Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

MANAJEMEN BENCANA INDONESIA


2017
( Peringatan dini berbasis masyarakat )

DI SUSUN OLEH :

NAMA : NUR KOMARI


NIM : 2016420055
FAKULTAS : TEKNIK ( INFORMATIKA )
FASILITATOR/TUTOR :
BPK.HAMID

UNIVERSITAS DR. SOETOMO


FAKULTAS TEKNIK
INFORMATIKA
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang


Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan menambah wawasan dan
penulis dalam penanggulan bencana di Indonesia. Penulis
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penulisan penulisan makalah
dengan judul Manajemen Bencana di Indonesia. Makalah ini
dibuat untuk makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan


makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun
cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat selesai dengan baik. Oleh sebab itu, penulis
dengan rendah hati menerima saran dan kritik guna
penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat


menambah wawasan dan memberikan referensi yang bermakna
bagi para pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................
DAFTAR ISI..........................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................
1.1...............................................................LATAR BELAKANG
1.2............................................................TUJUAN PENULISAN
1.3.........................................................MANFAAT PENULISAN
1.4.................................................................RUANG LINGKUP
1.5.............................................................LANDASAN HUKUM

BAB II PERINGATAN DINI DAN KESIAPSIAGAAN....................


2.1 PENGERTIAN................................................................

2.1.1 PERINGTAN DINI................................................

2.1.2 KESIAPSIAGAAN................................................

2.2 PRINSIP DASAR...........................................................

2.3 UNSUR PERINGATAN DINI............................................

2.4 PENGETAHUAN TENTANG RISIKO................................

2.5 PENYEBARLUASAN DAN KOMUNIKASI.........................

BAB III SISTEM PERINGATAN DINI.............................


3.1 SISTEM PERINGATAN DINI NASIONAL..........................

3.2 SISTEM PERINGATAN DINI DI MASYARAKAT.................

3.3 DISEMINASI INFORMASI DAN KOMUNIKASI..................

3.4 PENGORGANISASIAN PERINGATAN DINI......................

3.5 RESPON MASYARAKAT.................................................

3.5.1 TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT......................

3.5.2 PENGARAHAN DAN EVAKUASI MASYARAKAT.....

3.5.3 PETA EVAKUASI.................................................


3.6 TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT................................

BAB IV PENUTUP................................................................
4.1 KESIMPULAN......................................................................

4.2 SARAN ...............................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas
alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah
longsor. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya
manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam
bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang
dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari
bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan
pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan
ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak
akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia,
misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya,
pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan
hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya
potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari
kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa
tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat
manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya


tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan / kerawanan (vulnerability) yang
juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat / luas jika manusia yang
berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience).
Konsep ketahanan bencana merupakan evaluasi kemampuan sistem dan
infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani
tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah
tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi
dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

Dengan terjadinya hal tersebut dapat menarik perhatian kami


untuk melakukan penelitian ini, sekaligus menganalisis sebab bencana dan
cara penaggulangan bencana alam yang terjadi di Indonesia.

1.2 Tujuan Penulisan


Menambah pengetahuan tentang bencana alam, mengetahui
sebab-sebab terjadinya bencana alam, mengetahui cara penaggulangan
bencana alam yang terjadi.

1.3 MANFAAT PENULISAN


Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dan penulis dalam
hal menajemen peringatan dini berbasis masyarakat.
Pembaca dapat menerapkan upaya peringatan dini bencana, terutama
untuk para masyarakat.

1.4 RUANG LINGKUP

Pedoman ini bersifat umum dalam pengembangan sistem peringatan


dini di tingkat masyarakat dengan tata urut sebagai berikut:
1. Bab I : Pendahuluan;
2. Bab II : Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan;
3. Bab III : Peringatan Dini Berbasi Masyarakat;
4. Bab IV : Respon Masyarakat;
5. Bab V : Penutup;
Petunjuk Teknis Pengembangan Sistem Peringatan Dini Bencana disusun
dalam dokumen tersendiri untuk melengkapi pedoman ini.

1.4 LANDASAN HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan


Bencana.
2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi,
Klimatologi, dan Geo_sika.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah.
BAB II
PERINGATAN DINI DAN KESIAPSIAGAAN

PENGERTIAN
2.1.1 PERINGATAN DINI
Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) adalah serangkaian sistem yang
berfungsi untuk memberitahukan akan terjadinya kejadian alam, Sistem peringatan dini ini
akan memberitahukan terkait bencana yang akan terjadi atau kejadian alam lainnya. Peringatan
dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa
yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang
merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain
sebagainya.

Membunyikan sirine saat akan terjadi sesuatu merupakan langkah untuk mengantarkan
informasi kepada masyarakat, harapannya adalah agar masyarakat dapat merespon informasi
tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena
waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi dengan saat (dugaan) datangnya bencana.
Kondisi kritis, waktu sempit, bencana besar dan penyelamatan penduduk merupakan faktor-
faktor yang membutuhkan peringatan dini.

Tujuan Di Bentuknya Sistem Peringatan Dini


Bagi masyarakat Indonesia, Sistem Peringatan Dini sangat lah
penting mengingat Negara kita merupaka negara yang memiliki ancaman
bencana alam cukup tinggi. dengan adanya sistem peringatan dini ini di
harapkan akan dapat dikembangkan upaya-upaya yang tepat untuk
mencegah atau paling tidak mengurangi terjadinya dampak bencana alam
bagi masyarakat. Keterlambatan dalam menangani bencana dapat
menimbulkan kerugian yang semakin besar bagi masyarakat. Dalam siklus
manajemen penanggulangan bencana, sistem peringatan dini bencana alam
mutlak sangat diperlukan dalam tahap kesiagaan, sistem peringatan dini
untuk setiap jenis data, metode pendekatan maupun instrumentasinya.
Tujuan di ciptakan sistem peringatan dini ini agar masyarakat
yang tinggal di kawasan bencana bisa aman dalam beraktifitas sebab
peringatan dini akan terjadinya bencana sudah bisa di ketahui, sehingga
masyarakat juga bisa melakukan pencegahan untuk menyelamatkan diri
saat terjadinya bencana alam.

2.1.2 KESIAPSIAGAAN
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat guna dan berdaya guna (UU RI No.24 Tahun 2007). Sedangkan
Kesiapsiagaan menurut Carter (1991) adalah tindakan-tindakan yang
memungkinkan pemerintahan, organisasi, masyarakat, komunitas, dan
individu untuk mampu menanggapi suatu situasi bencana secara cepat dan
tepat guna. Termasuk kedalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan
rencana penanggulangan bencana, pemeliharan dan pelatihan personil.
Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa,
kerugian harta benda, dan berubahnya tata kehidupan masyarakat.
Sebaiknya suatu kabupaten kota melakukan kesiapsiagaan.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah suatu kondisi suatu
masyarakat yang baik secara invidu maupun kelompok yang memiliki
kemampuan secara fisik dan psikis dalam menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari manajemen
bencana secara terpadu. Kesiapsiagaan adalah bentuk apabila suatu saat
terjadi bencana dan apabila bencana masih lama akan terjadi, maka cara
yang terbaik adalah menghindari resiko yang akan terjadi, tempat tinggal,
seperti jauh dari jangkauan banjir. Kesiapsiagaan adalah setiap aktivitas
sebelum terjadinya bencana yang bertujuan untuk mengembangkan
kapasitas operasional dan memfasilitasi respon yang efektif ketika suatu
bencana terjadi.
Perubahan paradigma penanggulangan bencana yaitu tidak lagi
memandang penanggulangan bencana merupakan aksi pada saat situasi
tanggap darurat tetapi penanggulangan bencana lebih diprioritaskan pada
fase prabencana yang bertujuan untuk mengurangi resiko bencana.
Sehingga semua kegiatan yang berada dalam lingkup pra bencana lebih
diutamakan.

Adapun kegiatan kesiapsiagaan secara umum adalah:


(1) kemampuan menilai resiko.
(2) perencanaan siaga.
(3) mobilisasi sumberdaya.
(4) pendidikan dan pelatihan.
(6) mekanisme respon.
(7) manajemen informasi.
(5) koordinasi.
(8) gladi/ simulasi.

2.3 PRINSIP DASAR


Penanggulangan Bencana menganut prinip-prinsip sebagai berikut:
cepat dan tepat; prioritas; koordinasi dan keterpaduan; berdaya guna dan
berhasil guna; transparansi dan akuntabilitas; kemitraan; pemberdayaan;
nondiskriminatif; dan nonproletisi.

Penjelasan dari setiap prinsip tersebut adalah sebagai berikut:


Cepat dan Akurat Yang dimaksud dengan prinsip cepat dan tepat
adalah bahwa dalam penanggulangan bencana harus dilaksanakan
secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan.

Prioritas Yang dimaksud dengan prinsip prioritas adalah bahwa


apabila terjadi bencana, kegiatan penanggulangan harus mendapat
prioritas dan diutamakan pada kegiatan penyelamatan jiwa manusia.

Koordinasi Yang dimaksud dengan prinsip koordinasi adalah


bahwa penanggulangan bencana didasarkan pada koordinasi yang baik
dan saling mendukung.

Keterpaduan Yang dimaksud dengan prinsip keterpaduan adalah


bahwa penanggulangan bencana dilakukan oleh berbagai sektor
secara terpadu yang didasarkan pada kerja sama yang baik dan saling
mendukung.

Berdaya Guna Yang dimaksud dengan prinsip berdaya guna


adalah bahwa dalam mengatasi kesulitan masyarakat dilakukan
dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.

Berhasil Guna Yang dimaksud dengan prinsip berhasil guna


adalah bahwa kegiatan penanggulangan bencana harus berhasil guna,
khususnya dalam mengatasi kesulitan masyarakat dengan tidak
membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.

Transparansi - Yang dimaksud dengan prinsip transparansi adalah


bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Akuntabilitas Yang dimaksud dengan prinsip akuntabilitas adalah


bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.

Kemitraan - Cukup jelas.

Pemberdayaan Cukup jelas.


Nondiskriminasi Yang dimaksud dengan prinsip nondiskriminasi
adalah bahwa negara dalam penanggulangan bencana tidak
memberikan perlakuan yang berbeda terhadap jenis kelamin, suku,
agama, ras, dan aliran politik apa pun.

Nonproletisi Yang dimaksud dengan nonproletisi adalah bahwa


dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan
darurat bencana, terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan
darurat bencana.

2.3 UNSUR PERINGATAN DINI


Pada tahun 2013 Indonesia langsung saja ditimpa oleh berbagai
bencana alam, hidrometeorologi seperti intensitas curah hujan, angin
kencang dan gelombang laut adalah salah satu unsur penyebab bencana
dimana-mana. Agaknya respon dari pemerintah dan masyarakat masih
belum cepat dalam menanggapi bencana alam yang semakin sering terjadi.

Oleh karena itu Badan Nasional Penanggulangan Bencan (BNPB) pada tahun
2012 membuat penduan EWS sistem peringatan dini berikut dibawah ini
adalah salah satu artikelnya.
Tujuan dari pengembangan sistem peringatan dini yang berbasis
masyarakatadalah untuk memberdayakan individu dan masyarakat yang
terancam bahaya untuk bertindak dalam waktu yang cukup dan dengan
cara-cara yang tepat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya korban
luka, hilangnya jiwa, serta rusaknya harta benda dan lingkungan. Sistem
peringatan dini yang lengkap dan efektif terdiri atas empat unsur yang saling
terkait, mulai dari pengetahuan tentang bahaya dan kerentanan, hingga
kesiapan dan kemampuan untuk menanggulangi. Pengalaman baik dari
sistem peringatan dini juga memiliki hubungan antar-ikatan yang kuat dan
saluran komunikasi yang efektif di antara semua elemen tersebut.
Keempat elemen tersebut adalah:
1. Pengetahuan tentang Risiko.

2. Pemantauan dan Layanan Peringatan.

3. Penyebarluasan dan Komunikasi.

4. Kemampuan Penanggulangan.
2.4 PEGETAHUAN TENTANG RESIKO
pendekatan yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengkaji dan
mengurangi resiko bencana yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan
kerentanan sosial ekonomi terhadap bencana dan menangani bahaya
bahaya lingkungan maupun bahayabahaya lainnya yang menimbulkan
kerentanan. Informasi yang cukup pada masyarakat mampu mengurangi
kerentanan yang ada, sehingga resiko bencana dapat ditekan dengan
pengetahuan yang cukup pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan pengetahuan risiko bencana terhadap sikap
kesiapsiagaan bencana pada masyarakat.

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan


menggunakan desain cross sectional survey. Selama penelitian berlangsung
terkumpul sampel sebanyak 81 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan
uji chi-square ( = 0,05). Hasil penelitian ini didapatkan bahwa tingkat
pengetahuan masyarakat dari kriteria baik dan kurang terbanyak pada baik
(60,5%). Sikap masyarakat didapatkan presentase terbanyak adalah baik
(59,3 %). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara
pengetahuan risiko bencana dengan sikap tentang kesiapsiagaan bencana
pada masyarakat Kata Kunci: Risiko Bencana, Kesiapsiagaan Bencana,
pengetahuan, sikap, masyarakat .

2.5 PENYEBARLUASAN DAN KOMUNIKASI


Komunikasi adalah proses penyampaian suatu maksud, tujuan
ataupun berita-berita kepada pihak-pihak lain dan mendapatkan
respons/tanggapansehingga pada masing-masing pihak mencapai
pengertian yang maksimal.Bentuk komunikasi tersebut dapat dilakukan
secara lisan, tulisan, isyarat/tandadan juga dapat menggunakan peralatan
(misalnya; radio dengan informasisuara, data dan gambar). Dalam suatu
keadaan darurat (disaster) baik dalamskala kecil, menengah dan besar,
unsur komunikasi adalah salah-satukomponen (sub-system) yang berperan
menentukan terhadap; berhasil atau kurang berhasil, bahkan gagalnya suatu
operasi penyelamatan (search andrescue) dan pengerahan bantuan
penanganan serta penanggulangan terhadapkejadian musibah/bencana.

Komponen-komponen yang saling menunjang dalam suatu oprasi /


pengarahan bantuan di maksud , adalah :

Organisasi ( Mission Organization ).

Fasilitas.

Komunikasi

Dokumentasi.

Fungsi Komunikasi

Komunikasi yang berada didalam jaring koordinasi untuk penanganan


bencana (disaster) harus berfungsi setiap saat, baik pada tahap sebelum
terjadimusibah/bencana, saat terjadi musibah/bencana, maupun pada tahap
pasca terjadinya musibah/- bencana. Fungsi-fungsi tersebut, meliputi :

Sarana pengindera-dini (early Warning system), agar musibah /


Bencana / mara bahaya yang terprediksi / diperkirakan akan terjadi
dapatdideteksi sejak awal, sehingga semua usaha pertolongan dan
penyelamatan dapat dilakukan tepat waktu, terseleksi (tepat guna)
danmengurangi timbulnya kerugian yang banyak (harta benda bahkan
jiwa manusia).
Sarana koordinasi antar semua institusi / instansi / organisasi / potensi
yang terlibat operasi, agar menemukan cara yang tepat, cepat, efektif
dan efisien.

Sarana untuk mengalirkan perintah, berita-berita dan berikut


pengendalian terhadap semua unsur dan elemen yang terlibat dalam
operasi/kegiatan pertolongan penyelamatan.

Sarana bantuan administrasi dan logistic.

BAB III
SISTEM PERINGATAN DINI

SISTEM PERINGATAN DINI NASIONAL


Peringatan dini di masyarakat dapat dikembangkan dengan mengacu pada
skema peringatan yang ada pada tingkat nasional dimana sumber peringatan resmi
berasal dari lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan peringatan.
Lembaga-lembaga tersebut adalah:
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB);
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo_sika (BMKG), bertanggungjawab
untuk memberikan peringatan dini cuaca, bencana gempa bumi dan tsunami;
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, (PVMBG), Badan Geologi
bertanggungjawab untuk memberikan peringatan dini bencana Letusan
gunungapi dan gerakan tanah;
Kementerian Pekerjaan Umum, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Air, bertanggungjawab untuk memberikan peringatan bencana
banjir dan kekeringan;
Kementerian Kehutanan bertanggungjawab untuk memberikan peringatan
dini bencana kebakaran hutan.

Skema peringatan dini bencana pada tingkat nasional dapat dilihat pada
Gambar 3.1 berikut:

Gambar 3.1: Skema peringatan dini bencana dari Pemerintah ke masyarakat


Peringatan dini pada tingkat masyarakat harus memiliki beberapa prinsip
sebagai berikut:
Tepat waktu.
Akurat.
Dapat dipertanggungjawabkan.
Suatu sistem peringatan dini akan dapat dilaksanakan jika memenuhi
ketiga syarat berikut:
Adanya informasi resmi yang dapat dipercaya.
Adanya alat dan tanda bahaya yang disepakati.
Ada cara/mekanisme untuk menyebarluaskan peringatan tersebut.

3.2 SISTEM PERINGATAN DINI DI MASYARAKAT


Peringatan dini masyarakat dikembangkan dengan mengacu pada
skema peringatan yang ada pada nasional yang memiliki kewenangan untuk
mengeluarkan peringatan resmi (o_cial warning). Hal ini diperlukan agar
informasi peringatan dini dapat diimplementasikan di masyarakat. Pada
beberapa wilayah di mana tidak dapat menerima peringatan dini bencana
dari lembaga nasional, maka gejala alam akan terjadinya bencana menjadi
salah satu hal yang harus diperhatikan sebagai indikasi akan terjadinya
bencana, sehingga hal tersebut dapat dijadikan dasar pengambilan
keputusan bentuk peringatan dini yang akan dikeluarkan.

Gambar 3.2: Dasar pengambilan keputusan peringatan dini pada masyarakat

Dari Gambar 3.2 terlihat bagaimana tanda kejadian bencana


dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk penyebaran
peringatan dini bencana setelah melalui proses pemantuan dan deteksi
bencana, dan dilakukan analisis singkat atas gejala-gejala yang ditimbulkan
untuk menghasilkan rekomendasi keputusan peringatan yang akan
dikeluarkan. Pengetahuan gejala alam akan potensi terjadinya bencana
menjadi faktor utama bagi masyarakat untuk dapat mengambil tindakan
yang dibutuhkan. Pengetahuan gejala alam ini dapat dikembangkan dari
pengetahuan - pengetahuan lokal yang sudah ada diketahui secara luas
tentang bagaimana suatu benjana akan terjadi.
Masyarakat sangat berperan dalam efekti_tas sistem peringatan
dini ini. Peran ini tercermin dari kesadaran atau kepedulian masyarakat serta
pema haman terhadap system peringatan, ditambah dengan kemampuan
masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan terkait (tindakan
antisipatif, prosedur evakuasi dan sebagainya). Harus diperhatikan juga
bahwa terlalu banyak peringatan yang salah dapat mengakibatkan
kejenuhan atas peringatan yang terus menerus, sehingga akhirnya sistem
peringatan menjadi tidak efektif lagi.

3.3 DISEMINASI INFORMASI DAN KOMUNIKASI


Peringatan dini bencana harus segera disebarkan ke masyarakat
umum agar masyarakat dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan isi
peringatan yang diberikan.

3.4 Pengorganisasian Peringatan Dini


Sesuai dengan prinsipnya bahwa peringatan dini harus dapat
dipertanggung jawabkan, maka pada tingkat masyarakat harus dibentuk
Kelompok Peringatan Dini yang bertanggungjawab untuk melakukan proses
pemantuan gejala alam, analisis serta mengeluarkan peringatan dini dan
pelaporan. Kelompok ini dapat berada pada struktur Kelompok Siaga
Bencana ditingkat masyarakat dan dibawah pembinaan pemerintah daerah
setempat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Gambar 3.3: Struktur kelompok peringatan dini tingkat masyarakat
Kelompok Peringatan Dini ini terdiri dari empat tim, yaitu:
Tim Pemantau;
Tim Analisis;
Tim Diseminasi;
Tim Pelaporan.

Proses pemantauan dan analisis informasi merupakan fase


pemanfaatan informasi. Proses ini dapat dilakukan oleh individual
berdasarkan masukan dari stanya (biasanya melalui suatu pertemuan
khusus).
Proses pengambilan keputusan merupakan suatu phase kritis yang
mengubah informasi jadi arahan. Kegiatan ini dilakukan oleh
individual/perseorangan yang bertanggung jawab penuh atas tindakannya,
atau oleh seseorang yang memegang tanggung jawab tertentu atas
konsultasi dengan staf atau penasihat ahlinya.
Tindakan yang dilakukan berupa tindak lanjut dari keputusan yang
diambil dalam bentuk serangkaian arahan, baik dinamik maupun statik.
Contoh arahan dinamik : SAR, evakuasi, mobilisasi sumberdaya,
peringatan/instruksi untuk masyarakat, sedangkan statik statik bisa berupa
menunggu informasi lebih lanjut/stand-by, atau tidak perlu mengambil
tindakan
apa-apa.
Anggota gugus ini berasal dari perwakilan masyarakat bisa dari
perwakilan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, ibu-ibu PKK, serta kader -
kader lainnya yang memiliki latar belakang keterampilan yang sesuai dengan
tugas - tugas tersebut. Perwakilan masyarakat ini yang akan menjadi kader-
kader (avant-guard) di tingkat masyarakat untuk memberikan respon
pertama jika terjadi bencana.
Kelompok peringatan dini tingkat masyarakat ini harus dapat
memanfaatkan dan memaksimalkan seluruh potensi dan sumberdaya yang
dimiliki, sehingga tidak akan mengalami ketergantungan yang tinggi kepada
lembaga atau pihak lainnya. Lembaga nasional atau lembaga lainnya hanya
bersifat memberikan.

3.5 RESPON MASYARAKAT


3.5.1 TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT
Dalam peringatan dini bencana, masyarakat memiliki tanggungjawab untuk:
Mengikuti arahan yang telah dikeluarkan oleh lembaga yang bertanggung
jawab untuk memberikan peringatan dini bencana.
Berpartisipasi dalam kegiatan latihan peringatan dini di masyarakat.
Memberikan informasi yang tepat terkait dengan potensi bencana yang
terjadi.
Menjaga seluruh sumberdaya dan peralatan yang terpasang untuk
mendukung sistem peringatan dini bencana.
Terlibat aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.
3.5.2 PENGARAHAN DAN EVAKUASI MASYARAKAT
Berdasarkan peringatan alam dan informasi resmi lembaga pemberi
peringatan dini bencana, maka masyarakat diharapakan mampu melakukan respon
yang benar sesuai dengan arahan yang diberikan. Masyarakat diharapkan sudah
memiliki rencana evakuasi untuk masing-masing individu dan keluarga.
Pengerahan masyarakat untuk melakukan tindakan penyelamatan diri
dilaksanakan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh kelompok peringatan dini.
Tindakan ini sesuai dengan level peringatan yang diberikan. Hal ini bertujuan
untuk menghindari kepanikan yang munngkin muncul pada saat peringatan
tersebut dikeluarkan.

Level Peringatan Respon Masyarakat Keterangan


Level 1- Normal Aktivitas normal Tidak ada ancaman bencana
Level 2 - Waspada Aktivitas terbatas di daerah rawan bencana Mulai
Mengecek Perlengkapan
Level 3 - Siaga Tidak ada aktivitas di daerah rawan bencana Persiapan
evakuasi
Level 4 - Awas Evakuasi Masyarakat Melaksanakan evakuasi

3.5.3 Peta Evakuasi


Masyarakat perlu mengembangkan peta evakuasi suatu
bencana. Peta evakuasi ini berisikan informasi tentang wilayah-wilayah mana
saja yang rawan terhadap suatu bencana dan wilayah mana saja yang aman
terhadap suatu bencana. Peta evakuasi ini juga berisikan jalur evakuasi yang
mengarahkan masyarakat untuk menuju tempat yang aman, baik wilayah
daratan maupun gedung yang dijadikan sebagai tempat evakuasi.
Untuk menghindari potensi bahaya bencana yang sangat besar,
masyarakat perlu menetapkan dan menyepakati jalur-jalur evakuasi. Hal ini
bertujuan agar upaya penyelamatan masyarakat pada waktu yang singkat
dapat dilaksanakan dengan lancar dan terorganisir dengan baik.
Jalur evakuasi ini harus merupakan jalan yang memiliki akses
tercepat ke tempat aman dan jauh dari potensi bahaya lanjutan serta
memiliki luasan yang cukup untuk dilalui oleh masyarakat dalam jumlah
banya pada waktu bersamaan.
Jalur evakuasi ini sudah harus dilengkapi dengan penanda arah
evakuasi, hal ini bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat yang tingkat di
wilayah sekitar, juga bagi pihak lain yang akan menggunakan jalur tersebut
pada saat terjadi bencana.

3.6 TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT


Dalam peringatan dini bencana, masyarakat memiliki
tanggungjawab untuk:
Mengikuti arahan yang telah dikeluarkan oleh lembaga yang bertanggung
jawab untuk memberikan peringatan dini bencana.
Berpartisipasi dalam kegiatan latihan peringatan dini di masyarakat.
Memberikan informasi yang tepat terkait dengan potensi bencana yang
terjadi.
Menjaga seluruh sumberdaya dan peralatan yang terpasang untuk
mendukung sistem peringatan dini bencana.
Terlibat aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Salah satu indikator meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat dalam


mengantisipasi suatu bencana adalah respon masyarakat dalam menerima
peringatan bencana. Respon masyarakat yang mengikuti arahan yang
dikeluarkan oleh pihak berwenang mengindikasikan berarti bawah
masyarakat memiliki kepercayaan yang besar kepada pemerintah setempat.
Sistem peringatan dini akan sangat bermanfaat jika peringatan yang
dikeluarkan mampu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat, dan
masyarakat dapat menyelamatkan diri dari suatu potensi bencana dengan
menggunakan jalur-jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Selain peringatan
resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, masyarakat juga memiliki
kemampuan untuk melakukan pengamatan potensi bencana dan
meneruskan peringatan kepada masyarakat luas lainnya untuk melakukan
evakuasi.
Kemampuan ini hendaknya dapat terus dijaga dan dikembangkan
dengan memperhatikan potensi dan pengetahuan lokal yang dimiliki serta
dengan tidak mengabaikan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan.

4.2 SARAN

Dalam peringatan dini bencana sebaiknya dilakukan dengan kerja


sama yang baik antara pihak pemerintah dan pihak masyarakat agar semua
pihak tidak kesulitan/menderita pada saat terjadi bencana.
Untuk kesempurnaan dari makalah ini saya sangat mengharapkan
kritik dan saran dari teman-teman maupun dosen mata kuliah manajemen
bencana.

Beri Nilai