Anda di halaman 1dari 4

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN WADUK SELAIS

BERDASARKAN BIOINDIKATOR BENTHOS DAN PLANKTON

Maulina Hidayah
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau 2017
Pekanbaru 28293
email: maulina.hidayah20@gmail.com

ABSTRAK
Keanekaragaman dan kelimpahan jenis plankton dan bentos di suatu perairan
dapat mengindikasikan bagaimana keadaan di kualitas air tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas perairan waduk selais di Universitas
Riau berdasarkan bioindikator benthos dan plankton. Metode yang digunakan
dalam pengamatan ini adalah adalah survey, dengan menggunakan teknik
purposive random sampling pada 4 stasiun pengamatan yang berbeda.
Pengambilan data dilaksanakan pada 1 April 2017 di sepanjang waduk Selais. Alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalahalat tulis, secchi disk, Peterson grab,
plankton net, botol sampel, plastik 5 kg, kertas label, larutan lugol, formalin 5% .
Data yang didapatkan kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kualitas perairan di waduk selais tercemar. Hal ini dilihat
dari kondisi fisik, kimia, dan biologis perairan.

Kata kunci: bioindikator; benthos; plankton

PENDAHULUAN
Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dibagi
atas 2 yaitu perairan lentik (lentic water), atau juga disebut sebagai perairan
tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga, dan sebagainya dan perairan
lotik (lotic water) disebut juga sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai,
kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik
adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang
lambat serta terjadi akumulasi massa air dalam periode waktu yang lama,
sementara perairan lotik umumnya mempunyai kecepatan arus yang tinggi,
disertai perpindahan massa air yang berlangsung dengan cepat. Danau Siombak
termasuk perairan lentik (lentic water), atau juga disebut sebagai perairan tenang
(Barus, 2004).
Waduk adalah badan air yang terbentuk karena bendungan aliran sungai
oleh manusia. Waduk merupakan badan air yang memiliki karakteristik kimia,
fisika dan biologi yang berbeda dengan sungai. Waduk selais merupakan salah
satu contoh perairan lentik karena merupakan perairan tenang. Waduk selais
merupakan salah satu waduk yang terdapat di Universitas Riau. Waduk ini disebut
waduk selais karena bentuknya apabila dilihat dari ketinggian tertentu terlihat
seperti ikan selais. Letak waduk selais ini sendiri terbagi menjadi beberapa titik
yaitu di dekat gedung LPPM Universitas Riau, Gedung UP2B, Gedung Rektorat
Universitas Riau dan didekat jembatan kupu-kupu yang terdapat di Universitas
Riau.
Ekosistem perairan terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling
berinteraksi satu sama lain. Komponen biotik meliputi seluruh mahluk hidup yang
tinggal pada suatu habitat, sedangkan komponen abiotik merupakan habitat
mahluk hidup tersebut dengan berbagai karakteristik fisika dan kimia. Faktor fisik
kimia lingkungan, termasuk salinitas mempengaruhi keberadaan mikroorganisme
dimana suatu mikroorganisme memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi
terhadap lingkungannya dalam melangsungkan aktivitas kehidupan meliputi
pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi (Darkuni, 2001).

METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada 1 April 2017 di sepanjang waduk Selais,
mulai dari daerah hulu yaitu kepala waduk selais di depan gedung LPPM sampai
hilir waduk selais yang terdapat di dekat jembatan kupu-kupu yang merupakan
muara dari aliran waduk selais tersebut. Metode yang digunakan adalah survey,
dengan menggunakan teknik purposive random sampling pada 4 stasiun
pengamatan dengan 3 kali ulangan pada masing-masing stasiun. Penempatan
stasiun dibagi menjadi 3 titik yaitu pada bagaian atas, tengah dan bawah.
Parameter fisika kimia diukur secara langsung di lapangan adalah kadar
salinitas dengan menggunakan refraktometer, suhu dan DO dengan menggunakan
DO meter, pH dengan menggunakan pH meter dan kecerahan dengan
menggunakan secchi disk.
Pengambilan sampel untuk struktur komunitas plankton dilakukan dengan
menggunakan plankton net yang kemudian disimpan di dalam botol sampel serta
difiksasi dengan menggunakan larutan lugol. Pengambilan sampel bentos
menggunakan alat Peterson grab dan difiksasi dengan menggunakan cairan
formalin 5%. Analisis data selanjutnya dilakukan di Kebun Biologi FKIP
Universitas Riau.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Hasil Pengukuran Faktor Fisika Kimia di Waduk Universitas Riau

Stasiun Pengamatan
Parameter
I II III IV
pH 5,9 5,77 6,24 6,25
Suhu (oC) 27,17 28,37 28,1 29,3
DO (mg/L) 2,97 1,5 1,17 1,1
Salinitas 0 0 0 0
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kondisi suhu di empat stasiun yang diukur
memiliki perbedaan yang signifikan, kadar DO tertinggi pada stasiun I yaitu pada
kepala waduk selais. Hal ini berarti pada stasiun I memiliki kualitas air yang lebih
baik. Untuk pH yang tertinggi yaitu pada stasiun III dan IV tinggi, hal ini dikarenakan
oleh tingginya kandungan O 2 maupun CO2 yang terdapat di air sehingga
mempengaruhi faktor kimia di perairan tersebut. Sedangkan untuk suhu yang
tertinggi pada stasiun ke IV yaitu pada ekor waduk selais , hal ini disebabkan oleh
banyaknya cahaya matahari yang terkena pada stasiun tersebut. Menurut Azwar
(2001), menyatakan bahwa perbedaan suhu pada suatu perairan dipengaruhi oleh 4
faktor, yaitu (1) variasi jumlah panas yang diserap, (2) pengaruh konduksi panas, (3)
pertukaran tempat massa air secara lateral oleh arus dan (4) pertukaran air secara
vertikal.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pencuplikan Plankton

Stasiun
Parameter JUMLAH
I II III IV
Jumlah Individu 7 37 5 7 56
Kelimpahan (F) 112,9
112,935 596,943 80,668 903,482
35
Indeks
0,260 0,274 0,216 0,260 1,009
Keanekaragaman (H)
Dominansi Jenis (C) 0,016 0,437 0,008 0,016 0,476
Komposisi Jenis (Pi) 0,125 0,661 0,089 0,125 1,0
Kemerataan (E) 0,134 0,076 0,134 0,134 0,477
Dari Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa pada stasiun 2 memiliki jumlah
individu, keanekaragaman dan kelimpahan plankton yang lebih tinggi, tetapi pada
nilai dominansinya cukup tinggi berarti bahwa tingkat kemerataan plankton
didaerah tersebut rendah. Faktor yang mempengaruhi kelimpahan jenis plankton
di daerah tersebut karena kondisi fisik kimia yang memadai untuk kehidupan
plankton tersebut.
Krebs dalam Rumahlatu (2008) menyebutkan bahwa jika spesies-spesies
yang ditemukan pada suhu komunitas memiliki jumlah individu tiap spesies yang
sama atau hampir sama, maka kemerataan di komunitas tersebut menjadi tinggi.
Tabel 3. Hasil Pengamatan Pencuplikan Benthos

Stasiun
Parameter JUMLAH
III IV
Jumlah Individu 155 182 337
Kepadatan (K) 2348,49 2757,58 5106,07
Indeks Keanekaragaman (H) 0,36 0,33 0,69
Dominansi Jenis (C) 0,21 0,3 0,5
Komposisi Jenis (Pi) 0,46 0,54 1
Kemerataan (E) 0,071 0,064 0,135

Keterangan :
Stasiun I : Waduk Kepala Selais (disamping area panjat tebing)
Stasiun II : Waduk Badan Selais (disamping PSLH)
Stasiun III : Waduk dibelakang UP2B
Stasiun IV : Waduk didepan rektorat
Dari Tabel 3 dapat diindikasikan bahwa spesies bentos yang paling banyak
ditemukan yaitu di stasiun 4 tepatnya di bagian muara waduk selais. Pada stasiun
4 menunjukkan tingkat kepadatan dan komposisi jenis yang tinggi. Namun untuk
keanekaragamannya rendah, berarti jenis benthos di stasiun 4 tidak terlalu banyak.
Untuk dominansi menunjukkan bahwa keberadaan benthos tidak terlalu
mendominasi suatu tempat tertentu sehingga dapat dikatakan keberadaan benthos
di stasiun 4 tersebar merata.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, jenis benthos yang kami
dapatkan yaitu dari filum Mollusca dan filum Annelida. Spesies dari filum
mollusca yaitu keong mas (Pomacea canaliculata) dan spesies dari filum
annelida adalah tubifex tubifex. Faktor yang memepengaruhi kelimpahan jenis
benthos dari filum ini dikarenakan kondisi fisik, kimia dan bilogi perairan yang
mendukung untuk kehidupan jenis benthos tersebut. Jenis tubifex tubifex pada
stasiun 4 ini banyak sekali ditemukan. Hal ini berarti bahwa tingkat pencemaran
di stasiun 4 tinggi, karena sebagaimana diketahui bahwa keberadan tubifex tubifex
ini terdapat dalam lingkungan air yang tercemar. Selain itu indeks keragaman
menunjukkan bahwa H<1 yang berarti indeks perairan tersebut buruk (Odum,
1993)

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, kondisi perairan di waduk
selais Universitas Riau sudah tercemar. Hal ini dapat dilihat kondisi fisik, kimia
dan biologis perairan. Keberadaan spesies plankton dan benthos juga dipengaruhi
oleh faktor fisik kimia. Keberadaan plankton dan benthos dapat dijadikan sebagai
indicator kualitas air. Keberadaan benthos di waduk selais tersebut menunjukkan
bahwa pada stasiun 4 yaitu pada muara waduk yang terletak di depan rektorat
tercemar dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal tersebut karena banyaknya
ditemukan spesies tubifex tubifexn dan dilihat dari hasil indeks keragaman spesies
H<1.
DAFTAR PUSTAKA

Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.
USU Press. Medan.
Darkuni, M. N. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi).
Universitas Negeri Malang.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Terjemahan Tjahyo Samingan dan
Srigandon. UGM Press. Yogyakarta.
Rumahlatu, D., A. Gafur dan H. Utomo. 2008. Hubungan Faktor Fisik-Kimia
Lingkungan Dengan Keanekaragaman Echinodermata Pada Daerah Pasang
Surut Pantai Kairatu. Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas
Keguruan dan Pendidikan. Universitas Pattimura. Media Ilmiah MIPA.
Vol.37 (1): 77-85
Siregar, Z. 2011. Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas
Perairan Danau Siais Kabupaten Tapanuli Selatan. Tesis. Program Pasca
Sarjana USU. Medan.