Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TOKSIKOLOGI FARMASI

ASAS ASAS UMUM TOKSIKOLOGI

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi semester IV

Dosen Pengampu:

Devi Ika K. S., M.Sc., Apt

Disusun Oleh:

Kelompok 2 A

1. Diana Apriliyani (E0014004)


2. Dzulfatul Ulwiyah (E0014007)
3. Hani Yuniati (E0014009)
4. Jumaroh (E0014012)
5. Lucky Meynica (E0014014)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jl. Cut Nyak Dhien No.16, Desa Kalisapu, Kec. Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah -52416
Telp. (0283) 6197571 Fax. (0283) 6198450 Homepage website www.stikesbhamada ac.id email
stikes_bhamada @ yahoo.com
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah Asas-asas Umum Toksikologi.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi Farmasi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan


bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Slawi, Maret 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Efek Toksik ............................................................................. 5


2.2 Mekanisme Efek Toksik ....................................................................... 7
2.3 Wujud Efek Toksik ............................................................................... 11
2.4 Sifat Efek Toksik .................................................................................. 14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 15


3.2 Saran ................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya zat kimia yang ada disekitarnya.
Oleh karena itu, manusia sebaiknya mempelajari sifat zat-zat yang ada
disekitarnya supaya dapat memanfaatkan secara baik dan dapat terhindar dari
dampak buruknya. Zat kimia masuk ke dalam tubuh secara sengaja atau tidak
sengaja, melalui kulit, inhalasi, atau oral. Toksikologi adalah ilmu yang
mempelajari efek merugikan dari zat kimia, baik saat digunakan atau saat berada
dilingkungan, terutama dampaknya pada manusia, baik yang masuk secara
sengaja atau tidak sengaja.
Toksikologi oleh Loomis (1978) didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari aksi berbahaya zat kimia atas sistim biologi. Pakar lainnya, yaitu
Doull dan Bruce (1986) mendefinisikan toksikologi sebagai ilmu yang
mempelajari pengaruh zat kimia yang merugikan atas sistim biologi. Timbrel
(1989), mendefinisikan toksikologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi
antara zat kimia dan sistem biologi. Sedangkan definisi ketoksikan atau toksisitas
adalah kapasitas suatu zat kimia/ beracun (xenobiotik) untuk dapat menimbulkan
efek toksik tertentu pada makhluk hidup.
Dalam era modern ini, toksikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang aksi
berbahaya zat kimia atas jaringan biologi. Definisi ini mengandung makna bahwa
di dalam tubuh, dalam kondisi tertentu, zat kimia dapat berantaraksi dengan
jaringan tubuh, sehingga mengakibatkan timbulnya efek berbahaya atau toksik
dengan wujud dan sifat tertentu. Bila demikian halnya, dengan memahami
kondisi, mekanisme, wujud, dan sifat efek toksik suatu zat kimia, kita dapat
mengevaluasi keberbahayaan zat kimia itu, yang selanjutnya dapat digunakan
untuk menentukan perkiraan batas keamanannya bila memejani manusia.
Paracelcus yang dianggap sebagai bapak toksikologi tidak membedakan
antara obat dengan zat beracun berdasarkan toksisitasnya. Paracelcus berpendapat,

1
yang membedakan obat dengan racun atau zat yang bukan racun dengan racun
adalah dosisnya. Dari pernyataan ini, Paracelcus menyimpulkan bahwa obat
bukan racun sebagaiman anggapan banyak pihak, karena penggunan obat
diberikan berdasarkan aturan dosis tertentu. Obat yang diberikan berdasarkan
aturan dosis tertentu menurut penelitiannya umumnya tidak menimbulkan efek
toksik atau manfaatnya jauh lebeih besar daripada efek yang merugikan. Atau
seandainnya bada sifat toksiknya sudah diperhitungkan, yaitu masih lebih
menguntungkan diberikan daripada tidak diberikan. Sebaliknya apa yang
dianggap racun juga dapat berfungsi sebagai obat (dapat dimanfaatkan) jikan
pemberiannya atau penggunaannya diatur sedemikian rupa. Dan memang pada
kenyataannya banyak obat yang mempunyai letal dosis (LD50) lebih kecil atau
mempunyai potensial toksik lebih besar dibandingkan zat yang selama ini
dianggap racun, misalnya digoksin suatu obat kardiotonik. Sedangkan racun tidak
ada aturan dosis yang menguntungkan untuki diberikan kepada manusia.
Merupakan tugas dari seorang ahli toksikologi (toksikologist) untuk
memberikan penjelasan, bagaimana menggunakan dan memanfaatkan zat-zat
yang potensial toksik untuk kebaikkan umat manusia. Kita percaya bahwa apapun
yang diciptakan oleh Tuhan pasti ada manfaatnya ter,asuk zat yang sangat
potensial toksik, tergantung bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan.
Obat dpat menimbulkan efek yang tidak diinginkan yang ber5kaitan
dengan dosis yang diberikan, yaitu efek samping (side effect), efek merugikan
(adverse effect), dan efek toksik (toxic effect). Efek samping lebih berrupa efek
yang tidak berbahaya atau merugikan seperti mulut kering atau sedasi karena
pemakaian antihistamin. Dalam banyak kasus, efek samping dapat ditoleransi,
sehingga obat tetap bermanfaat sebagai pengobatan. Namun efek yang merugikan
dapat berbahaya seperti diare yang terus menerus, muntah atau gangguan SSP
yang menyebabkan bingung. Atau terapi jangka panjang dapat mempengaruhi
organ-organ seperti ginjal, hepar, jantung, dan lambung. Kondisi demikian itu
memerluka pengaturan penggunaan obat, seperti pengurangan dosis,
menggunakan obat pada waktu tertentu, atau jika diperlukan mengganti obat yang
digunakan. Efek toksik atau keracunan merupakan efek yang sangat berbahaya

2
dan dapat mengancam kehidupan. Dalam kondisi seperti ini obat harus dihentikan
dan diberi terapi supportif atau diberi terapi antidotumnya.
Pada dosis minimal lazim, efek samping yang sering timbul, pada dosis
maksimal sering timbul efek yang merugikan. Pada dosis yang sangat tinggi (over
dosis) dapat timbul efek toksik yang berakibat fatal. Dari penjelasan di atas, berat
ringannya efek yang tidak diinginkan dapat berhubungan dengan dosis. Sehingga
pernyataan Paracelcus (1493 1541) yang sangat terkenal, yaitu hanya dosis
yang membedakan antara obat dengan racun adalah sangat tepat. Dapat juga kita
menyatakan dosis akan menentukan efek yang aqkan ditimbulkan oleh
penggunaan obat, apakah efek terapi atau efek toksik.
Toksikologi sebagai suatu cabang farmakologi telah berkembang
mengikuti perkembangan jaman dan lingkup jangkauannya menjadi semakin luas.
Kita mengenal cabang-cabang toksikologi seperti : toksikologi lingkungan,
toksikologi kerja, toksikologi ekonomi, toksikologi kehakiman, dan toksikologi
obat.
Dalam era modern sekarang, toksikologi didefinisikan sebagai ilmu
tentang aksi berbahaya zat kimia atas jaringan biologi dan dampaknya. Definisi
ini mengandung arti bahwa dalam jaringan biologi (tubuh), dalam kondisi
tertentu, zat kimia dapat berinteraksi menimbulkan efek berbahaya dengan wujud
dan sifat tertentu. Dengsn demikian, dengan memahami kondisi, mekanisme,
wujud, dan sifat efek toksik suatu zat, kita akan dapat mengevaluasi
keberbahayaan suatu zat. Kemampuan evaluasi ini selanjutnya dapat digunakan
untuk menentukan atau memperkirakan batas keamanannya bila mengenai atau
digunakan manusia serta cara-cara menggunakan supaya tidak menimbulkan efek
toksik. Hal ini penting untuk keperluan manusia yang semakin hari tuntutan dan
tantangan dalam hidup semakin besar dan obat serta zat kimia semakin banyak
dan semakin toksik jika tidak diperhatikan pemakaiannya. Asas umum toksikologi
merupakan faktor yang mempengaruhi timbulnya efek toksik dan akan sangat
bermanfaat untuk evaluasi ketoksikan suatu zat.

1.2 Rumusan Masalah

3
1. Bagaimana Kondisi Efek Toksik?
2. Bagaimana Mekanisme Efek Toksik?
3. Bagaimana Wujud Efek Toksik?
4. Apa saja Sifat Efek Toksik?

1.3 Tujuan penulisan


1. Untuk mengetahui kondisi efek toksik.
2. Untuk mengetahui mekanisme efek toksik.
3. Untuk mengetahui wujud efek toksik.
4. Untuk mengetahui sifat efek toksik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Efek Toksikologi


Perjalanan zat kimia dalam tubuh diawali dari masuknya zat tersebut
kedalam tubuh melalui intravaskuler (injeksi IV, intrakardial, intraarteri) atau
ekstravaskuler (oral, inhalasi, injeksi intramuskular, rektal). Selanjutnya zat masuk
sirkulasi sistemik dan didistribusikan keseluruh tubuh. Proses distribusi
memungkinkan zat atau metabolitnya sampai pada tempat kerjanya (reseptor). Zat
kimia di tempat kerjanya atau reseptornya berinteraksi dan dampaknya mungkin

4
menimbulkan efek. Interaksi zat kimia atau metabolitnya yang berlebihan dapat
menghasilkan efek toksik. Jadi penentu ketoksikan suatu zat kimia adalah
sampainya zat kimia utuh atau metabolit aktifnya di sel sasaran dalam jumloah
yang berlebihan. Pada sisi lain, zat kimia dapat mengalami metabolisme menjadi
senyawa non aktif dan diekskresikan (eleminasi) yang dapat mengurangi
sampainya atau jumlah zat kimia dalam sel sasarannya. Dengan demikian,
timbulnya efek toksik dipengaruhi juga oleh selisih antara absorpsi dan distribusi
dengan eliminasinya. Jadi toksisitas suatu zat sangat ditentukan oleh absorpsi,
distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME) nya. Untuk lebih mudah
memahami pengaruh ADME terhadap toksisitas suatu zat, lihat gambar berikut :

Gambar 1. Nasib zat kimia/ obat dalam tubuh

Dengan demikian, kondisi efek toksik didefinisikan sebagai berbagai


keadaan atau faktor yang mempengaruhi efektivitas absorpsi dan distribusi suatu
zat dalam tubuh. Kondisi efek toksik mempengaruhi atau menentukan keberadaan

5
zat kimia atau metabolitnya dalam sel sasaran atau tempat kerjanya. Jumlah zat
kimia atau metabolitnya di sel sasaran akan mempengaruhi atau menentukan efek
toksik. Termasuk dalam kondisi efek toksik adalah:

1. Kondisi paparan zat kimia meliputi:


a. Jalur paparan (intravaskuler atau ekstravaskuler)
b. Lama dan kekerapan paparan
c. Saat paparan
d. Dosis paparan, dan
e. Paparan akut atau kronis
2. Kondisi makhluk hidup, meliputi:
a. Keadaan fisiologi (berat badan, umur, suhu tubuh, kecepatan
pengosongan lambung, kecepatan aliran darah, status gizi, kehamilan,
genetika, dan jenis kelamin).
b. Keadaan patologi (penyakit saluran pencernaan, kardiovaskuler, hati, dan
ginjal).

Kondisi no. 1 dan 2 di atas akan mempengaruhi ketersediaan biologi zat


kimia di sel sasaran sehingga menentukan efeknya.

6
2.2 Mekanisme Efek Toksik

Keberadaan zat kimia dalam tubuh dapat menimbulkan efek toksik melalui
2 cara, berinteraksi secara langsung (toksik intrasel) dan secara tidak langsung
(toksik ekstrasel). Toksik intrasel adalah toksisitas yang diawali dengan interaksi
langsung anatara zat kimia atau metabolitnya dengan reseptornya. Toksisitas
ekstrasel terjadi secara tidak langsung dengan mempengaruhi lingkungan sel
sasaran tetapi dapat berpengaruh pada sel sasaran.

1. Mekanisme efek toksik intrasel


Zat kimia atau metabolitnya yang telah masuk pada sel sasarannya dapat
menyebabkan gangguan sel atau organelanyamelalui pendesakan, pengikatan,
subtitusi (antimetaboli) atau peroksidasi.
Gangguan yang ditimbulkan akan direspon oleh sel untuk mengurangi
dampaknya , dan sel akan beradaptasi atau melakukan perbaikan. Namun bila
respon pertahanan tidak mampu mengeleminir gangguan yang ada akan
terjadi efek toksik. Dampaknya (wujudnya) terjadi perubahan atau kekacauan
biokimiawi, fungsional atau struktural yang bersifat reversibel atau
irreversibel. Contoh obat atau zat yangb bgekerja langsung (toksik intrasel)
dalam menimbulkan efek toksik adalah:
a. Tetrasiklin/kloramfenikol bekerja mengingat ribosom dari suatu sel.
b. Antimikroba golongan sulfa, berfungsi sebagai antimetabolit dan
menghambat sintesa asam folat.
c. Radikal bebaas menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga
fungsinya terganggu.
d. Insektisida yang mengikat enzim asetilkolinesterase, menyebabkan
bertumpuknya Ach (asetilkolin) dalam sinap sehingga menimbulkan efek
kolinergik yangt berlebihan.
e. Sianida dapat mengacaukan pernapasan sel dengan cara mengganggu
transpor elektron, dalam hal ini ikatan sianida dengan atom besi pada

7
protein heme mengalami oksidasi dan reduksi selama transfer elektron.
Dengan demikian sianida dapat mengganggu proses pernapasan sel.
f. Toksin botulismus berikatan dengan ujung akson presinaptik kolinergik
perifer sehingga menghambat pelepasan ACh, sehingga terjadi hambatan
kolinergik. Efek yang sama dapat ditimbulkan oleh racun ular kobra yang
dapat berikatan dengan postsinaptik neuromuskuler sehingga tidak peka
terhadap asetilkolin.

Gambar 2. Mekanisme Efek Toksik Intrasel


2. Mekanisme efek toksik ekstrasel
Kelangsungan hidup suatu sel sangat tergantung pada lingkungan, yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sel. Karena itu adanya zat di
lingkungan sel yang dapat mengganggu aktivitas sel, mungkin akan
menimbulkan perubahan struktur atau gangguan fungsi sel. Untuk
kelangsungan hidup sel, minimal dibutuhkan oksigen, zat makanan dan cairan
ekstrasel (elektrolit dan asam-basa) yang optimal.
a. Oksigen
Oksigen diperlukan untuk produksi energi. Oksigen masuk ke dalam
tubuh melalui saluran pernapasan, berdifusi dari alveoli ke pembuluh
darah, eritrosit sel. Semua proses (tempat) di atas merupakian sasaran dari
zat toksik untuk mengganggu sampainya oksigen ke dalam sel yang
membutuhkannya.
Obstruksi saluran pernapasan dapat terjadi karena zat iritan yang kuat,
atau zat yang bersifat vasopasme (konstriksi). Jumlah eritrosit dapat
berkurang karena gangguan produksi eritrosit oleh sumsum tulang
belakang. Nitrit dapat menyebabkan pembentukan nmethemoglobin dari

8
hemoglobin sehingga tidak dapat mengikat oksigen. Semua hal diatas
dapat menyebabkan hipoksia, dan jika tidak ditanggulangi kekurangan
oksigen menjadi lebih parah (anoksia) dan dapat menyebabkan sel
kekurangan energi dan mati.
b. Suplai zat makanan
Zat makanan diperlukan oleh sel agar proses metabolisme dapat
berjalam normal, sehingga keperluan energi dapat tercukupi dan proses
pertumbuhan dapat berlangsung. Kecukupan zat makanan sangat
tergantung pada proses-proses seperti ingesti, digesti, absorpsi, dan
transpor kelingkungan sel. Dengan demikian banyak tempat/ proses yang
dapat diganggu oleh suatu zat berkaitan dengan suplai zat makanan.
c. Suplai cairan
Cairan, keseimbangan elektrolit, keseimbangann asam-basa, dan
proses ekskresi untuk mempertahankan posisi cairan merupakan sasaran
potensial dari suatu zat. Gangguan cairan seperti retensi cairan (edema),
dehidrasi, dan asidosis dapat berbahaya bagi kehidupan sel jika tidak
segera diperbaiki. Gangguan seperti di atas dapat terjadi karena banyak
faktor, seperti : kleebihan natrium, diare, hiperglikemia atau karena adanya
zat-zat tertentu.
Selain itu itu luka ekstrasel juga dapat terjadi jika sistem yang
mengatur fungsi-fungsi tubuh seperti sistem saraf, sistem endokrin
(hormon), dan sistem immunitas terganggu. Untuk lebih jelas lihat gambar
3 di bawah ini.

9
Gambar 3. Mekanisme toksik ekstrasel
Keterangan:
1. Nitrit dapat mengikat hemoglobin dan terbentuk methemoglobin
menyebabkan tidak dapat mengikat oksigen dan mengakibatkan sel
kekurangan oksigen.
2. Zat-zat yang dapat mengganggu absorpsi atau merusak vitamin atau
protein dapat mengganggu pertumbuhan sel.
3. Pemberian steroid dari luar (eksogen) dapat mengganggu sekresin
steroid endogen yang dibutuhkan oleh sel.
4. Pestisida mengikat enzim asetilkolinesterase menyebab kan jumlah
Ach berlebihan.
5. Penisillin dapat merangsang terbentuknya antibodi terhadap dirinya
sendiri, sehingga pada pemberian berikutnya dapat terjadi reaksi
antigen dan antibodi yang dapat menimbulkan syok anafilaktik.

2.3 Wujud Efek Toksik

Wujud efek toksik berupa perubahan atau gangguan biokimiawi,


fungsional, atau struktural suatu sel. Namun demikian, wujud efek toksik tidak
sepenuhnya dapat dipisahkan menjadi seperti di atas. Seringkali kerusakan sel
merupakan gangguan dua atau tiga hal di atas. Misalnya perubahan struktural sel
umumnya merupakan akibat dari adanya perubahan biokimiawi atau perubahan
fungsi sel. Perubahan biokimiawi sel dapat menyebabkan perubahan fungsional.

10
Gambar 4. Wujud efek toksik

Keterangan:

Mekanisme efek dari sianida, malation, dan tetrasiklin akan dijelaskan dalam bab
berikutnya.

1. Perubahan biokimiawi sel


Efek dari zat dalam tubuh mungkin akan menyebabkan perubahan kimiawi
dari sel. Seperti mpeningkatan atau penurunan aktivitas transpor elektron,
sintesis protein, dan gangguan nsistem hormonal. Perubahan ini pada awalnya
akan diminimalisir oleh pertahanan tubuh dan jika dapat pulih atau terjadi
adaptasi, maka tidak akan terjadi cedera atau efek toksik.

2. Perubahan fungsional
Interaksi antara zat toksik dengan reseptor dapat mempengaruhi fungsi
organ-organ tertentu,l seperti terjadinya anoksia, gangguan pernapasan,
gangguan sistem saraf pusat, hipotensi hipertensi, dan hiper atau hipoglikemi.

11
Perubahan fungsional atau biokimiawi sering merupakan tahap awal dari
terjadinya perubahan struktural.
3. Perubahan struktural
Contoh-contoh perubahan struktural adalah degenerasi, profilerasi, dan
inflamasi. Ketiga efek tersebut menggambarkan perajalanan akhir dari
serangkaian peristiwa seluler yang dapat dilihat dibawah mikroskop cahaya
atau elektron. Degenerasi dan poliferasi adalah efak intrasel dan inflamasi
adalah efek ekstraseluler. Berbagai efek terssebut mendasari perubahan
morfologi sel seperti nekrosis, karsinogenesis, dan edema.
a. Degenerasi
Degenerasi adalah pengecilan sel atau pengurangan jumlah organel
dalam sel, seperti atropi dan nekrosis. Atropi adalah mengecil atau
berkurangnya jumlah sel yang dapat menyebabkan penyusutan jaringan
atau organ. Keadaan ini disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik atau
membahayakan, sehingga sel mengecil sampai pada tingkat dimana sel
tetap dapat melangsungkan kehidupannya. Kekurangan zat makanan atau
hormon tertentru dapat menyebabkan atropi. Sepanjang penyebabnya
dapat dieliminasi atau diperbaiki, maka atropi hanya merupakan efek
homeostatis adaptif yang bersifat reversibel.
Akumulasi intrasel zat racun mungkin dapat mengganggu
keseimbangan antara kompartemen intrasel dan antarsel lingkungan
sekitar. Sehingga dapat menyebabkan penumpukan berbagai macam zat di
sitoplasma atau organela-organela sel. Penumpukan intrasel yang sering
dijumpai adalah penumpukan air dan lemak. Pembengkaan sel karena Na+
dan air merupakan respon morfologi yang bersifat reversibel. Kadar Na+
intrasel diatur oleh pompa Na+ yang meemrlukan ATP, kekurangan ATP
mengakibatkan masuknya Na+ ke intrasel melebihi jumlah normal.
Meningkatnya Na+ intrasel akan meningkatkan tekanan intraseluler.
Penumpukan sel lemak dapat terjadi karena ada ketidakseimbangan
produksi, mobilisasi, dan penggunaan lemak di dalam sel. Perlemakan
dapat terjadi, karena adanya satu atau lebih dari tiga penyebab
ketidakseimbangan metabolismelemak di atas. Contoh klasiknya adalah
perlemakan hati oleh karbon tetraklorida.

12
Nekrosis adalah kematian sel dalam makhluk hidup yang merupakan
respon degenerasi dan merupakan hasil akhir dari berbagai luka sel seperti
sintesis letal (apoptosis), interaksi irreversibel, dan hipoksia-anoksia.
b. Proliferasi
Adanya pengaruh suatu zat kimia ditanggapi oleh sel dengan cara
meningkatkan pertumbuhannya. Sebagaimana degenerasi, proliferasi
awalnya juga merupakan respon homeostatif adaptif, yang dapat diikuti
proliferasi yang irreversibel oleh sekelompok populasi sel, yang dikenal
dengan sebutan kanker. Proliferasi dapat dibedakan menjadi hipertrofi atau
hiperplasia. Hipertropi adalah respon proliferasi yang berkaitan dengan
pembesaran sel, sedangkan hiperplasia berkaitan dengan pertambahan
jumlah sel.
c. Inflamasi
Inflamasi atau peradangan merupakan suatu proses yang dinamis, yang
berat dan ringannya sangat tergantung dari zaat yang menyebabkan dan
respon tubuh. Perubahan yang terjadi mulai dari kemerah-merahan,
edema, nyeri, dan selanjutnya sampai menyebabkan kehilangan fungsi
pada organ yang mengalami inflamasi.

2.4 Sifat Efek Toksik


Ada 2 jenis sifat efek toksik, yakni reversibel (terbalikkan) dan irreversibel
(tidak terbalikan). Ciri-ciri efek toksik terbalikkan meliputi:
1. Bila jumlah zat toksik dalam tempat kerjanya atau reseptornya telah habis,
maka reseptor akan kembali seperti keadaan semula.
2. Efek toksik yang diakibatkan akan cepat hilang atau kembali ke normal.
3. Ketoksikan sangat tergantung pada dosis, kecepatan absorpsi, distribusi,
dan eliminasi zat racun.
Sedangkan ciri-ciri dari sifat efek toksik yang tidak terbalikkan adalah:
1. Kerusakan yang terjadi sifatnya permanen.
2. Paparan berikutnya akan menimbulkan kerusakkan yang sifatnya sama
sehingga memungkinkan terjadinya akumulasi efek toksik.

13
3. Paparan dengan takaran yang sangat kecil dalam jangka panjang akan
menimbulkan efek toksik yang sma efektifnya dengan yang ditimbulkan
oleh paparan dosis besar jangka pendek. Ini menunjukkan zat yang dapat
menimbulkan efek toksik irreversibel adalah zat racun yang terakumulasi
atau sangat sukar dieliminasi.

Gambar 5. Sifat efek toksik

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. kondisi efek toksik didefinisikan sebagai berbagai keadaan atau faktor yang
mempengaruhi efektivitas absorpsi dan distribusi suatu zat dalam tubuh.
2. Yang termasuk dalam kondisi efek toksik yaitu kondisi paparan zat kimia, dan
kondisi makhluk hidup. Kondisi tersebut akan mempengaruhi ketersediaan
biologi zat kimia di sel sasaran sehingga menentukan efeknya.
3. Keberadaan zat kimia dalam tubuh dapat menimbulkan efek toksik melalui 2
cara, berinteraksi secara langsung (toksik intrasel) dan secara tidak langsung
(toksik ekstrasel).
4. Wujud efek toksik berupa perubahan atau gangguan biokimiawi, fungsional,
atau struktural suatu sel.
5. Ada 2 jenis sifat efek toksik, yakni reversibel (terbalikkan) dan irreversibel
(tidak terbalikan).

14
3.2 Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini penulis mengharapkan saran dan
kritiknya dari pembaca yang membangun. Karena penulis menyadari bahwa
makalah ini jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Priyanto. 2010. Toksikologi, Mekanisme, Terapi Antidotum, dan Penilaian Resiko.


Jakarta : Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi

15
Sulistyowati, Eddy, Apt. M.S. 2008. Diktat Toksikologi. Yogyakarta : UNY
Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA

16