Anda di halaman 1dari 4

Bab 2

Konsep Dasar Teori

2.1 Defenisi

Erisipelas adalah infeksi bakteria, akut pada dermis, jaringan subkutan, dan jaringan
limfatik kulit. Secara historis, erisipelas terjadi pada wajah dan disebabkan oleh streptococus
pyogenes. Namun, pergeseran dalam distribusi dan etiologi erisipelas telah terjadi, yaitu
terjadi pada kaki dan juga dapat disebabkan oleh streptococcus ( muttaqin,2011).

2.2 Etiologi

Factor Predisposisi Erispelas


a. Kakhesia
b. Diabetes Melitus
c. Malnutrisi
d. Diasgammaglobulinemia
e. Alkoholisme
f. Dan keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh terutama bila disertai
hygiene yang jelek.
2.3 Manifestasi klinis

a) Panas badan cukup tinggi (anak-anak dapat dengan konvulsi), sakit kepala, malaise
dan muntah-muntah/mual.
b) Lesi di kulit :
Makula eritematus yang meninggi dengan batas jelas, dapat ada vesikula di atasnya.
Dirasakan panas dan nyeri.
Lokalisasi biasanya :

c. bayi : dinding perut

d. anak-anak :muka, kepala dan tungkai bawah.

e. dewasa :tungkai bawah, muka, telinga.


Pada penderita yang kelainan immunologis, gejala klinisnya tidak khas missal kan
kemerahan berkurang.
Awalnya ditandai dengan gejala konstitusi berupa demam, menggigil, sakit kepala,
muntah, dan nyeri sendi.Lapisan kulit yang diserang adalah epidermis dan dermis. Penyakit
ini didahului trauma, Karena itu tempat predileksi biasannya ditungkai bawah.
Kelainan kulit yang utama adalah eritemia yang berwarna merah cerah, berbatas
tegas, dan pinggirnya meninggi dengan tanda-tanda radang akut .Dapat disertai edema,
vesikel dan bula. Jika tidak diobati akan menjalar kesekitaranya terutama piroksimal. Jika
seiring residif ditempat yang sama dapat terjadi elefantiasis ( Muttaqin,2011).

2.4 Patofisiologi

Inokulasi bakteri ke daerah kulit yang mengalami trauma merupakan peristiwa awal
perkembangan dari erisipelas. Dengan demikian, faktor-faktor lokal, seperti insufisiensi vena,
statis ulserasi, dermatitis, gigitan serangga, dan sayatan bedah telah terlibat sebagai pintu
masuknya kuman ke kulit. Sumber bakteri di erisipelas wajah sering bersumber dari
nasofaring dan riwayat faringitis streptokokus baru-baru ini telah dilaporkan dalam sampai
sepertiga dari kasus.

Faktor predisposisi lainnya termasuk diabetes, penyalahgunaan alkohol, infeksi HIV,


sindrom nefrotik, kondisi penurunan sistem imun lain, dan tidak optimalnya higienis
meningkatkan risiko erisipelas. Disfungsi limfatik subklinis adalah faktor risiko untuk
erisipelas. Dalam erisipelas, infeksi dengan cepat menyerang dan menyebar melalui
pembuluh limfatik. Kondisi ini akan memberikan manifestasi kerusakan kulit di atasnya dan
pembengkakan kelenjar getah bening regional. Respons imunitas menjadi menurun dan
memberikan optimalisasi bagi organisme untuk berkembang ( Muttaqin,2011).
2.5 Pathway

Invasi bakteri ke dermis,


Erisipelas
jaringan subkutis,dan
jaringan limfatik

Respon inflamasi pada


dermis dan subkutis

Respons Respons inflamasi Respons


Lokal sistemik Psikologis

Peningkatan suhu Ketidaktahuan tentang


tubuh proses penyakit,
Kerusakan saraf Kerusakan Integritas perawatan, dan
perifer Jaringan pencegahan
Hipertermi
berulangnya penyakit

Nyeri
Kebutuhan
pemenuhan
informasi

(Muttaqin,2011)

2.6 komplikasi

Bila erisipelas telah terjadi, kekambuhan dapat mengikutinya. Tiap kekambuhan akan
merusak saluran limfatik dan menimbulkan pembengkakan dan limfedem. Selanjutnya
kedua hal ini mempermudah episode erisipelas berikutnya. Komplikasi erisipelas yang
penting adalah Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokok. Penyebaran jauh streptokok
dapat menyebabkan bursitis, endokarditis bakterial subakut, mediastinitis, dan abses
retrofaring. Erisipelas yang berulang-ulang sering menimbulkan pembengkakan sisa
(elefantiasis) di daerah yang terkena.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah didapatkan leukositosis dengan pergeseran ke kiri dan
kecepatan sedimentasi eritrosit yang meninggi. Pada fase konvalesen terdapat
peninggian titer streptozim, titer antistreptolisin-O, atau titer DNA-ase B. Streptokok
dapat diperiksa dari tengah atau permulaan lesi, jika masih jelas, atau dari aspirasi
jaringan, terutama di pinggir yang menyebar. Pasa biopsi terdapat edema yang jelas di
dermis dan subkutis bagian atas dengan dilatasi vaskuler dan infiltrasi netrofil ke
dalam jaringan limfatik. Pada biakan darah, usapan tenggorok dan hidung dapat
diisolasi Streptokok B hemolitik.

2.8 Penatalaksanaan
Erisipelas yang ringan biasanya dapat diatasi dengan Penisilin V per oral 0,6-1,5
mega unit selama 5-10 hari, sefalosporin 4 x 400 mg selama 5 hari, atau eritromisin.
Erisipelas yang lebih luas danperah membutuhkan hospitalsasi dan antibiotik intravena.
Istirahat baring dengan meninggikan tungkai dan kompres panas akan menembah
kenyamanan penderita dan mempercepat penyembuhan penyakit. Pemberian jangka
panjang per oral penisilin atau eritromisin dapat dianjurkan untuk mencegah
kekambuhan. Pengobatan topikal dengan kompres terbuka dengan larutan antiseptik. Jika
terdapat edema diberikan diuretika.