Anda di halaman 1dari 15

SAINS MASA DEPAN

Material Nano untuk Biosensor Kolesterol

Oleh :
Ni Komang Ayu Melisusanti
Ni Putu Riska Pradanita

PASCASARJANA PENDIDIKAN IPA


UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2017

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa
(Tuhan Yang Maha Esa), karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Material Nano untuk Biosensor
Kolesterol tepat pada waktunya.
Dalam menyesaikan makalah ini penulis banyak menemui kesulitan, salah
satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman serta pengetahuan.Namun berkat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan tepat waktu, meskipun masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dosen Pengampu yang membantu memberikan pengarahan dan
bimbingan yang bermanfaat dalam penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman yang turut memberikan dukungan baik dalam bentuk
materil maupun non materil.
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari sempurna. Untuk
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan sehingga makalah ini menjadi lebih sempurna dan dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Denpasar, April 2017

Penulis

DAFTAR ISI

2
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................1
1.3 Tujuan............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ..
2.1 Pengertian Material Nano.............................................................................3
2.2 Pengertian Biosensor.....................................................................................5
2.3 Pengertian Kolesterol....................................................................................6
2.3Cara Kerja Biosensor dalam Bidang Medis Khususnya Kolesterol..............7

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan zaman yang sangat pesat menghasilkan teknologi yang
semakin tinggi pula dan para ahli fisika, biologi, kimia dan lainnya berlomba-
lomba untuk menciptakan teknologi yang semakin tinggi, tepat guna dan bebas
polusi. Dengan ditemukannya teknologi nano tanpa disadari kita sudah berada
didepan revolusi iptek yang akan membawa dampak yang sangat berpengaruh
dalam segala aspek kehidupan manusia.
Hal tersebut juga berpengaruh pada bidang kesehatan. Salah satu penyakit
berbahaya adalah kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia
adalah kondisi dimana tingkat kolesterol dalam darah yang melampaui kadar

3
normal. Kolesterol itu sendiri adalah senyawa lemak berlilin yang sebagian besar
diproduksi di hati dan sebagian lainnya didapatkan dari makanan. Kondisi
kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit serius. Penyakit yang
mengintai penderita kolesterol tinggi biasanya dikaitkan dengan adanya
pengendapan kolesterol berlebihan pada pembuluh darah yang dapat
menyebabkan dampak penyakit seperti stroke dan serangan jantung.
Kadar kolesterol dalam tubuh dapat diketahui melalui tes pemeriksaan
kadar kolesterol darah. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan dalam laboratorium.
Pemeriksaan akan menghasilkan data perkiraan kadar kolesterol yang beredar
dalam sirkulasi darah. Hasil tes rutin yang dilakukan di laboratorium akan
membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hasilnya dan tentu biaya juga
tidak sedikit. Maka dari itu, diperlukan suatu metode atau teknologi yang lebih
efektif dalam melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dalam darah. Salah satu
teknologi yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan biosensor untuk
mendeteksi kolesterol

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan Material Nano ?
1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan Biosensor ?
1.2.3 Apakah yang dimaksud dengan Kolesterol ?
1.2.4 Bagaimana cara kerja Biosensor dalam Bidang Medis khususnya dalam
Mendeteksi Kolesterol ?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan penyusunan makalah adalah
sebagai berikut :
1.3.1 Dapat memahami Material Nano
1.3.2 Dapat memahami Biosensor
1.3.3 Dapat memahami Kolesterol
1.3.4 Dapat memahami cara kerja Biosensor dalam Bidang Medis khususnya
dalam Mendeteksi Kolesterol

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Nano Material


Nanomaterial merupakan material yang mempunyai ukuran dalam skala
nanometer yaitu berkisar antara 1-100 nm. Banyak orang tertarik dengan
nanomaterial, karena dengan ukuran nano, sifat material lebih menguntungkan
daripada ukuran besar. Rekayasa material nanopartikel pada dasarnya adalah
rekayasa pengendalian ukuran, bentuk dan mofologi, serta penataan material pada
ukuran nanometer, yang akan menentukkan karakteristik nanopartikel hasil
sintesis.

3
Nanopartikel menjadi kajian yang sangat menarik, karena material yang
berada dalam ukuran nano biasanya memiliki partikel dengan sifat kimia atau
fisika yang lebih unggul dari material yang berukuran besar (bulk).(C. R. Vestal et
al. 2004; Cao, Guozhong, 2004). Dua hal utama yang membuat nanopartikel
berbeda dengan material sejenis dalam ukuran besar (bulk) yaitu:
1. Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan
antara luas permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan
dengan partikel sejenis dalam ukuran besar. Ini membuat nanopartikel
bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material ditentukan oleh atom-atom di
permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung
dengan material lain
2. Ketika ukuran partikel menuju orde nanometer, maka hukum fisika yang
berlaku lebih didominasi oleh hukum- hukum fisika kuantum.(Abdullah
M., et al, 2008)

Ditinjau dari jumlah dimensi yang terletak dalam rentang nanometer,


material nano diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, yaitu :
a. Nol Dimensi
Nanopartikel (oksida logam, semikonduktor, fullerenes)

b. Satu Dimensi
Nanotubes, nanorods, dan nanowires
c. Dua Dimensi
Thin films (multilayer, monolayer, self-assembled, mesoporrous)
d. Tiga Dimensi
Nanokomposit, nanograined, mikroporous, interkalasi, ornai-anorganik
hybrids)

4
Gambar 1. Skematik Klasifikasi nano material : (a) struktur tiga dimensi (3-
D); (b) struktur dua dimensi (2-D); (c) struktur satu dimensi; dan (d) struktur
zerodimensi (0-D),(Pokropivny,V. et al, 2007)

Banyak nanoteknologi dan nanoscience yang dilakukan untuk


memproduksi nanomaterial. Nanomaterial dapat dibuat dengan teknik top
down dan bottom up.dimana top down merupakan pembuatan struktur yang
kecil dari material yang berukuran besar sedangkan teknik bottom up adalah
penggabungan atom-atom atau molekul-molekul menjadi partikel yang
berukuran lebih besar.
Adapun beberapa sifat keunggulan dari material berukuran nano, antara
lain :
1. Sifat Elektrik
Nanomaterial dapat mempunyai energi lebih besar dari pada material
ukuran biasa karena memiliki surface area yang besar. Energy band
secara bertahap berubah terhadap orbital molekul. Logam ukuran besar
mengikuti hukum Ohm. Pada logam ukuran nano harus memiliki
masukan elektrostatik (menggambarkan jumlah energi elektron) Eel
=e2/2C. Resistivitas elektrik mengalami kenaikan dengan
berkurangnya ukuran partikel.
Contoh aplikasi : energi densitas yang tinggi dari baterai, nanokristalin
merupakan material yang bagus untuk pemisah pada baterai karena dia
dapat menyimpan energi yang lebih banyak. Baterai logam nikel-
hidrida terbuat dari nanokristalin nikel dan logam hibrida yang
membutuhkan sedikit recharging dan memiliki masa hidup yang lama.
2. Sifat Magnetik
Kekuatan magnetik adalah ukuran tingkat kemagnetan. Tingkat
kemagnetan akan meningkat dengan penurunan ukuran butiran partikel
dan kenaikan spesifik surface area per satuan volume partikel.
Sehingga nanomaterial memiliki sifat yang bagus dalam peningkatan
sifat magnet.
Contoh aplikasi : magnet nanokristalin yttrium-samarium-cobalt
memiliki sifat magnet yang luar biasa dengan luas permukaan yang

5
besar. Aplikasinya pada mesin kapal, instrumen ultra sensitive dan
magnetic resonance imaging (MRI) pada alat diagnostic.
3. Sifat Mekanik
Nanomaterial memiliki kekerasan dan tahan gores yang lebih besar
bila dibandingkan dengan material dengan ukuran biasa.
Contoh aplikasi : automobil dengan efisiensi greater fuel.
Nanomaterial diterapkan pada automobil sejak diketahui sifat kuat,
keras, dan sangat tahan terhadap erosi, diharapkan dapat diterapkan
pada busi.
4. Sistem Optik
Sistem nanokristalin memiliki sifat optikal yang menarik, yang mana
berbeda dengan sifat Kristal konvensional. Kunci penyumbang faktor
masuknya quantum tertutup dari pembawa elektrikal pada
nanopartikel, energi yang efisien dan memungkinkan terjadinya
pertukaran karena jaraknya dalam skala nano serta memiliki sistem
dengan interface yang tinggi. Dengan perkembangan teknologi dari
material mendukung perkembangan sifat nanofotonik. Dengan sifat
optik linear dan nonliniear material nano dapat dibuat dengan
mengontrol dimensi Kristal dan surface kimia, teknologi pembuatan
menjadi faktor kunci untuk mengaplikasikan.
Contoh aplikasi : pada optoelektronik, electrochromik untuk liquid
crystal display (LCD)
5. Sifat Kimia
Sifat kimia merupakan faktor yang penting untuk aplikasi kimia
nanomaterial yaitu penambahan surface area yang mana akan
meningkatkan aktivitas kimia dari material tersebut
Contoh aplikasi : teknologi fuel cell merupakan aplikasi yang penting
dari penggunaan logam nanopartikel. Dimana dalam fuel cell
digunakan logam Pt dan Pt-Ru

2.2 Pengertian Biosensor


Biosensor adalah alat untuk mendeteksi suatu analit yang menggabungkan
komponen biologis dengan komponen detektor fisikokimia. Ini terdiri dari 3
bagian:

6
1. Unsur biologis sensitif bahan biologis misalnya jaringan,
mikroorganisme, organel, reseptor sel, enzim, antibodi, asam
nukleat, dan lain-lain.
2. Transduser atau elemendetektor, bekerja dengan cara yang
fisikokimia seperti optik
3. Elektronik yang terkait dengan prosesor sinyal yang
terutama bertanggung jawab untuk menampilkan hasil.
Biosensor adalah suatu sensor yang dapat digunakan untuk menelaah fungsi
suatu material biologis atau jasad hidup, dan dapat juga digunakan untuk
mengetahui berfungsinya jasad tersebut.

2.3 Pengertian Kolesterol


Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan dan berupa seperti lilin
yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama di dalam hati. (Lars H, 1997).
Kolesterol merupakan lemak yang penting namun jika terlalu berlebihan dalam
darah dapat membahayakan kesehatan, bila ditinjau dari sudut kimiawi kolesterol
diklasifikasikan ke dalam golongan lipid (lemak) berkomponen alkohol steroid
(Sitopoe M, 1992). Kolesterol termasuk zat gizi yang sukar diserap oleh tubuh,
masuk ke dalam organ tubuh melalui sistem limpatik. Kolesterol dalam plasma darah
terutama dijumpai berikatan dengan asam lemak dan ikut bersirkulasi dari bentuk
ester kolesterol (Hertog N, 1992).
Sumber kolesterol berasal dari semua bahan makanan asal hewani, daging,
telur, susu, dan hasil perikanan, jaringan otak, jaringan saraf, dan kuning telur
(Sitepoe, 1992, Graha KC, 2010). Kolesterol dalam tubuh juga mempunyai fungsi
yang penting diantaranya adalah pembentukan hormon testosteron pada pria dan
hormon estrogen pada wanita, pembentukan vitamin D, dan sebagai sumber energi
(Graha KC, 2010).
Sel hati memproduksi kolesterol dalam tubuh. Kolesterol dibawa ke sel-sel
tubuh yang memerlukan seperti sel otot jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya agar

7
tubuh dapat berfungsi dengan baik. Kadar kolesterol yang tinggi dan pekat di dalam
darah akan menyebabkan kolesterol lebih banyak melekat pada dinding-dinding
pembuluh darah pada saat transportasi dilakukan. Kolesterol yang melekat perlahan-
lahan akan mudah melakukan tumpukan-tumpukan lalu mengendap, membentuk plak
pada dinding-dinding pembuluh darah. Tumpukan kolesterol yang mengendap pada
dinding-dinding pembuluh darah dapat menyebabkan rongga pembuluh darah
menyempit, sehingga saluran darah terganggu dan bisa mengakibatkan risiko
penyakit pada tubuh seseorang seperti stroke, jantung koroner, dan lain sebagainya
(Graha KC, 2010).

2.4 Cara Kerja Biosensor dalam Mendeteksi Kolesterol


Biosensor merupakan sensor kimiawi di mana terdiri dari 3 (tiga) elemen
dasar yaitu, receptor (biocomponent), transducer (physical component) dan
separator (membran atau beberapa jenis coating) (Eggins, 2002). Receptor terdiri
dari doped metal oxide atau organik polimer yang dapat berinteraksi dengan
analyte. Biocomponent ini dapat berupa enzim, antigen, antibodi, bacteria and
nucleic acids. Untuk berbagai aplikasi dari biosensor, enzim merupakan senyawa
yang paling banyak digunakan sebagai bioreceptor molecules atau biocomponent.
Biosensor umumnya dilapisi dengan membran tipis yang berfungsi untuk
diffusion control, mengurangi interference dan proteksi untuk electrode. Gambar 1
menjelaskan prinsip biosensor itu sendiri.

Gambar 2. Prinsip Kerja dari Biosensor

Salah satu faktor yang sangat penting pada biosensor adalah stabilitas dari
biosensor yang sangat bervariasi, di mana hal ini sangat tergantung pada ukuran
dan bentuk biosensor, metode preparasi, jenis tranduser dan parameter lain. Lebih

8
lanjut hal ini sangat bergantung pada faktor substrate diffusion dan enzymatic
reaction rate. Pemilihan material dan teknik fabrikasi biosensor yang tepat sangat
mempengaruhi fungsi dan ujuk kerja sensor. Oleh karena itu pengembangan
biosensor di masa depan fokus pada penemuan material baru.
Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan dalam mengembangkan
sistem biosensor menurut Baronas dkk (2003) antara lain : (1) Seleksi
biocomponent yang tepat, (2) Pemilihan metoda immobilization, (3) Pemilihan
jenis tranduser, (4) Desain biosensor yang meliputi range pengukuran, linearity,
dan minimisasi dari interference, (5) packaging, (6) Integrasi dengan berbagai
jenis sensor yang berbeda. Rancang bangun biosensors berbasis enzim untuk
deteksi kadar kolesterol di dalam darah dengan menggunakan teknik screen
printing. Jenis tranduser yang dibuat adalah amperometrik dengan konfigurasi tiga
electrode (working, reference, dan counter). Amperometric biosensor berbasis
enzim merupakan perangkat biosensor komersial yang banyak ditemukan di pasar.
Sensor ini beroperasi pada tegangan tetap dengan menggunakan reference
electrode sehingga arus yang dihasilkan dari oksidasi atau reduksi substrat yang
berada di atas permukaan working electrode dapat diukur. Besarnya arus yang
dihasilkan bergantung pada banyak faktor, meliputi, charge transfer, adsorption,
chemical kinetics, diffusion, convection, dan substrate mass transport.
Teknologi thick film (TFT) merupakan salah satu bagian dari teknologi
proses mikroelektronika untuk fabrikasi komponen komponen elektronika secara
screen printing. Sejak petengahan tahun 1960, teknologi proses thick film telah
digunakan untuk meminiaturisasi suatu rangkaian elektronika ke dalam sebuah
keping substrat, karena kemampuannya menghasilkan jalur konduktor yang
sangat kecil (fine line). Teknologi thick film telah banyak digunakan secara luas
dalam industri komponen hibrid mikroelektronika dan diaplikasikan dalam
berbagai bidang, seperti otomotif, telekomunikasi, medis, dan pengembangan
sensor dan aktuator. Material utama yang digunakan dalam teknologi film tebal
adalah substrat dan pasta. Substrat merupakan media tempat komponen film tebal
diimplementasikan, sedangkan pasta adalah bahan pembentuk komponen film

9
tebal, yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga dapat dibentuk melalui
proses pencetakan. Amperometrik biosensor cholesterol.
Prinsip kerja amperometrik biosensor kolesterol secara umum terdiri dari 4
(empat) tahap proses seperti yang terlihat pada Gambar 2. Biosensor kolesterol
bekerja menggunakan prinsip amperometrik dengan konfigurasi 3 (tiga) elektroda
di mana hidrogen peroksida (H2O2) yang dihasilkan mengakibatkan terjadinya
aliran arus di elektrode (Ram dkk, 2001). Arus mengalir melalui counter electrode
(CE) dan working electrode. Tidak ada arus yang mengalir di reference electrode
(RE). Dengan menggunakan konfigurasi tiga elektrode akan meminimalkan
besarnya tegangan jatuh (potential drop) akibat adanya resistansi cairan (Rs)
.

Gambar 2. Prinsip Kerja Sensor Kolesterol

Desain biosensor meliputi, pemilihan material, ukuran, bentuk dan metode


konstruksi atau fabrikasi, yang sangat tergantung pada pemilihan prinsip kerja
transducer, parameter yang mau dideteksi dan suasana kerja (working
environment). Material yang digunakan dalam electrochemical biosensor dapat
diklasifikasikan sebagai berikut: 1) material untuk elektrode dan supporting
substrate, 2) material untuk immobilisasi biocomponent, 3) material untuk
fabrikasi membran luar, dan 4) biological elements atau biocomponent, seperti
enzymes, antibodies, antigens, mediators, dan cofactors.
Penelitian yang dilakukan oleh Aminuddin dkk (2011) tahap desain
biosensor kolesterol meliputi pemilihan b
ahan, menentukan bentuk geometris dan ukuran sensor, serta pembuatan
masker. Dari penelusuran literatur telah diperoleh desain layout masker yang
terdiri dari 3 (tiga) jenis elektrode di mana ukuran sensor yang digunakan adalah
tiap electrode memiliki ukuran panjang (P) = 14 mm dan lebar (L) = bervariasi
dari mulai 2-4 mm, lebar jalur elektrode 0,4 mm. Adapun tujuan dari dipilihnya
beberapa ukuran elektrode untuk mengetahui pengaruh lebar jalur terhadap

10
sensitivitas sensor. Bentuk layout dan penampang biosensor kolesterol dapat
dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Desain Layout dan Penampang Sensor Kolesterol

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Nanomaterial merupakan material yang mempunyai ukuran dalam skala
nanometer yaitu berkisar antara 1-100 bm. Banyak orang tertarik dengan
nanomaterial, karena dengan ukuran nano, sifat material lebih
menguntungkan daripada ukuran besar.
2. Biosensor adalah alat untuk mendeteksi suatu analit yang menggabungkan
komponen biologis dengan komponen detektor fisikokimia. Ini terdiri dari
3 bagian yaitu unsur biologis, transduser atau elemendetektor
dan elektronik.
3. Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan dan berupa seperti lilin
yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama di dalam hati. Kolesterol
merupakan lemak yang penting namun jika terlalu berlebihan dalam darah
dapat membahayakan kesehatan, bila ditinjau dari sudut kimiawi

11
kolesterol diklasifikasikan ke dalam golongan lipid (lemak) berkomponen
alkohol steroid.
4. Prinsip kerja amperometrik biosensor kolesterol secara umum terdiri dari 4
(empat) tahap proses. Biosensor kolesterol bekerja menggunakan prinsip
amperometrik dengan konfigurasi 3 (tiga) elektroda di mana hidrogen
peroksida (H2O2) yang dihasilkan mengakibatkan terjadinya aliran arus di
elektrode. Arus mengalir melalui counter electrode (CE) dan working
electrode. Tidak ada arus yang mengalir di reference electrode (RE).
Dengan menggunakan konfigurasi tiga elektrode akan meminimalkan
besarnya tegangan jatuh (potential drop) akibat adanya resistansi cairan
(Rs).

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M., Virgius, Yudistira, Nirmin dan Khairurrijal. 2008. Sintesis
Nanomaterial, Jurnal Nanosains dan Nanoteknologi Vol. I : 33 57.
Aminuddin, dkk. 2011. Fabrikasi Elektroda Amperometrik Sensor dengan Metode
Teknologi Screen Tension dan Deflection Thick Film. Jurnal Ilmiah
Cao, Guozhong. 2004. Nanostructurs dan Nanomaterial. Imperial College Press.
USA
B.R. Eggins, Chemical Sensors and Biosensors, John Wiley, Chichester, 2002,
p.273.
Graha KC. 2010. 100 Question & Answers Kolesterol. PT Elex Komutindo,
Kelompok Gramedia, Jakarta
Hertog, M.G.L., Peter C.H.H. & Dini P.V. (1992). Optimization of Potentially
Anticarcinogenic Flavonoids in Vegetables and Fruits. J. Agric. Food
Chem (40): hal. 1591-1598.
Lars, H. (1997). Kolesterol. Diterjemahkan: Anton Adiwiyoto. Kesaint Blanc

12
M.K. Ram, P. Bertoncello, H. Ding, S. Paddeu, C. Nicolini, Biosens. Bioelectron.
16 (2001) 849.
Pokropivny,V., Lohmus,R., Hussainova, I., Pokropivny, A., Vlassov, S. 2007.
Introduction in Nanomaterials and Nanotechnology. Tartu University
Press, Ukraina, 225 p.
R. Baronas, F. Ivanauskas, J. Kulys, Sensors 3 (2003) 248.
Sitepoe M.1992. Kolesterol Fobia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

13