpendapatan tinggi ke permukiman golongan berpendapatan
rendah ;
- Besarnya iuran diatur berdasarkan kesepakatan musyawarah
warga ;
- Iuran untuk membiayai reinvestasi, operasi dan pemeliharaan
- Retribusi diatur berdasarkan peraturan daerah yang berlaku.

c. Peran Serta Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat


Program untuk peran serta masyarakat dan peningkatan kemitraan :
- Melaksanakan kampanye gerakan reduksi dan daur ulang sampah
- Memfasilitasi forum lingkungan dan organisasi wanita sebagai
mitra
- Menerapkan pola tarif iuran sampah
- Menelusuri pedoman investasi dan kemitraan untuk
meningkatkan minat swasta.
Pemberdayaan masyarakat :
Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan pada saat:
perencanaan, mulai dari survey kampung sendiri sampai dengan
merencanakan sistem pengelolaan, kebutuhan peralatan, dan
kebutuhan dana; pembangunan, bagaimana masyarakat melakukan
pembangunan atau pengawasan pembangunan; pengelolaan, untuk
menentukan pembentukan kelembagaan pengelola dan personil.

2.3.2. Persyaratan Teknis Penyediaan TPS 3R


Berdasarkan Permen PU No 03 Tahun 2013 tentang penyelenggaran
persampahan dalam penanganan sampah rumah tangga dan sejenis rumah
tangga persyaratan teknis penyediaan TPS 3R adalah sebagai berikut:
1. Persyaratan TPS 3R :
a. Luas TPS 3R, lebih besar dari 200 m2
b. Jenis pembangunan penampung residu/sisa pengolahan sampah di
TPS 3R bukan merupakan wadah permanen
c. Penempatan lokasi TPS 3R sedekat ,mungkin dengan daerah
pelayanan dalam radius tidak lebih dari 1 km
d. TPS 3R dilengkapi dengan ruang pemilah, pengomposan sampah
organik, gudang, zona penyangga (buffer zone) dan tidak
mengganggu estetika serta lalu lintas

BAB II 12
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

e. Keterlibatan aktif masyarakat dalam mengurangi dan memilah


sampah
2. Area kerja pengelolaan sampah terpadu skala kawasan (TPS3R) yang
meliputi area pembongkaran muatan gerobak, pemilahan, perajangan
sampah, pengomposan, tempat/kontainer sampah residu, penyimpanan
barang lapak atau barang hasil pemilahan, dan pencucian.
3. Kegiatan pengelolaan sampah di TPS3R meliputi pemilahan sampah,
pembuatan kompos, pengepakan bahan daur ulang, dll.
4. Pemisahan sampah di TPS3R dilakukan untuk beberapa jenis sampah
seperti sampah B3 rumah tangga (selanjutnya akan dikelola sesuai
dengan ketentuan), sampah kertas, plastik, logam/kaca (akan digunakan
sebagai bahan daur ulang) dan sampah organik (akan digunakan sebagai
bahan baku kompos).
5. Pembuatan kompos di TPS3R dapat dilakukan dengan berbagai metode,
antara lain Open Windrow dan Caspary. Sedangkan pembuatan kompos
cair di TPS 3R dapat dilakukan dengan Sistem Komunal Instalasi
Pengolahan Anaerobik Sampah (SIKIPAS).

2.3.3. Pengolahan Sampah TPS 3R


Pengomposan skala kawasan dilakukan terpusat pada skala kapasitas
antara 12 ton sampah per hari. Kawasan yang dimaksud dapat berupa
kawasan permukiman, pasar, komersial dan sebagainya. Jika pada
permukiman, maka pengomposan skala kawasan diperuntukkan untuk
mengelola sampah organik dari sekitar 100 rumah.
Tahapan pengomposan sampah adalah sebagai berikut:
1. Pengiriman dan penerimaan sampah.
Sampah dari setiap rumah/toko/pasar dan lain-lain dikumpulkan dan
dibawa ke TPS 3R. Sampah tidak langsung diproses pada area
pengomposan, akan tetapi dibongkar di area penerimaan
2. Sortasi (Pemilahan) dan pencacahan sampahorganik.
Setelah sampah dibongkar diarea penerimaan, kemudian dibawa ke area
pemilahan. Sortasi (pemilahan) dilakukan dengan tujuan untuk
memisahkan sampah-sampah organik yang merupakan bahan baku
dalam proses pengomposan, dari sampah anorganik dan bahan - bahan
lain yang tidak dapat dikomposkan. Sampah yang datang di lokasi
pengomposan langsung dibawa ke pelataran sortir untuk pemisahan
secara manual. Sortasi dilakukan sesegera mungkin agar tidak terjadi
penumpukan sampah yang menimbulkan bau.
a. Sampah organik yang berukuran besar dan berbentuk memanjang
seperti ranting dan batang pohon, terlebih dahulu dipotong-potong

BAB II 13
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

hingga mencapai ukuran lebih dari 5 cm sehingga mudah


dikomposkan
b. Sampah kebun atau pertanian, seperti cabang pohon dan ranting
dipisahkan dari daundaunnya. Sedangkan sampah organik
(bertekstur lunak) yang berukuran besar dengan panjang dan lebar
lebih dari 4 cm, perlu dilakukan pencacah dengan mesin pencacah
c. Sampah anorganik dikumpulkan dan dikemas untuk dijual
kepengumpul barang bekas, sedangkan sampah residu dikumpulkan
dan dibawa ke TPS untuk diangkut ke TPA oleh Dinas Kebersihan.

Gambar 2.4. Diagram Alir Proses Sortasi (Pemilahan)

BAB II 14
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.5. Diagram Alir Kegiatan Pengomposan Sampah

1. Pengomposan dengan Metode Lajur Terbuka (Open Windrow)


Pengomposan skala kawasan dengan metoda lajur terbuka (open
windrow) merupakan proses pengomposan yang terbukti paling mudah
dilakukan dan dikendalikan. Metoda open windrows yang telah
dikembangkan oleh BPPT dan UDPK bahkan tidak menggunakan
pencacahan secara mekanik dan tidak juga menggunakan aktivator.
Pengendalian udara didalam tumpukan windrows dilakukan dengan
memindahkan tumpukan ke tempat lain (sebelah) sehingga disebut juga
dengan open windrow bergulir. Proses pengomposan memerlukan
waktu selama 6 minggu.

Ketentuan Kapasitas Pengomposan


Menentukan kapasitas pengomposan perlu mempertimbangkan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Metoda UDPK menentukan bahwa ukuran tumpukan sampah yang
ideal adalah tinggi (T) maksimum : 1.5 m, lebar (L) maksimum : 1.75
m dan panjang (P) maksimum : 2 m (tergantung luas lahan yang
tersedia)
2. Jumlah sampah yang dapat dikomposkan adalah 60-70% sampah
organik

BAB II 15
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

3. Volume setiap tumpukan sampah adalah V m3 (V = P x L x T)


4. Jumlah volume seluruh tumpukan = A m3
A = n x V, dimana n = jumlah tumpukan. Tetapi dalam menentukan
jumlah maksimum tumpukan, harus ada jarak minimal 1.5 m antara
tumpukan memanjang. Jarak antara tumpukan tersebut
memungkinkan para pekerja memonitor suhu dan memudahkan
pembalikan sampah
5. Kebutuhan minimum pasokan sampah selama 60 hari proses
6. Pasokan sampah perhari = P/60
7. Perhitungan hasil produksi
Mengingat penyusutan bahan organik yang terjadi selama proses
pengomposan adalah 75% (berat), maka jumlah hasil akhir kompos
adalah 25% dari jumlah tumpukan awal.

Langkah-Langkah Pengerjaan Pengomposan Secara Open Windrow


meliputi :
a. Pemilahan Sampah
1. Dilakukan pemilahan pada sampah yang masuk dengan
membagi sampah menjadi :
- Sampah organik yang dapat dikomposkan
- Sampah yang tidak dapat dikomposkan
- Barang berbahaya
- Residu
- Barang Lapak
2. Jual barang lapak ke pemulung atau bandar lapak
3. Jika ada insinerator di sebelah area pengomposan, bakarlah
residu. Buang sisa pembakaran dan barang berbahaya yang
dibungkus dalam wadah tersendiri
4. Jika tidak ada insinerator, bungkus barang berbahaya dalam
kantong tersendiri kemudian dibuang bersama residu ke TPA
b. Penumpukan Bahan Kompos
1. Lakukan penumpukan sampah organik (hasil pemilahan) yang
dapat dikomposkan di atas aerator bambu dengan ukuran yang
sesuai
2. Lakukan penyiraman setiap mencapai ketebalan 30 cm, agar
kelembaban merata

BAB II 16
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

c. Pengukuran Suhu dan Kelembaban


1. Lakukan pengukuran suhu dengan termometer alkohol pertama
kali setelah penumpukan berumur 2-4 hari untuk mendapatkan
suhu tumpukan > 65 C
2. Setelah itu, setiap 2-4 hari lakukan pengukuran suhu tumpukan
pada sekitar 5 lubang dengan suhu rata-rata yang diinginkan
selama proses sesuai ketentuan. Cara mengukur suhu adalah
lubang/tusuk sisi-sisi tumpukan (sekitar 5 lubang) dengan
kedalaman alat bantu berupa sebatang besi atau kayu keras.
Kedalaman lubang adalah 2/3 tinggi dari tebal tumpukan.
Masukkan termometer tersebut, lalu lubang ditutup kembali,
sehingga yang terlihat tali pengikat termometer. Setelah 1-2
menit termometer dicabut dengan menarik talinya, lalu
secepatnya dibaca suhunya pada termometer, agar tidak
dipengaruhi suhu lingkungan.
3. Lakukan pengukuran kelembaban tumpukan pada saat yang
sama dengan pengukuran suhu. Kelembaban tumpukan yang
diinginkan sekitar 50 %. Cara mengukur kelembaban bahan
tumpukan adalah dari bagian dalam, kemudian remas dengan
kepalan tangan.
- Jika air remasan mengalir cukup banyak dari sela-sela jari,
berarti tumpukan tersebut ter lalu lembab atau di atas > 50%.

- Jika air remasan tidak keluar dari sela jari, berar ti tumpukan
tersebut terlalu kering atau kelembaban di bawah < 50 %.

BAB II 17
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

- Jika air remasan menetes dari sela-sela jari, berarti tumpukan


tersebut mempunyai kelembaban sesuai yang dibutuhkan

4. Perlakukan Pada Proses Pelapukan


Berikan perlakukan berikut sesuai hasil pengukuran suhu dan
ketembaban yaitu:
a. Jika suhu dan kelembaban tumpukan selama proses sesuai
dengan ketentuan yaitu sekitar 45C60 C dan kelembaban
50 % maka pembalikan dapat dilakukan seminggu sekali
bersamaan dengan perlakuan penyiraman. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

b. Jika suhu tumpukan < 45C atau 60 C, maka lakukan


pembalikan. Cara melakukan pembalikan :
- Pembalikan ganda : bongkar tumpukan di sekeliling
terowongan bambu, lalu susun kembali ketempatnya
semula menjadi tumpukan.

BAB II 18
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

- Pembalikan tunggal : bongkar tumpukan dengan langsung


memindahkannya ke tempat baru di sebelahnya.

c. Jika kelembaban tumpukan di atas yaitu > 50 % (basah),


maka lakukan pembalikan pada tumpukan tanpa
penyiraman
d. Jika kelembaban tumpukan kurang, lakukan penyiraman,
baik pada saat pembalikan atau secara langsung di atas
tumpukan.

Prasarana dan Sarana Pengomposan Dengan Lajur Terbuka (Open


Windrows) Peralatan yang dibutuhkan
Jenis peralatan yang dibutuhkan untuk pengomposan lajur terbuka
adalah :
1. Alat pengomposan manual.
a. Garu, alat untuk membentuk dan membalik tumpukan sampah
b. Sekop, untuk proses pengayakan dan pengemasan
c. Pompa air dan perpipaan untuk penyiraman

BAB II 19
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

d. Gerobak dorong untuk mengangkut sampah dan kompos


e. Timbangan
f. Termomoter kompos
g. Pakaian kerja
h. Alat Pencacah(Bila diperlukan)
i. Alat pengemas kompos
j. Alat pengayak kompos, manual atau mekanis.
2. Gerobak sampah untuk mengambil sampah dari sumbernya
3. Instalasi penampung lindi
4. Instalasi listrik
5. Kontainer residu sampah

Area yang dibutuhkan


Jenis prasarana ruangan yang dibutuhkan untuk pengomposan lajur
terbuka adalah :
Ruang beratap tanpa dinding atau dinding setengah :
1. Ruang Pemilahan
2. Ruang Pengomposan
3. Ruang Pematangan
Ruang beratap tertutup dengan dinding :
1. Ruang Gudang
2. Ruang Peralatan
3. Ruang kantor dan toilet

Bangunan TPS 3R Sistem Lajur Terbuka (Open windrow)


Estimasi area yang lebih tepat dapat dihitung lebih rinci. Area yang
terpenting pada proses pengomposan lajur terbuka adalah area
pengomposan. Area ini harus dapat menampung dan memproses sampah
untuk jangka waktu 6 minggu.

BAB II 20
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.6. Desain Peletakan Pengomposan Open Windrow

Gambar 2.7. Tampak Depan dan Tampak Samping Design

2. Pengomposan Skala Kawasan Dengan Metoda Cetakan (Caspary)


Proses pengomposan skala kawasan dengan metoda cetakan merupakan
proses pengomposan dengan menggunakan alat cetak untuk membantuk
sampah dalam bentuk kubus. Proses pengomposan sampah dengan
sistem cetakan ini digunakan jika lahan yang ada tidak terlalu luas.
Proses pengomposan dengan sistem cetak lebih agak rumit dibandingkan
dengan metoda jalur terbuka karena membutuhkan alat cetak. Sifat

BAB II 21
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

tumpukan sampah juga lebih padat dibandingkan lajur terbuka sehingga


udara yang terperangkap pada tumpukan sampah menjadi lebih sedikit.

Gambar 2.8. Pengomposan Dengan Metoda Cetakan Metoda Cetak

Pembentukan Tumpukan
Alur proses pengomposan dengan sistem cetak tidak terlalu berbeda
dengan sistem open windrows. Hal yang secara prinsip berbeda adalah
pada saat membentuk tumpukan sampah untuk proses pengomposan
selanjutnya.
Sampah organik yang sudah terpilah dibawa kearea pengomposan. Pada
area pengomposan disiapkan alat pencetak yang terbuat dari papan.
Ukuran baku untuk alat pencetak memang belum ditentukan, akan tetapi
sebagai dasar perhitungan dapat digunakan dimensi alat cetak lebar 1
meter, panjang 2 meter dan tinggi 0,5 meter (gambar 2.9).

Gambar 2.9. Desain Teknis Cetakan Kompos

BAB II 22
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Pencetakan sampah dilakukan dengan memasukkan sampah organik


kedalam kotak cetakan. Secara manual sampah dalam cetakan
dipadatkan, setelah itu kotak cetakan diangkat maka terbentuklah
tumpukan sampah yang sudah tercetak. Tumpukan yang sudah
terbentuk diberi tanda atau label yang berisi informasi mengenai waktu
pembentukan tumpukan.
Pencetakan sampah dilakukan dengan memasukkan sampah organik
kedalam kotak cetakan. Secara manual sampah dalam cetakan
dipadatkan, setelah itu kotak cetakan diangkat maka terbentuklah
tumpukan sampah yang sudah tercetak. Tumpukan yang sudah
terbentuk diberi tanda atau label yang berisi informasi mengenai waktu
pembentukan tumpukan.

Gambar 2.10. Pencetakan Sampah Secara Manual

Secara berkala, tumpukan sampah dibalik 1 atau 2 kali seminggu secara


manual. Pembalikan tumpukan dapat dilakukan dengan memindahkan
tumpukan yang sudah tercetak kedalam kotak cetakkan berikutnya dan
demikian seterusnya. Waktu pembalikan dicatat dan tumpukan yang
sudah dilakukan pembalikan diberi tanda tanggal pembalikan. Proses
pembalikan memang agak rumit dibandingkan sistem lajur terbuka.

Prasarana dan Sarana Pengomposan Dengan Sistem Cetak


Jenis peralatan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem cetak
adalah:
1. Alat pengomposan manual
a. Garu, alat untuk membentuk dan membalik tumpukan sampah
b. Kotak cetakan sampah
c. Skop, untuk proses pengayakan
d. Pompa air dan pemipaan untuk penyiraman
e. Gerobak dorong untuk mengangkut sampah dan kompos
f. Timbangan

BAB II 23
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

g. Termomoter kompos
h. Pakaian kerja
i. Alat pengemas kompos
j. Alat pengayak kompos,manual atau mekanis
2. Gerobak sampah untuk mengambil sampah dari sumbernya
3. Instalasi penampung air lindi
4. Instalasi listrik
5. Kontainer residu sampah

Area yang dibutuhkan


Jenis prasarana ruangan yang dibutuhkan untuk pengomposan sistem
cetak hampir sama dengan instalasi pengolahan sampah lajur terbuka
(open windrow), yang berbeda hanya pada luasan area pengomposan.
Estimasi area yang lebih tepat dapat dihitung lebih rinci. Area yang
terpenting pada proses pengomposan cetakan adalah area pengomposan.
Area ini harus dapat menampung dan memroses sampah untuk jangka
waktu 6 minggu. Untuk modul 200 kepala keluarga dengan asumsi 5 jiwa
per kepala keluarga.

2.3.4. Fasilitas TPS 3R


Fasilitas TPS 3R meliputi wadah komunal, areal pemilahan, areal
composting (kompos dan kompos cair), dan dilengkapi dengan fasilitas
penunjang lain seperti saluran drainase, air bersih, listrik, barier (pagar
tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang maupun produk
kompos serta biodigester (opsional).

1. Perlatan Pewadahan
Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara
di sumbernya baik secara individual maupun komunal.Kegiatan
pewadahan sampah mempunyai tujuan antara lain :
a. untuk mengisolasi sampah dalam suatu wadah yang ditentukan agar
tidak berserakan
b. untuk mempermudah proses penanganan selanjutnya yaitu
pengumpulan
Alternatif berbagai jenis sarana pewadahan individual dan komunal
dengan kriteria ditampilkan pada tabel 2.2, sedangkan berbagai bentuk
kreasi sarana pewadahan sampah disajikan pada gambar 2.11.
Untuk pelaksanaan pewadahan individual menjadi tanggung jawab
masing-masing sumber, sementara pelaksanaan pewadahan komunal
menjadi tanggung jawab bersama dari beberapa sumber yang
menggunakannnya.

BAB II 24
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Sumber : Panduan Pembangunan Persampahan Di Kawasan Permukiman


Baru, Direwktorat Pengembangan Lingkungan Permukiman Direktorat
Jenderal Cipta Karya.

Tabel 2.4. Berbagai Jenis Sarana Pewadahan Sampah Individual


dan Komunal
No Sarana Pewadahan Kriteria

Nama : Kantong Plastik


Jenis : indoor / outdoor, individual
1.
Ukuran : 50 120 liter
Bahan : PE

Nama : Bin Plastik Kecil


Jenis : indoor, individual
2.
Ukuran : 10 30 liter
Bahan : PVC, PE

Nama : Bin Plastik Sedang


Jenis : indoor/outdoor, individual
3.
Ukuran : 50 70 liter
Bahan : PVC, PE

Nama : Bin plastik


Jenis : Indoor/outdoor, individual,
4. untuk sumber sampah besar
Ukuran : 120 liter
Bahan : PE, PP

BAB II 25
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

No Sarana Pewadahan Kriteria

Nama : Bin Plastik


Jenis : Indoor/outdoor, komunal
5.
Ukuran : 120 liter
Bahan : PE, PP, dilengkapi roda

Nama : Tong Kayu


Jenis : outdoor, individual
6.
Ukuran : 50 - 70 liter
Bahan : kayu

Gambar 2.11. Contoh Kreasi Wadah Sampah

2. Peralatan Pengumpulan Sampah


Pengumpulan sampah dilakukan untuk memindahkan sampah dari
sumber ke TPS 3R. Ketidakcocokan pemilihan alat-alat pengumpul
sampah, kurang baiknya pemeliharaan dan kurang terlatihnya operator
dalam mengoperasikan alat dapat menimbulkan terjadinya kerusakan-
kerusakan pada alat sehingga kesediaan alat pengumpul yang beroperasi
menjadi sangat rendah dan menimbulkan biaya-biaya untuk perbaikan.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pemilihan dan cara
pengoperasian yang benar untuk alat-alat pengumpulan sampah.
Faktor-faktor yang menentukan pemilihan alat pengumpulan antara lain
sebagai berikut :

BAB II 26
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

a. Banyaknya timbulan sampah yang akan ditangani dalam satuan ton


timbulan sampah per hari
b. Jenis sampah yang akan ditangani
c. Dana yang tersedia, termasuk dana untuk operasional dan
pemeliharaan
d. Kondisi daerah pelayanan, seperti : kondisi jalan, jangkauan
pelayanan dan sebagainya
Berikut adalah berbagai alternatif alat pengumpulan sampah TPS 3R
yang cocok untuk daerah dengan kondisi jalan datar dan jangkauan
pelayanan yang tidak terlalu jauh :

Gambar 2.12. Gerobak Sampah dan Becak Sampah


(menggunakan bin dan sekat)

BAB II 27
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.13. Gerobak Sampah dan Becak Sampah


(Tanpa Bin dan Sekat)

Gambar 2.14. Motor Sampah Tertutup dengan Bin dan Sekat

BAB II 28
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.15. Motor Sampah Terbuka (tanpa bin dan sekat)

Gambar 2.16. Motor Sampah Terbuka (menggunakan bin dan sekat)

3. Peralatan Pengumpulan Sampah


Alat pencacah dan pengayak kompos merupakan dua jenis sarana yang
dibutuhkan ketika melakukan proses pengomposan. Alat pencacah
adalah alat yang digunakan untuk mencacah bahan pupuk organik yang
berasal dari biomasa seperti rumput, jerami, padi, batang jagung dan
pucuk tebu (SNI 7580 : 2010). Sedangkan alat pengayak kompos adalah
alat yang digunakan untuk memisahkan partikel kompos atau menyortir
kompos setelah proses penggilingan atau penghancuran.
A. Alat Pencacah Organik (Choper)
Berikut adalah desain alat pencacah sampah organik sesuai dengan
ketentuan SNI (Gambar 2.17).

BAB II 29
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.17. Mesin Pencacah Sampah Organik


Sumber : SNI 7580:2010 - Mesin Pencacah Sampah Organik (Chopper) Bahan
Pupuk Organik Syarat Mutu Dan Dimensi Uji

Keterangan :
1. Bagian pengeluaran
2. Pengatur ukuran potongan bahan organik
3. Bagian pencacah
4. Motor penggerak
5. Rangka
6. Bagian pengumpan bahan
7. Pisau pencacah

Berikut adalah spesifikasi teknis alat pencacah organik berdasarkan


kelasnya.

BAB II 30
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Tabel 2.5. Spesifikasi Teknis Mesin Pencacah

Sumber : SNI 7580:2010 Mesin Pencacah Organik (Chopper) Bahan


Pupuk Organik Syarat Mutu dan Dimensi Uji

Klasifikasi
Berdasarkan kapasitasnya, mesin pencacahan bahan organik di bagi
menjadi 3 (tiga) kelas, yaitu :
1. Kelas A adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas lebih
kecil dari 600 kg/jam
2. Kelas B adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas 600-
1.500 kg/jam
3. Kelas C adalah mesin pencacah yang mempunyai kapasitas lebih
besar dari 1.500 kg/jam
Berikut adalah contoh alat pencacah yang saat ini tersedia di
pasaran. Harga alat ini berkisar antara Rp 11.000.000 hingga Rp
16.000.000 (Gambar 2.18).

BAB II 31
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.18. Beberapa Contoh Alat Pencacah Sampah

B. Alat Pengayak Kompos


Terdapat dua jenis alat pengayak kompos, antara lain :
1. Manual (tanpa mesin)
2. Mekanis (menggunakan mesin). Cocok digunakan untuk
produksi kompos > 100 kg/hari
Perlu diperhatikan bahwa penggunaan alat pengayak kompos
mekanis akan menambah biaya operasional.

1. Alat Pengayak Kompos Manual

Gambar 2.19. Pengayak Kompos Manual

BAB II 32
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

2. Alat Pengayak Kompos Mekanis

Gambar 2.20. Pengayak Kompos Mekanis

Tabel 2.6. Spesifikasi Alat Pengayak Kompos

2.4. METODELOGI ANALISA ISU STRATEGI,


PERMASALAHAN DAN TANTANGAN
PENGELOLAAN SAMPAH 3R
Analisis SWOT merupakan salah satu cara yang dapat digunakan
untuk menganalisis isu strategi, permasalahan dan tantangan pengelolan
sampah. Analisis ini menekankan untuk memahami kondisi dan
permasalahan serta potensi yang dapat menjadi dasar pengembangan
wilayah khususnya permasalahan pengelolan sampah.
Analisis SWOT ini secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya
untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan atau memahami setiap potensi
dan permasalahan yang ada di suatu wilayah. Faktor kekuatan dan
kelemahan merupakan faktor internal sedangkan peluang dan ancaman
merupakan faktor eskternal yang dihadapi oleh organisasi/instansi, hasil
dari analisis SWOT ini pada akhirnya dapat dijadikan bahan pertimbangan

BAB II 33
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

para pemangku kepentingan di daerah untuk mengambil keputusan yang


tepat agar daerahnya berkembang sesuai dengan yang direncanakan. Dalam
penyusunan analisis SWOT ada 3 (tiga) tahapan analisis, yaitu :
a) Tahap Pengumpulan Data
Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan
data, tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasikasian dan pra-
analisis. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu External
Fcator Evaluation (EFE) dan Internal Factor Evaluation (IFE), dimana EFE
yang meliputi Opportunities dan Threat, sedangkan EFE meliputi Strength
dan Weakness. Berikut ini adalah cara cara penyusunan matrik External
Factor Evaluation (EFE) :
1. Tentukan faktor faktor yang menjadi peluang dan acaman dalam
kolom 1.
2. Beri bobot masing masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0
(sangat penting) sampai 0,0 (tidak penting). Faktor faktor tersebut
kemungkinan dapat memberikan dampak strategis.
3. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing masing faktor dengan
memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1
(poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi
tempat penelitian. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang
bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4, tetapi
jika peluangnya kecil diberi rating +1). pemberian nilai rating
ancaman adalah kebalikannya. Misalnya, jika nilai ancaman sangat
besar ratingnya adalah 1. sebaliknya jika nilai ancaman sedikit,
ratingnya 4.
4. Pemberian bobot dan rating tersebut berdasarkan pada hasil
pengumpulan data berupa studi pustaka, kuisioner, observasi
lapangan dan wawancara.
5. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk
memperoleh faktor pembobotan pembobotan pada kolom 4, hasilnya
berupa skor pembobotan untuk masing - masing faktor yang nilainya
bervariasi mulai dari 4,0 (outstanding) sampai 1,0 (poor).
6. Jumlah skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total
skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. nilai total ini
menunjukan bagaimana perusahaan tersebut bereaksi terhadap
faktor - faktor strategis.
Apabila penyusunan analisis faktor - faktor strategis eksternal (peluang
dan ancaman) telah selesai, langkah selanjutnya adalah penyusunan
analisis faktor - faktor strategis internal (kekuatan dan kelemahan).
berikut ini adalah cara - cara penyusunan matrik Internal Factor
Evaluation (IFE) :

BAB II 34
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

1. Tentukan faktor - faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan


lokasi penelitian.
2. Beri bobot masing - masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0
(sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting), berdasarkan
pengaruh faktor - faktor tersebut terhadap lokasi penelitian (semua
bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00).
3. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing - masing faktor dengan
memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1
(poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap lokasi
penelitian. Faktor yang bersifat positif (semua faktor yang masuk
katergori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 (poor) sampai dengan
+4 (outstanding. Pemberian nilai rating kelemahan adalah
kebalikanya. Misalnya, jika nilai kelemahanya sangat besar ratingya
adalah 1. sebaliknya jika nilai kelemahanya sedikit ratingnya 4.
4. Pemberian bobot dan rating tersebut berdasarkan pada hasil
pengumpulan data berupa studi pustaka, kuisioner, observasi
lapangan dan wawancara
5. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk
memperoleh faktor pembobotan pada kolom 4, hasilnya berupa skor
pembobotan untuk masing - masing faktor yang nilainya bervariasi
mulai dari 4,0 (outstanding) sampai 1,0 (poor).
6. Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh
skor pembobotan bagi lokasi penelitian.

b) Tahap Analisis
1. Matrik SWOT
Setelah pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah memanfaatkan
semua informasi tersebut dalam model perumusan strategi, yaitu
matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas
bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat
disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik
SWOT adalah alat lanjutan untuk mengembangkan 4 (empat) tipe
pilihan strategi alternatif yaitu SO, WO, ST DAN WT. kunci
keberhasilan penggunaan matriks SWOT adalah mempertemukan
faktor kunci internal dan eksternal membentuk satu strategi.

BAB II 35
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Tabel 2.7. Matrik SWOT


Internal Factor Evaluation
Strength (S) :
Weakness (W) :
Tentukan faktor -
Matrik SWOT Tentukan faktor - faktor
faktor kekuatan
kelemahan internal
internal
Identifikasi Strategi Identifikasi Strategi
Opportunities
SO : WO :
(O) :
Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
Tentukan
menggunakan meminimalkan
faktor - faktor
kekuatan untuk kelemahan untuk
External eksternal
memanfaatkan peluang memanfaatkan peluang
Factor
Identifikasi Strategi Identifikasi Strategi
Evaluation Threat (T) :
ST : WT :
Tentukan
Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
faktor - faktor
menggunakan meminimalkan
ancaman
kekuatan untuk kelemahan dan
eksternal
mengatasi ancaman menghindari ancaman

2. Diagram SWOT
Berdasarkan matrik IFE dapat diketahui posisi sumbu X dengan
rumus berikut : X = Total Kekuatan - Total Kelemahan.
Berdasarkan matrik EFE dapat diketahui posisi sumbu Y dengan
rumus sebagai berikut :
Y = Total Peluang - Total Ancaman. Berdasarkan matrik IFE dan
EFE tersebut maka dapat diketahui dimana posisi pada sumbu X dan
Y atau (X,Y) berada.

BAB II 36
LAPORAN
EVALUASI TPS 3R PROVINSI BALI ANTARA

Gambar 2.21. Diagram SWOT

3. Tahap Pengambilan Keputusan


Tahap pengambilan keputusan adalah menentukan strategi apa yang
paling memungkinkan dalam mengembangkan pengelolaan sampah
di Kota Denpasar khususnya pada TPS. Cara menentukannya adalah
dengan menentukan salah satu dari empat alternatif strategi yang
paling memungkinkan sesuai dengan letak koordinat sumbu X dan Y,
yaitu :
a) Strategi SO (Strengths And Opportunities) atau strategi Progresif.
Yaitu strategi yang menggunakan seluruh kekuatan (strength)
untuk memanfaatkan peluang (Opportunities).
b) Strategi WO (Weaknesses and Opportunities) atau strategi Turn
Around, yaitu strategi yang meminimalkan kelemahan
(Weaknesses) untuk memanfaatkan peluang (Opportunities).
c) Strategi ST (Strength and Threas) atau strategi Diversifikasi, yaitu
strategi yang untuk menggunakan kekuatan (Strength)yang
dimiliki perusahaan dengan cara menghindari ancaman.
d) Strategi WT (Weaknesses and Threas) atau strategi Defensif, yaitu
strategi yang didasarkan pada kegiatan bersifat defensif dan
ditujukan untuk meminimalkan kelemahan yang ada serta
menghindari ancaman.

BAB II 37

Anda mungkin juga menyukai