Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..................................................................................................................i

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1

1.1 Latar Belakang....................................................................................................1

1.2 Tujuan..................................................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................2

2.1 Pengertian Membran...........................................................................................2

2.2 Karakterisasi Membran.......................................................................................3

2.2.1 Karakterisasi Membran Berpori...................................................................3

2.2.2 Karakterisasi Membran Tidak Berpori.........................................................8

BAB III PENUTUP....................................................................................................11

3.1 Kesimpulan.......................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................ii

1
DAFTAR PUSTAKA

Mulder, Marcel, 1996, Basic Principles of Membran Technology, ed2rd,


Kluwer Academic Publisher: London

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di industri pabrik, pasti banyak sekali menghasilkan limbah dalam
pengolahan bahan baku menjadi suatu produk. Limbah yang dihasilkan
bermacam-macam, mulai limbah cair, limbah padat, dan limbah dalam bentuk
gas. Namun, limbah yang bisa diolah dan dikembalikn lagi ke lingkungan yaitu
limbah cair. Limbah cair ini bisa diolah dengan cara memisahkan antara
campuran atau partikel-partikel padat dengan cairan yang akan digunakan
kembali dengan menggunakan teknologi membran.

Teknologi membran adalah kemajuan baru sebuah teknik menggunakan


lapisan tipis antara dua fasa fluida yaitu fasa umpan atau masuk dan fasa
permeat yang bersifat sebagai penghalang terhadap suatu spesi tertentu.
Pemisahan campuran dari limbah cair dengan menggunakan teknologi
membran mempunyi banyak keunggulan. Keunggulannya yaitu dalam
pemisahannya tidak mmbutuhkan zat-zat kimia tambahan dan juga kebutuhan
energinya sangat minimum. Membrane dapat bertindak sebagai filter yang
sangat spesifik. Hanya molekul-molekul dengn ukuran tertentu yang bisa
melewati membrane. Sedangkan sisanya akan tertahan di permukaan membran.
Selain itu teknologi membrane ini adalah teknologi yang praktis dan mudah
dilakukan namun, salh satu kesulitannya yaitu harganya yang mahal dan tidak
tahan lama dalam penggunaannya.

Membran memiliki berbagai macam jenis dan metode dalam


penggunaannya. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa karakterisasi
membran berpori dan tak berpori yang biasa digunakan dalam pemisahan
limbah cair.

1.2 Tujuan
a) Untuk mengetahui karakterisasi membran berpori.
b) Untuk mengetahui karakterisasi membran tidak berpori.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Membran

Membran didefinisikan sebagai suatu media berpori, berbentuk film tipis,


bersifat semipermeabel yang berfungsi untuk memisahkan partikel dengan
ukuran molekuler (spesi) dalam suatu sistem larutan. Spesi yang memiliki ukuran
yang lebih besar dari pori membran akan tertahan sedangkan spesi dengan ukuran
yang lebih kecil dari pori membran akan lolos menembus pori membran.

Membran merupakan selaput atau lapisan tipis antara dua fasa fluida yaitu
fasa umpan atau masuk dan fasa permeat yang bersifat sebagai penghalang
terhadap suatu spesi tertentu. Membran memiliki fungsi dapat memisahkan zat-
zat atau partikel-partikel dengan ukuran yang berbeda serta membatasi transpor
dari berbagai spesi berdasarkan sifat fisik dan kimianya. Selain untuk
memisahkan material berdasarkan ukuran dan bentuk molekul, membran juga
berfungsi untuk menahan komponen dari umpan yang mempunyai ukuran lebih
besar dari pori-pori membran dan melewatkan komponen yang mempunyai
ukuran yang lebih kecil.

Proses pemisahan dengan membran dapat terjadi karena adanya


perbedaan ukuran pori, bentuk, serta struktur kimianya. Membran demikian biasa
disebut sebagai membran semipermiable, artinya dapat menahan spesi tertentu,
tetapi dapat melewatkan spesi yang lainnya. Fasa campuran yang akan
dipisahkan disebut umpan (feed), hasil pemisahan disebut sebagai permeat (Heru
pratomo, 2003). Membran juga terbagi atas dua jenis antara lain membran
berpori dan membran tidak berpori. Membran berpori yaitu selaput tipis yang
digunakan untuk memisahkan partikel besar sampai makromolekul. Sedangkan
membran tidak berpori yaitu selaput tipis yang digunakan untuk pemisahan gas
dan pervaporasi (H2 dan N2).

2
2.2 Karakterisasi Membran

2.2.1 Karakterisasi Membran Berpori


Membran berpori memiliki dua cara untuk menentukan karakterisasi
dari membran berpori yaitu dengan cara mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi.
A. Mikrofiltrasi

Mikrofiltrasi merupakan pemisahan partikel berukuran mikron atau


submikron yang berukuran 0,1-10 m. Membran ini beroperasi dengan
tekanan sekitar 0,1-2 bar. Ada beberapa metode yang digunakan dalam
karakterisasi membran mikrofiltrasi, yaitu :

1. Scanning Electron Microscopy (SEM)

SEM merupakan teknik yang digunakan pada karakterisasi


membran yang digunakan untuk mengamati struktur pori, SEM dapat
mengamati semua bentuk struktur membran mikrofiltrasi. Diantaranya
struktur permukaan membran dan penampang lintang membran.

Gambar 2.2.1 Prinsip Kerja Scanning Electron Microscopy (SEM)

Prinsip kerja dari metode ini yaitu mikroskop elektron bekerja


dengan cara menembakkan elektron primer ke arah spesimen sampel.
Berkas elektron yang mengenai spesimen sampel akan dipantulkan
berupa elektron sekunder yang nantinya akan di deteksi oleh detektor.

3
Untuk dapat di analisis dengan mkroskop elektron, permukaan sampel
harus bersifat konduktif secara listrik. Oleh karena itu, permukaan
sampel yang bukan konduktor perlu diberi lapisan tipis logam seperti
emas (Au) atau paladium (Pd). Selain itu, permukaan sampel yang
tidak konduktif akan menyebabkan gambar yang dihasilkan oleh
mikroskop electron berwarna ssangat terang.

Gambar 2.2.2 permukaan atas pori poli (ether imide ) membran


menggunakan metode SEM

2. Metode Bubble Point

Metode bubble point merupakan teknik karakterisasi yang


digunakan untuk melihat ukuran pori maksimum pada suatu
membran. Metode ini dibuat oleh Bechold dalam beberapa tahun pada
abad ini. Pada dasarnya langkah pada metode ini membutuhkan
tekanan pada tiupan udara melalui cairan yang masuk ke membran.
Bagian atas penyaring adalah tempat untuk kontak dengan cairan (air)
yang masuk ke semua pori-pori ketika membran dalam keadaan
basah.

4
Gambar 2.2.3 Skema Dari Bubble-Point Test Apparatus
Hubungan antara tekanan dan jari-jari pori, dijabarkan dengan
persamaan Laplace sebagai berikut :

2
r p= cos
P

Metode ini hanya bisa digunakan untuk langkah pada pori-pori aktif
yang berukuran besar yang terdapat dalam membran dan hal tersebut
menjadi standart teknik yang digunakan oleh suppliers pada cirri-ciri
membrane mikrofiltrasi. (Mulder, 1996)

3. Metode Mercury Instruction

Metode ini merupakan variasi dari metode bubble point. Pada


metode ini, merkuri didorong ke dalam membran kering dengan
volume yang disesuaikan dengan tekanan yang digunakan. Hampir
sama dengan metode Bubble Point, hubungan antara tekanan dan
ukuran pori dijabarkan oleh persamaan Laplace. Dengan modifikasi
sebagai berikut :

2 cos
r p=
P

Jika volume mercuri dapat ditentukan dengan akurat, maka


ukuran pori dapat ditentukan dengan sangat tepat. Bagaimanapun,
persamaan Laplace mengasumsi jika terdapat pembuluh/aliran pada
pori-pori. Hal ini tidak umum terjadi pada fakta sebenarnya dan untuk
alasan ini, ilmu konstan harus memperkenalkannya. Selanjutnya,
tekanan yang sangat tinggi harus dihindari sebelum terjadi kerusakan

5
pada struktur pori-pori dan mempengaruhi ukuran pori yang salah.
Berikut skema yang menunjukkan hasil dari experiment mercuri :

Gambar 2.2.4 Grafik Komulasi Volume yang Berfungsi


Menerapkan Tekanan

B. Ultrafiltrasi

Membran ultrafiltrasi bisa juga dianggap seperti berpori.


Bagaimanapun juga struktur ini tipe yang lebih asimetrik dibandingkan
membran mikrofiltrasi. Seperti membran asimetrik terdiri dari sebuah
lapisan atas yang tipis dibantu dengan sublayer, dengan gerakan
transfer masa yang dihitung secara keseluruhan dengan lapisan
aatassnya. Untuk alasan ini, karakterisasi membrane ultrafiltrasi
meliputi karakterisasi lapisan atas, seperti ketebalan, penyalur ukuran
berpori, dan luas permukaan pori. Tipe ukuran berpori lapisan atas
sebuah membrane ultrafiltrasi biasanya sekitar 20 1000 . Karena
ukuran pori sangat kecil, teknik karakterisasi membrane mikrofiltrasi
tidak dapat digunakan untuk membrane ultrafltrasi. Pemecahan sebuah
scanning elektron mikroskopi biasanya juga rendah untuk menghitung
keakuratan ukuran pori pada lapisan atas. Selanjutnya, intrusion
mercury dan metode bubble point tidak bisa digunakan karena ukuran
pori juga kecil, jadi harus menggunakan tekanan yang sangat tinggi,
yang mana harus merusak struktur polimer. Selanjtnya percobaan
permeasi bisa digunakan dan metode ini bisa diperpanjang dengan
menggunakan berbagai macam cara. Beberapa cara karakterisasi
ultrafiltrasi yaitu :

6
1. Adsorpsi - desorpsi gas

Adsorpsi desorpsi gas yaitu karakterisasi membran untuk


menghitung ukuran pori dan penyetor ukuran pori pada bahan-bahan
berpori. Gas buangan dari adsorpsi dan desorpsi isotermis ditentukan
oleh fungsi dari tekanan relatif. Nitrogen selalu digunakan pada gas
adsorpsi dan experiment yang mempengaruhi titik didih suhu nitrogen
cair (pada tekanan 1 bar). Adsorpsi isotermis diawali dengan tekanan
relatif rendah. Pada tekanan minimum yang pasti, pori-pori yang
berukuran kecil akan tersisi dengan nitrogen cair (dengan ukuran jari-
jari 2 nm). Sama jika tekanan naik secara bertahap, pori-pori dengan
ukuran besar akan terisi dan mendekati tekanan jenuh ketika semua
pori-pori terisi. Jumlah volume pori dapat ditentukan oleh kuantitas
dari gas adsorber yang mendekati tekanan jenuh.

Desorpsi terjadi ketika tekanan berkurang, diawali dengan


tekanan jenuh. Kurva desorpsi, umumnya tidak teridentikasi pada
kurva adsorpsi. Hal ini adalah ketika pipa kondensasi terjadi
perbedaan dalam adsorpsi dan desorpsi. Karena cairan meniscus
cekung dalam pori, penguapan nitrogen dalam kondisi tekanan relatif
yang rendah karena tekanan uap dari cairan berkurang. Rendahnya
tekanan uap untuk pipa dari jari-jari (r) dijabarkan oleh hubungan
Kelvin :

P 2 V
ln = cos
P o r k RT

2. Termoporometri
Termoporometri didasarkan atas ukuran kalorimetri dari
transisi padatan-cairan dalam poros material dan dapat diaplikasikan
untuk menentukan ukuran pori dalam membrane berserap. Hal ini
mungkin pori-pori dalam kulit dari membrane asimetrik, suhu yang
mana air dalm pori-pori sangat dingin tergantung pada ukuran pori.
Seperti ukuran pori pada titik beku air berkurang. Pada pori yang lain

7
memiliki titik beku yang spesifik. Unutu pori silinder mengandung
air, mengikuti persamaan untuk melting :
32.33
R p=0.68
T

Dimana : rp adalah jari-jari pori (nm)


T adalah tingkat undercooling (oC)

Burn diperoleh dengan hubungan antara efek pana w(J/g) dan


penurunan titik leleh.

2
w=0.155 T 11.39 TT 332
3. Permporometri

Termopormetri mempunyai kekurangan yaitu member semua pori-


pori pada membrane, di sublapisan maupun di atas lapisan, termasukk
karakter mati

Gambar 2.2.5 Prinsip dari Permporometri

2.2.2 Karakterisasi Membran Tidak Berpori


Membran tidak berpori digunakan untuk melakukan proses pemisahan
pada sebuah tingkat molekul. Bagaimanapun, daripada berat molekul atau
ukuran molekul, kimia murni, dan morfologi dari membran polimer dan
luas interaksi antara polimer dan permeants merupakan faktor yang sangat
penting untuk dipertimbangkan. Pengangkutan melalui membrane tidak
berpori terjadi oleh mekanisme difusi-larutan dan pemisahan tercapai
masing-masing dengan perbedaan daya larut dan keterbauran. Pada
karakterisasi membran tidak berpori dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

8
1) Metode Permeabilitas Membran

Permeabilitas membran merupakan salah satu cara karakterisasi


membran yang berkaitan dengan ukuran dan jumlah pori pada
membran.

Gambar 2.2.6 Metode Permeabilitas Membran

Untuk menentukan permeabilitas membran, membran diletakkan


dalam sel aliran kontinyu dengan larutan umpan berupa air suling.
Sebelum dilakukan pengukuran, struktur pori membrane dipadatkan
selama beberapa saat dengan tekanan atau laju alir tertentu sampai
diperoleh volume permeat yang tetap. Cairan permeat selesai kemudian
di evaporasi pada sebelah hilir dan ditenangkan di kondensor yang
mana didinginkan menggunakan cairan nitrogen atau cairan lainnya.
Kemudian pengukuran dilakukan dengan cara menampung permeat
yang keluar melalui membran setiap 5-10 menit.

2) Plasma Etching
Plasma etching adalah teknik baru yang mengizinkan ukuran
ketebalan pada lapisan bagian atas asimetris dan membran - membran
gabungan. Keseragaman struktur pada lapisan bagian atas dan juga
properties lapisan di bawah dari lapisan atas dan sublapisan bisa juga
dihitung. Proses ini meliputi sebuah reaksi diantara permukaan sebuah
merman polimerik dan sebuah plasma diproduksi di sebuah
penembakan cahaya. Petunjuk petunjuk ini menghilangkan lapisan

9
atas membran. Produk yang mudah menguap seperti CO2, CO, NOx,
SOx, dan H2O dipindahkan ke pertengahan sistem vakum.

Gambar 2.2.7 Prinsip Plasma Etching

Takaran alat transport gas seperti sebuah fungsi waktu


penggoresan, informasi bisa diperoleh dari morfologi dan tebal tipis
lapisan atas yang tak berporos. Karena, ketebalan lapisan atas biasanya
tanpa jarak 0,1 5 m, kecepatan goresan harus rendah.

3) Analisis Luas Permukaan

Metode ini sering diperlukan untuk mengubah properties sebuah


membran, misalkan mengurangi adsorpsi atau mengenalkan kelompok
khusus yang bisa digunakan untuk daya tarik menarik membran.
Perubahan permukaan bisa juga digunakan sebuah metode merubah
properties pemisahan bahan atau sampel.

Pada membran gabungan, properties membran dihitung dengan


lapisan yang sangat tipis. Lapisan tipis diaplikasikan pada reaksi
polimerisasi, polimerisasi plasma, polimerisasi interfasial, atau
polimerisasi in situ. Karena itu, lapisan tersebut cocok untuk kebutuhan
perhitungan properties permukaan oleh analisis permukaan.

Gambar 2.2.8 Prinsip dari Luas Permukaan

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Membran merupakan selaput atau lapisan tipis antara dua fasa fluida yaitu
fasa umpan atau masuk dan fasa permeat yang bersifat sebagai penghalang
terhadap suatu spesi tertentu. Membran memiliki fungsi dapat memisahkan zat-
zat atau partikel-partikel dengan ukuran yang berbeda serta membatasi transpor
dari berbagai spesi berdasarkan sifat fisik dan kimianya. Selain untuk
memisahkan material berdasarkan ukuran dan bentuk molekul, membran juga
berfungsi untuk menahan komponen dari umpan yang mempunyai ukuran lebih
besar dari pori-pori membran dan melewatkan komponen yang mempunyai
ukuran yang lebih kecil.

Karakterisasi membran dibagi menjadi 2 bagian, membran berpori dan


membran tidak berpori :
I. Karakterisasi membran berpori, mempunyai dua metode yaitu
mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi.
Mikrofiltrasi : Scanning Electron Microcopy, Bubble Point Method,
Mercury Intrusion Method
Ultrafiltrasi : Gas Adsorption - Desorption, Thermoporometry,
Permporometry
II. Karakterisasi membran tak berpori, mempunyai beberapa metode dalam
menentukan karakterisasi membran yaitu dengan metode permeabilitasi
membran, plasma etching, dan analisis luas permukaan.

11
12