Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

Gangguan Kepribadian Ambang

Oleh :

Dyah Rachmayanti Asysyifa ( 2011730027 )

Pembimbing :

dr. Hj. Ni Wayan Ani P, SpKJ

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU KESEHATAN JIWA

RS JIWA ISLAM KLENDER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


JAKARTA

2017
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Kepribadian adalah totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan
seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya (Kaplan, 2010). Kepribadian bersifat
relatif stabil dan dapat diramalkan.

Gangguan kepribadian adalah suatu varian kepribadian yang tidak fleksibel dan
maladaptif serta menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan
subjektif (Kaplan, 2010).

Individu dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola maladaptif, tidak fleksibel


serta mendarah daging yang berhubungan dan mengesankan lingkungan dan dirinya sendiri.
Gejala gangguan kepribadian yaitu aloplastik (mampu mengadaptasi dan mengubah
lingkungan eksternal) dan egosintonik (dapat diterima oleh ego), serta tidak merasa cemas
dengan perilaku maladaptifnya karena tidak secara rutin merasakan sakit dari apa yang
dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya. Individu mungkin menyangkal masalahnya,
dianggap tidak termotivasi untuk melakukan pengobatan, menolak bantuan psikiatrik dan
dianggap tidak mempan terhadap pemulihan (Kaplan, 2010).

Klasifikasi Gangguan Kepribadian (Kaplan, 2010)


1. Kelompok A terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid dan skizotipal.
Individu dengan gangguan kepribadian tersebut seringkali tampak aneh dan eksentrik.
2. Kelompok B terdiri dari gangguan kepribadian dissosial, ambang (borderline),
histrionik dan narsistik. Individu dengan gangguan kepribadian tersebut seringkali
tampak dramatik, emosional dan tidak menentu.
3. Kelompok C terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan obsesif-
kompulsif.
4. Gangguan kepribadian yang tidak ditentukan yaitu gangguan kepribadian pasif-agresif
dan gangguan kepribadian depresif.

Individu dengan gangguan kepribadian yang tergolong kelompok C dan gangguan


kepribadian yang tidak ditentukan seringkali tampak cemas atau ketakutan.

Seseorang bisa memiliki satu atau lebih gangguan kepribadian dan masing-masing
gangguang kepribadian tersebut harus didiagnosis dan dikode pada aksis II menurut DSM-IV.

1|Halaman
Etiologi

Faktor Genetik
Faktor genetik memiliki peran dalam terjadinya gangguan kepribadian. Gangguan
kepribadian kelompok A lebih sering ditemukan pada saudara biologis dari pasien skizofrenik
dibandingkan kelompok kontrol. Banyak ditemukan saudara dengan gangguan kepribadian
skizotipal pada mereka yang memiliki riwayat keluarga skizofrenia. Pada kelompok B,
gangguan kepribadian dissosial berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol, individu
dengan gangguan kepribadian ambang memiliki banyak saudara dengan gangguan mood
serta ada hubungan yang kuat antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan
somatisasi.

Faktor Temperamental

Faktor temperamental berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa.


Sebagai contoh, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami
gangguan kepribadian menghindar.

Gangguan kepribadian mungkin berasal dari ketidaksesuaian antara temperamen


orang tua dan cara membesarkan anak. Contohnya adalah seorang anak yang pencemas
dibesarkan oleh ibu yang juga seorang pencemas maka anak tersebut lebih rentan mengalami
gangguan kepribadian dibandingkan dengan anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu yang
tenang. Kultur yang memaksakan agresi mungkin secara tidak disadari berperan dalam
terjadinya gangguan kepribadian paranoid dan dissosial. Lingkungan fisik juga mungkin
memiliki peran, contohnya yaitu seorang anak kecil yang aktif mungkin tampak hiperaktif
jika tinggal di apartemen kecil yang tertutup tetapi tampak normal di ruang kelas yang besar
dengan lapangan yang berpagar.

Faktor Biologis

Hormon dan neurotransmitter memiliki peran pada gangguan kepribadian. Individu


dengan sifat impulsif seringkali menunjukkan peningkatan kadar testosteron, 17-estradiol dan
estrone. Pada primata bukan manusia ditemukan bahwa androgen meningkatkan sifat agresif
dan perilaku seksual. Monoamin oksidase (MAO) trombosit juga berperan. Pelajar dengan
MAO trombosit yang rendah melaporkan menggunakan lebih banyak waktu dalam aktivitas
sosial dibandingkan pelajar dengan MAO trombosit yang tinggi. Serotonin adalah
neurotransmitter yang menurunkan depresi dan impulsivitas. Metabolit serotonin yaitu 5-

2|Halaman
hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA) ditemukan rendah kadarnya pada orang yang berusaha
bunuh diri serta pada pasien yang impulsif dan agresif.

Adanya disfungsi sistem saraf pusat berisiko terjadinya gangguan kepribadian,


khususnya gangguan kepribadian dissosial dan ambang.

Faktor Psikoanalitik

Cap kepribadian yang unik pada masing-masing individu sangat ditentukan oleh
mekanisme pertahanan karakteristik orang tersebut. Masing-masing gangguan kepribadian
memiliki kelompok mekanisme pertahanan yang membantu klinisi mengenali tipe patologi
karakter yang ada. Sebagai contoh, orang dengan gangguan kepribadian skizoid berhubungan
dengan penarikan diri.

Jika mekanisme pertahanan berfungsi baik, penderita dengan gangguan kepribadian


mampu mengatasi perasaan kecemasan, depresi, kemarahan, malu atau bersalah. Penderita
sering memandang perilakunya sebagai egosintonik yang berarti perilaku penderita tersebut
tidak menimbulkan penderitaan pada diri penderita meskipun dapat merugikan orang lain.
Penderita mungkin tidak mau melakukan terapi karena mekanisme pertahanan mereka
penting dalam pengendalian hal yang tidak menyenangkan dan mereka tidak berminat untuk
menghilangkan mekanisme pertahanan tersebut. Sebagai contoh, banyak orang, khususnya
mereka yang dicap skizoid, menggunakan pertahanan fantasi mereka secara berlebihan.
Mereka mencari penghiburan dan kepuasan dalam diri mereka sendiri dengan menciptakan
kehidupan khayalan, khususnya teman khayalan, di dalam pikiran mereka sendiri. Mereka
seringkali tampak menjauhkan diri, tetapi sebenarnya hal tersebut terjadi karena mereka
mengalami ketakutan akan keintiman.

Macam Macam Gangguan Kepribadian

1. Gangguan Kepribadian Paranoid


Individu dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan dan
ketidakpercayaan yang ekstrem pada orang lain yang pada umumnya berlangsung lama.
Mereka seringkali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung dan marah. Orang fanatik dan
pasangan yang cemburu secara patologis seringkali memiliki gangguan kepribadian paranoid
(Kaplan, 2010).

3|Halaman
2. Gangguan Kepribadian Skizoid
Individu dengan gangguan kepribadian ini menunjukkan pola penarikan sosial yang
lama, rasa tidak nyaman dalam berinteraksi sosial, bersifat introvert juga afek lemah lembut
dan terbatas. Individu dengan gangguan kepribadian ini dipandang oleh orang lain sebagai
orang yang kesepian. Individu dengan kepribadian ini cenderung mencari pekerjaan yang
sedikit melibatkan kontak atau tidak kontak dengan orang lain dan lebih menyukai bekerja
pada malam hari sehingga tidak perlu berhadapan dengan banyak orang.

3. Gangguan Kepribadian Dissosial (Antisosial)


Gangguan kepribadian dissosial menjadi perhatian khusus karena terdapat perbedaan
yang besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku.

Gangguan kepribadian dissosial ditandai oleh tindakan antisosial atau kriminal yang
terus menerus. Individu dengan gangguan kepribadian ini tidak mampu untuk mematuhi
norma sosial yang melibatkan banyak aspek perkembangan remaja dan dewasa (Kaplan,
2010)

Individu dengan gangguan kepribadian dissosial seringkali tampak normal, hangat


terhadap orang lain dan mencari muka. Mereka berbohong, membolos, melarikan diri dari
rumah, mencuri, berkelahi, menyalahgunakan zat dan terlibat dalam aktivitas ilegal. Mereka
tidak memiliki waham. Mereka sangat manipulatif, tidak menceritakan kebenaran, tidak
dapat dipercaya untuk menjalankan suatu tugas sesuai moral, melakukan penyiksaan terhadap
pasangan dan atau anak, mengendarai sambil mabuk. Dari semua tindakan yang dilakukan
tersebut, individu yang mengalami gangguan kepribadian dissosial tidak menyesal akan
tindakannya dan tampak tidak menyadarinya.

4. Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil


Definisi

Bertindak impulsif tanpa mempetimbangkan dampaknya, afek atau emosi tidak stabil
atau kurang pengendalian diri, dapat menjurus kepada ledakan kemarahan atau perilaku
kekerasan. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan odan keduanya
mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri
Gangguan kepribadian ini terdiri dari dua tipe, yaitu tipe impulsif dan tipe ambang
(borderline).

Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian ini berdasarkan PPDGJ III, yaitu:

4|Halaman
1. Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan emosional
2. Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri

5. Gangguan Kepribadian Histrionik


Pola perilaku berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian, bersifat pervasif,
berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks.

6. Gangguan Kepribadian Narsistik


Terdapatnya pola rasa kebesaran diri (dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan untuk
dikagumi atau disanjung, kurang mampu berempati. Bersifat pervasif, berawal sejak dewasa
muda dan nyata dalam pelbagai konteks.

7. Gangguan Kepribadian Menghindar


Adanya pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul secara sosial, rasa
rendah diri, hipersensitif terhadap evaluasi negatif. Bersifat pervasif, awitan sejak dewasa
muda, nyata dalam pelbagai konteks.

8. Gangguan Kepribadian Dependen


Suatu pola perilaku berupa kebutuhan berlebih agar dirinya dipelihara, yang
menyebabkan seorang individu berperilaku submisif, bergantung kepada orang lain dan
ketakutan akan perpisahan dengan orang tempat ia bergantung, Besifat pervasif, berawal
sejak usia dewasa muda dan nyata dalam pelbagai situasi.

9. Gangguan Kepribadian Obsesif -Kompulsif


Pola perilaku berupa preokupasi dengan keteraturan, peraturan, perfeksionisme, kontrol
mental dan hubungan interpersonal, dengan mengenyampingkan: fleksibilitas, keterbukaan,
efisiensi, bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda nyata dalam pelbagai konteks.

5|Halaman
Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil

Definisi

Bertindak impulsif tanpa mempetimbangkan dampaknya, afek atau emosi tidak stabil
atau kurang pengendalian diri, dapat menjurus kepada ledakan kemarahan atau perilaku
kekerasan. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan odan keduanya
mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian
diri. Gangguan kepribadian ini terdiri dari dua tipe, yaitu tipe impulsif dan tipe ambang
(borderline).
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian ini berdasarkan PPDGJ III, yaitu:

Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa


mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan
emosional
Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri

Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline)

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental yang serius ditandai dengan
pola ketidakstabilan yang sedang berlangsung di suasana hati, perilaku, citra diri, dan
fungsi. Pengalaman ini sering mengakibatkan tindakan impulsif dan hubungan tidak
stabil. Seseorang dengan BPD dapat mengalami episode intens kemarahan, depresi, dan
kecemasan yang mungkin berlangsung dari hanya beberapa jam untuk hari.
Gangguan ini juga disebut dengan skizofrenia ambulatorik, skizofrenia
pseudoneurotik, kepribadian seolah-olah (as-if personality) dan karakter psikotik.
Penderita gangguan kepribadian ambang berada pada perbatasan antara psikosis dan
neurosis dan ditandai oleh mood, afek, perilaku dan citra diri yang tidak stabil.

Karakteristik Individu

Ketidakstabilan mood merupakan karakteristik sentral dari gangguan kepribadian


ambang. Mood berkisar dari kemarahan dan iritabilitas sampai pada depresi dan
kecemasan, yang masing-masing berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari.
Individu dengan BPD memiliki kesulitan dalam mengendalikan kemarahan dan rentan
terhadap perkelahian atau perselisihan. Mereka sering kali bertindak atas dasar impuls.

6|Halaman
Perilaku impulsif dan tidak dapat diprediksi ini sering kali bersifat self-destructive,
meliputi perilaku-perilaku seperti self-mutilation, isyarat-isyarat bunuh diri, serta
percobaan bunuh diri yang aktual. Self-mutilation terkadang dimunculkan sebagai
ekspresi kemarahan atau sebagai sarana memanipulasi orang lain. Tindakan seperti itu
mungkin dimaksudkan untuk mengatasi perasaan yang seperti mati rasa terutama
pada saat stres, tidak mengherankan selfmutilation sering terjadi pada individu yang
menderita BPD terkait dengan meningkatnya resiko akan pikiran-pikiran untuk bunuh
diri.

Gangguan kepribadian ambang (boderline personality disorder) ditandai oleh suatu


cakupan ciri perilaku, emosional, dan kepribadian Pada intinya gangguan ini mencakup
suatu pola pervasif dari ketidakstabilan dalam hubungan, self-image, dan mood, serta
kurangnya kontrol atas implus. Orang dengan gangguan kepribadian ambang cenderung
tidak yakin akan identitas pribadi mereka nilai, tujuan, karier, dan bahkan mungkin
orientasi seksual mereka.

Epidemiologi

Gangguan kepribadian ambang diperkirakan 1-2% populasi dan dua kali lebih
sering pada perempuan dibandingkan laki-laki. Lebih sering terjadi pada remaja dan
dewasa muda. Meningkat pada penderita gangguan depresi, penggunaan alkohol, dan
penyalahgunaan zat aktif

Diagnosis

Kriteria diagnostik gangguan kepribadian ambang berdasarkan DSM-IV, yaitu


pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri dan afek, serta
impulsivitas yang jelas pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukkan oleh 5 atau lebih berikut:

1) Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan. Catatan:
tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam kriteria 5
2) Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan
antara idealisasi ekstrem dan devaluasi
3) Gangguan identitas: citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas
dan persisten

7|Halaman
4) Impulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri
(misalnya berbelanja, seks, penyalahgunaan zat, ngebut gila-gilaan, pesta makan).
Catatan: tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam
kriteria 5
5) Perilaku, isyarat atau ancaman bunuh diri yang berulang kali, atau perilaku mutilasi
diri
6) Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya, disforia
episodik kuat, iritabilitas atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan
jarang lebih dari beberapa hari)
7) Perasaan kekosongan yang kronis
8) Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan
kemarahan (misalnya sering menunjukkan temper, marah terus-menerus, perkelahian
fisik berulang kali)
9) Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stres, atau gejala disosiatif yang
parah

Gambaran Klinis

Penderita dengan gangguan kepribadian ambang hampir selalu tampak berada dalam
keadaan krisis. Sering dijumpai pergeseran mood. Penderita dapat bersikap
argumentatif pada suatu waktu dan depresi pada waktu selanjutnya dan mengeluh tidak
memiliki perasaan pada waktu lainnya. Perilaku penderita gangguan kepribadian
ambang sangat tidak dapat diramalkan. Mereka dapat melakukan tindakan merusak diri
mereka sendiri secara berulang seperti mengiris pergelangan tangannya sendiri untuk
mendapatkan bantuan dari orang lain atau untuk mengekspresikan kemarahan. Mereka
dapat bergantung pada orang yang dekat dengannya namun dapat juga
mengekspresikan kemarahan mereka pada orang terdekatnya jika mengalami frustasi.
Mereka tidak suka sendiri dan akan mati-matian mencari teman daripada duduk
sendirian. Untuk menenangkan kesepian, hanya untuk periode yang singkat, mereka
menerima orang asing sebagai teman mereka. Mereka seringkali mengeluh perasaan
kekosongan dan kebosanan yang kronis dan tidak memiliki rasa identitas yang
konsisten, jika ditekan maka mereka seringkali mengeluh betapa depresinya mereka.
Penderita gangguan kepribadian ambang memasukkan setiap orang dalam kategori baik
atau jahat sehingga orang yang baik diidealkan dan orang yang jahat direndahkan.

Diagnosis Banding

8|Halaman
Perbedaan dari skizofrenia yaitu pada gangguan kepribadian ambang tidak ada
episode psikotik, gangguan pikiran atau tanda skizofrenia klasik lainnya yang
berkepanjangan namun dapat terjadi episode psikotik yang singkat, terbatas dan
meragukan yang disebut episode mikropsikotik.

Prognosis

Penelitian menunjukkan gangguan kepribadian ambang tidak berkembang ke arah


skizofrenia tetapi penderita memiliki insidensi tinggi untuk mengalami episode
gangguan depresif berat.

Terapi

a. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu terapi untuk penderita gangguan kepribadian
ambang. Namun penderita dapat secara berganti-ganti mencintai dan membenci ahli
terapi dan orang lain di dalam lingkungannya akibat dari sikapnya yang
mengelompokkan orang ke dalam kategori baik dan jahat. Terapi perilaku digunakan
untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan serta untuk menurunkan
kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan sosial, khusunya
dengan video dapat membantu penderita untuk melihat bagaimana tindakan mereka
mempengaruhi orang lain dan untuk meningkatkan hubungan interpersonal mereka.
Psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil adalah
penyelidikan intensif dan telah menjadi terapi pilihan. Untuk hasil terbaik,
farmakoterapi telah ditambahkan ke rejimen pengobatan.
Psikoterapi sulit bagi pasien dan terapis. Pasien regresi dengan mudah, bertindak
impuls, dan menunjukkan transferences negatif atau positif labil atau tetap, yang sulit
untuk dianalisis. Identifikasi proyektif juga dapat menyebabkan masalah kontra-
transferensi ketika terapis tidak menyadari bahwa pasien secara tidak sadar mencoba
untuk memaksa mereka untuk bertindak perilaku tertentu. Mekanisme pertahanan
splitting menyebabkan pasien untuk bergantian menyukai dan membenci terapis dan
lain-lain di lingkungan. Pendekatan yang berorientasi pada realitas cukup efektif.
Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sering
melakukannya dengan baik di rumah sakit di mana mereka menerima psikoterapi
intensif pada psikoterapi individual dan secara kelompok. Di rumah sakit, mereka
juga dapat berinteraksi dengan anggota staf terlatih dari berbagai disiplin ilmu dan

9|Halaman
dapat diberikan dengan terapi okupasi, rekreasi, dan profesi. Program-program
tersebut sangat membantu ketika lingkungan rumah merugikan rehabilitasi pasien
karena konflik dalam keluarga atau tekanan lain. Dalam lingkungan yang terlindung
di rumah sakit, pasien yang terlalu impulsif, merusak diri sendiri, atau mutilasi diri
dapat dibatasi, dan tindakan mereka dapat diamati. Dalam situasi yang ideal, pasien
tetap di rumah sakit sampai mereka menunjukkan tanda perbaikan, sampai dengan 1
tahun di beberapa kasus. Pasien kemudian dapat dikeluarkan ke sistem suportif
khusus, seperti rumah sakit, rumah sakit malam, dan rumah transisi.
Bentuk khusus dari psikoterapi yang disebut terapi perilaku dialektis (dialectical
behavior therapy - DBT) telah digunakan untuk pasien dengan gangguan ini, terutama
mereka dengan perilaku parasuicidal, seperti sering memotong.

b. Farmakoterapi
Farmakoterapi berguna untuk menangani dengan fitur kepribadian tertentu yang
mengganggu fungsi keseluruhan pasien. Antipsikotik telah digunakan untuk
mengendalikan kemarahan, permusuhan, dan episode psikotik singkat. Antidepresan
meningkatkan mood depresi umum pada pasien dengan gangguan kepribadian ini.
MAO inhibitor (MAOI) dapat digunakan pada beberapa pasien dengan perilaku
impulsif. Benzodiazepin, khususnya alprazolam (Xanax), membantu kecemasan dan
depresi, tetapi beberapa pasien menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat ini.
Antikonvulsan, seperti carbamazepine, dapat meningkatkan fungsi global untuk
beberapa pasien. Agen serotonergik seperti serotonin reuptake inhibitor (SSRI) telah
membantu dalam beberapa kasus.

Perjalanan gangguan dan prognosis

Gangguan kepribadian borderline cukup stabil, pasien sedikit perubahan dari waktu
ke waktu. Studi longitudinal tidak menunjukkan perkembangan ke arah skizofrenia,
tetapi pasien memiliki insidensi tinggi dari episode depresi utama. Diagnosis biasanya
dibuat sebelum usia 40, ketika pasien sedang berusaha untuk membuat pilihan
pekerjaan, perkawinan, dan lainnya dan tidak dapat berurusan dengan tahap normal
dari siklus hidup.

10 | H a l a m a n
Daftar Pustaka
1. Mangindaan, Lukas. Ed: Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2010). Buku Ajar
Psikiatri: Gangguan Kepribadian. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Hal 329-334.

11 | H a l a m a n
2. Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott
William&Wilkins

3. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara. p. 258-291.

4. Maslim, Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dariPPDGJ III,
Jakarta

5. Antisocial Personality Disorder among Prison Inmates: The Mediating Role of


Schema-Focused Therapy. International Journal of Emergency Mental Health and
Human Resilience. 2015;17(1):327-332.

6. Wiley J. Complex Case Emotional processing in a ten-session general psychiatric


treatment for borderline personality disorder: a case study. Personality and Mental
Health. 2015;9:73-78

7. Buku Ajar Psikiatri Edisi ke 2

12 | H a l a m a n

Anda mungkin juga menyukai