Anda di halaman 1dari 21

Aplikasi Gelombang Bunyi Pada Medium Padatan (Bahan Isolator dan

Konduktor)

SIFAT PENYERAPAN DAN ISOLASI SUARA PAPAN WOL BERKERAPATAN


SEDANG-TINGGI DARI BEBERAPA KAYU CEPAT TUMBUH dan UJI
KUALITAS AKUSTIK PANEL DINDING BERBAHAN BAKU JERAMI

Disusun Oleh :

Wardiman Dg. Sipato


60400111059

Jurusan Fisika
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin
Maksassar
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada zaman yang serba modern ini teknologi menjadi hal penting,
teknologi dapat memudahkan pekerjaan dan memperpendek jarak yang
sebenarnya ribuan mil, misalnya dengan menggunakan telepon. Salah satu
hal penting yang mendukung keberadaan teknologi adalah sarana,
misalnya energi atau gelombang sebagai media. Banyak barang elektronik
yang memanfaatkan memnfaatkan sifat-sifat gelombang misalnya
gelombang yang dapat merambat di ruang hampa yang digunakan manusia
untuk membuat bolam lampu dimana ruang bulam tersebut adalah ruang
hampa.
Material atau Bahan adalah zat atau suatu benda yang mana
sesuatu dapat dibuat dari hal itu,atau komponen dalam penyusun suatu
rancangan.lalu,listrik adalah suatu muatan yang terdiri dari muatan positif
dan muatan negative dimana sebuah benda dikatakan memiliki energy
listrik apabila suatu benda itu memiliki energy listrik apabila memiliki
perbedaan jumlah muatan.maka,definisi bahan listrik adalah suatu zat atau
benda yang digunakan sebagai media perantara pergerakkan muatan
muatan baik muatan positif dan muatan negative dimana benda tersebut
dapat mengalirkan energy listrik ke media tertentu jika terdapat perbedaan
jumlah muatan.
Pertambahan penduduk dan urbanisasi serta penggunaan alat
modern di rumah tangga dan industri telah meningkatkan kebisingan
suara. Pada tingkat kebisingan tertentu, suara yang dihasilkan
menimbulkan ketidak-nyamanan dan dapat berdampak terhadap kesehatan
fisik maupun psikis. Berkaitan hal tersebut berbagai usaha dilakukan untuk
mengurangi suara yang tidak diinginkan, khususnya dalam suatu ruangan
pada bangunan. Terdapat dua macam teknik untuk mengendalikan suara
dalam suatu bangunan atau yang dikenal sebagai akustik arsitektur
(architectural acoustics) yaitu penyerapan atau absorpsi suara (sound
absorption) yang muncul dalam ruangan, dan isolasi dari sumber suara
luar (sound insulation) (Godshall dan Davis, 1969; Smith, 1989;
McMullan, 2002; Bucur, 2006).
Penyerapan suara atau absorpsi suara merupakan perubahan energi
suara menjadi bentuk lain, biasanya menjadi energi panas, akibat
gelombang suara melalui media atau membentur suatu permukaan bahan.
Penyerapan suara lebih berkaitan dengan kualitas akustik atau suara
(sound quality) pada suatu ruangan. Penyerapan suara yang baik diperoleh
dari bahan yang berpori (porous) dimana dihasilkan intermolekuler friksi
atau gesekan saat gelombang suara mengenai bahan (McMullan, 2002;
Bucur, 2006). Penyerapan suara dinyatakan dalam koefisien absorpsi suara
(), dimana nilai 0 menyatakan tidak adanya energi suara yang diserap dan
angka 1 menunjukkan serapan yang sempurna. Nilai koefisien absorpsi
suara tidak tetap tetapi bervariasi berdasarkan frekuensi suara, sudut
datangnya gelombang suara, dan penempatan bahan (Godshall dan Davis,
1969). Produk yang diketahui memiliki penyerapan suara baik dan banyak
digunakan adalah yang berbahan serat sintetis seperti dalam bentuk
glasswool dan rockwool (Asdrubali, 2007). Sayangnya bahan tersebut
berbahaya bagi kesehatan manusia terutama karena dapat meyebabkan
iritasi dan gangguan pernapasan. Isolasi suara dihitung sebagai rugi
transmisi (transmission loss, TL) dimana hal ini berkaitan dengan berapa
banyak energi suara berkurang saat gelombang suara bertansmisi
mengenai bahan sehingga suara dapat dicegah melewati bahan pembatas.
Satuan dari rugi transmisi adalah desibel, dB. Isolasi suara lebih berkaitan
dengan faktor pengurangan. suara (noise reduction). Bahan yang memiliki
transmission loss yang tinggi adalah yang tebal, berat, dan masif (Bucur,
2006; Mediastika, 2008).

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Apa aplikasi yang digunakan pada medium padatan?
2. Apa jenis bahan yang digunakan mengukur gelombang bunyi
menggunakan medium padatan ?
C. Manfaat
Adapun manfaat berdasarkan makalah yaitu dapat mengetahui
jenis bahan yang dapat dijadikan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Berdasarkan hukum fisika, rugi transmisi dan absorpsi suara adalah dua
hal yang berbeda. Bahan yang baik sebagai isolator biasanya kurang bagus
sebagai penyerap atau absorpsi suara, begitu pula sebaliknya (Godshall dan Davis,
1969; Smith, 1989; Bucur, 2006). Sebagai contoh pada Baune (1960) dalam Bucur
(2006) menghitung karakteristik akustik bahan panel kayu dan glass fiber dengan
ketebalan masing-masing bahan tersebut 2 cm. Pada bahan pertama nilai isolasi
suara 22dB dan absorpsi suara 3%, sementara pada glass fiber nilai isolasi suara 3
dB dan nilai penyerapan suara 65%.
Penggunaan bio-material diketahui dapat menjadi alternatif bahan
penyerap suara. Papan komposit kayu baik berupa papan partikel telah banyak
digunakan sebagai bahan penyerap suara maupun isolasi suara. Salah satu yang
sudah ada di pasaran adalah papan partikel kayu dari bentuk partikel wol
berperekat semen (papan wol semen) menggunakan kayu Pinus dengan merek
dagang Yumenboard.
Saat ini eksplorasi pemanfaatan kayu-kayu cepat tumbuh meningkat sangat tajam.
Hal ini terjadi karena perubahan paradigma pemanfaatan bahan baku kayu dari
jenis-jenis kayu hutan alam ke jenis-jenis kayu hutan tanaman yang umumnya
merupakan kayu-kayu cepat tumbuh (fast growing species). Di Indonesia,
penelitian produk panel akustik dari kayu tanaman cepat tumbuh masih terbatas
dilakukan.
Penelitian sebelumnya yang banyak dilakukan adalah pembuatan panel
akustik dari bahan berlignoselulosa seperti sekam padi, jerami, serat rami, sabut
kelapa, kertas bekas dengan berbagai perekat (Fahmi, 2006, Khuriati, et al. 2006,
Mediastika, 2008, Herianto, 2008, Sefrianto dan Saputra, 2010, Romuty, 2010).
Tambahan informasi ilmiah dan potensi pemanfaatan kayu cepat tumbuh untuk
panel akustik berarti akan dapat menambah peluang diversifikasi produk dari kayu
jenis tersebut yang pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi Hutan Tanaman
Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), dan Hutan Rakyat (HR).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karlinasari dkk (2011) yang berjudul
Sifat Penyerapan Isolasi Suara Papan Wol Berkerapatan Sedang-Tinggi dari
beberapa Kayu Cepat Tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
karakteristik akustik terdiri dari absorpsi suara dan rugi transmisi suara dari panel
akustik yang terbuat dari papan partikel wol beberapa kayu cepat tumbuh.
Pengujian sifat kustik. Sifat akustik papan wol yang diuji terdiri dari koefisien
absorpsi suara atau sound absorption coefficient () dan rugi transmisi atau
transmission loss (TL). Setiap nilai menggambarkan nilai rata-rata pengujian dari
tiga sampel. Koefisien absorpsi suara () diuji menggunakan tabung impedansi
dengan mengacu pada JIS A 1405 (1963) dengan menggunakan contoh uji
berbentuk lingkaran berdiameter 9,8 cm untuk frekuensi 100 hingga 1600 Hz dan
contoh uji diameter 4,8 cm untuk fekuensi 1600 Hz-4000 Hz. Pengujian ini
dilakukan di Puslitbang Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum (DPU),
Cileunyi, Bandung. Pengujian sound transmision loss dilakukan dalam rentang
frekuensi 125 Hz sampai dengan 4000 Hz dengan filter 1/3 oktaf. Contoh uji yang
digunakan berukuran 70 cm x 70 cm dan diuji dalam ruang dengung
(reverberation room) di Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, Kelompok
Keahlian Teknik Fisika, Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung
(ITB).
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan pada parameter absorpsi suara
sifat absorpsi suara papan wol dari tiga jenis kayu cepat tumbuh disajikan pada
Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa pada frekuensi rendah < 250
Hz nilai absorpsi suara () papan wol kayu berfluktuasi dengan puncak
penyerapan suara terjadi pada frekuensi 125 Hz dan 200 Hz dengan nilai sekitar
0,7. Selanjutnya, pada frekuensi 250 Hz nilai abosrpsi suara turun pada sekitar
0,1. Pada frekuensi rendah, papan wol dengan kerapatan 0,8 g/cm3 memberikan
nilai lebih tinggi dibandingkan papan wol berkerapatan tinggi (1,0 g/cm3) untuk
semua jenis kayu. Pada frekuensi sedang 300-800 Hz absorpsi suara papan wol
kayu 0,1-0,4. Pada papan wol berperekat sintetis isosianat, untuk rentang
frekuensi sedang semakin tinggi frekuensi nilai cenderung meningkat.
Gambar 1. Grafik koefisien absorpsi suara papan wol (PW) kerapatan 0,8 dan 1,0
g/cm3 (a. PW sengon; b. PW kayu afrika; c. PW mangium; PW seluruh
jenis kayu).

Frekuensi tinggi > 1000 Hz (khususnya 1000-5000 Hz) merupakan


frekuensi terpenting mengingat telinga manusia sangat peka (sensitif) terhadap
suara yang ditimbulkan pada frekuensi ini. Oleh karena itu pengendalian kualitas
suara pada frekuensi tersebut menjadi sangat penting. Pada frekuensi ini nilai
absorpsi suara papan wol berperekat isosianat lebih rendah dibandingkan dengan
papan wol semen. Papan wol dengan perekat semen (PWS) memberikan nilai
terbaik untuk semua jenis kayu baik pada kerapatan 0,8 g/cm3 maupun 1,0 g/cm3.
Sementara itu dibandingkan dengan kerapatan tinggi (1,0 g/cm3) maka PWS
kerapatan sedang 0,8 g/cm3 memiliki nilai koefisien absorpsi suara lebih baik.
Nilai dapat mencapai 0,8 pada frekuensi 1600 Hz untuk papan wol semen
(PWS) berkerapatan 0,8 g/cm3 untuk mangium dan afrika. Papan berkerapatan
lebih rendah lebih cocok digunakan untuk pengendali kualitas suara pada
frekuensi rendah dibandingkan frekuensi tinggi. Sementara itu, papan dengan
perekat semen lebih baik digunakan pada lingkungan dengan frekuensi tinggi
dibandingkan papan berperekat isosianat. Pada ruangan dengan suara yang
dihasilkan pada rentang frekuensi sedang, panel akustik dari kayu cepat tumbuh
lebih bersifat merefleksikan suara dibandingkan menyerap suara. Selain kerapatan
dan ukuran partikel, maka ketebalan bahan juga berpengaruh terhadap nilai
koefisien absorpsi suara (Bucur, 2006). Tabel 1 menyajikan rangkuman data nilai
koefisien absorpsi suara untuk nilai dan beberapa jenis produk yang diketahui
sebagai bahan penyerap suara. Dari nilai koefisien absorpsi suara pada Tabel 1
diketahui bahwa papan wol dari kayu cepat tumbuh, baik untuk kerapatan 0,8
g/cm3 maupun 1,0 g/cm3, memiliki nilai absorpsi suara yang lebih baik
dibandingkan produk papan wol semen dari kayu pinus yang ada di pasaran
(Martiandi et al., 2010).
Syarat menjadi panil absorber adalah porositas yang tinggi, elatisitas atau
kekakuan bahan yang tinggi, serta memiliki ketebalan bahan yang semakin tebal.
Permukaan bahan yang berpori (porous) menyerap suara lebih baik dibandingkan
dengan bahan yang tidak berpori atau berpori rapat. Hal ini karena suara yang
masuk disebarkan melalui panas dalam (internal heat) yang dihasilkan oleh
gesekan molekul antara molekul udara dengan struktur bahan (Smith, 1989).
Rugi transmisi atau transmission loss (TL) merupakan parameter dari
kemampuan bahan dalam meredam atau mengisolasi suara. Gambar 2
menunjukkan hasil pengujian TL untuk papan wol kayu cepat tumbuh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada frekuensi rendah < 250 Hz nilai TL
cenderung menurun pada selang frekuensi 160 Hz -250 Hz untuk semua jenis
papan wol (Gambar 2). Selanjutnya, nilai TL terus meningkat pada rentang
frekuensi sedang dan tinggi. Pada frekuensi 3150 Hz terjadi penurunan nilai rugi
transmisi pada PWS sengon dan afrika, serta PWS gabungan seluruh jenis kayu.
Papan wol berperekat isosianat (PWIso) memiliki kemampuan meredam suara
bahan semakin baik (ditunjukan dengan nilai TL yang lebih tinggi) dibandingkan
papan wol semen (PWS). Kebalikan dari penyerapan suara, maka semakin tinggi
kerapatan papan partikel maka nilai TL semakin tinggi terutama pada frekuensi
sedang sampai tinggi.
Secara umum, untuk papan wol seluruh jenis kayu, pada frekuensi sedang
500 Hz nilai TL papan kerapatan 0,8 g/cm3 mencapai 19 dB untuk PWIso dan 9
dB untuk PWS, sementara untuk papan berkerapatan lebih tinggi 1,0 g/cm3 nilai
TL mencapai 18 dB untuk PWIso dan 14 dB untuk PWS. Pada frekuensi tinggi
1000 Hz dan 2500 Hz nilai TL untuk kerapatan 0,8 g/cm3 adalah sekitar 20 dB
untuk PWIso dan 11-16 dB untuk PWS, sementara untuk kerapatan 1,0 g/cm3
nilai TL antara 19 dB hingga 21 dB untuk PWIso dan sekitar 17 dB untuk PWS.
Penelitian Mediastika (2008) untuk panel berbahan baku jerami untuk ketebalan 2
cm dan 3 cm, nilai TL pada frekuensi 500 Hz dan 1000 Hz masing-masing adalah
10 dB dan 16 dB serta 20 dan 22 dB.
Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mediastika (2008) yang
berjudul Kualitas Akustik Panel Dinding Berbahan Baku Jerami. Penggunaan
sistem dinding ganda/dobel/ berlapis, seperti penambahan panel pelapis pada
dinding permanen, merupakan salah satu metoda untuk memperoleh ketebalan
dinding yang jauh melebihi ketebalan dinding yang normal digunakan. Pada
prinsip insulasi dikenal bahwa semakin tebal (dan berat) bahan dinding yang
digunakan, maka redaman yang diperoleh juga akan semakin besar. Pada
bangunan tertentu yang telah direncanakan sejak awal untuk memiliki
kemampuan redaman tinggi, dinding bangunan dapat dengan sengaja dirancang
menjadi dinding dengan ketebalan melebihi normal. Sedangkan pada bangunan
yang sudah berdiri dan fungsi ruang hendak diubah untuk suatu kepentingan
akustika tertentu, seringkali harus digunakan pelapis dinding yang ditambahkan
kemudian. Pelapis tambahan ini umumnya tidak terbuat dari bahan yang sama
dengan dinding yang sudah berdiri. Meski seolah penambahan lapisan ini lebih
cocok digunakan untuk ruang yang direnovasi, namun penggunaan dinding
berlapis-lapis, apalagi yang disertai rongga udara di dalamnya, memiliki
kemampuan redaman yang lebih baik dibandingkan dinding tebal yang terbuat
dari material yang sama. Hal ini karena lapisan-lapisan dari bahan berbeda
termasuk rongga udara yang ada akan memaksimalkan terjadinya difraksi
perambatan gelombang bunyi, sehingga kekuatannya bunyi akan menurun
(Templeton dan Saunders, 1987). Kemampuan insulasi dinding berlapis (dinding
utama yag dilapis panel) salah satunya diukur dalam Transmission Loss (TL)
dalam satuan deciBell (dB). Semakin besar nilai TL suatu dinding, maka semakin
besar kemampuannya meredam perambatan gelombang bunyi. Penggunaan jerami
sebagai bahan dasar untuk pembuatan panel akustik menjadi pertimbangan karena
keterlimpahan bahan baku dan karakteristik batang jerami yang memiliki rongga
udara di dalamnya, sehingga dipertimbangkan mampu menyediakan air space
bagi terjadinya refraksi bunyi. Jerami kering, secara alamiah adalah batang kering
yang di dalamnya berisi udara. Secara individual atau satu persatu, batang jerami
tidak akan mampu memenuhi tugasnya sebagai bahan dengan tingkat insulasi
yang tinggi, namun penggabungan beberapa batang jerami menjadi satu ikatan
misalnya, akan menghasilkan suatu elemen yang tebal dan memiliki rongga udara
di dalamnya secara otomatis. Selain untuk meningkatkan insulasi bahan,
penggunaan bahan pelapis dinding bagian dalam juga dapat dimanfaatkan untuk
menciptakan kualitas bunyi yang dikehendaki di dalam ruang. Misalnya bila
dalam ruang dikehendaki penyebaran bunyi yang merata namun jangan sampai
menimbulkan gema atau gaung (sehingga bunyi yang muncul dalam tingkat
kejelasan yang cukup), maka permukaan elemen dinding pelapis sebaiknya dibuat
dffus (mampu menyebarkan bunyi) sedangkan pada ruangan yang menghendaki
adanya ketenangan yang sangat tinggi, maka elemen dinding pelapis dapat dibuat
menyerap. Kualitas akustik suatu ruangan salah satunya ditentukan oleh hitungan
waktu dengung (RT60). Waktu dengung adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu
bunyi yang mucncul di dalam ruangan untuk melemah kekuatannya sebesar 60
dB. Hal ini dipengaruhi oleh volume ruangan (V), koefisien serap () bahan
pelapis ruangan dan luasan masing-masing bahan serap yang digunakan,
sebagaimana tercantum dalam formula sebagai berikut:

Dengan: V adalah volume ruangan, A adalah total luasan permukaan


bagian dalam ruangan dikalikan koefisien serap masing-masing Dalam kondisi
volume tidak berubah secara signifikan, maka koefisien serap bahan pelapis
ruangan menjadi faktor yang paling menentukan nilai waktu dengung ruang
tersebut. Dengan kata lain, nilai RT60 dapat diperbaiki secara signifikan dengan
mengganti bahan pelapis ruang yang digunakan, agar memiliki RT60 sebagaimana
dikehendaki/disyaratkan. Setiap ruang dengan fungsi yang berbeda-beda akan
memiliki RT60 ideal yang berbeda-beda pula. Namun sebagai acuan dasar, bila
ruangan itu dipergunakan untuk aktivitas percakapan (speech) maka RT60
hendaknya berada pada 0 s.d. 1 detik, sementara bila untuk musik berada pada 1
s.d. 2 detik. Pada ruang musik yang bersifat studio sperti home theatre, dimana
pemantulan sebagai dinamisasi bunyi kurang diperlukan (karena sebagian besar
kualitas bunyi diatur secara elektronik) maka RT60 yang ideal berada di bawah 1
detik, meski bukan berarti 0. RT60 yang terlalu rendah dari baku dapat diperbaiki
dengan mengganti elemen pelapis ruang yang lebih memantul (memiliki koefisien
absorpsi rendah) dari sebelumnya. Sementara pada RT60 yang melebihi baku,
dapat diperbaiki dengan mengganti elemen pelapis yang lebih menyerap
(memiliki koefisien absorpsi tinggi). Adapun koefisien absorpsi () adalah angka
perbandingan atau rasio dari senergi bunyi yang diserap oleh material terhadap
energi bunyi secara total yang mengenai material tersebut. Koefisien absorpsi
suatu material diukur dengan pengangkaan dari 0 sampai 1. Elemen dengan
koefisien absorpsi 0 artinya memiliki kemampuan serap 0 atau sangat memantul.
Sebaliknya elemen dengan koefisien absorpsi 1 adalah elemen dengan
kemampuan absorpsi sangat baik atau 100%. Tidak dapat ditentukan persyaratan
secara khusus bahwa elemen dengan koefisien serap x adalah yang terbaik, sebab
sebagaimana persamaan untuk menghitung RT60, maka hal ini akan tergantung
pula pada volume ruangan. Namun demikian, suatu bahan disebut menyerap
dengan baik, bila kemampuan serapnya diatas 0,2 (Egan, 1972).

Gambar 3. Contoh nilai TL beberapa lapisan dinding, semakin tebal dan berat,
semakin besar pula nilai TL-nya dalam dB (Mediastika, 2005).
a b

Gambar 4. (a). Ruangan uji yang telah dipasangi rangka, dipersiapkan untuk
dipasangi panel jerami. (b). ruangan yang telah dilapis panel jerami
tengah diuji RT60-nya.

Tabel 2. Hasil pengujian tingkat redaman atau insulasi panel

Gambar 5. Perbandingan hasil pengujian tingkat redaman atau insulasi panel


antara ketebalan 20 mm dan 30 mm
Dari Tabel 2, dapat kita pelajari bahwa panel jerami memiliki kemampuan
redam yang baik, terutama pada frekuensi 2000 Hz, 4000 Hz dan 8000 Hz.
Sementara itu pada frekuensi di bawahnya hasilnya cukup fluktuatif. Redaman
terendah berada pada frekuensi 63 Hz yang diuji, dan terus merangkak naik
secara bertahap, seiring meningkatnya frekuensi.
Namun demikian, terjadi kenaikan kemampuan redam cukup signifikan
pada frekuensi 125 Hz, dan kemudian turun kembali pada frekuensi 250 Hz. Hal
ini kemungkinan disebabkan karakteristik panel tercetak yang tidak dapat persis
homogen, baik komposisi bahan maupun kepadatannya. Sehingga dapat terjadi
pada frekuensi tertentu terjadi error, untuk tidak secara langsung menyimpulkan
bahwa pada frekuensi 125 Hz, panel bekerja sangat baik. Dari berbagai variasi
kemampuan redaman panel menurut frekuensi bunyi yang ditahannya, tidak dapat
dengan demikian saja diambil rerata dari keseluruhan tersebut. Dalam ilmu
akustik biasa digunakan frekuensi 500 Hz sebagai acuan. Hal ini disebabkan pada
ilmu akustik, umumnya digunakan sistem pengukuran octave bands, yang
diidentifikasi oleh frekuensi-frekuensi sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.
Sistem pengukuran lain seperti half octave bands, third octave bands, dll, juga
dapat digunakan untuk pengukuran yang sangat rinci. Namun secara umum,
octave bands dianggap mencukupi. Dalam range octave bands, frekuensi
dibedakan menjadi frekuensi rendah (dibawah 250 Hz), sedang (500 Hz s.d. 1000
Hz) dan tinggi (diatas 2000 Hz). Sebagai acuan digunakan frekuensi tengahan
yaitu 500 Hz atau 1000 Hz. Pada kenyataannya 500 Hz lebih umum digunakan
sebagai acuan karena berada di tengah, namun lebih mendekati frekuensi rendah
yang umumnya memiliki sifat getaran yang hebat/khusus, sehingga frekuensi 500
Hz selain menjadi nilai tengah juga mengakomodasi sifat-sifat bunyi frekuensi
rendah (Egan, 1972).
Sebagaimana Tabel 2, maka bila frekuensi 500 Hz digunakan sebagai
acuan, maka TL panel 20 mm adalah berkisar 10 dB dan panel 30 mm berkisar 16
dB. Nilai 10 dB dan 16 dB dianggap cukup signifikan, mengingat perbedaan 10
dB dapat membawa suatu ruangan naik satu tingkat dalam suatu standard zoning
ruang secara akustik. Adapun standard tersebut: untuk ruang yang sangat tenang
(laboratorium, rumah sakit, dll) persyaratan maksimal tingkat kebisingannya 35
dB (zona A), selanjutnya untuk rumah tinggal, kantor, sekolah 45 dB (zona B),
pertokoan 55 dB (zona C) dan terminal, pelabuhan, pabrik 65 dB (zona D)
(Mediastika, 2005). Dengan nilai TL 10 dB minimum, maka ketika panel
dilapiskan pada dinding yang telah memiliki angka TL tertentu, kemampuan
redam dinding yang dilapis akan naik sebesar angka TL yang ditunjukkan oleh
panel. Adapun kemampuan redam dinding batu bata plester pada umumnya adalah
45 dB. Sehingga diharapkan dihasilkan redaman total berkisar 55 dB pada
pelapisan dengan panel 20 mm dan berkisar 61 dB pada pelapisan dengan panel
30 mm. Kemampuan ini diharapkan dapat menurunkan kebisingan setidaknya satu
zone lebih rendah.

Tabel 3. Hasil pengujian koefisien serap panel jerami tebal 20 mm

Tabel 4. Hasil pengujian koefisien serap panel jerami tebal 30 mm


Pengujian serap dilakukan pada frekuensi 100 Hz - 1200Hz, mengingat
kelenturan panel (panel berpermukaan lunak), maka pengujian pada frekuensi
diatas 1200 Hz kurang diperlukan (hasil pengujian umumnya menunjukkan angka
yang senantiasa stabil pada koefisien serap kecil untuk bunyi frekuensi tinggi).
Tabel 3 dan 4 menunjukkan nilai koefisien serap yang variatif. Pada panel dengan
ketebalan 20 mm, koefisien serap pada frekuensi rendah juga kecil, terus
merangkak naik dan mencapai puncaknya pada frekuensi 600 900 Hz, kemudian
menurun kembali. Namun pada panel dengan ketebalan 30 mm, nilai koefisien
serap memiliki kecenderungan untuk terus naik, seiring naiknya frekuensi bunyi
yang diuji. Oleh karena adanya fluktuasi angka yang cukup besar, digunakan
frekuensi 500 Hz sebagai acuan. Dalam adalah 0,41 dan pada panel 30 mm adalah
0,85.
Bila memperhatikan pustaka acuan, maka nilai serap 0,4 dan 0,8 adalah
mencukupi (Egan, 1972). Dengan koefisien serap semacam ini, maka panel
diharapkan dapat memberikan nilai RT60 yang rendah (sesuai untuk fungsi home
theatre). Nilai RT60 hasil pengujian akan dibahas berikut ini.
Hasil Pengujian RT60. Untuk memperkuat pengujian koefisien serap panel
yang telah dilakukan sebelumnya di laboratorium, maka panel dalam keadaan
terpasang dalam sebuah ruangan juga diuji waktu dengung (RT60)-nya. Nilai
RT60 suatu ruangan oleh karena pelapis-pelapis tertentu dalam ruangan akan
menjadi indikasi kualitas akustik suatu ruangan. Adapun pengujian RT60 dalam
ruangan sebagaimana dimaksud memberikan hasil sebagai berikut, sebagaimana
tersaji pada Tabel 5.
Tabel 5 menunjukkan hasil pengujian yang sangat fluktuatif, namun ketika
digunakan 500 Hz sebagai acuan (Egan 1972), maka terlihat bahwa sebelum
dipasang panel, nilai RT60 cukup tinggi yaitu 0,88 detik (mendekati 1detik yang
digunakan sebagai batas atas), lalu turun 0,35 detik pada penggunaan panel 20
mm dan 0,16 pada penggunaan panel 30 mm. Frekuensi 500 Hz kembali
digunakan sebagai acuan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan berdasarkan makalah ini yaitu:
a. Bahan yang digunakan yaitu terdiri dari papan dan jerami
b. Papan wol berkerapatan 0,8 g/cm3 memiliki nilai koefisien absorpsi suara
() lebih tinggi dibandingkan dengan papan berkerapatan 1,0 g/cm3 pada
kisaran frekuensi rendah dan tinggi. Pada frekuensi sedang, papan partikel
wol dari kayu cepat tumbuh bersifat merefleksikan suara. Papan wol
semen (PWS) memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan papan wol
isosianat (PWIso) terutama pada frekuensi suara tinggi. Untuk nilai rugi
transmisi (TL), PWIso memiliki nilai TL lebih tinggi dibandingkan PWS.
Papan berkerapatan 1,0 g/cm3 memiliki kemampuan isolasi suara yang
lebih baik dibandingkan papan berkerapatan 0,8 g/cm3. Kayu-kayu cepat
tumbuh memiliki potensi digunakan sebagai panil akustik, baik sebagai
panel absorpsi/penyerap suara maupun sebagai panel isolasi terutama
untuk frekuensi suara tinggi. Dengan kelimpahan dan umur panen yang
singkat maka jenis-jenis kayu ini dapat digunakan sebagai alternatif dari
bahan panel akustik yang sudah ada. Serangkaian proses identifikasi bahan
baku, pracetak, cetak (Mediastika, 2007-a), pengujian kekuatan desak dan
lentur (Mediastika, 2008), serta pengujian kualitas akustik panel berbahan
baku jerami telah dilaksanakan. Rangkaian penelitian ini menunjukkan
bahwa jerami sebagai bahan limbah memiliki potensi yang sangat besar
untuk diolah sebagai bahan baku pembuatan panel. Panel dimasksud
memiliki kekuatan struktural yang mencukupi untuk menahan beban
sendiri, dan pada penelitian yang disajikan dalam tulisan ini, panel juga
menunjukkan kualitas akustik yang memadai. Namun demikian, penelitian
lanjutan untuk menentukan karakteristik akustik secara lebih valid
sekaligus untuk memeriksa beberapa bahan tambahan yang sekiranya
diperlukan untuk menjaga keawetan panel masih tetap direkomendasikan
sebagai penelitian lanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Asdrubali F. 2007. Green and Sustainable Materials For Noise Control In
Buildings. Dalam prosiding: 19th International Congress On Acoustics. 2
7 September 2007. Madrid, Spanyol. Hal: 1-6.

Bucur V. 2006. Acoustic of Wood. 2nd Edition. Springer-Verlag Berlin


Heidelberg. Jerman. Hal: 7-36.

Fahmi R. 2006. Pembuatan Sampel Panel Akustik Lapis Tunggal Dari Bahan
Sekam Padi Dan Karakterisasi Absorpsi Normalnya [skripsi]. Program Studi
Teknik Fisika. Institut Teknologi Bandung .

Godshall D. dan J.H. Davis.1969. Acoustical Absorption Properties of Wood-Base


Panel Materials. Research Paper. FPL 104. May 1969. USDA. USA.

Herianto T. 2008. Pengaruh Aspect Ratio Serat Terhadap Sifat Akustik Dan
Kekuatan Tekan Komposit Serat Rami- Polyester [skripsi]. Program Studi
Teknik Metalurgi. Institut Teknologi Surabaya.

[JSA] Japanese Standard Association. 1963. Methods of Test for Sound


Absorption of Acoustical Material by the Tube Method. Japanese Industrial
Standard (JIS) A 1405. Jepang.

[JSA] Japanese Standard Association. 2003. Particleboards. Japanese Industrial


Standard (JIS) A 5908. Jepang.

Karlinasari L, Hermawan D, Maddu A, Martiandi B, dan Hadi YS. 2010.


Pengembangan Panel Akustik Ramah Lingkungan dari Kayu Cepat Tumbuh
dan Bambu. Laporan Hibah Kompetensi Tahun 1 (2010).

Khuriati A, Komaruddin E, dan Nur M. 2006. Disain Peredam Suara Berbahan


Dasar Sabut Kelapa dan Pengukuran Koefisien Penyerapan Bunyinya.
Berkala Fisika Vol.9, No.1. Hal 15-25.

Martiandi B, Mardikanto TR, dan Karlinasari L. 2010. Sifat Fisis, Mekanis, dan
akustik Papan Komposit Partikel Kayu Afrika. Dalam prosiding: Seminar
Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIII. 10-11
November 2010. Bali, Indonesia. Hal: 49-56. McMullan R. 2002.
Environmental Science in Building. 5th Edition.Palgrave. New York. USA.
Hal: 200-251.
Mediastika C.E. 2008. Kualitas Akustik Panel Dinding Berbahan Baku Jerami.
Dimensi (Journal of Architecture and Built Environment). Vol. 36, No. 2.
December 2008. Hal: 127-134.
Smith WR 1989. Acoustic Properties. Di dalam: Schniewind A.P, R.W. Chan, dan
M.B. Bever, editor. Concise Encyclopedia of Wood and Wood-Based
Materials. Pergamon Press. Hal: 4-8.

Egan, M.D. 1972. Concepts in Architectural Acoustic, Prentice-Hall Inc., New-


Jersey, hal. 91-93. Mediastika, C.E. 2005. Akustika Bangunan, Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Mediastika, C.E. 2007. Potensi Jerami Padi sebagai Bahan Baku Panel Akustik,
Dimensi Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Petra Surabaya, Desember
2007.

Mediastika, C.E. 2007. Potensi Susunan Jerami (Strawbale) sebagai Bahan Baku
Panel.

Akustik Berkualitas dengan Harga Bersaing, Laporan Lengkap Penelitian Hibah


Bersaing Tahun II 2007.

Mediastika, C.E. 2008. Jerami Sebagai Bahan Baku Panel Akustik Pelapis
Dinding, Dimensi Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Petra Surabaya.

Templeton, D., Saunders, D. 1987. Acoustic Design, the Architectural Press,


London, hal. 56-60.

Meadiastika, C.E. 2008. Kualitas Akustik Panel Dinding Berbahan Baku Jerami.
Journal Architecture and Bult Environment. Vol. 36,No.2. 127-134.

Karlinasari, L., Hernawan, D., Maddu, A., Martianto, B. 2011. Sifat Penyerapan
dan Isolaasi Suara Papan Wol Berkerapatan Sedang-Tinggi dari Beberapa
Kayu Cepat Tumbuh. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 4)1):8-13.