Anda di halaman 1dari 8

Penginderaan

Fisiologi Pendengaran
March 24, 2012 Medicinesia0 Comments Fisiologi, Koklea, Pendengaran,
Serumen
Share
Tweet
Artikel ini sudah dibaca 109524 kali!

Telinga secara anatomis terbagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah
dan dalam. Telinga luar dan tengah berperan dalam transmisi suara melalui
udara menuju telinga bagian dalam yang terisi cairan. Pada telinga dalam ini,
terjadi amplifikasi energi suara. Di sana juga terdapat dua macam sistem
sensoris yaitu koklea yang mengkonversikan gelombang suara menjadi impuls
saraf dan vestibular apparatus yang berguna untuk keseimbangan. 1

Pendengaran merupakan persepsi saraf terhadap suara yang terdiri dari aspek
identifikasi suara dan lokalisasinya. Suara merupakan sensasi yang dihasilkan
saat getaran longitudinal molekul lingkungan luar yang menghantam membran
timpani. 2 Gelombang suara merupakan getaran udara yang merambat yang
terdiri dari area bertekanan tinggi disebabkan kompresi molekul udara dan area
bertekanan rendah yang disebabkan oleh rarefaction molekul.

Kecepatan suara adalah sekita 344 m/s pada suhu 20C di permukaan air laut.
Semakin tinggi suara dan altitudenya, kecepatan rambat suara makin tinggi. 2

Suara dikarakteristikan berdasarkan tone, intensitas dan kualitas. Pitch atau tone
ditentukan oleh frekuensi getaran. Makin besar frekuensinya, makin tinggi pitch-
nya. Telinga manusia mampu mendengar suara dengan frekuensi dari 20 sampai
20.000 Hz. Namun, yang paling sensitif adalah antara 1000-4000 Hz. Suara pria
dalam percakapan normalnya sekitar 120 Hz sedangkan wanita mencapai 250
Hz. Jumlah pitch yang dapat dibedakan oleh orang normal adalah sekitar 2000,
tetapi musisi yang terlatih dapat lebih dari itu. Suara yang paling mudah
dibedakan nadanya adalah suara dengan frekuensi 1000-3000 Hz. Lebih atau
kurang dari itu akan semakin sulit dibedakan.

Intensitas atau kekerasan tergantung oleh amplitudo gelombang suara atau


perbedaan tekanan antara daerah gelombang bertekanan tinggi akibat kompresi
dan daerah bertekanan rendah akibat rarefaction. Dalam interval suara yang
dapat didengar, makin besar amplitudonya, makin keras suara tersebut
terdengar.

Kekerasan atau kebisingan suara diukur dengan satuan dB (desibel)yang


merupakan pengukuran logaritmis dari intensitas dibandingkan dengan suara
teredup yang bisa didengar (ambang pendengaran). Suara dengan kebisingan
melebihi 100 dB dapat menyebabkan kerusakan permanen pada koklea.

Suara dengan range 120 sampai 160 dB seperti alarm kebakaran maupun
pesawat jet diklasifikasikan sebagai suara yang menyakitkan; 90-110 dB
(subway, bass drum, gergaji mesin) diklasifikasikan sebagai suara yang ekstrem
tinggi; 60-80dB (alarm jam, lalu lintas yang bising, percakapan) diklasifikasikan
sebagai sangat keras; 40-50 dB (hujan, bising ruangan normal) moderate, dan 30
dB (bisikan, perpustakaan) sebagai redup. 2,3

Timbre atau kualitas suara tergantung pada overtone yang merupakan frekuensi
tambahan yang menumpuk pada pitch atau tone dasar. Misalnya adalah nada C
pada terompet akan terdengar berbeda antara piano dengan terompet. Overtone
inilah yang dapat menyembabkan suara dapat memiliki karakteristik yang
berbeda-beda.

Telinga Luar1

Telinga luar terdiri dari pinna (telinga), meatus akustikus eksterna dan membran
timpani (eardrum). Pinna adalah struktur menonjol yang merupakan kartilago
terbalut kulit. Fungsi utamanya adalah mengumpulkan dan menghubungkan
suara menuju meatus akustikus eksterna. Karena bentuknya, pinna secara
parsial membatasi suara yang berasal dari belakang sehingga timbrenya akan
berbeda. Dengan begitu, kita dapat membedakan apakah suaranya berasal dari
depan atau belakang.

Lokalisasi suara yang berasal dari kanan atau kiri ditentukan oleh dua hal.
Pertama adalah gelombang suara mencapai telinga yang lebih dekat terlebih
dahulu sebelum sampai ke telinga yang lebih jauh. Kedua adalah saat mencapai
telinga yang lebih jauh, intensitas suaranya akan lebih kecil dibandingkan telinga
yang lebih dekat. Selanjutnya, korteks auditori mengintegrasikan kedua hal
tersebut untuk menentukan lokalisasi sumber suara. Oleh karena itu, lokalisasi
suara akan lebih sulit dilakukan jika hanya menggunakan satu telinga.
Jalur masuk pada telinga luar dilindungi oleh rambut halus. Kulit yang membatasi
kanal tersebut berisi kelenjar keringat termodifikasi yang menghasilkan serumen
(earwax), yang akan menangkap partikel-partikel asing yang halus.

Membran timpangi (gendang telinga)

Membran timpani berada pada perbatasan telinga luar dan tengah. Area
tekanan tinggi da rendah pada gelombang suara akan menyebabkan membran
timpani bergetar ke dalam dan ke luar.

Supaya membran tersebut dapat secara bebas bergerak kedua arah, tekanan
udara istirahat pada kedua sisi membran timpani harus sama. Membran sebelah
luar terkekspos pada tekanan atmosfer yang melewati meatus akustikus
eksterna sedangkan bagian dalam menghadapi tekanan atmosfer dari tuba
eustachius yang menghubungkan telinga tengah ke faring. Secara normal, tuba
ini tertutup tetapi dapat dibuka dengan gerakan menguap, mengunyah dan
menelan.

Pada perubahan tekanan eksternal yang cukup signifikan seperti saat dalam
pesawat, membran timpani menonjol dan menimbulkan rasa nyeri ketika
tekanan luar telinga berubah sementara bagian dalam tidak berubah.
Pembukaan tuba eustachius dengan menguap dapat membantu untuk
menyamakan tekanan tersebut. 1

Telinga tengah

Telinga tengah mengirimkan pergerakan vibratori dari membran timpani menuju


cairan pada telinga dalam. Ada tiga tulang ossicle yang membantu proses ini
yaitu malleus, incus dan stapes yang meluas dari telinga tengah. Malleus
menempel pada membran timpani sedangkan stapes menempel pada oval
window yang merupakan gerbang menuju koklea yang berisi cairan.

Saat membran timpani bergetar, tulang-tulang tersebut bergerak dengan


frekuensi yang sama , mentransmisikan frekuensi tersebut dari menuju oval
window. Selanjutnya, tiap-tiap getaran menghasilkan pergerakan seperti
gelombang pada cairan di telinga dalam dengan frekuensi yang sama dengan
gelombang suara aslinya.

Sistem osikular mengamplifikasikan tekanan dari gelombang suara pada udara


dengan dua mekanisme untuk menghasilkan getaran cairan pada koklea.
Pertama adalah karena permukaan area dari membran timpani lebih besar dari
oval window, tekanan ditingkatkan ketika gaya yang mempengaruhi membran
timpani disampaikan oleh ossicle ke oval window (tekanan=gaya/area). Kedua
adalah kerja dari ossicle memberikan keuntungan mekanis lainya. Kedua hal
tersebut meningkatkan gaya pada oval window sampai 20 kali. Tambahan
tekanan tersebut penting untuk menghasilkan pergerakan cairan pada koklea.

Beberapa otot tipis di telinga tengah dapat berkontraksi secara refleks terhadap
suara keras (70dB) menyebabkan membran timpani menebal dan menyebabkan
pembatasan gerakan pada rangkaian ossicle. Pengurangan pergerakan pada
struktur telinga tengah akan mengurangi transmisi dari suara yang keras
tersebut ke telinga dalam guna melindungi bagian sensoris dari kerusakan.
Refleks tersebut berlangsung relatif lambat, terjadi setidaknya sekitar 40 msec
sesudah pajanan terhadap suara keras. Oleh karena itu, hanya bisa melindungi
dari suara yang berkepanjangan, bukan suara yang sangat tiba-tiba seperti
ledakan. 1

Koklea

Koklea adalah sebuah struktur yang menyerupai siput yang merupakan bagian
dari telinga dalam yang merupakan sistem tubular bergurung yang berada di
dalam tulang temporalis. Berdasarkan panjangnya, komponen fungsional koklea
dibagi menjadi tiga kompartemen longitudinal yang berisi cairan. Duktus koklear
yang ujungnya tidak terlihat dikenal sebagai skala media, yang merupakan
kompartemen tengah. Bagian yang lebih di atasnya adalah skala vestibuli yang
mengikuti kontur dalam spiral dan skala timpani yang merupakan kompartemen
paling bawah yang mengikuti kontur luar dari spiral.

Cairan di dalam skala timpani dan skala vestibuli disebut perilimfe. Sementara
itu, duktus koklear berisi cairan yang sedikit berbeda yaitu endolimfe. Bagian
ujung dari duktus koklearis di mana cairan dari kompartemen atas dan bawah
bergabung disebut dengan helikotrema. Skala vestibuli terkunci dari telinga
tengah oleh oval window, tempat stapes menempel. Sementara itu, skala
timpani dikunci dari telinga tengah dengan bukaan kecil berselaput yang disebut
round window. Membran vestibular tipis membentuk langit-langit duktus koklear
dan memisahkannya dari skala vestibuli. Membran basilaris membentuk dasar
duktus koklear yang memisahkannya dengan skala timpani. Membran basilar ini
sangat penting karena di dalamnya terdapat organ korti yang merupakan organ
perasa pendengaran. 1

1) Aliran gelombang getaran melewati skala vestibuli dan skala timpani yang
berguna untuk meredam tekanan (bukan persepsi suara). 2)Aliran gelombang
yang berkaitan dengan persepsi suara akan melewati shorcut menembus
membran vestibularis lalu mencapai membran basilaris yang di dalamnya
terdapat organ korti sebagai reseptor stimulus suara.
Sel Korti dan Sel Rambut

Dalam organ korti pada satu koklea terdapat sekitar 15.000 sel rambut yang
menjadi reseptor suara. Sel-sel tersebut tersusun dalam baris paralel empat.
Satu baris berupa sel rambut dalam dan tiga lainnya merupakan sel rambut
dalam. Pada masing-masing sel rambut akan ada penonjolan sekitar 100 rambut
yang dikenal sebagai stereosilia (mikrovili yang diperkuat dengan aktin).

Sel-sel rambut ini merupakan mekanoreseptor yang menghasilkan sinyal neural


ketiga permukaan rambutnya mengalami deformasi secara mekanis berkaitan
dengan pergerakan cairan di telinga dalam. Stereosilia ini berkontak dengan
membran tektorial, struktur mirip tenda yang menjalar pada seluruh panjang
organ korti.

Kerja mirip piston yang dilakukan stapes melawan oval window menghasilkan
gelombang tekanan pada kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat
dikompresi, tekanan dihamburkan dalam dua arah ketika stapes menyebabkan
oval window menggembung ke belakang yaitu dengan pergeseran round window
dan defleksi membran basilar.

Gelombang tekanan tersebut akan menekan perilimfe ke depan pada


kompartemen atas, kemudian ke helikotrema dan ke kompartemen bawah.
Selanjutnya, hal tersebut menyebabkan round window menggembung ke arah
luar (ke arah telinga tengah) untuk mengkompensasi peningkatan tekanan.
Ketika stapes bergerak ke arah belakang dan menarik oval window ke arah
telinga tengah, perilimfe akan bergeser ke arah berlawanan, menggantikan area
yang tadinya diisi window round. Jalur ini tidak menghasilkan persepsi suara,
hanya mengurangi tekanan saja.

Gelombang tekanan yang berkaitan dengan persepsi suara akan menggunakan


shortcut. Gelombang tekanan pada kompartemen atas ditransfer melalui
membran vestibular yang tipis ke duktus koklear dan melalui membran basilar ke
kompartemen bawah. Hal tersebut selanjutnya akan memfasilitasi round window
untuk menggembung ke arah luar dan dalam. Perbedaan utama pada jalur ini
adalah transmisi gelombang tekanan melalui membran basilar menyebabkan
membran tersebut bergerak ke atas dan ke bawah atau bergetar yang sinkron
dengan gelombang tekanan. Akibatnya sel rambut pada organ korti yang ada di
sana juga ikut bergerak.

Sel rambut yang berfungsi untuk mendengar adalah sel rambut dalam. Sel
tersebut mentransformasikan gaya mekanis suara menjadi impuls elektris
pendengaran. Stereosilia pada sel reseptor tersebut berkontak dengan membran
tektorial yang kaku sehingga sel tersebut akan membelok kembali (bolak-balik),
saat membran basilar yang berosilasi menggeser posisinya.

Gerakan bolak-balik tersebut akan menyebabkan pembukaan dan penutupan


kanal kation secara mekanis pada sel rambut menghasilkan depolarisasi atau
hiperpolarisasi sesuai dengan frekuensi suara penstimulus.

Stereosilia pada masing-masing sel rambut tersusun ke dalam baris-baris yang


berurutan sesuai dengan tinggi (seperti tangga). Tip links, yang merupakan
CAMs (cell adhesion molecules), menghubungkan ujung stereosilia dalam barisan
tersebut. Saat membran basilar bergerak ke atas, bundle stereosilia
membengkok ke arah membran yang paling tinggi, meregangkan tip links
tersebut. Peregangan tersebut akan membuka kanal kation.

K+ lebih banyak ditemukan di endolimfe daripada yang ditemukan di dalam sel.


Beberapa kanal kation memang sudah terbuka dalam keadaan istirahat yang
memungkinkan K+ mengalir. Semakin banyak kanal yang terbuka, lebih banyak
K+ yang memasuki sel rambut. Tambahan K+ ini akan mendepolarisasi sel
rambut. Sebaliknya, saat membran basilaris turun, terjadilah hiperpolarisasi
karena makin banyak K+ yang tidak bisa masuk sel.

Sherwood

Sel rambut tidak menghasilkan potensial aksi melainkan akan bersinaps secara
kimia dengan ujung serat saraf afferen nervus koklearis. Kadar K+ yang rendah
menyebabkan sel rambut dalam mengeluarkan secara spontan neurotransmiter
melalui eksositosis yang diinduksi oleh Ca2+ dalam kondisi tidak ada stimulasi.
Depolarisasi akan menyebabkan pembukaan kanal bergerbang listrik Ca2+.
Akibatnya terjadilah peningkatan kecepatan pengeluaran neurotransmitter. Pada
hiperpolarisasi, terjadi hal yang sebaliknya.1 Potensial membran istirahat sel
rambut adalah sekitar -60 mV. Saat stereosilia terdorong ke arah kinosilia,
potensial membran dapat berkurang menjadi -50 mV. 2

Sementara itu, sel rambut luar menjalankan fungsi elektromotili. Sel tersebut
secara aktif dan sering mengubah panjangnya sebagai respon terhadap
perubahan potensial membran. Sel akan memendek saat depolarisasi dan
memanjang saat hiperpolarisasi. Perubahan tersebut akan mengamplifikasi
pergerakan dari membran basilaris. Oleh karena itu, sel rambut luar akan
membantu reseptor sensori supaya lebih sensitif terhadap intensitas suara dan
diskriminasi bermacam pitch suara.

Diskriminasi Pitch, Timbre dan Kebisingan (Loudness) 1

Diskriminasi pitch atau nada tergantung pada bentuk dari membran basilaris.
Daerah yang berbeda dari membran basilaris secara alami bergetar secara
maksimal pada frekuensi yang berbeda. Ujung sempit dekat oval window akan
bergetar paling baik pada nada berfrekuensi tinggi sedangkan area yang luas
dekat helikotrema paling baik pada nada rendah. Saat gelombang suara dengan
frekuensi tertentu menyebabkan osilasi stapes, gelombang tersebut akan
berjalan ke membran basilar yang memiliki daerah sensitif terhadap frekuensi
tersebut. Energi gelombangnya akan dihamburkan dengan adanya osilasi
membran ini sehingga berakhir pada area maksimal tadi. Adanya overtone pada
bermacam frekuensi akan menyebabkan membran basilaris bergetar secara
simultan tetapi kurang intens dibandingkan nada dasarnya sehingga sistem saraf
pusat dapat membedakan timbre suara.

Sementara itu, diskriminasi kebisingan atau kenyaringan tergantung dari


amplitudonya. Gelombang suara yang berasal dari sumber yang lebih keras akan
menghantam gendang telinga (membran timpani) sehingga bergetar dengan
lebih bertenaga meskipun frekuensinya tetap sama. Osilasi pada membran
basilaris yang lebih besar akan diinterpretasikan sebagai suara yang lebih keras
oleh sistem saraf pusat.

Korteks Auditori

Sebagaimana area pada membran basilaris yang berasosiasi dengan nada


tertentu, korteks auditori primer pada lobus temporalis juga tersusun secara
tonotopically. Masing-masing area pada membran basilaris tersebut terkait pada
area spesifik pada korteks auditori primer (satu nada, satu neuron kortikal
teraktivasi).

Saraf afferen yang mengambil sinyal auditori dari sel rambut dalam akan keluar
dari koklea melalui nervus auditori. Ada beberapa sinaps yang terjadi terutama
pada batang otak dan nukleus geniculatum medial thalamus.Batang otak
menggunakan input auditori untuk kewaspadaan dan bangun. Pada batang otak,
jaras saraf auditori ini akan menuju baik sisi ipsilateral maupun kontralateralnya
sehingga kedua lobus temporal akan mendapatkan impuls. Oleh karena itu,
gangguan pada jaras di atas batang otak pada satu sisi tidak akan mengganggu
pendengaran.
Korteks auditori primer juga dapat menerima bermacam suara yang berbeda
sedangkan korteks auditori yang lebih tinggi mengintegrasikan suara yang
berbeda tersebut menjadi koheren sebagai pola yang berarti. Dengan begitu,
kita dapat membedakan suara-suara terpisah yang masuk ke telinga dan
memilih mana suara yang memang penting untuk didengarkan. 1

Area auditori ternyata memiliki spesialisasi hemisfer. Pada area Brodman 22


diperkirakan merupakan tempat pemprosesan sinyal auditori yang berhubungan
dengan pembicaraan. Dalam proses bahasa, bagian kiri lebih aktif daripada sisi
kanan. Area 22 sebelah kanan lebih kepada melodi, nada dan intensitas suara.

Jalur auditori bersifat sangat plastis yang sangat dimodifikasi oleh pengalaman.
Pada orang yang mengalami tuli sebelum kemampuan berbahasanya
berkembang, ternyata dengan melihat tanda-tanda bahasa juga akan
mengaktivasi area assosiasi auditori. Sebaliknya, individu yang buta pada masa
awal hidup dapat melokalisasi suara jauh lebih baik daripada mereka yang
memiliki penglihatan normal. Plastisitas juga sangat nampak pada musis yang
dapat lebih peka terhadap suara dibanding non musisi. 2
Daftar Pustaka
1 Sherwood L. Human Physiology: The Periferal Nervous System: Afferent
Division; Spesial Sense. 7thed. Philadelphia: Brooks/Cole Engange Learning;2010.
P. 213-23.

2 Barrett E, dkk. Ganongs Review of Medical Physiology:Hearing &


Equilibrium. 23rded. Singapore: Mc Graw Hill; 2011. p.203-13.

3 Yanick P. Natural Relief from Tinnitus. United States: Good Health


Guide;1995. P.25