Anda di halaman 1dari 49

Kinetika Pertumbuhan Sel

Dr. EFRI MARDAWATI


Pendahuluan
Pertumbuhan sel memperbanyak diri + perubahan ukuran sel
Sel tumbuh dengan memanfaatkan nutrien yang terdapat di dalam media
pertumbuhan energi + biosintesis + pembentukan produk

Laju pertumbuhan sel dikarakterisasi dengan net specific growth rate yang
didefinisikan sebagai:

Laju pertumbuhan sel juga dapat dituliskan dalam konsentrasi sel:

2
Interaksi Sistem dalam
Pertumbuhan Sel
1. Sel sistem biologis
2. Medium sistem lingkungan

3
Pendekatan dalam Kinetika
Pertumbuhan Sel
Populasi sel: Pendekatan:
Komponen unstructured vs 1.Average cell approximation
structured 2.Balance growth approximation
Heterogenitas unsegregated vs
segregated

4
Penentuan Konsentrasi Sel
Menghitung konsentrasi sel dalam medium pembiakan penting untuk menentukan
kinetika dan stoikiometri pertumbuhan
Metode penentuan : langsung dan tidak langsung

Penentuan Densitas Sel:


1. Hemocytometer
2. Plate count Colony Forming Unit (CFU)
3. Particle counters

Penentuan Massa Sel:


1. Berat sel kering
2. Packed cell volume
3. Turbiditas/ optical density
4. Pengukuran konsentrasi substrat/ produk

5
Metode Petroff Hauser
6
7
8
9
10
11
Metode Turbidity
Kultur bakteri biasanya merupakan suspensi koloid yang
dapat menyerap atau memantulkan sinar yang datang. Pada
batas tertentu,sinar yang diserap atau dipantulkan oleh
suspensi bakteri berbanding lurus dengan konsentrasi sel-sel
bakteri yang terdapat di dalam kultur tersebut.
Untuk mengukur persen sinar yang diabsorbsi oleh suspensi
bakteri dapat dilakukuan dengan metode turbidimetri.
Alat yang digunakan dalam pengukuran turbidimetri adalah
spektrofotometer, dimana sumber sinar monokromatik adalah
sinar yang mempunyai panjang gelombang yang sama.

12
Prinsip kerja alat tersebut diatas adalah sebagai berikut: Sinar
yang melalui kultur bakteri yang mengandung sel-sel bakteri
tersebut sebagian akan dipantulkan, dan sebagian akan
diteruskan. Jumlah sel yang dipantulkan atau diteruskan dapat
diukur oleh fotosel yang dihubungkan dengan galvanometer.
Dalam metode turbidimetri, kemampuan kultur untuk
mengabsorbsi sinar dapat dinyatakan dalam persen sinar yang
dilalukan yaitu persen transmittance. Pada batas tertentu
persen sinar yang dilalukan berbanding terbalik dengan
konsentrasi sel.
Cara yang lebih mudah adalah dengan menyatakan jumlah
sinar yang diabsorbsi dalam OD (optical density), dimana OD
berbanding lurus dengan konsentrasi sel. OD merupakan
fungsi dari negatif log dari persen transmisi (T),
13
14
Jenis Reaktor Ideal untuk
Pengukuran Kinetika
1. Batch Reactor
Inokulum ditumbuhkan dalam medium dalam sebuah reaktor
Selama pertumbuhan, tidak ada yang masuk dan keluar
Konsentrasi nutrien, sel, dan produk akan berubah terhadap waktu akan
berhenti
2. CSTR
Terjadi penambahan medium sepanjang proses pertumbuhan
Terjadi penarikan produk dan sel sepanjang waktu
Setelah selang waktu tertentu akan mencapai kondisi tunak

15
Kurva Pertumbuhan dalam Batch
Cultures

16
Lag Phase
Periode adaptasi sel terhadap lingkungan yang baru
Massa sel sedikit meningkat tanpa disertai peningkatan densitas sel
Durasi lag phase dipengaruhi oleh :
1. konsentrasi nutrien dan growth factor dalam medium
2. Usia dan konsentrasi sel dalam inoculum

Multiple lag phase terjadi apabila medium mengandung lebih dari satu sumber
karbon diauxic growth

17
Exponential/Logarithmic Phase
Pada fase ini, sel sudah beradaptasi terhadap kondisi lingkungan
Sel memperbanyak diri secara cepat
Massa dan densitas sel meningkat secara eksponensial terhadap waktu
Semua komponen sel tumbuh dalam laju yang sama balanced growth
komposisi rata-rata sel tunggal konstan sepanjang fasa
Net specific growth rate dapat ditentukan dari jumlah sel atau massa sel
Konsentrasi nutrien pada fasa ini cukup besar, sehingga laju pertumbuhan tidak
tergantung pada konsentrasi nutrient
Laju pertumbuhan eksponensial Orde 1

Doubling time Waktu yang diperlukan untuk sel mencapai dua kali massa
semula

18
Stationary Phase
Growth rate = Death rate

Fenomena berikut dapat terjadi selama Fasa Stasioner:


1. Jumlah konsentrasi sel tetap, tapi jumlah sel hidup dapat menurun
2. Lisis sel dapat terjadi dan sel hidup menurun. Fasa pertumbuhan kedua dapat
terjadi dengan memanfaatkan prduk dari proses lisis (Cryptic growth)
3. Metabolisme sel aktif untuk memproduksi metabolit sekunder akibat dari
menurunnya jumlah metabolit tertentu (C, N, P)
Endogeneous metabolism katabolisme sel untuk membentuk building block dan
monomer penghasil energi
Energi menjaga fungsi membran, transpor nutrien, fungsi metabolik esensial,
dan perbaikan struktur sel yang rusak maintenance energy

19
Death Phase
Laju kematian sel orde 1

Kematian sel dapat terjadi saat fasa stasioner perbedaan antara fase stasioner
dan kematian kadang tidak jelas
Sel yang mati dapat mengalami lisis dan nutrien dimanfaatkan oleh sel lain selama
fasa stasioner

20
STUDI KASUS: FERMENTASI XILITOL
Peremajaan Sel
Ragi
T : 30C
pH : 5
RPM : 450
Tahap Inokulasi

Sampel

70 mL
1,6
700L mL Pelaksanaan
Proses Fermentasi
Debaryomycess Inokulum
hansenii
ITBCC R85 Semiaerobik dari awal
fermentasi

Tahap Analisis

21
VARIASI PENELITIAN
Konsentrasi glukosa Konsentraasi xilosa Laju alir udara
Run
(g/L) (g/L) (vvm)
1 7,5 0 0,5
2 10 0 0,5
3 15 0 0,5
4 20 0 0,5
5 0 7,5 0,5
6 0 10 0,5
7 0 15 0,5
8 0 20 0,5
9 0 7,5 0,5
10 0 7,5 1
11 0 7,5 2

12 Hidrolisat TKS 0,5

22
INTERPRETASI DATA

Tingkat
Pertumbuhan Perolehan produk penggunaan xilosa

Utilisasi
YX/S YP/S QP xilosa
Laju
Perolehan
Yield xilitol
Produktivitas
volumetrik
(%)
Pertumbuhan [g-xilitol/g-xilosa]
biomassa [g-xilitol/L/jam]
Spesifik

YP/X
Yield biomassa
[g-X/g-substrat] Yield xilitol
[g-xilitol/g-sel
biomassa]

23
HASIL :
I. Estimasi Kinetika Pertumbuhan
0,20
0,20

0,15
0,15
(jam-1)

(jam -1)
0,10
0,10

0,05
0,05

0,00 0,00
0 10 20 30 40 0 10 20 30 40
Konsentrasi xilosa awal (g/L) Konsentrasi glukosa awal (g/L)

Parameter kinetika Monod melalui linearisasi


Lineweaver-Burk
Tochampa dkk., (2005) : Candida mogii
Glukosa Xilosa
KS= 9,998 g/L dan m = 0,66/jam :glukosa
max(jam-1) 0,27 0,12 KS= 11,761 g/L dan m = 0,19/jam : xilosa
Ks (g/L) 18,55 5,89 kondisi : aerobik
24
Kinetika Pembentukan Produk

1. Growth-associated Product Formation


produk dibentuk simultan dengan
pertumbuhan sel

2. Non Growth-associated Product Formation


produk dibentuk saat pertumbuhan nol (fasa
stasioner)

3. Mixed Growth-associated Product Formation


terjadi pada batas laju pertumbuhan
melambat dan fasa stasioner
25
Yield and Maintenance Coefficient
Yield Coefficient dihitung berdasarkan jumlah komsumsi substrat atau
pembentukan produk

Maintenance coefficient Laju spesifik pemanfaatan substrat untuk maintenance


sel

26
Pengaruh LingkunganTerhadap
Kinetika Pertumbuhan
Klasifikasi mikrogaisme bedasar temperatur optimum untuk tumbuh:
1. Psycrophiles (< 20oC)
2. Mesophiles (20-50 oC)
3. Thermophiles (> 50oC)

Laju pertumbuhan sel :

Pada T yang tinggi laju kematian > laju pertumbuhan sel hidup berkurang
T juga akan mempengaruhi pembentukan produk T optimum untuk
pertumbuhan akan berbeda dengan untuk pembentukan produk
Kenaikan T juga akan mempengaruhi RDS reaksi

27
Pengaruh pH mempengaruhi aktivitas enzim dan laju pertumbuhan sel
Setiap jenis organisme memiliki pH optimum berbeda: bakteri (3-8), yeast
(3-6), molds (3-7), sel tumbuhan (5-6), sel hewan (6.5-7.5)
Sel memiliki mekanisme untuk menjaga pH intraselular tetap konstan
jika pH bebeda dengan kondisi optimum maka kebutuhan energi untuk
maintenance akan meningkat

28
Oksigen terlarut (DO) dapat menjadi substrat pembatas karena
kelarutan oksigen dalam air terbatas
Jika oksigen menjadi faktor pembatas laju pertumbuhan spesifik akan
bervariasi dengan konsentrasi oksigen terlarut sesuai dengan kinetika
saturasi
Di bawah konsentrasi kritis pertumbuhan akan mendekati laju orde 1
tergantung konsentrasi oksigen
Di atas konsentrasi kritis laju reaksi tidak bergantung pada konsentrasi
oksigen terlarut
Oksigen akan menjadi faktor pembatas laju reaksi jika DO di bawah
konsentrasi kritis komponen substrat yang lain akan menjadi pembatas
jumlah pertumbuhan maksimum
Laju transfer oksigen dari gas ke dalam cairan (medium):

Jika transfer oksigen menjadi pembatas laju reaksi:

29
Pengaruh potensial redoks mempengaruhi laju dan besar reaksi
oksidasi dan reduksi
Konsentrasi CO2 terlarut konsentrasi yang tinggi akan bersifat toksik
terhadap sel
Ionic strengh dari medium memperngaruhi transportasi nutrien
tertentu dari dalam dan keluar sel, fungsi metabolik sel, dan kelarutan
nutrien dalam medium
Konsentrasi substrat apabila terlalu tinggi di atas kebutuhan
stoikiometris akan berakibat menghambat pertumbuhan, bergantung
pada jenis sel dan substrat

30
Produksi Panas akibat
Pertumbuhan Sel
Energi tersimpan 40-50% terkonversi menjadi ATP dan sisanya dilepas dalam
bentuk panas (heat)
Panas yang dilepas selama pertumbuhan sel dapat dihitung menggunakan panas
pembakaran substrat dan materi selular

Panas pembakaran substrat = panas hasil metabolisme + panas pembakaran


materi selular

31
Pertumbuhan dengan Limitasi
Substrat
Laju pertumbuhan spesifik dengan limitasi substrat saturation kinetics
Monod kinetic:

Monod equation hanya berlaku untuk pertumbuhan yang berjalan lambat dengan
densitas rendah
Untuk laju reaksi sel yang tumbuh dengan cepat dan densitas tinggi:

32
Pertumbuhan dengan Limitasi
Substrat (2)

33
Pertumbuhan dengan Inhibisi
Substrat
Inhibisi dapat bersifat kompetitif atau non-kompetitif

34
Pertumbuhan dengan Inhibisi
Produk
Inhibisi dapat bersifat kompetitif atau non-kompetitif

Inhibisi ethanol:

35
Pertumbuhan dengan Inhibisi
Senyawa Toksik
Inhibisi dapat bersifat kompetitif, non-kompetitif, dan uncompetitive

Senyawa toksik dapat menyebakan inativasi atau kematian sel:

36
Persamaan Logistik
Kombinasi persamaan Monod dan kinetika laju pembentukan sel (tidak ada
endogeneous metabolism):

Hubungan antara pembentukan sel dan konsumsi substrat:

37
Pertumbuhan Sel dalam Kultur
Kontinu
Neraca massa sel dalam chemostat (CSTR):

Jika media yang digunakan steril (Xo=0) dan endogenous metabolism dan laju
kematian diabaikan dibandingkan dengan laju pertumbuhan:

Neraca massa substrat:

38
Pada kondisi steady state dan tidak ada pembentukan produk:

Jika terjadi endogenous metabolism:

39
Neraca pembentukan produk:

Neraca substrat menjadi:

Neraca sel menjadi:

Optimum dilution rate:

40
STUDI KASUS: FERMENTASI XILITOL
Peremajaan Sel
Ragi
T : 30C
pH : 5
RPM : 450
Tahap Inokulasi

Sampel

70 mL
1,6
700L mL Pelaksanaan
Proses Fermentasi
Debaryomycess Inokulum
hansenii
ITBCC R85 Semiaerobik dari awal
fermentasi

Tahap Analisis

41
VARIASI PENELITIAN
Konsentrasi glukosa Konsentraasi xilosa Laju alir udara
Run
(g/L) (g/L) (vvm)
1 7,5 0 0,5
2 10 0 0,5
3 15 0 0,5
4 20 0 0,5
5 0 7,5 0,5
6 0 10 0,5
7 0 15 0,5
8 0 20 0,5
9 0 7,5 0,5
10 0 7,5 1
11 0 7,5 2

12 Hidrolisat TKS 0,5

42
INTERPRETASI DATA

Tingkat
Pertumbuhan Perolehan produk penggunaan xilosa

Utilisasi
YX/S YP/S QP xilosa
Laju
Perolehan
Yield xilitol
Produktivitas
volumetrik
(%)
Pertumbuhan [g-xilitol/g-xilosa]
biomassa [g-xilitol/L/jam]
Spesifik

YP/X
Yield biomassa
[g-X/g-substrat] Yield xilitol
[g-xilitol/g-sel
biomassa]

43
HASIL :
I. Estimasi Kinetika Pertumbuhan
0,20
0,20

0,15
0,15
(jam-1)

(jam -1)
0,10
0,10

0,05
0,05

0,00 0,00
0 10 20 30 40 0 10 20 30 40
Konsentrasi xilosa awal (g/L) Konsentrasi glukosa awal (g/L)

Parameter kinetika Monod melalui linearisasi


Lineweaver-Burk
Tochampa dkk., (2005) : Candida mogii
Glukosa Xilosa
KS= 9,998 g/L dan m = 0,66/jam :glukosa
max(jam-1) 0,27 0,12 KS= 11,761 g/L dan m = 0,19/jam : xilosa
Ks (g/L) 18,55 5,89 kondisi : aerobik
44
TUGAS DRB
PROBLEM 6,1, HALAMAN 200 BUKU SHULER
KARGI

45
Kinetika Formasi Produk
Laju pembentukan produk spesifik (qP)

Growth-associated
product

Non-growth-
associated produc

Mixed-growth-
associated product

46
HASIL :
II. Estimasi Kinetika Formasi Produk
14
4 Growth + Stasioner
3

Xilitol dan biomassa


12
3
10
Xilosa (g/L)

(g/L)
8 xlt 7,5 g/L
2 xlt 10 g/L
6
1 xlt 15 g/L
4 xlt 20 g/L
1 sel 7,5 g/L
2
sel 10 g/L
0
0 sel 15 g/L
0 24 48 72 96
0 24 48 72 96 Waktu fermentasi (jam) sel 20 g/L

Waktu fermentasi (jam)

Konsentrasi Utilisasi
Biomassa YX/S Xilitol Yp/s YP/X QP
Xilosa xilosa
(g/L) (g/g) (g/L) (g/g) (g/g) (g/L/jam)
(g/L) ( %)
t0 jam t96 jam t0 jam t96 jam

7,167 2,998 58 0,44 2,255 0,435 0,742 0,178 0,409 0,008

8,443 3,933 53 0,347 2,482 0,473 1,190 0,264 0,557 0,013

12,500 5,940 52 0,227 2,671 0,373 1,662 0,253 0,680 0,017

13,736 6,873 50 0,229 2,926 0,393 2,127 0,310 0,789 0,022 47


Kinetika Formasi Produk
Konsentrasi 7,1 8,4 12,5 13,7 Rata-rata
Laju Pembentukan
Produk Spesifik substrat (g/L)
rp growth 0,001 0,003 0,005 0,009
rp stasioner 0,009 0,014 0,021 0,026

Produk qp growth 0,0008 0,0019 0,0028 0,0037


qp qp stasioner 0,0041 0,0058 0,0081 0,0087
0,0041 0,0058 0,0081 0,0087 0,007
0,0120 0,0277 0,0398 0,0405 0,030

Pertumbuhan Stasioner
Ket : Fase lag diabaikan
, : Parameter kinetika
X

growth associated product : qp = 0,03


nongrowth associated product : qp = 0,007
mix growth associated product : qp = 0,03+ 0,007
MODEL MANA YANG PALING COCOK?? 48
DATA SIMULASI DAN EKSPERIMEN
4,5 4,5
4
Xilosa awal = 12,5 g/L
3,5 3,5
Xilosa awal = 7,1 g/L 3

Xilitol (g/L
Xilitol (g/L)

2,5 2,5
2
1,5 1,5
1
0,5 0,5
0
-0,5 0 12 24 36 48 60 72 84 96 0 12 24 36 48 60 72 84 96
Lama fermentasi (jam)
Lama fermentasi (jam)

4,5
5
4
Xilosa awal = 8,4 g/L Xilosa awal = 13,7 g/L
3,5 4
3
Xilitol (g/L)

Xilitol (g/L
2,5 3
2 2
1,5
1 1
0,5 0
0
0 12 24 36 48 60 72 84 96
0 12 24 36 48 60 72 84 96
Lama fermentasi (jam)
Lama fermentasi (jam)

Growth associated Nongrowth associated Mixgrowth associated


Xilosa
7,1 8,4 12,5 13,7 7,1 8,4 12,5 13,7 7,1 8,4 12,5 13,7
awal
SSQE 0,132 0,519 1,849 3,1489 12,851 9,025 6,227 2,961 10,158 12,068 7,060 9,945
49
SSQE : Jumlah Kuadrat Error antara eksperimen dan simulasi