Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan bahwa


tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan
ekonomi dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.Puskesmas merupakan ujung tombak
terdepan dalam pembangunan kesehatan dan mempunyai peran besar dalam upaya mencapai
tujuan pembangunan kesehatan tersebut di atas.
Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri dari pelayanan kesehatan
perseorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. Upaya kesehatan tersebut
dikelompokkan menjadi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pilihan. Oleh karena upaya
pelayanan Laboratorium Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari
pelaksanaan upaya kesehatan di Puskesmas, maka Puskesmas wajib menyelenggarakan
laboratorium di Puskesmas. Adapun rincian kegiatan untuk masing-masing upaya ditetapkan
berdasarkan kondisi dan permasalahan kesehatan masyarakat setempat, dengan tetap berprinsip
pada pelayanan secara holistik, komprehensif dan terpadu dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Saat ini Puskesmas sudah merata di seluruh Indonesia, dan setiap kecamatan telah
memiliki minimal satu Puskesmas. Puskesmas memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, namun demikian belum diikuti dengan peningkatan
mutu pelayanan dan keterjangkauan oleh seluruh masyarakat.
Dengan makin berkembangnya teknologi kesehatan, meningkatnya tuntutan masyarakat
akan pelayanan kesehatan yang berkualitas, adanya transisi epidemiologi penyakit, perubahan
struktur demografi, otonomi daerah, serta masuknya pasar bebas, maka Puskesmas diharapkan
mengembangkan dan meningkatkan mutu layanannya. Untuk meningkatkan mutu pelayanan
yang optimal, maka diperlukan kegiatan yang dapat menentukan diagnosa penyakit secara pasti
yaitu pelayanan laboratorium yang bermutu.
Laboratorium Puskesmas melaksanakan pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap
bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebaran penyakit, kondisi
kesehatan, atau faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas.. pedoman laboratorium ini disusun Agar dapat digunakan sebagai
acuan dalam pelayanan Laboratorium Puskesmas dan untuk dapat mengikuti perkembangan
teknologi kesehatan dan memenuhi tuntutan masyarakat.
Penyelenggaraan Laboratorium Puskesmas telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri
Kesehatan No. 37 tentang penyelenggaran laboratorium Puskesmas . Peraturan Menteri
Kesehatan ini dapat dipergunakan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja Laboratorium
Puskesmas. Ketentuan mengenai keharusan memenuhi kriteria dalam penyelenggaraan
Laboratorium Puskesmas yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini merupakan
persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh setiap Puskesmas. Dengan mempertimbangkan
kompleksitas pelayanan Puskesmas bisa berbeda-beda tergantung pada daerah/pengembangan
wilayah setempat, maka persyaratan minimal ini pun dapat dilengkapisesuai kebutuhan.

1
VISI DAN MISI UPTD PUSKESMAS BRANG REA
VISI
Terwujudkan masyarakat Brang Rea yang mandiri dalam hidup sehat

MISI
- Menjadikan puskesmas sebagai pusat promosi kesehatan bagi masyarakat
- Memberikan pelayanan kesehatan dasar paripurna, bermutu dan terjangkau kepada
seluruh lapisan masyarakat.
- Meningkatkan kinerja dan kompetensi seluruh petugas
- Meningkatkan sarana dan prasarana yang memadai
- Membina peran serta masyarakat.
- Mendorong kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dan bersih.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan Pelayanan laboratorium
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai acuan bagi petugas laboratorium untuk melaksanakan pelayanan di
UPTD. Puskesmas Brang Rea
b. Sebagai informasi bagi unit pelayanan lain tentang pelayanan laboratorium di
UPTD. Puskesmas Brang Rea

C. Sasaran
Sasaran Dari pelayanan Laboratorium di UPTD. Puskesmas Brang Rea yaitu :
1. Unit Pelayanan Perseorangan ( UKP )
2. Unit Pelayanan Masyarakat ( UKM )
3. Pustu dan Poskesdes
4. Jaringan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan Laboratorium

D. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup pedoman ini meliputi pelaksanaan kegiatan pelayanan laboratorium,
keselamatan kerja dan keselamatan pasien serta pengendalian mutu laboratorium
guna meningkatkan pelayanan di laboratorium.

E. Batasan Operasional
Batasan operasional pedoman penyelenggaraan laboratorium ini meliputi pengertian dan
varibel varibel mutu pelayanan laboratorium di UPTD. Puskesmas Brang Rea.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

2
A. Kualifikasi Sumber Daya

Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan upaya wajib Puskesmas,


dibutuhkan sumber daya manusia yang mencukupi baik jumlah maupun mutunya. Pola
ketenagaan minimal harus dimiliki oleh Puskesmas, Puskesmas Brang Rea merupakan
puskesmas Dengan Tempat Perawatan (PDTP) yang mana memiliki Jenis, kualifikasi dan
Jumlah Tenaga Laboratorium sebagai berikut:

Tabel 1. Jenis, Kualifikasi dan Jumlah Tenaga Laboratorium Puskesmas

N JENIS TENAGA KUALIFIKASI NAMA PETUGAS KETERANGA


O N
1 Penanggung Jawab Dokter Dr. Nila Kurni
Ramdhani
2 Tenaga Teknis Analis Kesehatan (D III) Astriani, Amd. AK Pelatihan Lab
Dasar
3 Tenaga Non Medis Minimal SMU / Sederajat - -

B. Distribusi Ketenagaan
- Penanggung Jawab Laboratorium Puskesmas Penanggung jawab Laboratorium Puskesmas
mempunyai tugas dan tanggung jawab:
1. Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis laboratorium;
2. Bertanggung jawab terhadap mutu laboratorium, validasi hasil pemeriksaan laboratorium,
mengatasi masalah yang timbul dalam pelayanan laboratorium;
3. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan laboratorium;
4. Merencanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu.
- Tenaga Teknis
Tenaga teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:
1. Melaksanakan kegiatan teknis operasional laboratorium sesuai kompetensi dan
kewenangan berdasarkan pedoman pelayanan dan standar prosedur operasional;
2. Melaksanakan kegiatan mutu laboratorium;
3. Melaksanakan kegiatan pencatatan dan pelaporan;
4. Melaksanakan kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium;
5. Melakukan konsultasi dengan penanggung jawab laboratoriumatau tenaga kesehatan
lain;
6. Menyiapkan bahan rujukan spesimen.
- Tenaga Non Teknis
Tenaga non teknis Laboratorium Puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:
1. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan alat dan bahan;
2. Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan pasien;
3. Membantu administrasi.

C. Jadwal Kegiatan
Jadwal pelayanan laboratorium di buka pada jam :

1. Senin Kamis : 08.00 15.30 Wita


Istirahat : 12.00 13.00 Wita
2. Jumat : 08.00 15.30 Wita
Istirahat : 11.30 15.30 Wita

3
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah
Denah Laboratorium Puskesmas ukuran 4x4 m

B. Standar Fasilitas
- Sarana
Persyaratan sarana/ruangan Laboratorium Puskesmas adalah sebagai berikut:
1. Ukuran ruang minimal 4x4 m, kebutuhan luas ruang disesuaikan dengan jenis
pemeriksaan yang diselenggarakan oleh Puskesmas.
2. Langit-langit berwarna terang dan mudah dibersihkan.
3. Dinding berwarna terang, harus keras, tidak berpori, kedap air,dan mudah dibersihkan
serta tahan terhadap bahan kimia(keramik).
4. Lantai harus terbuat dari bahan yang tidak licin, tidak berpori,warna terang, dan mudah
dibersihkan serta tahan terhadap bahankimia (epoxi,vinyl).
5. Pintu disarankan memiliki lebar bukaan minimal 100 cm yang terdiri dari 2 dua daun
pintu dengan ukuran 80 cm dan 20 cm.
6. Disarankan disediakan akses langsung (lubang/celah) bagi pasien untuk memberikan
sampel dahak.
7. Pada area bak cuci disarankan untuk menggunakan pembatas transparan (contoh:
pembatas polikarbonat) untuk menghindari paparan/tampias air cucian ke area sekitarnya.
8. Kamar kecil/WC pasien laboratorium dapat bergabung dengan WC pasien Puskesmas.
- Prasarana
Prasarana-prasarana Laboratorium Puskesmas meliputi :

4
1.Pencahayaan menggunakan
2.Terdapat Ruangan pengambilan sampel darah, urine dan dahak
3.Ruangan pengambilan Terpisah dari ruangan pemeriksaan
4.Suhu di ruangan pengambilan Sampel adalah suhu kamar
5.Suhu di ruangan pemeriksaan adalah suhu 18 25 .
6.Pengambilan dahak dilakukan di ruangan terbuka yang telah disiapkan.
7.Air yang di gunakan Adalah Air PDAM
8. Tempat sampah khusus/terpisah yangdilengkapi dengan penutupnya untuk
pembuangan limbah padat medis infeksius dan non infeksius pada laboratorium.
9. Limbah cair/air buangan dari laboratorium harus diolah pada sistem/instalasi
pengolahan air limbah Puskesmas.
- Perlengkapan dan Peralatan
1. Perlengkapan
a. Meja pengambilan sampel darah di lengkapi laci
b. Tempat penerimaan sampel, darah, urin dan dahak,pengambilan hasil
c. Kursi petugas laboratorium dan kursi pasien terbuat dari kayu dan plastik
d. Bak cuci
e. Meja pemeriksaan
f. Lemari pendingin
g. Lemari Alat
h. Rak reagen
1) Fungsinya adalah untuk menyimpan reagen
2) Ukuran sesuai kebutuhan
2. Peralatan
Jenis dan jumlah peralatan Laboratorium yang ada di Puskesmas.Daftar peralatan utama
dan penunjang Laboratorium adalah sebagai berikut:

Tabel. 2. Daftar Peralatan Utama dan Peralatan Penunjang Laboratorium Puskesmas

NO JENIS PERALATAN STANDAR KETERSEDIAAN


PERALATAN UTAMA
A. Peralatan pemeriksaan
1 Hematologi analyzer 1
2 Fotometer 1
3 Mikroskop Binokuler 1
4 Pipet mikro 50-100, 100- 1000 l 1 set
5 Sentrifuge listrik 1
6 Easy touchGCU 1 set
Tabung Laju Endap Darah ( westregren)
B. Peralatan Gelas 2
1 Batang pengaduk Sesuai kebutuhan
2 Objek glass Sesuai kebutuhan
3 Kaca penutup Sesuai kebutuhan
4 Tabung reaksi Sesuai kebutuhan
5 Erlenmeyer Sesuai kebutuhan
6 Beker glass Sesuai kebutuhan
7 Gelas pengukur Sesuai kebutuhan
8 PERALATAN PENUNJANG
9 Blood lancet dengan auto klik Sesuai kebutuhan
10 Kertas lensa Sesuai kebutuhan
11 Kertas saring Sesuai kebutuhan
12 Lampu spiritus 1
13 Lemari Es 1
14 Pembendung 1
15 Pipet tetes 4
16 Pot specimen dahak bermulut lebar Sesuai kebutuhan
17 Pot specimen urine bermulut lebar Sesuai kebutuhan
18 Rak pengecetan 1
19 Rak tabung 3
20 Rotator 1

5
21 Spuit disposable ( 1 dan 3 cc) Sesuai kebutuhan
22 Timer 1
23 Tip pipet kuning dan biru Sesuai kebutuhan
24 Penjepit tabung 1

Setiap alat yang rusak akan dilaporkan ke bendahara barang untuk dilakukan kalibrasi dan
validasi instrument.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAKSANAAN

A. Lingkup Kegiatan

6
Lingkup kegiatan pelayan laboratorium di UPTD. Puskesmas Brang Rea meliputi
pemeriksaan-pemeriksaan dasar seperti:
a. Hematologi: Hemoglobin, Hitung eritrosit, Hitung trombosit, Hitung lekosit, Hitung
jenis lekosit.
b. Kimia klinik: Glukosa, Asam urat, Kolesterol total.
c. Mikrobiologi dan Parasitologi: BTA,Malaria.
d. Imunologi: Tes kehamilan, Golongan darah, Widal,HbsAg, Anti HIV
e. Urinalisa: Makroskopis (Warna, Kejernihan, Bau, Volume), pH,Berat jenis, Protein,
Glukosa, Bilirubin, Urobilinogen, Keton,Nitrit, Lekosit, Eritrosit dan Mikroskopik
(sedimen).
f. Tinja: Makroskopik dan Mikroskopik.

ALUR PEMERIKSAAN LABORATORIUM

B. Metode
Metode pemeriksaan laboratorium di Puskesmas menggunakan metode manual, semi
automatik dan automatik. Pada setiap pemeriksaan laboratorium terdapat nilai normal
pemeriksaan, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan nilai di atas atau dibawah nilai
normal pemeriksaan yang sudah ditentukan, maka rentan nilai tersebut akan menjadi
pertimbangan khusus bagi dokter dalam penanganan pasien.

Tabel 3. Jenis Jenis Pemeriksaan yang ada di Puskesmas Brang Rea adalah :
NO JENIS SPESIMEN METODE ALAT REAGEN NILAI NORMAL
PEMERIKSAAN
1 Hemoglobin Darah vena/ Hematin Hemoglobinometer HCL 0,1 N L:14-18gr/dl
kapiler + Asam Set P:12-16gr/dl
antikoagulan (Sahli)
EDTA Automatic Hematology Kit Sesuai
Cell Counter analizer SYSMEX alat
2 Eritrosit, Hitung Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai L:4,5-5,5jt/mm3
Jumlah + Cell Counter analyzer alat P:4,0-5,0jt/mm3
antikoagulan SYSMEX
EDTA
3 Lekosit, Hitung Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai DW:4000-11.000
Jumlah + Cell Counter analyzer alat mm3
antikoagulan SYSMEX
EDTA

7
4 Trombosit, hitung Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai 150.000
jumlah + Cell Counter analyzer alat 400.000 /mm3
antikoagulan SYSMEX
EDTA
5 Hematokrit, Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai L:40-50 vol%
hitung Jumlah + Cell Counter analyzer alat P:36-43 vol%
antikoagulan SYSMEX
EDTA
6 MCV Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai >86 fL
+ Cell Counter analyzer alat
antikoagulan SYSMEX
EDTA
7 MCH Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai >30 pg
+ Cell Counter analyzer alat
antikoagulan SYSMEX
EDTA
8 MCHC Darah vena Automatic Hematology Kit Sesuai >35 g/dl
+ Cell Counter analyzer alat
antikoagulan SYSMEX
EDTA
9 LED Darah vena Westergren alat westergren set Na Citrat ) L:0-10 mm/jam
+ 0,109 M P: 0-15 mm/jam
antikoagulan
EDTA
10 Glukosa Darah Elektomerti / Electrometer Strip test - Sewaktu:
Serum strip <120mg/dl
- Puasa:65-100mg/dl
Fotometri Fotometer Kit - 2 jam pp : sp. 160
glukosa mg/dl
11 Asam Urat Darah Elektomerti / Electrometer Strip test L:4,4-7,5 mg/dl
Serum strip P:2,4 -6,6 mg/dl

Fotometri Fotometer Kit Asam


urat
12 kolesterol Darah Elektomerti / Electrometer Strip test 110-200mg/dl
Serum strip

Fotometri Fotometer Kit


kolesterol
13 BTA Dahak mikroskopis Mikroskop, pot Zielh Tidal ditemukan
(Mycobacterium dahak, objek glass, neelsen basil tahan asam
tuberculose) lidi, pinset, rak (negative)
pengecatan, lampu
spiritus
14 malaria Darah Vena Mikroskopis Mikroskop, objek giemsa Tidak ditemukan
Darah glass, cover glass parasite malaria
kapiler Rapid test Lancet Kit rapid (negative)
test
15 Tes kehamilan Urin Rapid test Wadah urin Kit rapid Negative, pada stirp
sewaktu test satu garis merah
kehamilan
16 Golongan darah Darah vena Aglutinasi Kertas golongan Kit Terjadi aglutinasi
Darah darah, pengaduk golongan
kapiler kaca darah
17 WIDAL Serum Aglutinasi Objek glass, micro Kit widal Terjadi aglutinasi
pipet, sentrifuge,
tabung reaksi, spuit,
rotator
18 HBsAg Serum Rapid test Kit rapid test, Kit rapid Negative, pada strip
centrifuge, tabung test satu garis merah
reaksi, spuit HBsAg
19 Anti HIV Darah, Rapid test Kit rapid test, Kit Anti Negative, pada strip
serum lancet HIV satu garis merah
20 VDRL / TPHA Darah , - Rapid test Kit rapid test, kaca Kit - Negative, pada strip
Serum - reagen sifilis objek, rotator, VDRL / satu garis merah
pengaduk kaca TPHA - Ada aglutinasi
21 Urine lengkap Urin segar Organoleptik Tabung Raksi , -

8
- Makroskopis : gelas ukur, pot urin Kuning jernih, bau
warna, bau, khas
kejernihan,
volume
- Ph Kimia Tabung reaksi Strip test 4,5-8,0
Kering
- Berat Jenis Kimia Tabung reaksi Strip test 1.015-1.025
- Protein Kering
Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
- Glukosa Kering
Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
- Bilirubuin Kering
Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
- Urobilinogen
Kering
- Nitrit Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
Kering
- Keton Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
Kering
- Lekosit Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
penetapan Kering
semi Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
kuantitatif Kering
- Eritrosit,
penetapan
semi Kimia Tabung reaksi Strip test Negative
kuantitatif Kering
- sedimen
Negative

Mikroskopis Mikroskop, objek - - lekosit:4/lpb


glass, sentrifuge, - eritrosit:4/lpb
cover glass - tidak ditemukan
Kristal,
jamur,bakteri
22 Analisi tinja:
- konsistensi,
warna, bau,
lender, darah Tinja baru
- mikroskopis : Mikroskopis Mikroskop, objek Eosin 2 % Tidak ditemukan
Telur cacing, ( sediaan ) glass, cover glass telur cacing
amuba,
eritrosit,
lekosit,lain2
(bakteri,
jamur)
Keterangan : * penggunaan metode strip pada pemeriksaan kimia klinik hanya untuk skrining

pemeriksaan Lab HIV dan Sifilis harus dengan konseling


pemeriksaan yang beresiko tinggi adalah pemeriksaan yang dilakukan pada
sampel yang mudah menularkan mikroorganisme apabila cara
pemeriksaannyu tidak sesuai prosedur yang ditetapkan.

C. Langkah kegiatan Pelayanan di Laboratorium


Permintaan Pemeriksaan
1 Pasien dari Ruang Poli Rawat Jalan ( poli Umum, MTBS, ANC/KIA, Poli gigi)
membawa formulir permintaan pemeriksaan sesuai diagnosis.
2 Pasien dari Ruang Poli Rawat Inap/ PONED/ UGD , MAKA PETUGAS Lab/ perawat
mengambil specimen sesuai dengan formulir permintaan pemeriksaan laboratorium
kemudian dikirim ke laboratorium
3 Pasien / perawat Datang ke ruangan laboratorium
4 Petugas laboratorium menerapkan 5 S ( senyum, salam, sapa, sopan dan santun) pada
pasien/ perawat yang datang

9
5 Pasien/ perawat menyerahkan blanko permintaan pemeriksaan kepada petugas
laboratorium
6 Petugas memeriksa dan mencocokkan identitas dengan yang ada di Blanko permintaan
pemeriksaan laboratorium.
Penerimaan Spesimen
1. Petugas menerapkan 5 S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun ) pada pasien
2. Petugas menerima blanko permintaan pemeriksaan laboratorium
3. Petugas mempersiapkan register laboratorium
4. Petugas mempersilahkan pasien duduk
5. Petugas menanyakan ulang identitas pasien pemilik specimen
6. Petugas memberikan nomor pada specimen yang diterima sesuai dengan identitas pasien
7. Petugas mencatat nama pasien, umur dan alamat pemilik specimen pada buku register
laboratorium
8. Petugas laboratorium menerima specimen dari pasien yang datang kelaboratorium
9. Petugas menaruh specimen di atas meja specimen sesuai no. urut pasien yang dating
10. Petugas memberitahu waktu pengambilan hasil pemeriksaan
Pengambilan Specimen
Dalam melakukan pengambilan specimen petugas harus memperhatikan penggunaan Alat
Pelindung diri ( APD ). APD yang harus ada di laboratorium adalah :
a. Sarung Tangan
b. Masker
c. Jas lab
d. Sandal / sepatu tertutup bila diperlukan

Adapun langkah- langkah dalam pengambilan specimen adalah :

a. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan yang di formulir permintaan


b. Wadah yang digunakan harus memenuhi syarat :
1. Bersih, kering, dan tidak mengandung bahan kimia
2. Mudah dicuci dari bahan specimen sebelumnya
3. Wadah terbuat dari gelas/ plastic
4. Wadah tidak bocor / merembes
5. Dapat ditutup rapat dengan tutup berulir
6. Wadah disesuaikan dengan volume specimen
c. Petugas mengambil specimen sesuai dengan yang ada di formulir pemeriksaan sambil
menjelaskan pemeriksaan apa yang dilakukan
d. Petugas Menerapkan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun ) pada pasien
e. Petugas mengambil specimen sesuai dengan yang ada di formulir pemeriksaan sambil
menjelaskan pemeriksaan apa yang dilakukan
1. Untuk pemgambilan sampel darah, dapat dilakukan oleh petugas laboratorium
2. Untuk pengambilan sampel urin, dahak, feses, petugas dapat menganjurkan pasien
untuk menampung sampel ke wadah yang telah disediakan.
f. Petugas memberitahukan waktu lama penyampaian hasil kepada pasien

Langkah langkah pengambilan specimen sebagai berikut :

A. Pengambilan sampel darah

Ada dua jenis pengambilan darah yaitu :

a. Pengambilan Darah Kapiler


- Alat
a Lancet
b Autoklik
c Kapas
d Tissue
- Bahan
Alcohol 70%
- Langkah - langkah
1 Petugas menyiapkan kapas alcohol, lancet dan tissue

10
2 Petugas Menerapkan Petugas menerapkan 5 S ( senyum, salam, sapa, sopan dan
santun) pada pasien
3 Petugas membersihkan ujung jari (jari telunjuk, jari tengah, jari manis) atau
tumit ( jari ke-2, ke-3, dam ke-4) yang akan di ambil darahnya dengan kapas
allohol 70% , biarkan kering sendiri.
4 Petugas memegang bagian yang akan ditusuk supaya tidak bergerak dan tekan
agar darah terkumpul di ujung jari, tusuk dengan lanset steril sedalam lebih
kurang 3 mm ( pada bayi tidak boleh lebih dari 2,5 mm),darah harus keluar
dengan sendiri.
5 Tetes darah yang pertama keluar diberihkan dengan kapas kering untuk
menghilangkan bekuan darah dan sisa alcohol, tetesan darah berikutnya yang
digunakan untuk pemeriksaan
6 Petugas memberi kapas alcohol pada jari bekas tusukan

b. Pengambilan Darah Vena


- Alat
a. Spuit
b. Kapas beralkohol 70%
c. Tourniquet
d. Tabung reaksi
e. Kapas kering
f. Kapas kering
g. Plester
h. Tissue
- Bahan
Alcohol 70%. EDTA
- Langkah langkah
1. Petugas menyiapkan peralatan sampling seperti wadah yang bersih,bisa
ditambahkan anti koagulan sesuai keperluan, kapas beralkohol, tourniquet, kapas
kering, spuit dan plester.
2. Petugas memakai handscoon steril
3. Petugas Menerapkan 5 S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) pada pasien
4. Petugas meletakkan lengan pasien lurus dengan telapak tangan menghadap ke
atas.
5. Petugas mengikat lengan atas dengan tourniquet jangan lebih dari 5 menit untuk
membendung aliran darah
6. Petugas meminta pasien diminta mengepal( bila mampu),dan membuka
tangannya beberapa kali untuk menguji pembuluh darah
7. Petugas mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk dengan jari telunjuk
kiri, dalam keadaan tangan pasien mengepal
8. Petugas melakukan disinfektan daerah vena akan ditusuk dengan kapas alcohol 70
%. Biarkan kering.
9. Jarum spuit ditusukkan pada vena dengan sudut 25 derajat dan hisap dengan
menarik perlahan-lahan,sementara itu pasien membuka kepalan tangan.
10. Lepaskan tourniquet setelah mendapat sejumlah darah yang dikehendaki.
11. Letakkan kapas beralkohol pada tempat tusukan dan jarum ditarik keluar.
12. Biarkan posisi tangan mendatar dan pasang plester kapas untuk beberapa saat.
13. Lepaskan jarum pada spuit dan tampung pada wadah dengan cara melalui
dinding wadah. Bila menggunakan antikoagulan segera kocok agar tercampur
sempurna.
14. Petugas memberi label pada wadah pemeriksaan

B. Pengambilan sampel urin.


- Alat
a. Wadah bermulut lebar dan bertutup
b. Label
c. Spidol / pensil
- Bahan : Specimen urine
- Langkah Langkah

11
1 Petugas menerapkan 5 S ( Senyum, salam, Sapa, Sopan dan Santun ) pada pasien yang
datang
2 Petugas menyiapkan wadah bermulut lebar dan dapat ditutup. Wadah harus bersih dan
kering.
3 Petugas memberi label yang berisi nama pasien, nomor register.
4 Petugas menjelaskan kepada pasien cara pengambilan urin yang benar
5 Pada pasien laki- laki Jika tidak disunat tarik keluar preputium ke belakang, urin
dikeluarkan
6 Pada pasien wanita diminta melebarkan labia dengan satu tangan lalu dibersihkan
dengan sabun dan keringkan
7 Pada pasien anak anak Pengambilan urine dilakukan dengan cara anak duduk
dipangkuan orang tua
8 Urine ditampung dengan cara urine awal dibuang, pada porsi ditengah baru ditampung
pada wadah,pada porsi akhir dibuang.
9 Tutup rapat wadah dan segera diperiksa.

C. Pengumpulan spesimen Dahak


- Alat
a. Label
b. Masker
c. Sarung tangan
- Bahan
Specimen dahak

- Langkah Langkah
1 Petugas menerapkan 5 S ( senyum, salam, sapa, sopan dan santun) pada pasien
2 Petugas menjelaskan cara pengambilan dahak pada pasien :
- Kumur dengan air sebelum mengeluarkan dahak
- Bila menggunakan gigi palsulepaskan sebelum berkumur
- Tarik napas dalam- dalam 2-3 kali dalam setiap hembusan nafas dengan kuat, letakkan
pot yang sudah dibuka dekat dengan mulut dan keluarkan dahak dalam pot
- Batukkan dengan keras dari dalam dada
- Tutup pot dengan rapat dengan cara memutar tutupnya
- Setelah mengeluarkan dahak bersihkan mulut dengan tisu kemudian buang tissue
ditempat tertutup lalu cuci tangan.
3 Tempat mengumpulkan dahak ditempat khusus dengan ventilasi baik bila tidak bisa
dilakukan diruangan dengan terkena matahari langsung
4 Pastikan jumlah dahak memenuhi kualitas volume yang cukup 3-5 ml
5 Bila dahak jelek ( air liur )pemeriksaan tetap dilakukan dengan mengambil bagian yang
mukopurulen ( kental, kuning kehijauan ) di beri catatan specimen tidak memenuhi
syarat.

Adapun untuk mendiagnosa penyakit TB harus dilakukan pengambilan dahak Sewaktu,


pagi, sewaktu ( SPS ), dengan cara sebagai berikut :
1 Pengambilan sampel pada hari pertama ( sewaktu ) yaitu pot sputum diberikan pada pasien
kemudian pasien disuruh mengeluarkan dahak langsung pada ruang terbuka
2 Pengambilan sampel pada hari kedua ( Pagi )yaitu pot diberikan pada pasien untuk dibawa
pulang, pasien mengambil dahaknya pda waktu bangun sebelum masuk makanan dan
minuman
3 Pengambilan sampel pada hari kedua ( Sewaktu ) yaitu pada saat pasien mengantar sampel
yang di ambil dirumah pada pagi hari.
4 Pemeriksaan mikroskopis dinyatakan positif bila 2 atau lebih dari sampel dahak yang
diperiksa hasilnya positif
5 Bila pemeriksaan negative dilakukan observasi selama 2 3 minggu sambil diberikan
pengobatan simptomatis
6 Bila setelah 2-3 minggu gejala masih tetap. Maka dilakukan pemeriksaan ulang
7 Bila satu saja positif diagnose TB dinyatakan positif
8 Bila negative dirujuk ke RS untuk Phioto Thorax ( Rontgen )

12
D. Pengambilan Tinja

Tinja untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan ( tanpa bantuan
pencahar), jika pemeriksaan sangat diperlukan, dapat pula sampel tinja diambil dari rectum
dengan cara colok dubur.

D. Penyimpanan Specimen

Specimen disimpan ketika pengolahannya membutuhkan waktu yang lama dan kondisi
specimen dalam jumlah yang relative banyak, adapun hal- hal yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan specimen adalah sebagai berikut :

Alat dan Bahan :


- Tabung reaksi
- Lemari es
- Sentrifuge
- Pengaduk
- Pengawet
Langkah langkah
1. Petugas memastikan Specimen yang diambil harus segera diperiksa , karena stabilitas
specimen dapat berubah seperti terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia, terjadi
metabolisme oleh sel-sel hidup pada specimen dan terjadi penguapan.
2. Darah EDTA disimpan pada suhu kamar (20 25 C) stabil selama 24 jam
3. Beberapa cara penyimpanan specimen adalah disimpan pada suhu kamar, disimpan
dalam lemari es pada suhu 2-8 C stabil selama & hari, dibekukan pada suhu 20 C
( jangan sampai terjadi beku ulang ), diberikan bahan pengawet
4. Penyimpanan specimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau plasma

E. Penyampaian hasil pemeriksaan

Waktu penyampaian hasil pemeriksaan disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang


dilakukan, adapun waktu penyampaian hasil dari setiap pemeriksaan adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Waktu penyampaian hasil laboratorium

No Pemeriksaan Waktu pemeriksaan Waktu penyampaian hasil


1 Haemoglobin 15 menit 15 menit
2 Darah lengkap 1 Jam 1 Jam
3 Widal 15 menit 15 menit
4 Malaria 1 Jam 1 Jam
5 Golongan darah 15 menit 15 menit
6 Urin lengkap 15 menit 15 menit
7 Tes kehamilan 5 menit 5 menit
8 Faeses 15 menit 15 menit
9 Sputum BTA 1 Jam 1 Jam
10 Gula darah 10 menit 10 menit
11 Asam urat 15 menit 15 menit
12 Kolesterol 15 menit 15 menit
13 HbsAg 5 menit 5 menit
14 HIV 15 menit 15 menit
15 VDRL/TPHA 10 menit 10 menit

F. Rujukan
Spesimen yang sudah siap untuk diperiksa dikirimkan ke bagian pemeriksaan sesuai
dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Jika Laboratorium Puskesmas tidak mampu
melakukan pemeriksaan, maka spesimen atau pasien dikirim ke laboratorium lain (dirujuk).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada rujukan laboratorium:
1. Spesimen yang akan dirujuk, sebaiknya dikirim dalam bentuk yang relatif stabil. Untuk
itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain:

13
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk pemberian
label yang bertuliskanBahan Pemeriksaan Infeksius atau Bahan Pemeriksaan
Berbahaya
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat
e. Penggunaan media transpor untuk pemeriksaan mikrobiologi.
2. Spesimen yang dirujuk harus diberi label berisi nomor spesimen,nama, umur, jenis
kelamin, alamat, tanggal pengambilanspesimen pada badan wadah
3. Spesimen yang dirujuk harus disertai formulir pengiriman yangberisi data sebagai
berikut:
a. Nomor spesimen
b. Nama penderita
c. Umur
d. Jenis kelamin
e. Alamat penderita
f. Tanggal dan jam pengambilan spesimen
g. Jenis spesimen dan asal bahan
h. Gejala penyakit, lamanya penyakit dan pengobatan yang diberikan sebelumnya
i. Permintaan pemeriksaan.
j. Tanggal pengiriman
k. Nama serta alamat pengirim :
Dokter
Puskesmas
dll
4. Kemudian dikirim melalui petugas atau melalui pos

G. Pencatatan dan Pelaporan


1. Pencatatan
Pencatatan selain untuk pemantauan data juga untuk evaluasi.
Macam-macam pencatatan antara lain:
a. Buku Register Pendaftaran
b. Buku Permintaan Pemeriksaan dan Hasil Pemeriksaan
c. Buku Rujukan
d. Buku Ekspedisi pengambilan hasil
2. Pelaporan
Petugas laboratorium melakukan Pelaporan setiap bulan melalui SP2TP yang kemudian
disampaikan secara berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota . laporan bulanan yang
merupakan hasil rekapitulasi pencatatan harian. Pelaporan hasil laboratorium untuk
penyakit tertentu menggunakan formulir baku yang sudah ditentukan oleh program.

BAB V
LOGISTIK

Reagensia laboratorium adalah larutan zat dalam komposisi dan konsntrat tertentu yang
digunakanyang digunakan untuk mengenali zat lain yang belum diketahui sehingga diketahui zat
lain tersebut. Dalam melakukan uji pemeriksaan laboratorium diperlukan reagensia yang sesuai
standar sehingga dapat diperoleh hasil yang akurat. Oleh karena itu perlu adanya evaluasi
terhadap reagensia secara berkesinambungan untuk menjaga kualitas reagen. Evaluasi reagensia
meliputi penerimaan, penyimpanan, pemakaian dan pendistribusian reagen.

A. Penerimaan Reagen
a. Penerimaan reagen petugas memeriksa daftar reagen yang diterima
b. Petugas memeriksa keadaan kemasan reagen apakah dalam keadaan tersegel, tidak
terbuka, tidak rusak maupun robek
c. Reagen yang dating diperiksa tanggal kadaluarsanya
B. Penyimpanan Reagen
a. Petugas memperhatikan tanggal kadaluarsa pada reagen yang diterima

14
b. Petugas menyimpan reagen dan bahan lainnya sesuai dengan suhu penyimpanan yang
tertera pada masing-masing reagen
c. Kulkas tempat penyimpanan reagen diperiksa suhunya agar sesuai dengan syarat
penyimpanan reagen dengan cara :
- Letakkan thermometer dalam kulkas
- Atur suhu kulkas sesuai dengan syarat suhu yang tertera dalam penyimpanan reagen
- Usahakan agar kulkas agar selalu dalam keadaan hidup
- Catat suhu setiap hari dalam buku control suhu
- Bersihkan kulkas setiap 2 bulan sekali
d. Reagen yang sudah dibuka, bisa bertahan sampai masa kadaluarsa bila disimpan pada
suhu ( 2 -8 C )
e. Penyimpanan reagen harus berisi tanggal pembuatan, tanggal kadaluarsa dan LASA
f. Larutan berwarna dan larutan organic disimpan dalam botol berwarna coklat
g. Tempat penyimpanan harus bersih dan tidak terkena sinar matahari langsung
h. Lindungi label dari kerusakan.
i. Reagen harus terdaftar di Kementerian Kesehatan.

Tabel 5. Penyimpanan reagen dan suhu penyimpanan


No Nama reagen Wadah/ Suhu penyimpanan
kemasan
1. HCl 0,1 N Botol coklat Suhu ruangan
2. Na. Citrate 0,38% Botol coklat Suhu ruangan
3. Giemsa Botol coklat Suhu ruangan
4. Widal Vial ( 2 -8 C )
5. Golongan darah Vial ( 2 -8 C )
6. Ether alkohol Botol coklat Suhu ruangan
7. Methanol absolut Botol coklat Suhu ruangan
8. Stik urin 3 dan 10 parameter Tube Suhu ruangan
9. Stik Pptest Box Suhu ruangan
10. Stik HbsAg Box Suhu ruangan
11. Stik Hb Humacue tube Suhu ruangan
12. Reagen Gula darah Box ( 2 -8 C )
13. Reagen asam Urat Box ( 2 -8 C )
14. Reagen kolesterol Box ( 2 -8 C )
15. Zielh Neelsen Botol coklat Suhu ruangan
16. Alkohol 70% Botol plastik Suhu ruangan
17. Aquadsest Botol coklat Suhu ruangan
18. Buffer ph 7,2 Botol coklat Suhu ruangan
19. Oil Imersi Botol coklat Suhu ruangan
20. spiritus Botol plastik Suhu ruangan
21. EDTA Botol coklat Suhu ruangan
22. Larutan Pemutih/ Bayclin Botol plastic Suhu ruangan
23. Reagen Hematologi Sysmex Botol plastik ( 2 -8 C )
24. Lisol Botol coklat Suhu ruangan
25. Eosin 2% Botol coklat Suhu ruangan
26. Stik gula darah Tube Suhu ruangan
27. Stik asam urat Tube Suhu ruangan
28. Stik kolesterol Tube Suhu ruangan
29. Stik HIV Tube Suhu ruangan
30. Stik VDRL/TPHA Tube Suhu ruangan
31. NaCl 0,9 % Botol coklat Suhu ruangan
32. KOH 10 % Botol coklat Suhu ruangan

C. Pemakaian reagen
a. Petugas menggunakan reagen yang lebih dulu masuk terlebih dahulu untuk menghindari
kerusakan reagen akibat terlalu lama disimpan
b. Sisa pemakaian reagen tidak diperbolehkan dikembalikan ke dalam sediaan induk.
c. Perhatikan perubahan warna, adanya endapan, kerusakan yang terjadi pada sediaan
reagen.
d. Segera tutup kembali botol sediaan reagen setelah digunakan.
15
e. Reagen HIV harus sudah dievaluasi oleh laboratorium rujukan nasional
f. Reagen yang telah digunakan dipisahkan sesuai jenis reagne dan dibuang sesuai dengan
pengolahan limbah di puskesmas.

D. Pemesanan Reagen
a. Petugas harus memperhatikan ketersediaan reagen dari jenis dan jumlah sesuai dengan
kebijakan Kepala Puskesmas
b. Petugas memperhatikan sisa stok seluruh reagen dan bahan lainnya
c. Petugas kemudian Membuat amprahan pada reagen dan bahan lainnya yang sisa stoknya
25% dari sisa reagen dan bahan lainnya ke gudang obat puskesmas
d. Untuk buffer stok ini dilakukan apabila persediaan reagen tertentu yang terdapat dalam
stoknya 15 % dari sisa reagen ke gudang obat.

Tabel.6. Dafar buffer Stok di Laboratorium


No Bahan Laboratorium Satuan Buffer stok
1 Giemsa 100 ml 50 ml
2 Golongan darah 3 ml 1 ml
3 Widal 3 ml 1 ml
4 Gula darah 100 ml 10 ml
5 Kolesterol 100 ml 10 ml
6 Asam urat 100 ml 10 ml
7 EDTA 100 ml 10 ml
8 Eosin 100 ml 10 ml
9 Stomatolyzer 500 ml 100 ml
10 Cellpack 20 lt 2 lt
11 Cell clean 50 ml 10 ml

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN KEGIATAN / PROGRAM

Keselamatan pasien di Puskesmas adalah suatu sistem dimana Puskesmas membuat


asuhan pasien lebih aman yang meliputi pengurangan resiko terjadinya kecelakaan kerja yang
terjadi pada pasien selama perawatan di puskesmas Brang Rea. Melakukan identifikasi dan
penanganan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, sistem pencatatan dan pelaporan dan
analisis insiden, sehingga memberikan pembelajaran bagi petugas dalam penanganan insiden
dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
yang dapat mengancam nyawa pasien khususnya di laboratorium.

Sasaran Keselamatan Pasien di laboratorium UPTD. Puskesmas Brang Rea


dititikberatkan pada Ketepatan Identifikasi pasien, dengan cara sebagai berikut :

a. Specimen diidentifikasi dengan nomor urut sebelum dilakukan pemeriksaan Pasien


diidentifikasi sebelum pemberian obat.

16
b. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil spesimen lain untuk Pemeriksaan laboratorium
c. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian Hasil.

17
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Pelaksanaan Keselamatan Kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat
kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau
bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas kerja,Khususnya keselamatan dan keamanan Laboratorium.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan
pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Petugas laboratorium merupakan orang pertama yang terpapar terhadap bahan kimia yang
merupakan bahan toksisk korosif, mudah meledak dan terbakar serta bahan biologi. Selain itu
dalam pekerjaannya menggunakan alat-alat yang mudah pecah, Oleh karena itu penerapan
manajemen resiko juga sangat penting dilakukan. Penerpan manejemen resiko keselamatan
laboratorium sendiri merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam mencegah kejadian
kecelakaan kerja dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dilingkungan kerja.
Langkah langkah dalam penerpan manajemen resiko laboratorium adalah :
1. Setiap kegiatan yang dilakukan dilaboratorium mulai dari persiapan sampai selesai dapat
menimbulkan bahaya bagi petugas yang berada dilaboratorium.
2. Memastikan petugas laboratorium memahami cara pemakaian Alat pelindung diri
3. Melakukan penyelidikan terhadap hal hal yang memungkinkan terjadinya
kebocoran/pelepasan / penyebaran bahan infeksius
4. Petugas memaki alat suntik sekali pakai
5. Memastikan semua tindakan dekontaminasi telah dilakukan jika ada tumpahan atau
percikan specimen/ reagen
6. Memastikan tindakan disinfeksi telah dilakukan terhadap peralatan yang akan dipakai
7. Petugas menggunakan pipet otomatis dan tidak menggunakan mulut karena dapat
menyebabkan tertelannya organisme
8. Petugas melakukan desinfektan sebelum dan sesudah bekerja
9. Mencatat setiap kejadian kecelakaan kerja yang terjadi dilaboratorium

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:


A. Di Tempat Kerja dan Lingkungan Kerja
1. Desain Tempat Kerja Yang Menunjang Keselamatan kerja
- Ruang kerja dirancang khusus untuk memudahkan proses kerja di laboratorium;
- Tempat kerja disesuaikan dengan posisi atau cara kerja;
- Pencahayaan cukup dan nyaman;
- Ventilasi cukup dan sesuai;
- Prosedur kerja tersedia di ruangan dan mudah dijangkau jika diperlukan;
- Dipasang tanda peringatan untuk daerah berbahaya.
2. Sanitasi Lingkungan
- Ruangan laboratorium harus bersih, kering dan higienis;
- Tersedia tempat sampah yang diberi tanda khusus yang sebelah dalamnya dilapisi
dengan kantong plastic.
- Tata ruang laboratorium harus baik sehingga tidak dapat dimasuki/ menjadi sarang
serangga atau binatang pengerat;
- Sediakan tempat cuci tangan dengan air yang mengalir dan dibersihkan secara teratur;
- Petugas laboratorium dilarang makan dan minum dalam laboratorium;
- Dilarang meletakkan hiasan dalam bentuk apapun di dalam laboratorium.
B. Proses Kerja, Bahan dan Peralatan Kerja
1. petugas laboratorium harus mengerti dan melaksanakan upaya pencegahan terhadap
bahaya yang mungkin terjadi, dapat menggunakan setiap peralatan laboratorium dan

18
peralatan kesehatan dan keselamatan kerja dengan benar, serta mengetahui cara
mengatasi apabila terjadi kecelakaan di laboratorium.
2. Tersedia fasilitas laboratorium untuk kesehatan dan keselamatan kerja, seperti tempat
cuci tangan dengan air yang mengalir dan alat pemadam kebakaran.
3. Petugas wajib memakai alat pelindung diri (jas laboratorium,masker, sarung tangan, alas
kaki tertutup) yang sesuai selama bekerja.
4. Petugas memakai Jas laboratorium yang bersih ,terus menerus selama bekerja dalam
laboratorium dan harus dilepaskan serta ditinggalkan di laboratorium (hati-hati dengan
jas laboratoriumyang berpotensi infeksi).
5. Untuk menghindari kecelakaan, rambut panjang harus diikat kebelakang dengan rapi.
6. Petugas harus mencuci tangan secara higienis dan menyeluruh sebelum dan setelah
selesai melakukan aktifitas laboratorium danharus melepaskan baju proteksi sebelum
meninggalkan ruang laboratorium.
7. Dilarang melakukan kegiatan percobaan laboratorium tanpa ijin pejabat yang berwenang.
8. Dilarang makan, minum (termasuk minum dari botol air) dan merokok di tempat kerja.
9. Tempat kerja harus selalu dalam keadaan bersih. Kaca pecah,jarum atau benda tajam dan
barang sisa laboratorium harus ditempatkan di bak/peti dalam laboratorium dan diberi
keterangan.
10. Sarung tangan bekas pakai harus ditempatkan dalam bak hitam strip kuning (menjadi
limbah medis/ infeksius) yang diberi tanda khusus.
11. Semua tumpahan harus segera dibersihkan.
12. Dilarang menggunakan mulut pada waktu memipet, gunakan karet penghisap.
13. Peralatan yang rusak atau pecah harus dilaporkan kepada penanggung jawab
Laboratorium.
14. Tas/kantong/tempat sampah harus ditempatkan di tempat yang ditentukan.
15. Pengelolaan spesimen
- Setiap spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius.
- Spesimen yang diterima disimpan pada baki khusus
- Petugas harus mengetahui dan melaksanakan cara pengambilan, pengiriman dan
pengolahan spesimen dengan benar.
- Semua spesimen darah dan cairan tubuh harus disimpan pada wadah yang memiliki
konstruksi yang baik, dengan karet pengaman untuk mencegah kebocoran ketika
dipindahkan.
- Saat mengumpulkan spesimen harus berhati-hati guna menghindari pencemaran dari
luar kontainer atau laboratorium.
- Petugas harus menggunakan sarung tangan dan masker setiap memproses spesimen
darah dan cairan tubuh (contoh: membuka tutup tabung vakum)
- Petugas harus cuci tangan dan mengganti sarung tangan setelah memproses spesimen-
spesimen tersebut
- Jarum yang telah digunakan harus diperlakukan sebagai limbah infeksius dan dikelola
sesuai ketentuan yang berlaku.
- Permukaan meja laboratorium dan alat laboratorium harus Didekontaminasi dengan
desinfektan setelah selesai melakukan kegiatan laboratorium.
16. Pengelolaan bahan kimia yang benar
- Petugas harus mengetahui cara pengelolaan bahan kimia yang benar (antara lain
penggolongan bahan kimia,bahan kimia yang tidak boleh tercampur, efek toksik
danpersyaratan penyimpanannya).
- Petugas harus mengenal bahaya bahan kimia dan mempunyai pengetahuan serta
keterampilan untuk menangani kecelakaan.
- Semua bahan kimia yang ada harus diberi label/etiket dan tanda peringatan yang
sesuai.
17. Pengelolaan Limbah
a. Limbah Padat
Limbah padat terdiri dari limbah/sampah umum dan limbah khusus seperti benda
tajam, limbah infeksius, limbah sitotoksik, limbah toksik, limbah kimia, limbah B3
dan limbah plastik.
Fasilitas Pembuangan Limbah Padat:

19
1) Tempat Pengumpulan Sampah Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan
karat,kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya.
Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup,minimal terdapat satu buah
untuk masing-masing kegiatan. Kantong plastik diangkat setiap hari atau apabila
2/3bagian telah terisi sampah. Setiap tempat pengumpulan sampah harus dilapisi
plastik sebagai pembungkus sampah dengan label dan warna seperti digambarkan
pada tabel 7 sebagai berikut:

Tabel 7. Gambar dan Warna label Pada Tempat Pengumpulan Sampah

2) Tempat Penampungan Sampah Sementara


Sampah berbentuk benda tajam, ditampung dalam wadah yang kuat/tahan benda
tajam sebelum dimasukkan ke dalam kantong yang sesuai dengan kategori/jenis
sampahnya. Tersedia tempat penampungan sampah yang tidak permanen, yang
diletakkan pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut
sampah.Tempat penampungan sampah sementara dikosongkan dan dibersihkan
sekurang-kurangnya satu kali dalam 24jam.
3) Tempat Pembuangan Sampah Akhir
a) Sampah infeksius, sampah toksik dan sitotoksik dikelola sesuai prosedur dan
peraturan yang berlaku.
b) Sampah umum (domestik) dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir yang
dikelola sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.
b. Limbah Cair
Limbah cair terdiri dari limbah cair umum/ domestik, limbah cair infeksius dan
limbah cair kimia. Cara menangani limbah cair:
1) Limbah cair umum/domestik dialirkan ke westafel yang langsung terhubung ke
IPAL
2) Limbah cair infeksius dan Kimia dikelola sesuai dengan prosedur dan peraturan
yang berlaku.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Bakuan Mutu
Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu kewaktu, diperlukan bakuan
mutu berupa pedoman/bakuan yangtertulis yang dapat dijadikan pedoman kerja bagi tenaga
pelaksana.
1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa dan bagaimana
prosedur melakukan suatu aktifitas.
2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenagapelaksana baru yang akan
dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.

20
3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis akan
menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.
4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab laboratorium.
5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja dibuat oleh tenaga teknis laboratorium
dan disahkan oleh penanggung jawabLaboratorium Puskesmas.

B. Pemantapan Mutu
Pemantapan mutu (quality assurance) laboratorium adalah keseluruhan proses atau semua
tindakan yang dilakukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan.
Kegiatan ini berupa Pemantapan Mutu Internal (PMI), Pemantapan Mutu Eksternal(PME)
dan Peningkatan Mutu.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI/Internal Quality Control)
Pemantapan Mutu Internal (PMI) adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang
dilaksanakan oleh setiap laboratorium secara terus menerus agar tidak terjadi atau
mengurangi kejadian kesalahan atau penyimpangan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan
yang tepat.
a. Manfaat:
1) Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan dengan
mempertimbangkan aspek analitik dan klinis.
2) Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran hasil yang salah tidak
terjadi dan perbaikan penyimpanan dapat dilakukan segera.
3) Memastikan bahwa semua proses mulai dari persiapan pasien, pengambilan,
pengiriman, penyimpanan dan pengolahan dan pemeriksaan spesimen sampai
dengan pencatatan dan pelaporan telah dilakukan dengan benar.
4) Mendeteksi penyimpangan dan mengetahui sumbernya.
5) Membantu perbaikan pelayanan kepada pelanggan (customer)
b. Cakupan
Objek Pemantapan Mutu Internal meliputi aktivitas: tahap praanalitik,tahap analitik
dan tahap pasca-analitik.
1) Tahap Pra-Analitik adalah tahap mulai mempersiapkan pasien, mengambil
spesimen, menerima spesimen,memberi identitas spesimen, mengirim spesimen
rujukansampai dengan menyimpan spesimen.
a) Persiapan pasien
Sebelum spesimen diambil harus diberikan penjelasan kepada pasien
mengenai persiapan dan tindakan yang hendak dilakukan.
b) Penerimaan spesimen
Petugas penerimaan spesimen harus memeriksa kesesuaian antara spesimen
yang diterima dengan formulir permintaan pemeriksaan dan mencatat kondisi
fisik spesimen tersebut pada saat diterimaantara lain volume, warna,
kekeruhan, dan konsistensi. Spesimen yang tidak sesuai dan memenuhi
persyaratan hendaknya ditolak. Dalam keadaan spesimen tidak dapat ditolak
(via pos,ekspedisi), maka perlu dicatat dalam buku penerimaan spesimen dan
formulir hasil pemeriksaan.
c) Penanganan spesimen
Pengelolaan spesimen dilakukan sesuai persyaratan, kondisi penyimpanan
spesimen sudah tepat,penanganan spesimen sudah benar untuk pemeriksaan-
pemeriksaan khusus, kondisi pengiriman spesimen sudah benar.
d) Pengiriman spesimen
Spesimen yang sudah siap untuk diperiksa dikirimkan ke bagian pemeriksaan
sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Jika Laboratorium Puskesmas
tidak mampu melakukan pemeriksaan,maka spesimen dikirim ke laboratorium
lain dan sebaiknya dikirim dalam bentuk yang relatif stabil.
e) Penyimpanan spesimen
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksadapat disimpan dengan
memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Beberapa cara
menyimpan spesimen antara lain :

21
Disimpan pada suhu kamar (Misalnya penyimpananusap dubur dalam
Carry & Blair untuk pemeriksaanVibrio cholera).
Disimpan dalam lemari es dengan suhu 0C.
Dapat diberikan bahan pengawet.
Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum.
2) Tahap Analitik adalah tahap mulai dari persiapan reagen, mengkalibrasi dan
memelihara alat laboratorium, ujiketepatan dan ketelitian dengan menggunakan
bahan kontrol dan pemeriksaan spesimen.
a) Persiapan reagen
Reagen memenuhi syarat sesuai standar yang berlaku, masa kadaluarsa tidak
terlampaui, cara pelarutanatau pencampuran sudah benar, cara
pengenceransudah benar,
b) Kalibrasi dan pemeliharaan peralatan Salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium adalah peralatan laboratorium,
wadah spesimen. Harus dilakukankalibrasi dan pemeliharaan peralatan
laboratorium secara teratur dan terjadwal. Wadah spesimen harus bersih dan
tidak terkontaminasi.
Contoh beberapa peralatan laboratorium yang perlu di kalibrasi adalah:
Lemari es (Refrigerator/freezer)
Inkubator (Incubator)
Oven
Autoklaf (Autoclave)
Micro Pipet
Penangas air (Waterbath)
Sentrifus (Centrifuge)
Fotometer (Photometer)
Timbangan analitik
Timbangan elektrik
Thermometer

c) Uji ketelitian dan ketepatan dengan menggunakan bahan kontrol.


d) Pemeriksaan spesimen menurut metoda dan prosedursesuai protap masing-
masing parameter.
3) Tahap Pasca-Analitik adalah tahap mulai dari mencatat hasil pemeriksaan dan
melakukan validasi hasil serta memberikan interpretasi hasil sampai dengan
pelaporan. Kegiatan Pemantapan Mutu Internal (PMI) lainnya yang perlu
dilakukan di Puskesmas antara lain:
1) Pembuatan alur pasien, alur pemeriksaan, cara pengambilan spesimen.
2) Pembuatan prosedur/instruksi kerja untuk pengambilan spesimen dan setiap
jenis pemeriksaan.
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME/External Quality Control)
Pemantapan Mutu Eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodik oleh
pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai
penampilan suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan
kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal dilaksanakan oleh pihak pemerintah, swasta atau
internasional. Setiap Laboratorium Puskesmas wajib mengikuti Pemantapan Mutu
Eksternal yang diselenggarakan oleh pemerintah secara teratur dan periodik meliputi
semua bidang pemeriksaan laboratorium.
Pemantapan mutu eksternal untuk berbagai bidang pemeriksaan diselenggarakan pada
berbagai tingkatan, yaitu :
1. Tingkat nasional/tingkat pusat : Kementerian Kesehatan
2. Tingkat Regional : BBLK
3. Tingkat Propinsi/wilayah : BBLK/ BLK
Kegiatan pemantapan mutu eksternal ini sangat bermanfaat bagi Laboratorium
Puskesmas, karena dari hasil evaluasi yang diperoleh dapat menunjukkan
performance(penampilan/proficiency) laboratorium yang bersangkutan dalam bidang

22
pemeriksaan yang ditentukan. Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak boleh diperlakukan
secara khusus, harus dilaksanakan oleh petugas yang biasa melakukanpemeriksaan
tersebut serta menggunakan peralatan/reagen/metoda yang biasa digunakan, sehingga
hasil pemantapan mutu eksternal tersebut benar-benar dapat mencerminkan penampilan
laboratorium yang sebenarnya. Setiapnilai yang diterima dari penyelenggara dicatat dan
dievaluasi untuk mencari penyebab-penyebab dan mengambil langkah-langkah
perbaikan.
3. Peningkatan Mutu
Peningkatan Mutu adalah suatu proses terus menerus yang dilakukan oleh laboratorium
sebagai tindak lanjut dari Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan Pemantapan Mutu
Eksternal (PME) untuk meningkatkan kinerja laboratorium.
Pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh petugas
laboratorium dalam meningkatkan pemantapan mutu dan direncanakan secara
berkelanjutan dan berkesinambungan serta dilaksanakan dan dipatuhi.

BAB IX
PENUTUP

Pedoman penyelenggaraan Laboratorium UPTD. Puskesmas Brang Rea ini digunakan


sebagai acuan dalam perencanaan,upaya pengembangan, dan peningkatan pelayanan serta
mutu pelayanan laboratorium di Puskesmas Brang Rea.
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat diharapkan dapat
memberikan pelayanan kesehatan dasar paripurna, bermutu dan terjangkau kepada seluruh
lapisan masyarakat di wilayah Brang Rea serta meningkatkan kinerja kompetensi petugas.,
Pedoman penyelenggaraan Labora torium Puskesmas yang telah dibuat ini semoga dapat
digunakan sebaik-baiknya serta dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan
dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika adanya perubahan pada pedoman
laboratorium ini mohon dilakukan penyempurnaan pada penyusunan pedoman laboratorium
selanjutnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Buku I kurikulum dan modul pelatihan teknis tenaga laboratorium di puskesmas tahun2015 kementrian
kesehatan RI

Buku II modul pelatihan teknis tenaga laboratorium di puskesmas tahun 2015 kementrian kesehatan RI

Pedoman kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium kesehatan, tahun 2003 departemen kseshatan RI
direktorat jenderal pelayanan medic.

Modul pelatihan penatalaksanaan infeksi menular seksual tahun 2011 kementrian kesehatan RI

panduan petugas laboratorium TB di unit pelayanan kesehatan, tahun 2009, the research of tuberculosis,
JATA

pedoman teknis pemeriksaan parasit malaria, tahun 2014, direktorat pengendalian penyakit bersumber
binatang, direktorat jenderal PP dan PL kementrian kesehatan RI

Standar prosedur operasional pemeriksaan mikroskopis TB, tahun 2012, kementrian kesehatan RI,
direkotrat jenderal bina upaya kesehatan, direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan
lingkungan.

Modul peningkatan kemampuan teknis mikroskopis malaria, tahun 2015 , direktorat pengendalian
penyakit bersumber binatang, direktorat jenderal PP dan PL kementrian kesehatan RI

Pedoman prakrik laboratorium kesehatan yang benar ( good Laboratory practice ), tahun 2008,
departemen kseshatan RI direktorat jenderal pelayanan medic.

PMK. No 37 tentang penyelenggaran laboratorium puskesmas

24