Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pohon pisang sangat mudah ditemukan di Indonesia. Indonesia dikenal
sebagai produsen pisang di dunia, walau agak kecil. Indonesia dikenal sebagai produsen
pisang nomor 7 di dunia. Pisang merupakan komoditas yang paling banyak dikonsumsi
masyarakat Indonesia, karena sekitar 45% konsumsi buah-buahan adalah pisang.
Produksi pisang di India mencapai 26,2 juta ton pertahun dan Uganda mencapai 10,5 juta
ton. Pada tahun 1995, produksi pisang di Indonesia mencapai 3,8 juta ton dan pada tahun
2012 telah meningkat hingga 6,1 juta ton (Wikipedia, 2016).
Berdasarkan jumlah produksi pisang tersebut, secara otomatis jumlah batang
pisang yang tidak dimanfaatkan secara optimal sangat berlimpah. Batang pisang memiliki
karakteristik serat yang baik sehingga cocok sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk industri
kertas. Kertas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusaia yang
semakin maju dan berkembang seperti saat ini. Sehingga industri kertas mengalami
pertumbuhan yang pesat di Indonesia dan dunia. Kebutuhan akan kertas di dunia semakin
lama semakin meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan di dunia membutuhkan tambahan
produksi kertas lebih dari 100 juta ton pertahun (Abhinimpuno, 2007).
Tingkat konsumsi kertas di Indonesia sangatlah tinggi. Menurut Indonesian Pulp
& Paper Association Directory konsumsi kertas di Indonesia mencapai 5,96 juta ton pada
tahun 2006. Tingginya tingkat konsumsi kertas tersebut membuat pohon yang merupakan
bahan baku pembuatan kertas semakin berkurang. Tercatat 65 97 juta pohon ditebang
untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkatan kerja di Indonesia (Velliana,
2013). Pada tahun 2016, industri pulp dan kertas menyumbang 3,79 miliar dolar AS pada
pendapatan nasional, serta menyerap lebih dari 260.000 tenaga kerja Indonesia (tanpa
nama, 2017).
Hampir semua tumbuhan yang mengandung selulosa dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuatan pulp. Batang pisang sebagai salah satu bahan baku pembuatan
kertas memiliki ketahanan yang tinggi terhadap kelembaban dan awet disimpan dalam
jangka yang lama. Pelepah batang pisang mempunyai kandungan serat (selulosa) yang
cukup tinggi serta daur hidup pisang relatif pendek, hal itu sangat memungkinkan untuk
menggantikan kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas. Serat batang pisang dapat
dibuat kertas seperti kertas gambar, peta, koran, cek, uang dan dokumen penting lainnya
(Zulferiyenni, 2009).
1.2 Tujuan
1. Mengetahui bahan kimia yang terkandung dalam batang pisang sebagai bahan baku
pembuatan pulp
2. Mengetahui pembuatan pulp menggunakan bahan baku batang pisang
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kertas
Secara etimologi kertas atau paper berasal dari kata latin papyrus yang merujuk
ke sebuah nama tanaman cyperus papyrus. Papyrus adalah lembaran tebal mirip kertas
yang digunakan oleh bangsa Yunani untuk menulis. Walaupun secara etimologi berasal
dari kata papyrus namun sifat dan tampakan antara kertas dan papyrus sangatlah berbeda.
Kertas yang lebih modern adalah lapisan tipis material yang diproduksi dari bubur serat
selulosa. Bubur kertas di press dan dikeringkan sehingga membentuk lembaran yang
lentur (Harpackindo.id).
Secara umum kertas dibedakan menjadi dua golongan, yaitu kertas budaya dan
kertas industri. Yang termasuk kertas budaya adalah kertas-kertas cetak dan kertas tulis,
diantaranya adalah kertas kitab (bible-paper), buku, Bristol (kertas kartu), cover, kertas
duplicating, Koran, kertas litho (kertas cetak), kertas amplop. Sedangkan yang termasuk
kertas industri adalah kertas kantong, kertas minyak (tracing paper), pembungkus buah-
buahan (fruit wrapper), cigarette tissue, kertas bangunan dan karton, kertas pengemas
makanan, kertas makanan, kertas isolasi elektis, karton, pembungkus sayur-sayuran
(water leaf paper). Kertas Tissue terdisi dari kertas tissue rumah tangga dan kertas
sigaret. Kertas Khusus (specialty paper) terdiri dari kertas uang, kertas dektor, kertas
overlay, kertas thermo, kertas label dan lain-lain (Tarigan, tanpa tahun).
Kegunaan kertas sangat beragam mulai dari media tulisan, cetakan dan juga
kemasan. Khusus dalam industri kemasan kotak karton gelombang (corrugated carton
box) dikenal dua kelompok bahan utama kertas yakni kertas untuk lapisan datar (liner)
dan kertas untuk lapisan gelombang (fluting) (Harpackindo.id).
1. Liner
Di Indonesia kertas liner sering disebut dengan kraft (kraft liner). Hal ini tidak
sepenuhnya tepat karena ditilik dari proses pembuatan dan komposisi bahannya
tidak memenuhi kategori kraft. Liner dapat dibagi dalam dua kelompok liner yakni:
a. Kraft Liner: terbuat dari komposisi virgin pulp dan dan sedikit recycled fiber.
Parameter kualitas yang dimilikinya sangat baik. Biasanya permukaannya lebih
halus dan kelengketan lemnya lebih baik.
b. Test Liner: terbuat dari 100% recycled paper. Meskipun terbuat dari 100% waste
paper namun dengan proses produksi dan penambahan aditive tertentu bisa
didapat parameter kualitas yang lebih baik walaupun secara umum tetap di
bawah kraft liner.
Warna natural dari liner adalah coklat kusam namun ada juga yang
menambahkan proses bleaching pada proses pembuatannya sehingga diperoleh
warna white. White liner sering digunakan sebagai bahan kemasan yang menuntut
kualitas cetakan dan tampilan yang lebih bagus dan menarik.

2. Fluting Medium
Bahan untuk lapisan gelombang (corrugated) lebih dikenal dengan sebutan
kertas medium (medium fluting atau corrugating medium). Ditinjau dari bahan dan
proses dapat dikategorikan dua kelompok medium yakni:
a. Semi Chemical medium fluting: terbuat dari serat pendek kayu keras yang
diproses secara semichemical dengan sedikit sekali campuran dari waste pabrik
kertas. Kualitasnya sangat baik namun dari harga tidak ekonomis.
b. Bogus medium: kertas medium terbuat dari 100% bahan waste paper.
Kualitasnya dibawah semichemical medium. Namun dengan berkembangnya
teknologi paper making termasuk penggunaan bahan kimia, bisa didapat kualitas
medium yang baik.

Di Indonesia, baik kertas liner maupun medium keduanya diproduksi memakai


100% waste paper. Hal ini terjadi seiring dengan berkembangnya tuntutan bahan baku
yang murah dan ekonomis. Secara umum tidak ada lagi pabrik karton yang mau atau
mampu membeli kertas dengan bahan virgin pulp dan menjual kartonnya ke customer.

Setiap kertas memiliki kualitas yang berbeda-beda tergantung bahan baku dan
proses pembuatan yang dilakukan. Berikut adalah parameter kualitas kertas:

1. Basis Weight
Basis wight dikenal pula dengan istilah grammature atau grammage, yakni
berat kertas per meter persegi. Hampir sebagian besar dari kita terbiasa mendengar
istilah HVS 70. Pengertian 70 dari istilah tersebut adalah gramature kertas 70 gram
per meter persegi dengan jenis kertasnya HVS. Jadi selembar kertas HVS70 ukuran
kuarto kalau ditimbang tidak akan menunjukkan angka 70 gram karena luas dari
selembar HVS Kuarto kurang dari satu meter persegi.
Pengukuran basis weight sangat sederhana dan mudah dilakukan. Kertas yang
akan di uji dipotong dengan ukuran 10 cm x 10 cm atau setara dengan 0,01 meter
persegi. Potongan tersebut kemudian ditimbang menggunakan timbangan khusus
yang ketelitiannya sesuai. Nilai berat dari sample tersebut dibagi dengan luasan
potongan sample supaya setra dengan satu meter persegi.
2. Moisture
Walaupun sudah mengalami proses pengeringan, hasil akhir dari paper tetap
memiliki kadar air atau kelembaban tertentu. Hal ini penting karena kandungan
kadar moisture yang tepat sangat membantu proses konverting box.
Pengujian kadar air juga mudah dan sederhana. Alat yang digunakan berupa
moisture tester yang memiliki sensor. Penggunaannya cukup dengan menemplekan
sensor ke permukaan kertas. Display pada tester akan menunjukkan angka
prosentase kadar air hasil pengecekan.
3. Water Absorption (Cobb Size 120 detik)
Sifat kertas adalah menyerap air, namun daya serap ini tidak sama untuk
masing-masing jenis. Kontrol daya serap air sangat penting dalam proses konverting
terutama dalam proses pengeleman flute di corrugator dan proses cetak di mesin
flexo. Hal ini dikarenakan kedua proses itu menggunakan bahan pelarut air (water
base).
Daya serap air diukur oleh banyaknya air yang diserap per satuan luas kertas
dalam satuan gram/cm2. Metoda pengukurannya disebut dengan Cobb Size. Metode
Cobb size ada yang 60 detik, 90 detik dan 120 detik. Jadi sangat penting untuk
mengetahui Cobb size berapa detik yang dipakai dalam pengetesan.
4. Bursting Strength Test BST
Kertas dipotong secukupnya untuk bisa masuk ke alat tester. Potongan
dipasang pada alat terster dengan cara dijepit dengan kekuatan jepitan yang sesuai
standar. Alat dioperasikan dan akan membrane dari alat tersebut akan menekan
kertas sampai jebol. Display skala ukuran tekanan akan menunjukkan suatu nilai
yang sesuai dengan tekanan jebolkertas yang diukur.
Pada umumnya semakin tinggi gramature kertas maka akan semakin besar
pula nilai BST. Namun ini berlaku untuk jenis kertas yang sama. Contoh
perbandingan nilai BST disajikan dalam tabel berikut:

Pada tabel di atas, kertas lokal diambil dari tipe yang pakai bahan 100% waste
paper. Kertas import memakai bahan yag mengandung virgin pulp. Terlihat jelas
bahwa untuk grammature yang sama antara lokal dan import nilai Bursting
Strengthnya berbeda. Kertas dengan bahan virgin pulp lebih tinggi.
Di kolom keempat dan kelima memuat bursting factor yang nilainya untuk
semua gramature sama. (kecuali untuk lokal 275 GSM sedikit beda karena
samplenya diambil dari kertas lokal yang masih mengandung bahan virgin pulp).
Bursting factor adalah nilai bursting strength per 100gsm. Nilai ini biasanya tetap
untuk satu jenis kertas tertentu. Jadi cukup dengan mengetahui nilai bursting factor
suatu jenis kertas maka kita dapat menghitung nilai bursting strength untuk
grammature berapapun. Hal ini memudahkan kita karena tidak perlu menghapal
banyak nilai bursting strength.
5. Ring Crush Test RCT (CD)
Merupakan kekuatan daya tekan tepi kertas yang mempunyai kaitan langsung
dengan kekuatan tekanan box BCT. Metoda pengukuran RCT adalah dengan
mengambil sample berbentuk pita kertas ukuran x 6 (12,7 mm x 152,4mm).
Untuk menjaga keakuratan dan kesempurnaan pemotongan, ada alat yang diciptakan
khusus untuk memotong sample kertas.
Pita kertas tersebut dipasang melingkar pada pegangan sample RCT sehingga
membentuk ring. Kemudian pita kertas dengan pegangannya di pasang di alat
compression tester. Alat dioperasikan dan akan menekan ring pita kertas secara
perlahan. Pita akan menahan kekuatan tekanan sampai pada akhirnya jebol. Nilai
kekuatan yang menyebabkan jebol ini tercatat di alat tester, dan inilah yang menjadi
nilai RCT kertas yang bersangkutan.

Tab
el spesifikasi kertas Liner (SNI. 8053.1-2014)

Dari tabel spesifikasi liner tersebut dapat diketahui bahwa bursting faktor untuk Liner
kelas A adalah 3.6 kgf/100 g, sedangkan untuk Liner kelas B adalah 2,8 kgf/100 g.
Kenyataan yang ada di lapangan, liner yang beredar di pasaran hanya memiliki bursting
faktor dalam kisaran 2,6 kgf/100 g atau di bawahnya.

2.2 Batang Pisang


Batang pisang merupakan salah satu komponen penting pada pohon pisang.
Batang pisang atau yang sering disebut gedebog sebenarnya bukan batang melainkan
batang semu yang terdiri dari pelepah yang berlapis menjulang menguat dari bawah
keatas sehingga dapat menopang daun dan buah pisang. Batang pisang mengandung
lebih dari 80% air dan memiliki kandungan selulosa dan glukosa yang tinggi sehingga
sering dimanfaatkan masyarakat sebagai pakan ternak dan sebagai media tanam untuk
tanaman lain.
Di dalam gedebong pisang terkandung getah yang menyimpan banyak manfaat,
yang salah satunya digunakan di dalam dunia medis. Getah pisang mengandung saponin,
antrakuinon, dan kuinon yang dapat berfungsi sebagai antibiotik dan penghilang rasa
sakit. Selain itu, terdapat pula kandungan lektin yang berfungsi untuk menstimulasi
pertumbuhan sel kulit. Kandungan-kandungan tersebut dapat membunuh bakteri agar
tidak dapat masuk pada bagian tubuh kita yang sedang mengalami luka. Getah gedebong
pisang bersifat mendinginkan. Zat tanin pada getah batang pisang bersifat antiseptik,
sedangkan zat saponin berkhasiat mengencerkan dahak.
Batang pisang banyak dimanfaatkan masyarakat, terutama bagian yang
mengandung serat. Setelah dikelupas tiap lembar sering dimanfaatkan sebagai
pembungkus untuk bibit tanaman sayuran, dan setelah dikeringkan digunakan untuk tali
pada pengolahan tembakau, dan dapat pula digunakan untuk kompos.
Pelepah batang pisang memiliki serat putih yang sangat kuat sehingga tidak
diperlukan pemutihan, dan dapat diproduksi setebal 20 gsm. Pelepah batang pisang
terdiri dari dua lapisan yang dapat menghasilkan bermacam produk sekaligus. Lapisan
luar berstruktur kasar, kekuatan basah tinggi, sifat barrier, dan tidak mudah terbakar.
Lapisan dalam mempunyai sifat yang sama namun berstruktur serat lebih halus
(Yunifath, 2012)..
Menurut Building Material and Technology Promotion Council, komposisi kimia
serat pisang ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Komposisi kimia serat batang pisang

Komposisi Kimia Kandungan (%)


Lignin 5-10
Selulosa 60-65
Hemiselulosa 6-8
Air 10-15

2.3 Pulp
Kertas terbuat dari bahan baku yang disebut pulp, sedangkan pulp ini berasal dari
serat tanaman yang merupakan jalinan serat yang telah diolah sedemikian rupa sehingga
membentuk suatu lembaran. Pulp dapat berasal dari kayu, bambu, padi dan tumbuhan
lain yang mengandung serat, tetapi pada umumnya serat yang digunakan sebagai bahan
baku kertas adalah kayu. Serat yang dapat diolah menjadi bahan baku kertas berupa
selulosa, selulosa tersebut banyak terdapat pada tanaman.
Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang
dapat dikerjakan secara kimia atau secara mekanika atau dengan kombinasi dua tipe
perlakuan tersebut (Sjostrom, 1995 dalam Prabawati 2008).
Terdapat 3 macam proses pembuatan pulp, yaitu:
1. Proses mekanis
Tidak digunakan bahan-bahan kimia. Bahan baku digiling dengan mesin sehingga
selulosa terpisah dari zat-zat lain. Proses ini mengikis menggunakan alat seperti
gerinda. Proses mekanis yang biasanya dikenal diantaranya PGW (Pine
Groundwood), SGW (Semi Groundwood).
2. Proses Semi Kimia
Dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan bahan kimia untuk lebih
melunakkan, sehingga serat-serat selulosa mudah terpisah dan tidak rusak. Yang
termasuk kedalam proses ini adalah CTMP (Cemi Thermo Mechanical Pulping),
NSSC (Neutral Sulfite Semichemical). Dengan memanfaatkan suhu untuk
mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen lebih rendah
dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp proses mekanis
3. Proses Kimia
Bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk menghilangkan zat lain
yang tidak perlu dari serat-serat selulosa. Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa
murni dan tidak rusak. Proses ini menghasilkan pulp dengan rendemen yang rendah.
Ada beberapa macam proses pembuatan pulp yaitu:
a. Proses Soda (Alkali)
Proses ini merupakan proses kimia pertama kali digunakan untuk memperoleh
pulp selulosa. Dalam prosesnya, digunakan bahan soda api (soda kaustik atau
NaOH) sebagai larutan pemasaknya. Hal yang mempengaruhi proses ini adalah
konsentrasi larutan pemasak, waktu pemasakan, dan temperatur pemasakan.
b. Proses Sulfit
Pada proses ini, larutan pemasak yang digunakan adalah larutan natrium biosulfit
(NaHSO3).
c. Proses Sulfat (Kraft)
Proses ini menggunakan natrium sulfide (Na2S) dan natrium hidroksida (NaOH)
sebagai larutan pemasak. Pulp yang dihasilkan sangat kuat seratnya namun susah
diputihkan.
d. Proses Organosolv
Proses ini memisahkan serat dengan bahan kimia organik seperti metanol, etanol,
aseton, asam asetat, dll. Pada proses ini, penguraian lignin terutama disebabkan
oleh pemutusan ikatan eter.

Kriteria pulp menurut James (1952), yaitu:


1. Ketahanan sobek
Didefinisikan sebagai gaya dalam satuan newton untuk menyobek lembaran pulp
dalam kondisi standar (SII-0435-81). Dalam hal ini kekuatannya dipengaruhi
beberapa faktor antara lain:
a. Panjang serat
Secara umum ketahanan sobek meningkat seiring dengan peningkatan panjang
serat. Hal ini terjadi karena serat-serat panjang dapat menyebar ke daerah
perusakan ikatan yang lebih besar daripada serat pendek saat penyobekan.
b. Jumlah serat yang berperan saat penyobekan
Masing-masing serat yang menyusun lembaran pulp pada gramatur tertentu
(massa lembaran pulp dalam gram per satuan luasnya dalam meter persegi) yang
diukur pada kondisi standar (SII-0439-81) turut menyumbangkan energy
terhadap keseluruhan energi penyobekan. Sehingga lembaran pulp memiliki
ketahanan sobek yang lebih tinggi.
c. Ikatan antar serat
Dalam hal ini, kekuatan katannya bergantung pada proses fibrilasi (penguraian
serat mikrofibril) yang terjadi saat pulping yang kemudian disempurnakan proses
refining. Didalam refiner sebagian serat megalami pemipihan dan penguraian
sehingga luas permukaan yang berpotensi membentuk ikatan hydrogen
bertambah dan mengakibatkan ikatan antar serat yang makin kuat. Namun jika
sudah terlalu kuat maka ikatan antar keduanya akan mudah putus.
2. Ketahanan tarik
Didefinisikan sebagai ketahanan dari lembaran pulp terhadap gaya tarik yang diukur
pada kondisi standar (SII-0436-81). Kekuatannya dipengaruhi beberapa faktor
seperti berikut ini:
a. Arah serat dalam lembaran pulp
Nilai ketahanan tarik akan semakin besar jika arah tarikan sejajar dengan arah
serat dalam lembaran pulp.
b. Ikatan antar serat
Makin besar kekuatan ikatan antar serat maka akan semakin besar pula
ketahanan tarik lembaran pulp.
3. Ketahanan retak
Didefinisikan sebagai tekanan hidrostatik untuk meretakan bahan saat tekanan
ditingkatkan pada kecepatan konstan karet diafragma bundar. Dalam hal ini
kekuatannya dipengaruhi oleh:
a. Panjang serat
Lembaran pulp yang tersusun oleh serat-serat panjang akan memiliki kekuatan
retak lebih tinggi.
b. Ikatan antar serat
Makin besar kekuatan ikatan antar serat maka ketahanan retak lembaran pulp
makin besar
2.4 Aspek Kimiawi Selulosa dan Lignin
Komponen lignoselulosa merupakan bagian terbesar yang menyusun tumbuh
tumbuhan. Komponen ini terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Lignoselulosa
yang terdapat dalam limbah pertanian terdiri dari 40 60 % selulosa, 20 30 %
hemiselulosa, dan 15 30 % lignin. Susunan selulosa, hemiselulosa dan lignin dalam sel
tanaman sangat kompleks. Hemiselulosa bersama lignin membalut serta menyatukan
serat-serat selulosa. Wujud dari tiga dimensi lignin mengakibatkan struktur sel tanaman
bersifat pasif dan kaku. Susunan yang kompleks tersebut mengakibatkan proses
pemisahan komponen-komponen ini cukup rumit (Bahri, 2015).
Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak melimpah di alam,
karena struktur bahan seluruh dunia tumbuhan terdiri atas sebahagian besar selulosa.
Suatu jaringan yang terdiri atas beberapa lapis serat selulosa adalah unsur penguat utama
dinding sel tumbuhan. Didalam selulosa terdapat dalam bentuk serat-serat. Serat-serat
selulosa mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi. Selulosa merupakan suatu polimer
yang berantai lurus yang terdiri dari unit-unit glukosa. Bobot molekul selulosa alamiah
sukar diukur, dikarenakan degradasi yang terjadi selama isolasi. Panjang rantainya
berbeda-beda dari jenis tumbuhan yang berbeda. Selulosa termasuk senyawa polisakarida
yang mempunyai rumus empiris (C6H10O5)n, dimana n berkisar dari 2000 sampai dengan
3000 (Bahri, 2015).
Selulosa merupakan material higroskopis, tidak larut dalam air tapi
menggelembung di dalam air, larut dalam asam dan beberapa solven. Degradasi selulosa
sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu. Reaksi paling penting yang mengakibatkan
lepasnya polisakarida dan pengurangan panjang rantai selulosa dalam pembuatan pulp
adalah reaksi pelepasan dan hidrolisis (Sjostrom, 1981 dalam Zulferiyenni, 2009). Kadar
selulosa menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi larutan pemasak. Hal ini
disebabkan ikatan glikosida yang menghubungkan antar molekul selulosa sangat mudah
rusak dalam kondisi asam. Reaksi hidrolisis ini akan memendekkan serat selulosa dan
menguraikannya menjadi senyawa lebih sederhana (Zulferiyenni, 2009).

Gambar 1. Struktur selulosa

Ketersediaan selulosa dalam jumlah yang banyak pada pulp akan membentuk
serat yang kuat, berwarna putih, tidak larut dalam air dan pelarut-pelarut organik netral
serta tahan terhadap bahan-bahan kimia. Sekitar 33% dari semua materi tanaman adalah
selulosa (isi selulosa dari kapas adalah 90% dan dari kayu adalah 40-50%). Selulosa
tidak dapat dicerna oleh manusia, hanya dapat dicerna oleh hewan yang memiliki enzim
selulase.
selulosa dapat mengalami reaksi adisi dengan alkali kuat, asam mineral maupun
air. Bila atom Hidrogen dalam satu atau keseluruhan dari gugus hidroksil diganti natrium
atau monovalent metal lainya, maka selulosa akan membentuk "Cellulocates" ialah
ikatan yang identik dengan "Alkoholates." (Prabawati, 2008)
Reaksi oksidasi dari selulosa akan menyebabkan sebagian dari gugus anhidroksil
ini akan berubah menjadi gugus aldehid dan akhirnya menjadi gugus karboksil dan
terbentuk pula Ester dan Ether. Sedangkan gugus glikosidik dapat putus rantainya,
karena dapat terhidrolisa oleh asam, juga oleh reaksi oksidasi Karena terjadi reaksireaksi
seperti tersebut di atas, maka panjang rantai selulosa akan menjadi lebih pendek sehingga
banyak serat yang hilang pada waktu pemasakan (Prabawati, 2008)
Lignin merupakan zat pengikat antara molekul-molekul selulosa. Lignin larut
dalam air. Untuk memperoleh serat, maka lignin harus dihilangkan dengan menggunakan
alkali atau asam. Struktur lignin adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Struktur lignin
Lignin adalah salah asatu substansi utama yang terdapat dalam kayu sebanyak 17-
32% kayu kering (Casey, 1960 dalam Zulferiyenni 2009). Dalam industri kertas
keberadaan lignin dalam bahan baku tidak diinginkan. Menghilangkan lignin sangat
diinginkan karena lignin mengganggu ikatan serat dan pulp yang dihasilkan memiliki
kekuatan yang rendah, begitu juga kecerahan yang rendah dan warna yang tidak baik.
Lignin merupakan tambahan total dari karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa) yang
terkandung di dalam serat, yang berfungsi sebagai pengikat antar serat dan memberikan
warna kuning pada pulp.
Lignin adalah polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi dan tersusun
atas unit-unit fenil propan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen dan oksida, tetapi
lignin bukanlah suatu karbohidrat. Lignin terdapat di antara sel-sel dan didalam dinding
sel. Di antara dinding sel lignin berfungsi sebagai pengikat untuk sel-sel secara bersama-
sama (Bahri, 2015).
Lignin dapat menjadi substan yang reaktif disebabkan adanya gugus hidroksil,
karbonil dan metoksil yang terdapat didalam molekul lignin. Reaksi lignin tergantung
pada proses yang dijalankan, jika dalam Proses Soda, lignin akan membentuk Natrium
Lignat berdasarkan reaksi:
Lignin + NaOH Na Lignat + H2O
Proses penghilangan lignin ini disebut "proses Delignifikasi" jadi semakin rendah
kandungan lignin suatu bahan, akan semakin baik untuk pembuatan pulp (Prabawati,
2008). Cara yang baik untuk mengisolasi lignin adalah dengan melarutkannya dalam
pelarut yang cocok seperti dioksan. Lignin dengan hasil isolasi dengan cara ini lebih
murni dan strukturnya relatif tidak berubah, hal ini disebabkan dioksan tidak bereaksi
dengan lignin. Di dalam tumbuh-tumbuhan, lignin merupakan bahan yang tidak
berwarna. Jika lignin bersentuhan dengan adanya sinar matahari, maka lama-lama lignin
cenderung menjadi kuning. Karenanya kertas koran yang terbuat dari serat-serat yang
dipisahkan secara mekanis tanpa bahan kimia, tidak berumur panjang karena
kecenderungannya menjadi kuning (Bahri, 2015).

2.5 Proses Pembuatan Kertas


1. Pembuatan Pulp
Konsentrasi bahan kimia sangat penting dalam pembuatan pulp, karena
berkaitan dengan reaksi antar bahan kimia pemasak dengan material kayu. Makin
tinggi konsentrasi makin banyak material kayu yang bereaksi dengannya. Namun
degradasi terhadap selulosa makin naik dibandingkan dengan penyerapan terhadap
lignin. Hal semacam ini tidak diinginkan dalam proses pembuatan pulp. Namun
konsentrasi tinggi tidak harus dihindari, hal itu diperlukan pada awal pemasakan
untuk menetralisasi asam-asam yang terjadi. Untuk memperoleh pulp pada serat
abaka dengan menggunakan bahan kimia, dengan cara dididihkan dalam NaOH 15
% (S. M. Khopkar, 1990 dalam Bahri, 2015).
Waktu pemasakan sangat perlu diperhatikan. Vasquez, dkk (1994) dalam Bahri
(2015) menemukan bahwa semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak lignin
yang tersisihkan dari biomassa, sehingga kandungan lignin dalam pulp semakin
berkurang, untuk waktu yang lebih lama kandungan lignin dalam pulp mempunyai
kecendrungan untuk meningkat kembali. Waktu yang diperlukan untuk delignifikasi
optimum adalah dalam rentang 60120 menit, persen perolehan pulp dan selulosa
tidak bertambah setelah 120 menit pemasakan.
Suhu pemasakan sangat penting dalam melakukan pemasakan, biasanya suhu
pemasakan sangat ditentukan oleh jenis bahan baku yang digunakan. Semakin tinggi
suhu reaksi maka konstanta laju delignifikasi akan semakin meningkat, sehingga
pada suhu yang tinggi maka semakin banyak lignin yang dapat disisihkan dari
biomassa. Selain meningkatnya laju delignifikasi pada suhu tinggi juga sebagian
polisakarida akan terdegredasi (Vasquez dkk, 1994 dalam Bahri, 2015).
Konsentrasi pelarut sangat penting dalam pembuatan pulp, karena berkaitan
dengan reaksi antara pelarut dengan biomassa. Semakin tinggi konsentrasi pelarut
semakin banyak biomassa yang bereaksi dengannya. Namun degradasi terhadap
selulosa semakin naik dibandingkan penyerangan terhadap lignin. Hal semacam ini
tidak diinginkan dalam proses pembuatan pulp. Tetapi konsentrasi tinggi tidak harus
dihindari, hal itu diperlukan pada awal pemasakan untuk menetralisasi asam-asam
yang terjadi (Bahri, 2015).
Pembuatan Pulp dengan proses kimia, dapat dilakukan dengsn 2 cara yaitu
(Prabawati, 2008):
A. Metoda proses Basa
Bahan baku yang telah dipotong kecil-kecil dengan mesin pemotong, dimasukkan
dalam sebuah bejana yang disebut "digester." Dalam larutan tersebut dimasukkan
larutan pemasak:
a. NaOH 7%, untuk proses soda
Cara ini baik digunakan untuk membuat pulp dengan bahan dasar yang
mempunyai serat pendek. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah golongan
yang lunak, seperti rumput-rumputan.
b. NaOH, Na2S dan Na2CO3 untuk proses sulfat
Cara ini digunakan untuk memperbaiki Proses Soda yaitu mengurangi
hidrolisa dari selulosa oleh NaOH. Hal ini dapat dicapai dengan mengganti
sebagian NaOH dengan Na2S. Larutan pemasak terdiri dari campuran Na2S
dan Na2CO3, dan NaOH. Selama pemasakan akan terjadi hidrolisa lignin
menjadi Alkohol dan asam serta sedikit Mercaptan.
Pemasakan ini berguna untuk memisahkan selulosa dari zat-zat yang lain. Reaksi
yang terjadi secara sederhana dapat dituliskan sebagai berikut:
Kayu Larutan pemasak pulp (selulosa) + senyawa-senyawa alkohol + senyawa-
senyawa asam + merkaptan + zat-zat pengotor lainnya.
Campuran yang telah selesai dimasak kemudian dimasukkan ke dalam mesin
pemisah pulp dan disaring. Pulp kasar dapat digunakan untuk membuat karton
dan pulp halus yang warnanya masih coklat harus dikelantang
(diputihkan/dipucatkan). Pemutihan dilakukan dengan menggunakan Kaporit atau
Natrium hipoklorit. Bahan-bahan kimia yang sudah terpakai dapat diolah kembali
untuk digunakan kembali sehingga dapat menghemat biaya dan mencegah
pencemaran lingkungan. Reaksi kimia dalam proses pengolahan kembali sisa
larutan tersebut adalah :
Na2SO4 + 2C Na2S + 2CO2
Na2CO3 + Ca(OH)2 2 NaOH + CaCO3
B. Metoda proses Asam
Secara garis besar, proses sulfit dilakukan melalui tahap-tahap yang sama dengan
proses basa. tetapi larutan yang digunakan adalah SO2, Ca(HSO3)2 dan
Mg(HSO3)2.
Yang termasuk proses asam adalah proses Sulfit. Larutan pemasak bersifat asam
yaitu larutan bisulfit dari Ca(HSO 3)2 dan Mg(HSO3)2 sedangkan bahan yang akan
diolah harus bebasa dari persenyawaan hidroksi phenolik. Dalam proses
pemasakan bahan dasar yang bewarna ini akan menghasilkan pulp tak berwarna
atau berwarna putih dan lignin akan terpecah serta membentuk "lignosulfonat.
2. Pembuatan Kertas Basah-Kering
Sebelum masuk ke areal paper machine pulp diolah dulu pada bagian stock
preparation. bagian ini berfung si untuk meramu bahan baku seperti: menambahkan
pewarna untuk kertas (dye), menambahkan zat retensi, menambahkan filler (untuk
mengisi pori - pori diantara serat kayu), dan lain-lain. Bahan yang keluar dari bagian
ini di sebut stock campuran pulp, bahan kimia dan air).
Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan dulu dengan
alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke headbox. Headbox berfungsi
untuk membentuk lembaran kertas (membentuk formasi) diatas fourdinier table.
Fourdinier berfungsi untuk membuang air yang berada dalam stock (dewatering).
Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah). Kadar padatnya sekitar 20 %.
Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga kadar padatnya
mencapai 50 %. Hasilnya masuk ke bagaian pengering (dryer). Cara kerja press part
ini adalah. Kertas masuk diantara dua roll yang berputar. Satu roll bagian atas di beri
tekanan sehingga air keluar dari web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena
kerja dryer tidak terlalu berat (air sudah dibuang 30 %).
Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar airnya mencapai
6%. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk gulungan kertas yang besar
(paper roll). Paper roll ini yang dipotong-potong sesuai ukuran dan dikirim ke
konsumen.
Gambar 3. Proses pembuatan pulp dan kertas
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
DAFTAR PUSTAKA
Abinimpuno, Weko. 2007. Potensi Bahan Baku Alternatif untuk Kertas di Indonesia
(online).http://wekoabhinimpuno.blogspot.co.id/2007/08/potensi-bahan-baku-
alternatif-untuk.html (diakses 25 Maret 2017).
Aditya, Ryan. 2012. Proses Pembuatan Kertas (online). http://note-
why.blogspot.co.id/2012/07/proses-pembuatan-kertas.html (diakses 18 Maret
2017)
Anonim. 2016. Paper (online). http://www.harpackindo.id/?p=35 (diakses 27 Maret
2017).
Anonim. 2016. Produksi Pisang di Indonesia (online).
https://id.wikipedia.org/wiki/Produksi_pisang_di_Indonesia (diakses 27 Maret
2017).
Anonim. 2017. Industri Kertas Perlu Inovasi di Era Globalisasi (online).
http://wartaekonomi.co.id/read134842/industri-kertas-perlu-inovasi-di-era-
globalisasi.html (diakses 18 Maret 2017).
Bahri, Syamsul. 2015. Pembuatan Pulp dari Batang Pisang. Jurnal Teknologi Kimia
Unimal 4 : 2 (November 2015) 36-50.
Prabawati, Susy Yunita dan Abdul Gani Wijaya. 2008. Pemanfaatan Sekam Padi dan
Pelepah Pohon Pisang sebagai Bahan Alternatif Pembuat Kertas Berkualitas.
Jurnal Aplikasi llmu-ilmu Agama, Vol. IX, No. 1 Juni 2008: 44-56.
Tarigan, Dewi Fransiska Br, dkk. Tanpa tahun. Pembuatan dan Karakterisasi Kertas
dengan Bahan Baku Tandan Kosong Kelapa Sawit. Jurnal Fisika FMIPA
Universitas Sumatera Utara.
Yunifath. 2012. Kertas dari Batang Pohon Pisang Metode Emil Heuser (online).
https://chemichemo.wordpress.com/2012/07/03/kertas-dari-batang-pohon-pisang-
metode-emil-heuser-2/ (diakses 25 Maret 2017).
Zulferiyenni, dkk. 2009. Proses Pembuatan Pulp Berbasis Ampas Tebu: Batang Pisang
Dengan Metode Acetosolve. Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian
Volume 14, No. 1 Maret 2009.