Anda di halaman 1dari 10

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN


AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS

BAB I
Potensi Peternakan Unggas

[Endang Sujana, S.Pt., MP.]

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
BAB I
Potensi Peternakan Unggas

a. Kompetensi Inti :
Menguasai struktur, materi, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran/paket keahlian Agribisnis Ternak Unggas yang diampu

b. Kompetensi Dasar (KD)/ Kelompok Kompetensi Dasar (KKD) :


Mengembangkan potensi peternakan unggas

c. Materi Pembelajaran :
I. Potensi Peternakan Unggas
Di Indonesia ayam liar atau ayam hutan sudah dipelihara sejak dulu. Memasuki
periode 1940 orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar. Orang mulai membedakan
ayam, orang Belanda dan ayam liar asli Indonesia. Ayam liar ini kemudian disebut ayam
kampung atau ayam lokal. Sedangkan ayam orang Belanda disebut ayam negeri. Pada tahun
1980 ayam negeri kemudian dikenal dengan ayam ras dan ayam kampung disebut ayam
bukan ras. Pada tahun tersebut mulai berkembang ayam petelur white leghorn dan ayam
pedaging yang kemudian disebut ayam broiler. Ayam asli Indonesia yang masih ada sampai
sekarang adalah ayam kampung, ayam hutan, ayam kedu di Kabupaten Temanggung Jawa
Tengah, ayam Nunukan di pulau Tarakan Kalimantan Timur dan ayam pelung di Kabupaten
Cianjur-Jawa Barat. Di Pulau Madura ayam hutan jantan dikawinkan dengan ayam kampung
betina yang menghasilkan keturunan yang dikenal sebagai ayam bekisar.
Komoditas ternak unggas sangat berpotensi sebagai penghasil protein. Protein
berperan penting dalam pembentukan sel-sel dan jaringan baru tubuh serta memelihara
pertumbuhan dan perbaikan jaringan yang rusak. Protein sendiri dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu protein hewani dan nabati. Sumber protein hewani yaitu daging, ikan,
ayam, telur dan susu. Protein nabati dapat disebut sebagai protein tidak lengkap karena
senantiasa mempunyai kekurangan satu atau lebih asam amino esensial. Sementara protein

1
hewani memiliki semua asam amino esensial, hingga disebut protein lengkap. Pemanfaatan
(utilisasi) protein oleh tubuh sangat ditentukan oleh kelengkapan kandungan asam amino
esensial yang terkandung dalam protein yang dikonsumsi. . Selain kandungan asam amino,
faktor nilai cerna dari protein juga menjadi faktor penting dari manfaat protein yang
dikonsumsi. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli menghasilkan sebuah kesimpulan
bahwa nilai cerna protein hewani selalu lebih tinggi dari protein nabati . Sementara dari segi
pemanfaatannya (utilisasi) protein hewani juga jauh lebih baik dari protein nabati. Selain itu,
kaitannya dengan membangun kecerdasan bangsa, peran protein hewani sangat mutlak
diperlukan.

Tabel 1. Populasi ternak Indonesia tahun 2006

No Ternak Populasi (ekor)


1 Sapi perah 362.313
2 Sapi potong 2,201,111
3 Kambing 14,201,111
4 Domba 8,543,206
5 Babi 7,086,709
6 Kuda 398,655
7 Ayam buras 298,431,917
8 Ayam ras petelur 95,477,601
9 Ayam broiler 972,221,463
10 Itik 34,812,057
Sumber: Deptan, Statistik Pertanian 2006

2
GRAFIK POPULASI TERNAK UNGGAS
TAHUN 1971 2009 (000 ekor)

1,000,000

800,000

600,000

400,000

200,000

-
1971 1981 1991 2001 2009
A yam B uras 73,841 132,878 208,966 268,039 261,396
Itik 10,416 18,689 25,369 32,068 42,090
B roiler 25,462 407,908 621,870 930,317
Layer 1,799 24,568 46,885 70,254 110,106

Ilustrasi 1. Populasi ternak Unggas

Pemanfaatan Ternak Unggas


A. Hewan Percobaan (Laboratory Animals)
Ayam dan Puyuh : Percobaan pemberian pakan (feeeding exsperiment)
Tumbuh baik dalam cages ; konsumsi pakan dan air minum mudah dikontrol
Mudah ditangani, diamati dan ditimbang
Dapat dipelihara dalam jumlah besar pada tempat terbatas
Sangat sensitif terhadap perubahan dan defisiensi zat makanan
Telur dan Embryo : media untuk virus dan vaksin (Virus and Vaccine Culture)
B. Argumentasi Perkembangan Unggas
Unggas, terutama ayam berkembang diseluruh dunia
Murah dan ekonomis untuk diusahakan
Siklus produksi singkat ; 5 minggu (broiler) dapat dipasarkan sebagai sumber
daging; dan 5 bulan (layer) sudah menghasilkan telur
Pangan sumber protein dan produknya variatif

3
PEMANFAATAN UNGGAS

TELUR DAGING HASIL IKUTAN LIMBAH


[EGGS] [MEAT] [BY PRODUCT] [WASTE]

Telur Tetas Whole Carcasses Viscera Head Feces


[hatching Eggs]
Cut-Up Bloods
Non-food Purpose Feathers
[therapeutic vaccines] Edible Viscera /
Half Carcasses Giblets : heart, Feet
Telur Konsumsi [Egg for liver and gizzard
Human Consumtion]
Breast,Thight, Inedible Viscera :
Drumsticks, intestine, pancreas,
Wings,Nect,etc excretory organ

P R O D U C T S

Dried, dehydrated, liquid, Debonen meat: Feed animal protein


and frozen eggs ; plain egg, roll, ham, hot dogs, supplement
white, whole eggs, eggs bologna, loaves,
yolks, and salted or sugared chunks/nuggets Organic fertilezer
whole eggs and egg yolks

Ilustrasi 2. Pemanfaatan Ternak Unggas

4
Ternak Unggas Sebagai Penghasil Produk
Ternak unggas dipelihara untuk memberikan jasa bagi manusia. Jasa tersebut bisa berupa
produk yang dimakan berupa produk utama dan produk sampingannya. Produk utama peternakan
unggas meliputi daging, dan telur, sedangkan produk sampinganbisa berupa bulu, hasil
ikutan dan limbah ternak.

Daging

Daging merupakan jaringan lunak skeleton dari ternak ayam, domba, sapi dan ternak
lainnya. Keunggulan daging adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi, sumber protein hewani
yang dibutuhkan oleh tubuh dan sangat baik untuk pertumbuhan, dan salah satu komoditas
perdagangan yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kandungan nutrisi daging
dijelaskan pada Tabel 2. Daging segar dapat diolah menjadi produk lainnya seperti sosis,
nugget, abon, dendeng, dll Tingkat konsumsi daging di Indonesia pada tahun 2006 mencapai
6,5 kg perkapita

Tabel 2. Nutrient Daging pada Berbagai Komoditas Ternak

Ayam Domba Itik Babi Kuda


No Komponen Sapi (%)
(%) Kambing (%) (%) (%) (%)
1 Protein 17,5 20,2 15,7 16,2 11,9 20,0
2 lemak 22,0 12,6 27,7 30,0 45,0 4,0
3 Mineral 0,9 1,0 0,8 1,0 0,6 1,0
4 Air 60,0 66,0 56,0 52,8 42,0 74,0
Sumber: Norman Potter, 1996, Food Science

Telur
Telur merupakan salah satu produk utama dari ternak unggas. Produksi telur adalah
bagian integral dari siklus reproduksi unggas. Di Indonesia produksi telur di dominasi oleh
telur ayam ras, ayam kampung, itik dan puyuh. Konsumsi di Indonesia secara nasional rata-
rata 5,2 kg per orang pertahun, atau setara dengan 72 butir telur. Mengingat populasi
penduduk bangsa Indonesia yang sangat besar maka prospek usaha telur sangat

5
menjanjikan, apalagi jika konsumsi telur meningkat. Produksi telur Indonesia pada tahun
2007 sebanyak 1.297.208 ton telur, dengan distribusi produksi setiap provinsi tertera pada
Tabel 3.
Tabel 3. Produksi Telur Indonesia Tahun 2007 (Dalam Ton)

No Propinsi Prod telur No Propinsi Prod telur


1. NAD 27.275 18 Kalteng 4.518
2. Sumatera Utara 84.219 19 Kalsel 40.812
3. Sumatera Barat 56.705 20 Kaltim 7.902
4. Riau 9.183 21 Sulut 7.243
5. Jambi 6.920 22 Sulteng 6.813
6. Sumatera Selatanl 57.286 23 Su;lsel 55.563
7. Bengkulu 2.807 24 Sultra 6.391
8. Lampung 28.943 25 Maluku 2.672
9. DKI jakarta 425 26 Papua 3.071
10. Jawa Barat 147.756 27 Babel 4.848
11. Jawa Tengah 226.875 28 Banten 46.679
12. DI Yogyakarta 36.945 29 Gorontalo 1.972
13. Jawa Timur 334.937 30 Malut 698
14. Bali 34.847 31 Kepri 4.001
15. NTB 6.988 32 Irjabar 835
16. NTT 5.928 33 Sulbar 13.478
17. Kalimantan Barat 21.672 Total 1.297.208
Sumber; Statistik Deptan 2008

Nlai gizi telur sangat baik, memiliki 8 asam amino esensial dan terdapat hampir semua
vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh. Proteinnya memiliki koefisien cerna yang
hampir mendekati 100% dan harga relatif murah, mudah diolah, halal dan enak rasanya.
Kandungan nutrisi telur yang utama adalah protein, lemak dan karbohirat. Adapun komposisi
kandungan nutrisi telur tertera pada Tabel 4 di bawah ini.

6
Tabel 4. Kandungan Nutrisi Telur

Ayam Ayam
No Komponen Itik Angsa Merpati Puyuh
Ras Buras
1 Protein 12,7 13,4 13,3 13,9 13,8 13,1
2 lemak 11,3 10,3 13,3 13,3 12,0 11,1
3 Karbohidrat 0,9 0,9 1,5 1,5 0,8 1,0
4 Abu 1,0 1,0 1,1 0,9 0,9 1,1
Sumber : Norman Potter, 1996, Food Science

Kontribusi Peternakan Unggas


Jenis ternak yang sampai saat ini menjadi andalan sebagai sumber daging umumnya
berasal dari ternak unggas dan sapi potong. Keduanya menyumbangkan kontribusi yang
sangat dominan dalam penyediaan daging secara nasional karena kedua jenis ternak ini
berskala industry. Guna lebih jelasnya sumbangsih produksi daging berbagai jenis ternak
dapat dilihat pada Ilustrasi 1.

Kontribusi Unggas dalam Penyediaan Daging Nasional

Dirjenak Deptan, 2006.


Sapi
18,80%
Unggas Dombin
65,46% g
Ayam Ras Pedaging : 5,08%
Babi
kontribusi terbesar yaitu 70,5% Kerbau 8,67%
& Kuda
1,99%

Ilustrasi 2. Sumbangsih produksi daging berbagai jenis ternak

7
Tabel 5. Produksi Hasil Ternak Indonesia

Produksi Produksi
No Produk Ternak No Produk Ternak
(kg) (kg)

Daging Ayam Ras


1 Daging Sapi 389,290 8 54,310
Petelur
2 Daging Kerbau 39,500 9 Daging Ayam Broiler 955,760
3 Daging Kambing 53,280 10 Daging Itik 22,300
4 Daging Domba 51,890 11 Telur Ayam Buras 181,100
5 Daging Babi 179,440 12 Telur Ayam Ras 751,040
6 Daging Kuda 1,680 13 Telur Itik 201,700
Daging Ayam
7 322,780
Buras
Sumber: Statistik Deptan 2008

Prospek Bisnis Ternak Unggas


Komoditas unggas mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh
karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebagian
besar muslim, harga relatif murah dengan akses yang mudah diperoleh karena sudah
merupakan barang publik. Komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein
hewani nasional, sehingga prospek yang sudah bagus ini harus dimanfaatkan untuk
memberdayakan peternak di perdesaan melalui pemanfaatan sumberdaya secara lebih
optimal.
Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan
global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal,
sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. Pembangunan
industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan dayasaing
produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan
baku pakan, yang merupakan 60-70 persen dari biaya produksi karena sebagian besar masih
sangat tergantung dari impor. Upaya meningkatkan dayasaing produk perunggasan harus
dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas

8
departemen. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti
menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan
sesuai dengan permintaan pasar.

Saat ini, industri perunggasan bisa dikatakan memegang peranan sangat penting
dalam mendorong perekonomian di Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena industri
perunggasan kini mampu menghasilkan swasembada daging unggas maupun telur. Tidak
kalah pentingnya adalah usaha perunggasan ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan
dan kecerdasan masyarakat, melalui produk daging ayam dan telur konsumsi yang
dihasilkannya.
Berbicara mengenai industri perunggasan ayam ras, sering mengalami fluktuasi yang
cukup tajam yang umumnya terjadi karena sarana input utama masih tergantung kepada
bahan-bahan impor, seperti tepung ikan (50 %), jagung (50 60 %) dan bungkil kacang
kedelai (100 %). Dengan demikian biaya pakan cukup tinggi dan sering tidak seimbang
dengan harga jual hasil produksi. Selain ayam ras, ternyata ayam buras mempunyai peranan
yang cukup besar dalam pembangunan peternakan di Indonesia, sekaligus sebagai basis
ekonomi petani dipedesaan untuk mencapai pertanian maju. Dilihat dari pemasaran hasilnya
ayam buras ini mempunyai potensi pasar yang cukup besar karena daging ayam buras
mempunyai rasa dan tekstur yang khas yang disukai oleh sebagian besar masyarakat, bahkan
mempunyai segmen pasar tersendiri.

Referensi

Darana S, dkk., 2011. Buku Ajar Produksi Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran. Bandung.

Direktorat Budidaya Non Ruminansia, 2010. Menjadikan Unggas Air Sebagai Primadona Dalam Sistem
Peternakan Nasional. Direktorat Janderal Peternakan.

Kartasudjana, R. dan Supriatna E., 2010. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, 2007. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian.