Anda di halaman 1dari 10

Makalah Mutu Pelayanan Kebidanan

Indikator Kinerja Mutu Pelayanan Kebidanan,

Ambang Batas (Threshold)

Disusun OLEH

KELOMPOK 8

Elvira andeszuri
Rahmi andrita yuda

KELAS : II-B D IV Kebidanan

Dosen Pembimbing :

Hj. Erwani, SKM, M.Kes

Dewi Susanti S.SiT, M.Keb

PRODI D IV KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
T.A 2015 / 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia Allah, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai Memonitor
Pencapaian Mutu Hasil Kerja Dalam Pelayanan Kebidanan dalam rangka memenuhi salah
satu tugas perkuliahan Mutu Pelayanan Kebidanan.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis tentunya mendapat banyak bimbingan


ataupun saran dan koreksian. Untuk itu, terima kasih penulis ucapakan kepada Dosen
Pembimbing Asuhan Kebidanan Kehamilan dan teman-teman yang telah bekerja sama dalam
kelompok belajar. Semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dan
juga pembaca.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan di dalam makalah


ini.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Padang, 17 januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
BAB I...........................................................................................................................................
PENDAHULUAN........................................................................................................................
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................1

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan.........................................................................................1

BAB II........................................................................................................................................2
PEMBAHASAN........................................................................................................................2

2.1 Indikator Kinerja Mutu Pelayanan Kebidanan..................................................................3

2.2 ambang batas dalam pelayanan kebidanan (treshold)................................................................... 6

BAB III.........................................................................................................................................
PENUTUP....................................................................................................................................
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................................7

3.2 Saran.................................................................................................................................7

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan bermutu atau berkualitas sering dikaitkan dengan biaya. Rosemary E. Cross
mengatakan bahwa secara umum pemikiran tentang kualitas sering dihubungkan dengan
kelayakan, kemewahan, kecantikan, nilai uang, kebebasan dari rasa sakitdan
ketidaknyamanan, usia harapan hidup yang panjang, rasa hormat, kebaikan. Pelayanan
kesehatan adalah Setiap upaya yang di selenggarakan secara sendiri atau bersama-sama
dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok
maupun masyarakat.
Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) perlu peningkatan standar dalam menjaga
mutu pelayanan kebidanan. Ujung tombak penurunan AKI tersebut adalah tenaga kesehatan ,
dalam hal ini adalah bidan. Untuk itu pelayanan kebidanan harus mengupayakan peningkatan
mutu dan memberi pelayanan sesuai standar yang mengacu pada semua persyaratan kualitas
pelayanan dan peralatan kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Fokus pembangunan kesehatan terhadap tingginya AKI masih terus menjadi perhatian
yang sangat besar dari pemerintah karena salah satu indikator pembangunan sebuah bangsa
AKI dan AKB. Maka dari itu untuk mampu mencapai mutu hasil kerja dalam pelayanan
kebidanan kita harus lebih dulu mampu memonitor dan menyeleksi indikator yang tepat dan
efektif dalam pemberian pelayanan kebidanan serta mampu mengetahui ambang batas dalam
pelayanan kebidanan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa indikator dalam pelayannan kebidanan?
2. Apa saja ambang batas dalam pelayanan kebidanan?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mampu menyeleksi indikator dalam pelayanan kebidanan.
2. Mampu menyusun ambang batas (treshold) dalam pelayanan kebidanan
Manfaat
Untuk memberikan pengetahuan kepada siapa saja yang membacanya terutama pada
mahasiswa kesehatan.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Indikator Kinerja Mutu Pelayanan Kebidanan

Indikator adalah pengukuran tidak langsung terhadap suatu peristiwa atau kondisi.
Contoh : berat badan bayi dan umurnya adalah indikator status nutrisi dari bayi tersebut.
Indikator adalah variabel yg mengindikasikan/menunjukkan satu kecenderungan situasi yang
dapat digunakan untuk mengukur perubahan. Indikator adalah alat/ petunjuk untuk mngukur
prestasi suatu pelaksanaan kegiatan.
Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang di dalam melaksanakan tugas
yang diberikan kepadanya.
Oleh karena itu, indikator kinerja bisa diartikan sebagai pengukuran yang dipakai untuk
mengevaluasi hasil kerja seseorang di dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

Untuk mengukur tingkat hasil suatu kegiatan digunakan indikator sebagai alat atau
petunjuk pengukur prestasi suatu pelaksanaan kegiatan. Indikator yang berfokus pada hasil
asuhan kepada pasien dan proses-proses kunci serta spesifik disebut indikator klinis.
Indikator klinis adalah ukuran kualitas sebagai pedoman untuk mengukur dan mengevaluasi
kualitas asuhan pasien dan berdampak terhadap pelayanan. Indikator tidak dipergunakan
secara langsung untuk mengukur kualitas pelayanan, tetapi dapat dianalogikan sebagai
bendera yang menunjuk adanya suatu masalah spesifik dan memerlukan monitoring dan
evaluasi (Depkes. 2006).
1. Kinerja yang disadari (Performance Awareness)
2. Pengukuran Kinerja (Performance Measurement)
a. Pengertian pengukuran kinerja

Pengukuran kinerja adalah proses di mana organisasi menetapkan parameter hasil


untuk dicapai oleh program, investasi, dan akusisi yang dilakukan. Proses pengukuran
kinerja seringkali membutuhkan penggunaan bukti statistik untuk menentukan tingkat
kemajuan suatu organisasi dalam meraih tujuannya. Tujuan mendasar di balik
dilakukannya pengukuran adalah untuk meningkatkan kinerja secara umum.

Pengukuran Kinerja juga merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan
didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikator-indikator
masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak.. Pengukuran kinerja digunakan sebagai
dasar untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi.
Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja juga
digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (James Whittaker, 1993)
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pengukuran kinerja adalah
suatu sistem yang bertujuan untuk membantu menilai pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.
b. Tujuan pengukuran kinerja

Tujuan pokok dari pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi tenaga kesehatan
dalam mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan
sebelumnya agar menghasilkan tindakan yang diinginkan.

Pengukuran kinerja dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap
pengukuran. Tahap persiapan atas penentuan bagian yang akan diukur, penetapan kriteria
yang dipakai untuk mengukur kinerja, dan pengukuran kinerja yang sesungguhnya.
Sedangkan tahap pengukuran terdiri atas pembanding kinerja sesungguhnya dengan sasaran
yang telah ditetapkan sebelumnya dan kinerja yang diinginkan (Mulyadi, 2001: 251).

c. Sistem pengukuran kinerja


Untuk mengukur kinerja, dapat digunakan beberapa ukuran kinerja, yang meliputi :
kuantitas kerja, kualitas kerja, pengetahuan tentang pekerjaan, kemampuan
mengemukakan pendapat, pengambilan keputusan, perencanaan kerja dan daerah
organisasi kerja.
Menurut Cascio (2003 : 336-337), kriteria sistem pengukuran kinerja adalah
sebagai berikut :
1) Relevan, yang berarti terdapat kaitan yang erat antara standar untuk pekerjaan
tertentu dengan tujuan organisasi
2) Sensitivitas, berarti adanya kemampuan sistem penilaian kinerja dalam
membedakan tenaga kesehatan yang efektif dengan tenaga kesehatan yang tidak
efektif.
3) Realibilitas, berarti konsistensi penilaian. Dengan kata lain walaupun indikator
yang sama digunakan oleh dua orang berbeda dalam melakukan penilaian pada
seorang tenaga kesehatan, hasil penilaian akan cenderug sama.
4) Akseptabilitas, berarti bahwa pengukuran kinerja yang dirancang dapat diterima
oleh pihak-pihak yang menggunakannya.
5) Praktis, bahwa instrumen penilaian yang disepakati mudah dimengerti oleh pihak-
pihak yang terkait dalam proses penilaian tersebut.
d. Ukuran pengukuran kinerja
Terdapat tiga macam ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja secara
kuantitatif yaitu :
1) Ukuran kriteria tunggal (single criterium)
Yaitu ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk menilai kinerja
tenaga kesehatan.
2) Ukuran kriteria beragam (multiple criterium)
Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran dalam menilai
kinerja tenaga kesehatan. Kriteria ini merupakan cara untuk mengatasi kelemahan
kriteria tunggal dalam pengukuran kinerja.
3) Ukuran kriteria gabungan (composite criterium)
Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran
memperhitungkan bobot masing-masing ukuran dan menghitung rata-ratanya
sebagai ukuran menyeluruh kinerja tenaga kesehatan.
3. Peningkatan kinerja (performance improvement)
Setelah membahas mengenai performance awareness dan pengukuran kinerja,
peningkatan kinerja juga merupakan indikator kinerja.
Dalam hal pelayanan kebidanan, agar pelayanan lebih meningkat dan menjadi lebih
baik, diperlukan adanya peningkatan kinerja yang dilakukan pada tenaga kesehatan
khususnya bidan, agar pelayanan yang kita berikan menciptakan kepuasaan kepada pasien
yang dilayani.
Agar pelayanan kebidanan yang diberikan kepada pasien menjadi lebih baik
diperlukan peningkatan kinerja, yang dapat dilakukan dengan cara :
a. Memberikan dukungan atau dorongan kepada bidan untuk berkembang
Memberi kesempatan kepada bidan untuk melakukan pekerjaan yang berbeda
Mengembangkan potensi diri
Memberi motivasi kepada bidan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sesuai pekerjaan
b. Membuat standar kerja yang jelas
Memudahkan mengontrol kinerja atau performance bidan
Dengan adanya standart yang jelas, bidan akan berusaha mencapai standart
tersebut dengan cara memperbaiki performance atau kinerja
c. Menetapkan area tanggung jawab dalam bekerja
Adanya tanggung jawab yang tinggi, memotivasi bidan untuk meningkatkan
performance agar tanggung jawabnya terselesaikan dengan baik
d. Mendorong bidan untuk dapat mencapai standart kerja atau Performance yang
baik
Menjadikan bidan sebagai partner
Menghargai pendapat mereka atau mengajak mereka berkomunikasi
e. Membuat dokumen kesepakatan dengan bidan
Dokumen berisi kesepakatan untuk mencapai standart
Digunakan untuk kontrol kinerja bidan
f. Mengawasi dan mengikuti bidan dalam melakukan pekerjaan
Mengetahui kebutuhan bidan untuk mencapai standart
Menunjukkan kepedulian kepada bidan sehingga mereka termotivasi untuk
mencapai kesuksesan
g. Memperjelas tentang pemberian reward atau penghargaan
Mendorong bidan untuk berperilaku lebih baik dan positif
Reward adalah faktor pendorong meningkatnya performance

2.2 Ambang Batas (Threshold)

Indikator layanan kesehatan adalah suatu ukuran penatalaksanaan pasien keluaran daru
layanan kesehatan. Dengan mengenal indikator layanan kesehatan, akan tersedia perangkat
lunak untuk pengukuran penatalaksanaan pasien dan keluaran atau layanan kesehatan.
Dengan demikian, indikator layanan kesehatan menjadi ukuran yang objektif atau kuantitatif
dari proses dan keluaran layanan kesehatan.

Indikator layanan kesehatan bukan standar yang pasti atau tepat. Indikator ini dibuat sebagai
suatu angka ambang batas, dan melalui pengumpulan dan analisis data, indikator ini dapat
mengindikasikan adanya suatu tanda bahaya, artinya bahwa sesuatu masalah mutu layanan
kesehatan telah terjadi.

Angka ambang batas (threshold) merupakan tingkat angka yang masih dapat diterima
berdasarkan nilai rata-rata hitung.

Pembuatan atau penetapan angka ambang batas

Selama penyusunan indikator layanan kesehatan, angka nilai ambang batas sementara
dapat ditentukan dari data hasil ujicoba atau atau dengan menggunakan angka yang terdapat
dalam kepustakaan atau rekomendasi dari kelompok penyusun. Jika angka ambang batas
sementara belum dapat ditentukan, kelompok penyusun harus menunggu lebih banyak data
lapangan dan hasil analisisnya.

Setelah ditetapkan, angka ambang batas harus diulas balik oleh kelompok penyusun
berdasarkan data yang dikumpulkan, untuk memastikan apakah angka tersebut masih tetap
berlaku. Dengan data yang cukup, tingkat variasi data distratifikasikan berdasarkan jumlah
tempat tidur organisasi layanan kesehatan. Dengan demikian, angka ambang batas selalu
tepat dari waktu ke waktu.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Indikator kinerja diartikan sebagai pengukuran yang dipakai untuk mengevaluasi hasil
kerja seseorang di dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Indikator kinerja
dapat berupa daftar tilik. Indikator kinerja dignakan sebagai petunjuk pengukur prestasi
dalam suatu kegiatan.
Indikator kinerja mutu pelayanan kebidanan terdiri dari tiga indikator, yaitu :
1. Kinerja yang disadari (Performance Awareness)
2. Pengukuran kinerja (Performance Mancemeasurement)
Pengukuran kinerja diperlukan untuk meningkatkan motivasi tenaga kesehatan dalam
mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan.
3. Peningkata kinerja (Performance Improvement)
Peningkatan kinerja diperlukan agar pelayanan kebidanan yang dilakukan menjadi
lebih baik dan dapat menciptakan kepuasaan pada pasien.
3.2 Saran
Diharapkan pada tenaga kesehatan untuk terus belajar demi meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan masing-masing sehingga program pelayanan kesehatan dapat berjalan
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Pohan, Imbalo S. 2004. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan . Jakarta : EGC.

Novyanti, Eka. 2014. Indikator Mutu Pelayanan Kebidanan .


http://ekanovyanti.blogspot.co.id/2014/01/indikator-mutu-pelayanan-kebidanan.html
diakses tanggal 11 Januari 2014.

Rahayu, Furi. 2016. Kinerja Bidan . http://bidansahabatibu.blogspot.co.id/2014/04/kinerja-


bidan.html diakses Februari 2016.