Anda di halaman 1dari 6

Cintanya yang Tak Terhingga

Oleh Ma’nusatul Khaoro

Pada suatu hari di sebuah pemukiman desa Bulanbaru sangat ramai. Terlihat hampir semua penghuni desa menebar tawa dan bergurau ria menikmati pesta rakyat di desanya. Setiap tahun di desa Bulanbaru itu merayakan pesta rakyat sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada seluruh rakyatnya. Namun, di salah satu sudut panggung terlihat seorang anak yang nampaknya sedang kebingungan yang tidak berkawan. Tiba-tiba ada salah seorang ibu setengah baya menghampiri dan menanyainya. “Nak, ayo kesana ikut berpesta”, sahut ibu setengah baya itu. Kemudian anak itu menjawab, “Tidak bu, terima kasih, saya tidak mau pesta saya mau disini saja”. Sembari berpikir ibu itu mencoba mengajaknya lagi dan menceritakan pertunjukan-pertunjukan yang ada dalam pesta itu. Namun, anak itu tetap kekeh pada perkataannya. Selang beberapa waktu kemudian si ibu kembali ke pesta rakyat dan meninggalkannya. Anak itu sendiri lagi dan menunduk risau, kemudian ada seorang kakek tua menghampiri dan megajaknya pulang, tetapi anak itu menolaknya. Dia hanya ingin melihat pesta saja dan tidak mau berpesta. Padahal, pesta rakyat itu sangat meriah dan menyenangkan. Anak itu bernama Riski, dan kakek tua itu bernama Kakek Warisno. Riski berusia 7 tahun, usia Riski adalah usia sekolah tetapi ia tidak bersekolah. Karena banyak faktor yang menyebabkan ia tidak sekolah, salah satunya ialah faktor ekonomi dan keadaan mirisnya. Setiap hari Riski selalu membantu kakeknya berjualan koran dan memungut kardus, plastik, dan kaleng bekas di tumpukan sampah. Mengorak-arik sampah merupakan hal biasa yang hampir setiap hari Riko dan kakeknya lakukan. Mereka tak pernah mengeluh dan tidak pernah berputus asa dengan keadaan itu. Mereka selalu gigih dalam menjalankannya, sebab hanya dengan pekerjaan itulah mereka berusaha mempertahankan hidupnya.

Mereka selalu gigih dalam menjalankannya, sebab hanya dengan pekerjaan itulah mereka berusaha mempertahankan hidupnya.

Kakek Warisno berusia 65 tahun. Riski dan kakeknya hidup di sebuah rumah yang mungil sederhana alakadarnya. Letaknya jauh dari desa Bulanbaru. Setiap hari kakek mencari bahan makanan untuk membuat sarapan pagi. Terkadang mereka hanya sarapan dengan ubi-ubian di ladang.

Meskipun mereka hanya tinggal berdua, tetapi kakek tidak pernah lupa menceritakan sosok keluarga, mulai dari ibu, ayah, nenek, dan saudara-saudaranya. Kata kakek Warisno, dulunya Riski mempunyai ibu bernama Barokah yang memiliki paras cantik dan dengan warna kulit yang kekuningan. Ibu sangat berbeda dengan ayahnya, ayahnya memiliki kulit yang coklat sawo matang, berhidung mancung, tubuh yang gagah dan wajah yang lumayan tampan. Riski mirip sekali dengan ibunya. Kakek juga tidak lupa menceritakan kakaknya yang sering mendapat juara kelas. Riski dan kakaknya hanya selisih 5 tahun. Setiap kali kakek menceritakan tentang keluarganya Riski selalu membayang jika nanti bertemu dengan keluarganya lagi dia akan memeluk ayah ibunya dengan erat. Riski sangat merindukannya, merindukan keluarganya. Riski bertanya-tanya pada dirinya, mengapa mereka meninggalkan aku dan kakek? Padahal kakek sudah tua, aku masih kecil dan belum tahu tentang banyak hal. Pada suatu hari ketika kakek dan Riski duduk beristirahat, Riski bertanya pada kakek, “Kek! Apa ayah dan ibu tidak menyayangiku? Apakah saudaraku juga tidak sayang dan tidak ingin bertemu

dengan kita, kek?? Lalu kakek terdiam dan menghela nafasnya, “Huuuuuuuuuufh

sahut Riski. Dalam hati kakek Warisno, beliau ingin menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya tetapi beliau tidak tega karena usia Riski masih terlalu dini untuk mengetahui musibah itu. Kakek terus terdiam, hingga akhirnya Riski bertanya-tanya lagi. “Kek, Kakek! Kakek kenapa diam! Apa Riski salah jika menanyakan hal itu? Apakah Riski tidak berhak tahu dimana keluarga dan saudara Riski berada? Apakah kakek tidak mengijinkan jika Riski bertemu keluarga kita lagi? Kek!! Jawab! Kek!??. Riski rindu ayah! Riski rindu ibu! Riski ingin seperti anak-anak yang lain yang setiap hari bersama-sama dengan keluarga mereka. Kek, tolong ceritakan kepada Riski. Riski ingin tahu dimana mereka. Riski terus merintih kepada kakeknya. Kakek hanya terdiam dan matanya berlinang dan berkaca-kaca. Kakek masih memikirkan bagaiman jika kakek mencerikan semuanya, apakah Riski akan bisa menerima semuanya, apakah setelah Riski mengetahui semuanya lalu Riski akan pergi meninggalkan kakek dan mencari keluarganya. Kakek tidak ingin kehilangan keluarga yang kedua kalinya, karena Riskilah keluarga dan harta satu-satunya yang sangat berharga yang dimiliki oleh kakek saat ini. Kakek tidak kuasa mendengar pertanyaan-pertanyaan Riski yang terus merintih-rintih. Kakek kembali menghela nafas

” dan mengajaknya pulang. Dengan muka yang muram dan cemberut Riski

mengikuti kakeknya pulang dengan membawa katong tempat rongsokannya.

Setelah malam tiba. Kakek beristirahat, namun Riski masih duduk termenung di depan

rumahnya hingga akhirnya tertidur. “Krik kriik, krikk krik, kriiiik

krik kriiiiik”, terdengar suara-

“huuufh, huuufh, hufhh

”. “Kenapa Kek?”

suara jangkring yang bersahutan. Tiba-tiba kakek terbangun tengah malam karena merasa tidak enak dengan perasaannya dan melihat Riski yang tertidur di depan. Dengan tubuhnya yang sudah tua, kakek berusaha mengangkat Riski dan menidurkannya di dalam rumah, hingga akhirnya kakek tidur kembali bersama Riski. Kemudian kakek kembali terbangun ketika mendengar Riski mengigau

memanggil ibu dan ayahnya. Bu ibu

ibu dan ayah. Keesokan paginya. Riski dan kakeknya kembali menyusuri jalan hingga siang hari untuk mencari barang bekas di tumpukan sampah yang kemudian diserahkan kepada tukang rongsok. Pada hari itu terasa beda, tidak seperti biasanya. Barang bekas yang didapatpun lebih sedikit dari hari-hari yang lain. Mereka beristirahat di pinggiran sungai dekat jalan raya. Riski kembali menanyakan kembali kepada kakek tentang keluarganya. Riski merintih bertanya-tanya. Lalu dengan segala kekuatan dan kepasrahan, kakek menceritakan semuanya kepada Riski. Air matapun berjatuhan dari mata mereka berdua. Kakek tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh cucunya itu. Riski terus menangis tersedu-sedu ketika mendengar musibah tsunami yang menimpa keluarganya di desa Bintang Kejora ketika Riski masih berusia 9 bulan. “Apakah mereka masih hidup kek?” tanya Riski. “Tidak tahu nak, yang kakek dengar dari pemerintah desa dulu ada warga yang selamat tetapi

mereka berpencar-pencar. Dulu kakek ingin mencari nenek dan keluarga kita, tetapi kakek tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu. Kakek mengkhawatirkanmu nak, kakek tidak mau meninggalkan cucu kakek yang masih sangat kecil usianya. Setelah beberapa bulan kemudian kakek kembali ke desa dan melihat keadaan disana sudah tidak ada lagi pemukiman warga nak. Kakek juga terus mencari tahu dimana warga yang kepada pemerintah setempat tetapi pemerintah pun tidka mengetahuinya karena semua data-data hilang hanyut terbawa air” jawab kakek. Setelah mengetahui hal tersebut, Riski langsung pergi dan berlari meninggalkan kakeknya di pinggiran sungai. “Nak? Mau kemana nak? Riski Riski Riski!! Tunggu kakek Riski!!” teriak kakek. Namun, Riski terus berlari dan tidak menghiraukan kakeknya. Riski merasa sangat terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa tsunamilah yang telah memisahkan keluarganya. Terus berlari hingga hari semakin gelap. Riski munuju ke desa Bintang Kejora yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Sembari diam, duduk melamun kakek menunggu kepulangan Riski tetapi tidak kunjung kelihatan hingga malam semakin gelap. Sangat lelah rasanya, tetapi kakek tak bisa tenang karena harta berharga satu-satunya belum juga kembali. Mondar-mandir di depan rumah dan memikirkan sedang apa Riski sekarang. Apakah dia sudah makan. Kemana dia pergi sampai malam selarut ini belum juga pulang. Apa dia pergi ke desa Bintang Kejora, tapi rasanya tidak mungkin karena dia belum pernah diajak kesana juga letaknya yang lumayan jauh. Kakek tidak bisa tenang, terus

yah ayaaah! Riski ingin dipeluk

ayah

Riski ikut. Ibu

memohon kepada Yang Maha Kuasa agar cucunya selalu dalm perlindungan-Nya dan kakek memohon agar Riski segera pulang. Tepatnya 4 hari setelah kakek menceritakan semuanya, lalu Riski pulang dengan membawa selembar koran dan kemudian meminta maaf karena telah meninggalkan kakeknya sendiri selama ini. Kakek memeluk erat Riski dan air mata terus berlinang dari mata kakeknya. Kemudian kakek bertanya, “Itu kertas apa, nak?”. “Kek, apa Riski boleh sekolah? Riski janji jika sekolah nanti Riski akan rajin belajar kek, Riski ingin menjadi seperti saudara Riski yang selalu menjadi juara kelas kek, jika Riski besar nanti Riski ingin menjadi orang hebat dan akan membahagiakan kakek. Riski janji kek. Ini adalah selembaran formulir untuk sekolah gratis di desa Bulan Baru kek” jawab Riski dengan penuh semangat. “Jika suatu saat kakek tidak punya uang bagaimana nak? Apa kamu tetap bisa sekolah?” tanya kakek. “Bisa kek ini kan sekolah gratis”, jawab Riski. Kemudian kakek mengijinkan Riski bersekolah gratis di desa Bulanbaru. Sambil menunggu Riski pulang sekolah, seperti biasa kakek mencari barang bekas di tumpukan sampah. Pada waktu kenaikan kelas pun Riski benar menjadi juara 1 di kelasnya. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dan sering mengikuti lomba antar sekolah. Semakin sering mengikuti perlombaan dan dapat memenangkannya adalah hal yang membuat kakeknya bangga. Kemudian, Riski kembali bertemu dengan ibu setengah baya yang mengajaknya berpesta rakyat di desa Bulanbaru dulu. Dia bernama Ibu Barokah. Dia seorang juri disalah satu perlombaan antar sekolah tersebut. Bu Barokah sangat baik. Bu Barokah penyayang. Bu Barokah merasa berbeda ketika melihat Riski. Dan sepertinya bu Barokah merasa simpati terhadap Riski. Setiap kali melihat Riski, bu Barokah selalu teringat dengan kejadian yang menimpa keluarganya dulu yang mengakibatkan terpisahnya dengan putra kecilnya bernama Reza. Semakin hari kesehatan kakek tidak menentu karena usianya yang semakin menua. Riski sering menceritakan bahwa ada seorang juri bernama bu Barokah kepada kakeknya. Sayangnya, si kakek tidak begitu mengingat-ingat nama ibu Riski yang dulu yang dipikirkan kakek ialah ketika nanti ajalnya telah datang, bagaimana dengan Riski dan siapa yang akan menjaga serta melindunginya?

rasanya tidak mungkin karena teman-temannya juga masih

teramat kecil. “Uhuk uhuk!!” kakek batuk. Pada suatu hari, Riski diberi surat oleh sekolah untuk mewakili lomba antar kabupaten di kota seberang dan Riski harus berada di kota seberang selama kurang lebihnya 2 minggu dengan bu Barokah sebagai pendampingnya. Menerima surat tersebut, kakek merasa agak keberatan dan kakek mengkhawatirkannya. Tetapi Riski terlihat amat senang, bersemangat, dan wajahnya bahagia berseri- seri untuk mengikuti lomba tersebut. Riski juga bercerita bahwa yang mendampinginya adalah bu Barokah yang sering ia ceritakan. “Bu Barokah juga menawari untuk menjemput Riski di rumah kek, tetapi Riski tidak mau, karena jalan kesini kan amat kecil kasihan bu Barokah nanti kek” tutur Riski.

Apakah teman sekolahnya? Ahhhh

(Dalam hatinya, kakek juga penuh tanda tanya tentang siapa itu bu Barokah? Apakah ia Barokah anakku? Berasal dari desa Bintang Kejora? Apakah ia Barokahku yang dulu terpisahkan karena musibah itu? Kakek menulis sebuah surat yang berisi pertanya-pertayaan kakek terhadap rasa penasarannya kepada bu Barokah, kakek juga menulis tentang penggantian nama Reza menjadi Riski, karena bagi kakek Reza adalah Riski yang paling indah dan berharga bagi kehidupan kakek setelah adanya musibah dulu. Kakek juga meminta kepada bu Barokah supaya nanti stelah lomba antar kabupaten selesai bu Barokah berkenan untuk datang ke tempat tinggalnya sekarang. Surat itu dititipkan kepada Riski untuk diberikan kepada bu Barokah. “Nak, bolehkah kakek titip sesuatu untuk bu Barokah?” tanya kakek. Riski menjawab, “boleh kek, anti akan Riski berikan untuknya”. “Ayo! Kakek antarkan kamu sampai sekolah nak”, tutur kakek. “Oke baiklah kek, maafkan Riski ya kek. Riski meninggalkan kakek sendiri di rumah sendiri, tapi Riski janji kok akan menang demi kakek dan juga untuk bu barokah yang selalu mendukung Riski seperti kakek, Riski sayang kakek, Riski ingin kakek bahagia”, sahut Riski kepada kakeknya. *Sesampainya di sekolahan Riski. Kakek melihat-lihat apakah bu Barokah yang dimaksud adalah anaknya dulu. Tetapi kakek tidak melihatnya sampai Riski berangkat menuju kebupaten seberang. Setelah sampai di kabupaten sebelah Riski memberikan surat dari kakek kepada bu Barokah. Perlombaan demi perlombaan telah diikuti oleh Riski. Setelah seminggu di perlombaan, bu Barokah baru teringat tentang surat dari kakek Riski. Waktu istirahat tiba, bu Barokah membuka surat pemberian kakeknya. Bu Barokah sangat terkejut dan akhirnya meninggalkan Riski menuju ke toilet. Bu Barokah menangis terharu ketika tahu bahwa Riski adalah Reza, putra kecilnya dulu. Kakek Warisno adalah kakek Riski yang selalu ia ceritakan, beliau adalah ayah saya. Bu Barokah merasa sangat menyesal. Sedih. Air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya. Kemudian Riski menghampiri bu Barokah ke toilet karena perlombaan akan dimulai kembali. “Iya nak, ibu sebentar lagi keluar”, sahut bu Barokah. Kemudian bu Barokah memeluk Riski dengan erat dan selalu menyemangatinya. Riski kaget ketika bu barokah memeluknya, ia baru pertama kali merasakan pelukan seorang ibu. Rasa bahagia terus mengiringi Riski. Dan bu Barokah masih belum percaya bahwa Riski adalah putranya yang terpisah dulu saat musibah menimpa desanya. Ketika perlombaan selesai, tepatnya 11 hari kemudian diumumkannya pemenang perlombaan-perlombaan itu, dari 8 jenis perlombaan Riski mendapatkan juara pertama di 5 jenis lomba. Bu Barokah sangat bangga dan berulang kali ia memeluk Riski. “Bu, kapan kita pulang Riski rindu kakek, kakek sendiri di rumah, Riski ingin membantunya lagi. Bu semua ini akan Riski persembahkan untuk kakek, ibu kenapa menangis, bu?”, Riski berkata pada bu Barokah. (Sambil

terisak tangis) bu Barokah menjawabnyab, “Ibu tidak apapa nak, setelah ini kita akan pulang ke rumahmu”. Sesampainya di tempat tinggal Riski, sekeliling rumah terlihat ramai banyak orang. Kemudian Riski berlari meninggalkan bu Barokah dan segera masuk ke dalam rumah. Riski bertanya pada orang-orang di dalam rumahnya, “Ini ada apa? Dan itu siapa?”. Salah seorang menjawab, “Yang sabar ya nak, dia kakek Warisno, sejak kemarin pagi ia tidak kelihatan seperti biasanya, kemudian tadi pagi juga kakek tidak kelihatan, lalu ada warga yang merasa penasaran dan akhirnya masuk serta menghampiri kakek di dalam ternyata kakek sedang mengigau memanggil namamu dan Barokah kemudian memberikan surat ini untukmu nak. Tak lama kemudian kakek menutup matanya dan tiba- tiba nadinya berhenti”. Bu Barokah dan Riski sangat terkejut ketika mendengar penjelasan warga tadi. Suara tangis keduanya pun terus terdengar dan tak henti-hentinya sampai kemudian Riski membaca surat yang berisi bahwa kakek menitipkan Riski kepada bu Barokah. Bu Barokah menjelaskan semua isi surat yang dititipkan kemarin, bahwa Riski adalah Reza, anak ibu yang terpisah sewaktu tsunami datang melanda desa Bintang Kejora, waktu itu Reza berusia 9 bulan. Air mata terus mengalir bercucuran, mereka berdua menyesali bahwa telah meninggalkan kakek diusia senjanya. Setelah pemakaman kakeknya selesai, air matapun belum juga terhenti karena sesal dan kebahagiaan yang dirasakan begitu mendalam.