Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Horizon Tanah

Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga
ke bebatuan induk tanah (regolith) yang biasanya terdiri dari horizon-horizon O-
A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas yang masih di pengaruhi cuaca disebut solum
tanah. Horizon O-A disebut horizon tanah atas dan horizon E-B disebut lapisan
tanah bawah (Hanafiah, 2014).

Horizon O adalah lapisan teratas yang hampir seluruhnya mengandung


bahan organik. Tumbuhan daratan dan jatuhan dedaunan termasuk pada horizon
ini juga humus. Humus dari horizon O bercampur dengan mineral lapuk untuk
membentuk horizon A, soil berwarna gelap yang kaya akan bahan organik dan
aktivitas biologis, tumbuhan ataupun hewan. Dua horizon teratas ini sering
disebut topsoil (Hanafiah, 2014)

Asam organik dan CO2 yang diproduksi oleh tumbuhan yang membusuk
pada topsoil meresap ke bawah ke horizon E, atau zona pencucian, dan membantu
melarutkan mineral seperti besi dan kalsium. Pergerakan air ke bawah pada
horizon E membawa serta mineral terlarut, juga mineral lempung berukuran halus,
ke lapisan di bawahnya. Pencucian (atau eluviasi) mineral lempung dan terlarut
ini dapat membuat horizon ini berwarna pucat seperti pasir (Hakim, 2007).

Material yang tercuci ke bawah ini berkumpul pada horizon B, atau zona
akumulasi. Lapisan ini kadang agak melempung dan berwarna merah/coklat karat
akibat kandungan hematit dan limonitnya. Kalsit juga dapat terkumpul di horizon
B. Horizon ini sering disebut subsoil. Pada horizon B, material Bumi yang masih
keras (hardpan), dapat terbentuk pada daerah dengan iklim basah di mana mineral
lepung, silika dan oksida besi terakumulasi akibat pencucian dari horizon E.
Lapisan hardpan ini sangat sulit untuk digali/dibor. Akar tumbuhan akan tumbuh
secara lateral di atasnya dan bukannya menembus lapisan ini; pohon-pohon
berakar dangkal ini biasanya terlepas dari akarnya oleh angin (Pairunan, 1985).
Horizon C ialah material batuan asal yang belum seluruhnya lapuk yang
berada di bawah horizon B. Material batuan asal ini menjadi subjek pelapukan
mekanis maupun kimiawi dari frost action, akar tumbuhan, asam organik, dan
agen lainnya. Horizon C merupakan transisi dari batuan asal (sedimen) di
bawahnya dan soil yang berkembang di atasnya (Buckman, 1992).

2.2 Jenis Tanah


Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai
tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran sebagai penopang tumbuh
tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan hara ke akar tanaman. Secara
kimiawi, tanah berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (baik
berupa senyawa organik maupun anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial).
Dengan mengetahui keadaan tanah yang sebenarnya, kita akan lebih mudah dalam
mengolah tanah sebagai lahan pertanian dan kita dapat melakukan tindakan yang
benar terhadap tanah itu agar dapat bermanfaat semaksimal mungkin untuk
kehidupan seluruh makhluk hidup (Bale, 200) . Faktor-faktor pembentukan tanah
yang saling berkaitan mengahsilkan tanah dan sifat yang berbeda-beda,
berdasarkan sifat tanah dan faktor pembentukannya, tanah diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis:
a. Tanah Alluvial
Tanah yang terbentuk dari material halus hasil pengendapan aliran sungai di
dataran rendah atau lembah. Tanah bersifat subur. Tanah aluvial terdapat di
pantai timur Sumatera, di pantai utara Jawa, dan disepanjang Sungai Barito,
Mahakam, Musi, Citearum, Batanghari dan Bengawan Solo.
b. Tanah Vulkanis
Tanah yang berasal dari pelapukan batuan-batuan vulkanis. Tanah bersifat
subur. Persebarannya di Jawa, Sumatera, dan Bali.
c. Tanah Humus
Tanah yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan yang telah membusuk. Tanah
bersifat subur. Persebarannya di Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Irian
jaya.
d. Tanah Organosol
Tanah yang berasal dari proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuh-tumbuhan
rawa. Persebarannya di rawa Sumatera, Kalimantan, Papua.
e. Tanah Andosol
Tanah yang berasal dari abu gunung berapi. Tanah andosol terdapat di
lereng-lereng gunung api. Seperti daerah Sumatera, Jawa, Bali, Lombok,
Halmahera, dan Minahasa
f. Tanah Latosol
Tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium, tanah ini sudah
sangat tua sehingga kesuburannya rendah. Tanah latosol yang mempunyai sifat
cepat mengeras apabila tersingkap atau berada di udara terbuka disebut tanah
laterit. Persebarannya di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan, dan Papua.
g. Tanah Kapur (Terarossa)
Tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan kapur di pegunungan kapur
yang berumur tua. Karena terbentuk dari tanah kapur maka bisa disimpulkan
bahwa tanah ini tidak subur dan tidak bisa ditanami tanaman yang
membutuhkan banyak air. Namun jika ditanami oleh pohon yang kuat dan
tahan lama seperti pohon jati dan pohon keras lainnya. Persebarannya di
perbukitan kapur Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi
Selatan.
h. Tanah Pasir
Tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk berupa sand dune
(bukit pasir) di pantai-pantai pasir. Tanah ini miskin dan kadar airnya sedikit.
i. Tanah Regosol
Tanah berbutir kasar berasal dari material gunung api, tanah regosol
merupakan tanah aluvial yang baru diendapkan dan tanah pasir. Persebarannya
di Bengkulu, pantai Sumatera Barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat .
j. Tanah Grumosol
Tanah yang terbentuk dari material halus berlempeng dan bersifat subur.
Persebarannya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan
Sulawesi Selatan.

k. Tanah Oxisol
Tanah oxisol merupakan tanah yang kaya akan zat besi dan alumunium
oksida. Tanah jenis ini juga sering kita temui di daerah tropis di Indonesia dari
daerah desa hingga perkotaan. Ciri-ciri dari tanah oxisol ini antara lain adalah
memiliki solum yang dangkal dan ketebalannya hanya kurang dari 1 meter
saja. warnanya merah hingga kuning dan memiliki tekstur halus seperti tanah
liat.

2.3 Sifat Fisik Tanah


Sifat fisik tanah juga sangat mempengaruhi sifat-sifat tanah yang lain dalam
hubungannya dengan kemampuannya untuk mendukung pertumbuhan tanaman
dan kemampuan tanah untuk menyimpan air. Walaupun sifat fisika tanah telah
lama dan secara luas dipahami sebagai salah satu faktor yang sangat menentukan
keberhasilan tanaman, sampai dewasa ini perhatian terhadap kepentingan menjaga
dan memperbaiki sifat fisik tanah masih sangat terbatas (Utomo, 1994, dalam
Damayani 2008). Sifat fisik tanah meliputi antara lain tekstur, struktur, warna,
porositas, permeabilitas, kapilaritas dan daya genggam.

a. Tekstur
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat)
yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir,
fraksi debu dan fraksi liat.Tanah terdiri dari butir-butir pasir, debu, dan liat
sehingga tanah dikelompokkan kedalam beberapa macam kelas tekstur,
diantaranya kasar, agak kasar, sedang, agak halus,dan hancur (Hanafiah,
2014).
Tekstur tanah dapat menentukan sifat-sifat fisik dan kimia serta mineral
tanah. Partikel-partikel tanah dapat dibagi atas kelompok-kelompok tertentu
berdasarkan ukuran partikel tanpa melihat komposisi kimia, warna, berat, dan
sifat lainnya. Analisis laboratorium yang mengisahkan hara tanah disebut
analisa mekanis. Sebelum analisa mekanis dilaksanakan, contoh tanah yang
kering udara dihancurkan lebih dulu disaring dan dihancurkan dengan ayakan
2 mm. Sementara itu sisa tanah yang berada di atas ayakan dibuang. Metode
ini merupakan metode hydrometer yang membutuhkan ketelitian dalam
pelaksanaannya. Tekstur tanah dapat ditetapkan secara kualitatif dilapangan
(Hakim, 1986).
Kasar dan halusnya tanah dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah)
ditunjukkan dalam sebaran butir yang merupakan penyederhanaan dari kelas
tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih kasar dari
pasir (lebih besar 2 mm), sebagian besar butir untuk fraksi kurang dari 2 mm
meliputi berpasir lempung, berpasir, berlempung halus, berdebu kasar,
berdebu halus, berliat halus, dan berliat sangat halus (Hardjowigeno, 1995).
Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain : Iklim, Jika kondisi
iklim hujan maka tanah selalu dalam keadaan basah, hal ini dapat
mempengaruhi keadaan tekstur tanah dan akan terjadi proses pencucian
(leaching). Organisme, keberadaan organisme dapat menjadikan tekstur
tanah menjadi semakin subur karena organisme dapat menjadi kompos dan
pengurai. Bahan induk, Jika bahan induk tanah berasal dari batuan maka
tekstur tanah akan cenderung memiliki pori-pori yang besar. Topografi,
Berubahnya muka bumi akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk
pada tekstur tanah, misalnya dalam hal kepadatan dan bentuk strukturnya.
Waktu Semakin lama suatu tanah di permukaan bumi maka teksturnya akan
semakin padat karena adanya pengaruh dari kekuatan luar misalnya organisme
(Poerwowidodo, 1991).
b. Struktur
Struktur tanah digunakan untuk menunjukkan ukuran partikel partikel
tanah seperti pasir, debu dan liat yang membentuk agregat satu dengan yang
lainnya yang dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Agregat yang
terbentuk secara alami disebut ped. Struktur yang dapat memodifikasi
pengaruh tekstur tanah dalam hubungannya dengan kelembaban porositas,
tersedia unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pengaruh permukaan air
(Madjid, 2007).
Tanah yang terbentuk didaerah dengan curah hujan tinggi umumnya
ditemukan struktur tanah atau granular dilapisan atas (top soil) yaitu horizon A
dan struktur gumpal di horizon B atau tanah lapisan bawah (sub soil). Struktur
dapat berkembang dari butiran butiran tunggal ataupun kondisi massive.
Dalam rangka menghasilkan agregat agregat dimana harus terdapat beberapa
mekanisme dalam partikel partikel tanah mengelompok bersama menjadi
doster. Pembentukan ini kadang kadang sampai ke tahap perkembangan
structural yang mantap (Hanafiah, 2005).
Tanah dengan struktur baik mempunyai tata udara yang baik, unsur
unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik
adalah yang bentuknya membulat sehingga tidak dapat bersinggungan dengan
rapat, akibatnya pori pori tanah banyak terbentuk. Disamping itu struktur
tanah harus tidak mudah rusak sehingga pori pori tanah tidak mudah tertutup
(Ananto, 2010).
Struktur tanah dapat memodifikasi pengaruh tekstur dalam hubungannya
dalam kelembaban, porositas, tersedianya unsur hara, kegiatan jasad hidup dan
perubahan akar. Struktur lapisan dipengaruhi oleh praktis dan dimana aerasi
dan draenase membatasi pertumbuhan tanaman. System pertanaman yang
mampu menjaga kemantapan agregat tanah akan memberikan hasil yang
tinggi bagi produksi pertanian (Utomo, 2005).
Struktur tanah sangat berpengaruh dalam bidang pertanian. Tanah sebagai
media tumbuh bagi tanaman menjadi penentu seberapa hasil panen yang akan
didapat. Jika strukturnya terlalu mantap maka akar akan sulit menembusnya,
sebaliknya jika kemantapan strukturnya terlalu lemah maka ketersediaan unsur
hara dan air akan sedikit karena tanah tidak dapat mengikat unsur hara dan air
dengan kuat, oleh karena itu dibutuhkan struktur tanah yang seimbang
(Kurnia, 2006).
c. Warna Tanah

Warna tanah adalah sifat tanah yang paling jelas dan mudah ditentukan.
Walaupun warna mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kegunaan tanah,
tetapi kadang-kadang dapat dijadikan petunjuk adanya sifat-sifat khusus dari
tanah. Misalnya, warna tanah gelap mencirikan kandungan bahan organik
tinggi, warna kelabu menunjukkan bahwa tanah sudah mengalami pelapukan
lanjut (Susanto 2005).

Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun


tanah.Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total
campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat
ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi
volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik
menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir
koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas
permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna
tanah (Hanafiah 2014).

Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh


perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik,
warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan
bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk
dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase buruk, yaitu di
daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena
senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi . Pada tanah yang berdrainase baik,
yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi
misalnya dalam senyawa (hematit) yang berwarna merah, atau . 3 (limonit)
yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang
basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu- abu (daerah yang
tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning, yaitu di
tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi
ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral dapat menyebabkan warna lebih
terang. Intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor yaitu jenis mineral dan
jumlahnya, kandungan bahan organik tanah, kadar air tanah dan tingkat
hidratasi. Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur, kuarsa
dapat menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspar
menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah (Hanafiah 2014).
Warna tanah merupakan sebagai indikator dari bahan induk untuk tanah
yang baru berkembang, indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah
berkembang lanjut, dan indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas
lahan. Secara umum dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi
produktivitasnya, selain ada berbagai pengecualian, namun secara berurutan
sebagai berikut: putih, kuning, kelabu, merah, coklat-kekelabuan, coklat-
kemerahan, coklat, dan hitam. Kondisi ini merupakan integrasi dari pengaruh
kandungan bahan organik yang berwarna gelap, makin tinggi kandungan
bahan organik suatu tanah maka tanah tersebut akan berwarna makin gelap.
Intensitas pelindihan (pencucian dari horison bagian atas ke horison bagian
bawah dalam tanah) dari ion-ion hara pada tanah tersebut, makin intensif
proses pelindihan menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang, seperti pada
horison eluviasi, dan Kandungan kuarsa yang tinggi menyebabkan tanah
berwarna lebih terang (Hanafiah 2014).

Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut


dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna
baku ini disusun tiga variabel, yaitu hue, value dan chroma hue adalah warna
spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya. Value
menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang
dipantulkan dan Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna
spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna
atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral ke
warna lainnya (Gusli 2015).

d. Porositas Tanah

Porositas adalah proporsi ruang pori total (ruang kosong) yang terdapat
dalam satuan volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga
merupakan indikator kondisi drainase dan aerasi tanah. Tanah yang poroeus
berarti tanah yang cukup mempunyai ruang pori untuk pergerakan air dan
udara sehingga muda keluar masuk tanah secara leluasa. (Hanafiah, 2005).

Ruang pori tanah ialah bagian yang diduduki oleh udara dan air. Jumlah
ruang pori ini sebagian besar ditentukan oleh susunan butir butir padat. Kalau
letak mereka satu sama lain cenderung erat, seperti dalam pasir atau sub soil
yang padat, porositas totalnya rendah. Sudah dapat diduga bahwa perbedaan
besar jumlah ruang pori berbagai tanah tergantung pada keadaan. Tanah
permukaan pasir menunjukkan kisaran mulai 35 50%, sedangkan tanah berat
bervariasi dari 40 60% atau barangkali malah lebih, jika kandungan bahan
organik tinggi dan berbutir butir (Buckman dan Brady , 1982).

Porositas tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, struktur tanah,


dan tekstur tanah. Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi. Tanah
dengan struktur granuler/remah, mempunyai porositas yang tinggi daripada
tanah tanah dengan struktur massive/pejal. Tanah dengan tekstur pasir banyak
mempunyai pori-pori makro sehingga sulit menahan air (Hardjowigeno, 2003).

Porositas tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, struktur tanah,


dan tekstur tanah. Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi. Tanah-
tanah dengan struktur granular atau remah, mempunyai porositas yang lebih
tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur massive (pejal). Tanah dengan
tekstur pasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit menahan air
(Hardjowigeno, 2007).

Tanah yang baik adalah tanah yang mengandung udara dan airnya dalam
jumlah cukup dan seimbang serta mantap. Hal ini hanya terdapat pada struktur
tanah yang ruang pori-porinya besar, dengan perbandingan yang sama antara
pori-pori makro dan mikro serta tahan pukulan tetes-tetes air hujan. Dikatakan
pula yang paling baik adalah bila perbandingan sama antara padatan air dan
udara (Suhaidi, 1996).

Salah satu pentingnya dilakukan pengolahan tanah adalah untuk


memperbesar porositas tanah. Selain pengolahan tanah, adapun cara lain yang
dilakukan untuk memperbesar porositas tanah yaitu dengan penambahan bahan
organik dan pengolahan tanah secara minimum. Karena tanah pertanian dengan
pengolahan yang intensif cenderung mempunyai ruang pori rendah, apabila
terjadi penanaman secara terus-menerus tanpa adanya pengolahan tanah maka
akan mengurangi pori-pori mikro dan kandungan bahan organik dalam tanah
(Hakim et.al., 1986).
e. Permeabilitas Tanah

Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk meneruskan air atau


udara. Permeabilitas umumnya diukur sehubungan dengan laju aliran air
melalui tanah dalam suatu waktu dan umumnya dinyatakan dalam cm/jam
(Foth,1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas tanah anatara
lain porositas, distribusi ruang pori, tekstur, stabilitas agregat. Struktur tanah
dan kadar bahan organik tanah ditegaskan lagi bahwa hubungan utama
terhadap permeabilitas adalah distribusi ruang pori sedangkan faktor lainnya
merupakan faktor yang menentukan porositas dan distribusi ukuran pori
(Hillel, 1986)

Pengaruh pemadatan terhadap permeabilitas tanah adalah memperlambat


permeabilitas tanah karena pori kecil yang menghambat gerakan air tanah
makin meninggi (Sarief, 1989). Kelas permeabilitas tanah dapat dilihat pada
Tabel 2.

Tabel 2.1 Kelas permeabilitas tanah

Sumber : Sitorus, dkk, 1980

Adapun beberapa faktor faktor yang dipengaruhi permebilitas tanah


menurut antara lain sebagai berikut (Soepardi, 1975)

1. Infiltrasi

Infiltrasi yaitu kecepatan air auk melalui tanah. Pada tekstur tanah pasir
yang memiliki ruang pori besar, akan akan memiliki daya infiltrasi yang
cepat dan permeabilitasnya sangat tinggi. Namun pada tekstur pada tekstur
liat akan berbeda, tekstur liat memiliki kemampuan yang baik menyimpan
air, maka akan mengakibatkan daya infiltrasi menjadi lambat, yang
menyebabkan permeabilitas akan juga lambat.

2. Aliran Drainase

Drainase merupakan aliran air, drainase pada masing masing tekstur


tanah tidak sama. Pada tekstur tanah pasir yang memiliki ruang pori yang
besar maka drainasenya akan tinggi sehingga permeabilitasnya pun akan
semakin cepat namun tekstur tanah liat memiliki aliran drainase yang
kurang baik, yang menyebabkan permeabilitasnya melambat.

3. Evaporasi
Evaporasi merupakan proses penguapan. Pada tanah jenuh, akan
memiliki kadar air yang tinggi atau banyak maka evaporasinya akan tinggi
sehingga permebilitasnya pun akan tinggi. Namun tidak akan tanah tak
jenuh yang memiiki kadar air yang rendah sehingga evaporasi pun akan
rendah dan permebilitasnya rendah pula
4. Erosi
Erosi adalah proses pengikisan lapisan tanah di permukaan sebagai
akibat dari tumbukan buturan hujan dan aliran air dipermukaan. Pada
umumnya dikenal 3 tipe erosi pada taanah yaitu erosi permukaan, erosi alir
dan erosi parit. Erosi akan berpengaru pada permeabilitas tanah, apabila
erosi besar maka permeabilitas tanah akan rendah begitu juga sebaliknya
apabila erosi rendah maka permebilitasnya akan tinggi.
f. Kapilaritas Tanah
Kapilaritas adalah peristiwa naik atau turunnya zat cair ( y ) dalam pipa
kapiler yang dimasukkan sebagian ke dalam zat cair karena pengaruh adhesi
dan kohesi.Peristiwa kapilaritas terjadi jika jika rongga (diameter) pipa sangat
kecil. Kapilaritas disebabkan oleh interaksi molekul-molekul di dalam zat cair.
Di dalam zat cair molekul-molekulnya dapat mengalami gaya adhesi dan
kohesi. Gaya kohesiadalah tarik-menarik antara molekul-molekul di dalam
suatu zat cair, sedangkan gaya adhesi adalah tarik menarik antara molekul
dengan molekul lain yang tidak sejenis, yaitu bahan wadah di mana zat cair
berada (Ari Setiadi, 2013).
Watak air di dalam tanah dipengaruhi oleh ukuran dan cara zarah-zarah
tanah tersusun. Pada umumnya semakin besar kandungan lempung semakin
banyak air akan ditambat tanah pada tingkat pengatusan atau pengeringan
tertentu, tetapi jenis mineral lempung atau sifat kation-kation yang dapat
ditukarkan juga berpengaruh terhadap penambatan dan pergerakan air. Zarah-
zarah tersebut mungkin tersusun secara longgar atau rapat dan oleh karena itu
membentuk ruang pori yang akan ditempati air dan udara. Zarah-zarah ini
membentuk matrik padatan yang bersarang (porous) yang didalamnya
tertambat air,dan cara mereka tersusun seperti ini memberikan lebih banyak
atau sedikit ruang pori, pori besar atau pori kecil yang jelas sama pentingnya
dalam hubungannya dengan air maupun ukuran serta zarah-zarahnya. Ruang
pori total cukup mudah ditetapkan namun ukuran pori telah menghadapi
kesulitan dalam penetapannya (Marshall and Holmes, 1979).
Tumbuhan dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik dikarenakan
oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah
ketersediaan air yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk memenuhi
kebutuhan fisiologinya. Air yang dibutuhkan oleh tumbuhan dapat berasal dari
alam berupa air hujan dan air tanah. Tetapi seringkali tumbuhan mengalami
kekurangan air karena kurangnya air tersedia di sekitar tumbuhan tersebut,
sehingga diperlukan suatu penambahan air yang biasanya dipenuhi melalui air
irigasi (Hastuti, 1995).
Pola kapilaritas air tanah dipengaruhi oleh besarnya pengembangan
tegangan dan daya hantar pori-pori dalam tanah. Nilai efek kapilaritas tidak
beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori-pori yang dilewatinya
bersifat acak pula (Maas, 2001).

g. Daya Genggam air/ Kapasitas Lapang


Menurut Kartasapoetra dan Sujedja (1991), Air kapiler dibedakan menjadi:
1. Kapasitas lapang, yaitu air yang dapat ditahan oleh tanah setelah air gravitasi
turun semua. Kondisi kapasitas lapang terjadi jika tanah dijenuhi air atau
setelah hujan lebat tanah dibiarkan selama 48 jam, sehingga air gravitasi
sudah turun semua. Pada kondisi kapsitas lapang, tanah mengandung air
yang optimum bagi tanaman karena pori makro berisi udara sedangkan
pori mikro seluruhnya berisi air. Kandungan air pada kapasitas lapang
ditahan dengan tegangan 1/3 atm atau pada pF 2,54.
2. Titik layu permanen, yaitu kandungan air tanah paling sedikit dan menyebabkan
tanaman tidak mampu menyerap air sehingga tanaman mulai layu dan
jika hal ini dibiarkan maka tanaman akan mati. Pada titik layu permanen,
air ditahan pada tegangan 15 atm atau pada pF 4,2. Titik layu permanen
disebut juga sebagai koefisien layu tanaman.

Jadi Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang
menunjukan air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik
gravitasi. Air yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus diserap oleh
akar tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama makin mengering.
Pada suatu saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air tersebut sehingga
tanaman menjadi layu (titik layu permanen).

2.4 Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah adalah sifat tanah yang berhubungan dengan proses dan
reaksi kimia dari tanah. Sifat-sifat kimia tanah tersebut meliputi kandungan kapur
dalam tanah, kandungan bahan organik dan pH/derajat keasaman tanah.
a. pH tanah
Reaksi tanah adalah salah satu sifat kimia tanah yang melingkupi berbagai
unsur-unsur dan senyawa-senyawa kimia yang lengkap. Reaksi tanah
menunjukkan tentang status atau keadaan kimia yang terkandung di dalam
tanah dan merupakan faktor yang mempengaruhi proses-proses biologis pada
pertumbuhan tanaman. Bila keadaan kimia tanah dalam proses biologis yang
terganggu maka biasanya ditunjukkan dengan reaksi atau pH yang ekstrim
(Pairunan dkk, 1985). pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas
kemasaman, bukan ukuran total asam yang ada di tanah tersebut. Pada tanah-
tanah tertentu, seperti tanah liat berat, gambut yang mampu menahan
perubahan pH atau kemasaman yang lebih besar dibandingkan dengan tanah
yang berpasir (Mukhlis,2007).
Sumber kemasaman tanah dalam kandungan bahan-bahan organik dan
anorganik. Ionisasi asam menghasilkan ion H+ yang bebas dalam larutan tanah.
Sumber lain dari kemasaman tanah adalah H+dan Al3+ yang dapat ditukar
dengan koloid tanah. Kemampuan suatu tanah dalam mempertahankan pH dari
perubahan karena terjadinya penambahan Alkalisatau masam biasa dinamakan
sebagai daya sanggah pada tanah (Hadjowigeno, 1987). Kemasaman suatu
tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ yang terdapat di dalam tanah dan
berada pada kesetimbangan dengan ion H+yang terjerap. Kemasaman tanah
merupakan suatu sifat yang penting sebab terdapat hubungan antara pH dengan
ketersediaan unsur hara dan juga terdapatnya hubungan antara pH tanah
dengan proses pertumbuhan (Foth, 1989).
Kisaran suatu pH yang terdapat dalam tanah dapat dibatasi dengan dua
elekstin. Kisaran pH untuk tanah mineral biasanya terdapat diantara 3,5 10,0.
kebanyakan toleransi tanah pada pH yang ekstrim atau tinggi, asalkan dalam
tanah tersebut tersedia banyak unsur-unsur hara yang cukup untuk kesuburan
tanah sehingga kadar untuk kemasaman tadi dapat seimbang (Hakim, 1985).
Kemasaman atau pH tanah yang tinggi biasanya mengakibatkan terjadinya
kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan akar pada tanaman. Pengaruh tidak
langsung ketidakstabilan pada pH tanah, mengakibatkan keracunan pada
tanaman (Hakim, 1985). Tanah yang terlalu masam, dapat dinaikkan pH-nya
dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedangkan pH tanah yang terlalu
alkalis atau mempunyai nilai pH yang tinggi dapat diturunkan dengan cara
menambahkan belerang atau dengan cara pemupukan pada tanah
(Hadjowigeno, 1987).
b. Bahan organik tanah
Bahan organik adalah segala bahan-bahan atau sisa-sisa yang berasal dari
tanaman, hewan dan manusia yang terdapat di permukaan atau di dalam tanah
dengan tingkat pelapukan yang berbeda (Hasibuan 2006). Bahan organik
merupakan bahan pemantap agregat tanah yang baik. Sekitar setengah dari
Kapasitas Tukar Kation (KTK) berasal dari bahan organik (Hakim et al 1986).
Fungsi bahan organik adalah sebagai berikut:
1. Sumber makanan dan energi bagi mikroorganisme,
2. Membantu keharaan tanaman melalui perombakan dirinya sendiri
melalui kapasitas pertukaran humusnya,
3. Menyediakan zat-zat yang dibutuhkan dalam pembentukan pemantapan
agregatagregat tanah,
4. Memperbaiki kapasitas mengikat air dan melewatkan air, (v) serta
membantu dalam pengendalian limpasan permukaan dan erosi.
Pemberian bahan organik ke dalam tanah baik dalam bentuk pupuk
kandang, kompos, maupun pupuk hijau, dapat berperan ganda karena dapat
memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologis tanah (Sitompul dan
Setijono, 1991). Dekomposisi bahan organik yang cepat yang diikuti oleh
peningkatan populasi mikroorganisme, untuk sementara dapat menyebabkan
fosfat diikat dalam tubuh mikroorganisme. Selanjutnya hasil dekomposisi
berupa asam-asam organik dan humus dapat secara efektif bereaksi dengan Fe
dan Al membentuk senyawa kompleks. Pengikatan Fe dan Al oleh asam-asam
organik dapat mengurangi pengikatan P anorganik (Soepardi, 1983; Benito,
Purwanto dan Sutanto 1997; Chairani 2003).
Bahan organik berperan meningkatkan daya menahan air (water holding
capacity), memperbaiki struktur tanah menjadi gembur, mencegah pengerasan
tanah, serta menyangga reaksi tanah dari kemasaman, kebasaan, dan salinitas
(Tisdale et al. 1993; Dobermann dan Fairhurst 2000). Kandungan bahan
organik yang tinggi dalam tanah mendorong pertumbuhan mikroba secara
cepat sehingga dapat memperbaiki aerasi tanah, menyediakan energi bagi
kehidupan mikroba tanah, meningkatkan aktivitas jasad renik (mikroba tanah),
danmeningkatkan kesehatan biologis tanah (Tisdale et al.1993; Dobermann dan
Fairhurst 2000).
Berdasarkan hasil penelitian Arsyad (1992) menunjukkan pemberian bahan
organik sebagai suatu perlakuan, dapat memberikan peningkatan hasil pada
bobot biji dan bobot kering bagian atas tanaman serta jumlah polong yang
terisi. Pemberian bahan organik merupakan faktor kesuburan tanah yang dapat
mempengaruhi produksi dan kualitas produksi (Sutanto , 2000).
c. Kapur Tanah
Keberadaan kapur tanah erat kaitannya dengan keberadaan kalsium atau
magnesium. Magnesium berasal dari mineral fero-magnesium dan kalsium dari
feldspor dan akumulasi bahan kapur(karbonat), dolomit, kalsit, dan gipsum
sebagai mineral sekunder. Kandungan Ca dan Mg yang tinggi dalam tanah
berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut. Semakin kuat
pelindian, semakin kecil kandungan kedua hara tersebut. Kandungan kapur
tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain komposisi batuan induk dan
iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya
lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi ( Safuan, 2005 ).
Pengaruh kapur terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman dapat ditinjau
dari 2 segi, yang pertama ialah pengaruh langsung yaitu kapur sebagai sumber
hara Ca dan Mg dan yang kedua ialah pengaruh tidak langsung yaitu berupa
perbaikan sifat dan ciri tanah. Manfaat dari pengapuran tanah antara lain untuk
menaikan harga pH tanah, menyediakan Ca dan Mg untuk tanaman, yang
berperan pada serapan dan pergerakan unsur P didalam jaringan tanaman,
meperbaiki struktur tanah serta memperbaiki pembentukan bintil-bintil akar.
Bahan kapur pertanian ada 3 macam, yaitu CaCO3 atau CaMg( CO3 )2, CaO
atau MgO, dan Ca( OH )2 atau Mg( OH )2. Kapur yang disarankan adalah
CaCO3 atau CaMg( CO3 )2 yang digiling dengan kehalusan 100% melewati
saringan 20 mesh dan 50% melewati saringan 80- 100 mesh ( Safuan, 2005 ).
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral essensial sekunder seperti
Magnesium dan Belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis karena diserap
tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpsi tanah, mengendap
kembali sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci (Leiwakabessy 1988).
Adapun manfaat dari kalsium adalah mengaktifkan pembentukan bulubulu akar
dan biji serta menguatkan batang dan membantu keberhasilan penyerbukan,
membantu pemecahan sel, membantu aktivitas beberapa enzim (RAM 2007).
Biasanya tanah bersifat masam memiliki kandungan Ca yang rendah. Kalsium
ditambahkan untuk meningkatkan pH tanah. Sebagian besar Ca berada pada
kompleks jerapan dan mudah dipertukarkan. Pada keadaan tersebut kalsium
mudah tersedia bagi tumbuhan. Pada tanah basah kehilangan Ca terjadi sangat
nyata (Soepardi 1983).
Dalam tanah magnesium berada dalam bentuk anorganik (unsur makro),
namun dalam jumlah yang cukup signifikan juga berasosiasi dengan materi
organik dalam humus (Sutcliffe dan Baker 1975). Magnesium merupakan
unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya dengan beberapa hara lainnya,
kekurangan magnesium mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun.
Kadang-kadang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan akibat dari
kekurangan magnesium (Hanafiah 2007). Selain itu, masnesium merupakan
pembawa posfat terutama dalam pembentukan biji berkadar minyak tinggi
yang mengandung lesitin (Agustina 2004).