Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Koperasi merupakan perusahaan yang berbadan hukum koperasi yang

memiliki sumber daya (input) dasar seperti bahan dan tenaga kerja yang dikelola dan

diproses untuk menghasilkan barang atau jasa ( ouput) kepada pelanggan dengan

tujuan memperoleh laba (Anwar dan Istiqomah, 2013:13). Menurut UU No. 17 Tahun

2012 tentang perkoperasian menerangkan bahwa koperasi adalah badan hukum yang

didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi dengan pemisahan

kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi

aspirasi dan kebutuhan bersama dibidang ekonomi, sosial, budaya sesuai dengan nilai

dan prinsip koperasi.


Koperasi di Indonesia pada saat ini sudah menerapkan sistem manajemen

keuangan yang professional dengan adanya pemisahan kekayaan anggota dengan

modal koperasi yang digunakan untuk menjalankan operasional koperasi tanpa

menghilangkan nilai dan prinsip koperasi yaitu pelaksanaan kegiatan yang demokratis

dan kekeluargaan, sehingga koperasi tidak menjadi badan usaha yang mepunyai

tujuan profit oriented saja tetapi bagaimana badan usaha koperasi itu dapat

mensejahterakan anggotanya sebagai shareholder tanpa menghilangkan jati diri

koperasi itu sendiri. Pridjambodo (2012) menyatakan koperasi sama seperti badan

usaha lainnya yang tidak lepas dari persaingan pada segmen pasar terkait dan

persaingan ekonomi global yang samakin kompetitif. Kesiapan dalam menghadapi


2

globalisasi dan liberalisasi ekonomi dimulai dari pelaksanaan AFTA dan era

perdagangan bebas total dari WTO. Sehingga ke depan harus ada penataan dan

perubahan di internal koperasi.


Koperasi dituntut untuk melakukan usahanya secara efektif dengan

strategi, inovasi, kreasi dan pengelolaan perusahaan secara profesional agar koperasi

tetap mampu menjaga eksistensi atau keberlangsungan usaha, mampu memberi

manfaat dan nilai tambah baik bagi anggota maupun untuk koperasi itu sendiri.

Namun pada kenyataanya, ketidaksiapan koperasi dalam menghadapi persaingan

usaha terlihat dari terdapat banyaknya jumlah koperasi yang mengalami

kebangkrutan. Padahal pada saat krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun

1997, para pengusaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi mampu bertahan

menghadapi goncangan krisis dan menjadi penyangga ekonomi nasional ( Subandi,

2010). Tetapi pasca krisis, justru banyak koperasi yang tidak mampu bertahan

dengan berbagai alasan. Dimana kondisi koperasi di Indonesia saat ini mengalami

peningkatan jumlah koperasi tidak aktif.


Seperti yang dilansir oleh liputan 6.com pada tanggal 26 Januari 2016,

Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring

mengatakan bahwa dari total koperasi yang berjumlah 209.488 unit koperasi yang

tercatat di kementerian Koperasi, sebanyak 147.249 koperasi masih aktif dan

beroperasi. Sedangkan 62.239 unit koperasi tidak aktif dan sedang dalam proses

pembubaran. Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan koperasi yang ada di jawa

tengah. Gubernur Jawa Tengah menyampaikan perkembangan koperasi di Jawa

Tengah pada hari ulang tahun koperasi yang ke 69 bahwa dari sekitar 28 ribu atau 81
3

% koperasi di Jawa tengah, 5 ribu atau 19 % diantaranya tidak aktif dan 21.928 atau

75% merupakan koperasi yang bergerak di bidang usaha simpan pinjam (KSP) atau

Unit Simpan Pinjam (USP). Artinya bahwa pertumbuhan jumlah koperasi begitu

pesat terutama koperasi simpan pinjam. Dari kondisi ini dapat diasumsikan bahwa

masyarakat mulai percaya dan tertarik untuk bergabung dan menjadi anggota

koperasi dengan menyerahkan dananya kepada koperasi simpan pinjam sebagai

modal dengan harapan akan memperoleh kesejahteraan dari koperasi melalui

pembagian SHU.
Tetapi pada kenyataannya, seiring semakin meningkatnya kepercayaan

dari masyarakat, justru koperasi-koperasi simpan pinjam yang bermasalah mulai

bermunculan. Sebagai salah satu contoh koperasi Koperasi Inti Dana di Jawa Tengah

tahun 2015, dimana Koperasi Inti Dana melakukan penghimpunan dana dengan

model investasi dan gagal mengembalikan dana anggota. Kasus serupa juga terjadi

pada tahun 2016 oleh koperasi simpan pinjam Pandawa Group di Depok yaitu dengan

cara menghimpun dana dari masyarakat dengan model investasi dan menyalurkan

kembali ke UKM-UKM. Jika dilihat dari kasusnya bahwa kegiatan usaha yang

dilakukan oleh koperasi-koperasi simpan pinjam tersebut tidak mencerminkan nilai

dan prinsip dari koperasi itu sendiri. Artinya ada penyimpangan yang terjadi pada

manajemen koperasi yang tidak sesuai dengan undang-undang koperasi.


Seperti halnya di Jawa tengah, dari berbagai koperasi yang bermasalah,

jumlah koperasi bermasalah terbanyak adalah koperasi yang bergerak di bidang

simpan pinjam atau koperasi simpan pinjam. Berdasarkan berita yang dilansir oleh

TribunJateng.com pada tanggal 14 September 2016 menyebutkan bahwa koperasi


4

simpan pinjam mulai bermunculan di Jawa Tengah seperti KSP Intidana, KSP Mitra

mandiri Sejahtera, Jasa Mandiri dan lainnya yang tersebar di Jawa Tengah. Mayoritas

KSP bermasalah ini di sebabkan oleh manajemen kepengurusan hingga

penyalahgunaan kewenangan pengurus untuk kepentingan pribadi. Dari total 36

kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah, tingkat persentase jumlah koperasi

tidak aktif tertinggi di Jawa Tengah ada pada Kabupaten Tegal yaitu sebesar 45,77%.

Artinya hampir setengah dari jumlah koperasi yang ada di Kabupaten Tegal di

likuidasi. Seperti terlihat pada tabel 1.1 berikut:


Tabel 1.1
Data Koperasi Kabupaten dan Kota Tribulan IV tahun 2016
Jumlah Koperasi % Jumlah Koperasi %
Kabupaten/ Jml Kabupaten/K Jml
No Akt No Akt
Kota Tdk Jml Tdk ota Tdk Jml Tdk
if aktif Aktif if Aktif Aktif
1 Brebes 286 73 359 20,33 19 Cilacap 479 96 575 16,70
Banyumas /
2 Tegal 346 292 638 45,77 20 457 125 582 21,48
Pwk
3 Kota Tegal 143 30 173 17,34 21 Purbalingga 228 27 255 10,59
4 Pemalang 409 129 538 23,98 22 Banjarnegara 332 71 403 17,62
5 Pekalongan 303 92 395 23,29 23 Wonosobo 235 137 372 36,83
Kota
Temanggung 523 79 602 13,12
6 Pekalongan 238 36 274 13,14 24
7 Batang 236 96 332 28,92 25 Magelang 445 141 586 24,06
Kota
Kendal 426 164 590 27,80 26 202 15 217 6,91
8 Magelang
Kota 1.01
895 120 11,82 27 237 40 277 14,44
9 Semarang 5 Purworejo
10 Demak 611 157 768 20,44 28 Kebumen 416 112 528 21,21
Kab.
686 243 929 26,16
11 Semarang 410 46 456 10,09 29 Klaten
Kota 1.09
837 261 23,77
12 Salatiga 186 29 215 13,49 30 Boyolali 8
Grobogan / Kota
407 165 572 28,85
13 Pwd 381 109 490 22,24 31 Surakarta
1.09
839 252 23,10
14 Jepara 618 133 751 17,71 32 Sragen 1
1.14
877 270 23,54
15 Kudus 473 65 538 12,08 33 Karanganyar 7
5

1.10
689 145 834 17,39
16 Pati 637 470 7 42,46 34 Sukoharjo
7.27 7.89
627 7,94
17 Rembang 450 117 567 20,63 35 Wonogiri 2 9
18 Blora 543 109 652 16,72 36 Provinsi 524 111 635 17,48
Sumber : Data Diolah dari Disperidagkop Jawa Tengah Tahun 2016

Kondisi ini tentunya tidak terjadi apabila Koperasi sebagai suatu gerakan

ekonomi dikelola dengan baik dan profesional melalui memisahkan kekayaan para

anggotanya dengan badan hukum koperasi itu sendiri, menerapkan prinsip

keterbukaan, transparasi, dan akuntabilitas sehingga badan hukum koperasi dapat

dipercaya dan diterima tidak saja oleh para anggota koperasi sebagai shareholder

tetapi juga oleh masyarakat luas (Hidayat, 2015). Dengan adanya transparansi dalam

kegiatan usaha, akuntabilitas dalam pelaporan, adanya tanggung jawab koperasi

kepada anggota sebagai shareholder. Sistem pengelolaan tersebut merupakan bagian

dari Penerapan good governance cooperative yang dapat memberi manfaat dan nilai

tambah bagi koperasi.


Koperasi menjadi organisasi yang terkelola dengan baik dan sehat,

mencapai efisiensi dan efektivitas untuk meraih tujuannya, serta menjaga

kesinambungan kemajuan koperasi dalam jangka pendek dan jangka panjang

(Pridjambodo, 2012). Hal ini sejalan dengan penyataan Iskandar (2015) yang

menyebutkan bahwa koperasi Sebagai organisasi yang telah ditetapkan menjadi

badan hukum syah seperti yang tertera pada Undang-undang (UU) RI Nomor 25

Tahun 1992 tentang perkoperasian diharapkan akan menjadi lebih baik lagi dalam

perkembangannya sesuai dengan harapan Bangsa Indonesia.


6

Belum adanya peraturan yang jelas dari pemerintah khususnya dari

kementrian koperasi dan UKM mengenai penggunaan GCG pada Koperasi. Kondisi

ini membuat lemahnya penerapan corporate governance pada koperasi yang menjadi

pemicu utama terjadinya berbagai permasalahan yang menjadi kendala majunya

koperasi bahkan sampai mengalami kebangkrutan. Banyak pihak yang mulai berpikir

bahwa penerapan corporate governance menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis

sebagai barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan (Dewayanto, 2010). Sebagai

bukti kegiatan badan usaha tidak terkecuali koperasi dikatakan mengalami

keberhasilan atau kegagalan dalam menjalankan kegiatan usahanya dapat diukur

dengan pencapaian kinerja.


Pengukuran kinerja pada saat ini tidak hanya menekankan pada segi

aspek keuangan saja tetapi juga pada aspek non keuangan. Menurut Sinaga (2004)

Pengukuran kinerja pada koperasi dapat mengadopsi pengukuran kinerja dengan

balance scorecard yang dimodifikasi sesuai dengan karakter dari koperasi yaitu

dengan mengukur kinerja pada aspek keuangan, aspek keorganisasian, aspek

keanggotaan dan aspek kemitraan serta aspek pemasaran/pelayanan. Prijambodo

(2012) menyatakan bahwa Penerapan Good Corporate Governance (GCG) telah

menjadi kebutuhan bagi setiap perusahaan dan organisasi untuk memberikan

kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan dan menjadikan perusahaan berumur

panjang dan bisa dipercaya. Setyawan dan Putri (2013) berpendapat bahwa penerapan

Good Corporate Governance akan mencegah kesalahan dalam pengambilan


7

keputusan dan perbuatan menguntungkan diri sendiri sehingga secara otomatis akan

meningkatkan kinerja keuangan.


Penyataan ini didukung dengan penelitian-penelitian terkait dengan

penerapan GCG, antara lain menghubungkan antara penerapan GCG dengan kinerja.

Argumentasinya adalah bahwa perusahaan yang menerapkan GCG maka perusahaan

mempunyai kinerja yang baik juga. Beberapa Penelitian Penerapan prinsip-prinsip

Corporate Governance dapat meningkatkan kinerja perusahaan diantaranya adalah

penelitian yang dilakukan oleh Rogers (2008) yaitu menguji pengaruh Corporate

Governance yang diukur Transparansi, kepercayaan dan pengungkapan memiliki

hubungan terhadap kinerja keuangan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa mekanisme

corporate governance seperti keterbukaan dan transparansi secara otomatis akan

membangun kepercayaan dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk

pelanggan, masyarakat, dan pemerintah sehingga pada gilirannya mereka akan

menginvestasikan dana mereka dan dampaknya akan menigkatkan kinerja keuangan

pada perusahaan tersebut.


Hasil penelitian yang dilakukan Ramahi dan Shahlan (2014) dengan

menggunakan variabel prinsip-prinsip corporate governance menunjukkan hasil

bahwa ada aplikasi yang kuat dari prinsip-prinsip terhadap kinerja keuangan pada

perusahaan yang terdaftar di Pasar Pertama di Amman Bursa Efek. Dayanandan

(2013) meneliti variabel partisipasi, akuntabilitas, transparansi dan supremasi hukum

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja organisasi, Mwanja et al., (2014)

menggunakan variabel transparansi,dan akuntabilitas memiliki pengaruh signifikan

terhadap kinerja koperasi simpan pinjam, Susianto dan Suyatno (2014) meneliti
8

variabel akuntabilitas, transparansi, pertanggungjawaban, dan kewajaran memiliki

pengaruh signifikan terhadap kinerja Koperasi, Rahmatika et al,. (2014) meneliti

transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran

memiliki pengaruh secara positif signifikan terhadap kinerja keuangan PT Angkasa

Pura II, Hindistari dan Putri (2016) meneliti transparansi, akuntabilitas,

responsibilitas, independensi serta kewajaran memiliki pengaruh positif pada kinerja

Bank.
Pradnyaswari dan Putri (2016) meneliti variabel transparansi,

kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran memiliki pengaruh

positif pada kinerja keuangan koperasi. Marai dan Olweny (2016) juga meneliti

pengaruh corporate governance dengan variabel kepemimpinan dewan, keterbukaan

kinerja keuangan, tanggung jawab sosial perusahaan dan kepatuhan terhadap undang-

undang terhadap pertumbuhan keuangan yang diukur dengan ROE, anggota deposito

dan modal saham pada Koperasi Simpan Pinjam di Kota Kirinyaga, Kenya. Marai

dan Olweny (2016) menyimpulkan bahwa kepemimpinan dewan, keterbukaan kinerja

keuangan,Tanggung jawab sosial perusahaan dan kepatuhan terhadap undang-undang

berpengaruh signifikan dari terhadap pertumbuhan keuangan Koperasi Simpan

Pinjam
Penelitian penerapan Good Corporate Governance juga menunjukkan

hasil yang tidak konsisten dengan Penelitian-penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Ilyas dan Rafiq (2012) yang

meneliti pengaruh Corporate Governance untuk memprediksi keberhasilan organisasi

dengan menggunakan variabel transparency, independency, akuntability,


9

responsibility dan fairness. Hasil penelitian Ilyas dan Rafiq (2012) menunjukkan

bahwa independency dan transparency tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

keberhasilan organisasi. Akingunola et al,. (2013) yang meneliti Corporate

Governance dan Kinerja Bank di Nigeria dengan menggunakan variabel

akuntabillity, transparancy, independency dan fairness. Hasil penelitian Akingunola

et al,. (2013) menunjukan bahwa independency dan fairness tidak signifikan

berpengaruh terhadap kinerja Bank di Nigeria. Hastuti (2005) yang meneliti pengaruh

corporate governance dengan menggunakan variabel transparansi dan akuntabilitas

menujukkan hasil bahwa akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap kinerja

perusahaan.
Penelitian ini berfokus pada penerapan prinsip corporate governance

yaitu transparansi, akuntabilitas, independensi, responsibilitas dan kewajaran

berdasarkan penelitian terdahulu masih belum konsisten dengan menggabungkan

penelitian yang dilakukan oleh Mwanja et al,. (2014), makai dan Olweny (2016).

Mwanja et al,. (2014) meneliti 33 Koperasi Simpan Pinjam di Kenya dengan

menggunakan variabel pertumbuhan modal saham / deposito, pertumbuhan anggota,

pertumbuhan omset dan kepuasan nasabah. Makai dan Olweny (2016) meneliti 31

Koperasi Simpan Pinjam dengan menggunakan variabel ROE, Deposito Anggota dan

Modal saham.
Perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh

Mwanja et al,. (2014), makai dan Olweny (2016) yaitu pada penggunaan variabel

bebas. Mwanja et al,. (2014) hanya menggunakan dua prinsip corporate governance

yaitu transparansi dan akuntabilitas. Makai dan Olweny (2016) menggunakan satu
10

variabel prinsip corporate governance yaitu responsibitas. Perbedaan berikutnya

dengan penelitian yang di lakukan oleh Marai dan Olweny (2016) yaitu Marai dan

Olweny (2016) meneliti pada aspek keuangan.


Berdasarkan fenomena dan hasil penelitian terdahulu yang masih belum

konsisten dan berbeda-beda sehingga menarik untuk diteliti dan dikaji ulang. Selain

itu penelitian ini dipandang sangat perlu dilakukan mengingat koperasi merupakan

badan usaha yang diatur oleh undang-undang sebagai seko guru perekonomian

nasional yang artinya bahwa koperasi sebagai pilar atau penyangga perekonomian

Nasional dan bagian integral pada tata perekonomian nasional dengan tujuan

pembangunan ekonomi untuk mancapai kemakmuran masyarakat yang disusun

sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Maka peneliti tertarik untuk

meneliti pengaruh implementasi Corporate Governance pada Koperasi di Kabupaten

Tegal.

1.2. Rumusan Masalah


Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini berdasarkan pada

fenomena dan hasil penelitian terdahulu yang menguji pengaruh Corporate

Governance terhadap kinerja perusahaan dengan hasil yang berbeda. Maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Apakah terdapat pengaruh Transparansi terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi?
2. Apakah terdapat pengaruh Independensi terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi?
3. Apakah terdapat pengaruh Akuntabilitas terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi?
11

4. Apakah terdapat pengaruh Responsibilitas terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi?
5. Apakah terdapat pengaruh kewajaran terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi?

1.3. Tujuan Penelitian


Sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan, maka

tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:


1. Untuk mengetahui pengaruh Transparansi terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi
2. Untuk mengetahui pengaruh Independensi terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi
3. Untuk mengetahui pengaruh Akuntabilitas terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi
4. Untuk mengetahui pengaruh Responsibilitas terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi
5. Untuk mengetahui pengaruh kewajaran terhadap kinerja keuangan dan non

keuangan Koperasi

1.4. Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak diantaranya

yaitu :
1. Bagi Koperasi, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran bagi pengurus koperasi dalam meningkatkan penerapan corporate

governance untuk meningkatkan kinerja koperasi


2. Bagi Dunia Akademis, Penelitian ini diharapkan memberikan tambahan

pemahaman dan refrensi mengenai pelaksanaan GCG di Koperasi bagi pihak-

pihak yang ingin meneliti penerapan GCG di Koperasi.


12

3. Bagi Pemerintah, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi

pemerintah, khususnya kementrian koperasi dan UMKM tentang pelaksanaan

GCG di Koperasi. Dengan semakin pentingya peran koperasi dalam

perekonomian nasional, penulis merasa sudah saatnya pemerintah

mengeluarkan pedoman pelaksanaan GCG bagi koperasi. Kementrian koperasi

dan UMKM juga perlu untuk mengatur mekanisme evaluasi yang memadai,

sehingga koperasi tidak hanya berperan sebagai perusahaan alternative bagi

sebagian masyarakat namun menjadi tempat pengembangan perekonomian dan

pemberdayaan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi.