Anda di halaman 1dari 9

Nomor SNI : SNI 01-3543-1999

Judul : Kecap kedelai

SNI ini :
S NI 3543. 1:2013 - Kecap kedelai Bagian 1: Manis
direvisi oleh
Abstraksi : syarat mutu kecap kedelai manis (M) dan asin (A) mencakup keadaaan
(bau dan rasa : normal, khas); protein (N x 6,25) (M : min. 2,5% b/b, A :
min. 4,0% b/b); padatan terlarut (min. 10% b/b); NaCl (M : min.3% b/b,
A : min. 5% b/b); sakarosa (M : min. 40% b/b); pengawet (benzoat :
maks. 600 mg/kg, metil p-hidroksibenzoal : maks. 250 mg/kg, propil p-
hidroksibenzoat : maks. 250 mg/kg); pewarna tambahan (sesuai SNI 01-
0222-1995); cemaran logam (Pb : maks. 1,0 mg/kg, Cu : maks. 30,0
mg/kg, Zn : maks. 40,0 mg/kg, Sn : maks. 40,0 mg/kg, Hg : maks 0,05
mg/kg); As (maks. 0,5 mg/kg); E-coli : < 3 APM/g, kapang/khamir :
maks. 50 kol/g)
ICS : 1. 67.060 Biji-bijian, kacang-kacangan dan produk turunan

SK :
637/BSN-I/ HK.55/ 06/1999
Penetapan
Tanggal :
29-06-1999 [dd-mm-yyyy]
Penetapan
SNI Ini :
1. S NI 01-3543-1994 Kecap Kedelai
Merevisi
SNI HS : 1. 2103.10.00.00 Kecap
LPK : 1. LP 286 IDN - PT Biochem Technology (26 SNI lainn ya)
2. LSPr-022-IDN - Sucofindo ICS (144 SNI lainnya)

Jumlah :
6
Halaman

Kecap Kedelai
Kecap merupakan hasil pengolahan makanan secara fermentasi yang mempunyai aroma
dan cita rasa yang khas, berbentuk cairan, berwarna coklat muda sampai kehitaman
(Presscot and Dunns, 1981). Hartoyo (2004) menggolongkan jenis-jenis kecap
berdasarkan bahan dasarnya, yaitu kecap kedelai, kecap ampas tahu, kecap keong
sawah, kecap ikan, dan kecap air kelapa.

Kecap kedelai yaitu bahan dasarnya dari biji kedelai yang difermentasi menggunakan
jasa kapang (Aspergillus sp. dan Rhizopus sp.) hingga menjadi semacam tempe.
Selanjutnya tempe direndam dalam larutan garam. Fermentasi tersebut jadi jika kadar
garam cukup tinggi, yaitu antara 15-20% sehingga merombak keseluruhan kedelai
menjadi kecap.

Aroma khas kecap disebabkan adanya interaksi antara senyawa-senyawa yang


dihasilkan dari pemecahan protein, lemak, dan karbohidrat oleh enzim, kapang, yeast,
dan bakteri. Pendukung flavor yang berasal dari pemecahan protein adalah asam-asam
amino terutama asam glutamat yang merupakan komponen utama pendukung flavor.
Komponen nitrogen pendukung flavor di antaranya adalah arginin, histidin, dan
ammonia yang membentuk senyawa garam dengan asam glutamat dan asam suksinat
sehingga terbentuk flavor yang enak (Rahayu dan Sudarmadji, 1989). Komponen
pendukung flavor dari pemecahan karbohidrat adalah komponen gula alkohol yaitu
gliserol dan manitol (Yokotsuka, 1960).

Pada dasarnya proses pengolahan kecap kedelai manis dan kecap kedelai asin adalah
hampir sama. Perbedaan antara kecap manis dan kecap asin yang diolah secara
tradisional adalah pada jumlah penambahan bahan pemanis berupa gula pasir dan gula
kelapa/ gula aren. Pada kecap manis biasanya digunakan bahan pengental, sedangkan
pada kecap asin digunakan bahan penstabil suspensi. Dengan demikian, kecap manis
lebih kental daripada kecap asin (Hartoyo, 2000). Syarat mutu kecap kedelai berdasarkan
SNI dapat dlihat pada tabel berikut:

Tabel Syarat Mutu Kecap Kedelai Berdasarkan SNI


Parameter Kecap Manis Kecap Asin
Bobot Jenis Minimal 1,35 Minimal 1,25
Bau, rasa, dan warna
Protein Normal Normal
Garam Minimal 2 % Minimal 3 %
Sukrosa
Gula invert Maksimal 10 % Minimal 10 %
Zat pengawet buatan
Kapang Minimal 30 % Maksimal 10 %
Reaksi lakmus Minimal 35 % -
Bahan berbahaya
Maksimal250mg/kg Maksimal250mg/kg
- -
Tidak alkalis Tidak alkalis
- -

Sumber : (SNI 01-3543-1994)

Pada sampel kecap yang disediakan analisa yang dilakukan yaitu penetapan kadar abu,
penetapan kadar protein, kadar NaCl, penetapan kadar 0Brix. Sampel yang dilakukan
pengujian yaitu ada 2 jenis kecap yaitu kecap manis dan kecap asin.
1. Penetapan Kadar abu
Pada analisa kadar abu ada hubungannya dengan mineral yang terdapat pada kecap.
Mineral yang terdapat pada sampel merupakan dua macam garam yaitu garam organik dan
garam anorganik. Prinsip dari proses pengabuan ini yaitu untuk mengetahui sisa
pembakaran garam mineral tersebut. Pada penetapan kadar abu hasil yang didapatkan
sampel 1 (19,%), sampel 2 (5,84 %), sampel 3 (17,26 %), dan sampel 4 (17,99 %). Dari
semua sampel didapatkan bahwa kadar abu terlalu tinggi.
Dengan kadar abu yang didapatkann tinggi mencirikan bahwa sisa dari proses pembakaran
garam organik dan anorganik tidak sempurna. Sisa pembakaran tinggi disebabkan leoh
beberapa akibat diantaranya yaitu pada saat pemabakaran garam- garam tersebut tidak
terbakar secara sempurna, penyebab yang lain yaitu adanya mineral lain yang terbentuk
sabagai senyawa kompleks yang bersifat organis sehingga tidak terbakar secara sempurna.
2. Penetapan kadar protein
Pada penetapan kadar protein pada kecap dilakukan dengan metode titrasi formol. Metode
titrasi formol tersebut berfungsi hanya untuk menetukan suatu proses terjadinya
pemecahan protein dan kurang tepat untuk penentuan protein. Maka hasil yang
didapatkan dari metode tersebut tidak akan akurat. Berdasarkan hasil analisa di dapatkan
bahwa sampel 1 (87,55,%), sampel 2 (65,66 %), sampel 3 (87,55 %), dan sampel 4 (87,55
%). Berdasarkan SNI kadar protein untuk kecap manis minimal 3,5 % dan kecap asin
minimal 4,0 %.Sedangkan berdasarkan Departmen Perdagangan untuk kecap manis minimal
0,32 % dan kecap asin minimal 0,60%.
Maka hasil dari analisa semua sampel memenuhi pesrsayaratan SNI dan Departemen
Perdagangan, tetapi walaupun begitu hasil yang didapatkan terlalu tinggi. Kita ketahui
bahwa bahan dasar yang digunakan pada proses pengolahan kecap yaitu kacang kedelai,
kadar protein pada kacang kedelai yaitu 40 %. Maka hasil yang didapatkan tidak akan
mungkin menghasilkan protein labih dari 40 % karena protein akan mengalami pengurangan
pada bahan pada saat proses pengolahan. Metode yang digunakan pada analisa kecap tidak
sesuai itu hanya untuk menentukan kadar protein secara kwalitatif.

3. Penetapan kadar NaCl


Pada penetepan kadar NaCl menggunakan metode Mhor, pada saat titrasi dengan larutan
AgNO3 akan menghasilkan endapan. Reaksi yang berlangsung pada saat titrasi yaitu NaCl +
AgNO3 AgCl + NaO3.
Bedasarkan hasil analisa maka didapatkan bahwa sampel 1 (2,05,%), sampel 2 (0,79 %),
sampel 3 (3,64 %), dan sampel 4 (2,77 %). Berdasarkan SNI untuk kadar NaCl yaitu untuk
kecap manis minimal 3,0% dan kecap asin minimal 5,0%, persyaratan berdasarkann
Departemen Perdagangan yaitu untuk kecap manis 5,0% dan kecap asin 20 ,0%. Maka dari
itu hasil yang didapatkan tidak memenuhi persayarta SNI dan persyaratan Departemen
Perdagangan. Kadar NaCl pada kecap selain berfungsi sebagai penguat rasa tetapi
berfungsi juga sebagai pengawet.
4. Penetapan kadar oBrix
Pada penetapan kadar oBrix dialakukan dengan manggunakan Hand Refraktometer. Analisa
tersebut bertujuan untuk mengetahui kemurnian gula. Tiap-tiap jenis gula mempunyai
indeks bias tertentu sehingga dengan mengetahu indeks bias masing-masing senyawa dapat
diketahui penyususnan senyawa tersebut.
Pada penetapan kadar oBrix hanya sampel kecap manis yang dilakukan analisa.
Beradasarkan hasil analisa sampel 1 (58%), sampel 2 (60%) berdasarkan persyaratan SNI
yaitu 10 %. Maka hasil analisa tidak memenuhi persyaratan SNI. Hal-hal yang
mempengaruhi suatu indeks bias(oBrix) yaitu panjang gelombang sinar dan suhu
pengukuran
STANDARISASI PRODUK KECAP KEDELAI
MANIS SEBAGAI PRODUK KHAS
INDONESIA

SHARE

Kecap kedelai merupakan salah satu produk fermentasi yang telah dikenal sejak
ribuan tahun yang lalu di berbagai negara termasuk Indonesia. Namun kecap
kedelai manis merupakan produk kecap kedelai yag merupakan produk khas
Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan standarisasi
produk kecap kedelai untu memperkenalkan dan meningkatkan citra produk ini.
Pada kajian ini dilakukan perbandingan antara data hasil pengujian kecap kedelai
manis dari beberapa produk yang beredar di Indonesia dengan beberapa
literatur, serta peraturan-peraturan yang berlaku. Parameter mutu utama yang
membedakan antara kecap kedelai manis dengan kecap kedelai asin adalah
kadar proteinnya. Berdasarkan hasil analisis produk kecap kedelai manis yang
beredar di Indonesia, kadar protein dari kecap kedelai manis adalah 1%. Angka
ini lebih kecil dibandingkan kadar protein kecap manis pada SNI 3543:1999 yaitu
sebesar minimal 2,5%. Besar kadar protein tersebut disesuaikan dengan
kemampuan produsen kecap kedelai manis di Indonesia serta dengan justifikasi
bahwa kecap manis tidak digunakan sebagai pangan utama pada konsumsi
sehari-hari melainkan hanya merupakan bagian dari bumbu atau pecita rasa.
Besar kadar gula pada kecap kedelai manis sebesar minimal 30% ditetapkan
sebagai pembeda antara kecap kedelai manis dan kecap kedelai asin yang
dibuat tanpa penambahan gula. Peraturan yang ditetapkan oleh BPOM untuk
batasan 3-Mono Chloro Propan 1,2 diol (3-MCPD) pada kecap kedelai tidak
dimasukan ke dalam kriteria mutu kecap kedelai manis dengan pertimbangan
pada saat SNI kecap kedelai disusun belum ada lembaga yang mampu
melakukan uji terhadap 3-MCPD serta mengingat sebagai besar industri kecap di
Indonesia menggunakan proses fermentasi pada pembuatan kecapnya maka
dianggap risiko munculnya senyawa tersebut rendah. Namun meningkat risiko
terhadap kesehatan yang cukup tinggi yang dapat ditimbulkan oleh senyawa 3-
MCPD tersebut perlu dilakukan kajin ulang atau survei terhadap prevalensi 3-
MCPD untuk produk kecap di Indonesia. Pada saat ini BBIA telah mampu
melakukan analisis 3-MCPD. Kata Kunci : kecap kedelai, kecap kedelai manis,
standar.

Kecap kedelai manis merupakan produk pencita rasa khas Indonesia yang
umumnya dibuat melalui proses fermentasi tradisional. Kandungan protein
merupakan parameter kualitas kecap manis, dimana pada SNI 3543:2013 kadar
protein kecap kedelai manis adalah 1%. Besar kadar protein tersebut disesuaikan
dengan kemampuan produsen kecap kedelai manis di Indonesia serta dengan
justifikasi bahwa kecap manis tidak digunakan sebagai pangan utama pada
konsumsi sehari-hari melainkan hanya merupakan bagian dari bumbu atu pencita
rasa. Besar kadar gula pada kecap kedelai manis sebesar minimal 30%
ditetapkan sebagai pembeda antara kecap kedelai manis dan kecap kedelai asin
yang dibuat tanpa penambah gula. Kecap kedelai manis yang ditambahkan
dengan gula dan rempah-rempah pada proses pembuatannya juga merupakan
pencita rasa khas Indonesia. Batasan cemaran logam dan mikroba pada kecap
kedelai manis menyesuaikan dengan Peraturan yang ditetapkan oleh BPPOM,
namun untuk batasab 3-MCPD pada kecap kedelai tidak dimasukkan ke dalam
kriteria mutu kecap kedelai manis dengan pertimbangan pada saat SNI kecap
kedelai disusun belum ada lembaga yang mampu melakukan uji terhadap 3-
MCPD serta mengingat sebagian besar industri kecap di Indonesia
menggunakan proses fermentasi pada pembuatan kecapnya maka dianggap
risiko munculnya senyawa tersebut cukup rendah. Namun mengingat risiko
kesehatan yang cukup tinggi yang dapat ditimbulkan oleh senyawa 3-MCPD
tersebut perlu dilakukan kaji ulang atau survey terhadap prevalensi 3-MCPD
untuk produk kecap di Indonesia. Pada saat BBIA telah mampu melakukan
analisis 3-MCPD.
Nomor SNI : SNI 3746:2008
Judul : Selai buah

File SNI ini dapat diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu BSN
Terimakasih kepada para pengunjung website BSN yang telah
memanfaatkan fulltext akses seluruh koleksi digital SNI melalui
SNI Online selama 2 tahun (2010-2012). Mulai Tahun 2013,
website BSN akan menyediakan full text akses SNI yang baru
ditetapkan selama 1 tahun. SNI hasil adopsi badan standar asing
tidak dapat kami tampilkan semua secara fulltext, terkait
peraturan hak cipta di masing-masing Organisasi Pengembang
Standar. Dokumen SNI yang tidak tersedia secara online dapat
diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu BSN(sesuai ketentuan
yang berlaku) di: Perpustakaan BSN, email:dokinfo@bsn.go.id,
phone: +62 21 3927422 ext 222
Abstraksi : SNI ini merupakan revisi dari SNI 01-3746-1995, menetapkan syarat
mutu, pengambilan contoh dan cara uji. Selai buah adalah produk
makanan semi basah yang dapat dioleskan yang dibuat dari pengolahan
buah-buahan, gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain
dan bahan tambahan pangan yang diijinkan. Syarat mutu meliputi aroma,
warna dan rasa normal; serat buah positif; padatan terlarut min. 65 %
fraksi massa; cemaran logam Sn maks. 250,0 mg/kg; As maks. 1,0
mg/kg; cemaran mikroba (angka lempeng total maks. 1 x 103 koloni/g;
bakteri Coliform <3 APM/g; Staphylococcus aureus maks. 2 x 10 koloni/g;
Clostridium sp. <10 koloni/g; kapang/khamir maks. 5 x 10 koloni/g). Selai
buah dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, tidak dipengaruhi atau
mempengaruhi isi, aman selama penyimpanan dan pengangkutan. Syarat
penandaan sesuai dengan peraturan tentang label dan iklan pangan.
Panitia :
67-04 Makan an d an Minuman
Teknis
ICS : 1. 67.080.10 Buah dan produk turunan

SK :
64/KEP /BSN/6/2008
Penetapan
Tanggal :
09-06-2008 [dd-mm-yyyy]
Penetapan
SNI Ini :
1. SNI 01-3746-1995 Selai buah
Merevisi
Bibliografi : 1. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
966. 23, Microbiological Methods, 17th Edition, Chapter 17.2.01
2. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Aerobic Plate Count. 8th edition. Chapter 3
3. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
986. 15, Arsenic, Cadmium, Lead, Selenium, and Zinc in Human and Pet
Foods, Multielement Method, 17th Edition, Chapter 9.1.01
4. Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan
5. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
985.16, Tin in Canned Foods, Atomic Absorption Spectrophotometric
Method, 17th Edition, Chapter 9.2.35
6. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
976.30, Clostridium perfringens, Microbiological Method, Method, 17th
edition. Chapter 17.7.02
7. CODEX Allimentarius Commision. 1996. Codex Standard for Jams (Fruit
Preservatives) and Jellies. CODEX STAN 79-1981
8. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Staphylococcus aureus. 8th edition. Chapter 12
9. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Mold, Yeast and Mycotoxin. 8th edition. Chapter 18
10. Undang-undang RI No. 7 tahun 1996 tentang Pangan
11. CODEX Allimentarius Commision. 1996. FAO/WHO Codex Alimentarius
Sampling Plans for Prepackaged Foods (AQL-6.5). CAC/RM 42-1969
12. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual.
1998. Escherichia coli and Coliform Bacteria. 8th edition. Chapter 4
LPK : 1. LSPr-030-IDN - ILPro - IPB (48 SNI lainn ya)
Printed : e-File
Jumlah :
30
Halaman
Nomor SNI : SNI 3746:2008
Judul : Selai buah

File SNI ini dapat diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu BSN
Terimakasih kepada para pengunjung website BSN yang telah
memanfaatkan fulltext akses seluruh koleksi digital SNI melalui
SNI Online selama 2 tahun (2010-2012). Mulai Tahun 2013,
website BSN akan menyediakan full text akses SNI yang baru
ditetapkan selama 1 tahun. SNI hasil adopsi badan standar asing
tidak dapat kami tampilkan semua secara fulltext, terkait
peraturan hak cipta di masing-masing Organisasi Pengembang
Standar. Dokumen SNI yang tidak tersedia secara online dapat
diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu BSN(sesuai ketentuan
yang berlaku) di: Perpustakaan BSN, email:dokinfo@bsn.go.id,
phone: +62 21 3927422 ext 222
Abstraksi : SNI ini merupakan revisi dari SNI 01-3746-1995, menetapkan syarat
mutu, pengambilan contoh dan cara uji. Selai buah adalah produk
makanan semi basah yang dapat dioleskan yang dibuat dari pengolahan
buah-buahan, gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain
dan bahan tambahan pangan yang diijinkan. Syarat mutu meliputi aroma,
warna dan rasa normal; serat buah positif; padatan terlarut min. 65 %
fraksi massa; cemaran logam Sn maks. 250,0 mg/kg; As maks. 1,0
mg/kg; cemaran mikroba (angka lempeng total maks. 1 x 103 koloni/g;
bakteri Coliform <3 APM/g; Staphylococcus aureus maks. 2 x 10 koloni/g;
Clostridium sp. <10 koloni/g; kapang/khamir maks. 5 x 10 koloni/g). Selai
buah dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, tidak dipengaruhi atau
mempengaruhi isi, aman selama penyimpanan dan pengangkutan. Syarat
penandaan sesuai dengan peraturan tentang label dan iklan pangan.
Panitia :
67-04 Makan an d an Minuman
Teknis
ICS : 1. 67.080.10 Buah dan produk turunan

SK :
64/KEP /BSN/6/2008
Penetapan
Tanggal :
09-06-2008 [dd-mm-yyyy]
Penetapan
SNI Ini :
1. SNI 01-3746-1995 Selai buah
Merevisi
Bibliografi : 1. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
966. 23, Microbiological Methods, 17th Edition, Chapter 17.2.01
2. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Aerobic Plate Count. 8th edition. Chapter 3
3. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
986. 15, Arsenic, Cadmium, Lead, Selenium, and Zinc in Human and Pet
Foods, Multielement Method, 17th Edition, Chapter 9.1.01
4. Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan
5. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
985.16, Tin in Canned Foods, Atomic Absorption Spectrophotometric
Method, 17th Edition, Chapter 9.2.35
6. Association of Official Analytical Chemistry. 2000. AOAC Official Method
976.30, Clostridium perfringens, Microbiological Method, Method, 17th
edition. Chapter 17.7.02
7. CODEX Allimentarius Commision. 1996. Codex Standard for Jams (Fruit
Preservatives) and Jellies. CODEX STAN 79-1981
8. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Staphylococcus aureus. 8th edition. Chapter 12
9. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual. 1998.
Mold, Yeast and Mycotoxin. 8th edition. Chapter 18
10. Undang-undang RI No. 7 tahun 1996 tentang Pangan
11. CODEX Allimentarius Commision. 1996. FAO/WHO Codex Alimentarius
Sampling Plans for Prepackaged Foods (AQL-6.5). CAC/RM 42-1969
12. Food and Drug Administration. Bacteriological Analytical Manual.
1998. Escherichia coli and Coliform Bacteria. 8th edition. Chapter 4
LPK : 1. LSPr-030-IDN - ILPro - IPB (48 SNI lainn ya)
Printed : e-File
Jumlah :
30
Halaman

Nomor SNI : SNI 3141.1:2011


Judul : Susu segar-Bagian 1: Sapi

File SNI ini dapat diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu BSN
Terimakasih kepada para pengunjung website BSN yang telah
memanfaatkan fulltext akses seluruh koleksi digital SNI melalui SNI
Online selama 2 tahun (2010-2012). Mulai Tahun 2013, website BSN
akan menyediakan full text akses SNI yang baru ditetapkan selama 1
tahun. SNI hasil adopsi badan standar asing tidak dapat kami tampilkan
semua secara fulltext, terkait peraturan hak cipta di masing-masing
Organisasi Pengembang Standar. Dokumen SNI yang tidak tersedia
secara online dapat diperoleh pada Layanan Informasi Terpadu
BSN(sesuai ketentuan yang berlaku) di: Perpustakaan BSN,
email:dokinfo@bsn.go.id, phone: +62 21 3927422 ext 222
Nomor Lama: -
Abstraksi : Standar ini merupakan revisi SNI 01-3141-1998, Susu segar. Standar ini
menetapkan persyaratan mutu, pengambilan contoh, pengujian, pengemasan
dan pelabelan susu sapi segar. Standar ini digunakan hanya untuk susu sapi
segar sebagai bahan baku pengolahan lanjut. Persyaratan mutu meliputi: Berat
Jenis (pada suhu 27,5 derajat C) minimum 1,0270 g/ml, Kadar lemak
minimum 3,0 %, Kadar bahan kering tanpa lemak minimum 7,8 %, Kadar
protein minimum 2,8 %, Warna, bau, rasa, kekentalan tidak ada perubahan,
Derajat asam 6,0 - 7,5 SH, pH 6,3 - 6,8, Uji alkohol (70 %) v/v negatif,
Cemaran mikroba, maksimum: CFU/ml, Jumlah sel somatis maksimum 4 x 10
pangkat 5 sel/ml. Residu antibiotika (Golongan penisilin,Tetrasiklin,
Aminoglikosida, Makrolida) negatif, Uji pemalsuan negatif, titik beku -0,520
s.d - 0,560 derajat C, Uji peroxidase positif, Cemaran logam berat, maksimum
Timbal (Pb) 0,02 g/ml, Merkuri (Hg) 0,03 g/ml, Arsen (As) 0,1 g/ml. Cara
pengambilan contoh sesuai SNI SNI 19-0429-1989 Petunjuk pengambilan
contoh cairan dan semi padat. Pengujian meliputi: Cara pengujian berat jenis,
kadar lemak, kadar bahan kering tanpa lemak, kadar protein, warna, bau, rasa,
kekentalan, derajat asam, pH, uji alkohol, uji pemalsuan, titik beku dan uji
peroxidase sesuai dengan SNI 2782. Cara pengujian cemaran mikroba sesuai
dengan SNI 2897-2008. Cara pengujian sel somatis sesuai dengan Joint
IDF/ISO Standard -IDF 148-1-ISO/13366-1. Cara pengujian residu antibiotik
sesuai dengan SNI 7424:2008. Cara pengujian cemaran logam berat sesuai
dengan SNI 2896. Pengemasan susu segar dikemas dalam wadah tertutup yang
terbuat dari bahan yang tidak toksik dan tidak mengakibatkan
penyimpangan/kerusakan susu segar selama penyimpanan dan pengangkutan.
Pelabelan Informasi pada label kemasan primer minimal mencantumkan nama
produk, nama produsen, berat bersih atau isi bersih, dan NKV.
Panitia : 67-03 Petern akan dan Produk Peternakan
Teknis
ICS : 1. 67.100.01 Susu dan produk susu secara umum

SK :
06/ KE P/ BS N/ 1/ 2011
Penetapan
Tanggal :
31-01-2011 [dd-mm-yyyy]
Penetapan
SNI Ini :
1. S NI 01-3141-1998 Susu segar
Merevisi
Acuan : 1. S NI 19-0429-1989 Petunjuk pengambilan contoh cairan dan semi
Normatif padat
SNI 2. S NI 01-2782-1998 Metode pengujian susu segar
3. S NI 01-2896-1998 Cara uji cemaran logam dalam makanan
4. S NI 2897:2008 Metode pengujian cemaran mikroba dalam daging,
telur dan susu serta hasil olahannya
5. S NI 7424:2008 Metode uji tapis (screening test) residu antibiotika pada
daging, telur dan susu secara bioassay
Acuan :
Normatif 1 . ISO 13366-1:2008
non SNI
LPK : 1. LP 875 IDN - Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah
Baturraden (1 SNI lain n ya)
Printed : Hardcopy& e-File
Jumlah :
9
Halaman