Anda di halaman 1dari 28

NOTA PEMBELAAN

(PLEDOOI)

ATAS TUNTUTAN PENUNTUT UMUM

NOMOR : TUT-20/24/10/2011

DALAM PERKARA TINDAK PIDANA

PERIKANAN

NOMOR REG. PERKARA: 11 / Pid.Sus / 2011 / PN.CALANG

ATAS NAMA TERDAKWA :

TUYEN TONG

PENGADILAN NEGERI CALANG

1
PEMBELAAN

(PLEDOI)

Dan Atas Nama Terdakwa :

Nama Lengkap : Tuyen Tong


Tempat Lahir : Chiang Mai
Tanggal Lahir : 18 Februari 1986
Umur : 25
Jenis Kelamin : Laki laki
Kebangsaan : Thailand
Tempat Tinggal : Sukhumvit Street No.105, Bangkok
Agama : Buddha
Pekerjaan : Nahkoda Kapal Motor (KM) Sudket Pong 212 GT 80

Status Penahanan
1. Penahanan Rutan oleh Penyidik Polres Kabupaten Aceh Jaya sejak tanggal 11
Maret 2011
2. Diperpanjang oleh Kejaksaan Negeri Calang sejak tanggal 31 Maret 2011 sampai
dengan 7 April 2011
3. Penahanan Rutan oleh Penuntut Umum sejak : 8 April 2011 sampai dengan 18
April 2011
4. Diperpanjang oleh Pengadilan Negeri Calang sejak 18 April 2011

Dakwaan
KESATU

Bahwa ia Terdakwa TUYEN TONG selaku Nakhoda Kapal Fresh Fish Pte. Ltd.
berdasarkan surat kontrak kerja No 678/SP/2010 secara sendiri sendiri atau
bersama sama dan bersekutu dengan I Made Klepon, Iskandar Muda, Said
Ruphina, Wiwip suhartana, Ijik Ghozali, Abdullah, Sukardi, Wawan Setiawan,
Rian Sukmawan, Mamiq Banun, Tueku Rian, Muhammad Ichsan, Sahrul Alim,
Rudyanto, Ali Suhemi, Toucket Prapakaoutong, Kims Chilakati, Sakha
Umarakou, Papot Ilagaratha, Saralee selaku Anak Buah Kapal Fresh Fish Pte. Ltd.
(terdakwa dalam berkas terpisah) pada hari Jumat, 4 Maret 2011 atau setidak -
tidaknya pada bulan Maret 2011 bertempat di Laut Teritorial yang berlokasi di Pesisir
................................. (dakwaan copas aja)

Bahwa kami tidak sependapat terhadap kesimpulan Penuntut Umum dalam surat
tuntutan atau requisitoirnya yang telah dibacakan pada sidang yang lalu tersebut diatas.

2
Sebab, kesimpulan Penuntut Umum itu, sama sekali tidak mendasarkan pada fakta
hukum yang terungkap dalam persidangan, baik dari keterangan saksi, keterangan ahli,
bukti surat, petunjuk maupun keterangan terdakwa dan / atau alat bukti lain, termasuk
alat bukti yang diatur dalam peraturan perundang - undangan. Oleh karena itu, kami
mohon dengan hormat agar Majelis Hakim lebih teliti memahami fakta-fakta dan analisa
hukum yang disampaikan oleh Penuntut Umum Karena bahan analisa atau data
hukumnya, tidak semuanya sah menurut KUHAP.

Majelis Hakim yang Mulia,

Saudara Penuntut Umum yang Terhormat,

Hadirin Pengunjung Sidang yang Kami Hormati.

Sehubungan dengan surat tuntutan Penuntut Umum tersebut maka kami selaku Penasihat
Hukum :

Permadi Nugraha, S.H., M.H.

Tiarashany, S.H., M.H.

Memohon ijin untuk mengajukan pembelaan pada sidang pembacaan pada hari Kamis,
tanggal 19 Mei 2011.

Sebelum Kami menyampaikan Nota Pembelaan ini, perkenankanlah kami


memanjatkan puji syukur yang dalam terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia yang tak terkira guna menemukan titik terang dari
kebenaran dan keadilan dalam proses persidangan perkara ini.

Bahwa keadilan adalah bagian terpenting dalam sendi-sendi kehidupan


masyarakat, berbangsa, dan bernegara yang tercapai melalui penegakan hukum (law
enforcement) yang baik dan benar. Oleh karena itu tanpa adanya keadilan, ketentraman
dan ketertiban dalam masyarakat tidak akan tercapai.Dalam hukum dikenal 3 (tiga) pilar
utama, yang pertama adalah Keadilan, yang kedua adalah Kepastian Hukum, dan yang
ketiga adalah Kemanfaatan. Namun menurut Prof. Soedarto terdapat empat pilar dalam
penegakan hukum, yaitu Keadilan, Kepastian Hukum, Kemanfaatan, dan Cinta Kasih.

Bahwa menurut prof. Soedarto dalam sistim penegakan hukum di Negeri kita
tercinta ini kurang adanya cinta kasih dalam pelaksanaanya. Bahwa hukum perlu

3
diperdalam (verdcept) oleh keadilan, jika hukum dilepaskan dari keadilan dan moral,
maka kita mendekati chaos dan tirani, kekacauan dan penindasan, kita perlu melayani
bangsa kita dengan hukum yang diperdalam oleh keadilan (Dr. O. Notohamidjojo, S.H.,
Demi Keadilan dan Kemanusiaan, 1975, BPK Gunung Mulia, hal. 34-35).

Bahwa dalam menelusuri kebenaran materiil, maka berlaku satu asas, bahwa
keseluruhan proses yang mengantarkan pada putusan hakim, harus secara langsung
dihadapkan kepada hakim dan proses secara keseluruhan diikuti oleh terdakwa serta
harus diusahakan dengan alat bukti yang sempurna (Van Bemmelen, Leciboek van het
straaf process recht, Hertien druk, hal.95)

Bahwa tidak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim yang
telah memberikan kami kesempatan kepada Penasehat Hukum Terdakwa untuk
mengajukan Pembelaan (Pledooi) atas Tuntutan Penuntut Umum yang telah dibacakan
didepan persidangan pada tanggal 16 Mei 2011.

Adapun nota pembelaan ini kami buat dengan sistematika sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

II. PEMBUKTIAN

a. Fakta Fakta yang Terungkap di Muka Persidangan

Keterangan saksi-saksi

Keterangan ahli

Alat bukti surat

Keterangan Terdakwa

Barang bukti yang diajukan dalam persidangan

b. Fakta fakta yang Muncul dalam Persidangan


Unsur materiil pada Pasal 85 Undang Undang RI No. 45
Tahun 2009 tentang Perikanan
Mengenai alat bukti BLH
Keterangan saksi Teungku Wahyu Julian, S.H memberikan
keterangan yang tidak di benarkan oleh terdakwa.

4
Keterangan saksi Mamiq Banun mengatakan adanya ikan yang
dimasukan ke dalam kapal ketika pemeriksaan surat-surat oleh
terdakwa
Keterangan saksi Tajhok Meugat memberikan keterangan yang
tidak di benarkan oleh terdakwa.
Keterangan ahli Hukum Laut Dr. Mega Ayu S.H., LLM yang
membenarkan bahwa izin lebih di tinggikan dibandingkan
identitas bendera kapal.
Keterangan ahli Hukum International Prof. Dr. Samuel Iliyas
S.H.,LLM memaparkan bahwa sulit untuk membuktikan
pengguanaan pukat dan pertanggung jawaban terkait kerusakan
terumbu karang di sekitar.

c. Requisitoir mengandung penggelapan fakta

d. Poin poin kesaksian yang dapat kami catat

III. ANALISA YURIDIS


IV. PENUTUP

I. PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang kami muliakan,


Saudara Penuntut Umum,
dan hadirin sekalian yang kami hormati.

Setelah melewati tahapan-tahapan persidangan yang dalam tuntutan


Penuntut Umum menghilangkan fakta-fakta asli yang seharusnya di sampaikan
oleh Penuntut Umum, Maka tiba waktunya bagi kami untuk menjelaskan seluruh
fakta hukum yang muncul dalam persidangan yang terhormat dan mulia ini.

Sebelum sampai pada pembelaan, terlebih dahulu kami mencoba untuk


menggali, memahami kronologis perkara ini secara utuh dengan cara melihat
dengan seksama duduk perkara ini dengan menempatkan kebenaran di atas
segala-galanya sehingga penegakan hukum sebagaimana yang kita cita-citakan
bersama dapat tercipta dan tercapai.

5
Ketika pada sidang yang lalu kami mencermati pembacaan Tuntutan oleh
Penuntut Umum yang demikian pula menjadi pertanyaan, dimana Keterangan
Ahli Prof. Ir. Samuel Iliyas, S.H.,M.H, seorang yang dikenal sebagai staff ahli
Badan Lingkungan Hidup, bahwa ahli telah rutin melakukan uji lab setiap
tahunnya, dimana di jelaskan setiap tahunnya daerah terumbu karang di Aceh Jaya
mengalami kerusakan yang semakin meluas, hal tersebut di sebabkan oleh para
nelayan traditional setempat yang menggunakan Phukat untuk menangkap udang
dan ikan di wilayah terumbu karang. Atas hal tersebut sulit membuktikan bahwa
terdakwa yang menggunakan phukat tersebut dan bertanggung jawab secara
penuh atas rusaknya sebagian besar wilayah perairan Aceh Jaya, hal tersebut
berkaitan dengan ukuran phukat milik terdakwa sebesar 8 m2 dan penggunaan
phukat tersebut hanya digunakan 1 kali saja.

Namun tidak dapat dipungkiri untuk perkara seperti ini, akan selalu
terjadi perbedaan terkait doktrin, peranan alat dan laboratorium,
perkembangan teknologi, metode analisis untuk menetapkan ada atau tidaknya
pencemaran terhadap lingkungan hidup .

Sehingga terkait permintaan tanggung jawab, Pemerintah akan kesulitan untuk


menaksir dan mebuktikan terkait kerusakan lingkungan, karena masyarakat
sekitar telah melakukan perusakan di lingkungan sekitar beberapa tahun terakhir
ini. Maka dapat dikatakan bahwa dalam perkara seperti ini seharusnya tidaklah
tepat apabila langsung ditetapkan siapa pelaku tindak pidana perikanan jika pada
kondisi fakta dilapangan memang dimungkinkan akan terjadi perbedaan terhadap
hasil pengujian terumbu karang, selain itu jika terdapat fakta bahwa di tempat
kejadian perkara telah banyak pola penangkapan ikan yang dilakukan oleh
masyarakat sekitar/ biasa di sebut nelayan traditional yang menggunakan phukat
sehingga dapat merusak terumbu karang yang ada di bawahnya atas hal tersebut,
masyarakat sekitar patut diduga juga dapat bertindak sebagai aktor dari perusakan
lingkungan yang didakwakan oleh Penuntut Umum, maka dalam hal ini Penuntut
Umum terlalu dini dan premathur untuk mendakwa dan melakukan penuntutan
terhadap terdakwa. Seharusnya asas Pencemar Membayar hanya diterapkan bagi
siapa yang memang terbukti melakukan tindak pidana pencemaran lingkungan
hidup.

II. PEMBUKTIAN

6
a. Fakta Fakta yang terungkap dimuka Persidangan dalam Perkara Pidana
atas nama Terdakwa Tuyen Tong

Majelis Hakim yang kami muliakan,


Saudara Penuntut Umum,
dan hadirin sekalian yang kami hormati.

Dalam sidang yang telah dilaksanakan, telah terungkap fakta-fakta melalui


keterangan para saksi, ahli, dan Terdakwa beserta bukti-bukti yang ditunjukkan
dalam persidangan, yaitu :

KETERANGAN SAKSI-SAKSI

Berdasarkan ketentuan pasal 185 ayat (1) KUHAP, keterangan saksi yang
berharga sebagai bahan pembuktian adalah yang diberikan di muka persidangan.
Dari keterangan saksi-saksi yang telah dihadirkan dan disumpah di muka
persidangan, maka kami telah mendapatkan pokok-pokok keterangan saksi.
Adapun saksi-saksi yang diajukan oleh Penuntut Umum adalah sebagai berikut:

Saksi A charge :

1. Saksi Tajhok Meugat Lahir di Lhoksmuawe, 18 Maret 1971, umur 47


tahun, Agama Islam, WNI, Pekerjaan Panglima Laot, tempat tinggal Jalan
Merpati No.24 Aceh Jaya, dibawah sumpah yang pada pokoknya
menerangkan sebagai berikut :

Bahwa saksi berada dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan
bersedia untuk diperiksa;

Bahwa kejiwaan, penglihatan maupun pendengaran saksi saat dilakukan


pemeriksaan ini dalam keadaan sehat;

Bahwa saksi mengatakan melihat Kapal Terdakwa menurunkan phukat;

Bahwa saksi mengatakan melihat kapal tersebut berbendera Indonesia;

Bahwa saksi menerangkan sebagai panglima laut yang melakukan


pengawasan terhadap kapal rencong.

7
Bahwa saksi menerangkan ketika dia melakukan pengawasan terhadap kapal
rencong saksi melihat kapal rencong sedang menaikan pukat trawl yang
digunakan untuk menangkap ikan.

Bahwa saksi menerangkan melihat kapal terdakwa pada hari jumat tanggal 4
maret 2011 sekitar pukul 10 malam diwilayah pesisir laut aceh jaya.
Bahwa saksi menerangkan setelah melihat kapal rencomng saksi lapor
kepada mufti rizky selaku ketua panglima laut agar dilakukan pengecekan
apakah kapal dengan nama rencong itu terdaftar sebagai kapal nelayan
diaceh. Dan ternyata setelah dicek ternyata kapal tersebut tersebut bukanlah
kapal nelayan aceh. Kemudian saya diperintahkan untuk mendekati dan
mengawasi apa saja yang dilakukan kapal rencong sembari menunggu polisi
air untuk melakukan penggeledahan kapal tersebut.

Bahwa saksi menerangkan Setelah saksi mendekati, nampaknya awak kapal


rencong tersebut mengetahui akan keberadaan saksi dan terlihat disitu awak
kapal panik dan mereka menumpahkan cairan dari sebuah drum.

Bahwa saksi menerangkan setelah mengetahui bahwa kapal rencong


membuang cairan, maka saksi semakin mendekati kapal rencong dan saksi
mencium adanya bau seperti bau solar.

Bahwa saksi menerangkan posisi saksi dari kapal rencong sekitar 3 nautcal
miles

Bahwa saksi menerangkan melihat aktifitas kapal rencong menggunakan


teropong

Bahwa saksi menerangkan didalam kapal patroli tersebut hanya saksi yang
melihat aktifitas kapal rencong, dikarenakan anggota yang lain mempunyai
tanggung jawab masing masing

Tanggapan Terdakwa :
Atas keterangan saksi, Terdakwa mengajukan bantahan yang pada pokoknya
menyatakan bahwa Terdakwa tidak pernah menggunakan phukat sebagaiamna
keterangan saksi

2. ..................................... (saksi)

8
Saksi a De Charge :

1. Saksi Mamiq Banun., umur 34 tahun, lahir di Padang, pada tanggal 2 Mei
1977, Agama Islam, WNI, Pekerjaan Swasta (Anak Buah Kapal), Alamat
Jl. Perahu Layar No. 34 Aceh Tengah, Indonesia

Menerangkan :

Bahwa saksi menyatakan dalam keadaan sehat jasmani maupun Rohani dan
bersedia untuk diperiksa.

Bahwa saksi menyatakan dalam keadaan kejiwaan, penglihatan, maupun


pendengaran yang sehat.

Bahwa saksi menyatakan bersedia untuk dimintai keterangan, serta bersedia untuk
memberikan keterangan yang sebenar-benarnya.

Bahwa saksi menyatakan mengenal Tersangka yaitu Tuyen Tong dan tidak ada
hubungan keluarga dengan tersangka.

Bahwa saksi menerangkan bekerja sebagai anak buah kapal, yaitu sebagai
Mualim I dari kapal yang dinahkodai oleh Tuyen Tong. Dalam kasus ini saksi
melihat polisi air memasukkan sesuatu ke dalam kapal.

Bahwa saksi menerangkan tugasnya sebagai Mualim I adalah mengatur muatan,


persediaan air tawar dan mengatur arah navigasi.

Bahwa saksi menerangkan saat polisi air menggeledah kapalnya, polisi justru
memasukkan beberapa ikan ke dalam palka, dan juga memasukkan bom ikan
karena saksi dan awak kapal lainnya tidak mau mengaku telah mencuri ikan di
perairan Indonesia dan menolak tawaran damai dengan syarat membayar sejumlah
uang.

Bahwa saksi menerangkan ikan jenis Alopidae dan Napoleon bukan merupakan
hasil tangkapan kapalnya, melainkan ikan tersebut lah yang dimasukkan oleh
polisi air ke dalam palka kapal.

9
Bahwa saksi menerangkan mulanya mencari ikan di perairan Thailand dan hanya
mendapatkan 2,5 ton ikan. Karena hasil tersebut jauh dari target maka atas
perintah dari bos yang berada di Thailand yaitu Andrew Lee kapalnya tidak
diperbolehkan kembali ke dermaga Thailand sebelum mendapat hasil sesuai
target. Untuk memenuhi target tangkapan ikan tersebut, maka atas perintah
Andrew Lee saksi dan awak kapal lainnya terpaksa mencari ikan di perairan
Indonesia.

Bahwa saksi menerangkan polisi air masuk dan menangkap dirinya dengan alasan
telah memasuki wilayah Indonesia, lalu polisi tersebut menawarkan jalan damai
dengan syarat membayar sejumlah uang. Namun saksi dan awak kapal lainnya
tetap menolak, akhirnya polisi air memaksa dan mengancam lalu memasukkan
ikan-ikan tersebut ke dalam kapalnya.

Bahwa saksi menerangkan tidak mengetahui secara pasti dimana posisinya saat
ditangkap oleh polisi air, karena saksi navigasi kapal saat itu rusak.
Bahwa saksi mengatakan telah memberikan keterangan sesuai dengan peristiwa
yang sebenarnya.

Bahwa saksi mengatakan keterangan yang diberikan adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum.

Tanggapan Terdakwa :

Seluruh keterangan saksi adalah benar semuanya

KETERANGAN AHLI

Berdasarkan ketentuan pasal 186 KUHAP, keterangan ahli yang berharga


sebagai bahan pembuktian adalah yang dinyatakan di muka persidangan. Dari
keterangan seorang ahli yang telah dihadirkan dan memberi keterangan dimuka
persidangan, maka kami telah mendapatkan pokok-pokok keterangan ahli.

Adapun keterangan ahli yangg diajukan oleh Penuntut Umum adalah:

1. Ahli Dr. Mega Ayu S.H., LLM. , Lahir di Surabaya 17 September


1970, Umur 44 Tahun, Agama Kristen, WNI, Pekerjaan Pegawai Negeri,
tempat tinggal Jalan Teungku Umar No.58 Aceh Jaya dibawah janji

10
diambil menurut agama dan kepercayaannya sebagai ahli,
menerangkan sebagai berikut :

Menerangkan :

Bahwa ahli menjelaskan jenis zona laut di Indonesia menurut


UNCLOS dan pasal 3 ayat 1 UU No. 6 Tahun 1996 meliputi : Laut
teritorial Indonesia ; Perairan Kepulauan dan Perairan Pedalaman.

Bahwa ahli menjelaskan Indonesia juga mempunyai hak-hak


berdaulat atau kedaulatan terbatas, yaitu : perairan zona tambahan;
perairan di atas landas kontinen; dan perairan zona ekonomi eksklusif.

Bahwa ahli menerangkan Dalam UU perikanan (UU no 31 tahun 2004


sebagai mana diubah dengan uu no 45 tahun 2009) pasal 5, Perairan
Indonesia dan ZEEi yang merupakan zona pengelolaan dan
penangkapan ikan adalah perairan Indonesia; sungai, danau, waduk,
rawa dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia;
dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

Bahwa ahli menjelaskan di wilayah perikanan tersebut dapat


dilakukan Usaha perikanan yang mana hanya boleh dilakukan oleh
perorangan Warga Negara Republik Indonesia atau badan hukum
Indonesia termasuk koperasi, namun khusus di bidang penangkapan
ikan, ketentuan tersebut bisa disimpangi sepanjang penyimpangan
tersebut karena menyangkut kewajiban Negara Republik Indonesia
berdasarkan ketentuan persetujuan internasional atau hukum
internasional yang berlaku.

Bahwa ahli menerangkan berdasarkan kordinat 95 22 304-04 25


219 tersebut bila digambarkan dalam denah, berarti letak kapal
berada di dalam wilayah/zona territorial Indonesia.

Bahwa ahli menjelaskan tidak ada kerjasama internasional dalam


pengelolahan perikanan di zona teritorial, karena dalam zona
territorial yang berhak penuh dalam kegiatan perikanan adalah WNI
atau nelayan Indonesia.

Bahwa ahli menjelaskan pada Tahun 2003 menurut catatan tentang


agreement International antara Thailand dan Indonesia perjanjian
kegiatan perikanan hanya diatur di zona ZEEI.

11
Bahwa ahli menjelaskan apabila kapal negara asing memasuki
wilayah perairan teritorial maka kapal tersebut telah melanggar
kedaulatan Indonesia, dan nahkoda serta awak kapal dapat dikenakan
sanksi pidana sebagaimana dalam UU 45 tahun 2009 tentang
Perikanan.

Bahwa ahli menerangkan pukat Trawl telah dilarang penggunaannya,


untuk kepemilikannya tentu tidak dilarang karena belum diatur dalam
uu perikanan.

Bahwa Ahli menjelaskan dalam hukum laut zona ZEEi termasuk


kedalam area hak berdaulat Indonesia, sehingga yang berhak
melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di dalamnya
adalah WNI, jadi harus dilihat terlebih dahulu apabila kapal tersebut
berbendera Asing dan bukan untuk kepentingan WNI maka, meskipun
tidak melakukan perbuatan pidana, kapal tersebut tetap telah
melakukan pelanggaran, dan nahkodanya bisa dikenakan sanksi tegas
baik itu pidana maupun administratif. Apabila kapal tsb berbendera
asing namun untuk kepentingan WNI atau kapal berbendera
Indonesia, masuk zona zeei dan tidak melakukan illegal fishing ya
jelas nahkodanya tidak dipidana.

Tanggapan Terdakwa :
Atas keterangan ahli, Terdakwa Tuyen Tong mengatakan tidak ingin
memberikan pendapat

2. .............................. (ahli)

Adapun keterangan ahli yang diajukan oleh Penasehat Hukum Terdakwa adalah:

1. Ahli Prof. Dr. Samuel Nainggolan, S.H., L.Lm, Ph.D (Staff Ahli
Badan Lingkungan Hidup) Lahir di Semarang, 15 Oktober 1966, umur
45 tahun, agama Katolik. jenis kelamin laki-laki, pekerjaan PNS,
kebangsaan Indonesia, beralamat di Jalan Teuku Umar no. 20 Banda
Acehmmmmm, dibawah sumpah yang diambil menurut agama dan
kepercayaannya sebagai ahli, menerangkan sebagai berikut :

Bahwa Ahli berada dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan
bersedia untuk memberikan keterangan;

12
Bahwa kejiwaan, penglihatan maupun pendengaran Ahli saat
dilakukan pemeriksaan ini dalam keadaan sehat;

Bahwa Ahli tidak mengenal para terdakwa dan tidak ada hubungan
keluarga dengan para terdakwa;

Bahwa Ahli dihadirkan dalam persidangan ini oleh penasehat hukum


untuk memberikan keterangan berkenaan dugaan tindak pidana
perikanan yang dilakukan oleh terdakwa Tuyen Tong;

Tanggapan Terdakwa :
Atas keterangan Ahli, Terdakwa Tuyen Tong, S.T. mengatakan tidak
memberikan tanggapan.

KETERANGAN TERDAKWA

Bahwa dalam keterangannya di muka persidangan Terdakwa Tuyen Tong


menerangkan hal hal yang pada pokoknya sebagai berikut :

Bahwa terdakwa mengatakan mendapat paksaan dari Andrew Lee


selaku CEO Fresh Fish Pte.Ltd.
Bahwa terdakwa mengatakan tidak pernah menggunakan phukat trawl
di wilayah perairan Indonesia.

Bahwa terdakwa mengatakan tidak mengetahui tentang tumpahan


solar.
Bahwa terdakwa menjelaskan tidak dapat keluar dari perusahaan
dikarenakan telah terikat kontrak.

Bahwa dimuka persidangan telah diperlihatkan barang bukti yang baik diajukan
oleh Penuntut Umum maupun bukti bukti yang dibawa saksi saksi juga telah
diperlihatkan di muka persidangan yaitu :

1. 1 (satu ) KM. Sudket Pong 212 GT 80


2. 1 (satu ) bundel dokumen KM. Sudket Pong 212 GT 80
3. 1 (satu ) unit ICOM ( lC- 2200 H)
4. Uang sebesar Rp.500 .000.000 , - (lima ratus juta rupiah), hasil lelang
barang bukti ikan jenis campuran sebanyak lebih kurang 5 (lima) ton
5. Dirampas untuk Negara ;
6. 1 (satu) unit lengkap phukat trawl

13
7. 1 (satu) bendel dokumen print out koordinat penangkapan kapal
8. 1 (satu) bendel dokumen hasil Uji Laboratorium Pencemaran No.Lab :
123/FKF/2011/Puslab Pencemaran air laut yang diakibatkan tercampur
dengan oli dan solar.
9. 1 (satu) bendel dokumen hasil Uji Laboratorium Persebaran ikan No.Lab :
13/FKF/2011/Puslab Persebaran ikan di wilayah aceh jaya.
10. 1 (satu) bendel dokumen Riset cuaca daerah Aceh Jaya dari BMKG.

Sedangkan kami, Penasehat Hukum Terdakwa mengajukan barang bukti maupun


yang diperlihatkan oleh saksi di muka persidangan sebagai berikut :
1. 1 (Satu) Lampiran Surat Permohonan Perbaikan Navigasi Kapal Motor
(KM) Sudket Pong 212 GT 80 kepada Staff Pemeliharaan Fresh Fish Pte.
Ltd.
2. 1 (Satu) Keping DVD rekaman Histori Perjalanan Kapal Motor (KM)
Sudket Pong 212 GT 80
b. Fakta Fakta yang muncul dimuka Persidangan dalam Perkara Pidana
atas nama Terdakwa Tuyen Tong.

Majelis Hakim yang Mulia,


Penuntut Umum yang kami hormati,
Sidang pengadilan yang kami muliakan,

Setelah kami memaparkan fakta fakta yang muncul dalam persidangan,


maka kini kami akan memberikan komentar kami terhadap jalannya
persidangan, khususnya mengenai pembuktian dalam persidangan ini.

UNSUR MATERIIL PADA PASAL 85 UNDANG UNDANG NO. 45 TAHUN


2009 TENTANG PERIKANAN

Bahwa melihat pada unsur-unsur yang muncul pada Pasal 85 RI No. 45 Tahun
2009 tentang Perikanan terlihat bahwa terdapat unsur kesengajaan di dalamnya dan
juga terdapat kata Menggunakannya, berdasarkan fakta-fakta yang muncul dalam
persidangan dapat di katakan bahwa Terdakwa selama memasuki wilayah Indonesia
hanya memasuki tanpa menggunakan phukat tersebut sama sekali, hal tersebut juga di
perkuat melalui kesaksian Mamiq Banun selaku ABK dari KM Rencong 212 GT 80
dan juga hasil uji lab yang di keluarkan oleh staff ahli Badan Lingkungan Hidup yaitu
Prof. Dr. Samuel Iliyas S.H.,M.H. yang mengemukakan tidak ditemukan tanda-tanda
pengerusakan dan pengerukan dari phukat yang di miliki terdakwa, yakni dengan lebar
20 m2. sehingga jika di korelasikan maka dari kedua kesaksian tersebut munculah
kesimpulan bahwa terdakwa tidak menggunakan phukat tersebut sama sekali di
wilayah Indonesia sama sekali.

14
Atas hal tersebut Penuntut Umum salah dalam mencermati Pasal yang di
dakwakan, sehingga dapat dikatakan bahwa Terdakwa tidak memenuhi unsur Pasal 85
tersebut. Adapun selama jalannya persidangan Penuntut Umum bersikuikuh bahwa
kapal yang di kendarai terdakwa menangkap ikan di perairan Indonesia adalah tidak
tepat, dan tidak memiliki cukup bukti untuk mendakwakan hal tersebut.

III. ANALISA YURIDIS

Majelis Hakim yang Mulia,


Penuntut Umum yang kami hormati,
Sidang pengadilan yang kami muliakan,

Tentunya kita semua sependapat bahwa dalam perkara pidana yang dicari
adalah kebenaran materiil dan bukan kebenaran formil semata. Didalam memutus
perkara pidana harus dihindarkan jalan pikiran dan penelahaan Formalistic Legal
Thinking sehingga majelis hakim dalam memberikan putusan harus dan wajib
mengikuti penalaran yang tidak hanya terdapat dalam persidangan, agar terhindar
dalam persidangan yang sesat.

Mencari kebenaran materiil dalam hukum pidana juga tercermin dalam


yurisprudensi Indonesia, yaitu putusan Mahkamah Agung tanggal 27 Mei 1972 no.
72 K/KR/1970, yang kaidah hukumnya berbunyi :

Hakim secara materi harus memperhatikan juga adanya kemungkinan keadaan


dari tertuduh atas mana mereka tidak dapat dihukum.

Bahwa walaupun Penuntut Umum berpendapat telah berhasil menguraikan


dengan sedemikian rupa dalam usahanya membuktikan bahwa para Terdakwa telah
terbukti melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang telah didakwakan, namun
kami berpendapat bahwa rumusan delik tersebut tidak dapat dijadikan dasar
penuntutan maupun dasar penjatuhan pidana bagi para Terdakwa.

Kami Penasehat Hukum para Terdakwa mempunyai pendapat yang berbeda,


yang akan kami uraikan. Uraian ini Kami sesuaikan dengan Surat Tuntutan
(Requisitoir) yang dibuat oleh Penuntut Umum.

Dikarenakan perkara ini berkaitan dengan Pencurian ikan menggunakan alat


yang di larang atau dapat merusak lingkungan hidup bawah laut, kami Penasihat
Hukum para Terdakwa akan menjelaskan mengenai pertanggungjawaban terhadap
pengerusakan tersebut terlebih dahulu.

PERTANGGUNGJAWABAN TERKAIT KERUSAKAN LINGKUNGAN

Suatu lingkungan laut dapat dikatakan mengalami kerusakan jika terjadinya


penurunan potensi sumber daya ikan yang dapat membahayakan kelestarian di

15
lokasi perairan tertentu yang diakibatkan oleh perbuatan seseorang dan/atau badan
hukum yang telah menimbulkan gangguan sedemikian rupa terhadap keseimbangan
biologis atau daur hidup sumber daya ikan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam
Penjelasan Pasal 12 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah dilengkapi
dan ditambahkan dengan UU No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan. Berdasarkan
hal tersebut, terdakwa tidak terbukti telah merusak lingkungan laut. Berdasarkan
fakta fakta yang terungkap di dalam persidangan, dakwaan dan tuntutan yang
diajukan Penuntut Umum adalah tidak tepat adanya. Sebagaimana yang diketahui
bahwa terdakwa menggunakan pukat trawl untuk menangkap ikan di sekitar muara.
Di daerah muara tidak terdapat terumbu karang ataupun habitat sumber daya ikan
lainnya. Sehingga penggunaan pukat trawl di daerah muara tidak menimbulkan
kerusakan lingkungan.

PEMIDANAAN DI ZONA EKONOMI EKSLUSIF

Bahwa berdasarkan fakta yang muncul di dalam persidangan, Terdakwa dapat


membuktikan bahwa kapal KM Rencong 212 berada di wilayah Zona Ekonomi
Ekslusif berdasarkan VMS berupa history perjalanan kapal. Maka berdasarkan bukti
tersebut berdasarkan Pasal 102 UU Perikanan. Seluruh ketentuan pidana penjara
tidak berlaku apabila perbuatan tersebut di lakukan di dalam zona ekonomi ekslusif
sebagaimana di jelaskan di dalam pasal 12 huruf b UU Perikanan.

Dalam hal ini Tuntutan dan pemidanaan yang diajukan oleh Penuntut Umum
tidaklah pantas dilaksanakan secara semena mena melainkan harus
didasarkan kepada tujuan pemidanaan, baik yang bersifat preventif dan
tindakan represif serta harus didasarkan pada impact yang diderita oleh
korban.

Geen Straf Zonder Schuld, Actus Non Facit Reum Nisi Mens Sir Rea. Bahwa
tidak dipidana jika tidak ada kesalahan

Untuk itu berdasarkan fakta fakta yang terungkap di dalam persidangan,


dakwaan dan tuntutan yang diajukan Penuntut Umum adalah tidak tepat
adanya.Dengan ini kami hendak menguraikan pembahasan yuridis terhadap unsur-
unsur dari Requisitoir atau Surat Tuntutan saudara Penuntut Umum yang telah
dibacakan pada tanggal 24 Oktober 2016. Namun sebelumnya, Kami akan mengutip
kembali dakwaan Penuntut Umum.

Dakwaan Kesatu

Perbuatan Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
Pasal 84 ayat (2) Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dan

16
ditambahkan dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan jo. Pasal 55
ayat (1) ke-1 KUHP.

Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah
kapal yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia
melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis,
bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan
dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.

DAN Dakwaan Kedua

Perbuatan Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
Pasal 85 UU No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU
No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik


Indonesia memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan
ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang berada di kapal penangkap ikan
yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan, alat penangkapan ikan yang tidak
sesuai dengan persyaratan, atau standar yang ditetapkan untuk tipe alat tertentu
dan/atau alat penangkapan ikan yang dilarang.

DAN Dakwaan Ketiga

Perbuatan Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
Pasal 93 ayat ( 2) UU No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan
dengan UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan


berbendera asing melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan
Republik Indonesia, yang tidak memiliki SIPI.

UNSUR DAKWAAN KESATU

1. Unsur dengan sengaja


Bahwa kesengajaan adalah merupakan bagian dari kesalahan (schuld).
Kesengajaan pelaku mempunyai hubungan kejiwaan yang lebih erat
terhadap suatu tindakan (terlarang/ keharusan) dibanding dengan culpa.

17
Karenanya ancaman pidana pada suatu delik jauh lebih berat, apabila
dengan kealpaan.

Terminologi dengan sengaja (opzet) dalam ilmu hukum adalah kehendak


untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan-tindakan seperti yang
dilarang atau diharuskan dalam undang-undang (Van Hattum, dalam P.A.F.
Lamintang. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, hal
280)

Bahwa dalam teori tentang kesengajaan terdapat dua aliran, yaitu :

a. Teori kehendak (wilstheorie) ialah kehendak yang yang diarahkan pada


terwujudnya perbuatan. Teori ini didukung oleh von Hippel guru besar di
Gottingen, Jerman. Di negeri Belanda antara lain dianut oleh Simons.

b. Teori pengetahuan (voorstellingstheore) adalah apabila si pelaku pada


waktu mulai melakukan perbuatan, ada bayangan yang terang bahwa
akibat yang bersangkutan tercapai, maka dari itu ia menyesuaikan
perbuatannya dengan akibat itu., teori ini diajarkan oleh Frank, guru besar
di Tubingen, Jerman, dan mendapat sokongan kuat dari von listiz. Di
negeri Belanda penganutnya antara lain adalah von Hamel

Bahwa dalam doktrin Hukum Pidana itu sendiri ada tiga bentuk kesengajaan
yaitu:

A. Kesengajaan sebagai maksud, Si pelaku melakukan perbuatan sebagai


tujuan awalnya. Si pelaku menghendaki akibat perbuatannya.

B. Kesengajaan sebagai kepastian Pelaku sudah menginsyafi bahwa untuk


mencapai tujuan semula/tujuan utama, akan ada perbuatan atau akibat lain
yang akan terjadi dan pasti terjadi.

C. Kesengajaan sebagai kemungkinan Pelaku sudah menginsyafi bahwa


untuk mencapai tujuan semula/tujuan utama, maka mungkin akan timbul
perbuatan atau akibat lain yang akan terjadi.

Bahwa menurut memori penjelasan KUHP (memorie van Toelichting), yang


dimaksudkan dengan kesengajaan adalah menghendaki dan menginsyafi

18
terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya, (willens en wetens veroorzaken
vaneen gevolg). Artinya, seseorang yang melakukan suatu tindakan dengan
sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan/atau
akibatnya.

Dalam fakta fakta dipersidangan diketahui bahwa Terdakwa dalam


melakukan penangkapan ikan berada di ZEEI terpatnya di daerah sekitar
muara. Sehingga menuturut keterangan dari saksi ahli perikanan, terdakwa
tidaklah mungkin melakukan tindak pidana pencurian ikan. Adapun dalam
melaksanakan perbuatannya Terdakwa beserta ABK berada di bawah
paskaan dari Andrew Lee selaku CEO dari Fresh Fish Pte.Ltd. atas hal
tersebut dapat di katakan bahwa terdapat alasan pemaaf seperti yang di
jelaskan dalam Pasal 51 KUHP Patria Petroleum, terdakwa II Ir. Andreas
Nathaniel Marbun, S.T. Sehingga jelas bahwa niatan awal para terdakwa
tidak sedikitpun terbesit untuk sengaja mengambil ikan seperti yang
didakwakan Penuntut Umum dalam surat dakwaan. Sehingga unsur
dengan sengaja dalam perkara ini harus dinyatakan TIDAK
TERBUKTI.

2. Unsur penggunaan bahan yang dapat merugikan kelestarian


lingkungan

Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang muncul di persidangan Penggunaan


bahan peledak, dan Penggunaan phukat trawl tidak lah terbukti. hal tersebut
juga di perkuat oleh kesaksian yang hadi di dalam persidangan.

Unsur Dakwaan Kedua

1. Unsur Setiap Orang

Yang dimaksud perseorangan adalah orang per-orang yang terlibat di dalam


tindak pidana perikanan.

Bahwa dalam surat tuntutan, Penuntut Umum menguraikan unsur setiap


orang hanya mengenai tanggung jawab perseorangan. Yang dimaksud
dengan setiap orang di sini berdasarkan Pasal 85 UU 45 Tahun 2009
adalah perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum maupun
yang tidak berbadan hukum. Orang perorangan dalam hal untuk
menunjukkan tentang subyek hukum yang mampu melakukan perbuatan

19
hukum dan kepadanya dapat dipertanggung jawabkan secara hukum
terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan dan pada dirinya tidak
terdapat alasan pemaaf maupun pembenar yang dapat meniadakan kesalahan
( yang didakwakan kepadanya ). Unsur ini menurut doktrin dan
yurisprudensi mengandung pengertian, siapa saja/barang siapa sebagai
pendukung hak dan kewajiban yang sehat akal pikirannya, mampu
melakukan tindakan-tindakan hukum, sehingga kepadanya dianggap mampu
untuk dimintai pertanggung jawaban pidana atas perbuatan yang telah
dilakukannya.Namun demikian untuk menghindari kesalahan tentang orang
(error in persona) maka penerapan pengertian tersebut dalam kerangka
pembuktian unsur setiap orang haruslah dihubungkan dengan siapa yang
dimaksud sebagai pelaku dari perbuatan sebagaimana yang didakwakan.

Bahwa DARWAN PRINST, dalam bukunya Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2002, halaman 17, mengemukakan
bahwa pengertian setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi,
orang perseorangan berarti orang secara individu atau dalam bahasa KUHP
dirumuskan dengan kata Barang Siapa, sedangkan korporasi dapat
berbentuk badan hukum atau tidak. Bahwa untuk memenuhi pembuktian
pengertian unsur ini, maka perlu pula dibuktikan apakah Terdakwa dapat
dipertanggungjawabkan dalam suatu tindak pidana atau tidak. Bahwa benar
apa yang dimaksud dengan dapat dipertanggung jawabkan perbuatan pidana;
erat sekali dengan kaitannya dengan pendapat Jan Remmelink dalam buku
berjudul Hukum Pidana Tentang Komentar atas Pasal Pasal Terpenting
Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanya Dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia halaman 213. Jam
Remmelink berpendapat dalam bukunya tersebut juga mempertanyakan
mengenai istilah dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum
pidana (woerekeningsvatbaarheid). Jan Remmelink berpendapat dengan
mengacu pada pendapat Guru Besar di Universitas Amsterdam yakni Prof.
Van Hammel dalam bukunya yang berjudul Inleiding tot de studie van het
Nederlandse strafrecht tahun 1889, yang mana kemampuan bertanggung
jawab (secara hukum) adalah suatu kondisi kematangan dan kenormalan
psikis yang mencakup tiga kemampuan lainnya yaitu (1) memahami tujuan
factual dari tindakan diri sendiri (2) kesadaran bahwa tindakan tersebut
secara social dilarang, (3) adanya kehendak bebas berkenaan dengan
tindakan tersebut; dimana pendapat yang ketiga ini apabila dihubungkan
dengan memori penjelasan KUHP; berkaitan erat dengan tidak adanya
pertanggungjawaban pidana kecuali bila tindak pidana tersebut dapat

20
diperhitungkan pada pelaku, dan tidak ada perhitungan demikian bila tidak
diketemukan adanya kebebasan pelaku untuk bertindak, kebebasan memilih
untuk melakukan atau tidak melakukan yang dilarang atau justru diwajibkan
oleh Undang-Undang.

Mengingat pula bahwa unsur setiap orang hanya merupakan element delict
dan bukanlah bestandeel delict (delik inti) yang harus dibuktikan.Menurut
hemat kami, unsur setiap orang harus dihubungkan dengan perbuatan
selanjutnya apakah perbuatan tersebut memenuhi unsur pidana atau
tidak.Jika unsur unsur lainnya terpenuhi, barulah unsur barang siapa dapat
dinyatakan terpenuhi atau terbukti.

Secara hukum selaku subyek hukum memang benar para Terdakwa cakap
untuk melakukan tindakan hukum dan kepadanya dapat dimintai
pertanggungjawaban secara hukum terhadap perbuatan perbuatan yang
dilakukan olehnya.Namun, kecakapan dan kemampuan para Terdakwa untuk
mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum tersebut tidaklah
cukup untuk menjadikan para Terdakwa memenuhi unsur pasal yang
didakwakan oleh Penuntut Umum.Oleh karenanya menurut kami perlulah
kajian lebih lanjut daripada sekedar kecakapan dan kemampuan para
Terdakwa untuk bertanggungjawab secara hukum. Mengenai
pertanggungjawaban pidana ini apabila didasarkan kepada memori
penjelasan KUHP/ Memorie van Toelichting ( MvT ) yang pada intinya
pertanggungjawaban pidana dapat dikenakan karena ...adanya kebebasan
pelaku untuk bertindak, kebebasan memilih untuk melakukan atau tidak
melakukan apa yang dilarang atau justru diwajibkan oleh Undang-Undang.
Dalam hukum administrasi hal tersebut dikenal dengan diskresi atau
wewenang diskresi yang menurut Prof. Philipus M. Hadjon dalam bukunya
Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cet. XI, 2005, Hal.128, bahwa
dalam hal pembuatan keputusan-keputusan penguasa memiliki kebebasan
untuk bertindak.

Bahwa sesuai fakta persidangan yang didasarkan atas pemeriksaan identitas


para Terdakwa oleh Hakim yang memimpin persidangan ini, terungkap
bahwa identitas para Terdakwa yang dihadapkan ke depan persidangan
perkara ini adalah sesuai dengan identitas para Terdakwa sebagaimana
dimaksud dalam surat dakwaan perkara ini, yang dalam hal ini di depan
persidangan para Terdakwa membenarkan identitasnya sebagaimana
diuraikan dalam surat dakwaan sehingga terdapat cukup alasan hukum yang
membuktikan bahwa para Terdakwa yang dihadapkan ke depan persidangan

21
perkara ini adalah benar yang sebagaimana dimaksud dalam surat dakwaan
perkara ini.

2. Unsur dengan sengaja


Bahwa kesengajaan adalah merupakan bagian dari kesalahan (schuld).
Kesengajaan pelaku mempunyai hubungan kejiwaan yang lebih erat
terhadap suatu tindakan (terlarang/ keharusan) dibanding dengan culpa.
Karenanya ancaman pidana pada suatu delik jauh lebih berat, apabila
dengan kealpaan.

Terminologi dengan sengaja (opzet) dalam ilmu hukum adalah kehendak


untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan-tindakan seperti yang
dilarang atau diharuskan dalam undang-undang (Van Hattum, dalam P.A.F.
Lamintang. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, hal
280)

Bahwa dalam teori tentang kesengajaan terdapat dua aliran, yaitu :

a. Teori kehendak (wilstheorie) ialah kehendak yang yang diarahkan pada


terwujudnya perbuatan. Teori ini didukung oleh von Hippel guru besar di
Gottingen, Jerman. Di negeri Belanda antara lain dianut oleh Simons.
b. Teori pengetahuan (voorstellingstheore) adalah apabila si pelaku pada
waktu mulai melakukan perbuatan, ada bayangan yang terang bahwa
akibat yang bersangkutan tercapai, maka dari itu ia menyesuaikan
perbuatannya dengan akibat itu., teori ini diajarkan oleh Frank, guru besar
di Tubingen, Jerman, dan mendapat sokongan kuat dari von listiz. Di
negeri Belanda penganutnya antara lain adalah von Hamel

Bahwa dalam doktrin Hukum Pidana itu sendiri ada tiga bentuk kesengajaan
yaitu:

a. Kesengajaan sebagai maksud, Si pelaku melakukan perbuatan


sebagai tujuan awalnya. Si pelaku menghendaki akibat
perbuatannya.
b. Kesengajaan sebagai kepastian Pelaku sudah menginsyafi bahwa
untuk mencapai tujuan semula/tujuan utama, akan ada perbuatan
atau akibat lain yang akan terjadi dan pasti terjadi.

22
c. Kesengajaan sebagai kemungkinan Pelaku sudah menginsyafi
bahwa untuk mencapai tujuan semula/tujuan utama, maka
mungkin akan timbul perbuatan atau akibat lain yang akan terjadi.

Bahwa menurut memori penjelasan KUHP (memorie van Toelichting), yang


dimaksudkan dengan kesengajaan adalah menghendaki dan menginsyafi
terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya, (willens en wetens veroorzaken
vaneen gevolg). Artinya, seseorang yang melakukan suatu tindakan dengan
sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan/atau
akibatnya.

Dalam fakta fakta dipersidangan diketahui bahwa Terdakwa dalam


melakukan penangkapan ikan berada di ZEEI terpatnya di daerah sekitar
muara. Sehingga menuturut keterangan dari saksi ahli perikanan, terdakwa
tidaklah mungkin melakukan tindak pidana pencurian ikan. Adapun dalam
melaksanakan perbuatannya Terdakwa beserta ABK berada di bawah
paskaan dari Andrew Lee selaku CEO dari Fresh Fish Pte.Ltd. atas hal
tersebut dapat di katakan bahwa terdapat alasan pemaaf seperti yang di
jelaskan dalam Pasal 51 KUHP Patria Petroleum, terdakwa II Ir. Andreas
Nathaniel Marbun, S.T. Sehingga jelas bahwa niatan awal para terdakwa
tidak sedikitpun terbesit untuk sengaja mengambil ikan seperti yang
didakwakan Penuntut Umum dalam surat dakwaan. Sehingga unsur
dengan sengaja dalam perkara ini harus dinyatakan TIDAK
TERBUKTI.

UNSUR DAKWAAN KETIGA

1. Unsur setiap orang

Yang dimaksud perseorangan adalah orang per-orang yang terlibat di dalam


tindak pidana perikanan.

Bahwa dalam surat tuntutan, Penuntut Umum menguraikan unsur setiap


orang hanya mengenai tanggung jawab perseorangan. Yang dimaksud
dengan setiap orang di sini berdasarkan Pasal 85 UU 45 Tahun 2009
adalah perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum maupun
yang tidak berbadan hukum. Orang perorangan dalam hal untuk
menunjukkan tentang subyek hukum yang mampu melakukan perbuatan
hukum dan kepadanya dapat dipertanggung jawabkan secara hukum

23
terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan dan pada dirinya tidak
terdapat alasan pemaaf maupun pembenar yang dapat meniadakan kesalahan
( yang didakwakan kepadanya ). Unsur ini menurut doktrin dan
yurisprudensi mengandung pengertian, siapa saja/barang siapa sebagai
pendukung hak dan kewajiban yang sehat akal pikirannya, mampu
melakukan tindakan-tindakan hukum, sehingga kepadanya dianggap mampu
untuk dimintai pertanggung jawaban pidana atas perbuatan yang telah
dilakukannya.Namun demikian untuk menghindari kesalahan tentang orang
(error in persona) maka penerapan pengertian tersebut dalam kerangka
pembuktian unsur setiap orang haruslah dihubungkan dengan siapa yang
dimaksud sebagai pelaku dari perbuatan sebagaimana yang didakwakan.

Bahwa DARWAN PRINST, dalam bukunya Pemberantasan Tindak Pidana


Korupsi, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2002, halaman 17, mengemukakan
bahwa pengertian setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi,
orang perseorangan berarti orang secara individu atau dalam bahasa KUHP
dirumuskan dengan kata Barang Siapa, sedangkan korporasi dapat
berbentuk badan hukum atau tidak. Bahwa untuk memenuhi pembuktian
pengertian unsur ini, maka perlu pula dibuktikan apakah Terdakwa dapat
dipertanggungjawabkan dalam suatu tindak pidana atau tidak. Bahwa benar
apa yang dimaksud dengan dapat dipertanggung jawabkan perbuatan pidana;
erat sekali dengan kaitannya dengan pendapat Jan Remmelink dalam buku
berjudul Hukum Pidana Tentang Komentar atas Pasal Pasal Terpenting
Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanya Dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia halaman 213. Jam
Remmelink berpendapat dalam bukunya tersebut juga mempertanyakan
mengenai istilah dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum
pidana (woerekeningsvatbaarheid). Jan Remmelink berpendapat dengan
mengacu pada pendapat Guru Besar di Universitas Amsterdam yakni Prof.
Van Hammel dalam bukunya yang berjudul Inleiding tot de studie van het
Nederlandse strafrecht tahun 1889, yang mana kemampuan bertanggung
jawab (secara hukum) adalah suatu kondisi kematangan dan kenormalan
psikis yang mencakup tiga kemampuan lainnya yaitu (1) memahami tujuan
factual dari tindakan diri sendiri (2) kesadaran bahwa tindakan tersebut
secara social dilarang, (3) adanya kehendak bebas berkenaan dengan
tindakan tersebut; dimana pendapat yang ketiga ini apabila dihubungkan
dengan memori penjelasan KUHP; berkaitan erat dengan tidak adanya
pertanggungjawaban pidana kecuali bila tindak pidana tersebut dapat
diperhitungkan pada pelaku, dan tidak ada perhitungan demikian bila tidak

24
diketemukan adanya kebebasan pelaku untuk bertindak, kebebasan memilih
untuk melakukan atau tidak melakukan yang dilarang atau justru diwajibkan
oleh Undang-Undang.

Mengingat pula bahwa unsur setiap orang hanya merupakan element delict
dan bukanlah bestandeel delict (delik inti) yang harus dibuktikan.Menurut
hemat kami, unsur setiap orang harus dihubungkan dengan perbuatan
selanjutnya apakah perbuatan tersebut memenuhi unsur pidana atau
tidak.Jika unsur unsur lainnya terpenuhi, barulah unsur barang siapa dapat
dinyatakan terpenuhi atau terbukti.

Secara hukum selaku subyek hukum memang benar para Terdakwa cakap
untuk melakukan tindakan hukum dan kepadanya dapat dimintai
pertanggungjawaban secara hukum terhadap perbuatan perbuatan yang
dilakukan olehnya.Namun, kecakapan dan kemampuan para Terdakwa untuk
mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum tersebut tidaklah
cukup untuk menjadikan para Terdakwa memenuhi unsur pasal yang
didakwakan oleh Penuntut Umum.Oleh karenanya menurut kami perlulah
kajian lebih lanjut daripada sekedar kecakapan dan kemampuan para
Terdakwa untuk bertanggungjawab secara hukum. Mengenai
pertanggungjawaban pidana ini apabila didasarkan kepada memori
penjelasan KUHP/ Memorie van Toelichting ( MvT ) yang pada intinya
pertanggungjawaban pidana dapat dikenakan karena ...adanya kebebasan
pelaku untuk bertindak, kebebasan memilih untuk melakukan atau tidak
melakukan apa yang dilarang atau justru diwajibkan oleh Undang-Undang.
Dalam hukum administrasi hal tersebut dikenal dengan diskresi atau
wewenang diskresi yang menurut Prof. Philipus M. Hadjon dalam bukunya
Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cet. XI, 2005, Hal.128, bahwa
dalam hal pembuatan keputusan-keputusan penguasa memiliki kebebasan
untuk bertindak.

Bahwa sesuai fakta persidangan yang didasarkan atas pemeriksaan identitas


para Terdakwa oleh Hakim yang memimpin persidangan ini, terungkap
bahwa identitas para Terdakwa yang dihadapkan ke depan persidangan
perkara ini adalah sesuai dengan identitas para Terdakwa sebagaimana
dimaksud dalam surat dakwaan perkara ini, yang dalam hal ini di depan
persidangan para Terdakwa membenarkan identitasnya sebagaimana
diuraikan dalam surat dakwaan sehingga terdapat cukup alasan hukum yang
membuktikan bahwa para Terdakwa yang dihadapkan ke depan persidangan

25
perkara ini adalah benar yang sebagaimana dimaksud dalam surat dakwaan
perkara ini.

2. Unsur berbendera asing

Dalam dakwaan ketiga, unsur berbendera asing tidak dijelaskan lebih rinci
mengenai apa yang dimaksud oleh Penuntut Umum. Unsur berbendera
asing menjadi tidak jelas apakah unsur yang dimaksud dilihat dari bendera
apa yang dikibarkan di atas kapal atau dimana kapal itu didaftarkan.

IV. PENUTUP

Majelis Hakim yang Mulia,

Penuntut Umum yang Terhormat,

Hadirin Pengunjung Sidang yang Kami Hormati.

Dari fakta-fakta yang terunggkap dalam persidangan mengenai perbuatan materiil


yang terbukti dilakukan oleh Terdakwa, bila kami hubungkan dengan keterangan para
saksi dan barang bukti, maka kami Penasehat Hukum tidak sependapat dengan
Penuntut Umum yang menyatakan Terdakwa telah terbukti melakukan perbutan
pidana sebagaimana Dakwaan Primair melanggar Pasal 84 ayat (2) jo Pasal 85 jo
Pasal 93 ayat (2) Undang Undang Perikanan jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Kami Penasehat Hukum Terdakwa berkesimpulan

Bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa , Sebagaimana yang diuraikan


oleh Penuntut Umum, adalah tidak benar . Dikarenakan sejak awal terdakwa dipaksa
untuk melakukan penangkapan ikan di ZEEI. hal tersebut di kuatkan oleh keterangan
saksi ABK dan History Perjalanan Kapal. maka terkait hal tersebut menyebabkan
tidak ada keterkaitan hukum yang menyebabkan Terdakwa diharuskan bertanggung
jawab dan dihadirkan di sini.

Permohonan kami Penasehat Hukum Terdakwa juga tidak terlepas dari pertimbangan-
pertimbangan bahwa:
1. Terdakwa masih memiliki tanggungan keluarga, dimana anak - anak terdakwa
masih sangat muda sehingga masih membutuhkan bimbingan ayahnya;
2. Terdakwa mengakui perbuatannya;
3. Terdapat alasan pemaaf;

26
4. Para Terdakwa beritikad baik dan membantu kelancaran segala proses
pemeriksaan perkara ini;
5. Para Terdakwa bersikap sopan selama pemeriksaan di persidangan;
6. Mengingat azas In Dubio Pro Reo, maka terdapat beberapa alasan yang cukup
untuk meragukan adanya kesalahan Terdakwa;
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan dan Ridhonya kepada kita sekalian.
Amin.

Berdasarkan uraian-uraian yang telah kami kemukakan di atas, maka kami selaku
Penasehat Hukum dari para Terdakwa, dengan segala kerendahan hati demi untuk
tegaknya keadilan dan kebenaran dan memperhatikan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku serta untuk penegakan hukum di masa yang akan datang, memohon
kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Calang, untuk memutus:

1. Menyatakan bahwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan


bersalah melakukan Tindak Pidana Perikanan seperti yang telah
didakwakan dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum;

2. Menyatakan para Terdakwa bebas dari segala tuntutan hukum;

3. Memulihkan hak para Terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan


hak serta martabatnya;

4. Membebaskan Terdakwa Tuyen Tong dari tahanan;

5. Membebankan biaya perkara kepada Negara.

Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, kami mohon kiranya untuk


memberikan putusan yang seringan-ringannya dan yang seadil-adilnya (ex aequo et
bono).

Kepastian Hukum menuntut persamaan, Keadilan menuntut perbedaan , namun hukum


tidak pernah memberikan ketidak adilan bagi siapapun

Calang, 20 Mei 2011

Hormat Kami

Penasihat Hukum para Terdakwa

P&T INTERNATIONAL

27
Tim Penasehat Hukum Terdakwa

Permadi Nugraha S.H., M.H. Tiarashanny S.H., M.H.

28

Anda mungkin juga menyukai