Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sehubungan dengan globalisasi dan berkembangnya teknologi informasi telah
mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara (baik secara politik, ekonomi, maupun
sosial), masalah nasionalisme dan patriotisme tidak lagi dapat dilihat sebagai masalah
sederhana yang dapat dilihat dari satu perspektif saja. Masalah pembangunan nasionalisme
dan patriotisme di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang berat, maka perlu
dimulai upaya-upaya untuk kembali mengangkat tema tentang pembangunan nasionalisme
dan patriotisme. Apalagi di sisi lain, pembahasan atau diskusi tentang nasionalisme dan
patriotisme di Indonesia justru kurang berkembang.
Berhubungan dengan patriotisme, refleksi kisah perjuangan telah terbukti betapa
tingginya semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir dan melawan penjajah sejak
awal penjajahan Belanda sampai dengan tercapai kemerdekaan RI. Sebuah kewajiban yang
universal dimana generasi yang lebih tua agar mewariskan tidak hanya pengetahuan tentang
tonggak sejarah atas kejadian yang terjadi di masa lalu, namun juga terutama tentang
semangat patriotisme yang berpengaruh atas perjalanan hidup dalam berbangsa dan
bernegara. Karena dengan demikian akan tercipta suatu hubungan emosional secara timbal-
balik di antaranya dalam kaitan semangat patriotisme. Hal ini menjadi sebuah tuntutan yang
layak, agar generasi muda dapat menghargai jasa-jasa pejuang dan pahlawan sehingga mereka
menempatkan para pejuang dan pahlawan secara terhormat.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah yaitu:
1. Strategi apa saja yang dapat dilakukan untuk menguatkan rasa nasionalisme dan
patriotisme di era global?
2. Bagaimana cara membangkitkan rasa nasionalisme dengan menghargai keragaman?
3. Apa pengaruh globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme?
4. Apa yang harus dilakukan agar nasionalisme di Indonesia tidak semakin menghilang?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Nasionalisme
Nasionalisme berasal dari kata nation (bangsa). Nasionalisme adalah suatu gejala
psikologis berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadaran
sebagai bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang hidup dalam suatu wilayah tertentu
dan memiliki rasa persatuan yang timbul karena kesamaan pengalaman sejarah, serta
memiliki cita-cita bersama yang ingin dilaksanakan di dalam negara yang berbentuk negara
nasional.
Nasionalisme juga dapat diartikan sebagai suatu sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas
mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering
disebut chauvinisme atau rasa cinta tanah air yang berlebihan dan mengagungkan bangsanya
sendiri dan merendahkan bangsa lain. Ada juga yang sering menyebut sebagai sukuisme atau
suatu paham yang memandang bahwa suku bangsanya lebih baik dibandingkan dengan suku
bangsa yang lain, atau rasa cinta yang berlebihan terhadap suku bangsa sendiri. Contohnya
ada dalam sumpah pemuda. Contoh kecil yaitu selalu menjunjung tinggi negara dan kesatuan,
membela negara, menggunakan haknya dalam PEMILU, menggunakan produk dalam negeri,
berobat di dalam negeri, dan masih banyak lagi.
Ideologi nasionalisme bersumber pada persatuan dan kesatuan. Namun pemahaman
akan persatuan dan kesatuan sering kali menjadi kesalahan dalam ide dan praktiknya sehingga
ketika kita berbicara tentang nilai tersebut kita tidak mampu mengambil kekuatan intinya.
Persatuan dan kesatuan memiliki arti independen organik/sosial liberal dalam konteks
manifestasinya. Independen organik ini berarti sebuah penyatuan sosial secara individual dan
kolektif ketika kita sebagai manusia tersadarkan melalui nalar, perasaan, dan gerakan
kemanusiaan untuk suatu keadilan, kemakmuran, dan kemajuan. Dari sumber kekuatan
nasionalisme ini kita akan bergerak ke arah revolusi nasional sebagai gerakan perlawanan
terhadap kejahatan dan ketidakadilan sistem yang mengatur manusia untuk kepentingan nafsu
dan syahwat. Namun dalam memaknai revolusi kita harus menyadari juga bahwa revolusi
nasionalisme yang dimaksud bukan revolusi berdarah yang menghadirkan konflik dan
perpecahan nasional, karena kembali pada sumber ide nasionalisme itu sendiri yaitu
"persatuan dan kesatuan".
Pada prinsipnya nasionalisme merupakan pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar
bangsa Indonesia senantiasa:
1. Menempatkan persatuan-kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di
atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan.
2. Menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.
3. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah
diri.
4. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan
sesama bangsa.
5. Menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia.
6. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
7. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
8. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
9. Senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
10. Berani membela kebenaran dan keadilan.
11. Merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia.
12. Menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa
lain.

B. Patriotisme
Patriotisme berasal dari kata patriot artinya pecinta dan pembela tanah air. Sedangkan
patriotisme adalah semangat cinta tanah air. Pengertian patriotisme adalah sikap untuk selalu
mencintai atau membela tanah air, seorang pejuang sejati, pejuang bangsa yang mempunyai
semangat, sikap dan perilaku cinta tanah air, mengorbankan segala-galanya bahkan jiwa
sekalipun demi kemajuan, kejayaan dan kemakmuran tanah air.
Bangsa Indonesia terkenal akan budayanya yang beraneka ragam dan memiliki
kekayaan melimpah yang tidak dimiliki bangsa lain. Indonesia juga terkenal dengan
penduduknya yang ramah-ramah dan menerima pendapat serta perbedaan-perbedaan di
lingkungan bangsa Indonesia. Indonesia telah mulai belajar menerima dan memahami
perbedaan sesungguhnya dengan lebih terbuka. Patriotisme konstruktif juga membutuhkan
keterlibatan politik dalam arti luas. Tidak berarti harus tergabung dalam politik praktis,
melainkan adanya aktivitas untuk mendapatkan informasi politik atau hal-hal yang berkaitan
dengan kelompoknya. Dengan lebih mengenal kelompoknya baik karakteristik maupun
permasalahannya, akan memudahkan seseorang untuk bisa lebih pedulli atau terlibat termasuk
mengkritisi untuk menghasilkan perubahan positif.

C. Strategi untuk Menguatkan Rasa Nasionalisme dan Patriotisme di Era Global


Semangat nasionalisme dan patriotisme sangat diperlukan dalam pembangunan bangsa
agar setiap elemen bangsa bekerja dan berjuang keras mencapai jati diri dan kepercayaan diri
sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Jati diri dan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa
ini merupakan modal yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan di masa
depan. Penguatan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam konteks globalisasi saat ini
harus lebih dititikberatkan pada elemen-elemen strategis dalam percaturan global. Oleh
karena itu, strategi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Penguatan peran lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dalam ikut membangun
semangat nasionalisme dan patriotisme, terutama di kalangan generasi muda. Generasi
muda adalah elemen strategis di masa depan. Mereka sepertinya menyadari bahwa dalam
era globalisasi, generasi muda dapat berperan sebagai subjek maupun objek.
2. Penguatan semangat nasionalisme dan patriotisme pada masyarakat yang tinggal di
wilayah-wilayah yang dalam perspektif kepentingan nasional dinilai strategis.
3. Penguatan semangat nasionalisme dan patriotisme pada masyarakat yang hidup di daerah
rawan pangan (miskin), rawan konflik, dan rawan bencana alam.
4. Peningkatan apresiasi terhadap anggota atau kelompok masyarakat yang berusaha
melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya bangsa. Demikian pula dengan
anggota atau kelompok masyarakat yang berhasil mencapai prestasi yang membanggakan
di dunia internasional.

D. Membangkitkan Rasa Nasionalisme dengan Menghargai Keragaman


Di Republik Indonesia kita ini tidak mengenal adanya perbedaan etnis dan rumpun,
melalui Kongres Pemuda tahun 1928 di Jakarta diikat dengan semangat Sumpah Pemuda.
Tanah Air yang Satu, Tanah Air Indonesia. Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia. Dan
Berbahasa yang Satu, Bahasa Indonesia.
Berdasar hal diatas, marilah kita selalu berpegang kepada semangat Bhinneka Tunggal
Ika yang merupakan semboyan pemersatu bangsa sejak dulu. Pikiran-pikiran baru yang rusak
dan tidak bertanggung jawab dihilangkan untuk upaya melakukan suatu pergeseran makna
rasa kebersamaan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semua
harus sadar bahwa ketika hak asasi seseorang yang terlahir dan berasal dari wilayah negeri
yang terbentang dari Sabang hingga Merauke ini juga memiliki hak dan kewajiban serta
tanggung jawab yang sama atas bangsa dan negaranya. Oleh karena perlunya kita menghargai
keragaman, tentunya dimanapun terjadinya pesta demokrasi baik di pusat atau di daerah,
hendaknya menjadi ajang aspirasi yang paling demokratis tanpa dibayangi dengan pikiran-
pikiran sempit dari sebagian atau sekelompok orang tertentu yang hendak menghilangkan
semangat nasionalisme dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Dengan memegang semangat nasionalisme yang tinggi atau menghargai sebuah
keragaman seperti yang dimaksudkan di atas, maka pada akhirnya nanti masyarakat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi benar-benar akan menikmati pesta demokrasi ini secara
langsung, umum, bebas dan rahasia serta jujur dan adil sesuai dengan yang diamanatkan
dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

E. Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme


Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara
termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi, yakni pengaruh positif dan pengaruh
negatif. Pengaruh globalisasi juga merasuk dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk
kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain sebagainya. Hal ini tentunya
akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme terhadap bangsa. Teknologi informasi dan
komunikasi merupakan faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,
perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan
kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita
hindari kehadirannya.
Pengaruh positif globalisasi dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan
secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan merupakan bagian dari suatu negara,
jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat
tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap
negara menjadi meningkat. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional,
meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Semakin terbukanya pasar
internasional ini akan membuka peluang besar kerja sama dalam sektor perekonomian
nasional. Dengan adanya hal tersebut akan semakin meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa
guna menunjang kehidupan nasional bangsa dan negara.
Pengaruh adanya globalisasi dalam sektor sosial budaya, kita dapat meniru pola berpikir
yang baik. Seperti membangun etos kerja yang tinggi dan disiplin, serta meniru ilmu
pengetahuan dan teknologi dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan
bangsa. Pada akhirnya, akan membawa kemajuan bangsa serta mempertebal rasa
nasionalisme kita terhadap bangsa.
Selain berdampak positif, munculnya globalisasi juga berdampak negatif yang tak kalah
pentingnya untuk diperhatikan. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa
liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga memungkinan berubah
arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa
nasionalisme bangsa akan hilang.
Munculnya globalisasi juga berdampak pada aspek ekonomi. Semakin hilangnya rasa
cinta terhadap produk dalam negeri karena sudah semakin banyaknya produk luar negeri
seperti Mc Donald, Coca-Cola, Pizza Hut, dan sebagainya, yang membanjiri dunia pasar di
Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukkan gejala
berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Masyarakat kita,
khususnya anak muda, banyak yang lupa mengenai identitas diri sebagai bangsa Indonesia.
Karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap
sebagai kiblat. Selain itu, globalisasi juga mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang
tajam antara orang kaya dan miskin. Ini disebabkan karena adanya persaingan bebas dalam
globalisasi ekonomi.
Pengaruh-pengaruh diatas tidak secara langsung berdampak terhadap nasionalisme.
Akan tetapi, secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa
menjadi berkurang atau bahkan hilang. Sebab, globalisasi mampu membuka cakrawala
masyarakat secara global. Apapun yang ada di luar negeri dianggap baik serta mampu
memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Berdasarkan
analisa dan uraian di atas, pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh
positifnya. Oleh karena itu, diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif
globalisasi terhadap nilai nasionalisme.
F. Nasionalisme Indonesia yang Semakin Menghilang
Nasionalisme Indonesia yaitu sebuah penegasan identitas diri melawan kolonialisme
dan imperialisme. Beberapa pengalaman kolektif seharusnya menjadi pembangkit semangat
nasionalisme Indonesia. Identifikasi sebuah kelompok etnis atau agama pada identitas kolektif
sebagai bangsa hanya mungkin terjadi kalau negara mengakui, menerima, menghormati, dan
menjamin hak hidup mereka. Masyarakat akan merasa lebih aman dan diterima dalam
kelompok etnis atau agamanya ketika negara gagal menjamin kebebasan beragama termasuk
kebebasan beribadah dan mendirikan rumah ibadah, persamaan dihadapan hukum, hak
mendapatkan pendidikan yang murah dan berkualitas, hak memperoleh pekerjaan dan
penghidupan yang layak, dan sebagainya.
Tantangan bagi nasionalisme Indonesia ke depan adalah bagaimana kita mewujudkan
sebuah negara kebangsaan yang bersifat liberal-demokratis dimana hak-hak dasar setiap
warga negara diakui, dihormati, dan dijamin, dimana hukum ditegakkan secara pasti dan adil,
dimana negara mewujudkan kesejahteraan umum, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Nasionalisme adalah sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi
karena pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh bangsa kolonial Belanda.
Nasionalisme Indonesia yaitu sebuah penegasan akan identitas diri melawan
kolonialisme dan imperialisme.
2. Patriotisme adalah sikap untuk selalu mencintai atau membela tanah air, seorang
pejuang sejati, pejuang bangsa yang mempunyai semangat, sikap dan perilaku cinta
tanah air, mengorbankan segala-galanya bahkan jiwa sekalipun demi kemajuan,
kejayaan dan kemakmuran tanah air.
3. Pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya maka
diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai
nasionalisme.
4. Tantangan bagi nasionalisme Indonesia ke depan adalah bagaimana kita mewujudkan
sebuah negara kebangsaan yang bersifat liberal-demokratis dimana hak-hak dasar setiap
warga negara diakui, dihormati, dan dijamin, di mana hukum ditegakkan secara pasti
dan adil, dimana negara mewujudkan kesejahteraan umum, dan sebagainya.

B. Saran
Untuk dapat memupuk kembali semangat nasionalisme bangsa Indonesia, salah satunya
dengan lebih menekankan pada pembenahan bidang perekonomian terlebih dahulu supaya
tingkat kemiskinan kita berkurang. Karena jika kita sudah menjadi bangsa yang adil dan
sejahtera maka rasa nasionalisme kita akan tinggi dan rakyat semakin bangga dengan bangsa
dan negara Indonesia tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Makalah Nasionalisme dan Patriotisme. (online)


https://www.scribd.com/doc/91298212/Makalah-Makalah-Nasionalisme-Dan-Patriot-is-
Me

Hammam, Irfan. 2012. Makalah Membangun Rasa Nasionalisme dan Patriotisme. (online)
http://irfanhammam.blogspot.co.id/2012/11/makalah-membangun-rasa-nasionalisme-
dan.html

Zahrotunnisa, Aida. 2011. Semangat Kebangsaan (Nasionalisme dan Patriotisme). (online)


http://aidazahro.blogspot.co.id/2011/08/semangat-kebangsaan-nasionalisme-dan.html