Anda di halaman 1dari 3

Kau Tak Kenal Dirimu dan Tak Kenal

Dirinya
Kategori: Tazkiyatun Nufus

20 Komentar // 13 Agustus 2010

Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu perjalanan hidup ini acapkali
kita lalui dengan ketidaksadaran. Bukan linglung, pingsan, atau hilang ingatan. Akan tetapi
karena kita tidak sadar tentang hakekat diri dan kedudukan kita serta kita tidak sadar betapa
agung hak Rabb yang telah menciptakan kita atas diri kita. Berangkat dari ketidaksadaran itulah
muncul penyakit ganas berikutnya yang bernama ketidaksabaran.

Tentang hakekat diri dan kedudukan kita, maka bacalah firman-Nya (yang artinya), Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-
Dzariyat: 56). Kita adalah hamba yang harus menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya
dengan apa saja. Adapun mengenai keagungan Rabb (Allah) yang telah menciptakan kita, maka
bacalah firman-Nya (yang artinya), Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. (QS. al-
Fatihah: 1). Allah lah sosok paling berjasa kepada kita dan yang paling layak untuk
mendapatkan cinta.

Tatkala seorang hamba telah kehilangan dua buah ilmu ini -ilmu tentang hakekat dirinya dan
ilmu tentang keagungan hak Rabbnya- maka pupuslah harapan untuk menggapai kebahagiaan
yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Seorang hamba akan sampai pada
tujuannya -dengan meniti jalan yang lurus- adalah dengan merealisasikan kedua macam
marifat ini baik dalam bentuk ilmu maupun keadaan/sikap hidup, sedangkan keterputusannya
-untuk bisa menggapai tujuan- adalah karena dia kehilangan keduanya. Inilah kandungan
makna ucapan mereka -sebagian orang bijak-, Barangsiapa yang mengenal -hakekat- dirinya
niscaya akan mengenali -keagungan- Rabbnya (al-Fawaid, hal. 133)

Nah, sadarkah dirimu bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya? Sadarkah
dirimu bahwa hidup di dunia ini tiada artinya jika tidak digunakan untuk menghamba kepada-
Nya? Sadarkah dirimu, betapa besar anugerah dan nikmat yang Allah curahkan kepada kita -yang
semestinya kita syukuri dengan hati, lisan dan segenap anggota badan kita- di sepanjang
perjalanan hidup yang kita lalui, di setiap jengkal tanah yang kita pijak dan setiap bangunan
rumah yang kita huni. Aduhai, betapa seringnya kita tak sadar, terlena oleh suasana, melupakan
hakekat diri kita dan melalaikan hak Rabb kita atas diri kita. Allah taala berfirman (yang
artinya), Sungguh jika kalian bersyukur maka pasti akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian,
akan tetapi jika kalian kufur/ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih. (QS.
Ibrahim: 7). Allah taala berfirman pula (yang artinya), Betapa sedikit hamba-hamba-Ku yang
pandai bersyukur. (QS. Saba: 13)
Saudaraku, untuk apakah kau pergunakan waktu yang diberikan Allah kepadamu? Waktu yang
begitu berharga ini kerapkali kita sia-siakan. Jangankan berpikir untuk melipatgandakan pahala
amalan, bahkan sekedar untuk beramal yang ringan pun kita sering berat dan menganggapnya
sebagai beban atau bahkan siksaan! Padahal Rabb kita jalla fi ulaah telah memberikan janji luar
biasa bagi hamba yang patuh kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), Barangsiapa yang
taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat
besar. (QS. al-Ahzab: 71). Allah taala juga berfirman (yang artinya), Barangsiapa yang
mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha: 123)

Ketidaksadaran itulah yang membuahkan ketidaksabaran. Tidak sabar dalam menjalani ketaatan.
Tidak sabar dalam menjauhi kemaksiatan. Dan tidak sabar dalam menghadapi perihnya musibah
yang menimpa hati maupun badan. Oleh sebab itu tidak ada yang beruntung kecuali orang-orang
yang sabar. Bukankah Allah taala berfirman (yang artinya), Demi masa, sesungguhnya semua
orang merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam
kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran. (QS. al-Ashr: 1-3)

Bagi banyak orang ketaatan terkadang dirasakan memberatkan dan tidak menyenangkan. Yaitu
tatkala seorang hamba tidak lagi menyadari bahwa kesulitan yang dihadapinya di saat berjuang
menegakkan ketaatan adalah ujian untuk membuktikan sejauh mana kualitas iman pada dirinya.
Allah taala berfirman (yang artinya), Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, Kami beriman lantas mereka pun tidak diuji?
(QS. al-Ankabut: 1-2). Allah taala juga berfirman (yang artinya), Apakah kalian mengira
bahwa kalian akan masuk surga begitu saja sementara Allah belum mengetahui -menunjukkan-
siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian, dan juga siapakah orang-
orang yang bersabar. (QS. Ali Imran: 142)

Syaikh as-Sadi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat dalam surat Ali Imran di atas,
Artinya, janganlah kalian mengira dan jangan pernah terbetik dalam benak kalian bahwa
kalian akan masuk surga begitu saja tanpa menghadapi kesulitan dan menanggung berbagai hal
yang tidak menyenangkan tatkala menapaki jalan Allah dan berjalan mencari keridhaan-Nya.
Sesungguhnya surga itu adalah cita-cita tertinggi dan tujuan paling agung yang membuat
orang-orang saling berlomba -dalam kebaikan-. Semakin besar cita-cita maka semakin besar
pula sarana untuk meraihnya begitu pula upaya yang mengantarkan ke sana. Tidak mungkin
sampai pada kenyamanan kecuali dengan meninggalkan sikap santai-santai. Tidak akan digapai
kenikmatan -yang hakiki/surga- kecuali dengan meninggalkan (tidak memuja) kenikmatan -yang
semu/dunia-. Hanya saja perkara-perkara yang tidak menyenangkan di dunia yang dialami
seorang hamba di jalan Allah -tatkala nafsunya telah dia latih dan gembleng untuk
menghadapinya serta dia sangat memahami akibat baik yang akan diperoleh sesudahnya- maka
niscaya itu semua akan berubah menjadi karunia yang menggembirakan bagi orang-orang yang
memiliki bashirah, mereka tidak peduli dengan itu semua. Itulah keutamaan dari Allah yang
diberikan-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 150)

Sementara itu, kesabaran menerima cobaan dan kesungguhan dalam menjalani ketaatan hanya
akan lahir dari keyakinan yang kokoh terhunjam. Allah taala berfirman (yang artinya),
Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah, barangsiapa yang beriman
kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya. (QS. at-Taghabun: 11). Ibnu Masud
radhiyallahuanhu berkata, Dia adalah seorang hamba yang tertimpa musibah lalu dia
mengetahui/meyakini bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah maka dia pun merasa
ridha dan pasrah. (HR. Said bin Manshur, lihat al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208).

Tatkala seorang hamba mampu menyempurnakan keyakinan di dalam jiwanya maka niscaya
musibah yang menimpa akan berubah menjadi nikmat, dan cobaan yang dialami akan berubah
menjadi anugerah (lihat al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208). Ibnul Qayyim rahimahullah
menukil penjelasan para ulama bahwa ciri orang yang telah memiliki keyakinan yang kokoh
terhunjam itu adalah; [1] dia senantiasa menengok/ingat kepada Allah pada setiap kejadian yang
dialaminya, [2] dia selalu kembali kepada-Nya pada setiap urusan, [3] dia senantiasa memohon
pertolongan kepada-Nya dalam setiap keadaan, dan [4] dia senantiasa mengharapkan wajah-Nya
dalam setiap gerakan maupun diam (lihat al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208).

Itu artinya apabila seorang hamba ingin keluar dari ketidaksadaran ini, hendaknya dia betul-betul
memahami kedua buah ilmu tersebut. Pertama; ilmu tentang hakekat dirinya beserta segala
kekurangan, kelemahan dan keterbatasannya. Dan yang kedua; ilmu tentang hak dan keagungan
Rabbnya beserta kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Kedua ilmu itulah yang akan
mengokohkan akar keyakinan di dalam hatinya dan menegakkan pohon kesabaran di dalam
hidupnya.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Dari artikel Kau Tak Kenal Dirimu dan Tak Kenal Dirinya Muslim.Or.Id by null