Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN I

PENCAPAN DENGAN ZAT WARNA PIGMEN PADA KAIN KAPAS

Disusun Oleh Kelompok 2 :

Nama : Aji Setiawan (14020087)


Riska Pramana Putri (14020092)
Tisarah Destria Utami (14020094)
Airin Dean Alfiina (14020130)
Grup : 3K4
Dosen : Agus S., S.Teks., M.Si
Asisten : Sasmaya, S.Teks., M.T
Sukirman, S.ST

POLITEKNIK STT TEKSTIL BANDUNG


BANDUNG
2016
I. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud :
Untuk mengetahui bagaimana prinsip dasar pada proses pencapan kain
selulosa dengan zat warna pigmen. Serta mengetahui bagaimana cara kerja,
perhitungan resep dan mampu mengevaluasi dan menganalisa hasil proses
pencapan.
Tujuan :
Agar memiliki kemampuan melakukan proses pencapan kain selulosa
menggunakan zat warna pigmen dengan baik dan benar.

II. TEORI DASAR


KAPAS
Kapas merupakan serat alam yang paling banyak digunakan dan dipakai oleh
manusia. Kapas yang lebih panjang cenderung mempunyai diameter lebih halus
lebih lembut dan mempunyai konvolusi yang lebih banyak. Kekuatan serat kapas
dipengaruhi oleh kadar selulosanya dalam serat, panjang rantai dan orientasinya.
Kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air. Kapas tersusun atas selulosa
maka sifat sifat kimianya adalah sifat kimia selulosa. Pada umumnya tahan
terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal tetapi beberapa
zat oksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan
kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksiselulosa biasanya
terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab
atau pemanasan yang lama diatas suhu 1400C.
Morfologi Serat Kapas

Kedewasaan Serat Kapas


Struktur Serat Kapas

Kapas yang lebih panjang cenderung mempunyai diameter lebih halus lebih
lembut dan mempunyai konvolusi yang lebih banyak. Kekuatan serat kapas
dipengaruhi oleh kadar selulosanya dalam serat, panjang rantai dan orientasinya.
Kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air. Serat yang kering bersifat kasar,
rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain kapas kondisi standar 7 8,5 %.
Komposisi kapas tersusun atas selulosa dan selulosa merupakan polimer linier yang
tersusun dari kondensasi molekul molekul glukosa yang dihubungkan pada posisi 1
4.

ZAT WARNA PIGMEN


Zat warna pigmen merupakan zat warna yang dapat digunakan untuk mencap
semua jenis bahan tekstil sehingga banyak digunakan. Zat warna ini tidak
mempunyai gugus pelarut atau gugus yang dapat berikatan dengan serat. Sifat zat
warna ini hanya menempel saja pada permukaan kain dengan pengikat binder.
Karena sifatnya yang hanya menempel saja maka hasil yang diperoleh mempunyai
efek kaku dan untuk menghindari efek ini biasanya dalam resep yang digunakan
ditambahkan zat pelembut. Kelemahan lain yang ada pada zat warna ini adalah
ketahanan terhadap gosoknya yang jelek. Pencapan dengan zat warna pigmen
banyak dilakukan karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain :
1. Dapat digunakan untuk segala jenis serat dan serat campuran.
2. Fiksasi hasil pencapannya mudah karena hanya dengan proses pemanas
awetan.
3. Mempunyai ketahanan sinar dan zat kimia yang cukup baik.
4. Warna yang dicapkan adalah warna yang terakhir sehingga mudah dalam
menentukan warna.
5. Dapat dicapkan di atas kain yang berwarna dengan hasil yang cukup baik.
6. Hasil pencapan dapat disimpan dalam waktu yang agak lama sebelum
mengalami fiksasi / pemanas awetan.
7. Tidak memerlukan pengerjaan pencucian, penyabunan, oksidasi maupun
steaming, sehingga dapat menyingkat waktu proses dan tenaga.
8. Hasil pencapan dilihat secara visual akan memberikan warna yang cerah.
9. Sederhana dalam pembuatan pasta cap.

PEMBUATAN PASTA CAP


a. Pengental induk
Pengental alginate merupakan komponen utama dari getah rumput laut coklat
yang selama ini belum dimanfaatkan dengan baik di Indonesia, padahal
keberadaannya cukup melimpah. Salah satu aplikasi alginate adalah sebagai zat
pengental pada pencapan kain (textile printing). Alginat terbukti menghasilkan
pengental yang kadarnya tinggi, mudah masuk kedalam serat, mudah
dihilangkan kembali, selain itu juga hasil pencapan sangat memuaskan karena
membuat wama dan gambar lebih tajam. Namun kekurangan dari pengental
alginat yang dijual di pasaran adalah sering tejadinya fluktuasi dalam harga
maupun kualitas alginat yang dihasilkan. Sehingga diperlukan adanya
pengembangan pengental alternative untuk menutupi kekurangan alginat yang
dipakai di pasaran.
Cara pembuatan alginat yaitu sebagai berikut :
- Manutex dimasukkan ke dalam air dingin sedkit demi sedikit sambil di aduk
sampai semuanya larut dalam air.
- Kemudian didiamkan selama jam dan setelah itu siap untuk dipakai.

Jika pengental alginat akan dipakai untuk jangka waktu yang agak lama, maka
perlu ditambahkan formalin sebanyak 1 gr/Kg pengental.

b. Pasta Cap
Semua zat pembantu yang tidak dalam bentuk larutan harus dilarutkan
terlebih dahulu dengan air atau dengan air panas, agar tidak mengganggu
homogenitas pasta cap. Zat warna dilarutkan dengan air ditambahkan urea untuk
membantu kelarutan zat warna reaktif. Siapkan pengental dalam ember plastik,
kemudian sambil diaduk tambahkan zat warna, anti reduksi, dan terakhir setelah
dingin tambahkan alkali.

c. Syarat Pengental
o Tidak berwarna
Sebaiknya pengental yang akan di gunakan tidak berwarna. Apabila
pengental yang akan kita gunakan berwarna, maka akan mempengaruhi
warna dari zat warna itu sendiri, terutama untuk warna muda.
o Stabil dalam penyimpanan
Bahan pengental sebisa mungkin harus stabil dalam penyimpanan yang lama,
sehingga tidak menimbulkan perubahan fisik maupun kimia.
o Mempunyai daya ikat
Pengental harus bisa mengikat zat - zat yang dicampurkan dalam pasta
pencapan.
o Tidak mengadakan reaksi kimia
Selain mampu mengambil dan mengikat zat - zat yang dicampurkan
kedalamnya, pengental tersebut tidak boleh mengadakan reaksi dengan zat
zat tersebut. Sehingga dapat merubah sifat pengental maupun zat - zat yang
dicampurkan.
o Dapat dihilangkan kembali
Sebagaimana fungsinya yang hanya bersifat sementara, yaitu sebagai
medium. Maka setelah zat warna terfiksasi dalam serat, maka pengental
tersebut dihilangkan kembali. Pada umumnya penghilangannya dilakukan
dengan pencucian dalam air panas tanpa penambahan zat zat kimia yang
dapat mempengaruhi zat warna. Oleh karena itu dengan jalan pencucian
tersebut pengental harus mudah dihilangkan kembali.

III. ALAT DAN BAHAN

Alat
- Kassa screen yang bermotif
- Rakel
- Meja print
- Mixer (untuk pembuatan pengental sintetik)
- Mesin stenter
- Ember kecil
- Pengaduk
- Neraca analitik
- Hair Dryer
Bahan
- Kain kapas
- Pengental sintetik
- Binder
- Zat warna pigmen
- DAP ( 1:2 )
- Fixer
- Urea

IV. RESEP PENCAPAN
Resep Pengental
- Pengental Sintetik : 5 10 %

Resep Pasta Cap
- Zat warna pigmen : 20 gram
- Binder : 125 gram
- DAP ( 1 : 2 ) : 20 gram
- Fixer : 20 gram
- Urea : 100 gram
- Pengental sintetik : 700 gram
x gram
- Balance : 1000 gram
- Suhu : Kain 1 : 150oC
Kain 2 : 160oC
Kain 3 : 170oC
Kain 4 : 180oC

V. FUNGSI ZAT
- Pengental Sintetik : Sebagai medium perekat zat warna
- Zat warna pigmen : Sebagai pewarna pada pencapan
- Binder : Sebagai pengikat zw pada permukaan kain
dan membentuk lapisan film.
- DAP (1:2) : Sebagai katalis yang mempercepat fiksasi.
- Fixer : Sebagai zat pembantu proses polimerisasi antara zat dengan
kain.
- Urea : Sebagai zat hidrogkopis yang menjaga kelembaban pada
bahan.

VI. PERHITUNGAN ZAT
20
Zw pigmen : x 75=1,5 gr
1000
125
Binder : x 75=9,375 gr
1000
20
DAP ( 1 : 2 ) : x 75=1,5 gr
1000
20
Fixer : x 75=1,5 gr
1000
100
Urea : x 75=7,5 gr
1000
700
Pengental sintetik : x 75=52,5 gr
1000
Balance : 1,125

VII. DIAGRAM ALIR

Curing
Drying
Pencapan 150ooC Evalusi
100ooC , 2'
-180ooC

VIII. CARA PENGUJIAN / CARA KERJA
Pembuatan Pengental Sintetik
1. Menyiapkan alat dan pengental Natrium Alginat
2. Pengental Natrium Alginat bubuk ditimbang sesuai dengan kebutuhan,
3. Siapkan air hangat sesuai dengan kebutuhan.
4. Bubuk Alginat dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam air hangat tadi sambil
dikocok menggunakan mixer hingga bubuk alginate terbentuk menjadi larutan
yang kental.

Pencapan
1. Menghitung kebutuhan zat yang akan digunakan untuk proses pencapan.
2. Menyiapkan kain kapas yang akan digunakan sebanyak 4 lembar kain.
3. Meja print terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran seperti pasta cap sisa
pencapan yang sebelumnya agar tidak menempel pada kain yang akan dicap.
4. Kain kapas yang akan di cap ditempelkan pada meja cap, kemudian tempelkan
pula screen yang akan digunakan diatas kain
5. Kemudian dicap dengan 2x perakelan dengan alur yang sama. Pada saat
pencapan berlangsung saat melakukan perakelan tekanan pada screen harus
kuat agar pasta cap tidak keluar dan warna yang didapat menjadi lebih tebal.
6. Setelah proses pencapan selesai, keringkan kain dengan drying pada suhu 100

selama 2 menit.

7. Curring dengan menggunakan variasi suhu yaitu 150 160 170 - 180

pada kain yang berbeda.


8. Kain yang sudah selesai diproses kemudian dibagi menjadi dua bagian (satu
untuk dicuci dan satu lagi tidak) yang kemudian dilakukan untuk evaluasi.
9. Evalusi yang dilakukan :
- Tahan luntur warna terhadap permukaan
- Kekakuan (handling)

IX. DATA PRAKTIKUM / DATA PENGAMATAN
Tahan Luntur Warna :

Suhu Yang Kain Yang Tidak Kain Yang


Kain Digunakan Dicuci Dicuci

150oC 2 2
1.

160oC 1 1
2.

170 oC 3 3
3.

180 oC 3 4
4.

Kekakuan ( Handling )

Suhu Yang Kain Yang Tidak Kain Yang


Kain Digunakan Dicuci Dicuci

150oC 3 2
1.

160oC 3 2
2.

170 oC 3 2
3.

180 oC 3 2
4.

Keterangan :
1 = Sangat Baik
2 = Baik
3 = Cukup Baik
4 = Kurang Baik

X. PEMBAHASAN / DISKUSI
Pada praktikum kali ini kita melakukan proses pencapan zat warna
pigmen pada kain kapas. Proses pencapan dengan zat warna pigmen ini
dilakukan dengan menggunakan screen yang sebelumnya sudah kita buat pada
persiapan kasa siap pakai. Zat warna pigmen ini merupakan zat warna yang
dapat digunakan pada semua jenis serat namun pada praktikum kali ini kita
melakukannya pada kain kapas. Zat warna pigmen ini merupakan zat warna yang
pada hasilnya di kain akan memiliki warna yang cerah dan hasil yang bagus.
Untuk melakukan proses pencapan ini kita harus menyiapkan zat
pengental terlebih dahulu untuk membuat pasta cap agar dapat digunakan untuk
melakukan pencapan. Proses pencapan ini dilakukan dengan membuat 2 warna
yang berbeda yaitu warna merah dan juga warna biru dan juga kain yang
digunakan adalah 4 lembar kain. Komposisi atau zat yang akan digunakan
haruslah seimbang pada tiap warnanya agar warna yang dihasilkan pun akan
sesuai dengan yang kita harapkan dan kita inginkan. Untuk membuat semua zat
yang ada kita harus menggunakan resep yang sudah ditentukan dan
menghitungnya dengan benar agar zat zat yang akan digunakan sesuai antara
satu warna dan warna yang lainnya juga dengan komposisi yang seimbang.
Untuk melakukan proses pencapan ini kain kapas yang akan di tempelkan
pada meja cap harus sudah dalam keadaan bersih hal ini agar saat kain di cap
tidak ada kotoran yang menempel yang dapat mengganggu atau merusak hasil
cap tersebut. Untuk praktikum ini kita harus melakukan perekelan dengan baik
dan benar agar hasil yang didapatkan pun menjadi bagus dan rata. Perekelan
pun dilakukan sebanyak 2x dan harus dengan alur yang sesuai antara satu kain
dan kain yang lainnya hal ini untuk mendapatkan hasil yang sama sehingga bisa
kita bedakan dengan mudah. Untuk melakuka perekelan pun kita harus
membersihkannya dan mengeringkan screen yang akan digunakan agar tidak
ada pengotor yang dapat mengganggu keluarnya zat warna pada screen ke kain
yang akan dicap tersebut.
Pada pencapan kali ini kita menggunakan variasi waktu dan juga binder.
Binder yang digunakan pada kelompok kami adalah 125 gr dengan variasi waktu
untuk kain 1 sampai kain 4 adalah 150oC 180oC. Hasil yang didapatkan pada
proses pencapan ini menghasilkan warna yang cerah namun kurang rata, hal ini
karena pada saat melakukan proses perekelan, zat warna yang ada pada screen
kurang banyak dan juga perekelan yang tidak begitu baik. Dari hasil berdasarkan
variasi suhu yang digunakan semua kain memiliki warna yang tidak begitu
berbeda antara yang satu dan yang lainnya namun saat dilakukan pencucian kain
menjadi memudar dan menjadi lebih muda dari kain yang tidak dilakukan
pencucian. Berdasarkan penilaian yang dilakukan suhu yang baik dan bisa
disebut suhu optimum adalah pada suhu 160oC karena pada hasil kain yang tidak
dicuci dan dilakukan pencucian hasilnya tetap lebih baik dari kain yang lainnya.
Dengan suhu yang cukup tinggi yaitu 180 oC hasil kain yang didapatkan kurang
baik pada pencucian karena terlihat warna memudar lebih banyak dibandingkan
pada kain lainnya. Selain tahan luntur warna yang kita nilai, kitapun menilai
kekakuan pada kain tersebut. Pada kain yang tidak dilakukan pencucian kainnya
kaku karena mungkin zat yang menempel pada kain yang membuatnya menjadi
seperti itu, namun pada kain yang dilakukan pencucian hasilnya lebih lemas. Hal
ini bisa dikarenakan zat zat yang menempel terlepas pada kain tersebut.
Pada saat melakukan pencapan kita harus memperhatikan banyak hal
untuk bisa mendapatkan hasil yang sesuai dan yang diinginkan. Karena, jika hasil
pencapan tidak rata maka saat membedakan antara hasil yang satu dan yang
lainnya tidak akan dalam kondisi yang sama.

XI. KESIMPULAN
Pada praktikum pencapan dengan zat warna pigmen pada kain kapas ini bisa kita
simpulkan bahwa suhu yang baik dari hasil kain pencapan yang didapatkan
adalah kain dengan suhu 160oC. Lalu kekakuan yang dihasilkan pada kain
dengan variasi waktu ini memiliki kekakuan yang tidak begitu berbeda dan
memiliki kekakuan yang cukup baik pada hasil kain setelah dilakukan pencucian.
Lampiran
Kain pertama dengan suhu 150oC
Sebelum dicuci Setelah dicuci

Kain kedua dengan suhu 160oC


Sebelum dicuci Setelah dicuci

Kain ketiga dengan suhu 170oC


Sebelum dicuci Setelah dicuci

Kain keempat dengan suhu 180oC


Sebelum dicuci Setelah dicuci

DAFTAR PUSTAKA

http://khanifarifin.blogspot.co.id/2011/09/pencapan-dengan-zat-warna-
pigmen.html