Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TEKNOLOGI REPRODUKSI TERNAK

SINKRONISASI ESTRUS PADA DOMBA DAN KAMBING

Disusun oleh:
Kelas B
Kelompok 5

Haris Saepudin 200110140143


Nurul F. Rimadanti 200110140147
Lina Marlina 200110140150
Eka Putra Pratama 200110140153
Dwi Erni Widyaningsih 200110140161
Rena Nurvadila 200110140188
Gregorius Felix S 200110140225

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Domba dan kambing merupakan ternak yang dimanfaatkan dagingnya.

Produktivitas domba dan kambing yang tinggi membuat domba dan kambing

banyak dipelihara oleh peternak. Peternak domba dan kambing perlu mengetahui

manajemen reproduksi yang baik untuk mengimbangi produktivitas domba dan

kambing yang tinggi ini.

Salah satu upaya peternak adalah perencanaan dalam mengontrol

reproduksi ternaknya. Ternak mamalia pasti akan mengalami siklus estrus dimana

terdapat empat periode, ketika periode estrus dialami oleh ternak betina maka

ternak tersebut siap dikawinkan. Perkawinan ternak tidak hanya bertujuan untuk

berkembang biak, tetapi untuk memperoleh keuntungan dari hasil ternak itu

sendiri.

Setiap ternak memiliki siklus estrus yang berbeda-beda tergantung dari

jenis ternak dan umur dewasa kelaminnya. Perusahaan peternakan dengan skala

besar memerlukan perencanaan manajemen reproduksi yang baik untuk

mempermudah perkawinan ternak yang jumlahnya cukup banyak. Salah satu

caranya adalah dengan mensinkronisasi periode estrus ternak betina, sehingga

ternak-ternak tersebut akan mengalami estrus pada jangka waktu yang bersamaan

dan dapat dikawinkan secara serempak. Sebagai mahasiswa peternakan,

pengetahuan mengenai sinkronisasi estrus harus dikuasai dengan baik sehingga

makalah ini pun disusun.


1.2 Identifikasi Masalah

1. Apa itu sinkronisasi estrus dan kegunaannya.

2. Bagaimana sinkronisasi estrus pada domba dan kambing.

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui sinkronisasi estrus dan kegunaannya.

2. Mengetahui sinkronisasi estrus pada domba dan kambing.


II

PEMBAHASAN

2.1 Sinkronisasi Estrus

Menurut (Cole & Cups, 1987) menyatakan bahwa siklus estrus adalah

jarak antara satu estrus dengan estrus berikutnya. Perubahan yang terjadi

dipengaruhi oleh hormon, yaitu hormon prostaglandin dan progesteron yang

dihasilkan oleh hipofise. Bagian dari siklus estrus yang ditandai dengan keinginan

betina menerima pejantan untuk melakukan kopulasi dinamakan periode estrus

(Toelihere 1977).

Secara garis besar siklus estrus dibagi menjadi dua fase, yaitu fase

folikuler dan fase luteal. Fase folikuler terdiri atas fase proestrus dan estrus,

sedangkan fase luteal terdiri atas fase metestrus dan diestrus. Proestrus terjadi

selama 2-3 hari, estrus berlangsung selama 20-36 jam, sedangkan fase metestrus

dan diestrus terjadi selama 12-14 hari.

Sinkronisasi estrus itu sendiri merupakan cara untuk menyeragamkan

estrus yang dapat digunakan dalam program reproduksi. Melalui teknik ini deteksi

estrus akan lebih mudah dilakukan sehingga mengoptimalkan program produksi

ternak dengan diketahuinya waktu yang tepat untuk perkawinan ternak.

Keseragaman estrus dan perkawinan ternak yang tepat akan menghasilkan

keturunan dalam waktu yang hampir bersamaan sehingga pengelolaan pakan akan

lebih teratur.
2.2 Sinkronisasi Estrus pada Domba

Domba memiliki siklus estrus yang singkat dan sulit untuk dideteksi secara

pasti oleh peternak. Periode siklus estrus pada domba sekitar 16-17 hari dan

lamanya masa estrus sekitar 24-36 jam (Hafez & Hafez 2000). Domba termasuk

hewan yang memiliki poliestrus bermusim di negara subtropis karena domba

menunjukan estrus hanya pada musim tertentu saja dalam waktu satu tahun.

Rangsangan aktivitas reproduksi dipengaruhi oleh cahaya.

Sinkronisasi estrus merupakan proses manipulasi reproduksi hewan agar

terjadi estrus dan proses ovulasinya pada waktu yang relatif serentak sehingga

akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak.

Disamping itu, sinkronisasi estrus dapat mengoptimalkan pelaksanaan inseminasi

buatan dan meningkatkan fertilitas kelompok (Wenkoff 1986) dan merupakan

bagian dari perkembangan teknik reproduksi yang simpel dengan hasil yang

cukup baik (Baldassarre & Karatzas 2004).

Sinkronisasi estrus pada domba dapat dilakukan dengan menggunakan

preparat hormon. Hormon-hormon reproduksi memegang peranan penting dalam

inisiasi dan regulasi siklus estrus (berahi), ovulasi, fertilisasi, mempersiapkan

uterus untuk menerima ovum yang telah dibuahi, melindungi, mengamankan dan

mempertahankan kebuntingan, menginisiasi kelahiran, perkembangan kelenjar

susu dan laktasi (Hunter 1995). Preparat hormon yang biasa digunakan

diantaranya hormon prostaglandin dan progesteron.


2.3 Prinsip Sinkronisasi Estrus pada Domba

Prinsip dari sinkronisasi estrus adalah dengan memperpanjang atau

memperpendek daya hidup corpus luteum (CL) pada fase luteal (Hafez & Hafez

2000).

1. Memperpendek CL

Proses memperpendek daya hidup CL dilakukan dengan melisiskan CL

misalnya dengan prostaglandin. Lisisnya CL akan diikuti dengan sekresi hormon

gonadotropin yang menyebabkan estrus dan timbulnya proses ovulasi (Peters

1986).

2. Memperpanjang CL

Memperpanjang daya hidup CL dapat dilakukan dengan pemberian

progesteron eksogen yang akan menyebabkan penekanan pembebasan hormon

gonadotropin dari hipofise anterior. Penghentian pemberian progesteron eksogen

ini akan diikuti dengan pembebasan hormon gonadotropin secara tiba-tiba yang

berakibat terjadinya estrus (Wenkoff 1986). Gejala estrus akan disertai dengan

ovulasi secara serentak, yaitu sekitar 12 jam setelah akhir estrus (Goel & Agrawal

2003).

2.4 Penggunaan Hormon

1. Prostaglandin (PGF2)

Hormon PGF2 bersifat luteolitik, bekerja sebagai vasokonstriktor pada

pembuluh darah. Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan aliran darah secara

drastis menuju CL, dengan demikian terjadi pengurangan aliran darah cukup lama

maka akan menyebabkan regresinya CL (Toelihere 1981). Berdasarkan fungsi

tersebut hormon PGF2 mempunyai implikasi pada pelepasan gonadotropin,


ovulasi, regresi CL, motilitas uterus, dan motilitas spermatozoa (Djajosoebagio

1990).

Beberapa hipotesa tentang bagaimana kerja dari hormon PGF2 dalam

melisiskan CL yaitu (1) PGF2 langsung berpengaruh terhadap hipofise, (2) PGF2

menginduksi luteolisis melalui uterus dengan jalan menstimulir kontraksi uterus

sehingga dilepaskan luteolisis uterin endogen, (3) PGF2 bekerja sebagai racun

terhadap sel-sel Cl, (4) PGF2 bersifat antigonadotropin, baik dalam aliran darah

maupun reseptor pada CL, dan (5) PGF2 mempengaruhi aliran darah ke ovarium.

(Ismudiono 1982).

Penentuan siklus estrus pada domba secara visual sulit dilakukan karena

terjadi sangat singkat, sementara pemberian hormon PGF2 hanya efektif pada

fase luteal. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menghindari tidak

berfungsinya hormon PGF2 pada penyuntikan pertama karena bukan pada fase

luteal maka dilakukan pemberian double injection. Pemberian PGF2 pada teknik

double injection dilakukan pada hari ke-12 yang dihitung dari penyuntikan

pertama dan dua hari kemudian biasanya menunjukan gejala estrus (Plumb 1999).

Penyuntikan PGF2 dilakukan sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan karena

pada penyuntikan pertama domba memiliki fase yang berbeda, dengan

disuntikkannya PGF2 maka domba yang sedang pada fase luteal akan mengalami

lisisnya CL dan siklus folikuler dimulai kembali, sedangkan domba yang tidak

sedang pada fase luteal penyuntikan pertama tidak berpengaruh karena PGF2

hanya berfungsi pada fase luteal, jika terjadi estrus pun dimungkinkan domba

sudah mendekati fase folikuler.


Penyuntikan kedua dengan selang waktu 11 hari karena dengan selang

tersebut sudah bisa diperhitungkan bahwa domba berada pada fase luteal maka

hormon akan berfungsi melisiskan CL sehingga terjadi estrus secara serentak.

2. Progesteron

Progesteron dihasilkan dari CL, plasenta, dan kelenjar adrenal (Hafez &

Hafez 2000). Hormon progesteron berfungsi untuk menghalangi sekresi hormon

gonadotropin dari hipofise (Pineda & Dooley 2003).Fungsi lain dari hormon

progesteron, yaitu sebagai penstimulir pertumbuhan sistem granuler pada

endometrium dan untuk mempertahankan kebuntingan dengan menghasilkan

lingkungan endometrial yang sesuai untuk proses perkembangan embrio

(Toilehere 1977).

Prinsip kerja hormon progesteron dalam sinkronisasi estrus, yaitu

mengakibatkan terjadinya umpan balik negatif terhadap sekresi hormon

gonadotropin, yaitu FSH dan LH. Penghambatan sekresi gonadotropin tidak

disertai dengan penghambatan sintesisnya sehingga selama implant progesteron

CIDR (Controlled Internal Drug Release) berlangsung terjadi penimbunan

hormon gonadotropin di hipofise anterior. Pada saat pencabutan implant

progesteron CIDR, terjadi penurunan konsentrasi hormon progesteron yang

drastis di dalam darah sehingga efek umpan balik negatif menjadi hilang. Hal ini

mengakibatkan terjadinya fenomena rebound effect, yaitu disekresikannya

hormon gonadotropin dalam jumlah banyak yang disintesis dan ditimbun selama

implant progesteron CIDR berlangsung. Hormon gonadotropin ini akan

merangsang terjadinya folikulogenesis sehingga terbentuk folikel-folikel matang.

Selanjutnya, folikel-folikel matang mensintesis hormon estrogen, kemudian

mensekresikanya ke dalam peredaran darah sehingga mengakibatkan hewan


betina menjadi estrus yang diekspresikan dengan tanda-tanda gejala estrus (Rizal

& Herdis 2008).

Progesteron mempunyai beberapa keunggulan untuk sinkronisasi estrus

dibandingkan dengan PGF2, yaitu mampu meningkatkan fertilitas, dapat

digunakan pada hewan yang mengalami inaktivitas ovarium dan sinkronisasinya

terjadi lebih serentak (Wenkoff 1986).

Pemberian Progesteron dapat dilakukan dengan cara sebagai betrikut :

a. Pemberian 12-25 mg progesteron/ekor/hari yang disuntikkan secara

intramuskular (suntikan di bawah kulit).

b. Pemberian 2-6 mg/ekor/hari FGA secara implamant atau intravaginal dengan

peresapan spon selama 917 hari.

c. Pemberian MAP 5060 mg/ekor/hari secara intravaginal dengan peresapan

spon selama 1518 hari.

d. Pemberian progestogen (progesteron sintetis) selama 1221 hari secara

intravaginal dengan peresapan spon. Setelah 23 hari, spon dicabut, lalu

diberikan PMSG (pregnan mere serum ganodofroge).

e. Implant CIDR intravaginal.

2.5 Penelitian Sinkronisasi Estrus pada Domba

Sinkronisasi estrus pada domba berdasarkan skripsi berjudul sinkronisasi

estrus pada domba garut (ovis aries) menggunakan prostaglandin dan

progesterone. Penelitian tentang sinkronisasi estrus dilakukan pada 25 ekor domba

Garut betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian

hormon dan karakteristik tanda-tanda estrus. Sinkronisasi dilakukan dengan

hormon prostaglandin F2 (PGF2) dan progesteron. Hewan dibagi dalam dua


kelompok. Kelompok pertama terdiri atas 15 ekor domba yang disinkronisasi

menggunakan PGF2 dua kali penyuntikan dengan selang waktu 11 hari dan

kelompok kedua terdiri atas 10 ekor domba dipasang implant progesteron CIDR

selama 12 hari. Pengamatan estrus dan karakteristiknya dilakukan dengan

memasukkan pejantan pengusik satu hari setelah penyuntikan kedua PGF2 dan

satu hari setelah implant dicabut yang dilakukan tiga kali sehari pada pukul 08.00-

11.00, 12.00-14.00 dan 16.00-18.00 selama lima hari berturut-turut. Hasil

penelitian menunjukan bahwa respon estrus kelompok PGF2 lebih besar

dibandingkan kelompok progesteron (86,67% vs 70%). Onset estrus pada

kelompok progesteron lebih cepat dibandingkan kelompok PGF2 (38 jam vs 60

jam 25 menit; P<0,05). Lama estrus kelompok PGF2 dan progesteron tidak

berbeda nyata (31 jam 18 menit vs 33 jam 38 menit; P>0,05). Pada penelitian ini

dapat disimpulkan bahwa kualitas estrus kelompok progesteron lebik baik

dibandingkan PGF2.

Onset estrus pada penelitian ini lebih cepat pada kelompok progesteron

dibandingkan dengan kelompok PGF2. Hal tersebut disebabkan karena pada

perlakuan implant progesteron CIDR berfungsi sebagai pencegah terjadinya sekresi

hormon gonadotropin. Selama pemasangan implant sintesa hormon gonadotropin

tetap berlangsung dan terakumulasi di hipofisa anterior (Rizal & Herdis 2008). Ketika

implant dilepas maka akan terjadi sekresi hormon gonadotropin dalam jumlah yang

banyak dan gejala estrus pun berlangsung lebih cepat.

2.6 Penelitian Sinkronisasi Estrus pada Kambing

Penelitian sinkronisasi estrus pada kambing berdasarkan jurnal berjudul

perbandingan kinerja berahi kambing kacang dan kambing peranakan etawah (PE)
yang mengalami induksi berahi dengan PGF2 sinkronisasi estrus pada domba

dilakukan dengan injeksi PGF2. Penelitian ini bertujuan mengetahui

perbandingan kinerja berahi kambing kacang dan kambing peranakan etawah (PE)

yang mengalami induksi berahi dengan prostaglandin F2 (PGF2). Dalam

penelitian ini digunakan adalah 15 ekor kambing betina yang dibagi atas dua

kelompok. Kriteria kambing yang digunakan adalah kondisi tubuh sehat secara

klinis, sudah pernah beranak, umur 1,5-3,0 tahun, dan memperlihatkan siklus

reguler minimal 2 siklus. Pada Kelompok I (KI) terdiri atas 10 ekor kambing

kacang dan kelompok II (KII) terdiri atas 5 ekor kambing PE. Seluruh kambing

disinkronisasi berahi dengan PGF2 (CapriglandinTM) sebanyak 1 ml secara

intramuskular. Deteksi estrus dilakukan 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan

16.00 WIB. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan metode skoring. Data

intensitas dan onset dianalisis menggunakan Uji Mann Whitney, sedangkan durasi

estrus dianalisis menggunakan independent sample t-test. Intensitas; onset; dan

durasi berahi pada KI vs KII masing-masing adalah 2,470,21 vs 2,250,00;

38,202,39 vs 84,408,53 jam; dan 40,402,27 vs 46,404,56 jam.

Respons kambing terhadap metode pemberian PGF2 dapat menyebabkan

regresinya korpus luteum fungsional dan memungkinkan dimulainya siklus yang

baru, yang menyebabkan timbulnya berahi (Siregar dkk., 2001). Kambing kacang

maupun kambing PE menunjukkan respons yang baik terhadap implementasi

sinkronisasi berahi dengan PGF2 secara ganda dengan interval 10 hari. Siregar

dkk. (2001) melaporkan injeksi tunggal PGF2 terbukti menghasilkan 80%

kambing berahi, sedangkan injeksi kedua yang dilakukan 10 hari kemudian akan

menghasilkan 100% berahi. Injeksi awal PGF2 akan menyebabkan kambing

mencapai fase pertengahan luteal dari siklus berahi. Injeksi kedua akan efektif
mempersingkat masa hidup korpus luteum dengan cara melisisnya (Hunter, 1995).

Timbulnya berahi akibat kerja vasokonstriksi dari hormon PGF2 yang dapat

melisiskan korpus luteum sehingga kadar progesteron yang dihasilkan korpus

luteum di aliran darah menurun secara drastis (Toelihere, 2003). Penurunan kadar

progesteron ini akan merangsang hipofisa anterior menghasilkan dan melepaskan

FSH dan LH. Kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis

dan ovulasi, sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikel-folikel

tersebut akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan

gejala berahi (Hafez dan Hafez, 2000).

Beberapa hal yang diamati adalah intensitas berahi, onset berahi dan lama

berahi. Terjadi respon berbeda pada kambing kacang dan kambing PE yang

diteliti. Perbedaan respon pada kambing kacang dan kambing peranakan etawa ini

kemungkinan karena breed (bangsa) yang berbeda. Sehingga disimpulkan bahwa

terdapat perbedaan kinerja berahi antara kambing kacang dan kambing PE yang

disinkronisasi berahi dengan PGF2.


III

KESIMPULAN

Pada makalah mengenai sinkronisasi estrus pada domba dan kambing ini

dapat disimpulkan bahwa :

1. Sinkronisasi estrus merupakan cara untuk menyeragamkan estrus yang

dapat digunakan dalam program reproduksi. Melalui teknik ini deteksi

estrus akan lebih mudah dilakukan sehingga mengoptimalkan program

produksi ternak dengan diketahuinya waktu yang tepat untuk perkawinan

ternak, serta akan menghasilkan keturunan dalam waktu yang hampir

bersamaan sehingga pengelolaan pakan akan lebih teratur.

2. Sinkronisasi estrus pada domba dan kambing dapat dilakukan dengan

menggunakan preparat hormon, diantaranya hormon prostaglandin dan

progesteron. Hormon PGF2 bersifat luteolitik, bekerja sebagai

vasokonstriktor pada pembuluh darah, sedangkan progesteron

mengakibatkan terjadinya umpan balik negatif terhadap sekresi hormon

gonadotropin, yaitu FSH dan LH.


DAFTAR PUSTAKA

Aepul. 2011. Sinkronisasi Estrus Pada Domba Garut Menggunakan


Prostaglandin dan Progesteron. Skripsi Sarjana pada Fakultas Kedokteran
Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Baldassarre H, Karatzas CN. 2004. Advanced assisted reproduction technologies


(ART) in goat. Anim Repr Sci 82: 255 266.

Cole HH, Cups PT 1987. Reproduction in domestic animals. Ed ke-3. Akademik


press NewYork.

Djojosoebagio S. 1990. Fisiologi kelenjar endokrin. Volume ke-2. Departemen


pendidikan dan kebudayaan. Dirjen. Dikti Pusat antar Universitas Ilmu
hayati. IPB.

Goel AK, Agrawal KP. 2003. Ovulation in jakhrana goat native to tropical
elimates. Small Rumin Res 50: 209 212.

Hafez ESE, Hafez B. 2000. Reproduction in farm animal's. Ed ke-7. Philadelphia :


Lea and Febigher.

Herdis, Kusuma I. 2003. Penggunaan control internal drugs release dan


ovalumon dalam sinkronisasi berahi domba garut. Jurnal Sains dan
Teknologi Indonesia 5(5): 120-125.

Hunter RHF. 1995. Fisiologi dan teknologi reproduksi hewan betina domestik.
Bandung: Penerbit ITB.

Ismudiono. 1982. Pengaruh Waktu Inseminasi terhadaap Kebuntingan dan


Estrumate (PGF2) sebagai Penggertak Birahi pada Sapi Perah di Grati.
[Thesis]. Bogor: Bagian Pasca Sarjana. IPB.

Mulyono,Subangkit.2002.Teknik Pembibtan domba dan kambing. Jakarta :


Penebar Swadaya

Peters AR. 1986. Hormonal control of the bovine oestrus cycle. Br.Vet.J.142: 564
-575.

Plumb DC. 1999. Veterinary drug handbook. Ed ke-3. US:Iowa State University.

Rizal M, Herdis. 2008. Inseminasi buatan pada domba. Jakarta: Rineka Cipta.
Romano JE. 2004. Synchronization of estrus using CIDR, FGA or MAP
intravaginal pessaries during the breeding season in Nubian goats. Small
Rumin Res 55: 15 19.
Siregar, T.N., G. Riady, Al Azhar, H. Budiman, dan T. Armansyah. 2001.
Pengaruh pemberian prostaglandin F-2 alfa secara intravulvasubmukosal
terhadap tampilan reproduksi kambing lokal. J. Med. Vet. 1(2):61-65.

Toelihere MR. 1977. Fisiologi reproduksi pada ternak. Jakarta: UI-Press.

Wenkoof M (1986). Estrus synchronisation in cattle. Di dalam Marrow DA,


Editor. Current therapy in theriogenology 2. Philadelpia: W.B. Saunders.