Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Farmasi Klinis

Farmasi Klinis merupakan praktek kefarmasian yang berorientasi kepada pasien lebih dari
orientasi kepada produk. Istilah farmasi klinik mulai muncul pada tahun 1960-an di Amerika,
yaitu suatu disiplin ilmu farmasi yang menekankan fungsi farmasis untuk memberikan asuhan
kefarmasian (pharmaceutical care) kepada pasien, bertujuan untuk meningkatkan outcome
pengobatan.
Sejarah Farmasi Klinis
Secara historis, perubahan-perubahan dalam profesi kefarmasian di Inggris, khususnya dalam
abad ke-20, dapat dibagi dalam periode/tahap:
Periode / tahap tradisional
Dalam periode tradisional ini, fungsi farmasis yaitu menyediakan, membuat, dan
mendistribusikan produk yang berkhasiat obat. Tenaga farmasi sangat dibutuhkan di apotek
sebagai peracik obat. Periode ini mulai mulai goyah saat terjadi revolusi industri dimana terjadi
perkembangan pesat di bidang industri tidak terkecuali industri farmasi. Ketika itu sediaan obat
jadi dibuat oleh industri farmasi dalam jumlah besar-besaran. Dengan beralihnya sebagian besar
pembuatan obat oleh industri maka fungsi dan tugas farmasis berubah. Dalam pelayanan resep
dokter, farmasis tidak lagi banyak berperan pada peracikan obat karena obat yang tertulis di
resep sudah bentuk obat jadi yang tinggal diserahkan kepada pasien. Dengan demikian peran
profesi kefarmasian makin menyempit.
Tahap Transisional (1960-1970)
Perkembangan-perkembangan dan kecenderungan tahun 1960-an/1970-an
A. Ilmu kedokteran cenderung semakin spesialistis
Kemajuan dalam ilmu kedokteran yang pesat, khusunya dalam bidang farmakologi dan
banyaknya macam obat yang mulai membanjiri dunia menyebabkan para dokter merasa
ketinggalan dalam ilmunya. Selain ini kemajuan dalam ilmu diagnosa, aalat-alat diagnosa baru
serta penyakit-penyakit yang baru muncul (atau yangbaru dapat didefinisikan) membingungkan
para dokter. Satu profesi tiadak dapat lagi menangani semua pengetahuan yang berkembang
dengan pesat.
B. Obat-obat baru yang efektif secara terapeutik berkembang pesat sekali dalam dekade-dekade
tersebut. Akan tetapi keuntungan dari segi terapi ini membawa masalah-masalah tersendiri
dengan meningkatnya pula masalah baru yang menyangkut obat; antara lain efek samping obat,
teratogenesis, interaksi obat-obat, interaksi obat-makanan, dan interaksi obat-uji laboratorium.
C. Meningkatnya biaya kesehatan sektor publik amtara lain disebabkan oleh penggunaan
teknologi canggih yang mahal, meningkatnya permintaan pelayanan kesehatan secara kualitatif
maupun kuantitatif, serta meningkatnya jumlah penduduk lansia dalam struktur demografi di
negara-negara maju, seperti Inggris. Karena tekanan biaya kesehatan yang semakin mahal,
pemerintah melakuakn berbagai kebijakan untuk meningkatkan efektifitas biaya (cost-
effectiveness), termasuk dalam hal belanja obat (drugs expenditure).
D. Tuntunan masyarakat untuk pelayanan medis dan farmasi yang bermutu tinggi disertai
tuntunan pertanggungjawaban peran para dokter dan farmasis, sampai gugatan atas setiap
kekurangan atau kesalahan pengobatan.
Kecenderungan-kecenderungan tersebut terjadi secara paralel dengan perubahan peranan
farmasis yang semakin sempit. Banyak orang mempertanyakan peranan farmasis yang
overtrained dan underutilised, yaitu pendidikan yang tinggi akan tetapi tidak dimanfaatkan sesuai
dengan pendidikan mereka. Situasi ini memunculkan perkembangan farmasi bangsal (ward
pharmacy) atau farmasi klinis (clinical pharmacy).
Farmasi klinis lahir pada tahun 1960-an di Amerika Serikat dan Inggris dalam periode transisi
ini. Masa transisi ini adalah masa perubahan yang cepat dari perkembangan fungsi dan
peningkatan jenis-jenis pelayanan profesional yang dilakukan oleh bebrapa perintis dan sifatnya
masih individual. Yang paling menonjol adalah kehadiran farmasis di ruang rawat rumah sakit,
meskipun masukan mereka masih terbatas. Banyak farmasis mulai mengembangkan fungsi-
fungsi baru dan mencoba menerapkannya. Akan tetapi tampaknya, perkembangannya masih
cukup lambat. Diantara para dokter, farmasis dan perawat, ada yang mendukung, tetapi adapula
yang menolaknya.
Tahap Masa Kini
Pada periode ini mulai terjadi pergeseran paradigma yang semula pelayanan farmasi berorientasi
pada produk, beralih ke pelayanan farmasi yang berorientasi lebih pada pasien. Farmasis
ditekankan pada kemampuan memberian pelayanan pengobatan rasional. Terjadi perubahan yang
mencolok pada praktek kefarmasian khususnya di rumah sakit, yaitu dengan ikut sertanya tenaga
farmasi di bangsal dan terlibat langsung dalam pengobatan pasien.
Karakteristik pelayanan farmasi klinik di rumah sakit adalah :
Berorientasi kepada pasien

Terlibat langsung di ruang perawatan di rumah sakit (bangsal)

Bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai dan memberi
informasi bila diperlukan

Bersifat aktif, dengan memberi masukan kepada dokter sebelum pengobatan dimulai,
atau menerbitkan buletin informasi obat atau pengobatan

Bertanggung jawab atas semua saran atau tindakan yang dilakukan

Menjadi mitra dan pendamping dokter.

Dalam sistem pelayanan kesehatan pada konteks farmasi klinik, farmasis adalah ahli pengobatan
dalam terapi. Mereka bertugas melakukan evalusi pengobatan dan memberikan rekomendasi
pengobatan, baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan lain. Farmasis merupakan sumber
utama informasi ilmiah terkait dengan penggunaan obat yang aman, tepat dan cost effective.
Tahap Masa Depan Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)
Gagasan ini masih dalam proses perkembangan. Diberikan disini untuk perluasan wawasan
karena kita akan sering mendengar konsep ini. Pelayanan kefarmasiaan (Pharmaceutical Care)
didefinisikan oleh Cipolle, Strand, dan Morley (1998) sebagai: A practice in which the
practitioner takes responsibility for a patients drug therapy needs, and is held accountable for
this commitment. Dalam prakteknya, tanggung jawab terapi obat diwujudkan pada pencapaian
hasil positif bagi pasien.
Proses pelayanan kefarmasian dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu;
1. Penilaian (assessment): untuk menjamin bahwa semua terapi obat yang diiberikan kepada
pasien terindikasikan, berkasiat, aman dan sesuai serta untuk mengidentifikasi setiap masalah
terapi obat yang muncul, atau memerlikan pencegahan dini.
2. Pengembangan perencanaan perawatan (Development of a Care Plan): secara bersama
sama, pasien dan praktisi membuat suatu perencanaan untuk menyelesaikan dan mencegah
masalah terapi obat dan untuk mencapai tujuan terapi. Tujuan ini (dan intervensi) didesain untuk:

Menyelesaikan setiap masalah terapi yang muncul


Mencapai tujuan terapi individual

Mencegah masalah terapi obat yang potensial terjadi kemudian

3. Evaluasi: mencatat hasil terapi, untuk mengkaji perkembangan dalam pencapaian tujuan
terapi dan menilai kembali munculnya masalah baru.
Ketiga tahap proses ini terjadi secara terus menerus bagi seorang pasien.
Konsep perencanaan pelayanan kefarmasian telah dirangkai oleh banyak praktisi farmasi klinis.
Meskipun definisi pelayanan kefarmasian telah diterapkan secara berbeda dalam negara yang
berbeda, gagasan dasar adalah farmasis bertanggungjawab terhadap hasil penggunaan obat
oleh/untuk pasien sama seperti seorang dokter atau perawat bertanggungjawab terhadap
pelayanan medis dan keperawatan yang mereka berikan. Dengan kata lain, praktek ini
berorientasi pada pelayanan yang terpusat kepada pasien dan tanggungjawab farmasis terhadap
morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan obat.

Kegiatan farmasi klinik yaitu memberikan saran professional pada saat


peresepan dan setelah peresepan. Kegiatan farmasi klinik sebelum
peresepan meliputi setiap kegiatan yang mempengaruhi kebijakan
peresepan seperti
1. penyusunan formularium rumah sakit
2. mendukung informasi dalam menetapkan kebijakan peresepan rumah
sakit
3. evaluasi obat
Kegiatan farmasi klinik selama peresapan contohnya adalah
1. memberikan saran profesional kepada dokter atau tenaga kesehatan
lainnya terkait dengan terapi pada saat peresepan sedang dilakukan.
Sedangkan kegiatan farmasi klinik sesudah peresepan yaitu
1. setiap kegiatan yang berfokus kepada pengoreksian dan
penyempurnaan peresepan, seperti monitoring DRPs, monitoring efek
obat, outcome research dan Drug Use Evaluation (DUE).

Farmasis klinik berperan dalam mengidentifikasi adanya Drug Related


Problems (DRPs). Drug Related Problems (DRPs) adalah suatu kejadian atau
situasi yang menyangkut terapi obat, yang mempengaruhi secara potensial
atau aktual hasil akhir pasien. Menurut Koda-Kimble (2005), DRPs
diklasifikasikan, sebagai berikut :

1. Kebutuhan akan obat (drug needed)


Obat diindikasikan tetapi tidak diresepkan
Problem medis sudah jelas tetapi tidak diterapi
Obat yang diresepkan benar, tetapi tidak digunakan (non
compliance)
2. Ketidaktepatan obat (wrong/inappropriate drug)
Tidak ada problem medis yang jelas untuk penggunaan suatu
obat
Obat tidak sesuai dengan problem medis yang ada
Problem medis dapat sembuh sendiri tanpa diberi obat
Duplikasi terapi
Obat mahal, tetapi ada alternatif yang lebih murah
Obat tidak ada diformularium
Pemberian tidak memperhitungkan kondisi pasien
3. Ketidaktepatan dosis (wrong / inappropriate dose)
Dosis terlalu tinggi
Penggunaan yang berlebihan oleh pasien (over compliance)
Dosis terlalu rendah
Penggunaan yang kurang oleh pasien (under compliance)
Ketidaktepatan interval dosis
4. Efek buruk obat (adverse drug reaction)
Efek samping
Alergi
Obat memicu kerusakan tubuh
Obat memicu perubahan nilai pemeriksaan laboratorium
5. Interaksi obat (drug interaction)
Interaksi antara obat dengan obat/herbal
Interaksi obat dengan makanan
Interaksi obat dengan pengujian laboratorium

Kegiatan farmasi klinik memiliki karakteristik, antara lain : berorientsi kepada


pasien; terlibat langsung dalam perawatan pasien; bersifat pasif, dengan
melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberikan
informasi jika diperlukan; bersifat aktif, dengan memberikan masukan
kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan pengobatan
pasien; bertanggung jawab terhadap setiap saran yang diberikan; menjadi
mitra sejajar dengan profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat dan tenga
kesehatan lainnya).

Keterampilan dalam melakukan praktek farmasi klinik memerlukan


pemahaman keilmuan, seperti :
1. Konsep-konsep penyakit (anatomi dan fisiologi manusia, patofisiologi
penyakit, patogenesis penyakit)
2. Penatalaksanaan Penyakit (farmakologi, farmakoterapi dan product
knowledge)
3. Teknik komunikasi dan konseling pasien
4. Pemahaman Evidence Based Medicine (EBM) dan kemampuan
melakukan penelusurannya
5. Keilmuan farmasi praktis lainnya (farmakokinetik klinik, farmakologi,
mekanisme kerja obat, farmasetika).