Anda di halaman 1dari 19

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari / Tanggal Ujian / Presentasi Kasus:
SMF ANAK
Rumah Sakit: RSUD TARAKAN

Nama : Avena Athalia Alim Tanda Tangan:


Nim : 11-2014-230
Dr.Pembimbing : dr. Opy Dyah P, SpA. Tanda Tangan:

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : By. Ny. T Jenis kelamin : Perempuan
Tempat lahir : Jakarta Tanggal Lahir: 17 November 2015
Usia : 0 hari Agama : Islam
Pekerjaan : Belum bekerja Pendidikan : -
Alamat: Jl. Kesadaran IV RT 07/07 Masuk ruang Perina tanggal 17 September
Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur 2015, jam 12.05 WIB

IDENTITAS ORANG TUA


Nama Orang Tua Ibu Ayah
Nama Ny. T Tn. SR
Umur 24 tahun 24 tahun
Pekerjaan Ibu rumah tangga Wiraswasta
Alamat: Jl. Kesadaran IV RT 07/07 Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur

Family Tree

A. Anamnesis

Diambil dari alloanamnesis dengan ibu pasien tanggal 18 November 2015 pukul 15.00

1
Keluhan utama : Bayi sesak

Keluhan tambahan : -

Riwayat Penyakit Sekarang

Bayi dari ibu G1 P0 A0 dengan usia kehamilan 34 minggu lahir secara seksio cesaria
atas indikasi ketuban pecah dini (KPD) sebelas jam dan cairan ketuban sedikit
(oligohidroamnion) di RSUD Tarakan pada tanggal 17 November 2015 pukul 12.05. APGAR
score 7/9. Berat badan lahir bayi 2100 gram, panjang badan 42 cm, lingkar kepala 32 cm,
lingkar dada 28 cm, lingkar perut 24 cm, lingkar lengan atas 7 cm. Bayi lahir aktif menangis,
tubuh berwarna merah sedangkan ekstremitas sedikit biru. Bayi mengalami kesulitan
bernapas beberapa saat kemudian. Ketuban berwarna putih keruh. Ibu bayi memiliki riwayat
alergi jamur dan cumi, sedangkan riwayat darah tinggi, kencing manis, asma disangkal. Ibu
bayi sering kontrol ke bidan dekat rumahnya selama masa kehamilan.

Riwayat Kehamilan

Perawatan antenatal

Perawatan antenatal oleh bidan di klinik daerah Kampung Melayu.

Penyakit selama masa kehamilan

Tidak ada keluhan selama kehamilan. Demam saat kehamilan, anyang-anyangan


disangkal ibu pasien. Ibu pasien rutin memeriksakan kandungan selama masa
kehamilan. Ibu pasien juga mengaku bahwa ia melakukan aktivitas rumah tangga
beberapa saat sebelum ketuban pecah.

Riwayat Pertumbuhan

Belum dapat dinilai

Riwayat Perkembangan

Belum dapat dinilai

2
Riwayat Imunisasi

Belum dilakukan

Riwayat Penyakit Keluarga

Anggota keluarga dalam keadaan sehat

B. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Umum (tanggal 17 September 2015 pukul 15.00)

Keadaan umum : Tampak cukup aktif, ada kesulitan bernapas

Kesadaran : Compos mentis

Nadi : 165 x / menit

Suhu : 36,8oC

Pernapasan : 72 x / menit

Berat badan lahir : 2100 gram

Berat badan sekarang : 2100 gram

Kepala : Normosefali, ubun-ubun besar datar, rambut hitam


Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, sekret -/-
Telinga: Normotia, sekret -/-, lunak, rekoil agak lambat
Hidung : Napas cuping hidung (+)
Leher : Retraksi suprasternal (-)
Mulut : Mukosa mulut lembab, sianosis (-)

Thorax
Paru-Paru
Depan Belakang
Inspeksi Kiri Simetris, retraksi intercostal (+) Simetris, retraksi intercostal (+)
Kanan Simetris, retraksi intercostal (+) Simetris, retraksi intercostal (+)
Palpasi Kiri Benjolan (-), sela iga tidak Benjolan (-), sela iga tidak
melebar melebar
Kanan Benjolan (-), sela iga tidak Benjolan (-), sela iga tidak

3
melebar melebar
Perkusi Kiri Sonor Sonor
Kanan Sonor Sonor
Auskultasi Kiri Suara napas bronkovesikuler Suara napas bronkovesikuler
Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)
Kanan Suara napas bronkovesikuler Suara napas bronkovesikuler
Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)

Jantung
Inspeksi : Pulsasi iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Teraba iktus cordis pada sela iga V linea midclavicula kiri
Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : BJ I-II murni regular, gallop (-), murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar, retraksi epigastrium (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani
Palpasi
Dinding Perut : Supel
Turgor Kulit : Normal
Hati : Tidak teraba
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba

Ekstremitas
Inspeksi: Sianosis (-), ikterik (-), kulit tipis, lanulago menipis, lipatan garis-garis kaki merah
Palpasi : Akral hangat, CRT < 3 detik

Refleks Primitif
Refleks moro (+ agak lemah)
Refleks genggam (+ agak lemah)
Refleks rooting (+ agak lemah)
Refleks tonik otot leher (+ agak lambat)

4
Refleks Babinski (+)

Genital
Inspeksi: Vulva (+), lubang anus (+)

C. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium (Tanggal 17 November 2015 15:48)

Pemeriksaan Hasil Satuan Flag Nilai Rujukan


HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hemoglobin 20.4 g/dL * 13.9 - 18.0
Hematokrit 59.9 % * 40 - 50
Eritrosit 5.63 Juta/uL 4.76 - 6.95
Leukosit 26.670 /mm3 * 4000 - 10000
Trombosit 290.000 /mm3 150000 - 450000
Gula Darah Sewaktu 81 mg/dL < 140

Laboratorium (Tanggal 17 November 2015 17:27)

Pemeriksaan Hasil Satuan Flag Nilai Rujukan


KIMIA KLINIK
Elektrolit
Natrium (Na) 142 mEq/L 135 150
Kalium (K) 3.9 mEq/L 3.6 5.5
Chlorida (Cl) 102 mEq/L 94 111
Analisa Gas Darah
pH 7.318 * 7.35 7.45
PCO2 38.1 mmHg 35 45
PO2 70.7 mmHg * 83 108
SO2 92.6 % 85 99
BE-ecf -6.6 mmol/L * -2 3
BE-b -5.3 mmol/L *
SBC 20.0 mmol/L
HCO3 19.7 mmol/L * 21 28
TCO2 20.9 mmol/L * 23 27
A 102.7 mmHg 128 229
A-aDO2 32.00 mmHg
a/A 0.7 mmHg
o
Temperatur 37.0 C

D. Pemeriksaan yang Diusulkan

5
Kultur darah
Cek AGD untuk evaluasi terapi ventilasi
Pemeriksaan rontgen thoraks AP/PA
Shake test

E. Ringkasan

Bayi lahir secara seksio cesaria atas indikasi ketuban pecah dini (KPD) 11 jam dan
cairan ketuban sedikit (oligohidroamnion) dari ibu G1 P0 A0 dengan usia kehamilan 34
minggu di RSUD Tarakan pada tanggal 17 November 2015 pukul 12.05. APGAR score 7/9.
Berat badan lahir bayi 2100 gram, panjang badan 42 cm, lingkar kepala 32 cm, lingkar dada
28 cm, lingkar perut 24 cm, lingkar lengan atas 7 cm. Bayi lahir aktif menangis, tubuh
berwarna merah sedangkan ekstremitas sedikit biru. Bayi mengalami kesulitan bernapas
beberapa saat kemudian. Ibu pasien juga mengaku bahwa ia melakukan aktivitas rumah
tangga beberapa saat sebelum ketuban pecah. Ketuban berwarna putih keruh. Ibu bayi
memiliki riwayat alergi jamur dan cumi.

Pemeriksaan Fisik : Nadi 165 x / menit, pernapasan 72 x / menit, suhu 36,8oC, ada retraksi,
ada napas cuping hidung, telinga lunak dan rekoil agak lambat, kulit tipis, lanulago menipis,
lipatan kaki garis-garis merah. Refleks moro (+ agak lemah), refleks genggam (+ agak
lemah), refleks rooting (+ agak lemah), refleks tonik otot leher (+ agak lambat), refleks
Babinski (+).

Pemeriksaan penunjang : Hb 20,4 g/dL, Ht 59,9%, leukosit 26.670 /mm 3, pH 7.318, PO2
70,7 mmHg, BE-ecf -6,6 mmol/L, BE-b -5,3 mmol/L, HCO3 19,7 mol/L, TCO2 20,9
mmmol/L.

F. Diagnosis Kerja

1. Neonatus Kurang Bulan - Sesuai Masa Kehamilan


2. Respiratory Distress Syndrome
3. Sepsis Neonatorum Awitan Dini
4. Hiperbilirubinemia

G. Diagnosis Banding

6
1. Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
2. Sindrom aspirasi mekonium

H. Penatalaksanaan

Medikamentosa

Kebutuhan cairan 80 cc/kgBB/hari


Infus D10 80 7 cc/jam
Injeksi Ampicilin 2 x 105 mg
Injeksi Gentamicin 18 mg/36 jam

Non Medikamentosa

CPAP PEEP 7, FiO2 30%, Flow 3 L/menit


Jaga suhu bayi sekitar 36,5oC sampai 37,5oC
Pemasangan OGT

H. Follow Up

Tanggal 18 November 2015


S Terpasang CPAP PEEP 8, FiO2 30%, flow 7 L/menit, lemas, terlihat sesak, puasa,
residu (-), BAK (+), BAB (+)
O BBS: 2100 gram
U/P : 1/2
KU: tampak sesak
N: 147 x / menit
RR: 80 x / menit
Suhu: 36,4oC
Kepala: normocephalus
Mata: CA -/- , SI -/-,
Telinga: normotia, sekret -/-
Hidung: NCH (-)
Mulut: bibir lembab, sianosis (-)
Leher: retraksi suprasternal (-)
Dada: simetris, retraksi sela iga (+) minimal

7
Cor: BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: SN bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen: supel, BU (+), retraksi epigastrium (-)
Ekstremitas: akral hangat, CRT < 3 detik
Laboratorium : GDS 154 mg/dL*
A NKB SMK, RDS, SNAD
P Kebutuhan cairan 100 cc/hari

N5 paket 84
7,3 cc/jam

Aminosteril 16 1.4 cc/jam

Diet 8 x 2,5 cc / 3 jam (10 cc/hari)

Injeksi Ampicillin 2 x 105 mg

Injeksi Gentamisin 10 mg / 36 jam

CPAP PEEP 7, FiO2 21%, flow 7 L/menit FiO2 25% karena saturasi 88-
92%, PEEP 7, flow 7 L/menit

Tanggal 19 November 2015


S Terpasang CPAP PEEP 7, FiO2 25%, flow 7 L/menit, cukup aktif, sesak berkurang,
puasa kembali karena kemarin muntah 3 cc kecoklatan, residu (+), stokel (+), BAK
(-), BAB (-)
O BBS: 2100 gram
U/P : 2/3
KU: tampak cukup aktif
N: 140 x / menit
RR: 56 x / menit
Suhu: 36.9oC
Kepala: normocephalus
Mata: CA -/- , SI -/-, edema -/-
Telinga: normotia, sekret -/-
Hidung: NCH (-)
Mulut: bibir lembab, sianosis (-)

8
Leher: retraksi suprasternal (-)
Dada: simetris, retraksi sela iga (-)
Cor: BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: SN bronkovesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen: supel, BU (+), retraksi epigastrium (-)
Ekstremitas: akral hangat, CRT < 3 detik
Laboratorium: GDS 50 mg/dL
A NCB SMK, RDS, SNAD
P Jaga suhu 36,5 oC - 37,5oC
Kebutuhan cairan 120 cc/hari
NS paket 104 9,1 cc/jam
Aminosteril 16 1,4 cc/jam
Diet 8 x 5,2 cc (20 cc/hari)
Injeksi Pybactam 2 x 110 mg
Injeksi Amikacin 15 mg / 8 jam
CPAP PEEP 6, FiO2 21%, flow 6 L/menit
Cek AGD, golongan darah, rhesus, bilirubin total, bilirubin direk

Tanggal 20 November 2015


S Terpasang CPAP PEEP 6, FiO2 21%, flow 6 L/menit, menangis kuat, bergerak aktif,
sesak berkurang, sedikit ikterus, puasa namun jam 12 siang mulai diberikan ASI 5
cc/OGT, residu (+), kekuningan (+), stokel (+), BAK (-), BAB (+)
O BBS: 2100 gram
U/P : 3/4
KU: tampak aktif
N: 140 x / menit
RR: 52 x / menit
Suhu: 37,0oC
Kepala: normocephalus
Mata: CA -/- , SI -/-
Telinga: normotia, sekret -/-
Hidung: NCH (-)

9
Mulut: bibir lembab, sianosis (-)
Leher: retraksi suprasternal (-)
Dada: simetris, retraksi sela iga (-)
Cor: BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: SN bronkovesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+), retraksi epigastrium (-)
Ekstremitas: ikterus, akral hangat, CRT < 3 detik

Laboratorium (tanggal 19/11/2015) :


Imunoserologi
Golongan darah AB / Positif
Kimia Klinik
Analisa Gas Darah
pH 7,417
PCO2 36,7 mmHg
PO2 69,4 mmHg*
SO2 93,7%
BE-ecf -0,9 mmol/L
BE-b 0,2 mmol/L
SBC 24,5 mmol/L
HCO3 23,8 mmol/L
TCO2 25,0 mmHg
Fungsi Liver
Bilirubin Total 11,27 mg/dL
Bilirubin Direk 0,63 mg/dL*

Laboratorium (tanggal 20/11/2015) :


Gula Darah
GDS 90 mg/dL
A NCB SMK, RSD, SNAD, hiperbilirubinemia
P Jaga suhu 36,5 oC - 37,5oC
Kebutuhan cairan 140 cc/hari
NS paket 94 8,2 cc/jam + 20% 9,8 cc/jam
Aminosteril 16
1,4 cc/jam

10
Diet 8 x 7,8 cc (30 cc/hari)
Injeksi Pybactam 2 x 110 mg
Injeksi Amikacin 15 mg / 8 jam
CPAP PEEP 5, FiO2 21%, flow 2 L/menit
Blue light therapy 2 x 24 jam

Tanggal 21 November 2015


S Terpasang HFN FiO2 21%, flow 2 L/menit, menangis kuat, bergerak aktif, sedikit
ikterus, tidak ada sesak, ASI/SF 8 cc/OGT, residu (-), stokel (-), BAK (-), BAB (+)
O BBS: 2100 gram
U/P : 4/5
KU: tampak aktif
N: 140 x / menit
RR: 49 x / menit
Suhu: 37,0oC
Kepala: normocephalus
Mata: CA -/- , SI -/-
Telinga: normotia, sekret -/-
Hidung: NCH (-)
Mulut: bibir lembab, sianosis (-)
Leher: retraksi suprasternal (-)
Dada: simetris, retraksi sela iga (-)
Cor: BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: SN bronkovesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
Abdomen: supel, BU (+), retraksi epigastrium (-)
Ekstremitas: sedikit ikterus, akral hangat, CRT < 3 detik
Laboratorium :
Gula Darah
GDS 66 mg/dL
A NCB SMK, RSD, SNAD, hiperbilirubinemia
P Jaga suhu 36,5 oC - 37,5oC
Kebutuhan cairan 160 cc/hari

11
NS paket 104
9,1 cc/jam + 20% 10,9 cc/jam
Aminosteril 16
1,4 cc/jam
Diet 8 x 10,5 cc (40 cc/hari)
Injeksi Pybactam 2 x 110 mg
Injeksi Amikacin 15 mg / 8 jam
HFN FiO2 21%, flow 1 L/menit
Blue light therapy 24 jam

Analisis Kasus

Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir. Rerata berat
bayi normal (usia gestasi 37 sampai dengan 41 minggu) adalah 3200 gram. Secara umum,
bayi berat lahir rendah dan bayi dengan berat berlebih ( 3800 gram) lebih besar resikonya
mengalami masalah. Tidak semua BBL yang memiliki berat lahir kurang dari 2500 gram lahir
BKB. Demikian pula tidak semua BBL dengan berat lahir lebih dari 2500 gram lahir aterm.
Menurut hubungan berat badan lahir/umur kehamilan yang dapat dilihat dari kurva
Lubchenco, berat bayi baru lahir dapat dikelompokkan menjadi Sesuai Masa Kehamilan
(SMK), Kecil Masa Kehamilan (KMK) jika berada di bawah persentil ke-10, dan Besar Masa
Kehamilan (BMK) jika berada di atas persentil ke-90. Dengan cara yang sama berdasarkan
umur kehamilan bayi-bayi dapat digolongkan menjadi bayi kurang bulan (BKB) dimana
masa gestasi < 37 minggu, bayi cukup bulan (BCB) dimana masa gestasi 37-42 minggu, dan
bayi lebih bulan (BLB) dimana masa gestasi > 42 minggu.1

Pada kasus, bayi memiliki BBL 2100 dan umur kehamilan adalah 34 minggu.
Berdasarkan umur kehamilan bayi, maka bayi digolongkan menjadi bayi kurang bulan
(BKB). Sedangkan menurut berat badan lahir/umur kehamilan sesuai grafik Lubchenco,
bayi dapat dikelompokkan menjadi Sesuai Masa Kehamilan (SMK).

12
Distress respirasi atau gangguan napas merupakan masalah yang sering dijumpai pada
hari-hari pertama kehidupan BBL, ditandai dengan takipnea, napas cuping hidung, retraksi
intercostal, sianosis, dan apnu. Gangguan napas yang paing sering ialah TTN (Transient
Tachypnea of the Newborn), RDS (respiratory Distress Syndrome) atau PMH (Penyakit
Membran Hialin), dan sindroma aspirasi mekonium. Definisi gangguan napas itu sendiri
adalah suatu keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai dengan1 :

1. Takipnea : frekuensi napas > 60-80 kali/menit


2. Retraksi : cekungan atau tarikan kulit antara iga / interkostal dan atau di bawah
sternum / sub sternal selama inspirasi
3. Napas cuping hidung : kembang kempis lubang hidung selama inspirasi
4. Merintih atau grunting : terdengar merintih atau menangis saat inspirasi
5. Sianosis : sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan biru lebam
atau warna membran mukosa)
6. Apnu atau henti napas
7. Dalam jam-jam pertama sesudah lahir, empat gejala distress respirasi (takipnea,
retraksi, napas cuping, dan grunting) kadang juga dijumpai pada BBL normal tetapi
tidak berlangsung lama.
8. Bila takipnea, retraksi, cuping hidung, dan grunting menetap pada beberapa jam
setelah lahir, ini merupakan indikasi adanya gangguan napas atau distress respirasi.

Faktor presidposisi terjadinya distress pernapasan adalah BKB, depresi neonatal


seperti kehilangan darah dalam periode perinatal, aspirasi meconium, pneumotoraks akibat
tindakan resusitasi, hipertensi pulmonal, bayi dari ibu DM, bayi lahir dengan operasi sesar,
bayi yang lahir dari ibu yang menderita demam, ketuban pecah dini atau ketuban yang berbau
busuk dapat terjadi pneumonia bakterialis atau sepsis.1

Pada kasus, beberapa jam setelah lahir didapatkan takipnea, retraksi, dan cuping
hidung yang berlangsung cukup lama. Satu hari setelah dilahirkan, retraksi dan cuping
hidung tidak ada, namun masih terdapat takipnea. Terdapat faktor predisposisi antara lain
BKB, bayi lahir dengan operasi sesar, dan bayi lahir dari ibu yang mengalami ketuban
pecah dini. Hal ini merupakan indikasi adanya distress respirasi.

Evaluasi gawat napas dapat dilakukan dengan skor Downe dimana hasil evaluasi
membagi menjadi tiga, yaitu sesak napas ringan, sesak anpas sedang, dan sesak napas berat.
(Lihat Tabel 1)

Pada kasus didapatkan adanya sesak napas ringan berdasarkan skor Downe.

13
Tabel 1. Skor Downe pada neonatus1

Pemeriksaan Skor
0 1 2
Frekuensi napas < 60x/menit 60-80x/menit >80x/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan pemberian walaupun diberi O2
O2
Air entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar tanpa
dengan stetoskop alat bantu
Evaluasi
Total Diagnosis
1-3 Tidak ada / Gawat
napas ringan
4-5 Gawat napas sedang
>6 Gawat napas berat /
Ancaman gagal
napas

Respiratory Distress Syndrom (RDS) / Sindrom Gangguan Napas (SGN) atau Hyaline
Membrane Disease (HMD) / Penyakit Membran Hialin (PMH) merupakan penyakit
pernapasan yang terutama mempengaruhi bayi kurang bulan (prematur). Penyakit ini
ditemukan pada kurang lebih 50% bayi yang lahir dengan berat lahir < 1500 gram (< 34
minggu usia gestasi). Insiden PMH berbanding terbalik dengan masa gestasi. Semua faktor
yang terlibat dalam perubahan fisiologis yang terjadi pada RDS tidak spenuhnya dipahami
tetapi disfungsi perimer yang terjadi adalah sintesis surfaktan yang berkurang. Gangguan
napas ini merupakan sindrom yang terdiri dari satu atau lebih gejala sebagai berikut :
pernapasan cepat > 60 x/menit, retraksi dinding dada, merintih dengan atau tanpa sianosis
pada udara kamar, yang memburuk dalam 48-96 jam pertama kehidupan. Faktor resiko yang
dapat meningkatkan kemungkinan RDS adalah kelahiran kurang bulan, seksio sesarea tanpa
didahului proses persalinan, asfiksia perinatal, korioamnionitis, neonatus dari ibu diabetes,
hydrops fetalis, dan riwayat kelahiran saudara kandung dengan penyakit membran hialin.2-5

Berdasarkan pemeriksaan fisik, gejala biasanya dijumpai dalam 24 jam pertama


kehidupan (terutama dalam 4 jam setelah kehidupan). Dijumpai sindrom klinis yang terdiri

14
dari kumpulan gejala takipnea (frekuensi napas > 60 x/menit), napas cuping hidung, grunting
atau napas merintih, retraksi dinding dada, kadang dijumpai sianosis, kadang ditemukan
hipotensi, hipotermia, edema perifer, edema paru. Penyakit dapat menetap atau menjadi
progresif dalam 48-96 jam pertama.3,5

Pada kasus ditemukan kelahiran kurang bulan, seksio sesarea tanpa didahului
proses persalinan, takipnea pada hari pertama dan kedua kelahiran, napas cuping
hidumg, retraksi dinding dada pada hari pertama.

Pemeriksaan penunjang foto thoraks memberikan gambaran penyakit membran hialin


dimana gambaran yang khas berupa pola retikuloglanular bilateral, yang disebut dengan
ground glass appearance (seperti pecahan kaca), disertai dengan gambaran bronkhogram
udara (air bronkhogram). Pemeriksaan tansiluminasi thoraks merupakan cara yang dilakukan
dengan cara memberi iluminasi atau sinar yang terang menembus dinding dada ntuk
mendeteksi adanya penumpukan udara abnormal misalnya pneumotoraks untuk membantu
konfirmasi ada tidaknya gangguan parenkimal seperti pneumonia atau RDS. Pada pasien
dapat ditemukan pneumotoraks sekunder karena pemakaian ventilator atau terjadi
broncopulmonary dysplasia (BPD) setelah pemakaian ventilator jangka lama. Sedangkan dari
hasil laboratorium didapatkan analisis gas darah biasanya hipoksia, asidosis metabolik,
respiratorik, atau kombinasi, dan saturasi oksigen yang tidak normal. Rasio
lesitin/sfingomielin pada cairan paru (L/S ratio) < 2:1. Shake test (tes kocok), dilakukan
dengan cara pengocokan aspirat lambung, jika tidak ada gelembung resiko tinggi untuk
terjadinya PMH (60%). Dari hasil elektrolit dapat terjadi kenaikan kadar serum bikarbonat
yang mungkin karena kompensasi metabolik untuk hiperkapnea kronik dan kadar glukosa
darah biasanya rendah. Pemeriksaan jumlah darah didapatkan mungkin polisitemia.1-4

Pada kasus didapatkan asidosis respiratorik dan adanya polisitemia.

Diagnosis banding untuk RDS adalah Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
atau takipnea semantara pada neonatus dan sindroma aspirasi mekonium. TTN merupakan
penyakit ringan pada bayi mendekati cukup usia atau bayi cukup usia yang memperlihatkan
gawat pernapasan segera setelah kelahiran. Faktor resiko TTN adalah seksio sesarea,
makrosomia, partus lama, ibu mendapatkan sedasi berlebihan, skor Apgar rendah (< 7 dalam
1 menit), skor Downe > 4 pada 1 menit. Neonatus biasanya hampir cukup bulan atau cukup
bulan mengalami takipnea segera setelah kelahiran, neonates mungkin juga merintih, hidung
mengembang, iga retraksi, dan mengalami sianosis. Namun pada TTN terdapat perbaikan

15
spontan pada neonatus dimana penyakit ini dapat pulih sendiri dan tidak terdapat resiko
kekambuhan atau disfungsi paru lebih lanjut.2

Pada kasus, terdapat kemungkinan bahwa pasien menderita penyakit TTN sebab
adanya faktor resiko seksio sesarea, pada pemeriksaan didapatkan takipnea, hidung
mengembang, dan iga retraksi. Namun pada kasus tidak didapatkan perbaikan spontan
karena pada hari kedua masih didapatkan takipnea dan hari ketiga masih terlihat adanya
sedikit kesulitan bernapas meskipun tidak seberat pada awal kelahiran.

Diagnosis banding selanjutnya adalah sindrom aspirasi mekonium. Definisi sindrom


aspirasi mekonium (SAM) adalah sindrom atau kumpulan berbagai gejala klinis dan
radiologis akibat janin atau neonatus menghirup atau mengaspirasi meconium. Sindrom
aspirasi meconium dapat terjadi sebelum, selama, dan setelah proses persalinan. Air ketuban
keruh bercampur mekonium (AKK) dapat menyebabkan SAM yang mengakibatkan asfiksia
neonatorum yang selanjutnya dapat berkembang menjadi infeksi neonatal. Faktor resiko
adalah kehamilan lewat bulan, hipertensi maternal, denyut jantung janin abnormal,
preeklamsia, DM pada ibu, ketuban berwarna hijau, dan penyakit pernapasan pada ibu.
Manifestasi klinis adalah adanya gejala gangguan napas atau distress respirasi (takipnea,
retraksi dinding dada, grunting, sianosis sentral) dan suhu tubuh tidak normal sejak lahir dan
tidak memberi respon terhadap terapi.2,4,6

Pada kasus, terdapat kemungkinan bahwa pasien menderita penyakit sindrom


aspirasi mekonium sebab adanya gejala gangguan napas berupa takipnea dan retraksi
dinding dada meskipun tidak ada faktor resiko yang mendukung. Meskipun begitu, setiap
bayi yang lahir dengan gangguan napas selalu dipikirkan adanya kemungkinan karena
sindrom aspirasi mekonium.

Penatalaksanaan RDS secara umum adalah terapi ventilasi (pemberian oksigen),


antibiotik, analisis gas darah untuk manajemen respirasi, jaga suhu, pemberian sufaktan,
pemberian cairan dan elektrolit. Terapi ventilasi dilakukan dengan balon resusitasi dan
sungkup bila pernapasan bayi tidak adekuat lalu lanjutkan dengan pemberian oksigen.
Pemberian oksigen aliran tinggi (>15 L/menit) dapat diberikan melalui Venturi (alat yang
mencampur oksigen dengan udara ruangan) atau head box atau oksigen tenda. Pemberian
oksigen aliran sedang (<6 L/menit) dapat diberikan melalui nasal kateter dan sungkup muka
(masker) yang sederhana. Sedangkan pemberian oksigen dan tekanan positif kontinu
diberikan dengan CPAP (Continuos Positive Airway Pressure) dimana alat yang banyak

16
digunakan ini dapat merupakan terapi utama RDS karena memberikan penurunan angka
kematian RDS. CPAP mulai dipasang pada tekanan sekitar 5-7 cm H2O melalui prong nasal,
pipa nasofaringeal, atau pipa endotrakheal. Untuk bayi dengan asidosis respiratorik,
hipoksemia, dan apnu sebagai tambahan mungkin diperlukan PEEP (Positive End-Expiratory
Pressure) yang akan menstabilkan alveoli dan meningkatkan volume serta oksigenasi. Jenis
setting awal IMV (Intermittent Mandatory Ventilation) adalah FiO2 40-60, PIP (Peak
Inspiratory Pressure) 18-25 cm H2O, PEEP 5 cm H2O, pernapasan 40-60 x/menit, flow rate 7
L/menit. Bila konsentrasi FiO2 tinggi diperlukan dan pasien tidak dapat menerima pemutusan
tekanan jalan napas (airway pressure) meskipun dalam jangka pendek, maka ventilasi dengan
tekanan positif harus dilakukan. Antibiotik diberikan spektrum luas, biasanya dimulai dengan
ampisilin 50 mg/kg intravena tiap 12 jam dan Gentamisin 5 mg/kgBB/kali pemberian, jika
berat badan < 1200 gram diberikan setiap 48 jam, 36 jam, dan 24 jam sedangkan jika berat
badan 1200-2500 gram diberikan setiap 36 jam dan 24 jam. Hasil analisa gas darah untuk
manajemen terapi ventilasi diharapkan pH > 7,25, PaO2 50-70 mmHg, PaCO2 40-65, HCO3
20-22 mEq/L. Jaga kehangatan suhu bayi sekitar 36,5 oC sampai 37,5oC (suhu aksila) untuk
mencegah vasokonstriksi perifer. Terapi pemberian surfaktan harus segera dilakukan setelah
secara klinis RDS dapat didiagnosis. Survanta (bovine survactant) diberikan dengan dosis
total 4 mL/kgBB intratrakea (masing-masing 1 mL/kg berat badan untuk lapangan paru depan
kiri dan kanan serta paru belakang kiri dan kanan), terbagi dalam beberapa kali pemberian,
biasanya 4 kali. Dosis total 4 mL/kgBB dapat diberikan dalam jangka waktu 48 jam pertama
kehidupan dengan interval minimal 6 jam antar pemberian. Efek samping dapat berupa
perdarahan dan infeksi paru. Pemberian cairan dan elektrolit dengan D5% atau D10%, dosis
60-80 mL/kgBB/hari.1-5,7,8

Pada kasus diberikan terapi ventilasi berupa CPAP PEEP 7, FiO2 30%, Flow 3
L/menit yang jumlah pemberiannya di naik dan turunkan sesuai kondisi pasien,
pemberian antibiotik Ampicilin 2 x 105 mg dan Gentamicin 18 mg/36 jam, menjaga
kehangatan suhu bayi sekitar 36,5oC sampai 37,5oC, pemberian cairan dengan kebutuhan
cairan 80 cc/kgBB/hari, infus D10 sebanyak 7 cc/jam.

Sepsis pada neonatus adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai
dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang, atau
air kemih. Sepsis neonatorum biasanya dibagi dalam dua kelompok yaitu sepsis awitan dini

17
dan awitan lambat. Pada awitan dini, kelainan ditemukan pada hari-hari pertama kehidupan
(umur di bawah 3 hari). Infeksi terjadi secara vertikal karena penyakit ibu atau infeksi yang
diderita ibu selama persalinan atau kelahiran. Berlainan dengan kelompok awitan dini,
penderita awitan lambat terjadi disebabkan kuman yang berasal dari lingkungan di sekitar
bayi setelah hari ke-3 lahir. Pada sepsis awitan dini faktor risiko dikelompokkan menjadi1:

1. Faktor ibu

Persalinan dan kelahiran kurang bulan


Ketuban pecah lebih dari 18-24 jam
Chorioamnionitis
Persalinan dengan tindakan
Demam pada ibu (>38.4oC)
Infeksi saluran kencing pada ibu
Faktor sosial ekonomi dan gizi ibu

2. Faktor bayi

Asfiksia perinatal
Berat badan bayi lahir rendah
Bayi kurang bulan
Prosedur invasif
Kelainan bawaan

Pada kasus, pasien mengalami sepsis neonatorum awitan dini mungkin disebabkan
oleh persalinan dan kelahiran kurang bulan, berat badan bayi lahir rendah, bayi kurang
bulan. Untuk mengatasi sepsis pada pasien, diberikan Ampicillin 2 x 105 mg dan
Gentamisin 18 mg/36 jam.

Hiperbilirubinemia adalah terjadinya peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar


deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil
90. Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus
pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih. Ikterus secara
klinis akan mulai terlihat pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL. Terdapat
dua jenis ikterus, yaitu ikterus fisiologis dan ikterus non fisiologis. Ikterus fisiologis terjadi
setelah usianya di atas 24 jam. Biasanya kadar bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar 6-8
mg/dL pad ahari ke-3 kehidupan dan kemudian akan menurun cepat selama 2-3 hari diikuti
dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2 minggu. Pada bayi cukup

18
bulan yang mendapat ASI kadar bilirubin puncak akan mencapai kadar yang lebih tinggi dan
penurunan terjadi lebih lambat (antara 2-4 minggu bahkan 6 minggu). Sedangkan pada bayi
kurang bulan yang mendapat susu formula juga akan mengalami peningkatan dengan puncak
yang lebih tinggi dan lebih lama, begitu juga dengan penurunannya jika tidak diberikan
fototerapi pencegahan. Pada ikterus non fisiologis, ikterus terjadi sebelum 24 jam, seetiap
peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi, peningkatan kadar bilirubin
total serum > 0,5 mg/dL/jam, adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi
(muntah, letargis, malas menetek, penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau
suhu yang tidak stabil), ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14
hari pada bayi kurang bulan.1
Pada kasus ikterus terjadi pada hari ke-3 setelah bayi lahir dan tidak adanya
tanda-tanda penyakit yang mendasari. Penatalaksanaan dilakukan dengan fototerapi 2 x
24 jam.

Daftar Pustaka

1. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Edisi
pertama. Jakarta: IDAI; 2014.
2. Indrasanto E, Dharmsetiawani N, Rohsiswatmo R, Kaban RK. Pelayanan obstetri dan
neonatal emergensi komprehensif (PONEK) asuhan obstetri esensial. Jakarta: IDAI;
2008.h.228-30.
3. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED.
Pedoman pelayanan medis. Edisi pertama. Jakarta: IDAI; 2010.h.238-41.
4. Gomella RL, Cunningham MD, Eyal FG. Neonatology. Sixth edition. USA: The
McGraw Hill Companies; 2009.h.477-81.
5. Saguil A, Fargo M. Acute respiratory distress syndrome: diagnosis and management.
American Family Physician. 2012 Feb; 85(4): 3527.
6. Kosim MS. Infeksi neonatal akibat air ketuban keruh. Sari Pediatri. 2009 Okt; 11(3):
2127.
7. Shann F. Drug doses. Australia: Intensive Care Unit Royal Childrens Hospital; 2014.
8. Grappone L, Messina F. Hyaline membrane disease or respiratory distress syndrome a
new approach for an old disease. Journal of Pediatric and Neonatal Individualized
Medicine. 2014 Oct; 3(2): 17.

19