Anda di halaman 1dari 52

PANDUAN PRAKTIKUM

MEKANIKA FLUIDA
KL 2101

Semester 1 - 2016/2017

PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Petunjuk pelaksanaan praktikum Mekanika Fluida dan Hidrolika ini disusun


dengan tujuan mempermudah pemahaman materi praktikum maupun
penyusunan laporan praktikum. Selain itu, melalui petunjuk ini diharapkan
praktikan mendapat gambaran secara umum, teori dan praktik serta memberikan
sedikit gambaran tentang aplikasi secara model dalam rekayasa Sipil khususnya
bagian Teknik Sumber Daya Air.

Mudah-mudahan petunjuk pelaksanaan praktikum ini dapat lebih bermanfaat dan


sekaligus menunjang studi di bangku kuliah. Tentu saja praktikan tetap harus
membaca lebih banyak pustaka yang lain.

Demikian harap maklum dan terima kasih.

Bandung, September 2016

Penyusun,

Kepala
Laboratorium Sumber Daya Air

Dhemi Harlan, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D


NIP 197105052006041001

Catatan :
Petunjuk pelaksanaan praktikum ini direvisi tahun 2011 oleh Nessia Fausta C.
dibantu oleh Zharina Ashri Indra, Vittorio Kurniawan, Doddey Sanjaya dan
Khristya Pusparini Pramitha.

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................... ii


Daftar Isi ............................................................................................... iii
Tata Tertib Praktikum .............................................................................. iv
Kerangka Penyusunan Laporan .................................................................viii
Daftar Gambar ....................................................................................... xii
Daftar Tabel ..........................................................................................xiii

MEKANIKA FLUIDA
Modul I Tumbukan Akibat Pancaran Fluida ................................................. 1
Modul II Aliran Melalui Venturimeter ......................................................... 11
Modul III Aliran Melalui Orifice ................................................................. 19
Modul IV Kestabilan Benda Terapung ........................................................ 27
Lampiran : Prinsip Kerja Bangku Hidrolis .................................................... 36

iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM
1. PRAKTIKUM
1.1 Sebelum praktikum, praktikan wajib mengikuti pengarahan praktikum oleh
koordinator praktikum, praktikan yang tidak mengikuti pengarahan
pertama mendapat tugas tambahan.
1.2 Saat praktikum :
a. Praktikan wajib memakai kemeja, sepatu dan kaus kaki.
b. Praktikan diharapkan hadir sesuai jadwal kelompok dan hadir di
tempat praktikum sebelum praktikum dimulai, praktikan yang
terlambat 15 menit dari waktu yang ditetapkan akan mendapatkan
pengurangan nilai akhir untuk satu kelompok.
c. Setiap praktikan (bukan kelompok) harus membawa modul praktikum
dan kartu asistensi.
d. Sebelum praktikum dimulai, akan diberi tes awal yang mempunyai
bobot dan praktikan wajib membawa kertas A4 untuk test awal, bila
test awal kurang dari nilai minimum, praktikan mendapat tugas
tambahan.
1.3 Setelah praktikum selesai, praktikan membereskan alat-alat percobaan
sesuai tempatnya.
1.4 Setelah praktikum selesai, seluruh lembar data harus ditandatangani
asisten, praktikan wajib memberikan salinan data praktikum kepada
asisten paling lambat 1 hari setelah praktikum.

2. ASISTENSI
2.1 Asistensi mempunyai bobot dan penilaian praktikum.
2.2 Pada saat asistensi, kelompok membawa lembar asistensi kelompok yang
harus dicantumkan pada laporan akhir dan membawa kartu asistensi yang
ditandatangani asisten setiap kali asistensi.
2.3 Waktu dan tempat asistensi ditentukan berdasarkan kesepakatan antara
asisten praktikum dan kelompok praktikan.
2.4 Setiap asistensi, seluruh anggota kelompok wajib hadir semua.
2.5 Asistensi minimal dilaksanakan 4 kali untuk keseluruhan modul.

iv
3. DRAFT LAPORAN
3.1 Setiap kelompok wajib menyerahkan draft laporan per modul yang harus
disetujui asisten kelompok dengan batas waktu yang ditentukan asisten
masing-masing.
3.2 Draft laporan harus masuk tepat pada waktunya, jika terlambat
kebijaksanaan ditentukan asisten kelompok masing-masing.
3.3 Setiap kelompok wajib memiliki draft laporan (asli atau salinan) untuk
dibawa saat presentasi.
3.4 Draft diketik dengan komputer dengan format seperti pada kerangka
penyusunan laporan.
3.5 Format draft terdiri dari Pendahuluan, Dasar Teori dan Penurunan Rumus,
Contoh Perhitungan, Tabel Perhitungan, Grafik, Analisis Grafik, Kesimpulan
Praktikum, dengan pengembangan yang dapat disesuaikan.

4. PRESENTASI
4.1 Syarat presentasi adalah telah mengumpulkan draft modul kepada asisten
masing-masing, telah melakukan asistensi, mendapat nilai minimum test
awal praktikum.
4.2 Presentasi dilaksanakan di ruang asisten Laboratorium Mekanika Fluida
dan Uji Model Hidraulika, Program Studi Teknik Sipil ITB.
4.3 Saat presentasi mengenakan pakaian rapi dan sopan; kemeja, celana
panjang/rok, dan sepatu (tidak diperkenankan memakai sandal/sepatu
sandal).
4.4 Tim penguji terdiri dari asisten-asisten mekanika fluida yang sudah
ditentukan.
4.5 Materi presentasi berkaitan dengan praktikum dan teori dasar mekanika
fluida.
4.6 Anggota kelompok saat presentasi harus lengkap. Jika tidak, maka
anggota praktikum yang tidak hadir dianggap mengundurkan diri dari
praktikum kecuali ada pemberitahuan terlebih dahulu.
4.7 Tugas-tugas tambahan yang diberikan saat presentasi, harus dilampirkan
pada laporan akhir praktikum.
4.8 Pada saat presentasi wajib membawa kartu asistensi, modul
praktikum, draft laporan. Diperbolehkan membawa literatur lain
sebagai bahan rujukan.
4.9 Presentasi ulang dapat ditawarkan kepada asisten-asisten penguji (bila
peserta praktikum merasa tidak memenuhi syarat kelulusan presentasi)

v
dan praktikan, dengan jadwal yang merupakan kesepakatan bersama
antara praktikan dan asisten penguji.

5. TUGAS TAMBAHAN
5.1 Tugas tambahan yang diberikan saat tidak mengikuti pengarahan pertama
pertama praktikum tergantung kebijakan dari asisten kelompok masing-
masing dan sudah dilaksanakan sebelum mengikuti praktikum.
5.2 Tugas tambahan yang diberikan saat mendapat nilai test awal yang
kurang dari nilai minimal harus sudah dikumpul sebelum asistensi pertama
sebagai syarat asistensi.
5.3 Tugas tambahan yang diberikan saat presentasi harus dapat dikumpul
pada saat pengumpulan laporan sebagai lampiran.

6. LAPORAN AKHIR
6.1 Laporan yang telah diuji dan disetujui saat presentasi wajib diserahkan
seminggu setelah presentasi, bila memerlukan perbaikan laporan tersebut
wajib diperbaiki dalam waktu yang sama dan bila diperlukan akan
diadakan asistensi tambahan.
6.2 Laporan akhir harus sudah tercantum cover, lembar pengesahan, daftar
isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar lampiran, header (judul modul/judul
lembar) dan footer (laporan praktikum kelompok XY dan halaman laporan
sesuai daftar isi) pada setiap lembar, lembar asistensi, daftar pustaka.
6.3 Laporan yang diserahkan harus mendapat persetujuan asisten dan
koordinator asisten (sebelum dijilid).
6.4 Laporan yang sudah mendapat persetujuan asisten dan koordinator wajib
dijilid sebagai syarat keluarnya nilai akhir.
6.5 Laporan Akhir diketik dengan komputer sesuai draft awal dan perbaikan
setelah presentasi dengan format seperti pada kerangka penyusunan
laporan.
6.6 Agar lebih jelas, lihat lembar kerangka penyusunan laporan akhir pada
lembar berikut.

7. NILAI AKHIR
7.1 Setelah laporan akhir diterima oleh koordinator asisten, koordinator
asisten memberikan nilai akhir berupa angka yang menentukan lulus
tidaknya praktikan.

vi
7.2 Penentuan lulus tidaknya berdasarkan nilai akhir minimal yang akan
ditentukan berdasarkan bobot kumulatif nilai test awal, nilai asistensi,
nilai presentasi dan nilai laporan akhir.

Bandung, September 2016


Koordinator Asisten Praktikum

Faizhal Kamaluddin Prasetya S.T.


NIM 15512016

vii
KERANGKA PENYUSUNAN LAPORAN
1. Laporan dicetak pada kertas HVS berukuran A4 (210 mm x 297 mm) dan
berat 80 g/m2 (HVS 80 GSM) serta dicetak dengan batas 4 cm dari tepi
kiri kertas, dan 3 cm dari tepi kanan, tepi atas dan tepi bawah kertas.
2. Laporan dicetak pada satu muka halaman (tidak bolak-balik).
3. Laporan dibuat dengan bantuan komputer menggunakan pencetak
(printer) dan dengan huruf jenis Times New Roman, dengan ukuran Font
12. Baris-baris kalimat laporan berjarak satu setengah spasi. Judul bab,
sub bab, dan cover disesuaikan agar proporsional.
4. Bentuk penjilidan adalah jilid buku dengan kemasan Soft Cover Kertas
Omega Foil Warna Biru Muda
5. Susunan laporan praktikum Mekanika Fluida :
1. Sampul Depan (Cover)
Berisi judul praktikum, maksud pembuatan laporan, semua judul
modul praktikum, kelompok dan nama anggota kelompok beserta NIM,
asisten pembimbing dan logo dan nama perguruan tinggi serta periode
praktikum.
2. Lembar Pengesahan
Lembar ini menyatakan pengesahan dan persetujuan bahwa laporan
telah selesai dan disetujui oleh asisten pembimbing dan koordinator
praktikum serta mengetahui Kepala Laboratorium Rekayasa Sumber
Daya Air.
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel
6. Daftar Grafik
7. Laporan Praktikum, untuk tiap bab terdiri dari :
Pendahuluan
Tujuan Praktikum
Alat-alat percobaan dan Gambar alat percobaan
Dasar Teori dan Penurunan Rumus
Prosedur Percobaan : Sebutkan data-data apa saja yang didapat
dan satuannya.
Contoh Perhitungan : Cukup ditulis salah satu data saja beserta
langkah-langkahnya, dan perhitungan selanjutnya disajikan secara
tabelaris. Jika ada konversi satuan harap disebutkan juga.

viii
Grafik dan Analisa
Berisi gambar grafik yang diminta pada buku petunjuk praktikum
dan yang diminta oleh asisten. Setelah gambar grafik, langsung
berikan analisa mengenai grafik tersebut.

Kesimpulan dan Saran


Berisi kesimpulan dari hasil percobaan yang anda lakukan pada bab
tersebut serta berikan saran untuk memperoleh hasil yang
optimum.
Referensi
Berisi referensi (rujukan) buku-buku yang anda gunakan untuk
membuat laporan. Minimal harus terdiri dari 3 buah referensi,
selain modul praktikum.
8. Lampiran
Berisi lembar asistensi, tugas tambahan kelompok dan data-
data/tabel-tabel dari buku referensi yang digunakan.

6. Tiap halaman dari tiap bab harus mempunyai header dan footer, kecuali
halaman pertama. Header adalah kelompok Anda, sedangkan Footer
bertuliskan Laporan Praktikum Mekanika Fluida.

7. Laporan akhir akan diterima hanya apabila sesuai dengan ketentuan-


ketentuan diatas.

Bandung, September 2016


Koordinator Asisten Praktikum

Faizhal Kamaluddin Prasetya S.T.


NIM 15512016

ix
Contoh halaman judul (cover)

LAPORAN PRAKTIKUM
KL 2101 MEKANIKA FLUIDA

Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan Tahap Sarjana

Modul 1
Modul 2
Modul 3

Disusun Oleh

Kelompok xy

Nama 1 NIM
Nama 2 NIM
Nama 3 NIM

Asisten

LABORATORIUM REKAYASA SUMBER DAYA AIR


PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

x
Contoh lembar pengesahan

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA
SEMESTER I TAHUN 2016/2017

Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan Tahap Sarjana

Modul 1
Modul 2
Modul 3
Disusun Oleh

Kelompok xy

Nama 1 NIM
Nama 2 NIM
Nama 3 NIM

Telah Disetujui dan Disahkan oleh :

Asisten Kordinator Asisten

Nama / Nim Faizhal Kamaluddin P., S.T.

Kepala Laboratorium Rekayasa Sumber Daya Air

Dhemi Harlan, ST, MT, M.Sc, Ph.D


NIP 197105052006041001

xi
DAFTAR GAMBAR
Bagian I Mekanika Fluida
Gambar 1.1 Jet Impact Apparatus .......................................................... 1
Gambar 1.2 Spesifikasi jet impact ........................................................... 2
Gambar 1.3 Sketsa aliran pada sebuah vane/piringan ............................... 3
Gambar 1.4 Sistem gaya pada batang ..................................................... 5
Gambar 1.5 Diagram alir prosedur kerja praktikum tumbukan
akibat pancaran fluida ......................................................... 6

Gambar 2.1 Venturimeter ...................................................................... 11


Gambar 2.2 Kondisi ideal venturimeter ................................................... 12
Gambar 2.3 Perangkat venturimeter ....................................................... 13
Gambar 2.4 Diagram alir prosedur kerja praktikum
aliran melalui venturimeter .................................................. 15

Gambar 3.1 Orifice Apparatus ................................................................ 19


Gambar 3.2 Sketsa Aliran Melalui Orifice ................................................. 20
Gambar 3.3 Diagram Alir Prosedur Kerja Praktikum Aliran Melalui Orifice ..... 23

Gambar 4.1 Alat Benda Terapung (Ponton) .............................................. 27


Gambar 4.2 Sketsa Ponton .................................................................... 28
Gambar 4.3 Skema Benda Terapung ....................................................... 29
Gambar 4.4 Diagram Alir Prosedur Kerja Praktikum Kestabilan Benda
Terapung ........................................................................... 23

Bagian Lampiran
Gambar 1.1 Representasi diagram bangku hidraulik HI MkIII ..................... 36
Gambar 1.2 Diagram alir prosedur kerja penggunaan bangku hiraulis .......... 38
Gambar 1.3 Bangku hidraulik ................................................................. 39

xii
DAFTAR TABEL

Bagian I Mekanika Fluida


Tabel 1.1 Spesifikasi data yang diambil selama percobaan ...................... 7
Tabel 1.2 Langkah-langkah pengolahan data ........................................ 8
Tabel 1.3 Grafik dan analisis .............................................................. 9

Tabel 2.1 Spesifikasi data yang diambil selama percobaan ...................... 16


Tabel 2.2 Langkah-langkah pengolahan data ........................................ 16
Tabel 2.3 Grafik dan analisis .............................................................. 17

Tabel 3.1 Spesifikasi data yang diambil selama percobaan ...................... 24


Tabel 3.2 Langkah-langkah pengolahan data ........................................ 24
Tabel 3.3 Grafik dan analisis .............................................................. 25

Tabel 4.1 Spesifikasi data yang diambil selama percobaan ...................... 32


Tabel 4.2 Langkah-langkah pengolahan data ........................................ 32
Tabel 4.3 Grafik dan analisis ............................................................... 34

xiii
II MODUL I
III TUMBUKAN AKIBAT PANCARAN FLUIDA

1.1 Pendahuluan
1.1.1 Latar Belakang
Setiap fluida yang dipancarkan mempunyai gaya atau kerja mekanis yang menyebabkan tumbukan.
Gaya ini dapat bermanfaat untuk menggerakkan benda atau peralatan lain yang membutuhkan gaya
penggerak, misalnya turbin.

Salah satu cara untuk menghasilkan gaya atau kerja mekanis dari tekanan fluida adalah dengan
menggunakan tekanan untuk mengakselerasikan fluida kecepatan tinggi dalam sebuah jet. Jet
tersebut diarahkan ke piringan dari sebuah roda turbin, yang berotasi oleh karena gaya yang timbul
pada piringan dikarenakan perubahan momentum atau impuls yang terjadi ketika jet menyembur
pada piringan. Turbin-turbin air yang bekerja dengan prinsip impuls ini telah dibuat dengan keluaran
hingga tingkat 100.000 kW dengan efisiensi lebih dari 90%.

Pada percobaan ini, gaya yang ditimbulkan oleh jet air ketika menyembur, baik pada plat yang rata
atau pada plat cekung akan diukur dan dibandingkan dengan tingkat aliran momentum di dalam jet.

Gambar 1. 1 Jet Impact Apparatus

1
1.1.2 Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah :
1. Mempelajari perilaku tumbukan pancaran fluida pada suatu permukaan piringan yang dapat
menghasilkan suatu energi mekanis.
2. Mengukur dan menghitung besarnya gaya yang diperoleh dari dua macam piringan, yaitu plat
datar dan plat cekung.
3. Menentukan besarnya efisiensi masing-masing piringan.
4. Mempelajari hubungan antara besarnya debit yang keluar dengan gaya yang didapat dari hasil
perhitungan.

1.2 Alat-Alat Praktikum


1. Jet impact apparatus (Lihat gambar 1.1.)
2. Bangku hidrolis dengan beban
3. Stopwatch
4. Termometer
Data-data alat :
Diameter nozzle : 10 mm
Luas penampang nozzle : 78.5 mm2
Massa beban pemberat : 0.610 kg
Jarak as piringan ke engsel ruas : 0.1525 m
Jarak nozzle ke piringan : 37 mm

Gambar 1.2 Spesifikasi Jet Impact

2
1.3 Landasan Teori
Apabila sebuah piringan yang simetris pada sumbu x seperti pada gambar 2.2. Sebuah jet yang terisi
fluida dengan aliran pada tingkat W kg/s sepanjang sb. X dengan kecepatan Vo m/s mengenai
piringan dan terdefleksi sebesar sudut , sehingga fluida tersebut meninggalkan piringan dengan
kecepatan V1 m/s. Perubahan pada ketinggian dan tekanan dalam piezometric dalam jet karena
mengenai piringan hingga meninggalkannya diabaikan.

1.3.1 Besar Gaya Piringan (Gaya Perhitungan)


Momentum sebelum menabrak piringan : (kg m/s 2 ) pada arah X (lihat gambar 2.2)
Momentum setelah menabrak piringan : 1 cos (kg m/s 2 ) pada arah X
Gaya pada arah X pada jet sama dengan rata-rata perubahan momentum, sehingga didapat:

momentum = 1 cos (kg m/s 2 = N) (1.1)

Gambar 1.3 Sketsa Aliran pada Sebuah Vane/Piringan

Gaya yang terjadi pada piringan (arah X) adalah sama, tetapi berlawanan arah sehingga didapat
persamaan pada sumbu Y:

= ( 1 cos ) (1.2)

Untuk piringan datar, nilai = 90o maka cos = 0


= ; tidak tergantung harga 1 (1.3)

3
Untuk piringan cekung, nilai = 180o maka cos = -1
= ( + 1 ) (1.4)

Jika perubahan tekanan piezometrik dan elevasi diabaikan, maka kemungkinan gaya maksimum
pada plat cekung adalah:
= 2 (1.5)

Aliran fluida diukur dengan satuan W (kg/s) yang mewakili satuan debit 3 (m3), sehingga
10
kecepatan pancaran, V (m/s) saat meninggalkan nozzle diberikan oleh :

= 12.75 (m/s) (1.6)

Kecepatan pancaran mengenai piringan, Vo (m/s) lebih kecil daripada kecepatan pancaran saat
meninggalkan nozzle, V (m/s) akibat adanya pengaruh gravitasi. Besar kecepatan dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan gerak lurus berubah beraturan, didapat :

Vo 2 = V 2 0.726 (1.7)

1.3.2 Besar Gaya yang Menumbuk Piringan (Gaya Pengukuran)


Gaya tekan fluida yang menumbuk piringan didapat dengan meninjau hubungan gaya yang bekerja
pada batang (lihat gambar 2.3).

= 0 (1.8)

152.5 mm = 0.61 kg
= 4 (N)

(1.9)

Dengan y adalah pergeseran beban, sistem gaya pada batang menjadi:

4
Gambar 1.4 Sistem Gaya pada Batang

1.4 Prosedur Kerja


1. Atur kedudukan jet impact agar jalur pancaran tegak lurus terhadap bidang datar
permukaan.
2. Pasang piringan pada jet impact.
3. Kalibrasikan neraca pengukur gaya, dengan membuat lengan neraca dalam keadaan
mendatar.
4. Hidupkan pompa.
5. Atur posisi beban pemberat hingga neraca seimbang kembali.
6. Catat simpangan pemberat terhadap posisi semula (y).
7. Ukur debit air berdasarkan prinsip bangku hidraulik.
8. Lakukan percobaan yang sama dengan di atas untuk 8 macam posisi pemberat (y).
9. Ganti piringan dengan piringan cekung dan ulangi langkah 1 s/d 8.

Prosedur kerja tersebut dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini:

5
Mulai

Atur kedudukan jet impact

Pasang piringan (datar/cekung)

Geser beban pemberat ke titik nol

Putar sekrup pegas hingga lengan neraca dalam


keadaan mendatar

Hidupkan pompa dan atur debit sesuai dengan yang ! Pastikan pancaran fluida
diinginkan yang keluar menumbuk
piringan dan membuat
lengan neraca tidak
Atur posisi beban pemberat hingga neraca dalam keadaan mendatar
seimbang kembali

Catat simpangan pemberat terhadap


posisi semula (y)

Ukur debit air berdasarkan prinsip bangku hidraulik

Tidak Sudah didapat


8 macam posisi
pemberat?

Ya

Tidak Sudah semua Ya


piringan Selesai
dicoba?

Gambar 1.5 Diagram alir prosedur kerja praktikum tumbukan akibat pancaran fluida

6
1.5 Pengambilan Data
Untuk mengambil data, gunakan formulir pengamatan yang terdapat pada bagian akhir modul dan
gunakan panduan tabel di bawah ini:

Tabel 1. 1 Spesifikasi Data yang Diambil Selama Percobaan


Data
No Lembar Data Simbol Sat. Jumlah Data Total Keterangan
yang Diambil
Waktu dan
berat beban
Sesuai hasil
untuk
Pengukuran pengukuran
1 perhitungan t detik 10 saat percobaan
Debit dengan
debit pada dengan piringan
stopwatch
bangku datar
hidraulik +
10 saat percobaan Diukur
dengan piringan berdasarkan
Besarnya
cekung skala
bacaan
Pergeseran (sesuai jumlah pengamatan
2 pergeseran Y mm
beban percobaan) pada alat atau
beban akibat
dengan alat
pancaran fluida
ukur lain yang
sesuai

7
1.6 Pengolahan Data
Tabel 1. 2 Langkah-langkah Pengolahan Data
Formulir Pengamatan Nama
No Langkah Keterangan
Acuan Gambar/Grafik
1 Menghitung debit air (Q) Perhitungan
menggunakan prinsip
bangku hidraulik.
2 Menghitung kecepatan Gunakan rumus 2.6.
air (v) yang keluar dari Tabel data
nozzle
3 Menghitung kecepatan Gunakan rumus 2.7.
air yang menumbuk
piringan (v0)
4 Menghitung Fhitung Gunakan rumus 2.3
untuk piringan datar
dan 2.4 untuk piringan
cekung.
5 Menghitung Fukur Tabel data Gunakan rumus 2.9.
6 Menghitung efisiensi Gunakan rumus:
piringan () = Fukur / Fhitung
7 Membuat grafik Fukur vs Tabel data serta hasil Gambar ini
Fhitung perhitungan. menjadi Grafik
Menggunakan fungsi
2.1 Grafik Fukur
chart tipe scatter pada
vs Fhitung
program Microsoft
8 Menggambar Fukur vs W Lembar data dan hasil Gambar ini
Excel atau sejenis
perhitungan menjadi Grafik
dengan intercept = 0
2.2 Grafik Fukur
vs W

8
1.7 Analisis Data
Tabel 1. 3 Grafik dan Analisis
No. Grafik Hal-hal yang Perlu Dianalisis
1 Grafik 2.1 Fukur vs Fhitung Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Perbandingan Fukur dan Fhitung.
2 Grafik 2.2 Fukur vs W Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Hubungan Fukur dan W.

1.8 Kesimpulan
Buatlah kesimpulan yang mengacu pada tujuan praktikum dan saran untuk perbaikan di masa
mendatang.

1.9 Daftar Pustaka


Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. 1975. Fluid Mechanics. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha,
Ltd.

9
FORMULIR PENGAMATAN
Modul I : TUMBUKAN AKIBAT PANCARAN FLUIDA
Praktikan : Mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan ITB
No. Kelompok : .. Lembar 1/1
No Nama NIM Paraf TANGGAL PRAKTIKUM
1
2 Asisten :
3
4
5
TANGGAL TERAKHIR PEMASUKAN LAPORAN : ()

Data alat :
Diameter nozzle = 10 mm
Luas penampang nozzle (Ao) = 78.5 mm2
Massa beban pemberat = 0.610 kg
Jarak as piringan ke engsel tuas = 0.1525 m
Jarak nozzle ke piringan = 37 mm

Piringan : Datar (Lingkaran)


Pengukuran Debit Pergeseran Pengukuran Debit Pergeseran
No. Jam Waktu Berat Debit beban No. Jam Waktu Berat Debit Beban
Perco T W Q Y Perco T W Q Y
baan (detik) (kg) (l/s) (mm) baan (detik) (kg) (l/s) (mm)
1 6
2 7
3 8
4 9
5 10

Piringan : Cekung (Setengah bola)


Pengukuran Debit Pergeseran Pengukuran Debit Pergeseran
No. Jam Waktu Berat Debit beban No. Jam Waktu Berat Debit Beban
Perco T W Q Y Perco T W Q Y
baan (detik) (kg) (l/s) (mm) baan (detik) (kg) (l/s) (mm)
1 6
2 7
3 8
4 9
5 10

10
MODUL II
ALIRAN MELALUI VENTURIMETER

2.1 Pendahuluan
2.1.1 Latar Belakang
Debit dan kecepatan aliran penting untuk diketahui besarnya dalam melakukan penelitian fluida.
Untuk itu, digunakan alat untuk mengukur debit cairan, salah satunya adalah menggunakan prinsip-
prinsip Bernoulli dan kontinuitas pada pipa tertutup yang diaplikasikan melalui alat bernama
venturimeter. Dengan demikian, venturimeter adalah alat untuk mengukur debit cairan yang melalui
pipa tertutup. Melalui pengamatan pada venturimeter, dapat dibuktikan pula persamaan Bernoulli
dan kontinuitas.

Gambar 2. 1 Venturimeter

2.1.2 Tujuan
Tujuan percobaan ini adalah:
1. Menunjukkan pengaruh perubahan penampang terhadap tinggi garis hidraulik pada masing-
masing manometer.
2. Menentukan koefisien pengaliran pada alat venturimeter yang digunakan.

2.2 Alat-alat Percobaan


a. Alat venturimeter
b. Stopwatch

11
c. Bangku Hidraulik
d. Beban counterweight pada bangku hidraulik

Data alat:

Diameter pipa di manometer A DA = 26 mm

Diameter pipa di manometer D DD = 16 mm

Piezometer tubes

Gambar 2. 2 Perangkat Venturimeter

2.3 Landasan Teori

Venturimeter menggunakan prinsip Bernoulli dan kontinuitas dengan mengandalkan perbedaan luas
penampang yang dapat mengakibatkan perbedaan kecepatan. Perbedaan luas penampang dari
diameter yang lebih besar menjadi lebih kecil kemudian membesar lagi dilakukan seperlahan atau
seideal mungkin untuk menghindari terjadinya kehilangan tinggi tekan akibat ekspansi atau kontraksi
tiba-tiba. Jika dipasang piezometer pada bagian-bagian penampang yang berbeda-beda, akan
terlihat perbedaan ketinggian sebagai wujud dari perbedaan tekanan air yang melewati penampang.
Penerapan teori dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:

12
Untuk meninjau penampang a1 dan a2:

Gambar 2. 3 Kondisi Ideal Venturimeter

Penampang pada bagian upstream akan dinamakan a1, pada leher disebut a2, dan pada bagian
selanjutnya (bagian ke-n) disebut an. Ketinggian atau head pada pembuluh piezometer akan disebut
h1, h2, hn. Dalam kasus ini diasumsikan tidak terjadi kehilangan energi sepanjang pipa, dan kecepatan
serta head piezometrik (h) konstan sepanjang bidang tertentu.

Berdasarkan Hukum Bernoulli (persamaan 3.1) dan hukum kontinuitas (persamaan 3.2), akan
didapat persamaan untuk menghitung debit Q (pers 3.3) dengan koefisien pengaliran pada alat
venturimeter adalah c. Nilai c berbeda-beda pada setiap alat venturimeter.

Persamaan Bernoulli:

P1V12 P2 V22 Pn Vn2


Z1 Z2 Zn (2.1)
2.g 2.g 2.g

Persamaan Kontinuitas:

A1 .V1 A2 .V2 (2.2)

Hasil dari gabungan persamaan Bernoulli dan kontinuitas akan menghasilkan persamaan
perhitungan debit pada venturimeter, sebagai berikut:

13
2.g .(h h ) (2.3)
Q c. A . 1 2

A
2 2

1 2

A 1

2.4 Prosedur Kerja


1. Pastikan bangku hidraulik dalam keadaan mati dan air pada bak kecil sudah dibuang.
2. Kalibrasikan tinggi piezometer sesuai dengan skalanya dengan cara menekan katup udara di atas
piezometer perlahan-lahan sampai ketinggian setiap piezometer sama dan berada dalam skala
pengamatan. Jika tinggi air di piezometer sudah lebih rendah dari skala pengamatan, nyalakan
bangku hidraulik sebentar dan bukalah kran suplai air perlahan-lahan sampai air naik. Setelah air
berada pada ketinggian yang tepat, matikan lagi bangku hidraulik.
3. Mulailah menyalakan bangku hidraulik, bukalah kran suplai air perlahan-lahan dan sedikit demi
sedikit serta kran kontrol aliran seluruhnya sampai didapat debit yang dialirkan menghasilkan
selisih ketinggian maksimum dari masing-masing piezometernya tetapi di dalam skala
pengamatan.
4. Amatilah perbedaan ketinggian yang terjadi dan catatlah ketinggian air pada tiap piezometer.
Kemudian, hitunglah perbedaan ketinggian piezometer h1 dan h2, di mana h1 = tinggi skala
piezometer di titik A dan h2 = tinggi skala piezometer di titik D seperti pada gambar.
5. Bersamaan dengan proses pengamatan, perhatikanlah kondisi bangku hidraulik. Jika tempat
pemasangan beban mulai terangkat, pasanglah beban dan mulailah pengukuran waktu dengan
cara menekan stopwatch. Setelah tempat pemasangan beban yang sudah dipasang beban mulai
terangkat lagi, matikanlah stopwatch. Waktu tersebut akan menjadi acuan perhitungan debit.
6. Setelah data didapat, tutuplah kran kontrol aliran dan matikan bangku hidrolik. Dapat terlihat
bahwa ketinggian piezometer akan kembali sejajar.
7. Putar kembali kran suplai air secara perlahan untuk mendapatkan debit yang lebih kecil dari
debit sebelumnya dan nyalakan kembali bangku hidraulik.
8. Ulangi langkah 4 7 hingga didapat data untuk delapan debit yang berbeda, dengan syarat besar
debit harus masih dapat memberikan perbedaan ketinggian yang tampak jelas pada tiap
piezometer (debit tidak terlalu kecil).
9. Setelah data selesai diambil, catatlah juga nilai koefisien pengaliran (c) pada alat venturimeter
tersebut yang tertera pada bagian belakang alat.

14
Prosedur kerja tersebut dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini:

Mulai

Pastikan bangku hidraulik mati dan air pada bak ! Untuk debit pertama,
kecil sudah dibuang buka kran suplai debit
sampai selisih ketinggian
piezometer maksimum
yang masih dalam skala
pengamatan
Kalibrasi piezometer

Jalankan bangku hidraulik

Ukur debit air berdasarkan prinsip bangku hidraulik

Baca dan catat skala manometer


untuk masing-masing piezometer

Tutup kran kontrol aliran dan matikan bangku


hidraulik

Sudah didapat Ya
8 debit yang Selesai
berbeda?

Tidak
Putar kembali kran suplai air agar debit semakin
mengecil

Gambar 2.4 Diagram alir prosedur kerja praktikum aliran melalui venturimeter

15
2.5 Pengambilan Data

Untuk mengambil data, gunakan formulir pengamatan yang terdapat pada bagian akhir modul dan
gunakan panduan tabel di bawah ini:

Tabel 2. 1 Spesifikasi Data yang Diambil Selama Percobaan

Lembar Data
No. Simbol Sat. Jumlah Data Total Keterangan
Data yang Diambil
Waktu untuk
Sesuai hasil
perhitungan 8
Pengukuran pengukuran
1 debit pada t detik (sesuai jumlah
Debit dengan
bangku percobaan)
stopwatch
hidraulik
Diukur
Ketinggian air berdasarkan
Bacaan 11 x Jumlah
2 pada tiap h cm skala
Piezometer Percobaan = 88 titik
piezometer pengamatan
pada alat

Catatan:
Jumlah percobaan = 8 kali

2.6 Pengolahan Data


Pengolahan data dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini:
Tabel 2. 2 Langkah-langkah Pengolahan Data

No. Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama


Acuan Gambar/Grafik
1 Menghitung debit Pengukuran Waktu untuk Lihat Lampiran
aktual (Q) Debit Bangku Hidraulik Bangku Hidraulik.
2 Menghitung Gunakan rumus 2.3
koefisien untuk semua nilai
pengaliran (c) debit yang berbeda.
3 Membuat grafik Q Menggunakan Grafik ini menjadi
vs c. fungsi chart tipe Grafik 2.1 Q vs c.
scatter

16
No. Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama
Acuan Gambar/Grafik
4 Membuat grafik Data Alat Menggunakan Grafik ini menjadi
yang Bacaan Piezometer fungsi chart tipe Grafik 2.2 Tinggi
menggambarkan line, sumbu x Bacaan
ketinggian air pada menyatakan nama Piezometer.
tiap piezometer atau huruf tiap
untuk setiap nilai piezometer dan
debit yang sumbu y
berbeda. menyatakan
ketinggiannya.

2.7 Analisis Data

Dari hasil perhitungan sebelumnya, lihatlah kembali grafik-grafik yang telah dibuat dan lakukanlah
analisis sebagai berikut:
Tabel 2. 3 Grafik dan Analisis

No. Grafik Hal-hal yang Perlu Dianalisis


1 Grafik 3.1 Q vs c Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Hubungan Q dan c.
Perbandingan nilai c yang didapat dari
perhitungan dengan yang tertera pada alat
venturimeter untuk percobaan.
2 Grafik 3.2 Tinggi Bacaan Piezometer Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Hubungan tinggi bacaan pada piezometer
dengan diameter tiap bagian venturimeter.

2.8 Kesimpulan

Buatlah kesimpulan yang mengacu pada tujuan praktikum dan saran untuk perbaikan di masa
mendatang.

2.9 Daftar Pustaka

Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. 1975. Fluid Mechanics. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha,
Ltd.

17
FORMULIR PENGAMATAN
Modul II : ALIRAN MELALUI VENTURIMETER

Praktikan : Mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan ITB

No. Kelompok : . Lembar 1/1

No Nama NIM Paraf TANGGAL PRAKTIKUM

2 Asisten :

TANGGAL TERAKHIR PEMASUKAN LAPORAN : ()

Data alat :

No. Tabung
Piezometer A B C D E F G H J K L
(h1) (h2)

Diameter

(mm) 26.00 23.20 18.40 16.00 16.80 18.47 20.16 21.84 23.53 25.24 26.00

Nilai Koefisien Pengaliran (c)

Bacaan Piezometer

Ketinggian Air pada Tabung (cm)


Pengukuran Waktu
No. untuk Debit
A B C D E F G H J K L
Percobaan Bangku Hidraulik
(detik) (h1) (h2)

18
Modul III

Aliran Melalui Orifice

3.1 Pendahuluan
3.1.1 Latar Belakang

Seringkali terjadi ketika fluida lewat melalui sebuah penyempitan seperti lubang berujung tajam atau
di atas ambang, aliran berkurang jumlahnya bila dihitung dengan asumsi bahwa energi bersifat kekal
dan aliran yang melalui penyempitan dan menerus sepanjang aliran tersebut, daripada perhitungan
kehilangan energi.

Dalam percobaan ini, akan ditentukan besarnya reduksi pada aliran, kontraksi aliran, dan kehilangan
energi, pada aliran air ke udara dari orifice ujung tajam pada dasar tangki.

Gambar 3.1 Orifice Apparatus

3.1.2 Tujuan
1. Mengukur dan menghitung besarnya reduksi aliran yang terjadi yang dilambangkan dengan
koefisien aliran (Cd)
2. Mengukur dan menghitung koefisien kontraksi (Cc) dan koefisien kecepatan (Cu)
3. Menentukan hubungan antara debit aliran (Q) dengan muka air pada orifice (Ho)

3.2 Alat-Alat Praktikum


1. Orifice Apparatus
2. Bangku Hidraulik (tangki timbangan dan anak timbangan)

19
3. Pipa Pitot
4. Pengukur Waktu (Stop Watch)

3.3 Landasan Teori

Orifice apparatus menggunakan prinsip Bernoulli dan kontinuitas dimana fluida mengalir melalui
celah kecil yang mengakibatkan terjadinya kontraksi pada aliran dan kehilangan energi. Kehilangan
energi ini akan dapat terlihat pada perbedaan tinggi fluida pada selang pengamatan.

Penerapan teori dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :

3.3.1 Menentukan Besarnya Debit

Besarnya debit dapat diperoleh dengan rumus


Q= m3/detik (3.1)
1000

Dimana:

W : berat air yang dikumpulkan (Kg)


T : interval waktu kesetimbangan beban (detik)
Q : debit air (m3/detik)

3.3.2 Menentukan Koefisien Kecepatan (Cu)

Perhatikan gambar di bawah ini:


M

Ao Ho
Hc

Ac

Gambar 3.2 Sketsa Aliran Melalui Orifice

20
Dengan menggunakan persamaan Bernoulli maka tinggi total yang terjadi di M dan N adalah:

2 2
+ + = + + (3.2)
2 2

Dimana:

V = Kecepatan pada suatu titik tersebut


G = Gravitasi
P = Tekanan yang terjadi pada suatu titik
Z = Ketinggian suatu titik dari datum yang diambil

Pada keadaan ini, tekanan atmosfer di M dan N sama dan kecepatan di M sangat kecil sehingga
dapat diabaikan. Dengan menurunkan persamaan Bernoulli di atas kita akan mendapatkan koefisien
kecepatan.

Dengan memperhatikan definisi Koefisien kecepatan (Cu) yang merupakan rasio antara kecepatan
aktual (Vc) dengan kecepatan ideal (Vo) didapatkan


Cu = = (3.3)

Dimana:

Hc = Tinggi aliran pada alat ukur pipa pitot (mm)


Ho = Tinggi aliran pada alat ukur pipa orifice (mm)

3.3.3 Menentukan Koefisien Kontraksi (Cc)

Koefisien kontraksi (Cc) merupakan rasio antara potongan melintang vena contracta (Ac) dengan
potongan melintang orifice (Ao) (seperti pada gambar), sehingga:


Cc = (3.4)

Dimana:

Ac = luas potongan melintang semburan jet (m2)


Ao = luas potongan melintang orifice (m2)

3.3.4 Menentukan Koefisien Aliran (Cd)

Koefisien aliran (Cd) merupakan rasio antara debit aktual (Q) dengan debit yang terjadi bila aliran
semburan pada kecepatan ideal tanpa terjadi penyempitan permukaan (Qo). Debit aktual Q adalah:

Q = Vc.Ac (3.5)

21
Dan, jika semburan aliran pada kecepatan ideal (Vo) yang melewati daerah orifice (Ao), maka debit
Qo menjadi:

Qo = Vo.Ao (3.6)

Jadi, dari definisi tentang koefisien aliran didapat:

.
Cd = = (3.7)
.

Atau eksperimen pengukuran kuantitas:

1
Cd = . (3.8)
2..

Dari persamaan-persamaan diatas didapatkan:

Cd = Cu.Cc (3.9)

(Pelajari penurunan rumus di atas!)

3.4 Prosedur Percobaan


1. Air dibiarkan mengalir mengisi tangki sampai di atas ketinggian pipa pengalir kelebihan air di
bagian atas, dan air yang masuk diatur sehingga aliran bersifat konstan yang diperhatikan
melalui aliran yang keluar.
2. Mengumpulkan dan mengukur berat air melalui tangki timbangan.
3. Mencatat waktu pengukuran selama selang waktu tertentu yaitu di antara tangki timbangan naik
saat pertama (sebelum diberi beban) dan naik untuk kedua kalinya (setelah diberi beban).
4. Mengukur dan mencatat nilai Ho pada orifice.
5. Mengukur dan mencatata nilai Hc dengan menggunakan pipa pitot yang dimasukkan dalam
semburan yang keluar pada bagian bawah tangki.
6. Mengukur dan mencatat diameter semburan yang terjadi pada venan contracta dengan
menggunakan pipa pitot yang pada kepalanya dilekatkan bilah berujung tajam. Pengukuran
dilakukan dengan mengukur jarak terluar dan jarak terdalam semburan (X1-X2).
7. Dalam suatu percobaan dilakukan pengulangan langkah-langkah di atas beberapa kali dengan
memperhatikan ketinggian yang terjadi baik Hc maupun Ho selama mengumpulkan air dan
mencatat nilai rata-rata selama selang waktu tertentu.
8. Aliran masuk diubah dengan cara memperkecil air yang masuk.
9. Percobaan dilakukan beberapa kali sampai datra yang diambil cukup menentukan hubungan
antara debit dengan tinggi total orifice (Ho)
10. Setelah selesai, ukur diameter orifice dan hitung luas potongan melintang orifice (Ao).

22
Prosedur kerja tersebut dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini :

Mulai

Pastikan bangku hidraulik mati dan air pada bak ! Jangan sampai air pada
kecil sudah dibuang tabung orifice melebihi
batas skala pembacaan
dan melebihi tabung
Jalankan bangku hidraulik pembuangan.

Ukur debit air berdasarkan prinsip bangku hidraulik

Tunggu hingga aliran pada tabung orifice konstan

Baca dan catat skala ketinggian Ho


dan Hc, ukur diameter aliran

Sudah didapat Ya
8 debit yang Selesai
berbeda?

Tidak
Putar kembali kran suplai air agar debit semakin
mengecil

Gambar 3.3 Diagram Alir Prosedur Kerja Praktikum Aliran Melalui Orifice

3.5 Pengambilan Data

Untuk mengambil data, gunakan formulir pengamatan yang terdapat pada bagian akhir modul dan
gunakan panduan table dibawah ini :

23
Tabel 3.1 Spesifikasi Data yang Diambil Selama Percobaan

Lembar Data
No. Simbol Sat. Jumlah Data Total Keterangan
Data yang Diambil
Waktu untuk
Sesuai hasil
perhitungan 8
Pengukuran pengukuran
1 debit pada t detik (sesuai jumlah
Debit dengan
bangku percobaan)
stopwatch
hidraulik
Diukur
Pengukuran Ketinggian
berdasarkan
Ketinggian fluida pada Ho dan 8 (sesuai jumlah
2 mm skala
permukaan selang Ho dan Hc percobaan)
pengamatan
fluida Hc
pada alat
Diukur
Pengukuran Diameter aliran berdasarkan
8 (sesuai jumlah
3 diameter yang keluar Ac mm skala
percobaan)
aliran dari orifice pengamatan
pada alat

Catatan :
Jumlah percobaan = 8 kali

3.6 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini :

Tabel 3.2 Langkah-langkah Pengolahan Data

No. Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama


Acuan Gambar/Grafik
1 Menghitung debit Pengukuran Waktu untuk Lihat Lampiran
aktual (Q) Debit Bangku Hidraulik Bangku Hidraulik.

2 Mengukur dan Pembacaan skala pada


mencatat nilai Ho alat
dan Hc
3 Menghitung luas Pengukuran diameter

24
No. Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama
Acuan Gambar/Grafik
penampang aliran aliran (X1 dan X2)
aktual (Ac)
4 Menghitung Gunakan rumus 3.3
koefisien untuk semua nilai
kecepatan (Cu) debit yang berbeda.
5 Menghitung Gunakan rumus 3.4
koefisien kontraksi untuk semua nilai
(Cc) debit yang berbeda
6 Menghitung Gunakan rumus 3.7
koefisien aliran atau 3.9
(Cd)
7 Membuat grafik Q Menggunakan Grafik ini menjadi
vs Ho0.5 fungsi chart tipe grafik 3.1 Q vs
scatter Ho0.5

3.7 Analisis Data

Dari hasil perhitungan sebelumnya, lihatlah kembali grafik-grafik yang telah dibuat dan lakukanlah
analisis sebagai berikut :

Tabel 3.3 Grafik dan Analisis

No. Grafik Hal-hal yang Perlu Dianalisis


1 Grafik 3.1 Q vs c Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Hubungan Q dan Ho0.5.
Selidiki hubungan Cd, Cu, dan Cc.
Kesimpulan grafik.

3.8 Kesimpulan

Buatlah kesimpulan yang mengacu pada tujuan praktikum dan saran untuk perbaikan di masa
mendatang.

3.9 Daftar Pustaka


Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. 1975. Fluid Mechanics. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha,
Ltd.

25
FORMULIR PENGAMATAN
Modul III : ALIRAN MELALUI ORIFICE

Praktikan : Mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan ITB

No. Kelompok : . Lembar 1/1

No Nama NIM Paraf TANGGAL PRAKTIKUM

2 Asisten :

TANGGAL TERAKHIR PEMASUKAN LAPORAN : ()

Data Alat :
Diameter orifice = 13 mm
Tipe = Orifice Tajam

No. Massa
Waktu (t) Ho Hc X1 X2
Percobaan Beban (kg)

26
MODUL IV

KESTABILAN BENDA TERAPUNG

4.1 Pendahuluan
4.1.1 Latar Belakang

Pengetahuan mengenai stabilitas benda terapung merupakan hal yang sangat penting. Layaknya
kapal yang mengambang di permukaan air, kondisi kestabilan, netral, dan ketidakstabilan kapal
tersebut dapat dinyatakan berdasarkan tinggi titik berat benda tersebut. Pada uji coba dalam
laboratorium, ponton yang merupakan bentuk pemodelan dari kapal. Ponton sendiri merupakan
kotak besi yang mengapung di air dan terdapat pemberat horizontal pada bagian badan yang sejajar
dengan permukaan ponton tersebut, untuk beban vertikal ditempatkan pada suatu tiang yang
berada di tengah kotak. Pada ujung tiang terdapat bandul yang disebut plumb-bob yang berfungsi
sebagai penentu besar sudut kemiringan pada plat skala. Dalam percobaan ini, stabilitas ponton
dapat diketahui berdasarkan titik beratnya pada ketinggian yang bervariasi.

Gambar 4.1 Alat Benda Terapung (Ponton)

4.1.2 Tujuan

Tujuan percobaan ini adalah :


1. Mengetahui prinsip-prinsip stabilitas benda terapung
2. Menentukan stabilitas suatu benda terapung
3. Membandingkan hasil analitis stabilitas benda terapung dengan hasil percobaan

27
4.2 Alat-Alat Praktikum
1. Ponton
2. Bejana air
3. Mistar
4. Busur derajat

Scale Marked Adjustable


in Degree Weight

Jockey Weight

Plumb Bob

Gambar 4.2 Sketsa Ponton

4.3 Landasan Teori

Pada ponton diterapkan hukum Archimedes dan prinsip kestabilan benda terapung. Pada ponton
terdapat dua gaya yang bekerja yaitu gaya berat ponton dan gaya apung fluida yang bekerja pada
ponton.

Sebuah ponton berbentuk kotak terapung dalam keadaan seimbang seperti pada gambar 4.2. Berat
benda terapung bekerja vertikal ke bawah melalui titik berat dan diimbangi oleh suatu gaya apung
yang memiliki besar yang sama dan bekerja berlawanan arah.

Untuk memeriksa sistem kestabilan benda ini dimisalkan terjadi sebuah perpindahan sudut yang
kecil sebesar d terhadap kesetimbangan awal seperti pada gambar 4.3. Titik berat zat cair berubah
dari kedudukan B menjadi B1. Garis vertikal gaya apung ditunjukkan pada gambar dan memotong
perpanjangan garis BG di titik M (Metasentris).

Gambar 4.3 juga menunjukkan bagaimana ketinggian metasentris GM dapat ditentukan secara
eksperimental dengan menggunakan beban horizontal (jockey weight) untuk memindahkan titik
berat dari G ke arah samping.

28
M
x
ds
d

G1 G
ds F
A1
L
C F1
A
B B1

dx

D G
Tampak Atas Tampak Depan
B

Tampak Depan

Gambar 4.3 Skema Benda Terapung

Bila perpindahan ini menghasilkan suatu posisi keseimbangan baru pada suatu sudut guling sebesar
d, maka pada gambar 4.3 G1 adalah posisi titik berat total yang baru.


= . (4.1)

Ketinggian metasentris GM dapat ditentukan dengan mengukur (dx1/d) untuk harga dan W yang
diketahui. BM dapat dihitung dari pengukuran dimensi ponton dan volume zat cair yang
dipindahkan. Berdasarkan gambar 4.3, dapat diketahui bahwa momen terhadap B akibat pergeseran
pusat apung ke B1 dihasilkan oleh penambahan gaya apung (digambarkan olehsegitiga AA1C) pada
salah satu sisi garis sumbu dan pengurangan gaya apung (digambarkan oleh FF1C) pada sisi yang lain.

Elemen yang berarsir pada gambar 4.3 memiliki luas sebesar ds pada tampak atasnya dan tinggi
sebesar x.d pada potongan vertikalnya sehingga volume elemen adalah x.d.ds.w (w adalah berat
jenis zat cair), ini adalah penambahan gaya apung akibat elemen.

Momen dari elemen gaya apung terhadap B adalah w.x2.ds.d sehingga momen pengembali
(restoring momen) total terhadap B adalah w.d x2.ds dimana integral meliputi seluruh luasan s dari
ponton yang terdapat pada permukaan air.

29
= x 2 . ds (4.2)

Yaitu momen kedua dari luas s terhadap sumbu X-X. (Cari I terhadap Y-Y!)
Restoring momen total terhadap B dapat juga dicari sehingga diperoleh persamaan :
. . 1 = . 2 . (4.3)

= 1 (4.4)

Untuk ponton berbentuk persegi panjang, B terletak pada suatu kedalaman di bawah permukaan air,
yaitu sama dengan setengah kedalaman total tercelupnya ponton dalam zat cair tersebut,
sementara I dinyatakan dalam hubungan dimensi ponton sebagai berikut :

/2 3
= 2 . = /2 2 . . = (4.5)
12

4.4 Prosedur Kerja


1. Mencatat berat masing-masing komponen yang ada pada ponton.
2. Mengukur dimensi ponton dengan mistar baja.
3. Menentukan tinggi titik berat total ponton dengan tinggi adjustable weight dengan cara sebagai
berikut :
a. Mengikat tali bandul pada plat skala sehingga plum bob tetap berada pada posisi normalnya.
b. Membalikkan ponton dan menahannya pada tiang dengan menggunakan penggaris baja
sambil menggeser adjustable weight sepanjang tiang ke posisi yang sesuai sampai ponton
stabil seperti pada gambar 4.3 dibawah ini. Catat jarak dasar ponton ke penggaris baja dan
jarak ke adjustable weight.
c. Mengukur tinggi titik berat dan adjustable weight pada prosedur b dari dasar ponton dengan
menggunakan mistar baja.
4. Meletakkan ponton di dalam air.
5. Menggeser jockey weight ke arah kiri dan kanan dan catat simpangannya untuk masing-masing
jarak.
6. Menggeser jockey weight ke arah kanan dan catat simpangannya untuk masing-masing jarak.
7. Percobaan no 1-6 diulang untuk ketinggian adjustable weight yang berbeda.

30
Prosedur kerja tersebut dapat digambarkan dalam diagram alir berikut ini:

Mulai

Ukur dimensi ponton (panjang, lebar, tinggi)

Catat berat total ponton, jockey weight, dan


adjustable weight

Atur ketinggian adjustable weight dan tentukan


titik berat vertikal ponton diukur dari dasar ponton

Geser jockey weight sebanyak 4 ruas ke kiri dan 4


ruas ke kanan

Baca dan catat skala kemiringan yang


ditunjukkan oleh plumb bob terhadap
skala derajat yang tertera pada setiap
pergeseran jockey weight

Sudah didapat data untuk Ya


8 kali pergeseran Selesai
adjustable weight?

Tidak

Geser kembali adjustable weight

Gambar 4.4 Diagram Alir Prosedur Kerja Praktikum Kestabilan Benda Terapung

4.5 Pengambilan Data

Untuk mengambil data, gunakan formulir pengamatan yang terdapat pada bagian akhir modul dan
gunakan panduan tabel dibawah ini.

31
Tabel 4.1 Spesifikasi Data yang diambil selama percobaan

Lembar Data
No. Simbol Sat. Jumlah Data Total Keterangan
Data yang Diambil
Jarak Diukur sesuai
Pergeseran 8
adjustable hasil
1 adjustable y1 mm (sesuai jumlah
weight dari pengukuran
weight percobaan)
dasar ponton mistar
Diukur sesuai
Penentuan Jarak titik berat 8 (sesuai jumlah
hasil
2 titik berat dari dasar G Mm pergeseran
pengukuran
ponton ponton adjustable weight)
mistar
Jarak
8 x 8 = 64 kali (8 kali Diukur sesuai
Pergeseran pergeseran
pergeseran untuk 1 hasil
3 jockey jockey weight x1 mm
kali pergeseran pengukuran
weight dari tengah
adjustable weight) mistar
ponton
Sudut
Diukur
simpangan 8 x 8 = 64 (8 data
Pengukuran berdasarkan
yang terjadi simpangan untuk 1
4 besar skala
akibat kali pergeseran
simpangan pengamatan
pergeseran adjustable weight)
pada alat
jockey weight

4.6 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini :

Tabel 4.2 Langkah-langkah Pengolahan Data

No Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama


. Acuan Gambar/Grafik
1 Menghitung Gunakan rumus
momen inersia (I) (4.2) atau (4.5)

2 Menghitung Vol. Hubungan massa


tercelup (V) dan massa jenis

32
No Langkah Formulir Pengamatan Keterangan Nama
. Acuan Gambar/Grafik
3 Menghitung BM Gunakan rumus
(4.4)
4 Menghitung Gunakan rumus
kedalaman
=

tenggelamnya
ponton
5 Menghitung titik Gunakan hubungan
pusat apung CB dengan Draught

6 Mencari koefisien Pergeseran adjustable Gunakan


A weight (y1) persamaan =


+ =
5.20

7 Menghitung nilai Pergeseran adjustable


y untuk setiap weight (y1)
posisi y1
8 Menghitung Pergeseran adjustable
tinggi G diatas weight (y1)
permukaan air
(CG)
9 Menggambarkan Gambar ini
sketsa letak y, y1, menjadi
C, G, M, dan B Gambar 4.5
10 Membuat grafik Grafik ini
CG vs dx/d menjadi grafik
4.1
11 Menghitung GM,
CM, dan CM rata-
rata

33
4.7 Analisis Data

Dari hasil perhitungan sebelumnya, lihatlah kembali grafik-grafik yang telah dibuat dan lakukanlah
analisis sebagai berikut :

Tabel 4.3 Grafik dan Analisis


No. Grafik Hal-hal yang Perlu Dianalisis
1 Grafik 4.1 CG vs dx/d Tujuan pembuatan grafik tersebut.
Menghitung dx/d dari grafik

4.8 Kesimpulan

Buatlah kesimpulan yang mengacu pada tujuan praktikum dan saran untuk perbaikan di masa
mendatang.

4.9 Daftar Pustaka


Streeter, Victor L., and Wylie, Benjamin E. 1975. Fluid Mechanics. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha,
Ltd.

34
FORMULIR PENGAMATAN
Modul IV : KESTABILAN BENDA TERAPUNG

Praktikan : Mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan ITB

No. Kelompok : . Lembar 1/1

No Nama NIM Paraf TANGGAL PRAKTIKUM

2 Asisten :

TANGGAL TERAKHIR PEMASUKAN LAPORAN : ()

Data alat
Berat total benda terapung (W) = 2.6kg
Berat jockey weight = 0.2 kg
Berat adjustable weight = 0.5 kg
Tinggi ponton = 360 mm

Pengamatan : Besar sudut kemiringan ()

Posisi Posisi beban horizontal x1 (mm)


Titik
beban Simpangan Arah Negatif Netral Simpangan Arah Positif
No. berat
vertikal
(mm) 0
(mm)
1 0
2 0
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 0

35
LAMPIRAN
PRINSIP BANGKU HIDRAULIK

1.1 Latar Belakang


Bangku hidraulik adalah alat yang digunakan sebagai suplai air sekaligus untuk menghitung debit air
yang melalui suatu alat percobaan dalam Mekanika Fluida. Bangku hidraulik sendiri adalah alat yang
sangat penting dalam percobaan Mekanika Fluida karena hampir setiap percobaan membutuhkan
nilai debit air. Pada modul praktikum ini, modul I, II, dan III menggunakan bangku hidraulik ini untuk
mengukur debit.

1.2 Tujuan
1. Mampu mengoperasikan bangku hidraulik
2. Mengetahui prinsip kerja dan perhitungan dari bangku hidraulik

1.3 Dasar Teori


Bangku hidraulik yang digunakan dalam praktikum Mekanika Fluida ini adalah Hydraulic Bench. HI
MkIII. Diagram bangku hidraulik ini dapat dilihat pada Gambar 1.1:

3L L

Gambar 1.1 Representasi Diagram Bangku Hidraulik HI MkIII

36
Keterangan gambar
A : Tempat pemasangan beban
B : Kran pengatur debit air
C : Pompa
D : Tuas pengungkit
E : Bak penimbang air
F : Bak penyimpan air
G : Pipa pengaruh ke bak penampung
H : Selang dari pompa
I : Batang antara beban dan bak penimbang
J : Engsel

Air disuplai dari pompa C melalui selang penghubung menuju katup B. Suplai air diatur dengan
mengatur bukaan katup B. Air kemudian masuk ke dalam alat percobaan dan kemudian keluar
melalui corong H dan terus ke pipa G. Air tersebut masuk kedalam bak penimbang air E. Bak
penampung ini ditahan dengan bak penimbang. Pada ujung balok lainnya terdapat pemberat yang
digantung. Pada saat bak penampung kosong, maka berat bak dikali lengan beban bak sama dengan
berat pemberat dikali lengan beban pemberat. Dengan prinsip keseimbangan momen, maka didapat
rumus untuk menghitung debit air, yaitu:
3W
Q=
t
Q = debit air (m3/s)
W = berat air yang dikumpulkan (kg)
= massa jenis air (kg/m3)
t = interval waktu kesetimbangan beban (detik)

1.4 Prosedur Pengukuran Debit :


1. Kosongkan bak penimbang dengan jalan memutar tuas pada bangku hidraulik. Tuas ini berguna
untuk membuka dan menutup saluran pembuang pada bak penimbang. Setelah dikosongkan,
pastikan tuas dalam posisi menutup bak penimbang dan balok penopang dalam keadaan tak
seimbang.
2. Pastikan alat percobaan sudah dikalibrasi dan siap digunakan.
3. Jalankan pompa dan atur debit sesuai dengan yang diinginkan dengan jalan memutar katup V.
4. Air yang keluar dari alat percobaan masuk ke dalam bak penimbang hingga t waktu. Pada saat
tersebut balok penopang akan naik (setimbang lagi). Tepat pada saat balok penimbang mulai

37
naik, mulailah menyalakan stopwatch, kemudian masukkan beban ke dalam penggantung beban
sehingga balok tak seimbang.
5. Saat balok penimbang mulai naik (setimbang), hentikan stopwatch dan catat waktu tersebut
sebagai t. Catat juga massa beban yang sebanding dengan massa air (W).
6. Untuk pengukuran debit selanjutnya, ulangi langkah 1 sampai 5. Perlu diingat untuk tiap
percobaan sediakan interval waktu 1 menit setelah langkah 1 agar diperoleh pengukuran yang
cermat.

Diagram alir dari prosedur penggunaan bangku hidraulik adalah :

Mulai

Kosongkan bak penimbang

Pastikan tuas dalam posisi menutup bak penimbang


dan balok penopang dalam keadaaan tak seimbang

Pastikan alat percobaan sudah dikalibrasikan dan


siap digunakan

Jalankan bangku hidraulik dan atur debit sesuai


dengan yang diinginkan

Tepat saat balok penimbang mulai naik,


mulailah menyalakan stopwatch
! Lakukan sesegera
mungkin
Masukkan beban ke dalam penggantung beban

Saat balok penimbang mulai naik (seimbang),


hentikan stopwatch

Saat balok penimbang mulai naik (seimbang),


hentikan stopwatch

Catat waktu tersebut sebagai t dan


massa beban yang sebanding dengan
massa air sebagai W

Selesai

Gambar 1.2 Diagram alir prosedur kerja penggunaan bangku hidraulis

38
1.5 Pengambilan Data
Data yang harus diambil dari percobaan ini adalah massa air dan waktu. Kedua parameter tersebut
dicari untuk mengetahui nilai debit yang dihasilkan.

1.6 Pengolahan Data


Setelah massa air dan waktu telah diketahui, hitung nilai debit berdasarkan rumus yang telah
diberikan di atas.

1.7 Analisis
Turunkan bagaimana rumus di atas didapatkan.

1.8 Kesimpulan
Tulis kesimpulan dan saran-saran untuk kemajuan praktikum di masa mendatang.

Gambar 1.3 Bangku Hidraulik

39