Anda di halaman 1dari 14

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.

G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 1


RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


PADA PASIEN Ny. G DENGAN STROKE HEMORAGIK
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD SRAGEN

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Mendapatkan Gelar Profesi Ners ( Ns )

Disusun Oleh :

Frisca Uly Mufattichah


J 230 113 015

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 2
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

NASKAH PUBLIKASI
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 1
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


PADA PASIEN Ny. G DENGAN STROKE HEMORAGIK
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD SRAGEN

Frisca Uly Mufattichah.*


Arina Maliya. **
Indah Kartikowati.***

Abstrak

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena perdarahan sub


arachnoid, yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah tertentu, biasa terjadi saat pasien melakukan aktivitas atau saat
aktif. Tujuan karya tulis ilmiah ini mengetahui dan mampu menerapkan
teori kedalam praktek asuhan keperawatan pada klien dengan kegawat
daruratan pada pasien stroke hemoragik. Dengan demikian perlu kiranya
difikirkan tentang pola asuhan keperawatan yang tepat dan cepat agar
pasien terhindar dari stroke permanen maupun stroke berulang. Tujuan
umum dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui
gambaran Asuhan Keperawatan yang tepat bagi pasien Medis Stroke
Hemoragik. Metode yang digunakan adalah dengan wawancara,
pemeriksaan fisik serta studi dokumentasi. Kesimpulan dari karya tulis
ilmiah ini adalah pada Ny. G dengan Stroke Hemoragik terjadi
permasalahan pada pola nafas, perfusi jaringan cerebral dan resiko
aspirasi yang memerlukan perhatian dan penanganan yang cepat dan
tepat dari perawat.

Kata kunci: Stroke Hemoragik, Asuhan Keperawatan


Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 2
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

NURSING CARE Mrs. G MEDICAL DIAGNOSIS


WITH HEMORRHAGIC STROKE
IN IGD RSUD SRAGEN

By: Frisca Uly Mufattichah


ABSTRACT

Hemorrhagic stroke is a stroke that occurs due to sub arachnoid


hemorrhage. Caused by the rupture of blood vessels of the brain in a
particular area, usually occurs when the patient is active or current activity.
The purpose of scientific writing is to know and be able to apply theory to
practice nursing care to clients with kegawat daruratan in patients with
hemorrhagic stroke Thus it is important rethinking about the exact pattern
of nursing care and patient quickly to avoid permanent stroke or recurrent
stroke. The general objective of writing scientific papers is to find the right
picture for Nursing Medical Patients Haemorrhagic Stroke. The method
used is by interview, physical examination and documentation study. The
conclusions of this scientific paper is in Ny.G with hemorrhagic stroke
occurs problems ineffective breathing patterns, cerebral tissue perfusion
and aspiration risk that require attention and rapid and precise handling of
the nurses.

Keyword: Hemorrhagic Stroke, Nursing Care.


Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 3
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

PENDAHULUAN iskemia di otak dan hipoksia disebelah


Stroke adalah penyakit hilir.
kehilangan fungsi otak yang di akibatkan Menurut Mansjoer (2001),
oleh berhentinya suplai darah ke bagian faktor-faktor yang menimbulkan
otak. Berdasarkan data WHO, diseluruh serangan stroke hemoragik antara lain :
dunia tahun 2002 diperkirakan 5,5 juta Adanya hemoragi cerebral (pecahnya
orang meninggal akibat stroke. Di Asia pembuluh darah) karena artherosklerosis
khususnya Indonesia kasus stroke dan hipertensi, aneurisma yang membuat
menduduki peringkat pertama, setiap titik lemah dalam dinding arteri yang
tahun diperkirakan 500 ribu orang akhirnya dapat pecah, hubungan
mengalami serangan stroke. Sekitar abnormal antara arteri dan vena seperti
28,5% klien dengan penyakit stroke di kelainan arteriovenosa, kanker terutama
Indonesia meninggal dunia dan kanker yang menyebar ke otak dari
diperkirakan tahun 2020 penyakit jantung organ jauh seperti payudara, kulit dan
dan stroke menjadi penyebab utama tiroid, cerebral amyloid angiopathy yang
kematian di dunia (Yayasan Stroke membentuk protein amiloid dalam
Indonesia, 2009). dinding arteri di otak yang membuat
Prevalensi stroke hemoragik di kemungkinan terjadi stroke lebih besar,
Jawa Tengah tahun 2011 adalah 0,03% kondisi atau obat seperti aspirin atau
sama dengan angka tahun 2010. warfarin, dan overdosis narkoba seperti
Prevalensi tertinggi tahun 2011 adalah di kokain.
Kota Magelang sebesar 1,34%. Golden Period, artinya batas
Sedangkan prevalensi stroke non waktu bilamana pembuluh darah
hemorargik pada tahun 2011 sebesar tersumbat dan bagian otak tidak
0,09%, sama dengan prevalensi tahun mendapatkan aliran darah, maka ia akan
2010. Prevalensi tertinggi adalah di Kota rusak. Makin lama penyumbatannya,
Magelang sebesar 3,45% (Depkes makin rusaklah pembuluh darah itu.
Jateng, 2011). Masa golden period adalah 3-6 jam
Dari hasil observasi di Instalasi setelah stroke mulai menyerang. Karena
Gawat Darurat RSUD Sragen dari pada masa ini penderita masih sangat
tanggal 2-28 juli 2012, penyakit stroke mungkin untuk terhindar dari stroke, bila
hemoragik merupakan penyakit yang langsung ditangani dengan benar maka
jumlah kasusnya mencapai 41,5% dari jaringan otak masih bisa pulih. Diluar dari
53 kasus gangguan cerebrovaskuler dan waktu tersebut, jaringan otak bisa
2,89% dari 1833 kunjungan pasien di dikatakan sudah mati dan tidak bisa pulih
IGD selama 1 bulan. lagi. Jadi, dalam rentang Golden Period,
sebaiknya seorang penderita stroke
TINJAUAN PUSTAKA harus sudah dibawa ke rumah sakit
Stroke atau cedera dengan fasilitas yang mendukung,
cerebrovaskuler adalah kehilangan supaya dampak stroke lebih mudah
fungsi otak yang diakibatkan oleh diterapi dan tidak permanen. Bila waktu
berhentinya suplai darah ke bagian otak penanganan melewati Golden Period,
sering ini adalah kulminasi penyakit maka dilakukan terapi konservatif, yaitu
serebrovaskuler selama beberapa tahun. pemberian terapi injuri, pengendalian
(Smeltzer & Suzanne, 2002). Hemoragik faktor resiko rehabilitatif, dan mencegah
serebral (pecahnya pembuluh darah stroke berulang. Stroke yang kedua jauh
serebral sehingga terjadi perdarahan ke lebih berbahaya dari yang pertama,
dalam jaringan otak atau area sekitar), begitu pula yang ketiga dan seterusnya.
hemoragik dapat terjadi di epidural, Semakin berulang, stroke menjadi
subdural, dan intraserebral. (Hudak & semakin berbahaya. Masa golden period
Gallo, 2005; Ranakusuma, 2002). sebaiknya digunakan sebaik-baiknya dan
Menurut Corwin (2009), Stroke dikenali dengan baik oleh penderita
hemoragik adalah jika suatu pembuluh hipertensi, penyakit kardiovaskular,
darah di otak pecah sehingga timbul diabetes melitus, serta lemah jantung,
karena akan sangat menolong penderita
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 4
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

sehingga terhindar dari stroke berat 2. Menganalisis hasil pemeriksaan


(Widjaya, 2003) penunjang yang telah di lakukan.
Menurut Smeltzer & Suzanne 3. Menentukan data focus serta
(2002), manifestasi klinis stroke antara membuat analisa data yang di
lain: Kelumpuhan pada salah satu sisi dapatkan dari pasien.
wajah bels palsy, kelumpuhan pada 4. Menegakkan diagnosa
salah satu sisi tubuh (hemiparese atau keperawatan dari data fokus.
hemiplegia), corus otot lemah atau kaku, 5. Membuat rencana tindakan
penurunan kesadaran, hilangnya rasa, keperawatan sesuai dengan
gangguan lapang pandang homanius kasus.
hemianopsia, gangguan bahasa (disatria 6. Melakukan implementasi dan
: kesulitan dalam membentuk kata : evaluasi tindakan keperawatan.
aphasia atau difasia : bicara defeksi/ 7. Mendokumentasikan hasil
kehilangan bicara), gangguan persepsi, implementasi pada lembar
dan gangguan status mental. asuhan keperawatan pasien.
Junaidi (2005),
mengemukakan bahwa penatalaksanaan Teknik Pengambilan Data
medis di antaranya pemberian oksigen 1. Interview
untuk memberikan suplay oksigen ke 2. Observasi
otak secara optimal. Pemberian diuretic, 3. Studi Dokumentasi
osmotic atau manitol untuk menurunkan 4. Pemeriksaan Fisik
tekanan intra cranial. Pemberian
analgesic untuk mengurangi rasa sakit di HASIL PENELITIAN
kepala atau pusing. pemberian nicolin A. Pengkajian
atau phenitoin untuk mengatasi kejang 1. Identitas pasien
pada klien. Pengkajian dilakukan pada
tanggal 11 Juli 2012 jam 12.10 diperoleh
METODE PENELITIAN data : Identitas pasien. Nama/ Inisial :
Pendekatan Ny.G, Umur : 68 tahun, Agama : Islam,
Dalam penulisan Karya Tulis Alamat : Doro RT 24 Banyu Urip, Jenar,
Ilmiah ini penulis menggunakan studi Sragen, Pendidikan : SD, Pekerjaan :
kasus dengan pendekatan proses Tani dan Nomor Rekam Medik 346043,
keperawatan serta menggunakan Penanggung jawab : Ny.I, Umur : 46
rancangan penulisan secara diskriptif. tahun (Anak ), Agama : Islam.
Dengan alasan rancangan ini Riwayat kesehatan pasien.
mempunyai kelebihan yakni mampu Pasien datang di IGD Rumah Sakit
memaparkan secara jelas dan terinci Daerah Sragen pada tanggal 11 Juli
sehingga pembaca mampu untuk 2012 pada pukul 12.10 WIB dengan
memahami isi dari karya tulis ilmiah ini. keluhan 4 hari sebelum masuk Rumah
Sakit pasien jatuh terpeleset di kamar
Tempat dan Waktu mandi, mengalami penurunan
Tempat penelitian ini adalah di kesadaran, kelemahan anggota gerak
Instalasi Gawat Darurat RSUD Sragen. sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu, pasien
Data diambil pada hari senin 11 Juli 2012 tidak dapat berkomunikasi. Keluarga
pukul 07.00-14.00 WIB. pasien mengatakan ini merupakan
pertama kalinya pasien dibawa ke
Langkah-Langkah Rumah Sakit karena stroke. Keluarga
1. Melakukan pengkajian awal pada mengatakan pasien memiliki riwayat
pasien dari mulai identitas penyakit Hipertensi sejak 10 tahun.
pasien, riwayat kesehatan yang Keluarga pasien mengatakan dalam
lalu, riwayat kesehatan sekarang keluarga tidak ada yang mempunyai
dan keluarga. Kemudian riwayat penyakit keturunan seperti DM,
melakukan pemeriksaan fisik Asma dan Hipertensi.
pada pasien (head to toe). 2. Pengkajian Primer
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 5
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

Airway : terdapat secret, lidah Data Subyektif : -. Data Obyektif


tidak jatuh ke belakang, pasien kesulitan : TTV : TD:230/110 mmHg, N: 92
bernapas, suara nafas ronkhi. Breathing x/menit, RR: 28 x/menit, S: 36,4 C.
: terlihat pengembangan dada, teraba Pasien mengalami penurunan
hembusan napas, pasien kesulitan saat kesadaran, keadaan umum pasien
bernapas, RR: 28x/menit, irama napas lemah, kesadaran sopor, terjadi
tidak teratur, terlihat adanya penggunaan kelemahan pada ekstremitas kiri atas
otot bantu rongga dada dalam dan bawah, GCS: E2V2M4, terdapat
pernapasan, napas cepat dan pendek. gangguan pada nervus VII, IX, X, dan
Circulasi : TD: 230/110 mmHg, N = 92 XII. Dari data tersebut dapat ditarik
x/menit, terdengar suara jantung S1 dan sebuah masalah keperawatan yaitu
S2 reguler, tidak ada bunyi jantung ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral,
tambahan, cappilary refille kembali <3 dengan etiologi yaitu perdarahan intra
detik, akral hangat. Disability : kesadaran cerebral.
pasien sopor dengan GCS (E2,V2,M4), Data Subyektif : -. Data Obyektif
keadaan umum lemah, pasien : RR : 28x/menit, GCS: E2V2M4, napas
mengalami penurunan kesadaran, saat pendek dan cepat, pasien tampak sesak
dirumah bicara pasien pelo. Exposure : nafas, irama napas tidak teratur, suara
rambut dan kulit kepala tampak bersih nafas ronkhi, tampak adanya
tidak terdapat hematoma, tidak terdapat penggunaan otot bantu pernapasan. Dari
luka pada tubuh pasien. data tersebut dapat ditarik sebuah
3. Pengkajian Sekunder masalah keperawatan yaitu pola napas
Alergi : pasien tidak memiliki tidak efektif, dengan etiologi yaitu
alergi terhadap obat, makanan, minuman penurunan kesadaran.
dan debu. Medikasi : pasien saat ini Data Subyektif : -. Data Obyektif
dalam pengobatan penyakit stroke dan : pasien tampak lemah, GCS: E2V2M4,
mengkonsumsi obat-obatan untuk stroke. kesadaran pasien spoor, RR: 28x/menit,
Pastilness : Keluarga pasien mengatakan nafas cepat dan pendek, terdapat secret
pasien belum pernah dirawat di RS dimulut. Dari data tersebut dapat ditarik
dengan penyakit yang sama sebuah masalah keperawatan yaitu
sebelumnya, pasien memiliki riwayat Resiko Aspirasi, dengan etiologi yaitu
sakit hipertensi 10 tahun. Lastmeal : penurunan tingkat kesadaran.
keluarga mengatakan pasien makan Data Subyektif : -. Data Obyektif
terakhir pada pukul 09.00 WIB sebelum : pasien tampak lemah, GCS: E2V2M4,
dibawa ke rumah sakit, terakhir pasien tangan dan kaki kiri tidak dapat
mengkonsumsi nasi dengan sayur dan digerakkan, mobilitas pasien tergantung
lauk pauk. Environment : selama dirumah total. Dari data tersebut dapat ditarik
pasien tidak dapat melakukan pekerjaan sebuah masalah keperawatan yaitu
yang berat dikarenakan kondisi pasien hambatan mobilitas fisik, dengan etiologi
yang lemah. yaitu kelemahan otot.
4. Program terapi
Terapi O2 nasal 4 lpm, infus RL C. Diagnosa Keperawatan
20 tpm, injeksi citicolin 500 mg/12 jam, Dari uraian analisa diatas dapat
injeksi ceftriaxone 1 gr/24 jam, injeksi disimpulkan diagnosa keperawatan yang
furosemid 40 mg/12 jam. Pemasangan muncul pada asuhan keperawatan Ny. G
NGT dan DC pada pasien. Pemeriksaan dengan stroke hemoragik antara lain :
GDS dengan hasil : 152 mg/dl dan ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral
pemeriksaan EKG dengan hasil: Sinus berhubungan dengan perdarahan intra
Takikardi. cerebral. Pola napas tidak efektif
berhubungan dengan penurunan
B. Analisa Data kesadaran. Resiko Aspirasi berhubungan
Dari hasil pengkajian didapatkan dengan penurunan tingkat kesadaran.
data untuk menegakkan diagnosa Hambatan mobilitas fisik berhubungan
keperawatan, antara lain sebagai berikut dengan kelemahan otot.
:
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 6
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

D. Intervensi Keperawatan 1x15 menit, mobilitas pasien dapat


Diagnosa keperawatan meningkat. Kriteria Hasil: tidak terjadi
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral atropi otot, sendi tidak kaku. Dilakukan
berhubungan dengan perdarahan intra intervensi keperawatan: kaji kemampuan
cerebral. Tujuan : setelah dilakukan pasien terhadap pergerakan, ubah posisi
tindakan keperawatan selama 1x15 pasien tiap 2 jam, ajarkan pasien
menit, perfusi jaringan otak dapat melakukan ROM aktif pada ekstremitas
tercapai secara optimal dengan Kriteria yang tidak sakit dan ROM pasif pada
Hasil : pasien tidak gelisah, TTV dalam ekstremitas yang sakit, pasang side riil di
batas normal ((TD: sistole < 130, Diastol kanan kiri tempat tidur pasien.
< 85 mmHg, S: 36,5 - 37,5 C, RR: 18-24
x/menit, N: 60-100 x/menit), komunikasi E. Implementasi Keperawatan
jelas, GCS normal E4V5M6, kesadaran Pada diagnosa keperawatan
composmentis. Dilakukan intervensi ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral
keperawatan : kaji keadaan umum dan berhubungan dengan perdarahan intra
TTV, berikan posisi kepala lebih tinggi cerebral telah dilakukan implementasi
30, catat perubahan pasien dalam sebagai berikut : pukul 12.05 mengkaji
merespon stimulus, anjurkan pasien bed keadaan umum, pukul 12.15 mengukur
rest total, ciptakan lingkungan yang TTV, pukul 12.40 memasang IV line dan
nyaman dan batasi pengunjung, pengambilan sampel darah, pukul 12.45
kolaborasi dengan dokter pemberian memberikan injeksi citicolin 500 mg,
obat. ceftriaxone 1 gr, furosemid 40 mg, dan
Diagnosa keperawatan pola memasang DC pada pasien.
napas tidak efektif berhubungan dengan Pada diagnosa keperawatan
penurunan kesadaran. Tujuan : setelah pola napas tidak efektif berhubungan
dilakukan tindakan keperawatan selama dengan penurunan kesadaran, telah
1x15 menit, pola nafas menjadi efektif. dilakukan implementasi sebagai berikut :
Kriteria Hasil : RR dalam batas normal pukul 12.10 mengkaji karakteristik pola
(16-24x/mnt), irama napas teratur. napas (frekuensi, kedalaman, irama),
Dilakukan intervensi keperawatan : Kaji dan mengkaji adanya penggunaan otot
karakteristik pola nafas (frekuensi, bantu pernapasan, memberikan O2 nasal
kedalaman, irama), Kaji adanya 4 lpm. Pukul 12.20 memberikan posisi
penggunaan otot bantu pernafasan, kepala lebih tinggi 30, menciptakan
berikan posisi kepala lebih tinggi 30, lingkungan yang tenang, Pukul 09.25
ajarkan relaksasi nafas dalam, kolaborasi mengkaji ulang pola napas pasien.
dengan dokter pemberian O2. Pada diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan Resiko resiko aspirasi berhubungan dengan
Aspirasi berhubungan dengan penurunan penurunan tingkat kesadaran, telah
tingkat kesadaran. Tujuan : setelah dilakukan implementasi sebagai berikut :
dilakukan tindakan keperawatan selama pukul 12.50 memonitor tingkat
1x15 menit, tidak terjadi aspirasi pada kesadaran, reflek batuk dan kemampuan
pasien. Kriteria Hasil : dapat bernafas menelan, pukul 12.55 memberikan O2
dengan mudah, frekuensi pernafasan nasal 4 lpm dan melakukan section,
normal, mampu menelan, mengunyah pukul 13.00 memasang NGT pada
tanpa terjadi aspirasi. Dilakukan pasien, dan mengkaji ulang aspirasi
intervensi keperawatan : Monitor tingkat pasien.
kesadaran, reflek batuk dan kemampuan Pada diagnosa keperawatan
menelan, pelihara jalan nafas, lakukan hambatan mobilitas fisik berhubungan
saction bila diperlukan, haluskan dengan kelemahan otot, telah dilakukan
makanan yang akan diberikan, haluskan implementasi sebagai berikut: pukul
obat sebelum pemberian. 12.50 mengkaji kemampuan pasien
Diagnosa keperawatan terhadap pergerakan, pukul 12.55
hambatan mobilitas fisik berhubungan memasang side riil di kanan dan kiri
dengan kelemahan otot. Tujuan : setelah tempat tidur pasien, pukul 13.00
dilakukan tindakan keperawatan selama mengkaji ulang mobilitas pasien.
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 7
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

F. Evaluasi ADL pasien, libatkan keluarga dalam


Hasil evaluasi pada diagnosa pemenuhan kebutuhan ADL pasien.
keperawatan ketidakefektifan perfusi
jaringan cerebral berhubungan dengan PEMBAHASAN
perdarahan intra cranial, antara lain : 1. Pengkajian
Subyektif : -. Obyektif : TTV : TD:200/110 Pada tahap ini telah ditemukan
mmHg, N: 88 x/menit, RR: 24x/menit, S: adanya kesamaan yaitu dalam tinjauan
36,4 C. Kesadaran pasien sopor, pustaka disebutkan bahwa tanda gejala
E2V2M4. Pasien post injeksi citicolin terjadinya stroke hemoragik adalah
500 mg, ceftriaxone 1 gr, furosemid 40 kelumpuhan pada salah satu sisi wajah,
mg masuk lewat IV. Asisment : masalah kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh,
keperawatan ketidakefektifan perfusi otot lemah atau kaku, penurunan
jaringan cerebral belum teratasi. kesadaran dan hilangnya rasa, gangguan
Planing : lanjutkan intervensi : pantau lapang pandang dan bahasa, gangguan
keadaan umum dan TTV, kolaborasi persepsi dan status mental.
dengan dokter pemberian obat citicolin Kenyataannya berdasarkan hasil
500 mg, ceftriaxone 1 gr, furosemid 40 pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran
mg. pasien menurun (sopor), wajah pasien
Hasil evaluasi pada diagnosa merot kekiri, dan pasien mengalami
keperawatan pola napas tidak efektif kelemahan ekstremitas kirinya.
berhubungan dengan penurunan Penanganan pasien stroke harus
kesadaran, antara lain : Subyektif: -. dilakukan secara cepat dan tepat demi
Obyektif : RR= 24x/menit, irama napas kesembuhan dan keselamatan pasien.
teratur, suara nafas ronkhi berkurang. Hal ini sesuai jurnal dengan judul:
Pasien terpasang O2 nasal 4 lpm, posisi Managemen waktu untuk
kepala lebih tinggi 30. Asisment : bertindak secara cepat dalam menangani
masalah keperawatan pola napas tidak pasien akut stroke dan serangan
efektif sudah teratasi. Planing : lanjutkan iskemik. Judul Asli : Acute Stroke and
intervensi : Pantau pola nafas pasien. Transient Ischaemic Attack
Hasil evaluasi pada diagnosa Management - Time To Act Fast. Penulis
keperawatan resiko aspirasi : D. S. Crimmins, C. R. Levi, R. P.
berhubungan dengan penurunan tingkat Gerraty, C. D. Beer, K. M. Hill. Di
kesadaran, antara lain : Subyektif : -. publikasikan : Pada tahun 2008. Dalam
Obyektif : pasien tampak masih lemah, jurnal ini dijelaskan tentang penilaian
pasien mengalami penurunan kesadaran, lengkap terhadap risiko stroke dengan
pasien terpasang O2 nasal 4 lpm, pasien menggunakan alat ABCD2 pada awal,
terpasang NGT. Asisment: masalah sehingga lebih mudah untuk
keperawatan resiko aspirasi teratasi menentukan/ memilah antara pasien
sebagian. Planing : lanjutkan intervensi: dengan tingkat kegawat daruratan
kaji kemampuan menelan pasien, dengan resiko rendah dan resiko tinggi,
kolaborasi dengan ahli gizi untuk diit sehingga dengan hasil penilaian tersebut
pasien. bisa diketahui mana penanganan pasien
Hasil evaluasi pada diagnosa yang harus didahulukan untuk
keperawatan hambatan mobilitas fisik mendapatkan penangan secara cepat
berhubungan dengan kelemahan otot, dan tepat.
antara lain : Subyektif : -. Obyektif :
pasien tampak masih lemah, mobilitas 2. Diagnosa Keperawatan
pasien tergantung total, side riil Pada kasus stroke hemoragik
terpasang di kanan dan kiri tempat tidur sesuai dengan tinjauan pustaka pada
pasien. Asisment: masalah keperawatan BAB II terdapat 7 diagnosa yang
hambatan mobilitas fisik belum teratasi. mungkin muncul menurut Nanda (2006),
Planing : lanjutkan intervensi: kaji yaitu: Pola nafas tidak efektif
kemampuan pasien terhadap pergerakan berhubungan dengan penurunan
dan lakukan tirah baring, ajarkan ROM kesadaran, Resiko ketidakefektifan
pada ekstremitas gerak pasien, bantu perfusi jaringan cerebral berhubungan
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 8
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

dengan perdarahan intra cerebral, kepatenan oksigen, memberikan posisi


Gangguan komunikasi verbal 30. Hal ini selaras dengan penelitian
berhubungan dengan kerusakan pada yang dilakukan oleh Kim (2004), yang
saraf fasialis dan saraf hipoglossus, berpendapat bahwa pemberian posisi
Resiko Aspirasi berhubungan dengan 30 dapat meningkatkan masukan
penurunan tingkat kesadaran. Hambatan oksigen pada orang yang mengalami
mobilitas fisik berhubungan dengan sakit. Memberikan O2 nasal 4 lpm
kelemahan otot, Defisit perawatan diri: dengan tujuan untuk membantu
makan, mandi, berpakaian, toileting pemenuhan O2 dalam tubuh. Posisi
berhubungan kerusakan neurovaskuler, kepala 30 mampu meredakan
Resiko kerusakan integritas kulit penyempitan jalan napas dan memenuhi
berhubungan dengan immobilisasi fisik O2 dalam darah.
dan perubahan sirkulasi. Intervensi ini merupakan terapi
Namun pada kasus di IGD hanya keperawatan berdasarkan teori
muncul 4 diagnosa yaitu: Pola nafas keperawatan Florence Nightingale
tidak efektif berhubungan dengan (Modern Nursing), karena dalam teori ini
penurunan kesadaran, Resiko bertujuan memberikan kondisi alamiah
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral yang baik bagi pasien sehingga dapat
berhubungan dengan perdarahan intra mengatasi masalah. Dalam terapi
cerebral, Resiko Aspirasi berhubungan tersebut kita kembali pada hukum
dengan penurunan tingkat kesadaran, gravitasi bumi dimana cairan akan
Hambatan mobilitas fisik berhubungan mengalir dari daerah yang tinggi ke
dengan kelemahan otot. rendah sehingga tidak terjadi
Pada diagnosa Gangguan peningkatan tekanan intracranial dan
komunikasi verbal, dan Defisit perawatan kebutuhan akan oksigen pasien
diri menurut penulis belum perlu di terpenuhi.
tegakkan di karenakan pada saat di IGD Untuk mengatasi masalah dari
lebih di fokuskan untuk penanganan diagnosa Resiko aspirasi b.d penurunan
kegawat daruratan terlebih dahulu. tingkat kesadaran penulis memonitor
Untuk diagnosa Resiko tingkat kesadaran, reflek batuk dan
kerusakan integritas kulit berhubungan kemampuan menelan, memberikan O2
dengan immobilisasi fisik belum perlu di nasal 4 lpm dan melakukan section,
tegakkan di karenakan belum ditemukan memasang NGT pada pasien.
adanya tanda-tanda kemerahan dan Untuk mengatasi masalah dari
lecet pada kulit pasien. diagnosa Hambatan mobilitas fisik b.d
kelemahan otot penulis mengkaji
3. Perencanaan kemampuan pasien dalam mobilisasi,
Untuk masalah ketidakefektifan dan memberikan bantuan untuk merubah
perfusi jaringan cerebral b.d perdarahan posisi. Dengan merubah posisi menurut
intra cerebral penulis penulis Widjaya (2003) dapat menurunkan resiko
berkolaborasi dengan dokter dalam terjadinya iskemia jaringan akibat
pemberian terapi, menganjurkan pasien sirkulasi darah yang jelek pada daerah
untuk membatasi gerak, menciptakan yang tertekan, kurang pergerakan juga
lingkungan yang nyaman dan membatasi akan menyebabkan berbagai komplikasi
pengunjung. Menurut Iskandar (2005) mulai dari dekubitus, atropi, konstipasi,
membatasi gerakan pada kepala, leher dan kekakuan pada otot. Untuk itu
dapat mengurangi rangsangan aktifitas dengan dilakukan tirah baring/merubah
yang meningkat sehingga tidak posisi diharapkan komplikasi ini dapat
meningkatkan kenaikan TIK. dicegah.
Sedangkan untuk mengatasi 4. Pelaksanaan
masalah dari diagnosa pola nafas tidak Pada kasus ini telah dilakukan
efektif b.d penurunan kesadaran penulis implementasi keperawatan sesuai
mengobservasi keadaan umum pasien, dengan rencana keperawatan yang telah
dan melakukan TTV. Memberikan di susun untuk pasien stroke hemoragik,
oksigen secara adekuat dan memastikan namun tidak semua intervensi
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat 9
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

keperawatan terlaksana hal ini terjadi Cefriazone 1 gr adalah obat antibiotic


karena perawatan di Instalasi Gawat karena klien mengalami pendarahan
Darurat yang relative lebih singkat, sehingga harus di berikan antibiotic.
pasien tidak bisa beraktifitas dan lemah Intervensi yang belum terlaksana saat di
serta perawatan difokuskan pada Instalasi Gawat Darurat adalah
kegawatdaruratannya. Untuk pasien mengobservasi dan mencatat tanda-
stroke sendiri mempunyai Masa golden tanda vital dan kelainan tekanan
period yaitu 3-6 jam setelah stroke mulai intrakranial tiap 2 jam, mencatat
menyerang, sehingga seorang penderita perubahan pasien dalam merespon
stroke harus sudah dibawa ke rumah stimulus.
sakit dengan fasilitas yang mendukung, Untuk diagnosa Pola nafas tidak
supaya dampak stroke lebih mudah efektif berhubungan dengan penurunan
diterapi dan tidak permanen. Hal ini kesadaran, masalah sudah teratasi
sesuai dengan jurnal yang berjudul The sebagian. Klien terlihat lebih tenang
''Golden Hour'' and Acute Brain Ischemia dengan gerakan nafas sudah mulai
: Presenting Features and Lytic Therapy teratur, RR : 24 x/ menit, klien terpasang
in >30 000 Patients Arriving Within 60 nasal kanul O2 4ltr /menit, intervensi
Minutes of Stroke Onset. Penulis : dilanjutkan dengan beri Oksigen 4 ltr/
Jeffrey L. Saver, Eric E. Smith, Gregg C. mnt, posisikan kepala pasien head up
Fonarow, Mathew J. Reeves, Xin Zhao, 30. Intervensi semua terlaksana di
DaiWai M. Olson and Lee H. Schwamm. Instalasi Gawat Darurat.
Di publikasikan : Pada tahun 2010. Yang Untuk diagnosa Resiko aspirasi
menyatakan bahwa lebih dari berhubungan dengan penurunan tingkat
seperempat (18,3%) pasien dapat kesadaran masalah teratasi sebagian,
terhindar dari stroke karena kecepatan pasien terlihat masih lemah, pasien
dan ketepatan dalam penanganan sesuai tergantung total, kesadaran pasien
dengan golden period. sopor, pasien terpasang NGT dan O2
Untuk Diagnosa ketidakefektifan nasal 4 lpm. Intervensi dilanjutkan
perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan kaji kemampuan menelan dan
dengan perdarahan intra cerebral nafas pasien. Intervensi yang belum
masalah belum teratasi, kesadaran klien terlaksana di Instalasi Gawat Darurat
sopor, GCS: E2, V2, M4, TD : 200/110 adalah kolaborasi dengan ahli gizi untuk
mmHg, RR : 24 x/ menit, N : 88 x/ diit pasien.
menit, S: 36,4C. Intervensi dilanjutkan Untuk diagnosa Hambatan
dengan observasi vital sign, kolaborasi mobilitas fisik berhubungan dengan
dengan dokter dalam pemberian terapi. kelemahan otot masalah belum teratasi,
Implementasi ini berlandaskan pada teori pasien terlihat masih lemah, pasien
keperawatan Lydia E.Hall (Core,Care, tergantung total, sendi masih lemah,
and Cure Model) dimana kesembuhan ekstremitas atas dan bawah sebelah kiri
pasien itu berdasarkan adanya tidak dapat digerakkan. Intervensi
kerjasama yang sinergis antara dilanjutkan dengan kaji kemampuan
keperawatan dan tim kesehatan lain pasien terhadap pergerakan, lakukan
diantaranya adalah dokter, perawat, dan tirah baring ROM pasif. Intervensi yang
tim kesehatan lain. Dalam kolaborasi ini belum terlaksana di Instalasi Gawat
klien mendapatkan pengobatan Infus Darurat adalah mengajarkan ROM pasif
RL:20tpm, Injeksi citicoline 500 mg/12 dan aktif secara rutin pada pasien,
jam, furosemid 40 mg/12 jam, dan mengkaji perkembangan dan kemajuan
ceftriaxone 1 gr/24 jam. Pemberian latihan gerak pasien, kolaborasi dengan
Ringer Laktat karena pasien mengalami ahli fisioterapi untuk latihan mobilisasi
gangguan homeostatis dan harus segera dan gerak pasien.
diberikan infus RL untuk mengembalikan
keseimbangan air dan elektrolit pasien. 5. Evaluasi
Citicoline 500 mg untuk mengurangi Untuk diagnosa yang pertama,
kerusakan jaringan otak. Furosemid 40 diagnosa keperawatan ketidakefektifan
mg untuk menurunkan hipertensi pasien. perfusi jaringan cerebral berhubungan
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat10
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

dengan perdarahan intra cranial, Darurat RSUD Sragen dapat ditarik


masalah keperawatan ketidakefektifan kesimpulan sebagai berikut:
perfusi jaringan cerebral belum teratasi, 1. Dalam kasus ini pengkajian asuhan
hal ini dikarenakan belum tercapainya keperawatan gawat darurat sudah
Kriteria Hasil yang diharapkan yaitu dilakukan dengan hasil : pasien
pasien tidak gelisah, TTV dalam batas mengalami penurunan kesadaran
normal ((TD: sistole < 130, Diastol < 85 saat dirumah bicara pasien pelo, dan
mmHg, S: 36,5 - 37,5 C, RR: 18-24 kelemahan pada ekstremitas atas dan
x/menit, N: 60-100 x/menit), komunikasi bawah sebelah kiri. Airway : pasien
jelas, GCS normal E4V5M6, kesadaran kesulitan bernapas, terdengar ronkhi.
composmentis. Hasil evaluasi pada Breathing : RR: 28x/menit, irama
diagnosa keperawatan pola napas tidak napas tidak teratur, terlihat adanya
efektif berhubungan dengan penurunan penggunaan otot bantu pernapasan,
kesadaran, masalah keperawatan pola napas cepat dan pendek.
napas tidak efektif sudah teratasi. Hal ini 2. Pada tinjauan pustaka terdapat 5
dikarenakan Kriteria hasil yang diagnosa keperawatan yang muncul
diharapkan sudah tercapai yaitu RR tetapi pada kasus nyata muncul 4
24x/menit dalam batas normal (16- diagnosa, hal ini disebabkan pada
24x/menit) dan irama napas teratur. Hasil saat di IGD lebih di fokuskan untuk
evaluasi pada diagnosa keperawatan penanganan kegawat daruratan
resiko aspirasi berhubungan dengan terlebih dahulu.
penurunan tingkat kesadaran, masalah 3. Intervensi pada setiap diagnosa
keperawatan resiko aspirasi teratasi sudah dilakukan sesuai teori tetapi
sebagian. Hal ini dikarenakan belum tidak semua intervensi dilaksanakan
tercapainya Kriteria hasil yang di IGD karena mengutamakan
diharapkan yaitu pasien dapat bernafas penanganan kegawatdaruratannya.
dengan mudah, frekuensi pernafasan 4. Pada kasus ini telah dilakukan
normal, mampu menelan, mengunyah implementasi keperawatan sesuai
tanpa terjadi aspirasi. Hasil evaluasi dengan rencana keperawatan yang
pada diagnosa keperawatan hambatan telah di susun untuk pasien stroke
mobilitas fisik berhubungan dengan hemoragik, namun tidak semua
kelemahan otot, masalah keperawatan intervensi keperawatan terlaksana hal
hambatan mobilitas fisik belum teratasi. ini terjadi karena perawatan di IGD
Hal ini dikarenakan belum tercapainya yang relative lebih singkat dan
kriteria hasil yang diharapkan yaitu sendi diutamakan dalam penanganan
tidak kaku dan dapat digerakkan, kegawat daruratannya terlebih
aktivitas fisik pasien meningkat. dahulu.
5. Evaluasi merupakan kunci
6. Dokumentasi keberhasilan pada proses
Selanjutnya tahap terakhir keperawatan, untuk masalah
adalah melakukakan dokumentasi pada ketidakefektifan perfusi jaringan
lembar asuhan keperawatan pasien cerebral belum teratasi. Untuk
terhadap data yang didapat, intervensi masalah keperawatan pola napas
dan implementasi yang sudah dilakukan tidak efektif sudah teratasi dengan
serta evaluasi dari hasil implementasi keterangan RR= 24x/menit, irama
sudah ditulis dengan sistematika yang napas teratur. Untuk masalah
benar oleh perawat. keperawatan resiko aspirasi teratasi
sebagian dengan keterangan pasien
terpasang O2 nasal 4 lpm dan
SIMPULAN DAN SARAN terpasang NGT. Untuk masalah
SIMPULAN keperawatan hambatan mobilitas fisik
Berdasarkan hasil penelitian belum teratasi dengan keterangan
Asuhan Keperawatan pada pasien Ny.G pasien masih lemah, mobilitas pasien
dengan diagnosa medis Stroke tergantung total.
Hemoragik di Ruang Instalasi Gawat
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat11
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

6. Dokumentasi sudah dilakukan secara Doengoes E. Marylin. 2000. Rencana


benar meliputi penulisan hasil Asuhan Keperawatan Edisi 3.
pengkajian, penyusunan diagnosa, EGC. Jakarta
intervensi, implementasi, dan
evaluasi. Haryono, (2004), Buku Ajar Neuorologi
Klinis, Edisi 1, Gadjah Mada
SARAN University Press, Yogyakarata
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai
informasi untuk pengembangan dan Junaidi, Iskandar. 2005. Panduan Praktis
peningkatan mutu pendidikan untuk Pencegahan dan Pengobatan
masa yang akan datang serta Stroke. PT. Bhuana Ilmu
referensi untuk penelitian ilmiah Populer. Jakarta
selanjutnya.
2. Bagi Pasien Kim, K. 2004. The Effects of Semi-
Diharapkan agar lebih sering Fowler's Position on Post-
melakukan pemeriksaan kesehatan Operative Recovery in Recovery
agar tidak terjadi serangan ulang. Room for Patients with
3. Bagi Rumah Sakit Laparoscopic Abdominal Surgery.
Diharapkan agar lebih Pusan : College of Nursing
meningkatkan pelayanan asuhan Catholic University of Pusan.
keperawatan pada pasien stroke
hemoragik dan memperbarui ilmu Kowalac, J. 2011. Buku Ajar
tentang asuhan keperawatan pada Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik
pasien stroke hemoragik. Keperawatan. Jakarta : EGC.
4. Bagi Peneliti
Diharapkan untuk penelitian Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta
selanjutnya agar lebih optimal dalam Kedokteran Media. Aeskulapius.
memberikan asuhan keperawatan Jakarta.
pada pasien stroke hemoragik, dan
mengikuti perkembangan pasien Nanda, 2006, Buku Panduan Diagnosis
sampai di ruang rawat selanjutnya. Keperawatan, Jakarta : EGC
Price, & Wilson. 2005. Patofisiologi
DAFTAR PUSTAKA Konsep Klinik Proses-Proses
Penyakit Edisi 6. Volume 2
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian EGC Jakarta.
Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Bina aksara. Smeltzer C. Bare & Suzanne.2002. Buku
Ajar Medikal Bedah Edisi 8
Batticaca, B. Fransisca. 2008. Asuhan Volume 3. EGC. Jakarta
Keperawatan klien dengan
gangguan Sistem Widjaya, Linardi. 2003. Patofisiologi dan
Persyarafan. Jakarta: Penatalaksanaan Stroke
Salemba Medika Lab/UPT Ilmu Penyakit
Syaraf. FK Unair/ RSUD Dr.
Black, Joice. M., & Hawk, Jane. H. Soetomo. Surabaya.
(2005). Medical Surgical Nursing;
clinical management for positive Wilkinson, J. 2006. Buku Saku Diagnosis
outcomes. 7th Edition. St. Louis : Keperawatan Dengan
Elsevier. Inc Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta :
Corwin EJ, (2009), Patofisiologi: buku EGC.
saku. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien Ny.G Dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat Darurat12
RSUD Sragen (Frisca Uly Mufattichah)

Wong. R Syamsuhidayat. 2003. Buku


Ajar Ilmu Bedah. EGC.
Jakarta.

Yayasan Stroke Indonesia. (2009).


Stroke Bisa Ganggu Sosial
Ekonomi Keluarga, . Retrieved
from :
http://www.yastroki.or.id/read.php?i
d=310

*Frisca Uly Mufattichah: Mahasiswa


Profesi Keperawatan FIK UMS. Jln. A
Yani Tromol Post 1 Kartasura
** Arina Maliya, A.Kep., M.Si.Med:
Dosen Keperawatan FIK UMS Jln. A.
Yani Tromol Post 1 Kartasura.
*** Indah Kartikowati, S.Kep., Ns:
Pembimbing Klinik RSUD Sragen