Anda di halaman 1dari 17

LA PO RA N A KH IR

Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

BAB IV
METODOLOGI

4.1. UMUM
Pelaksanaan pekerjaan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas
Mengwitani Singaraja terdiri dari beberapa tahap. Pada Gambar 4.1 diperlihatkan tahapan
proses yang harus dilalui dalam mulai dari perencanaan suatu proyek sampai dengan
pelaksanaan konstruksi.

Pra Feasibility Study

Feasibility Study

Detail Desain

Konstruksi

Monitoring

Gambar 4.1 Tahapan Proses Perencanaan Kegiatan

Studi yang saat ini dilaksanakan merupakan studi kelayakan atau tahap awal dari suatu
perencanaan di mana pada tahap ini beberapa aspek yang menjadi pertimbangan kelayakan
proyek akan ditinjau, seperti analisis trase, analisis teknik, analisis demand dan analisis
operasi. Proses perencanaan menempuh beberapa tahap di mana pada tiap tahap akan
diadakan review terhadap tahap sebelumnya dan proses yang lebih detail atau lebih teliti akan
dilaksanakan pada tiap tahap selanjutnya.

IV-1
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.2. POTENSI KERJASAMA PEMERINTAH DAN SWASTA


Penyelenggaraan operasi kereta api di Propinsi Bali tidak terlepas dari adanya potensi
kerjasama antara pemerintah swasta. Sesuai amanat UU 23/2007 tentang Perkeretaapian
maka pengembangan perkeretaapian nasional di masa yang akan datang akan mengarah
kepada sistem multioperator dengan memaksimalkan peran Pemda dan swasta. Untuk
meningkatkan peran Pemda dan swasta dalam pengembangan perkeretaapian nasional, maka
stakeholders tersebut harus dilibatkan seawal mungkin dalam proses perencanaan, termasuk
di dalam menyusun rencana pengembangan jalur keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja ini.
Peran Pemda dan swasta ini perlu dikoridori secara baik, sehingga secara efektif dapat
disinergikan untuk mewujudkan jalur keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja yang terintegrasi
dan efisien. Keterlibatan Pemda dan Swasta dalam pembangunan jalur kereta api dapat
dilakukan melalui beberapa metoda antara lain wawancara, FGD, kuesioner, dan lain
sebagainya. Pada intinya perlibatan Pemda dan swasta ini merupakan upaya untuk menjaring
aspirasi, pendapat, masukan, dan juga kebijaksanaan untuk mendapatkan skema implementasi
dan pola investasi yang optimal serta menjamin pelaksanaan operasional yang sustain.

4.3. ALUR PEKERJAAN


Secara umum tahapan pelaksanaan pekerjaan studi ini terdiri dari: Tahap Persiapan,
Tahap Pengumpulan Data, Tahap Analisis dan Perencanaan, dan Tahap Finalisasi. Alur
pekerjaan ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan yakni sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan: ditunjukkan untuk menyelesaikan masalah administrasi dan
menyiapkan kerangka pelaksanaan studi berupa persiapan survey, kajian literatur, dan
pengenalan awal wilayah studi. Hasil Tahap Persiapan ini akan disampaikan pada
Laporan Pendahuluan (Inception Report).
2. Tahap Pengumpulan Data: ditujukan untuk memperoleh data primer dan sekunder
yang dibutuhkan dalam kegiatan analisis dalam studi kelayakan ini. Hasil pengumpulan
data dan analisis awal disampaikan pada Laporan Antara (Interim Report).
3. Tahap Analisis, Perencanaan dan Rekomendasi Studi Kelayakan: ditujukan untuk
menghasilkan perencanaan awal dan rekomendasi kelayakan perencanaan yang
dihasilkan. Hasil tahap analisis dan perencanaan ini akan disampaikan pada Konsep
Laporan Akhir (Draft Final Report).
4. Tahap Finalisasi Studi: ditujukan untuk melengkapi laporan studi sesuai denganhasil
diskusi dengan pihak pemberi kerja dan masukan dari berbagai instansi untuk

IV-2
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

dijadikan hasil akhir dari studi ini. Hasil Tahap Finalisasi Studi ini akan disampaikan
pada Laporan Akhir (Final Report).
Untuk memenuhi target waktu dan substansi yang disyaratkan, tahapan kegiatan
dalam studi ini disusun seperti ditampilkan pada Gambar 3.2.

Gambar 4.2 Tahapan Proses Penyusunan Studi Kelayakan

IV-3
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.4. TAHAP PERSIAPAN


Pada tahap persiapan ini dilakukan beberapa kegiatan sebagai awal (inisiation) dari
seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan. Hasil tahap persiapan ini akan sangat
mempengaruhi proses yang dilakukan dalam tahap-tahap selanjutnya. Secara umum terdapat
4 kegiatan utama di dalam tahap persiapan ini, yakni:
1. Pemantapan metodologi dan maksud dari kegiatan ini adalah:
a. Merencanakan secara lebih detail tahap-tahap pelaksanaan kegiatan berikutnya,
untuk mengefisienkan penggunaan waktu dan sumber daya.
b. Menetapkan metode survey dan metodis analisis yang akan digunakan, hal ini
penting untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kebutuhan data, penyediaan
waktu analisis, dan kualitas hasil penelitian secara keseluruhan.
2. Studi literatur yang berguna untuk:
a. Menelaah sejumlah studi perencanaan atau kelayakan studi akses menuju
pelabuhan yang pernah ada.
b. Menelaah kondisi jaringan kereta api eksisting.
3. Review peraturan terkait yang bermanfaat untuk:
a. Menyusun konsep pengembangan sistem transportasi terpadu di pelayanan
kereta api ini disesuaikan dengan sistem transportasi serta kondisi infrastruktur
eksisting dan dipadukan dengan konsep yang ada di dalam studi kewilayahan.
b. Mengetahui rencana tata ruang baik dalam skala nasional, propinsi, regional
Kabupaten/Kota sebagai masukan dalam pengembangan perencanaan dan
kelayakan pembangunan prasarana dan pelayanan kereta api ini.
4. Identifikasi awal kondisi dan problem pada sistem transportasi eksisting
5. Menyusun rencana survey dan rencana analisa, baik itu dari sisi teknis, sisi operasi dan
sisi kelayakan ekonomi.

4.5. TAHAP PENGUMPULAN DATA


Pada tahap ini akan dilakukan pengumpulan data, baik data dari sumber sekunder
(instansi terkait) maupun data primer yang diperoleh dari survey di lapangan. Data sekunder
digunakan untuk melengkapi data dan informasi tentang pengembangan kawasan di sekitar
Mengwitani-Singaraja, demand barang, studi-studi yang terkait atau yang lain. Sedangkan data

IV-4
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

primer merupakan data yang digunakan untuk mengetahui kondisi demand dan kondisi trase
yang mungkin dilalui oleh akses transportasi.

4.5.1. Persiapan Survei


Persiapan survey ini dilakukan untuk merencanakan secara detail pelaksanaan survey
yang berkaitan dengan:
(1) Pemilihan metode survey.
(2) Penyiapan formulir survey sesuai dengan metode survey yang digunakan.
(3) Penyiapan sumber daya survey dan penyusunan jadwal pelaksanaan survey.

4.5.2. Kebutuhan Data


Secara umum data yang dibutuhkan dapat digolongkan dalam 2 kategori yakni data
untuk analisa secara teknis, data analisis demand, data operasi dan data untuk kebutuhan
kelayakan finansial/ekonomi. Data yang digunakan untuk analisa teknik baik itu trase ataupun
perencanaan teknik jalur kereta api ini terdiri dari:
(1) Data sosial ekonomi, yang meliputi data jumlah dan penyebaran penduduk, tingkat
pendidikan, jumlah dan penyebaran tenaga kerja, PDRB dan PDRB perkapita, output
(produksi) dari kegiatan ekonomi, dan data terkait lainnya.
(2) Data tata ruang, yang meliputi data penggunaan lahan per jenis kegiatan, pola
penyebaran lokasi kegiatan, besaran penggunaan ruang dan pola kegiatannya.
(3) Data Jaringan Transportasi, yang merangkum data-data mengenai kondisi dan tingkat
pelayanan jaringan transportasi yang berada di dalam daerah studi, baik ruas maupun
simpul pada moda transportasi yang dioperasikan terutama moda jalan dan rel. data
yang dikumpulkan merupakan data eksisting dan data rencana pengembangan, data
pengembangan diperlukan agar diketahui rencana pengembangan baik itu moda jalan
tetapi khususnya moda rel agar rencana pengembangan jalan kereta api ini dapat
terintegrasi dan tidak saling bertabrakan dengan rencana pengembangan yang lain.
Oleh karena itu koordinasi baik itu secara studi atau dengan instansi-instansi yang
terkait di wilayah tersebut dan antar moda merupakan suatu hal yang penting.
(4) Data Kondisi Geografis, yang meliputi data topografi, keberadaan hambatan alam
(sungai, bukit, daerah rawan patahan, dll) di sekitar lokasi koridor jalan kereta api
yang direncanakan.

IV-5
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

(5) Data kondisi Right of Way dari rute atau trase yang terpilih untuk dikembangkan pada
studi ini.

Sedangkan data yang diperlukan untuk memprediksi demand yang akan berpindah dari
sistem transportasi yang ada saat ini dengan pembangunan prasarana dan pelayanan kereta
api terdiri dari:
(1) Jumlah pergerakan lalu lintas yang dilayani oleh moda jalan di rute yang sejajar dengan
pembangunan prasarana dan pelayanan kereta api ini
(2) Data asal tujuan yang telah ada dan pernah dilakukan.
(3) Data asal tujuan penumpang.
(4) Data modal split dan analisa demand.
(5) Data kondisi eksisting wilayah industri sekitar dan ruangan atau tempat survey
dilakukan.

Data yang diperlukan untuk menganalisis sistem operasi adalah sebagai berikut :
(1) Jumlah penumpang yang menggunakan KA penumpang dan barang serta prediksi ke
depannya
(2) Data Trase yang akan dilalui.
(3) Data operasi kereta api dan biaya operasi kereta api.
(4) Data rolling stock.
(5) Data kebutuhan prasarana termasuk sintelis

Data-data yang dibutuhkan untuk analisis kelayakan ekonomi adalah sebagai berikut :
(1) Jumlah barang yang dikirim melalui Pelabuhan eksisting dan prediksi ke depannya.
(2) Data biaya operasi kereta api dan biaya penghematan waktu.
(3) Data biaya operasi kendaraan yang akan dihemat untuk kelayakan ekonomi.
(4) Data tarif kendaraan per moda transportasi.
(5) Data kecepatan.
(6) Data rute alternatif per moda transportasi lain.

IV-6
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.5.3. Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan 4 cara yakni survey sekunder, survey potensi
pengguna, survey stated preference dan survey koridor. Adapun metoda pelaksanaan survey
tersebut dijelaskan sebagai berikut:
(1) Survey Sekunder
Survey sekunder dilakukan dengan mendatangi stakeholder-stakeholder yang terkait
pada studi ini Pemerintah Daerah Provinsi Bali khususnya Dinas Perhubungan,
Komunikasi dan Informatika Propinsi untuk meminta sejumlah dokumentasi data, dan
sejumlah instansi lain yang dapat menyediakan data yang berkaitan dengan
pelaksanaan studi seperti rencana tata ruang, data sosial ekonomi ekonomi dan data
lainnya yang berhubungan. Pada Tabel 3.1 akan diperlihatkan data sekunder yang
dibutuhkan pada studi ini.

Tabel 4.1 Kebutuhan Data Sekunder


No Jenis Data Item Data Sumber Data
1 Sosio Ekonomi Kependudukan BPS
Perekonomian
2 Dokumen RTRW Propinsi Bali BAPPEDA Propinsi
RTRW Kabupaten Badung BAPPEDA Kabupaten
RTRW Kabupaten Buleleng Dinas Perhubungan
TATRAWIL Bali
Studi terkait di daerah
3 Prasarana dan Kondisi jaringan per moda Dinas Perhubungan
Pelayanan Transportasi Operasi dan Kinerja Jaringan Dinas PU
Transportasi
4 Permintaan Perjalanan Permintaan Perjalanan Penumpang ATTN
Permintaan Perjalanan Barang
5 Fisik Peta Dasar Kewilayahan Bakosurtal
Peta Geologi dan Topografi BPN
Data daya dukung tanah Dinas PU dan Tata Ruang
Penggunaan lahan sepanjang koridor Survey Lapangan
6 Persepsi Penumpang Stated Preference Pemilihan Moda Wawancara
dan Barang Asumsi perpindahan moda ke kereta
api untuk perangkutan
7 Lainnya Studi terkait terdahulu PEMDA
Studi Rencana Pengembangan Dinas Perhubungan
Transportasi Konsultan
Studi Rencana Pengembangan
Wilayah
Sumber : Tim FS KA Mengwitani-Singaraja

IV-7
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

(2) Survey Stated Preference


Survey stated preference digunakan untuk mengetahui perilaku pelaku perjalanan
terhadap introduksi suatu fasilitas transportasi baru (yang belum beroperasi saat ini
ketika survey dilakukan). Survey ini diperlukan karena perilaku populasi tidak dapat
diketahui dengan menggunakan data eksisting yang ada karena datanya memang tidak
representatif untuk keperluan ini.
Survey ini dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku para pelaku perjalanan
dengan adanya fasilitas transportasi baru tersebut, dalam hal ini moda rel untuk
pelayanan menuju pelabuhan. Survey ini dapat juga digunakan untuk mengetahui
tingkat tarif yang dianggap wajar oleh pengguna dan juga asal/tujuan, intesitas
perjalanan, dan data lainnya yang terkait dan diperlukan dalam analisis.
Survey ini dilakukan dengan teknik wawancara kepada responden menggunakan
formulir. Selama mengisi formulir tersebut, respoden didampingi oleh pewawancara.
Adapun segmentasi responden secara lebih rinci dan lokasi wawancara adalah
- Pengantar/penjemput: di luar (ruang tunggu)
- Penumpang berangkat: boarding room (setelah check-in)
- Penumpang datang: baggage claim atau pada saat menunggu jemputan
- Penumpang yang menggunakan bus: di terminal-terminal (terpilih) + dalam bus
sepanjang perjalanan
- Karyawan: kantor (dikoordinir dalam satu ruangan atau di meja kerja masing-
masing)

Gambar 4.3 Struktur Pemilihan Moda

IV-8
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

Formulir wawancara stated preference ini juga dilampirkan pada bagian akhir laporan
ini. Pada formulir ini juga diakomodasi informasi asal-tujuan. Survey koridor dalam
studi ini dimaksudkan untuk mengetahui:
a. Ketersediaan lahan yang memungkinkan untuk digunakan sebagai jalur moda rel
yang direncanakan.
b. Kondisi lahan dalam koridor pengembangan jalur kereta api.
c. Kondisi prasarana berupa jalan rel atau stasiun.
d. Identifikasi secara teknik masalah geografis berupa galian dan timbunan dengan
menggunakan sistem GPS dan pengukuran secara detail koridor pengembangan
kereta api baik yang eksisting atau rencana pembangunan jalan rel yang baru.

Survey koridor diperlukan untuk mengetahui kondisi lahan dan infrastruktur yang
akan dilalui oleh pelayanan moda rel yang direncanakan. Hasil survey ini juga
diperlukan untuk mengetahui lokasi asal tujuan perjalanan yang kemungkinan terjadi
sepanjang koridor rencana sehingga mungkin akan dibutuhkan penambahan terminal.
Survei ini juga mengidentifikasi kebutuhan penambahan prasarana atau infrastruktur.

(3) Teknik Sampel Untuk Pengambilan Data


Besarnya sampel yang sebaiknya diambil dari suatu populasi agar mampu
merepresentasikan kondisi seluruh populasi pada dasarnya dipengaruhi oleh 3 (tiga)
faktor utama, yaitu :
a. Tingkat variabilitas dari parameter yang ditinjau dari seluruh populasi yang ada
b. Tingkat ketelitian yang dibutuhkan untuk mengukur parameter dimaksud
c. Besarnya populasi di mana parameter akan disurvei

Jika suatu harga parameter dari suatu populasi mempunyai tingkat variabilitas yang
tinggi, maka secara logis akan dijumpai kenyataan bahwa jika jumlah sampel yang
ditarik terlalu sedikit maka tidak akan mampu merepresentasikan kondisi seluruh
populasi. Tetapi jika tingkat variabilitas parameter yang akan diukur rendah sekali,
katakanlah nol, maka secara ekstrem dapat dikatakan bahwa sampel dengan jumlah
satu unit pun sudah cukup. Mengingat bahwa harga parameter seluruhnya sama untuk
semua populasi.

IV-9
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

Selanjutnya jika ditinjau dari tingkat ketelitian dari harga parameter yang diukur maka
makin tinggi tingkat ketelitian yang diinginkan maka makin besar pula jumlah sampel
yang dibutuhkan. Ditinjau dari besarnya populasi maka makin besar populasi akan
makin besar pula jumlah sampel yang dibutuhkan untuk merepresentasikan kondisi
seluruh populasi.
Secara matematis besarnya sampel dari suatu populasi dapat dirumuskan berikut :
- Untuk populasi yang besarnya infinite
n = S2 / (S.e.(x))2

- Untuk jumlah populasi yang hingga


N = n / ( 1 + [n / N] )
dimana n atau n adalah jumlah sampel, S2 adalah standard deviasi dari parameter dan
(S.e.(x))2 adalah standard error yang dapat diterima untuk parameter dimaksud.

(4) Penentuan Jumlah Sampel Dengan Cara Onboard Survey


Jumlah penumpang yang naik dan turun pada tiap zona dihitung dengan cara onboard
(survei dinamis) yaitu menempatkan seorang pengamat di dalam angkutan dan
mencatat jumlah penumpang yang naik dan turun serta lokasinya. Jumlah survei antara
8 sampai 12 trip sudah cukup untuk keakurasian data (Saxena,1989).
Data yang akan digunakan untuk analisa biasanya adalah data yang dapat mewakili
semua data yang didapat dari beberapa kali survei. Oleh karena itu harus dilakukan uji
rata-rata/perwakilan sampel. Dalam menentukan prosentase kecenderungan
penumpang kapal untuk memilih jenis kendaraan antar jemput dilakukan pengujian
kesalahan dari rata-rata sampel, yaitu untuk memeriksa nilai deviasi rata-rata dari
ukuran sampel. Harry King merekomendasikan tingkat ketelitian sampel minimal 85%.
Berarti tingkat kesalahan berkisar antara 5% sampai 15%. Secara matematis
dirumuskan sebagai berikut :

dimana : = perkiraan kesalahan


Zx = konstanta, tergantung tingkat kepercayaan
= standar deviasi
= rata-rata
n = banyaknya data

IV-10
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.6. TAHAP ANALISIS DAN PERENCANAAN


Tahap ini terdiri dari beberapa bagian, yakni: analisis awal, analisa teknik, analisa
potensi demand, analisa operasi dan analisa kelayakan finansial/ekonomi. Berikut disampaikan
detail bahasan untuk setiap item yang termasuk dalam tahapan ini.
4.6.1. Analisis Awal
Analisis awal merupakan kegiatan untuk menginterpretasi sejumlah data yang
diperoleh dari survey. Kegiatan ini dilakukan untuk:
(1) Memverifikasi kualitas dan jenis data yang diperoleh;
(2) Mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang ada di dalam sistem transportasi di
koridor akses link menuju simpul distribusi dengan menggunakan moda rel, yang
dituangkan dalam bentuk numerik, uraian, ataupun gambar
(3) Membentuk basis data yang operatif untuk digunakan dalam proses perencanaan dan
analisis.

4.6.2. Analisis Trase


Dalam pengembangan analisa teknik tersebut terdiri dari beberapa aspek yaitu aspek
pemilihan trase, desain geometrik alinyemen horizontal dan vertikal, besaran galian dan
timbunan serta pembebasan lahan dan besaran investasi prasarana jalan rel dan stasiun di
koridor tersebut.
Pada analisa desain geometrik tersebut terdiri dalam dua perencanaan yaitu
perencanaan berdasarkan alinyemen vertikal dan perencanaan berdasarkan alinyemen
horizontal. Pada analisa ini data sekunder berupa kondisi eksisting ROW jaringan kereta api
eksisting sangat diperlukan dan pengamatan di lapangan baik itupengamatan secara visual dan
survey koridor menjadi entry point yang sangat penting.
Survei koridor tujuannya adalah untuk memberikan pengukuran-pengukuran secara
detail baik itu ROW jaringan jalan kereta api eksisting dan lokasi rencana pembangunan jalan
rel yang baru, perencanaan jalan kereta api dengan penambahan double track pada jaringan
eksisting serta pembangunan jalan rel baru pada lokasi pembangunan jalan rel yang baru dan
mengidentifikasi kondisi geografis yang akan berpengaruh pada volume galian dan timbunan.
Selain itu survei koridor juga akan mengidentifikasi kondisi lahan serta mengidentifikasi
kebutuhan lahan apabila penambahan double track pada jaringan jalan rel eksisting dan
pembangunan jaringan double track di rencana pembangunan.

IV-11
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

Kondisi eksisting dan geografis lahan akan dibantu pula oleh peta udara dengan skala
yang cukup jelas untuk melihat kondisi dan situasi di sekitar jaringan jalan rel eksisting,
rencana pengembangan jalan rel baru dan rencana master plan pelabuhan. Data ini atau
analisa ini digunakan untuk memprediksi besaran secara detail faktor pembebasan lahan pada
koridor rencana.

Gambar 4.4 Proses Analisis Pemilihan Alternatif Trase

Hasil akhir dari analisis teknik ini adalah suatu besaran finansial investasi jalan rel dan
investasi prasarana lain seperti stasiun pada pengembangan prasarana dan pelayanan kereta
api. Investasi yang lain adalah investasi pembebasan lahan di koridor eksisting dan rencana
pembangunan jalan rel baru.

IV-12
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.6.3. Analisis Demand


Analisis demand atau analisa potensi pengguna yang dilakukan adalah untuk
memprediksi potensi berpindahnya pengguna atau user dari moda eksisting menuju moda
kereta api. Lingkup analisis transportasi meliputi
(1) Analisa dari data asal dan tujuan.
(2) Analisa dari data stated preference tentang persentase pengguna yang berpindah
menuju moda kereta api.
Data asal tujuan digunakan untuk benchmark data penumpang dan barang yang
menggunakan pelabuhan dan menuju zona-zona di daerah sekitarnya. Data ini adalah data
yang mutlak harus dimiliki sebelum dimulainya proses survei potensi pengguna dengan
menggunakan metoda stated preference (SP) . Data asal tujuan yang sebelumnya pernah
dilakukan baik itu oleh PT. KA (Persero) atau dari instansi lain yang dapat memvalidasi data
benchmark ini.
Analisa data stated preference adalah proses selanjutnya karena proses ini adalah
proses yang dilakukan untuk mengetahui splitting atau perpindahan moda. Teknik Stated
Preference berasal dari ilmu psikologi matematika, Hensher (1994). Teknik ini secara luas
dipergunakan dalam bidang transportasi untuk mengukur/ memperkirakan pemilihan moda
perjalanan yang belum ada atau melihat bagaimana reaksi mereka bereaksi terhadap suatu
yang baru (hypothetical situation). Stated Preference berarti pernyataan preferensi tentang
suatu alternatif dibanding dengan alternatif-alternatif yang lain dalam menentukan alternatif
rancangan yang terbaik dalam analisa potensi demand suatu rancangan moda transportasi
baru (belum ada).
Proses survey yang dilakukan adalah dengan mewawancarai seorang individu
ditanya/diminta untuk mengindikasikan pilihannya di antara atribut-atribut dari kombinasi
yang tersedia (cara ranking atau rating). Seorang individu kemudian diminta untuk memilih
satu di antara kombinasi atribut-atribut.
Proses akhir pada analisis ini adalah proses pemilihan desain kereta api yang akan
digunakan pada studi ini atau pengembangan moda kereta api untuk akses koridor yang
direncanakan. Setelah ditentukan desain kereta api yang dipilih melalui plotting survei dan
parameter statistik berupa r-square dan nilai-nilai koefisien pada variabel atau atribut terpilih
maka didapatlah suatu nilai modal split dari model travel behavior atau model modal split ini.

IV-13
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

4.6.4. Analisis Teknis


Setelah dilakukan alternatif rute (trase) jalan kereta api yang menghasilkan rute
terpilih serta analisis kebutuhan pergerakan yang ada maka langkah selanjutnya pada
perencanaan jalan kereta api ini adalah perencanaan alinyemen dan sistem operasi kereta api.
Perencanaan alinyemen jalan kereta api meliputi perencanaan track, stasiun, persilangan tidak
sebidang dengan jalan raya (underpass atau fly over), perencanaan jembatan dan sebagainya.
Hasil perencanaan ini akan menjadi komponen dalam perhitungan biaya konstruksi jalan
kereta api dan analisis kelayakannya.

4.6.5. Analisis Operasi


Analisa operasi yang dilakukan adalah untuk melihat optimasi jaringan jalan rel,
rencana pengembangan prasarana jalan rel, rencana pengembangan sarana baik itu rolling
stock, lokomotif dan rencana pengembangan prasarana seperti sintelis.
Berdasarkan besaran prediksi demand, akan ditentukan apakah jaringan rel akan
menggunakan single ataupun double track. Sistem ini akan membuat jaringan jalan rel
tersebut harus diketahui optimasinya dan kemudian rencana pengembangannya berdasarkan
prediksi penumpang dan barang pelabuhan serta kapasitas maksimum jaringan jalan rel.
Sistem stasiun juga diperlukan pada analisa ini, sistem stasiun dapat berguna sebagai
emplasemen yang digunakan untuk mengoptimalkan jaringan jalan rel.
Sistem sinyal, telekomunikasi dan listrik atau lebih dikenal sebagai sistem sintelis akan
menjadi parameter atau indikator lain dalam sistem operasi ini. Semakin baik dan canggih
sistem sinyal dan telekomunikasi akan mengakibatkan optimasi jaringan akan semakin baik.
Hasil akhir dari analisa ini adalah besaran investasi sarana berupa rolling stock, lokomotif,
depo dan logistik serta sintelis dalam operasi kereta api menuju pelabuhan.

4.6.6. Analisis Kelayakan Finansial/Ekonomi


Untuk mempersiapkan implementasi rencana jalur kereta api lintas Mengwitani-
Singaraja dengan menggunakan moda yang berbasis rel beberapa kajian perlu dilakukan
terlebih dahulu, khususnya yang terkait dengan:
(1) Evaluasi kelayakan finansial/ekonomi
(2) Business Development

IV-14
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

Bagian berikut akan membahas item-item penting dari setiap kajian kelayakan yang
diperlukan.
a. Evaluasi Kelayakan Ekonomi dan Finansial
Untuk investasi yang dilakukan oleh pihak swasta, maka pendekatan evaluasi yang
cocok digunakan adalah evaluasi finansial, di mana investor swasta memandang bahwa
biaya yang dikeluarkannya harus kembali dalam bentuk nilai uang (dan berbagai
kompensasinya).
Dalam hal ini komponen biaya dianggap sebagai jumlah nilai uang yang harus
dikeluarkan oleh pengusaha untuk biaya konstruksi (Capital), operasi,
danpemeliharaan sistem yang dikelolanya. Sedangkan komponen pengembalian biaya
diperoleh dari jumlah nilai uang yang mereka peroleh dari pengguna fasilitas monorel
serta kompensasi lainnya yang memungkinkan (hak penggunaan lahan, hak
pengusahaan di area layanan, dan lain-lain).
Indikator ekonomi baku yang biasa digunakan dalam evaluasi finansial antara lain
adalah: Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (BCR),
dan Break Event Point (BEP). Secara umum semua indikator tersebut akan memberikan
suatu besaran yang membandingkan nilai manfaat dan biaya dari setiap alternatif yang
diusulkan, namun secara spesifik setiap indikator tersebut memiliki karakteristik yang
berbeda-beda. Pada umumnya semua indikator tersebut perlu diperiksa untuk
menggambarkan secara lebih jelas kejadian-kejadian ekonomi selama masa
perencanaan.
b. Bussiness Development
Pola pengusahaan moda rel ini sangat ditentukan oleh bagaimana setting investasi
awalnya dilakukan, apakah oleh pemerintah, swasta, atau gabungan diantara keduanya.
Masalah pola pengusahaan ini juga tidak terlepas dari keberadaan operasi angkutan
umum eksisting, bagaimana menemukan setting kerja sama operasi yang baik diantara
sub sistem angkutan umum yang dioperasikan.
c. Pemilihan Jalur/Rute/Koridor
Faktor faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan koridor adalah:
a) Tingkat permintaan arus penumpang (transport demand) di zona-zona dalam area
studi
b) Konfigurasi jaringan jalan yang eksisting dan juga yang akan direncanakan.

IV-15
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

c) Karakteristik jalan, meliputi kapasitas, volume lalu lintas, derajat kejenuhan dan
tingkat pelayanan. Dan juga kondisi fisik jalan seperti lebar jalan eksisting, lebar
ruang jalan yang tersedia untuk pelebaran, jumlah jalur dan jenis persimpangan.
d) Kemudahan dalam penerapan
e) Biaya dalam pembangunan infrastruktur
f) Pemerataan secara sosial untuk memberikan akses yang berimbang kepada
masyarakat.
Strategi dalam penentuan koridor adalah dengan memilih jalur-jalur utama/popular
pada fase awal penerapan jalur kereta api, dengan tingkat permintaan arus penumpang
yang tinggi. Hal ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat pengguna angkutan
umum, memperkenalkan, dan mempromosikan jenis angkutan kereta api kepada
masyarakat dan untuk mencapai kondisi finansial pengoperasian kereta api dari awal
dapat berkelanjutan ke masa yang akan datang.
Namun perlu diperhatikan juga untuk menghindari daerah-daerah yang paling padat,
dimana sangat sulit untuk penerapan koridor pada jalur jalan yang tersedia. Hal ini
untuk menghindari risiko yang tinggi dari sudut pandang teknis dan juga risiko
mengurangi minat masyarakat untuk menggunakan angkutan KA nantinya. Konfigurasi
jaringan kereta api dapat merupakan:
a) Konfigurasi "trunk-feeder", yaitu konfigurasi jaringan yang terdiri dari jalur-jalur
utama/mayor (trunk lines), dan jalur-jalur pengumpan (feeder). Pada konfigurasi ini,
kendaraan dengan kapasitas yang lebih kecil digunakan untuk melayani daerah-
daerah yang kurang padat dengan jumlah permintaan arus penumpang lebih
rendah, sementara kendaraan dengan kapasitas yang lebih besar digunakan pada
jalur-jalur utama (trunk lines). Kelebihan dari sistem ini adalah tingkat efisiensi
yang tinggi, namun akan membutuhkan terminal untuk transfer penumpang.
b) Konfigurasi langsung (direct service configuration), yaitu konfigurasi jaringan dengan
menggunakan satu jenis kendaraan yang menghubungkan daerah-daerah luar kota
ke dalam kota.

4.6.7. Analisis Multi Kriteria


Setelah dilakukan analisis kelayakan finansial dan ekonomi, maka analisis dilanjutkan
dengan analisis multi kriteria. Analisis multi kriteria adalah analisis yang pada akhirnya
memberikan penilaian terhadap alternatif rute sehingga pemilihan rute dapat menjadi lebih

IV-16
LA PO RA N A KH IR
Studi Kelayakan (Feasibility Study) Jalur Keretaapi Lintas Mengwitani-Singaraja

komprehensif. Penilaian dalam analisis multi kriteria dilakukan pada beberapa aspek, yaitu
panjang trase, geografis, geologi, tata ruang, teknis transportasi, sosial budaya, ekonomi,
finansial, dan lingkungan.
(1) Panjang trase
Panjang rute akan mempengaruhi biaya konstruksi sehingga diharapkan trase relatif
pendek namun tidak melupakan tujuan yang ditentukan sejak awal.
(2) Geografis dan geologi
Letak geografis dan kondisi geologi akan mempengaruhi metode konstruksi di mana
metode konstruksi ini akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Dalam hipotesis
awal, kondisi geografis Pulau Bali memiliki kawasan pegunungan/berbukit dimana dana
konstruksi tersebut akan menjadi sangat besar. Untuk itu, diharapkan trase sedikit
mungkin melewati wilayah konservasi agar tidak memakan biaya yang besar.
(3) Tata ruang
Tata ruang perlu diperhatikan agar pembangunan jalur kereta api lintas Mengwitani-
Singaraja ini tidak berbenturan dengan rencana pengembangan Provinsi Bali terutama
dengan kawasan lindung. Kemudian diharapkan pembangunan jalur kereta api ini
dapat mendukung kegiatan-kegiatan perekonomian yang ada di Bali.
(4) Teknis transportasi
Teknis transportasi yang baik diharapkan menjadikan proses pergerakan kereta api
menjadi lebih efektif. Maka dari itu hal-hal yang berhubungan dengan teknis
pergerakan, salah satunya lokasi stasiun, perlu dinilai dengan baik.
(5) Finansial dan ekonomi
Rute alternatif dapat dipilih untuk dibangun jika "lolos" dalam analisis kelayakan
finansial dan ekonomi karena tidak mungkin suatu proyek dikerjakan jika diketahui
proyek tersebut dalam keadaan rugi. Maka dari itu, analisis finansial dan ekonomi
menjadi salah satu parameter yang menjadi penilaian dalam analisis multi kriteria.

4.7. TAHAP FINALISASI


Tahap ini merupakan tahap akhir dari studi yang dilakukan. Berdasarkan hasil dari
tahap analisis sebelumnya, ditarik suatu kesimpulan untuk menentukan layak tidaknya jalur
kereta api lintas Mengwitani-Singaraja yang direncanakan baik dari segi teknik, ekonomi,
maupun finansial.

IV-17