Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

PRAKTIKUM I
PENCEMARAN AIR

OLEH

NAMA : NYOMAN ADRINI


STAMBUK : F1D1 14 04
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : IZAL, S.Si

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Air merupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat penting bagi

kehidupan. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi,

karena makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan

air. Pentingnya peranan air tersebut, sehingga kualitas air sangat penting untuk

diperhatikan. Aktivitas manusia merupakan salah satu faktor yang sangat

mempengaruhi kualitas air karena dampak dari aktivitas manusia yang tidak

memperhatikan nilai konservasi lingkungan menyebabkan fenomena pencemaran

air.

Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur, atau

komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas air terganggu.

Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa, dan warna.

Sumber air semakin hari semakin tercemar karena pengolahannya melebihi

kapasitasnya untuk diperbaharui. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan krisis air

sehingga air membutuhkan pengolahan khusus yang membutuhkan biaya tinggi

yang melewati jangkauan sumberdaya ekonomi bagi kebanyakan negara

(Midleton, 2004 dalam Herlambang 2006). Suatu perairan dapat tercemar karena

limbah yang bersumber dari limbah rumah tangga, limbah industri, limbah

peternakan maupun pertanian maupun limbah lain hasil aktivitas manusia.

Sungai, laut merupakan tempat yang padat aktivitas dan berkontak langsung

dengan perairan, sehingga sistem pengolahan limbah sangat penting untuk

diperhatikan sehingga meminimalisir pencemaran yang terjadi pada air. Oleh

karena itu praktikum pencemaran air dilakukan di laut dan sungai yang berada
dekat dengan aktivitas masyarakat sehari hari dengan menggunakan parameter

kimia, biologi dan fisik.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini yaitu bagaimana menganalisis bahan

bahan dan tingkat pencemar air pada daerah aliran sungai ?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui bahan

bahan dan tingkat pencemar air pada daerah aliran sungai.

D. Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini yaitu dapat mengetahui bahan

bahan dan tingkat pencemar air pada daerah aliran sungai.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Sifat Air

Secara kimia air terdiri dari unsur H dan O, air memiliki tiga bentuk yaitu

padat, cair dan gas. Umumnya densitas meningkat berkaitan dengan menurunnya

temperatur, sampai tercapai maksimum pada 4oC, apabila temperatur turun lagi,

maka densitas akan turun pula, tetapi temperatur air tidak akan berubah. Spesifik

heat air adalah 1/gram/ oC, suatu angka yang sangat tinggi dibandingkan spesifik

heat elemen elemen lain di alam, sehingga transfer panas dan kedalam air tidak

banyak menimbulkan perubahan temperatur. Kapasitas panas yang besar ini

menyebabkan efek stabilitas air badan air terhadap udara sekitarnya. Kondisi ini

sangat penting untuk melindungi kehidupan akuatik yang sangat sensitif terhadap

gejolak suhu (Herlambang, 2006).


B. Pencemaran Air

Menurut PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air,

pencemaran air didefinisikan sebagai : Pencemaran air adalah masuknya atau

dimasukkannya mahlukhidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air

oleh kegiaan manusia sehinggakualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang

menyebabkan air tidak berfungsi lagisesuai dengan peruntukannya (Pasal 1,

angka 2). Definisi tersebut mencakup 3 aspek diuraikan sesuai makna pokoknya

menjadi 3 (tiga) aspek, yaitu aspek kejadian, aspek penyebab atau pelaku dan

aspek akibat (Setiawan, 2001, dalam Warlina 2004).

Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat-zat atau komponen yang

lainnya yang menyebabkan kualitas air terganggu bahkan menurun. Pencemaran

air bersumber dari beberapa hal yaitu limbah pertanian, limbah rumah tangga,
limbah industry dan penangkapan ikan yang tidak dilakukan dengan semestinya.

Akibat dari pencemaran air merusak ekosistem yang di dalam maupun di luar

kehidupan air terganggu. Pencemaran air juga dapat berdampak bagi kehidupan

manusia yang tidak pernah luput dari penggunaan air. Pencemaran air dapat

diatasi dengan berbagai cara baik dari diri sendiri maupun dari instansi

pemerintahan (Damaianto dan Masduqi, 2004)

C. Parameter Pencemaran Air

Parameter biologi dijadikan salah satu parameter karena hampir semua limbah

mengandung berbagai macam mikroorganisme, air limbah rumah tangga

mengandung lebih dari 106 individu/ml. Pengolahan limbah biologi,

mikroorganisme dijaga dan dipelihara untuk degradasi limbah dalam waktu

tertentu. BOD (Biological Oxigen Demand) adalah banyaknya oksigen yang

dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan bahan pencemar dalam kondisi baku.

COD (Chemical Oxigen Demand) adalah kebutuhan bahan kimia yang dibutuhkan

untuk mengoksidasi bahan pencemar yang ada dalam air. Limbah limbah yang

mudah terurai perbandingan nilai BOD dan COD adalah 1-1,5, tetapi untuk yang

sulit terurai secara biologi perbandingannya adalah 2,5-5 (Kuswanto, dkk, 2015)

Parametera warna diamati karena estetika air sering dilihat dari warna, air

yang jernih transparan, segar dan tidak berbau merupakan indikator air bagus

secara awam. Hal penting yang membedakan antara air yang memiliki warna asli

akibat material terlarut dan warna semu akibat zat zat tersuspensi. Warna kuning

alami pada air yang berasal dari pegunungan adalah berasal dari asam asam
organik yang tidak berbahaya bagi kesehatan dan warna ini disamakan dengan

warna tanin yang terdapat pada teh (Harmayani dan Konsukartha, 2007).
Parameter suhu berperan penting dalam penentuan karakter limbah, karena

menyangkut kecepatan reaksi dan pengaruhnya terhadap kelarutan suatu gas, bau,

dan rasa. Beberapa jenis bakteri populasinya dipengaruhi oleh suhu dari limbah

dan organisme perairan sangat peka terhadap perubahan suhu air. Pengukuran

suhu dapat dipakai termometer khusus yang dapat dipakai untuk variasi

kedalaman (Agustiningsih, dkk, 2012).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, 16 April 2017 pukul

14.00-16.30 WITA denganpengambilan sampel air bertempat di Pasar Baru,

Teluk Kendari dan Sungai sekitaran POLDA Kendari dan dilanjutkan analisis

sampel di Laboratorium Lanjut dan Laboratorium Unit Taksonomi & Ekologi,

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan


1. Alat Prakikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada tabel 1.

Tabel 1. Alat dan kegunaan


No. Nama Alat Kegunaan
1 Thermometer Untuk mengukur suhu air
2 Handrefractometer Untuk menugukur salinitas air
3 Water multi parameter Untuk mengukur DO air
4 Pipet tetes Untuk mengambil sampel air
5 Botol gelap Sebagai wadah penyimpanan sampel air
6 Kaca objek Sebagai wadah untuk mengamati
sampel air dimikroskop
7 Mikroskop Untuk mengamati plankton
8 Kamera Untuk kegiatan dokumentasi
9 Alat tulis Untuk kegiatan tulis menulis

2. Bahan Praktikum

Bahan yang digunakan pada praktikum ini tercantum pada tabel 2.

Tabel 2. Bahan dan kegunaan


No. Nama Bahan Kegunaan
1 Kertas pH Untuk mengukur pH air
2 Kertas label Sebagai penanda sampel

C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi pengambilan air sampel.
2. Mengambil sampel air menggunakan botol gelap di tiga lokasi berbeda yaitu

Pasar Baru, Teluk Kendari dan Sungai Polda.


3. Mengamati sampel air tersbut dengan 3 parameter yaitu :
Parameter fisik air yaitu pengamatan bau, warna, rasa, kekeruhan, dan

suhu
Parameter kimia air yaitu pengamatan DO, pH dan salinitas
a. Pengamatan DO
- Mengaktifkan alat water multiparameter kemudian mengamati DO

yang tertera.

b. Pengamatan pH

- Mengamati pH air dari masing-masing sumber air menggunakan

kertas pH
- Mencatat hasil pengamatan

c. Pengamatan salinitas

- Menyiapkan masing-masing sampel air yang akan diukur

salinitasnya
- Pengukuran salinitas air menggunakan Handrefractometer dengan

cara meneteskan air dengan menggunakan pipet tetes kemudian

mengamati nilai salinitasnya


Parameter biologi yaitu identifikasi plankton
- Menyiapkan masing-masing sampel air yang akan diamati

planktonnya
- Meneteskan sampel air di kaca objek menggunakan pipet tetes
- Mengamati plankton menggunakan mikroskop
- Mendokumentasikan plankton yang teramati di mikroskop
- Mengidentifikasi jenis plankton tersebut
- Memasukkan ke dalam hasil pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 3, 4 dan 5.

Tabel 3. Pengukuran Parameter Fisik Air


Lokasi Parameter
Bau Warna Rasa Kekeruha Suhu
Pengama
n
tan
Tidak
Teluk Sedikit
ber Bening Asin 32,2 0C
Kendari keruh
bau
Tidak Keruh
Kekuninga
Pasar Baru ber Tawar kekunin 30,3 0C
n
bau gan
Tidak Tidak
Tidak
Polda ber berwarn Tawar 30,7 0C
keruh
bau a

Tabel 4. Pengukuran Parameter Kimia Air


Parameter Lokasi
Teluk Kendari Pasar Baru Polda
Pengamatan
DO (Dissolved
38,6 S 186,2 S 33,2 S
Oxygen)
pH 7 6,8 6,7
Salinitas 5 ppm 0 ppm 0 ppm

Tabel 5. Pengukuran Parameter Biologi Air


No Jenis Ciri-Ciri Gambar Lok
Plan a
kton si
1.Berwarna agak putih tulang Pasa
2.Berbentuk pendek dan ujungnya
r
tumpul
Creseis B
1
virgula
ar
u
Rhizos Pold
olen a
ia
alat
a 1. Berwarna agak kehitaman
2 2.Berbentuk panjang dan melengkung
form 3.Kedua ujungnya runcing
a
curv
irost
ris
Rhizos Telu
olen k
ia K
alat e
1.Berwarna agak kehitaman
a 2.Berbentuk panjang n
3 3.Ujung ekor runcing
form d
a ar
grac i
illim
a

B. Pembahasan

Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Jadi

pencemaran air tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah mengalami

penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air masih tergantung

pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana,

1995 dalam Harmayani dan Konsukartha, 2007). Makin berkembangnya

permukiman-permukiman yang kurang terencana baik dalam bentuk kawasan

hunian sub standar dan tidak teratur. Dan dengan adanya permukimanpermukiman
yang kurang terencana, maka dapat mengakibatkan sistem pembuangan limbah

rumah tangga seperti pembuangan limbah kamar mandi/wc dan dapur tidak

terkoordinasi dengan baik, sehingga limbah tersebut dapat mengakibatkan

terjadinya pencemaran air tanah yang dapat mengakibatkan terjadinya penyebaran

beberapa penyakit menular.

Selain mengakibatkan terjadinya pencemaran air tanah dapat juga

mengakibatkan lingkungan di daerah permukiman tersebut menjadi tercemar.

Oleh karena itu dalam pembuangan limbah domestik di daerah permukiman

tersebut sebaiknya dilakukan pembuatan sistem jaringan pembuangan limbah

yang dapat menampung dan mengalirkan limbah tersebut secara baik dan benar,

agar dapat mencegah terjadinya kontak antara kotoran sebagai sumber penyakit

dengan air yang sangat diperlukan untuk keperluan hidup sehari-hari (Harmayani

dan Konsukartha, 2007). Berdasarkan hal tersebut, maka secara umum

pencemaran air disebabkan oleh tindakan dan aktivitas manusia yang kurang

memperhatikan kelestarian lingkungan.

Berdasarkan hasil pengamatan berdasarkan parameter fisik, maka

pencemaran yang terjadi di ketiga lokasi tersebut tergolong pencemaran ringan

karena berdasarkan indikator tidak menunjukkan ciri air yang tercemar berat.

Teluk Kendari merupakan salah satu tempat yang sangat dekat dengan aktivitas

masyarakat sekitar. Pengukuran parameter fisik menunjukkan bahwa teluk kendari

mengalami pencemaran sedang dengan kriteria kekeruhan air dan suhu yang lebih

tinggi dibandingkan kedua tempat lainnya. Suhu sangat berkaitan dengan reaksi

yang terjadi akibat adanya penguraian limbah dalam perairan. Pengukuran


menggunakan parameter kimia menunjukkan bahwa air di lokasi sungai Polda

memiliki nilai DO terendah. DO merupakan parameter oksigen dalam air sangat

penting bagi kelangsungan hidup makhluk dan dampak dari pembuangan limbah

ke sungai akan ditentukan oleh kesetimbangan oksigen dalam sistem tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, konsentrasi DO yang rendah menunjukkan sungai

tersebut telah tercemar. Berdasarkan parameter biologis, maka terdapat Creseis

virgula di sungai Pasar baru, Rhizosolenia alata forma curvirostris di sungai

Polda dan Rhizosolenia alata forma gracillima di teluk Kendari.


V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan bahwa

analisis bahan pencemar dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran

parameter fisik, kimia dan biologi pada sampel air yang menjadi indikator

tingkat pencemaran di lokasi tersebut.

B. Saran
Saran yang dapat saya ajukan dalam praktikum ini yaitu, pengulangan

pengukuran di setiap parameter perlu dilakukan untuk memperoleh data dan

hasil pengamatan yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Agustiningsih, D., Sasongko, S, B., dan Sudarno, 2012, Analisis Kualitas Air Dan
Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Blukar Kabupaten Kendal,
Jurnal Presipitasi, 9(2): 16-71

Damaianto, B., dan Masduqi, A., 2004, Indeks Pencemaran Air Laut Pantai Utara
Kabupaten Tuban dengan Parameter Logam, Jurnal Teknik Pomits, 3(1):
11-18

Harmayanti, K.D., dan Konsukartha, I.G.M., 2007, Pencemaran Air Tanah Akibat
Pembuangan Limbah Domestik Di Lingkungan Kumuh Studi Kasus Banjar
Ubung Sari, Kelurahan Ubung, Jurnal Permukiman Natah, 5(2): 62 108

Herlambang, A., 2006, Pencemaran Air dan Cara Penanggulangganya , JAI II(1):
16-29

Kuswanto, Widiyanto, A.F., dan Yuniarno, S., 2015, Polusi Air Tanah Akibat
Limbah Industri Dan Limbah Rumah Tangga, Jurnal Kemas, X (2):246-254

Warlina, L., 2004, Pencemaran Air: Sumber, Dampak Dan Penanggulangannya,


Institut Pertanian Bogor, Bogor: 1-26

Anda mungkin juga menyukai