Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN TERAPEUTIK

Kemampuan untuk membangun hubungan terapeutik dengan klien adalah salah


satu keterampilan yang paling penting, yang dapat dikembangkan perawat.
Hubungan ini sangat penting untuk keberhasilan intervensi pada klien psikiatri
walaupun memang penting dalam setiap spesialisasi keperawatan.

KOMPONEN HUBUNGAN TERAPEUTIK

1. Rasa Percaya
Rasa percaya dibangun ketika klien merasa yakin terhadap perawat dan
keberadaan perawat menghadirkan rasa yakin, intgritas, dan reliabilitas.
Rasa percaya dibangun dalam hubungan perawat-klien ketika perawat
memperlihatkan perilaku berikut ini :
Ramah
Peduli
Perhatian
Pengertian
Konsisten
Memperlakukan klien sebagai manusia
Menganjurkan tanpa memerintah
Melakukan pendekatan
Menengarkan
Menepati janji
Menyediakan jadwal aktivitas
Jujur

2. Perhatian yang Tulus


Ketika perawat merasa nyaman dengan dirinya, menyadari kekuatan dan
keterbatasannya, serta memiliki focus yang jelas, klien akan memandangnya
sebagai individu yang tulus, yang memperlihatkan perhatian yang tulus.
Bahkan penderita gangguan jiwa dapat mendeteksi ketika seseorang
memperlihatkan perilaku tidak jujur atau dibuat buat, misalnya mengajukan
pertanyaan kepada klien dan tidak menunggu jawabannya, membicarakan
klien, atau meyakinkan klien bahwa semua baik-baik saja. Perawat harus
bersikap terbuka dan jujur serta menunjukkan perilaku yang sesuai. Kadang-
kadang petawat, jika menjawab dengan benar dan juju, dapat tidak memberi
respons professional yang terbaik.

3. Empati
Empati merupakan kemampuan perawat untuk memersepsikan tujuan dan
perasaan klien dan menyampaikan pemahaman tersebut kepada klien.
Empati sering disebut sebagai salah satu keterampilan yang sangat penting,
yang dapat dikembangkan perawat. Mampu menempatkan diri pada posisi
klien tidak berarti perawat memiliki pengalaman yang persis. Akan tetapi,
dengan mendengarkan dan merasakan pentingnyasituasi tersebut bagi klien,
perawat dapat membayangkan perasaan klien tentang pengalaman ini.
Beberapa teknik komunikasi terapeutik, seperti refleksi, pengulangan
pernyataan, dan klarifikasi, membantu perawat mengirim pesan empati
kepada klien.
Misalnya, klien mengatakan, Saya sangat bingung! Putra saya baru
berkunjung dan berkata bahwa ia ingin tahu dimana kunci pengaman deposit
disimpan. Dengan menggunakan teknik reflex, perawat berespon, Anda
bingung karena putra anda menanyakan kunci pengaman deposi? Perawat
yang ingin menggunakan klarifikasi akan berespons, Apakah anda bingung
tentang kunjungan putra Anda? Dari peristiwa empati in, suatu ikatan dapat
terbentukuntuk berperan sebagai landasan hubungan perawat-klien.

4. Penerimaan
Perawat yang tidak kecewa atau tidak berespons negative terhadap amarah
yang meluap-luap, kemarahan, atau perilaku buruk klien menunjukkan
penerimaan terhadap klien.
Penerimaan ialah sikap tidak menghakimi individu, apa pun perilaku-perilaku
yang tidak pantas, melainkanmenerima individu sebagai orang yang
berguna.
Misalnya, klien memeluk pinggang perawat. Respon yang tepat terhadap
perilaku tersebut ialah perawat memindahkantangan klien dan berkata,
John, jangan memeluk pinggang saya. Kita sedang berusaha membantu
hubungan Anda dan pacar Anda dan And tidak perlu menyentuh saya.
Sekarang mari kita lanjutkan. Respon yang tidak tepat ialah, john,
hentikan! Ada apa dengan Anda? Saya akan pergi dan mungkin saya kembali
besok. Meninggalkan klien dan mengancam tidak akan kembali adalah
tindakan menghukumklien dan tidak menegur perilaku klien dengan jelas.

5. Penghargaan Positif
Perawat yang menghargai pasien sebagai manusia yang unik dan berguna
akan mampu menghormati klien tanpa memerhatikan perilaku, latar
belakang, atau gaya hidup klien. Sikap yang tidak bersyarat dan tidak
menghakimi ini desebut penghargaan positif dan menunjukkan rasa
hormat.
Perawat menunjukkan penghargaan positif ini dengan mempertimbangkan
ide dan pilihan klien ketika merencanakan perawatan. Sikap seperti ini
menunjukkan kepada klien bahwa perawat yakin klien memiliki potensi
prestasi. Perawat ada atau hadir, dan menggunakan teknik komunikasi
verbal dan nonverbal untuk memberi tahu klien bahwa perawat
memerhatikan klien sepenuhnya.membungkuk kea rah klien dan
mempertahankan kontak mata, rileks dan meletakkan lengan disamping
tubuh, merupakan teknik nonverbal yang memberikan atmosfir kehairan.
Dalam komunikasi verbal, perawat harus berupaya tidak membuat penilaian
terhadap perilaku klien.

KESADARAN DIRI DAN PENGGUNAAN DIRI SECARA TERAPEUTIK (THERAPEUTIC


USE OF SELF)
Mula-mula perawat harus mengenal dirinya sendiri sebelum ia dapat mulai
memahami orang lain. Proses pengembangan tentang nilai , keyakinan ,
pikiran , perasaan , sikap , motivasi , prangsangka , kekuatan , dan
keterbatasan diri sendiri serta bagaimana pikiran dan perilaku diri
mempengaruhi orang lain disebut kesadaran diri.
Nilai adalah standar abstrak yang memberi individu pengertian tentang apa
yang benar dan salah serta menetapkan aturan perilaku dalam hidup. Contoh
nilai meliputi kerja keras, kejujuran , ketulusan , seta sikap memperhatikan
kebersihan dan perhatian.
Keyakinan adalah ide yang diyakini individu sebagai hal yang benar misalnya
semua orang yang sudah tua sulit mendengarkan orang lain, jika
matahari bersinar pertanda hari yang baik atau kacang harus ditanam pada
hari St.Patrick.
Sikap merupakan perasaan yang umum atau cara pandang individu
mengorganisasi pengetahuannya dengan dunia. Sikap seperti penuh harapan
, optimis, pesimis, positif dan negatif memengaruhi cara kita memandang
dunia dan individu.
Dengan mengembangkan kesadaran diri dan mulai memahami kepribadian
dan sikapnya, perawat dapat mulai menggunakan aspek kepribadiannya,
pengalaman, nilai, perasaan, inteligensi, kebutuhan, keterampilan koping dan
persepsi untuk membangun hubungan dengan klien. Hal ini disebut
penggunaan diri secara terapeutik (therapeutic use of self).
POLA PIKIR
Ahli teori keperawatan Hildegard Peplau (1952) mengidentifikasi prakonsepsi
sebagai penghambat terbentuknya hubungan yang tulus. Prakonsepsi atau
cara individu mengharapkan orang lain untuk berperilaku atau berbicara ,
sering menghalangi individu tersebut mengenal satu sama lain.
Contoh prakonsepsi yang menghambat hubungan terapeutik yaitu Tn.Lopez,
seorang klien yang memiliki gagasan stereotip dan telah ada sebelumnya
bahwa semua perawat pria adalah homoseksual dan menolak Samuel,
seorang perawat pria yang merawatnya. Samuel memiliki pendapat
sterreotip yang ada sebelumnya bahwa semua orang Hispanik menggunakan
pisau lipat sehingga ia merasa lega ketika mengetahui Tn.Lopez menolak
dirawat olehnya. Kedua pria tersebut kehilangan kesempatan untuk bekerja
sama dan kemungkinan melakukan beberapa kerja sama yang penting
karena adanya prakonsepsi yang tidak benar
Carper (1978) mengidentifikasi empat pola berpikir dalam keperawatan :
1. Berpikir secara empiris
2. Berpikir secara personal
3. Berpikir secara etis
4. Berpikir secara estetis

Munhall (1993) menambahkan pola lain yang ia sebut unknowing. Perawat


mengakui bahwa ia tidak mengetahui klien atau dunia subjektif klien
membuka jalan untuk pertemuan yang tulus sebelumnya.
TIPE HUBUNGAN
Setiap hubungan perawat-klien bersifat unik karena kombinasi yang
unik individu yang terlibat didalamnya. Walaupun hubungan tersebut
berbeda-beda, tipe hubungan dapat dikategorikan kedalam tiga tipe utama
yaitu :
1. Social
2. Intim
3. Terapeutik

SOSIAL
Hubungan social terutama dimulai dengan tujuan membangun persahabatan,
sosialisasi , pertemanan, dan menyelesaikan tugas. Komunikasi biasanya
berfokus pada kegiatan berbagai ide , perasaan , dan pengalaman serta
memenuhi kebutuhan dasar individu untuk berinteraksi bersama.
Ketika perawat memberi salam kepada klien dan bercakap-cakap tentang
cuaca atau peristiwa olahraga atau terlibat dalam pembicaraan ringan atau
bersosialisasi , keadaan ini disebut interaksi social.

HUBUNGAN INTIM
Hubungan intim yang sehat melibatkan dua individu yang secara emosional
melakukannya satu sama lain dan keduanya memerhatikan pemenuhan
kebutuhan mereka dan saling membantu dalam mencapai hal tersebut.
Hubungan tersebut meliputi hubungan seksual atau keintiman emosional
juga saling berbagi. Evaluasi interaksi tersebut mungkin berlanjut, mungkin
juga tidak. Dalam interaksi perawat-klien tidak terdapat hubungan intim.
HUBUNGAN TERAPEUTIK
Hubungan terapeutik berbeda dari hubungan sosial atau hubungan intim
dalam bnyak hal karena hubungan terapeutik berfokus pada kebutuhan ,
pengalaman , perasaan , dan ide klien. Dalam hubungan terapeutik ,
parameternya jelas : berfokus pada kebutuhan klien , bukan kebutuhan
perawat. Hal ini merupakan tanda bahwa perawat berfokus pada
kebutuhannya untuk disukai atau dibutuhkan.
Tingkat kesadaran diri perawat bisa menguntungkan atau merugikan
hubungan terapeutik. Misalnya jika perawat merasa gugup bersama klien,
hubungan tersebut lebih cenderung tetap bersifat sosial karena hubungan
yan bersifat supefisial lebih aman.
Apabila perawat menyadari ketakutannya, ketakutan itu dapat didiskusikan
dan dihilangkan dengan bantuan pembimbing perawat tersebut. Hal ini akan
membantu terbinanya hubungan yang lebih terapeutik.