Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH BAHASA INDONESIA

PARAGRAF | STRUKTUR PARAGRAF |


SYARAT SYARAT PARAGRAF |MACAM
MACAM PARAGRAF | UNSUR
PARAGRAF
Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, atas segala kemampuan rahmat dan hidayah-
nya sehingga penulis dapat menyelasaikan tugas Makalah yang berjudul PARAGRAF pada
mata kuliah Bahasa Indonesia. Kehidupan yang layak dan sejahtera merupakan hal yang sangat
wajar dan diinginkan oleh setiap masyarakat, mereka selalu berusaha mencarinya dan tak jarang
menggunakan cara cara yang tidak semestinya dan bisa berakibat buruk. Dengan mengucap
puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, serta tak lupa sholawat
dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad Swt atas petunjuk dan risalahNya, yang
telah membawa zaman kegelapan ke zaman terang benderang, dan atas doa restu dan dorongan
dari berbagai pihak-pihak yang telah membantu saya memberikan referensi dalam pembuatan
makalah ini.
Saya dapat menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh
karena itu saya sangat menghargai akan saran dan kritik untuk membangun makalah ini lebih
baik lagi. Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga melalui makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.

Jamanis, September 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Umumnya kesulitan pertama membuat karya tulis ilmiah adalah mengungkapkan pikiran
menjadi kalimat dalam bahasa ilmiah. Sering dilupakan perbedaan antara paragraf dan kalimat.
Suatu kalimat dalam tulisan tidak berdiri sendiri, melainkan kait-mengait dalam kalimat lain
yang membentuk paragraph, paragraf merupakan sanian kecil sebuah karangan yang
membangun satuan pikiran sebagai pesan yang disampaikan oleh penulis dalam karangan.
Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan
beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, yang perlu
diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf
membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal).Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf
itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.
Dalam kenyataannya kadang-kadang kita menemukan alinea yang hanya terdiri atas satu kalimat,
dan hal itu memang dimungkinkan. Namun, dalam pembahasan ini wujud alinea semacam itu
dianggap sebagai pengecualian karena disamping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari
segi komposisi, alinea semacam itu jarang dipakai dalam tulisan ilmiah. Paragraf diperlukan
untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang
paragraf sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang
sederhana boleh saja hanya terdiri dari satu paragraf.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah struktur dari paragraf?


2. Apa saja syarat dalam paragraf?
3. Apa saja macam-macam dari paragraf?
4. Apa saja unsur-unsur dari paragraf?
5. Apa saja metode-metode dalam paragraf?

C. Tujuan

1. Mengetahui struktur paragraf


2. Mengetahui syarat dalam paragraf
3. Mengetahui macam-macam dari paragraf
4. Mengetahui unsur-unsur dari paragraf
5. Mengetahui metode dalam paragraf

BAB II

PEMBAHASAN

A. Struktur paragraf

Paragraf terdiri atas kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat
pendukung. Kalimat topik merupakan kalimat terpenting yang berisi ide pokok alinea.
Sedangkan kalimat penjelas atau kalimat pendukung berfungsi untuk menjelaskan atau
mendukung ide utama. Untuk mendapatkan paragraf yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut
:

1. Posisi Paragraf

Sebuah karangan dibangun oleh beberapa bab. Bab-bab suatu karangan yang mengandung
kebulatan ide dibangun oleh beberapa anak bab. Anak bab dibangun oleh beberapa paragraf.
Jadi, kedudukan paragraf dalam karangan adalah sebagai unsur pembangun anak bab, atau secara
tidak langsung sebagai pembangun karangan itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa paragraf
merupakan satuan terkecil karangan, sebab di bawah paragraf tidak lagi satuan yang lebih kecil
yang mampu mengungkapkan gagasan secura utuh dan lengkap.

2. Batasan Paragraf

Pengertian paragraf ini ada beberapa pendapat, antara lain :


a. Kamus Besar Bahasa Indonesia : paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya
mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru)
b. The Jiang Gie dan A. Didyamartaya : paragraf ialah satuan pembagian lebih kecil di bawah
sesuatu bab dalam buku. Paragraf biasanya diberi angka Arab.
3. Kegunaan Paragraf
Paragraf bukan berkaitan dengan segi keindahan karangan itu, tetapi pembagian per paragraf ini
memiliki beberapa kegunaan, sebagai berikut:
1) Sebagai penampung fragmen ide pokok atau gagasan pokok keseluruhan paragraph
2) Alat untuk memudahkan pernbaca memahami jalan pikiran penulisnya
3) Penanda bahwa pikiran baru dimulai,
4) Alat bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikiran secara sistematis
5) Dalam rangka keseluruhan karangan, paragraf dapat berguna bagi pengantar, transisi, dan
penutup.

4. Unsur-Unsur Paragraf

Ialah beberapa unsur yang pembangun paragraf, sehingga paragraf tersebut tersusun secara logis
dan sistematis. Unsur-unsur paragraf itu ada empat macam, yaitu :
a. transisi,
b. kalimat topik,
c. kalimat pengem-bang, dan
d. kalimat penegas.
Keempat unsur ini tampil secara bersama-sama atau sebagian, oleh karena itu, suatu paragraf
atau topik paragraf mengandung dua unsur wajib (katimat topik dan kalimat pengembang), tiga
unsur, dan mungkin empat unsur.

5. Struktur Paragraf

Mendapatkan banyaknya unsur dan urutan unsur yang pembangun paragraf, struktur paragraf
dapat dikelompokkan menjadi delapan kemungkinan, yaitu :
a. Paragraf terdiri atas transisi kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
b. Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat
penegas.
c. Paragraf terdiri atas kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat peneges.
d. Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
e. Paragraf terdiri atas transisi berupa kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang.
f. Paragraf terdiri atas kalimat topik dan katimat pengembang.
g. Paragraf terdiri atas kalimat pengembang dan katimat topik.

B. Syarat-syarat paragraf
1. Kesatuan
Kesatuan paragraf ialah semua kalimat yang membangun paragraf secara bersama-sama
menyatakan suatu hal atau suatu tema tertenru. Kesatuan di sini tidak boleh diartikan bahwa
paragraf itu memuat satu hal saja.

2. Kepaduan
Kepaduan (koherensi) adalah kekompakan hubungan antara suatu kalimat dan kalimat yang lain
yang membentuk suatu paragraf kepaduan yang baik tetapi apabila hubungan timbal balik antar
kalimat yang membangun paragraf itu baik, wajar, dan mudah dipahami. Kepaduan sebuah
paragraf dibangun dengan memperhatikan beberapa hal, seperti pengulangan kata kunci,
penggunaan kata ganti, penggunaan transisi, dan kesejajaran(paralelisme).

3. Kelengkapan
Ialah suatu paragraf yang berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kalimat
topik. Paragraf yang hanya ada satu kalimat topik dikatakan paragraf yang kurang lengkap.
Apabila yang dikembangkan itu hanya diperlukan dengan pengulangan-pengulangan adalah
paragraf yang tidak lengkap.

4. Panjang Paragraf
Panjang paragraf dalam sebagai tulisan tidak sama, bergantung pada beberapa jauh/dalamnya
suatu Bahasa dan tingkat pembaca yang menjadi sasaran. Memperhitungkar, 4 hal :
a. Penyusunan kalimat topik,
b. Penonjolan kalimat topik dalam paragraf,
c. Pengembangan detail-detail penjelas yang tepat, dan
d. Penggunaan kata-kata transisi, frase, dan alat-alat lain di dalam paragraf.
5. Pola Sususnan Paragraf
Rangkaian pernyataan dalam paragraf harus disusun menurut pola yang taat asas, pernyataan
yang satu disusun oleh pernyatanyang lain dengan wajar dan bersetalian secara logis. Dengan
cara itu pembaca diajak oleh penulis untuk memahami paragraf sebagai satu kesatuan gagasan
yang bulat. Pola susunannya bermacam-macam, dan yang sering diterapkan dalam tulisan ilmiah.
antara lain :
a. pola runtunan waktu,
b. pola uraian sebab akibat,
c. pola perbandingan dan pertentangan,
d. pola analogi,
e. pola daftar, dan
f. pola lain.
Ada tiga teknik pengembangan paragraf :
1) Secara alami
Pengembangan paragraf secara alami berdasarkan urutan ruang dan waktu. Urutan ruang
merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam suatu
ruang. Urutan waktu adalah urutan yang menggambarkan urutan tedadinya peristiwa, perbuatan,
atau tindakan.

2) Klimaks dan Antiklimaks


Pengembangan paragraf teknik ini berdasarkan posisi tertentu dalam suatu rangkaian berupa
posisi yang tertinggi atau paling menojol. Jika posisi yang tertinggi itu diletakkan pads bagian
akhir disebut klimaks. Sebaliknya, jika penulis mengawali rangkaian dengan posisi paling
menonjol kemudian makin lama makin tidak menonjol disebut antiklimaks.

3) Umum Khusus dan Khusus Umum


Dalam bentuk Umum ke Khuss utama diletakkan di awal paragraf, disebut paragraf deduktif.
Dalam bentuk khusus-umum, gagasan utama diletakkan di akhir paragraf, disebut paragraf
induktif.

C. Macam-macam paragraf

1. Eksposisi
Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.

Contoh:
Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional mengeluhkan dampak pemberitaan
mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu terakhir mereka kehilangan pembeli
sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga
harganya meningkat.

2. Argumentasi
Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep
sebagai alasan/ bukti.

Contoh:
Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan
demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa
anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah
oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau
mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya
diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri
kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang
ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.

3. Deskripsi
erisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa
atau mendengar hal tersebut.

Contoh:
Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang
mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya
hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam,
memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip
yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.
4. Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.

Contoh:

Dalam diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai
cerminan rasa kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah mengakui dan
memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengembangkan sikap
tenggang rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai sesama anggota masyarakat, kita harus
mengembangkan sikap tolong-menolong dan saling mencintai. Dengan demikian, kehidupan
bermasyarakat dipenuhi oleh suasana kemanusian dan saling mencintai.

5. Narasi

Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita.
Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.

Contoh:
Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah.
Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan
kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia

a. Macam-macam paragraf berdasarkan tujuannya


1) Paragraf pembuka
Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran
pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.

Contoh paragraf pembuka :


Pemilu baru saja usai. Sebagian orang, terutama caleg yang sudah pasti jadi, merasa bersyukur
karena pemilu berjalan lancer seperti yang diharapkan. Namun, tidak demikian yang dirasakan
oleh para caleg yang gagal memperoleh kursi di parlemen. Mereka mengalami stress berat
hingga tidak bias tidur dan tidak mau makan.

2) Paragraf penghubung

Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara
fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka. Sifat paragraf-paragraf penghubung
bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif,
naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang
logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan
sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang
menekankan pendapat pengarang.

3) Paragraf penutup
Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk
eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.
Contoh paragraf penutup :
Demikian proposal yang kami buat. Semoga usaha kafe yang kami dirikan mendapat ridho dari
Tuhan YME serta bermanfaat bagi sesame. Atas segala perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
b. Macam-macam paragraf berdasarkan letak kalimat utama

1) Paragraf deduktif

Paragraf deduktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal paragraf dan dimulai
dengan pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

Contoh paragraf deduktif


Kemauannya sulit untuk diikuti. Dalam rapat sebelumnya, sudah diputuskan bahwa dana itu
harus disimpan dulu. Para peserta sudah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa
menggunakannya untuk membuka usaha baru.

2) Paragraf induktif

Paragraf induktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di akhir paragraf dan diawali
dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.

Contoh paragraf induktif


Semua orang menyadari bahwa bahasa merupakan sarana pengembangan budaya. Tanpa bahasa,
sendi-sendi kehidupan akan lemah. Komunikasi tidak lancer. Informasi tersendat-sendat.
Memang bahasa merupakan alat komunikasi yang penting, efektif dan efisien.

3) Paragraf campuran

Paragraf campuran ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal dan akhir paragraph.
Kalimat utama yang terletak diakhir merupakan kalimat yang bersifat penegasan kembali.

Contoh paragraf campuran


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apa pun
yang dilakukan manusia pasti menggunakan sarana komunikasi, baik sarana komunikasi yang
sederhana maupun yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bias maju
seperti sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi.

c. Macam-macam paragraf berdasarkan isi


1) Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ditandai dengan kalimat utama yang tidak tercantum secara nyata dan tema
paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf. Biasanya dipakai untuk melakukan sesuatu, hal,
keadaan, situasi dalam cerita.
Contoh paragraf deskripsi
Dari balik tirai hujan sore hari, pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan
mandi basah, segar penuh gairah dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut
basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-
liuk oleh hembusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona.
2) Paragraf proses
Paragraf proses ditandai dengan tidak terdapatnya kalimat utama dan pikiran utamanya tersirat
dalam kalimat-kalimat penjelas yang memaparkan urutan suatu kejadian atau proses, meliputi
waktu, ruang, klimaks dan antiklimaks.
3) Paragraf efektif
Paragraf efektif adalah paragraf yang memenuhi ciri paragraf yang baik. Paragrafnya terdiri atas
satu pikiran utama dan lebuh dari satu pikiran penjelas. Tidak boleh ada kalimat sumbang, harus
ada koherensi antar kalimat.

D. Unsur-unsur paragraf

Dalam pembuatan suatu paragraf harus memiliki unsur unsur pembangun paragraf agar paragraf
atau alinea dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya Topik atau tema atau gagasan utama
atau gagasan pokok atau pokok pikiran, topik merupakan hal terpernting dalam pembuatan suatu
alinea atau paragraf agar kepaduan kalimat dalam satu paragraf atau alinea dapat terjalin
sehingga bahasan dalam paragraf tersebut tidak keluar dari pokok pikiran yang telah ditentukan
sebelumnya.

Kalimat utama atau pikiran utama, merupakan dasar dari pengembangan suatu paragraf karena
kalimat utama merupakan kalimat yang mengandung pikiran utama. Keberadaan kalimat utama
itu bisa di awal paragraf, diakhir paragraf atau pun diawal dan akhir paragraf. Berdasarkan
penempatan inti gagasan atau ide pokoknya alinea dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:

Deduktif : kalimat utama diletakan di awal alinea


Induktif : kalimat utama diletakan di akhir anilea
Variatif : kalimat utama diletakan di awal dan diulang pada akhir alinea
Deskriptif/naratif : kalimat utama tersebar di dalam seluruh alinea
Kalimat penjelas, merupakan kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dari gagasan utama.
Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisisi gagasan penjelas. Judul (kepala karangan),
untuk membuat suatu kepala karangan yang baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu
:

1. Provokatif (menarik)
2. Berbentuk frase
3. Relevan (sesuai dengan isi)
4. Logis
5. Spesifik

E. Metode dalam paragraf


1. Metode Definisi
Metode ini menjelaskan batasan-batasan terhadap sesuatu, di dalamnya penulis menguraikan dan
menjelaskan tentang tema yang dibicarakan.
Contoh :
Hati terletak didalam rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma. Hati menghasilkan
empedu yang kemudian ditampung dalam kentong empedu dan disalurkan ke usus dua belas jari
melalui saluran empedu. Empedu berasal dari sel darah merah yang telah rusak dan dihancurkan
dalam limpa. Selain sebagai alat ekskresi, hati berfungsi Mengatur kadar gula dalam darah,
menyimpan gula dalam bentuk glikogen, menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh, sebagai
tempat pembuatan protombin dan fibrinogen, sebagai tempat pengubah provitamin A menjadi
vitamin A, sebagai tempat pembentukan urea.
2. Metode Sebab-akibat
Metode sebab-akibat atau akibat-sebab (kausalitas) dipakai untuk menerangkan suatu kejadian
dan akibat yang ditimbulkannya, atau sebaliknya. Factor yang terpenting dalam metode
kausalitas ini adalah kejelasan dan kelogisan. Artinya, hubungan kejadian dan penyebabnya
harus terungkap jelas dan informasinya sesuai dengan jalan pikiran manusia.
Contoh :
Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya
ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya
kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi
banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta
kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di
Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang
mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit ini. Dalam rangka menuju Indonesia Sehat
2010, Pembangunan Kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan
nasional, pembangunan tersebut mempunyai tujuan untuk mewujudkan manusia yang sehat,
produktif dan mempunyai daya saing yang tinggi. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah
bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi dengan mutu kehidupan yang berkualitas

3. Metode Proses

Sebuah paragraf dikatakan memakai metode proses apabila isi alinea menguraikan suatu proses.
Proses ini merupakan suatu urutan tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau
menghasilkan sesuatu. Bila urutan atau tahap tahap kejadian berlangsung dalam waktu yang
berbeda, penulis harus menyusunnya secara runtut (kronologis).
Contoh :
Sumber-sumber dari iodin makanan termasuk garam beriodin, preparat vitamin, obat yang
mengandung iodin, dan media kontras beriodin. Iodin, seperti klorida, diabsorbsi dengan cepat
dari saluran gastrointestinal dan didistribusikan dalam cairan ekstraselular demikian juga dalam
sekresi kelenjar liur, lambung dan ASI. Walaupun konsentrasi iodida organik dalam pool cairan
ekstraselular bervariasi langsung dengan asupan iodida, I cairan ekstraslular biasanya rendah
sekali karena bersihan iodida yang cepat dari cairan ekstraselular melalui ambilan tiroidal dan
bersihan ginjal. Konsentrasi I dalam cairan ekstraselular adalah 0,6 g/dL, atau sejumlah 150 g
I dalam pool ekstraselular 25 L. Dalam kelenjar tiroid, terdapat transpor aktif dari I serum
melintasi membrana basalis sel tiroid . Tiroid mengambil sekitar 115 g I per 24 jam; sekitar 75
g I digunakan untuk sintesis hormon dan disimpan dalam tiroglobulin; sisanya kembali ke
dalam pool cairan ekstraselular. Pool tiroid dari iodin organik sangat besar, mencapai rata-rata 8-
10 mg; dan merupakan suatu cadangan hormon dan tirosin teriodinisasi yang melindungi
organisme terhadap periode kekurangan iodin. Dari pool cadangan ini, sekitar 75 g iodida
hormonal dilepaskan ke dalam sirkulasi setiap harinya. Iodida hormonal ini sebagian besar
berikatan dengan protein pengikat-tiroksin serum, membentuk suatu pool sirkulasi dari sekitar
600 g I hormonal (sebagai T3 dan T4). Dari pool ini, sekitar 75 g I sebagai T3 dan T4 diambil
dan dimetabolisir oleh jaringan. Sekitar 60 g I dikembalikan ke pool iodida dan sekitar 15 g I
hormonal dikonjugasi dengan gulkoronida atau sulfat dalam hait dan diekskresikan ke dalam
feses.

4. Metode Contoh
Contoh-contoh terurai, lebih-lebih yang memerlukan penjelasan rinci tentu harus disusun
berbentuk paragraph.

Contoh :
Pangan merupakan kebutuhan dasar yang paling esensial bagi manusia untuk mempertahankan
hidup dan kehidupan. Pangan sebagai sumber zat gizi misalnya karbohidrat, lemak, protein,
vitamin, mineral, serat dan air, menjadi landasan utama manusia untuk mancapai kesehatan dan
kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Siklus kehidupan misalnya janin dalam kandungan,
balita, anak, remaja, serta dewasa maupun usia lanjut. Dari keseluruhan siklus tersebut
membutuhkan makanan yang sesuai dengan syarat gizi untuk mempertahankan hidup, tumbuh
dan berkembang.

5. Metode Klasifikasi
Bila kita akan mengelompokan benda-benda atau non benda yang memiliki persamaan ciri seperi
sifat, bentuk, ukuran, dan lain-lain, cara yang paling tepat adalah dengan metode klasifikasi.
Contoh :
Terdapat sekitar 80 spesies tanaman yang termasuk dalam genus Morinda. Menurut H.B.Guppy,
ilmuwan Inggris yang mempelajari Mengkudu sekitar tahun 1900, kira-kira 60 persen dari 80
spesies Morinda tumbuh di pulau-pulau besar maupun kecil, di antaranya Indonesia, Malaysia
dan pulau-pulau yang terletak di Lautan India dan Lautan Pasifik. Hanya sekitar 20 spesies
Morinda yang mempunyai nilai ekonomis, antara lain: Morinda bracteata, Morinda officinalis,
Morinda fructus, Morinda tinctoria dan Morinda citrifolia. Morinda citrifolia adalah jenis yang
paling populer, sehingga sering disebut sebagai "Queen of The Morinda". Spesies ini mempunyai
nama tersendiri di setiap negara, antara lain Noni di Hawaii, Nonu atau Nono di Tahiti, Cheese
Fruit di Australia, Mengkudu, Pace di Indonesia dan Malaysia.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Paragraf (Alenia) merupakan kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan lebih luas
dari pada kalimat. Alenia merupakan kumpulan kalimat, tetapi kalimat yang bukan sekedar
berkumpul, melinkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dalam satu rangkaian yang
membentuk suatu kalimat.

Pada umumnnya paragraf itu ada dua macam, yaitu paragraf deduktif dan induktif.

B. Saran
Dalam membuat suatu paragraf yang terdiri dari beberapa kalimat. Kita harus mengetahui dahulu
kalimat yang akan disusun menjadi sebuah paragraf. Tersebut harus memilikihubungan yang erat
dan memenuhi syarat-syarat yang telah kami uraikan di BAB sebelumnnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budiharso, Teguh. 2009. Panduan Lengkap Penulisan Karya Ilmiah. Angkasa.


Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahsa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Depdiknasa.
Dini, Dahlia dan Sitorus. 2004. Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia. Bandung : CV Yrama
Widya.
Herman J. Waluyo. 2001. Teori Drama dan Pengajaran. Yogyakarta : Hanindita.
Indriaty, Etty. 2008. Menulis Karya Ilmiah . Gramedia Pustaka Utama.
Muda, Ahmad A.K. 2008. Kamus Saku Bahasa Indonesia Idx Ed.terbaru. Tititk Terang.
Rahardi, Kunjana. 2010. Teknik-teknik Pengembangan Paragraf Karya Tulis Ilmiah. Graha
Media.
Wahyu R.N, Tri. 2006. Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Gunadarma
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : PT Erlangga
Wiyanto, Asul. 2001. Diskusi. Jakarta : PT Grasindo.
Wiyanto, Asul. 2001. Terampil Pidato. Jakarta : PT Grasindo.
Wiyanto, Asul. 2006. Terampil Menulis Paragraf. Grasindo.
Wuryanto, R. 2010. Pedoman Lengkap Eyd ( Ejaan Yang Disempurnakan ). Paung Bona Jaya.
http://fusliyanto.wordpress.com/kumpulan-materi-bahasa-indonesia-3/
http://ellopedia.blogspot.com/2010/09/paragraf.html
http://bloganakfilkom.blogspot.com/2010/12/metode-pengembangan-paragraph.html (20 : 56
29/09/14)

BAB II
PARAGRAF
2.2 STRUKTUR PARAGRAF

Paragraf terdiri atas kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat
pendukung. Kalimat topik merupakan kalimat terpenting yang berisi ide pokok alinea.
Sedangkan kalimat penjelas atau kalimat pendukung berfungsi untuk menjelaskan atau
mendukung ide utama. Untuk mendapatkan paragraf yang baik perlu diperhatikan hal-hal
berikut :

1. Posisi Paragraf

Sebuah karangan dibangun oleh beberapa bab. Bab-bab suatu karangan yang
mengandung kebulatan ide dibangun oleh beberapa anak bab. Anak bab dibangun oleh beberapa
paragraf. Jadi, kedudukan paragraf dalam karangan adalah sebagai unsur pembangun anak bab,
atau secara tidak langsung sebagai pembangun karangan itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa
paragraf merupakan satuan terkecil karangan, sebab di bawah paragraf tidak lagi satuan yang
lebih kecil yang mampu mengungkapkan gagasan secura utuh dan lengkap.

2. Batasan Paragraf

Pengertian paragraf ini ada beberapa pendapat, antara lain :


1. Kamus Besar Bahasa Indonesia : paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya
mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru)
2. The Jiang Gie dan A. Didyamartaya : paragraf ialah satuan pembagian lebih kecil di bawah
sesuatu bab dalam buku. Paragraf biasanya diberi angka Arab.

3. Kegunaan Paragraf

Paragraf bukan berkaitan dengan segi keindahan karangan itu, tetapi pembagian per
paragraf ini memiliki beberapa kegunaan, sebagai berikut:
1. Sebagai penampung fragmen ide pokok atau gagasan pokok keseluruhan paragraph
2. Alat untuk memudahkan pernbaca memahami jalan pikiran penulisnya
3. Penanda bahwa pikiran baru dimulai,
4. Alat bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikiran secara sistematis
5. Dalam rangka keseluruhan karangan, paragraf dapat berguna bagi pengantar, transisi, dan
penutup.

2
4. Unsur-Unsur Paragraf

Ialah beberapa unsur yang pembangun paragraf, sehingga paragraf tersebut tersusun
secara logis dan sistematis. Unsur-unsur paragraf itu ada empat macam, yaitu :

(1) transisi,
(2) kalimat topik,
(3) kalimat pengem-bang, dan
(4) kalimat penegas.

Keempat unsur ini tampil secara bersama-sama atau sebagian, oleh karena itu, suatu
paragraf atau topik paragraf mengandung dua unsur wajib (katimat topik dan kalimat
pengembang), tiga unsur, dan mungkin empat unsur.

5. Struktur Paragraf

Mendapatkan banyaknya unsur dan urutan unsur yang pembangun paragraf, struktur
paragraf dapat dikelompokkan menjadi delapan kemungkinan, yaitu :
1. Paragraf terdiri atas transisi kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat
penegas.
2. Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat
penegas.
3. Parazraf terdiri atas kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat peneges.
4. Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
5. Paragraf terdiri atas transisi berupa kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang.
6. Paragraf terdiri atas kalimat topik dan katimat pengembang.
7. Paragraf terdiri atas kalimat pengembang dan katimat topik.

engertian paragraf/Alinea
Paragraf disebut juga alinea. Kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Inggris
paragraph. Kata Inggris paragraf terbentuk dari kata Yunani para yang berarti sebelum dan
grafein menulis atau menggores. Sedangkan kata alinea dari bahasa Belanda dengan ejaan
yang sama. Alinea berarti mulai dari baris baru (Adjad Sakri,1992). Paragraf atau alinea tidak
dapat dipisah-pisahkan seperti sekarang, tetapi disambung menjadi satu. Menurut Lamuddin
Finoza, paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan gabungan beberapa
kalimat, sedangkan dalam bahasa Yunani, sebuah paragraf (paragraphos, menulis di samping
atau tertulis di samping) adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Jadi, paragraf
atau alinea adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan yang mana cara penulisannya
harus dimulai dengan baris baru dan kalimat yang membentuk paragraf atau alinea harus
memperlihatkan kesatuan pikiran.
2. Fungsi paragraf/Alinea
Paragraf/alinea memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengekspresikan gagasan tertulis dengan bentuk suatu pikiran yang tersusun logis dalam satu
kesatuan.
b. Menandai peralihan gagasan baru dalam sebuah karangan yang terdiri dari beberapa paragraf.
c. Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, sehingga pembaca dapat memahami
dengan mudah.
d. Memudahkan pengendalian variabel dalam karangan.
e. Alat untuk memudahkan pernbaca memahami jalan pikiran penulisnya

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan baik.

Adapun tujuan pembuatan makalah ini yakni untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia.

Penyelesaian makalah ini membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini. Seperti peribahasa Tak ada gading yang tak retak maka dari itu kritik serta saran
saya butuhkan untuk menyempurnakan makalah yang telah kami susun.

Semoga makalah yang berjudul syarat-syarat paragraf yang kohesif dan koheren dapat
memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia dengan sempurna dan mendapatkan nilai yang
memuaskan. Selain itu juga dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, serta dapat dijadikan
acuan pembaca dalam memahami pengertian, contoh, unsur-unsur dan bagian dari paragraf yang
koheren dan kohesif serta perbedaanya.

Makale,10 Januari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ iv
B. Tujuan Penulisan......................................................................................... iv
C. Rumusan Masalah ...................................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian paragraf kohesif dan paragraf koheren............................. 1
B. Menentukan Penanda Kohesif dan Koherensi dalam Paragraf.......... 1-2
C.1 Kepaduan Makna (Koheren) ............................................................ 2-5
C.2 Keterpaduan Bentuk (Kohesif) ....................................................... 5
C.2.1Kohesi gramatikal...................................................................... 6-11
C.2.2Kohesi leksikal........................................................................... 11-12
D. Syarat paragraf kohesif dan koheren.................................................. 12-13
E. Langkah-langkah menyusun paragraf yang kohesif dan koheren............. 13
F. Ciri-ciri paragraf yang kohesif dan koheren....................................... 13
G. Persamaan, perbedaan, hal-hal yang dapat merusak paragraf yang kohesif dan koheren, dan
contoh paragraf kohesif tapi juga koheren................................................... 13-14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................. 15
B. Saran............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 16
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah kami yang berjudul syarat-syarat paragraf yang kohesif dan koheren adalah menjadi
tanggung jawab kelompok kami untuk membahasnya secara tuntas. Tak hanya itu banyak orang
yang belum begitu memahami paragraf kohesif dan paragraf koheren. Hal ini perlu untuk kita
ketahui bersama guna meningkatkan pengetahuan kita mengenai paragraf kohesif dan parafraf
koheren secara baik dan benar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian paragraf yang kohesif dan koheren ?
2. Apa saja penanda paragraf yang kohesif dan koheren ?
3. Contoh paragraf kohesif dan contoh paragraf koheren?
4. Apa unsur-unsur yang terdapat dalam paragraf kohesif dan koheren?
5. Contoh paragraf yang kohesif juga koheren ?
6. Apa perbedaan dan persamaan pargraf yang kohesif dan paragraf yang koheren?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah


1. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk membahas syarat paragraf yang kohesif dan
koheren.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia, Universitas Kristen Indonesia Toraja
program studi Pendidikan Matematika.
3. Manfaat penulisan makalah ini yaitu membantu kita dalam mengetahui paragraf yang koheren
dan kohesif secara lebih jelas.
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian paragraf kohesif dan paragraf koheren.


Paragraf adalah gabungan kalimat yang mengandung satu gagasan pokok dan didukung
oleh gagasan-gagasan penjelas. Kohesif merujuk pada perpaduan bentuk kalimat, sedangkan
koheren merujuk pada perpaduan makna kalimat. Paragraf kohesif merupakan hubungan
perkaitan antarposisi yang perkaitannya tidak secara eksplisit atau nyata dapat dilihat dari
kalimat-kalimat yang mengungkapkannya. Paragraf koheren merupakan hubungan perkaitan
antarproposisi yang perkaitannya tidak secara eksplisit atau nyata dapat dilihat dari kalimat-
kalimat yang mengungkapkannya. Yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan
hubungan antara sebuah kalimat dan kalimat yang lain yang membentuk alinea atau paragraf,
wajar dan mudah dipahami tanpa kesulitan yang menghalangi, dan tidak pula terasa pikiran
melompat-lompat sehingga membingungkan, dan membicarakan satu topik. Sedangkan
kohesi (unity) adalah saling dukung mendukung antara kalimat yang satu dengan kalimat
yang lain, artinya bahwa baik contoh, alasan, ataupun fakta yang digunakan tidak
menyimpang dari pikiran utama.
B. Menentukan Penanda Kohesif dan Koherensi dalam Paragraf
Alat penanda kohesif dan koherensi dalam paragraf antara lain sebagai berikut:
a. Penanda hubungan kelanjutan, misalnya: dan, lagi, serta, lagi pula, dan tambahan lagi.
b. Penanda hubungan urutan waktu, misalnya: dahulu, kini, sekarang, sebelum, setelah,
sesudah, kemudian, sementara itu, dan sehari kemudian.
c. Penanda klimaks, misalnya: paling, se-nya, dan ter-.
d. Penanda perbandingan, misalnya: sama, seperti, ibarat, bak, dan bagaikan.
e. Penanda kontras, misalnya: tetapi, biarpun, walaupun, dan sebaliknya.
f. Penanda ilustrasi, misalnya: umpama, contoh, dan misalnya.
g. Penanda sebab-akibat, misalnya: karena, sebab, dan oleh karena.
h. Penanda kesimpulan, misalnya: kesimpulan, ringkasnya, garis besarnya, dan rangkuman.
C.1 Kepaduan Makna (Koheren)
Suatu paragraf dikatakan koheren, apabila ada kekompakan antara gagasan yang
dikemukakan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Kalimat-kalimatnya memiliki
hubungan timbal balik serta secara bersama-sama membahas satu gagasan utama. Tidak
dijumpai satu pun kalimat yang menyimpang dari gagasan utama ataupun loncatan-loncatan
pikiran yang membingungkan.
Contoh:
Buku merupakan investasi masa depan. Buku adalah jendela ilmu pengetahuan yang
bisa membuka cakrawala seseorang. Dibanding media pembelajaran audiovisual, buku lebih
mampu mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi anak-anak karena membuat otak
lebih aktif mengasosiasikan simbol dengan makna. Namun demikian, minat dan kemampuan
mambaca tidak akan tumbuh secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan pembiasaan.
Menciptakan generasi literat membutuhkan proses dan sarana yang kondusif.
Yang termasuk unsur-unsur koheren meliputi:
1. Penambahan.
Sarana penghubung yang berupa penambahan itu antara lain: dan, juga, lagi pula,
selanjutnya, seperti tertera pada contoh berikut:
Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja bergotong-
royong menumpas hama tikus di sawah-sawah di desa kami. Selain daripada menyelamatkan
tanaman, juga upaya itu akan meningkatkan hasil panen. Selanjutnya upaya itu akan
meningkatkan pendapatan masyarakat. Lagi pula upaya ini telah lama dianjurkan oleh
pemerintah kita.
2. Repetisi.
Penggunaan repetisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensi wacana, terlihat
pada contoh di bawah ini.
Dia mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang
ibu. Saya menerima kebenaran ucapan itu. Betapa tidak. Kasih sayang pertama saya peroleh
dari ibu saya. Ibu melahirkan saya. Ibu mengasuh saya. Ibu menyusui saya. Ibu
memandikan saya. Ibu menyuapi saya. Ibu meninabobokan saya. Ibu mencintai dan
mengasihi saya. Saya tidak bisa melupakan jasa dan kasih sayang ibu saya seumur hidup.
Semoga ibu panjang umur dan dilindungi Tuhan.
3. Pronomina
Sarana penghubung yang berupa kata ganti orang, terlihat pada contoh berikut ini:
Rumah Lani dan rumah Mina di seberang sana. Mereka bertetangga. Lani membeli
rumah itu dengan harga lima juta rupiah. Harganya agak murah. Dia memang bernasib baik.
4. Sinonimi
Pada contoh berikut ini terlihat penggunaan sarana koherensi wacana yang berupa
sinonimi atau padanan kata (pengulangan makna).
Memang dia mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Solo. Pacarnya itu memang
cantik, halus budi bahasa, dan bersifat keibuan sejati. Tak salah dia memilih kekasih, buah
hati yang pantas kelak dijadikan istri, teman hidup selama hayat dikandung badan.
5. Totalitas Bagian
Kadang-kadang, pembicaraan kita mulai dari keseluruhan, baru kemudian kita beralih
atau memperkenalkan bagian-bagiannya. Penggunaan sarana koherensif seperti yang
dimaksudkan, terlihat pada contoh berikut ini. Totalitas bagian bisa diartikan pernyataan yang
berpola umum-khusus.
Saya membeli buku baru. Buku itu terdiri dari tujuh bab. Setiap bab terdiri pula dari
sejumlah pasal. Setiap pasal tersusun dari beberapa paragraf. Seterusnya setiap paragraf
terdiri dari beberapa kalimat. Selanjutnya kalimat terdiri atas beberapa kata. Semua itu harus
dipahami dari sudut pengajaran wacana.
6. Komparasi
Komparasi atau perbandingan pun dapat menambah serta meningkatkan
kekoherensifan wacana. Komparasi digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda,
seperti dalam contoh berikut ini.
Sama halnya dengan Paman Lukas, kita pun harus segera mendirikan rumah di atas
tanah yang baru kita beli itu. Sekarang rumah Paman Lukas itu hampir selesai. Mengapa kita
tidak membuat hal yang serupa selekas mungkin? Kita juga sanggup berbuat hal yang
sama, takkan lebih dari itu. Tetapi, tidak seperti rumah Paman Lukas yang bertingkat, kita
akan membangun rumah yang besar dan luas. Kita tidak perlu mendirikan rumah bertingkat
karena tanah kita cukup luas.
7. Penekanan
Dengan sarana penekanan pun kita dapat pula menambah tingkat kekoherensifan
wacana. Penekanan digunakan untuk menekankan yang dianggap penting, seperti terlihat
pada contoh berikut ini.
Bekerja bergotong-royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya.
Jembatan sepanjang tujuh kilometer yang menghubungkan kampung kita ini dengan
kampung di seberang ini telah selesai kita kerjakan. Jelaslah hubungan antara kedua
kampung, berjalan lebih lancar. Sudah tentu hal ini memberi dampak positif bagi masyarakat
kedua kampung.
8. Kontras
Juga dengan kontras atau pertentangan para penulis dapat menambah kekoherensifan
karyanya. Contoh penggunaan sarana seperti ini terlihat pada berikut ini.
Aneh tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar,
tetapi setiap ujian selalu tidak lulus. Namun demikian, dia tidak pernah putus asa. Dia
tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebaliknya, dia semakin rajin belajar.
9. Simpulan
Dengan kata-kata yang mengacu kepada hasil atau simpulan pun, kita dapat juga
meningkatkan kekoherensifan wacana. Penggunaan sarana seperti itu dapat dilihat pada
contoh berikut ini.
Pepohonan telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di
kampus kami. Burung-burung beterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi.
Udara segar dan sejuk nyaman. Jadi penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah
kini keadaan kampus kami, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, para
sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.
10. Contoh.
Dengan pemberian contoh yang tepat dan serasi, kita dapat pula menciptakan
kekoherensifan wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Halaman rumah kami telah berubah menjadi warung hidup. Di pekarangan itu
ditanami kebutuhan dapur sehari-hari, umpamanya: bayam, tomat, cabai, talas, singkong,
dan lain-lain. Ada juga pekarangan rumah yang berupa apotek hidup. Betapa tidak. Di
pekarangan itu ditanami bahan obat-obatan tradisional, misalnya: kumis kucing, lengkuas,
jahe, kunyit, sirih, dan lain-lain. Kelebihan kebutuhan sehari-hari dari warung dan apotek
hidup itu dapat pula dijual ke pasar, sebagai contoh: bayam, cabai, jahe, dan sirih.
11. Paralelisme
Pada contoh berikut ini terlihat penggunaan kesejajaran atau paralelisme klausa
sebagai sarana kekoherensifan wacana. Kesejajaran tersebut dinyatakan dalam satu kalimat.
Kesejajaran tersebut bisa berupa subjek predikat, subjek predikat objek, atau yang lain.
Contohnya:
Waktu dia datang, memang saya sedang asik membaca, saya sedang tekun
mempelajari buku baru mengenai wacana. Karena asiknya, saya tidak mengetahui, saya
tidak mendengar bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya.
12. Waktu
Kata-kata yang mengacu pada tempat dan waktu pun dapat meningkatkan
kekoherensifan wacana, seperti terlihat pada contoh berikut ini.
Sementara itu tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Ruangan terasa kian sempit.
Tidak lama kemudian, anak saya mengangkat barang itu dan menaruhnya di atas lemari.
C.2 Keterpaduan Bentuk (Kohesif)
Apabila koheren berhubungan dengan isi, maka kohesif atau keterpaduan bentuk
berkaitan dengan penggunaan kata-katanya. Bisa saja satu paragraf mengemukakan satu
gagasan utama, namun belum tentu paragraf tersebut dikatakan kohesif jika kata-katanya
tidak padu.
Contoh:
Pada tahun 1997, produksi padi turun 3,85 persen. Akibatnya, impor beras meningkat,
diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 1998. Sesudah swasembada pangan tercapai pada tahun
1984, pada tahun 1985, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton
pada tahun 1993. Akan tetapi, pada tahun 1994, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu
ton. Sejak itu, impor beras meningkat dan pada tahun 1997 mencapai 2,5 juta ton.
Paragraf di atas mengemukakan satu gagasan utama, yaitu mengenai masalah naik
turunnya produksi beras Indonesia. Dengan demikian koheren kalimat tersebut sudah
terpenuhi dan paragraf tersebut memiliki kohesivitas yang baik sehingga gagasan tersebut
lebih dipahami.
Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.
Kohesi gramatikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal
artinya kepaduan bentuk sesuai dengan kata.
C.2.1Kohesi gramatikal meliputi:
1) Referensi (pengacuan)
Referensi merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat
dari acuannya, referensi terbagi atas:
1. Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana.
Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu
benda berpijar yang menerangi alam ini.
2. Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana.
Referensi endofora terbagi atas:
a. Referensi anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu,
mengacu yang sebelah kiri.
Contoh:
Peringatan HUT ke-66 Indonesia ini akan di ramaikan dengan pagelaran pesta kembang
api.
b. Referensi katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu
yang sebelah kanan.
Contoh:
Kamu harus pergi! Ayo, cici cepatlah!
Di lihat dari klasifikasinya, referensi terbagi atas:
1. Referensi persona yaitu pengacuan satual lingual berupa pronomina atau kata ganti orang.
Referensi persona Tunggal Jamak
Persona pertama Aku, saya Kami, kita
Persona kedua Kamu, engkau, anda Kalian, kami sekalian
Persona ketiga Dia, ia, beliau Mereka

Contoh: Firdaus, kamu harus mandi.


2. Referensi demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk.
Biasanya menggunakan kata : kini, sekarang, saat ini, di sini, di situ, ini, itu, dan sebagainya.
Contoh:
Pohon-pohon kelapa itu, tumbuh di tanah lereng diantara pepohonan lain yang rapat
dan rimbun.
3. Referensi interogatif yaitu pengacuan satuan lingual berupa kata tanya.
contoh:
Kamu mau kemana?
4. Referensi komparatif yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk membandingkan
satual lingual lain.
contoh:
Tidak berbeda jauh dengan ibunya, Nita orangnya cantik, ramah, dan lemah lembut.
2) Substitusi ( penggantian)
Substitusi diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam
wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat
dibedakan atas:
1. Substitusi nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa
kata benda.
Contoh:
Memang Soni mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu
memang cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
2. Substitusi verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa
kata kerja.
Contoh:
Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore.
Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak
lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
3. Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang
berupa frasa.
Contoh:
Hari ini hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok
Nenek di desa.
4. Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang
berupa klausa.
Contoh:
Nida : jika perubahan yang dialami oleh azam tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-
orang di sekitarnya, mungkin hal itu dikarenakan oleh kenyataan bahwa orang orang tesebut
banyak yang tidak sukses seperti azam.
Barik : tampaknya memang begitu!
3) Elipsis atau pelesapan
Elipsis adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Adapun
fungsi dari elipsis yaitu:
1. Untuk efektifitas kalimat
2. Untuk mencapai nilai ekkonomis dalam pemakaian bahasa
3. Untuk mencapai aspek kepaduan wacana
4. Untuk mengaktifkan pikiran pendengar atau pembaca terhadap sesuatu yang di ungkapkan
dalam satuan kata.
Contoh:
Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat
yang menentuksn dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih.
Kalimat kedua yang berbunyi terima kasih merupakan elipsis. Unsur yang hilang adalah
subjek dan predikat. Kalimat tersebut selengkapnya berbunyi: Tuhan selalu memberikan
kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan
skripsi ini. Saya mengucapkan terima kasih.
Kakak: Kapan adik datang?
Adik : tadi siang.
Pernyataan adik tersebut merupakan pelesapan subjek dan predikat. Kalimat tersebut
selengkapnya berbunyi: Saya datang tadi siang.
4) Konjungsi (perangkaian)
Konjungsi adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang
satu dengan unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf.
Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
1. Sebab-akibat
Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab
terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya. Konjungsi yang
digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh karena itu, dengan demikian
dan sebagainya.
Contoh:
Adik sakit sehingga tidak masuk sekolah.
2. Pertentangan
Hubungan pertentangan terjadi apabila ada dua ide atau proposisi yang menunjukkan
kebalikan atau kekontrasan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun.
Contoh:
Nyamuk berseliweran, pengemis, pelacur, pencoleng, dan gelandangan berkeliaran.
Namun, di kampung kumuh tersebut sedang dibangun sekolah mewah.
3. Kelebihan atau eksesif
Hubungan eksesif digunakan untuk menyatakan kelebihan, ditandai dengan konjungsi
malah.
Contoh:
Karena tadi malam kurang istirahat, dia tertidur di dalam kelas. Malah tugasnya belum
dikerjakan pula.
4. Perkecualian atau eksepsif
Hubungan eksepsif digunakan untuk menyatakan pengecualian, ditandai dengan konjungsi
kecuali.
Contoh:
Anda tidak boleh mengkonsumsi obat tersebut kecuali dengan persetujuan dokter.
5. Tujuan
Hubungan tujuan terjadi sebagai pewujudan untuk menyatakan tujuan yang ingin dicapai.
Konjungsi yang digunakan yaitu: agar dan sehingga.
Contoh:
Agar naik kelas, kamu harus rajin belajar.
6. Penambahan atau aditif
Penambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan
informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih.
Konjungsi yang digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu.
Contoh:
Tingkah lakunya menawan. Tutur katanya sopan. Murah senyum, jarang marah, dan
tidak pernah berbohong. Juga tidak mau mempercakapkan orang lain. Selain itu, ia suka
menolong sesama teman. Dan dia penyabar.
7. Pilihan atau alternatif
Pilihan digunakan menyatakan pilihan antara dua hal. Konjungsi yang digunakan yaitu
atau dan apa.
Contoh:
Pelajaran apa yang lebih kamu suka IPA atau IPS?
8. Harapan atau optatif
Konjungsi harapan digunakan untuk menyatakan harapan yang ingin dicapai. Konjungsi
yang digunakan yaitu semoga, moga-moga.
Contoh:
Semoga, dia lulus dengan nilai terbaik.
9. Urutan atau sekuential
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan kesejajaran atau urutan waktu.
Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula.
Contoh:
Intan bangun tidur pukul 05.00, kemudian ambil air wudlu. Setelah itu dia menunaikan
sholat subuh dengan khusyuk. Lalu tak lupa ia mengaji
10. Syarat
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan syarat. Konjungsi yang
digunakan yaitu: apabila dan jika.
Contoh:
Jika bulan ini aku bisa bekerja lebih giat maka gajiku akan bertambah.
11. Cara
Merupakan proposisi yang menunjukkan suatu hubungan cara.
Konjungsi yang digunakan yaitu: dengan cara.
Contoh:
Mungkin dengan cara seperti ini, aku membantu beban keluarga.
Yang selanjutnya adalah kohesi leksikal. Kohesi leksikal yaitu perpaduan bentuk dalam
struktur kata.
C.2.2Kohesi leksikal meliputi:
1) Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif antar
kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual.
Contoh:
Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum
kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui
dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
2) Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata.
Contoh:
Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang
rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu
dikenang sepanjang masa.
3) Antonim
Antonim merupakan perlawanan kata.
Contoh:
Dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga
setempat mengadakan kerja bakti. Bagi yang putri sebagian besar membawa sapu,
sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek ikut serta
meramaikan peringatan tersebut.
4) Hiponim
Hiponim merupakan sebuah pernyataan yang berpola umum-khusus
Contoh:
Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga diantaranya
mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
5) Kolokasi
Kolokasi merupakan sebuah pernyataan yang berpola khusus-umum.
Contoh:
Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari
lembaran-lembaran kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi
perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat
media massa, namanya menjadi terkenal.
6) Ekuivalensi
Ekuivalensi merupakan kesejajaran dalam sebuah kalimat.
Contoh:
Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain mengajarkan
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.
D. Syarat paragraf kohesif dan koheren:
a. Kalimatnya harus memiliki hubungan keterpaduan bentuk dan keterpaduan makna yang
membahas satu gagasan utama.
b. Hubungan antarkalimat harus satu kesatuan (padu).
c. Harus memenuhi kriteria paragraf yang efektif.
d. Memenuhi unsur-unsur paragraf yang kohesif dan koheren.
E. Untuk menyusun paragraf yang kohesif dan koheren harus melalui langkah-langkah
yaitu:
1) Menentukan kalimat topik.
2) Menentukan kalimat penjelas.
3) Menentukan kalimat-kalimat pengembang.
4) Menentukan kalimat kesimpulan.
F. Ciri-ciri paragraf yang kohesif dan koheren:

1. Memiliki keterpaduan bentuk dengan kalimat lainnya.

2. Memiliki keterpaduan makna dengan kalimat lainnya.

3. Hanya memiliki satu gagasan utama.

4. Kalimatnya saling terkait.

G. Persamaan, perbedaan, hal-hal yang dapat merusak paragraf yang kohesif dan
kohere, dan contoh paragraf kohesif tapi juga koheren.
Perbedaan paragraf kohesif dan paragraf koheren
Paragraf kohesif Paragraf koheren
1. Unsur kepaduan makna kalimat.
1. Unsur kepaduan pembentuk kalimat.
2. Hubungan keterkaitan antarproposisi.
2. Hubungan keterkaitan antarposisi.
Persamaan antara paragraf kohesif dan paragraf koheren:

1. Sama-sama membahas satu gagasan utama.

2. Keduanya merupakan syarat utama kewacanaan atau tekstualitas pembentuk kalimat


yang baik dan efektif.

3. Menujukkan hubungan antar kalimat.

Hal-hal yang dapat merusak paragraf koheren dan paragraf kohesif:


a) Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
b) Kesalahan menggunakan kata depan,kata penghubung dan sebagainya.
c) Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih
atau hakekatnya mengundang kontradiksi.
d) Kesalahan menempatkan keterangan aspek (sudah,telah,akan,belum,dan sebagainya).

Contoh paragraf yang kohesif tetapi juga koheren:


Pelajaran bahasa indonesia serintanggkali dirasakan membosankan sehingga kurang
mendapat perhatian siswa. Hal itu diantaranya disebabkan oleh materi yang disajikan guru
merupakan masalah yang telah diketahui siswa atau masalah yang tidak diperlukan oleh
siswa. Di sisi lain, juga disebabkan oleh materi pelajaran bahasa indonesia yang sarat dengan
teori tentang bahasa dan bukan prinsip-prinsip keterampilan berbahasa sesuai dengan
kebutuhan siswa. Di samping itu, siswa yang telah mempelajari bahasa indonesia sejak duduk
di bangku SD, merasa sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia. Akibatnya, memilih
atau menentukan bahan pelajaran yang disajikan kepada siswa merupakan kesulitan bagi
pengajar bahasa Indonesia.
BAB III PENUTUP
C. Kesimpula

Berdasarkan rumusan masalah, pembahasan dan tujuan beserta manfaatnya dapat kami
tarik kesimpulan bahwa ada paragraf yang kohesif sekaligus koheren, koheren tetapi tidak
kohesif. Paragraf koheren dan kohesif hendaknya memenuhi persamaan unsur-unsur dan
penanda yang benar. Paragraf koheren harus memiliki satu kesatuan makna yang sama atau
ide kalimat-kalimat pendukungnya tidak melenceng dari ide pokok paragraf. Sama halnya
dengan paragraf koheren , paragraf kohesif juga harus mempunyai kepaduan bentuk kalimat
paragraf yang baik.

D. Saran
DAFTAR PUSTAKA

http://archigakiarataka.blogspot.com/2012/01/kohesi-dan-koherensi.html?=1
http://blifia.blogspot.com/2012/05/kohesi-dan-koherensi.html?=1
http://www.plengdut.com/2013/07/mengaplikasi-aspek-kohesi-dan-koheren.html?m=1
Tukan,P.2005.Mahir Berbahasa Indonesia 2 untuk SMA/MA kelas IX Program Studi
Bahasa.Jakarta:Yudistira

Pengertian Kohesi dan Koherensi

Kohesi dan koherensi merupakan syarat utama kewacanaan atau tekstualitas, Keduanya
merupakan konsep kepaduan. Pengertian Kohesi adalah KeterpaduanBentuk sedangkan
koherensi adalah KepaduanMakna. Teks atau wacana yang kohesif berarti setiap unsur
lahirnya terpadu secara internal dalam satuan teks tersebut. Tegasnya, setiap komponen teks
lahir, misalnya kata aktual yang didengar atau dibaca, saling terhubung dalam rangkaian.
Unsur-unsur komponen lahirnya harus saling tergantung. Jadi, kehadiran yang satu serasi
dengan kehadiran yang lain baik bentuk maupun distribusinya. Contoh lain dari unsur teks
lahir adalah wujud tata bahasanya atau unsur-unsur konvensi lain (kesepakatan terkadang
diwujudkan dalam aturan tertulis).

Perbedaan antara kohesi dan koherensi pada sesuatu yang terpadu atau yang berpadu. Pada
kohesi, yang terpadu adalah unsur-unsur lahiriah teks, termasuk struktur lahir (tata bahasa).
Penggalan teks percakapan dua orang berikut dapat dijadikan contoh.

Hei, apa kabar? Oh, kamu. Kabar baik. Tinggal di mana? Masih di tempat yang dulu?
Iya, di situlah saya tinggal sampai sekarang.

Semua unsur lahir dalam penggalan teks tersebut terpadu, baik secara leksikal maupun
gramatikal. Sementara itu, keberpaduan atau koherensi mengharuskan unsur-unsur batinnya
(makna, konsep, dan pengetahuan) saling berpadu. Misalnya, ujar apa kabar biasanya
digunakan oleh orang yang sudah saling kenal dan relative (hubungan kerabat) sudah agak
lama tidak saling jumpa. Pembicara pertama mengujarkannya kepada yang kedua dan yang
kedua menyambut dengan akrab dan mengisyaratkan pemahaman bahwa mereka sudah lama
tidak saling jumpa. Apa lagi, pengujar tersebut melanjutkan dengan ujaran berikutnya, yang
memperkuat tafsiran bahwa dia merasa sudah lama tidak jumpa dengan pengujar pertama.

Contoh Koherensi
Bukumerupakaninvestasimasadepan.Bukuadalahjendelailmupengetahuanyangbisa
membukacakrawalaseseorang.Dibandingmediapembelajaranaudiovisual,bukulebih
mampumengembangkandayakreativitasdanimajinasianakanakkarenamembuatotak
lebihaktifmengasosiasikansimboldenganmakna.Radioadalahmediaalatelektronik
yangbanyakdidengardimasyarakat.Namundemikian,minatdankemampuanmambaca
tidakakantumbuhsecaraotomatis,tetapiharusmelaluilatihandanpembiasaan.
Menciptakangenerasiliteratmembutuhkanprosesdansaranayangkondusif.

Paragraf di atas dikatakan tidak koheren karena terdapat satu kalimat yang melenceng dari
gagasan utamanya yaitu kalimat yang dicetak tebal.

Contoh Kohesi

Padatahun1997,produksipaditurun3,85persen.Imporberasmeningkat,diperkirakan
menjadi3,1tontahun1998.swasembadapangantercapaipadatahun1984,padatahun1985,
kitamengeksporsebesar371,3ributonberas,bahkan530,7ributonpadatahun1993.pada
tahun1994,neracaperdaganganberaskitatekor400ributon.Imporberasmeningkatdan
padatahun1997mencapai2,5jutaton.

Paragraf di atas mengemukakan satu gagasan utama, yaitu mengenai masalah naik turunnya
produksi beras Indonesia. Dengan demikian koherensi kalimat tersebut sudah terpenuhi,
namun paragraf tersebut dikatakan tidak memiliki kohesivitas yang baik sehingga gagasan
tersebut sulit dipahami. Paragraf tersebut perlu diperbaiki, misalnya dengan memberikan kata
perangkai seperti berikut ini.
Pada tahun 1997, produksi padi turun 3,85 persen. Akibatnya, impor beras meningkat,
diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 1998. Sesudah swasembada pangan tercapai pada tahun
1984, pada tahun 1985, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton
pada tahun 1993. Akan tetapi, pada tahun 1994, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu
ton. Sejak itu, impor beras meningkat dan pada tahun 1997 mencapai 2,5 juta ton.

A. PENGERTIAN PARAGRAF

Paragraf merupakan suatu bagian dari karangan yang di dalamnya terdiri atas beberapa
kalimat yang selalu berkaitan satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh
membentuk satu pikiran utama. Di dalam paragraf biasanya terdapat satu kalimat yang
menjadi pokok pikiran dari paragraf tersebut yang biasa kita kenal dengan kalimat utama.
Syarat paragraf yang baik adalah kepaduan paragraf, kesatuan paragraf, dan kelengkapan
paragraf.

1. Kepaduan paragraf

Langkah-langkah yang harus kita tempuh adalah adanya kemampuan untuk merangkai
kalimat sehingga berkaitan satu sama lain sehingga logis dan serasi. Lalu gunakanlah kata
penghubung yang dapat membuat kalimat saling berkaitan. Terdapat dua jenis kata
penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat.
Intrakalimat yaitu kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, contohnya:
karena, sehingga, tetapi, dsb. Sedangkan antarkalimat yaitu kata yang menghubungkan
kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian
dan sebagainya.

Contoh : Remaja mempunyai banyak potensi untuk dikembangkan. Remaja terkadang tidak
menyadari bahwa ia memiliki banyak kelebihan yang bisa digali dan diberdayakan guna
menyongsong masa depan. Mereka perlu bantuan untuk dimotivasi dan diberi wawasan.
Anak-anak muda lewat potensinya adalah penggengam masa depan yang lebih baik dari para
pendahulunya.

2. Kesatuan paragraf

Syarat yang kedua adalah kesatuan paragraf. Yang dimaksud kesatuan adalah tiap pargaraf
hanya mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Kalimat
utama yang diletakkan di awal paragraf biasa kita sebut dengan paragraf deduktif, sedangkan
kalimat utama yang diletakkan di akhir paragraf biasa kita sebut dengan paragraf induktif.
Adapun ciri-ciri dalam membuat kalimat utama, yakni kalimat yang dibuat harus
mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih lanjut. Ciri-
ciri lainnya yaitu kalimat utama dapat dibuat lengkap dan berdiri sendiri tanpa memerlukan
kata penghubung, baik kata penghubung antarkalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

Contoh paragraf deduktif


PBB menetapkan 12 Agustus sebagai hari Remaja Internasional. Pencetus gagasan ini ialah
para menteri sedunia yang menangani masalah remaja di portugal 1998. Tujuannya guna
memicu kesadaran remaja untuk memahami masalah sosial budaya, lingkungan hidup,
pendidikan dan kenakalan remaja.

Contoh paragraf induktif


Kalau ditanya rencana masa depan, banyak remaja menjawab asal-asalan. Mereka tidak
punya greget dalam menatap masa depan, mereka sebagai air, mengikuti aliran tanpa
berperan mengarahkan air itu. Tanpa motivasi, tanpa perencanaan yang jelas. Mereka yang
pesimis, harapan masa depannya pun rendah.

3. Kelengkapan paragraf

Sebuah paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat kalimat-kalimat penjelas


secara lengkap untuk menunjukan pokok pikiran atau kalimat utama. Ciri-ciri kalimat
penjelas yaitu berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh dll. Selain itu, kalimat
penjelas berarti apabila dihubungkan dengan kalimat-kalimat di dalam paragraf. Kemudian
kalimat penjelas sering memerlukan bantuan kata penghubung, baik kata penghubung
antarkalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

Definisi dan Fungsi Paragraf Lengkap


Definisi dan Fungsi Paragraf Lengkap - Paragraf berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu
paragraphos yang artinya menulis atau tertulis. Dengan kata lain, paragraf adalah sebuah
tulisan yang memiliki tujuan atau ide - ide yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Jika
dilihat dari bentuknya, paragraf terdiri dari kalimat kalimat yang saling berangkai dan
membentuk satu gagasan atau ide utuh.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah sebuah tulisan yang
terdiri dari rangkaian rangkaian kalimat yang membahas satu gagasan atau topik utama
yang dijelasakan dengan gagasan gagasan penjelas pada kalimat pendukung.

Ciri ciri paragraf

1. Terdiri dari beberapa kalimat yang saling berangkai.


2. Memiliki satu gagasan utama yang tersirat pada kalimat utama.
3. Memiliki gagasan gagasan penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas yang berisi
detail detail atau pendukung gagasan utama.

Fungsi paragraf

Paragraf sendiri memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Mengekspresikan suatu pikiran atau perasaan penulis dalam bentuk tulisan ke dalam
serangkaian kalimat yang disusun secara logis.
2. Membantu pembaca dalam memahami isi atau topik sesuai dengan jalan pikiran
penulisnya.
3. Memudahkan penulis dalam menyusun gagasan gagasan yang ada di dalam pikiran
penulis.
4. Membantu penulis untuk mengembangkan idenya secara sistematis.
5. Memudahkan pengarang untuk mengembangkan topik topik pada paragraf menajdi
sebuah karangan lengkap yang akan dibuat.
6. Paragraf dapat menjadi sebuah pengantar ide, transisi, isi atau penutup pada sebuah
karangan.

Syarat syarat paragraf yang baik

Agar menjadi sebuah paragraf yang baik, maka paragraf harus memiliki syarat syarat yang
harus dipenuhi sebagai berikut:

1. Kelengkapan

Paragraf yang baik harus memiliki unsur kelengkapan atau completeness. Yang dimaksud
dengan kelengkapan adalah paragraf tersebut memiliki unsur unsur pembangun paragaf
yaitu, sebuah kalimat utama, dan kalimat kalimat penjelas. Jika suatu paragraf tidak
memiliki salah satu unsur pembangun tersebut, maka paragraf itu bukan paragraf yang baik.

2. Kesatuan

Paragraf yang baik juga harus memiliki unsur kesatuan. Kesatuan atau unity adalah paragraf
tersebut memiliki suatu kesatuan antara gagasan utama dengan gagasan gagasan
penjelasanya. Dengan kata lain, gagasan gagasan tersebut harus saling mendukung dan
tidak bertolak belakang.

3. Kepaduan

Syarat yang terakhir adalah kepaduan atau coherence. Paragraf yang baik harus memiliki
kalimat kalimat yang tersusun secara padu. Kalimat kalimat tersebut tersusun secara
logis, sistematis. Untuk mencapai kepaduan dalam paragraf, sehingga harus dihubungkan
dengan konjungsi atau kata sambung. Ada dua macam kata sambung yang dapat digunakan,
diantaranya adalah konjungsi intra kalimat, yaitu kata sambung antara induk dan anak
kalimat, seperti karena, tetapi, dan lain lain. Selanjutnya adalah konjungsi antar kalimat,
yaitu konjungsi yang menghubungkan antar kalimat dalam paragraf, seperti oleh karena itu,
meskipun, terlebih lagi, bahkan, dan lain lain.
Advertisement
Kohesi (Keterpaduan Bentuk)
Apabila koherensi berhubungan dengan isi, maka kohesi atau keterpaduan bentuk berkaitan
dengan penggunaan kata-katanya. Bisa saja satu paragraf mengemukakan satu gagasan
utama, namun belum tentu paragraf tersebut dikatakan kohesif jika kata-katanya tidak padu.

Contoh:

Suasana Rumah Surti, ibu rumah tangga yang sukses, tampak begitu menyeramkan. Dulu,
rumahnya pernah disewa oleh seseorang. Rumahnya jadi tempat tewasnya dua anak beserta
ibunya. Tumbuhan liar di tembok dan pohon besar di halaman depan rumahnya menambah
keseraman di sekitarnya. Semenjak kejadian itu rumahnya sudah tidak ada lagi yang
menempati. Kerabat-kerabatnya tidak ada yang mau menempati rumahnya. Akhirnya Surti
membiarkan rumahnya tidak ada yang menempati dan tidak ada yang merawatnya. Ketika
malam tiba tidak ada yang berani lewat di depan rumahnya. Namun, pernah ada seorang
remaja lewat rumahnya.
Betapa mengejutkan, terlihat sesosok Kuntilanak dan dua anak kecil di beranda rumahnya.
Setelah kejadian itu kini rumahnya sudah dianggap angker oleh para warga di sekitarnya.
Setiap malam sesosok makhluk halus itu muncul di rumahnya.
Dibuat oleh Ahmad Sugi Ajirianto
(Klik untuk menghubunginy