Anda di halaman 1dari 5

ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN

Pelaksanaan : Sabtu, 10 September 2016


Tempat : Ruang Bougenvile RSUD Ciamis

1. Tindakan keperawatan yang dilakukan :


Pemasangan NGT
Nama Klien : Tn H
Diagnosa Medis : Trauma tumpul abdomen

2. Diagnosa Keperawatan :
Gangguan pemenuhan nutrisi ; kurang dari kebutuhan

3. Prinsip-prinsip tindakan
Nasogatrict tube adalah melakukan pemasangan selang (tube) dari rongga hidung ke
lambung (gaster).
Persiapan alat:
Baki berisi:
a. NGT no.14 atau 16
b. Jelly
c. Tongue spatel
d. Sepasang sarung tangan
e. Senter
f. Spuit/alat suntik ukuran 50-100cc
g. Plester
h. Stetoskop
i. Handuk
j. Tissue
k. Bengkok

Prosedur pelaksanaan:
Tahap pra interaksi:
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Mengidentifikasi pasien dengan benar (nama, nomor kamar)
d. Menyiapkan dan meletakkan alat di dekat pasien
Tahap orientasi:
a. Mengucapkan salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Menanyakan persetujuan/kesiapan klien
Tahap Kerja:
a. Mendekatkan alat ke samping klien
b. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya

c. Mencuci tangan

d. Memposisikan klien pada posisi high flower (meningkatkan kemampuan


klien untuk menelan)

e. Memasang handuk pada dada klien, meletakkan tissue wajah dalam


jangkauan klien

f. Memasang sarung tangan

g. Mengukur panjang tube yang akan dimasukkan dengan menggunakan:

Metode tradisional: ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun


telinga bawah dan ke prosessus xipoideus di sterum
Metode hanson: mula-mula tandai 50cm pada tube, kemudian
lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan
dimasukkan pertengahan antar 50cm dengan tanda tradisional

h. Berikan tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan menggunakan
plester

i. Memberikan jelly pada NGT sepanjang 10-20cm

j. Mengngatkan klien bahwa selang akan segera dimasukkan dan instrusikan


klien untuk mengatur posisi kepala ekstensi, masukkan selang melalui
lubang hidung yang telah ditentukan

k. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika merasakan


agak tertahan, putarlah selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan

l. Lanjutkan memasang selang sampai melewati nasofaring, setelah melewati


nasofaring (3-4cm) anjurkan klien untuk menekuk leher dan menelan

m. Tidak memaksakan selang masuk. Bila ada hambatan atau klien tersedak,
sianosis, maka hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di
belakang tenggorok dengan menggunakan spatel lidah dan senter

n. periksa letak selang dengan:


Memasang spuit pada ujung GT, memasang bagian diafragma
stetoskop pada perut di kuadran kiri atas klien (gaster), kemudian
suntikan 10-20cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen
Aspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkuk yang
berisi air, jika ada gelembung udara berarti masuk ke paru-paru, bila
tidak berarti masuk pada lambung
o. Oleskan alkohol pada ujung hidung klien dan biarkan sampai kering
p. Fiksasi selang dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
q. Mengevaluasi klien setelah terpasang NGT
r. Merapikan alat-alat
s. Mencuci tangan
t. Mendokumentasikan hasil tindakan pada catatan perawatan

Tahap Terminasi

a. Mengevaluasi tindakan yang dilakukan

b. Merapikan pasien dan lingkungan

c. Mengajak pasien berdoa dan berserah kepada Allah

d. Berpamitan dengan pasien

e. Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula

f. Mencuci tangan

g. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

(Kusyati, 2003)

4. Analisa tindakan keperawatan


Pemasangan pipa nasogatrik atau nasogatric tube (NGT) merupakan prosedur
pemasangan pipa melalui lubang hidung (nostril) turun ke nasofaring kemudian ke
lambung (Barbara, 2004). Prosedur ini bermanfaat untuk tujuan diagnosis maupun
terapi. Dua indikasi yangs ering yaitu untuk akses pemberian utrisi bagi pasien yang
tidak mampu makan melalui mulut dan untuk mengevaluasi isi lambung pasien
(William, 2004).
Pemasangan NGT dilakukan pada pasien yang tidak sadar, pasien dengan masalah
saluran pencernaan atas (steus esofagus, tumor mult, faring, maupun laring), pasien
yang tidak mampu menelan, pasien pasca operasi saluran pencernaan atas. Salah satu
tujuan pemasangan selang NGT adalah mengeluarkan cairan/isi lambung dan gas yang
ada di dalam lambung (Agha, 2011).
Pada kasus pasien, Tn. R mengalami penurunan kesadaran dan banyak meminum air
sehingga air yang ada di dalam perut pasien harus segera dikeluarkan. Pemasangan
selang NGT pada pasien harus segera dilakukan untuk mengeluarkan cairan lambung
pasien.
5. Bahaya yang dapat terjadi
Komplikasi-komplikasi dapat terjadi akibat trauma mekanik selama proses pemasangan
awal NGT maupun penempatan NGT yang tidak tepat antara lain:
a. Distres nafas pada pemasangan awal NGT terjadi akibat penempatan
posisi pasien serta teknik pemasangan NGT yang tidak tepat. Ini dapat
dicegah dengan memposisikan pasien pada posisi fowler serta melakukan
tahapan prosedur pemasangan NGT dengan berurutan, serta yang paling
penting adalah konfirmasi letak pipa. Penanganan awal bila muncul tanda-
tanda distres nafas adalah segera menarik keluar NGT.
b. Malposisi NGT
Jangan melakukan pemasangan NGT misalnya malposisi NGT pada pasien
trauma maksilofasial yang dicurigai mengalami fraktur cribiformis plate
c. Epitaksis masif dapat menyebabka gangguan pada jalan nafas sehingga
memerlukan pemasangan tampon. Risiko komplikasi ini dapat dikurangi
dengan melakukan teknik pemasangan NGT yang tepat yaitu dengan
menelusuri dasar hidung menuju ke arah telinga saat mendorong masuk
NGT untuk mengurangi terjaidnya turbinasi dan nyeri serta epistaksis.
d. Pneumonia aspirasi terjadi akibat aspirasi isi lambung saat pasien muntah.
Ini dapat dicegah dengan memposisikan pasien dengan baik, bila perlu
lakukan intubasi bila saluran napas tidak lapang terutama pada pasien
tidak sadar.
e. Hipoksemia terjadi akibat obstruksi saluran napas karena penempatan
NGT yang kurang tepat
(Todd, 2006)
6. Hasil yang didapat dan maknanya
S: - (pasien mengalami penurunan kesadaran)
O: keluar cairan melalui selang NGT sebanyak 400cc
A: masalah teratasi sebagian
P: kaji dan catat cairan yang keluar melalui selang NGT
7. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa di atas
(mandiri dan kolaboratif)
a. Memposisikan pasien semifowler
b. Mengkaji keseimbangan nutrisi dan cairan
c. Mengkaji adanya obstruksi jalan nafas pasie
8. Kepustakaan
i. Kusyati, Eni. 2003. Ketrampilan dan Prosedur Keperawatan Dasar. Semarang: Kilat
Press
ii. Kozier, Barbara, etc. 2004. Fundamental Nursing: Concepts, Process and Practice
Seventh ed. Pearson Prentice hall New Jersey.
iii. Lippincot Williams & Wilkins. Nasogatric Tube Insertion and Removal: ursing
Procedur Fourth ed.1. Wolter Kluwer Company
iv. Agha, R & Muhammed RSS. 2011. Pneumothorax After Nasogatric Tube Insertion.
Journal of the Royal Society of Medicine Short Reports: 2: 28