Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 16: BEDAH JARINGAN 1

MODUL 4

PERAWATAN PENYAKIT PERIODONTAL

OLEH:

KELOMOPOK 5

Tutor: drg. Kosno S. MDSc, Sp.Perio

Anggota: 1.Anita Surya Ananda

2.Avilia

3.Deyana

4.Feby Resicha

5.Fikri Al Hafiz

6.Intan Luthfiah

7.Kiftiyah

8.Melina Vania Elian

9.Raissa Febrina

10.Suci Afrilia

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

TAHUN AJARAN 2017


MODUL 4

PERAWATAN PENYAKIT PERIODONTAL

Skenario 4

Gigi bergoyang

Badrun 38 tahun datang ke praktik dokter gigi dengan keluhan gigi anteriornya
goyang, terlihat lebih memanjang dari sebelumnya serta gusinya sering berdarah.
Badrun merasa terganggu dengan keadaan giginya tersebut dan ingin dilakukan
perawatan.

Pemeriksaan intraoral gigi 11,12,21,22 luksasi derajat 2 dengan gingiva hiperemi.


Terdapat kalkulus subgingiva hampir disemua regio dengan oral hygiene buruk.
Dokter gigi menjelaskan kepada Badrun dan terdapat atrisi pada incisal gigi
anterior rahang bawah karena bruxisme. Dari pemeriksaan rontgen foto terdapat
kerusakan tulang regio anterior rahang atas. Dilakukan splinting untuk menang.
Dokter menjelaskan bahwa Badrun menderita perodontitis kronis perlu dilakukan
splinting ntuk menangani kegoyahan gigi tersebut, yang sebelumnya harus
dilakukan perawatan initial terapy berupa scalling dan root planing. Drg
menyarankan untuk tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya di rumah serta
datang kembai untuk kontrol dan evaluasi perawatan.

Bagaimana saudara menjelaskan tentang kasus diatas?


STEP I : TERMINOLOGI

Luksasi derajat 2 : Perubahan letak gigi ke labial,palatal,sebesar 1mm


Splinting : -Alat stabilisasi gigi goyah karena trauma,lesi,penyakit
periodontal.
-Perawatan untuk mobiliti,dengan mengikat gigi
Root planning : Menghaluskan permukaan akar gigi untuk
mengeluarkan bagian gigi yang nekrotik dan tidak sehat.
Hiperemi : Meningkatnya jumlah darah di suatu bagian tubuh

STEP II : IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apa yang menyebabkan gigi terlihat panjang dan gusi berdarah serta gigi
anterior goyang?
2. Bagaimana perawatan pada kasus Badrun?
3. Apa saja tahap perawatan penyakit periodontal?
4. Apa indikasi dan tujuan initial terapy?
5. Apa saja instrumen periodontal di initial terapy?
6. Bagaimana cara kerja scalling?
7. Apa resiko dan komplikasi scalling dan root planning?
8. Apa saja klasifikasi derajat kegoyangan gigi?
9. Bagaimana prinsip perawatan luksasi?
10. Apa saja klasifikasi splint?
11. Apa indikasi dan kontraindikasi splint?
12. Apa saja evaluasi dalam perawatan penyakit periodontal?

STEP III : ANALISA MASALAH

1. Apa yang menyebabkan gigi terlihat panjang dan gusi berdarah serta gigi
anterior goyang?
-Adanya resesi gingiva,periodontitis kronis dan kalkulus subgingiva
-Adanya bakteri pada plak yang menyebar dan meluas serta toksin yang
dihasilkannya dapat mengiritasi gingiva sehingga merusak tulang,jaringan
pendukung dan gingiva tidak melekat lagi pada gigi dan membentuk
poket.Haltersebut dapat menyebabkan gigi menjadi goyang.

2. Bagaimana perawatan pada kasus Badrun?


-Scalling dan root planning: untuk membuang kalkulus
-Splinting : karena badrun menderita bruxisme dan untuk menstabilkan
gigi yang goyang
-Edukasi

3. Apa saja tahap perawatan penyakit periodontal?


-Initial fase terapy : menghilangkan faktor etiologi
Contoh:scalling,root planning,DHE,oklusi adjustment,koreksi tumpatan.
-Fase korektive : membuat jaringan periodontal maksimal
Contoh: kuretase
-Fase rekonstruktive : final
-Fase pemeliharaan : pasca melakukan koreksi san rekonstruksi untuk
menjaga kesehatan periodontal.

4. Apa indikasi dan tujuan initial terapy?


Indikasi : -perawatan pendahuluan
-perawatan gingivitis kronis
Tujuan : -menghilangkan inflamasi gingiva
-menghilangkan kalkulus
-koreksi restorasi yang cacat
-kontrol plak

5. Apa saja instrumen periodontal di initial terapy?


-Probe : mengukur kedalaman poket
-Eksplorer :mendeteksi permukaan gigi dan karies
-Scaller
-Hoe
-File

6. Bagaimana cara kerja scalling?


-Kuvet atau scaller,gelombang ultrasonik yang mengeluarkan air sehingga
plak jadi lunak
-Cara kerja : penempatan alat,membentuk sudut 45 derajat sampai 90
derajat terhadap area yang akan dibersihkan.

7. Apa resiko dan komplikasi scalling dan root planning?


Efek samping : bisa terjadi inflamasi

8. Apa saja klasifikasi derajat kegoyangan gigi?


-Derajat 0 : normal
-Derajat 1 : sedikit lebih besar dari normal
-Derajat 2 : 1mm
-Derajat 3 : >1mm dari segala arah gigi dan dapat ditekan dari arah apikal

9. Bagaimana prinsip perawatan luksasi?


Reposisi dan fiksasi : menggunakan tekanan splinting
Luksasi :
-Anastesi lokal
-Reposisi gigi dengan jari sampai batas insisal sama dengan gigi
kontralateral
-Foto rontgen
-Stabilisasi dan splinting

10. Apa saja klasifikasi spilnt?


-Splinting temporer : tidak boleh lebih dari 6 bulan
-Splinting profesional :perawatan yang tidak bisa ditentukan jangka waktu
nya
-Splinting permanen : apabila jenis splint yang lain tidak berhasil,
Jenisnya:crown and bridge,splint lingual

11. Apa indikasi dan kontraindikasi spint?


Indikasi :
-Berkurangnya tinggi tulang alveolar
-membantu penyembuhan pasca perawatan periodontal
-Jaringan pendukung gigi sekurang-kurangnya 1/3 akar yang masih sehat
-Jumlah gigi yang harus displint harus sesuai standar
Kontraindikasi:
-Oklusi tidak terganggu
-Stabil
-Mudah dibersihkan
-Tidak mengiritasi

12. Apa saja evaluasi dalam perawatan penyakit periodontal?


-Klinis : membandingkan hasil probing sebelum dan sesudah perawatan
-Bedah : dilihat tinggi tulang alveolar,kehilangan tulang,dan dalamnya
kerusakan
-Radiografi : mengukur regenerasi tulang sebelum dan sesudah perawatan
STEP IV : SKEMA

Pasien laki- laki (38 tahun)

Intra Oral :
Anamnesa: Rontgen Foto :
-
-gigi anterior 11,12,21,22,luksa -Kerusakn tulang
goyang si derajat 2 regio anterior
rahang atas
-terlihat -gingiva hiperemi
memanjang
-kalkulus
-gusi berdarah subgingiva

-atrisi gigi
anterior rahang

Period Periodontal

Initial terapy
Perawatan
(scalling dan Splinting
Penyakit
root
Periodontal
planning)

Evaluasi Pasca
Perawatan Penyakit
Periodontal

STEP V : MENENTUKAN LO

1.M3 tentang Instrumen dan Instrumentasi Periodontal

2. M3 tentang Fase perawatan Periodontal


3.M3 tentang Inital Terapy(Scalling dan Root Planning)

4.M3 tentang Splinting dalam Perawatan Penyakit Periodontal

5.M3 tentang Evaluasi Pasca Perawatan Penyakit Periodontal

PEMBAHASAN LO

I. M3 tentang Instrumen dan Instrumentasi Periodontal

berdasarkan kegunaannya, alat periodontal dapat diklasifikasikan atas:


1. Prob periodontal

- Prob periodontal (periodontal probe) adalah alat yang digunakan untuk


melokalisir, mengukur, dan menandai saku, serta untuk memperkirakan
konfigurasi saku pada setiap sisi gigi.

Beberapa tipe prob periodontal :

(A) Prob Marquis

Prob Marquis mempunyai kalibrasi 3, 6, 9 dan 12 mm, dimana untuk setiap 3


mm-nya diberi warna yang berbeda sehingga mempermudah pembacaan. Tetapi
kelemahannya adalah sukar untuk membaca ukuran diantara kelipatan 3.

(B) Prob UNC-15

Prob UNC-15 bagian ujungnya mempunyai panjang 15 mm yang diberi kalibrasi


setiap 1 mm, dan pada 5, 10, dan 15 mm diberi kode warna.

(C) Prob Williams

Kalibrasi pada prob Williams adalah 1, 2, 3, 5, 7, 8, 9 dan 10 mm. Adanya interval


2 mm antara 3 dengan 5 dan 5 dengan 7 sengaja dibuat untuk menghindarai
kesalahan pembacaan.

(D) Prob "O" Michigan

Prob "O" Michigan mempunyai kalibrasi pada 3, 6, dan 8 mm.

(E) Prob WHO

Prob WHO (World Health Organization) mempunyai disain unik dimana bagian
ujungnya berupa bola kecil seperti jarum pentol berdiameter 0,5 mm, kalibrasi
3,5, 8,5 dan 11,5 mm dengan kode warna antara 3,5 - 5,5 mm.

Untuk pemeriksaan daerah furkasi sebaiknya digunakan prob Nabers yang


ujungnya melengkung dan tumpul

2. Eksplorer
- Eksplorer (explorer) atau sonde adalah alat untuk melokaliser deposit pada
permukaan akar gigi dan karies di daerah subgingival, dan memeriksa kehalusan
permukaan akar gigi setelah penyerutan akar, cacat anatomis pada permukaan
gigi, dan tepi restorasi.

Eksplorer yang paling tepat untuk mendeteksi kalkulus subgingival dan kelicinan
akar gigi adalah eksplorer Hu-Friedy No.3

3. Alat penskeleran, penyerutan akar, dan pengkuretan.

- Alat penskeleran (scaling), penyerutan akar (root planing) dan pengkuretan

(curettage) digunakan untuk:

(1). Menyingkirkan kalkulus dari permukaan mahkota dan akar gigi;

(2). Menyingkirkan sementum yang tercemar toksin dan nekrosis pada permukaan
subgingival dari akar gigi;

(3). Menyingkirkan dinding jaringan lunak saku.

-Alat ini dapat disubklasifikasikan lagi atas :

Skeler sabit (sickle scaler) adalah skeler kasar untuk menyingkirkan kalkulus
supragingival.

Permukaan skeler sabit (sickle scaler) adalah datar dengan dua sisi pemotong
(cutting edge) yang akan menyatu membentuk ujung yang runcing. Penampang
melintangnya berbentuk segitiga dan sisi pemotong pada kedua sisi. Karena
disainnya alat ini hanya digunakan untuk penyingkiran kalkulus supragingival.
Apabila digunakan untuk instrumentasi subgingival akan mencederai jaringan
gingiva.

Skeler sabit yang khas adalah skeler Morse yang bagian leher dan mata pisaunya
dapat dibuka pasang pada gagangnya. Karena tipisnya, skeler ini sangat
bermanfaat untuk penskeleran pada daerah anterior mandibula apabila ruang
interproksimalnya sempit.
Kuret (curette) adalah alat periodontal halus yang digunakan

untuk penskeleran (skeling), penyerutan akar dan pengkuretan dinding

jaringan lunak saku.

Ciri khas kuret adalah: bentuk penampang melintang seperti sendok, ujungnya
membulat/tumpul. Sisi pemotongnya adalah ganda pada kuret universal dan
tunggal pada kuret khusus. Ukurannya lebih halus dibandingkan dengan skeler
sabit. Oleh sebab itu alat ini mudah dimasukkan dan diadaptasikan pada saku yang
dalam tanpa menimbulkan cedera pada jaringan. Kuret yang dipasarkan ada yang
bermata pisau tunggal (pada salah satu ujung gagang saja), tetapi ada juga yang
bermata pisau ganda (mata pisau pada masing- masing ujung gagang).

Kuret dibedakan atas dua tipe: kuret universal dan kuret khusus (area-
specific/Gracey curette).Perbedaan antara kuret universal dengan kuret
khusus/Gracey adalah:

1. Kuret universal dapat digunakan pada semua daerah dan sisi/permukaan,


sedangkan kuret khusus hanya pada daerah dan sisi tertentu;

2. Sisi pemotong pada kuret universal ganda, sedangkan pada kuret khusus
tunggal;

3. Kuret universal melengkung kearah atas saja, sedangkan kuret khusus


melengkung kearah atas dan kesamping;

4. Permukaan mata pisau kuret universal tegaklurus terhadap leher alat, sedangkan
mata pisau kuret khusus membentuk sudut 60 terhadap leher alat.

Skeler pacul, skeler pahat dan skeler kikir adalah alat yang dulu digunakan
untuk menyingkirkan kalkulus subgingival dan sementum nekrosis, namun
sekarang sudah jarang digunakan.

Skeler pahat (chisel scaler) didisain khusus. untuk penskeleran pada permukaan
proksimal gigi anterior yang terlalu rapat ruang interproksimalnya. Lehernya bisa
lurus atau membengkok, dengan sisi pemotong membentuk sudut 45.
Skeler pacul Mata pisau skeler pacul (hoe scaler) membengkok membentuk sudut
99 -100 terhadap leher alat. Alat ini didisain untuk setiap permukaan gigi,
artinya pada setiap permukaan gigi digunakan satu jenis skeler pacul.

Alat ultrasonik dan sonik(ultrasonic and sonic instruments) adalah alat yang
digerakkan dengan tenaga listrik, yang digunakan untuk penskeleran dan
pembersihan permukaan gigi serta pengkuretan dinding jaringan lunak saku.

4. Alat pembersih dan pemoles

- Alat pembersih dan pemoles seperti rubber cups, brus dan dental tape digunakan
untuk membersihkan dan memoles permukaan gigi. Belakangan ini telah tersedia
pula air-powder abrasive system untuk pemolesan gigi, yaitu suatu alat yang
menyemprotkan serbuk garam dengan tekanan yang cukup tinggi.

II. M3 tentang Fase perawatan Periodontal

1.fase I

adalah fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa
faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal
atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik.

Prosedur yang dilakukan pada fase I adalah Memberi pendidikan pada pasien
tentang kontrol plak, Scaling dan root planning, Perawatan karies dan lesi
endodontic, Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging,
Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment), Splinting temporer , Perawatan
ortodontik. Yang kemudian dilakukan evaluasi respon terapi fase I, koreksi
terhadap deformitas anatomikal seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan
disharmoni oklusi

2.Fase II
adalah kelanjutan dari evaluasi respon terapi fase I yang berkembang sebagai
suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau
rekurensi dari penyakit periodontal.

prosedur yang dilakukun pada fase ini adalah bedah periodontal untuk
mengeliminasi poket dengan cara kuretase gingiva, gingivektomi, prosedur bedah
flap periodontal, rekonturing tulang (bedah tulang) dan prosedur regenerasi
periodontal (bone and tissue graft). Kemudian Penempatan Implant serta
perawatan endodontik.

3.Terapi fase III (fase restoratif)

dengan melakukan pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk
gigi yang hilang. Dan kemudian dilakukan evaluasi respon terhadap terapi fase III
dengan pemeriksaan periodontal.

4.Terapi fase IV (fase pemeliharaan)

dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada penyakit periodontal.


Sehigga perlu dilakukan control periodic.

Prosedur yang dilakukan pada fase ini adalah riwayat medis dan riwayat gigi
pasien, Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat scor plak,
ada tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas gigi, Melekukan
radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal dan tulang alveolar tiap 3
atau 4 tahun sekali, Scalling dan polishing tiap 6 bulan seksli, tergantung dari
evektivitas kontrol plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus,
Aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies. Keinginan dan
kemampuan pasien dalam memelihara diri sendiri selama fase perawatan
merupakan langkah yang paling penting.

III. M3 tentang Inital Terapy(Scalling dan Root Planning)

Skeling adalah prosedur yang cermat untuk menghilangkan mikroorganisme, plak,


tartar dan menghaluskan bagian gigi yang kasar selain itu skeling bertujuan untuk
menghilangkan biofilm, kalkulus dan toksin yang berada pada saku periodontal
untuk mendapatkan respon penyembuhan.

Root planning adalah teknik untuk menghilangkan sementum atau dentin


permukaan yang berubah karena adanya penyakit. Istilah lain dari root planing
adalah detoksifikasi akar. Root planning melibatkan akar gigi dengan
menggunakan kuret tipis sehingga jaringan gusi dapat lebih bersih dan halus
dimana bertujuan untuk mencegah kehilangan gigi dan masalah sensitivitas.
Prosedur yang sulit jika plaknya menumpuk sepanjang permukaan akar.

Terdapat 2 macam gerakan dasar dalam skelling dan detoksifikasi akar, yakni:

Gerakan eksplorasi

Gerakan menarik

Teknik skeling supragingiva

Kalkulus supragingiva umumnya kurang keras dan kurang terkalsifikasi. Karena


instrumentasi dilakukan dari bagian koronal ke margin gingiva, gerak skeling
tidak dibatasi oleh jaringan disekitarnya. Ini membuat adaptasi dan angulasi alat
lebih muda. sikle dan kuret dipegang dengan pegangan pen grasp dan juga
tumpuan jari pada gigi untuk stabilitas. Blade diadaptasikan dengan sudut kurang
dari 900 pada permukaan. Cutting ede mencapai bagian apikal dari kalkulus
supragingiva dan dengan gerakan secara vertical atau oblik untuk melepaskan
kalkulus.

Teknik skeling subgingiva dan Root Planing

Skeling subgingiva dan root planing lebih kompleks dan sulit dilakukan. Kalkulus
subgingiva biasanya lebih keras dari kalkulus supragingiva, lapangan pandang
yang tidak jelas, sehingga operator perlu mengandalkan sensitifitas taktilnya
untuk mendeteksi kalkulus. Instrumenrtasi subgingiva merupakan keterampilan
dental yang paling sulit karena memerlukan koordinasi yang tepat antara visual,
mental dan keterampilan.
Skeling subgingiva dan root planing dilakukan baik dengan kuret universal;
maupun dengan kuret gracey. Kuert dipegang dengan pegangan pen grasp dan
tumpuan jari harus stabil. Cutting edge diadaptasikan dengan ringan pada gigi
diman shank bagian bawah dibuat sejajar dengan permukaan gigi . shank bagian
bawah digerakkan menghadap kegigi sehingga dengan demikian bagian depan
dari blade berada dekat dengan permukaan gigi. Blade instrument kemudian
diinsersikan di bawah gingival sampai dasar poketdengan gerakan eksplorasi
ringan. Bila cutting edge telah mencapai dasar poket, angulasi 45 o dan 900 harus
dipertahankan dan kalkulus dihilangkan dengan erakan yang terkontrol, berulang,
gerak pendek, dan pergelangan tangan yang cukup bertenaga.

Teknik skeling sonic dan ultrasonic.

Skeler ultrasonik

o Magnetostriktif

o Piezoelektik

Skeler sonik

IV. M3 tentang Splinting dalam Perawatan Penyakit Periodontal

-Splint merupakan alat stabilisasi dan immobilisasi gigi yang goyah karena suatu
lesi atau trauma atau penyakit periodontal.

-Splint digunakan untuk menggabungkan beberapa gigi untuk membentuk suatu


dukungan.

-Prinsip dari pembuatan splint ini yaitu dengan mengikat beberapa gigi menjadi
satu kesatuan sehingga tekanan dapat didistribusikan ke semua gigi yang diikat.

-Splint dapat berupa alat yang dapat dilepas, cekat, atau kombinasi keduanya.

-Splint dapat digunakan secara temporer maupun permanen tergantung dari


material yang digunakan juga lama penyembuhan penyakit periodontalnya.
Beberapa contoh splint :

1. Splint Lepasan Eksternal

Splint lepasan permanen dalam hal ini adalah splint continuous clasp dapat
mengikat gigi yang goyah. Alat ini mirip dengan gigi tiruan lepasan sebagian.
Splint ini memberikan dukungan pada gigi dari permukaan lingual dan
dimungkinkan adanya tambahan dukungan dari permukaan labial atau dengan
menggunakan landasan intrakoronal. Palatal bar juga mungkin ditambahkan untuk
mendukung efek splintingnya. Beberapa gigi tiruan menggunakan pin yang
ditancapkan dalam cekungan atau lubang pada inlay.

2. Cast Metal Resin Bonded Fixed Partial Denture

Cast metal resin bonded fixed partial denture digunakan dengan mengurangi
sedikit lapisan email. Tipe ini merupakan jenis protesa yang fungsional, estetis,
reversibel, dan murah. Protesa ini terdiri dari kerangka logam yang dilapisi
dengan resin yang menempel pada email gigi. Ikatan email sangat kuat, meskipun
demikian gigi yang goyah bila mendapat tekanan oklusal yang sangat kuat maka
dapat lepas dari kerangka logamnya.

3. Splint Cekat Internal

Alat permanen cekat dapat dibuat dengan logam yang disolder, seperti mahkota
penuh, mahkota 3/4 , inlay, splint pin horizontal, dan pin ledge. Splint kemudian
disementasi pada tempatnya. Mahkota penuh merupakan alat yang paling mudah
jika resesi tidak bertambah dan gigi dibuat sejajar. Splint jenis ini bentuknya kaku
dan ukuran splint harus sesuai dengan diameter bukolingual. Sambungan
interproksimal jangan sampai mengenai papila interdental, dan hubungan
oklusalnya harus harmonis. Splint cekat merupakan suatu restorasi yang paling
efektif untuk stabilisasi gigi.

4. Splint Kombinasi

Meskipun splint cekat banyak keuntungannya, tetapi terdapat kelemahan dari segi
periodontal, sehingga kombinasi dari splint cekat dan partial denture merupakan
pilihan yang tepat. Gigi tiruan sebagian menggunakan gigi pegangan yang
merupakan splint yang paling baik dan dapat dikerjakan dengan mudah dengan
klamer dan sandaran sehingga stabilisasi dapat tercipta ke segala arah. Gigi tiruan
dapat didukung oleh mahkota gigi atau pasak logam yang ditanam ke dalam akar
gigi.

Perawatan splint eksternal fiber-reinforced composite resin pada gigi anterior:

-Membersihkan gigi yang akan displint dengan scaler ultrasonik kemudian


menyikat dengan brush dan pumice.

-Setelah gigi bebas dari deposit kemudian dikeringkan dengan semprotan udara
dan meletakkan kapas disekitar gigi yang akan displint agar tetap bebas dari
saliva.

-Mengaplikasikan etsa pada bagian palatal atau lingual di bawah 1/3 incisal gigi
selama 5 menit, kemudian dibilas dengan semprotan air lalu mengeringkan
dengan semprotan udara.

-Mengaplikasikan bonding pada area yang telah dietsa, kemudian melakukan


penyinaran dengan light curing unit selama 10 detik.

-Mengaplikasikan net fiber pada area gigi yang telah dibonding (termasuk area
interdental), kemudian melakukan penyinaran selama 10 detik.

-Mengaplikasikan resin komposit diatas net fiber agar splint melekat lebih kuat,
kemudian melakukan penyinaran selama 20 detik.

-Melakukan finishing dan polishing pada resin komposit dengan bur finishing.

-Mengecek adanya traumatik oklusi. Menyarankan pasien untuk menjaga


kebersihan mulutnya dan kontrol 1 minggu kemudian.

-Setelah dilakukan splinting pasien diinstruksikan untuk lebih memperhatikan


kebersihan gigi dan mulutnya, terutama pada regio gigi yang displinting, karena
pada regio tersebut lebih mudah terjadi akumulasi plak dan debris yang akan
menyebabkan inflamasi kronis yang terjadi dapat semakin parah.Evaluasi
Keberhasilan Perawatan Jaringan Periodonsium

V. M3 Evaluasi keberhasilan perawatan periodontal

Keberhasilan perawatan dapat dilihat secara klinis, radiografis, tindakan bedah,


atau secara histologis. Metode klinis yang digunakan dengan membandingkan
keadaan sebelum dan sesudah probing. Tiga cara probing yang dilakukan yaitu
pengukuran kedalaman poket, tinggi perlekatan, dan tinggi tulang. Menentukan
tinggi perlekatan lebih penting daripada pengukuran poket. Hal ini disebabkan
karena adanya perubahan tepi gingiva setelah perawatan. Beberapa penelitian
telah dilakukan terhadap pengaruh penetrasi probing kedalaman poket. Penetrasi
probing ini sangat bervariasi bergantung kepada derajat keradangan jaringan, yang
secara langsung berpengaruh terhadap dasar poket. Probing mungkin tidak
mencatat kedalaman poket yang sebenarnya, tetapi merupakan hasil penetrasi
probe ke jaringan periodontium, sehingga menghasilkan perkiraan yang
berlebihan dan kedalaman poket.

Penilaian klinis jaringan keras memerlukan re-entry surgery atau pembedahan


kedua setelah periode penyembuhan. Tindakan ini biasanya dilakukan 6 sampai 12
bulan setelah pembedahan pertama. Pembedahan kedua ini biasanya berjalan lebih
cepat dan trauma yang terjadi lebih sedikit. Jika pengukuran ini dikombinasi
dengan penilaian klinis jaringan lunak, dapat memberikan informasi yang
bermanfaat sesuai tujuan perawatan yaitu regenerasi jaringan periodontium.
Penilaian dilakukan dengan membuat model cetakan tulang pada waktu
pembedahan pertama dan pembedahan kedua,yang kemudian dibandingkan.
Teknik pengukuran secara linear terhadap perubahan jaringan keras gigi,
ditentukan dan beberapa titik yaitu:

Tinggi puncak tulang alveolar, yaitu jarak dan batas semen enamel ke puncak
tulang alveolar

Kehilangan tulang, yaitu jarak dari batas semen enamel ke dasar kerusakan
tulang
Dalamnya kerusakan, yaitu jarak dan puncak tulang alveolar ke dasar kerusakan
Tulang

Kedalaman probing pada kerusakan daerah furkasi horizontal, yaitu jarak dan
permukaan bukal atau lingual daerah furkasi yang mengalami kerusakn, ke
permukaan luar dan kedudukan probe pada lekukan furkasi.

Untuk menilai regenerasi tulang alveolar pemeriksaan probing secara klinis.


Pemakaian teknik digital komputer substraction radiography akan menghasilkan
gambar yang baik. Hasilnya dapat memperlihatkan perubahan tinggi puncak
tulang dan dasan kerusakan yang berdekatan dengn permukaan akar, perubahan
kepadatan tulang, perubahan persentasi jaringan penyangga gigi pada setiap akar
gigi.

Analisis radiografis dan re-entry operations dilakukan untuk mengukun regenerasi


tulang pada kerusakan tulang angular sebelum dan sesudah perawatan. Analisis ini
tidak dapat memperlihatkan adanya pembentukan sementum baru pada
permukaan akar dan ligamentum periodontal baru. Regenerasi jaringan
periodontium dan perlekatan baru hanya dapat ditentukan secara tepat melalui
pemeriksaan mikroskopis. Penilaian regenerasi jaringan diperlukan bukti adanya
sementum baru dan pertumbuhan ligamentum periodontal ke arah koronal tulang
alveolar, serta pembentukan perlekatan baru secara sempurna. Penilaian histologis
perlekatan baru hanya membutuhkan. bukti terbentuknya sementum baru dengan
pertumbuhan serat kolagen di antaranya.

Debridemen akar periodontal merupakan salah satu komponen vital dalam terapi
pembedahan dan non-bedah. Karakteristik penting dalam perawatan periodontitis
adalah pembersihan deposit bakteri dan kalkulus subgingival secara mekanis.

Berusaha untuk menghindari trauma pada bagian paling koronal perlekatan


jaringan ikat dengan menginsersikan kuret 1 mm lebih dangkal dibandingkan
kedalaman probing poket. Hasil penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan
kedalaman probing poket dan rata-rata tinggi perlekatan probing dinyatakan
signifikan antara gigi uji [kuret diletakkan 1 mm lebih dangkal dari dasar poket]
dengan kontrol, pada 1 dan 3 bulan setelah perawatan. Mereka menyatakan bahwa
dibandingkan dengan pembersihan deposit subgingival yang efektif, trauma pada
bagian paling koronal jaringan ikat dan remodelling lesi pada daerah tersebut
setelah prosedur skeling dan root planning, bukanlah faktor yang penting. Jadi,
jika digunakan selama debridemen, penetrasi Ultrasonic Tip yang dalam dapat
meningkatkan resiko trauma pada bagian koronal perlekatan jaringan ikat,
dibandingkan dengan kuret Gracey, namun hal ini bukanlah faktor utama dalam
hasil perawatan klinis.

Anda mungkin juga menyukai