Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 State of the Art


Annisa Fainnaka dan Nur Fitri Indah K, dalam papernya yang berjudul
Analisis Kesesuaian Lahan Untukperkebunan Tanaman Kakao (Theobroma
Cacaol.) menjelaskan Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi
tinggi. Tanamanyang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang
tahun. Karena itulahbanyak petani kepincut membudidayakannya. Kakao atau
Theobroma cacao L.,merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok
dengan kultur tanah dan iklim diIndonesia. Agar dapat tumbuh dengan optimal maka
perlu dilakukan penilaian kesesuaianlahan untuk tanaman kakao ini dimana kita perlu
memperhatikan data curah hujan, datakelerengan dan data jenis tanah selain
itu kita juga perlu memperhatikan kondisidrainase, PH tanah dan juga
kepekaan terhadap erosi. Kemudian data tersebut kitagunakan untuk
melakukan analisis kesesuaian lahan menggunakan teknik
overlaymenggunakan banuan software arcgis. Setelah itu kita dapat lokasi yang
sesuai untukperkebunan kakao tersebut
Sementara itu menurut Dwi E. Saputri dalam penelitiannya yang berjudul
Analisis Kemampuan Lahan Dengan Menggunakan Penginderaan Jauh Dan Sistem
Informasi Geografi Di Das Grindulu Pacitan Propinsi Jawa Timur, menjelaskan,
Kakao cocok ditanam pada daerah daerah yang berada pada 100LU sampai dengan
100LS. Hal tersebut berkaitan dengan distribusicurah hujan dan jumlah penyinaran
matahari sepanjang tahun. Curahhujan yang tepat antara 1.100 3.000 mm/tahun,
dengan suhu 30 320C (maksimum) dan 18 210C (minimum). Cahaya matahari
yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan menyebabkan lilit batang kecil,
daun sempit, dan tanaman relatif pendek. Berdasarkan keadaan iklim di Indonesia,
suhu udara 25/260C merupakan suhu udara rata rata tahunan tanpa faktor pembatas.
Karena itu, daerah daerah tersebut sangat cocok jika ditanami kakao.
2.2 Remote Sensing (Pengindraan Jauh)
Penginderaan jauh didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang
suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut (Rees,
2001; Elachi, 2006). Informasi diperoleh dengan cara deteksi dan pengukuran
berbagai perubahan yang terdapat pada lahan dimana obyek berada. Proses tersebut
dilakukan dengan cara perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan atau
dipancarkan, memproses, menganalisa dan menerapkan informasi tersebut. Informasi
secara potensial tertangkap pada suatu ketinggian melalui energi yang terbangun dari
permukaan bumi, yang secara detil didapatkan dari variasi-variasi spasial, spektral
dan temporal lahan tersebut (Landgrebe, 2003).
Variasi spasial, spektral dan temporal memberikan tambahan informasi yang
saling melengkapi. Sebaran bentukan garis lurus yang membentuk jalur-jalur
memberikan informasi terdapatnya suatu aktifitas dilokasi tersebut. Bentukan-
bentukan teratur yang menyerupai rumah menambah informasi bahwa lokasi tersebut
juga menjadi tempat tinggal. Dua informasi tersebut berasal dari adanya variasi
spasial obyek pada citra. Warna merah kecoklatan memperjelas pembedaan kumpulan
obyek rumah dengan lokasi lahan bertutupan vegetasi yang berwarna hijau.
Tambahan informasi ini berasal dari adanya variasi spektral yang dapat secara detil
menambah akurasi identifikasi obyek. Perubahan jumlah obyek pada satu lokasi yang
terdapat pada dua atau lebih citra akan memberikan informasi tentang pertumbuhan
fenomena di lokasi tersebut. Informasi pada suatu lokasi yang sama dari dua citra
yang berbeda waktu perekamannya memberikan informasi multi temporal. Informasi
multi temporal ini sangat bermanfaat dalam menganalisis perubahan fenomena yang
terjadi pada rentang waktu tertentu di lokasi tersebut.
2.2.1 Pemotretan udara (Airborne Sensing)
Pemotretan udara merupakan teknik penginderaan jauh konvensional yang
hingga kini peranannya belum dapat tergantikan oleh sistem lainnya dalam
memberikan kerincian data permukaan bumi, kecuali kini adanya IKONOS, yang
masih perlu evaluasi aplikasinya di Indonesia. Para interpreter telah terbiasa dengan
pengenalan hasil pemotretan tegak yang dihasilkan (foto udara). Foto udara makin
terkenal ketika digunakan dalam Perang Dunia I, untuk merekam pergerakan lawan.
Foto udara menyajikan gambar yang jelas, mudah ditafsirkan dan bermanfaat untuk
kajian yang berkaitan dengan muka bumi.
Berdasarkan jenis film yang digunakan, foto udara dibedakan manjadi foto
udara pankromatik, inframerah, ultra violet dan ortrokromatik. Penginderaan dengan
cara ini bersifat manual, baik sistem, data dan cara interpretasinya. Sistem
hyperspektral (CASI, The MAP), memunculkan fenomena baru dalam penginderaan
ini, karena sifat spektral obyek dapat dicermati menjadi lebih rinci. Small format
photography berskala 1:5000 atau lebih besar, biaya relatih murah (Rp.20.000,-/Ha),
menawarkan produk lain yang lebih kompetitif pada era otonomi daerah ini. Adanya
scanner yang berfungsi konversi data analog ke digital, teknik interpretasi interaktif
telah berkembang baik untuk obyek muka dan dalam bumi.
2.2.2 Penginderaan Jauh Satelit (Spaceborne Sensing)
Penginderaan jauh satelit menggunakan satelit sebagai kendaraan untuk
membawa sensor dalam rangka penginderaan bumi pada ketinggian ratusan hingga
ribuan kilometer. Penginderaan dengan satelit bersifat otomatik dengan sistem orbit
sunsynchronous : pemotretan teratur, pengiriman data secara elektronik, analisis data
secara digital. Jenis satelit yang digunakan untuk inventarisasi dan evaluasi bencana
alam misalnya adalah Landsat (Multispektral Scanner, Thematic Mapper), System
Pour l'Observation de la Terre (SPOT), Marine Observation Satelite (MOS), National
Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Geometeorological Satellite
(GMS), Barkara, ERS-1, JERS-1, ALMAZ-1, IRS, ADEOS.
Kemampuan memberikan satuan data terkecil di permukaan bumi disebut
resolusi spasial, yakni sama dengan ukuran obyek yang ditampilkan sebagai satu
unsur gambar (pixel). Satelit Landsat MSS memiliki resolusi spasial sebesar 80 x 80
m2, Thematic Mapper sebesar 30 x 30 m2 sedang SPOT sebesar 20 m x 20 m2 untuk
sensor dengan panjang gelombang multispektral (multispectral mode) dan 10 m x 10
m2 untuk panjang gelombang tampak mata (panchromatic mode). Satelit NOAA
beresolusi spasial 1 km2 (LAC) dan 9 km2 (GAC).
Periode ulang di dalam mengindera permukaan bumi sebesar 26 hari, dengan
adanya jalur samping nadir (off-nadir viewing) periode selama 26 hari tersebut dapat
digunakan untuk merekam daerah yang sama sebanyak tujuh kali untuk daerah di
equator dan 11 kali bagi daerah lintang 45 derajat. Disamping periode ulangnya
makin pendek juga diperoleh citra foto stereoskopis, karena adanya sistim
penginderaan pada daerah yang sama dengan sudut pandang berbeda. Citra foto
stereoskopis ini sangat bermanfaat bagi sistim analisa selanjutnya, terutama untuk
penerapan interpretasi foto dan fotogrametri. Citra foto stereoskopis ini akan
memberikan kenampakan tiga dimensi bila dilihat dengan menggunakan alat yang
disebut stereoskope. Dengan melihat gambaran permukaan bumi yang tiga dimensi
tersebut, maka informasi yang dapat disadap pada penelitian tertentu nampak semakin
jelas. Sistem Landsat memiliki pengulangan rekaman sebesar 16 hari, sedang NOAA
setiap 12 jam. Perolehan data yang cepat ini, memungkinkan kegiatan monitoring
hutan dan pemuthakiran basisdata hutan dengan baik.
Citra NOAA, bekerja dengan visible, infrared dan thermal, resolusi 1 km dan
3 km, memberikan gambaran global tentang bumi, sehingga identifikasi bencana
alam seperti letusan gunung berapi, kebakaran hutan baik dilakukan dengan citra ini.
Citra ERS-1 beresolusi menengah, menggunakan microwave dalam penginderaannya,
memungkinkan pengenalan fisik bumi (geomorfologi, geologi) yang lebih baik untuk
pengenalan bencana seperti genangan banjir, longsor lahan, dan aktivitas volkanik.

2.3 Citra Satelit


Citra merupakan masukan data atau hasil observasi dalam proses
penginderaan jauh. Penginderaan Jauh atau Remote Sensing didefinisikan sebagai
ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau
fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak
langsung dengan objek, daerah atau fenomena tersebut.
Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu obyek yang
sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau/sensor, baik
optik, elektrooptik, optik-mekanik maupun elektromekanik. Citra memerlukan proses
interpretasi atau penafsiran terlebih dahulu dalam pemanfaatannya.
Citra Satelit merupakan hasil dari pemotretan/perekaman alat sensor yang
dipasang pada wahana satelit ruang angkasa dengan ketinggian lebih dari 400 km dari
permukaan bumi.
Jenis Citra Satelit berdasarkan tingkat resolusi sapasial. Kemampuan sensor
dalam merekam obyek terkecil pada tiap pikselnya ini disebut dengan resolusi
spasial.
Berdasarkan tingkatan resolusinya citra satelit dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Citra resolusi rendah, memiliki resolusi spasial antara 15 m s/d 30 m (Citra
satelit Landsat )
b. Citra resolusi sedang, memiliki resolusi spasial 2.5 m s/d 10 m (Citra satelit
SPOT)
c. Citra resolusi tinggi, memiliki resolusi spasial 0.6 m s/d 1 m (Citra satelit
Ikonos dan
2.3.1 Pemanfaatan Citra Satelit
Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing), telah merubah paradigma
visualisasi permukaan bumi kita dari impian menjadi kenyataan, dari fiksi ilmiah
menjadi bukti ilmiah. Lompatan teknologinya telah menghasilkan manfaat yang
sangat berguna bagi banyak bidang yang berkaitan dengan manajemen pemanfaatan
bumi dan permukaannya.
Produk teknologi penginderaan jauh yang sangat luar biasa adalah berupa
citra satelit dengan resolusi spasial yang tinggi, memberikan visual permukaan bumi
sangat detail. Citra Satelit merupakan suatu gambaran permukaan bumi yang direkam
oleh sensor (kamera) pada satelit pengideraan jauh yang mengorbit bumi, dalam
bentuk image (gambar) secara digital.
Pemanfaatan citra satelit saat ini sudah sangat luas jangkauannya, terutama
dalam hal yang berkaitan dengan ruang spasial permukaan bumi, mulai dari bidang
Sumber Daya Alam, Lingkungan, Kependudukan, Transportasi sampai pada bidang
Pertahanan (militer). Di Indonesia penerapan teknologi penginderaan jauh ini telah
dilakukan masih pada sebagian besar untuk keperluan inventarisasi potensi sumber
daya alam dan lingkungan hidup, namun intensitasnya masih sangat sedikit dan
belum merata di seluruh wilayah.
Teknologi Penginderaan Jauh yang dikembangkan oleh Digitalglobe sejak
tahun 1993, telah menghasilkan generasi terbaru berupa citra satelit WorldView-2
yang memiliki kualitas resolusi yang semakin canggih dan cakupan spektrum yang
semakin lengkap, sehingga sangat bermanfaat bagi analisis permukaan bumi dengan
sangat detail.

2.3.2 Interpretasi Citra Satelit


Interpretasi Citra Satelit Dalam analisis citra dikenal dengan 8 macam unsur
interpretasi yaitu :
1. Warna dan rona
Warna dan rona merupakan tingkat kecerahan atau kegelapan suatu objek.
Kontras warna dan sinar yang tegas dalam foto udara penting untuk identifikasinya
dan tanpa kontras unsur-unsur pengenalan yang lain yaitu ukuran, bentuk, tekstur dan
pola tidak akan bermanfaat.
2. Ukuran
Objek pada foto udara akan bervariasi sesuai dengan skala foto, sebab apabila
skala citra berbeda maka ukuran sesuatu objek yang sama akan menjadi berbeda.
Suatu objek dapat dibedakan dengan objek yang lain berdasarkan ukurannya, sebab
pada dasarnya ukuran setiap objek yang terdapat di permukaan bumi adalah berbeda.
3. Bentuk
Merupakan kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu
objek, sehingga bentuk dan ukuran sering berasosiasi sangat erat. Bentuk suatu objek
sangat dipengaruhi juga oleh skala potret udara yang dipergunakan. Universitas
Sumatera Utara
Semakin kecil skala potret udara maka akan semakin sukar mengenali suatu
objek demikian juga sebaliknya.
4. Bayangan
Bayangan terjadi karena adanya sinar, bayangan yang terjadi sedikit banyak
akan mengikuti bentuk objeknya. Jadi bayangan dapat digunakan untuk membedakan
jenis suatu objek.
5. Tekstur
Tekstur adalah frekwensi perubahan rona dalam citra foto, atau pengulangan
rona kelompok objek yang terlalu kecil untuk dibedakan, sehingga sering dinyatakan
dalam halus dan kasar. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan
rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi
semakin halus dan bahkan tidak tampak.
6. Pola
Merupakan sebuah karakteristik makro yang digunakan untuk mendeskripsi
tata ruang pada citra, termasuk di dalamnya pengulangan penampakan-penampakan
alami. Pola sering diasosiasikan dengan topografi, tanah, iklim dan komonitas
tanaman. Contohnya, susunan pohon-pohon menjadi suatu tegakan , apabila
susunannya teratur maka objek baru yang terbentuk berupa tegakan hutan tanaman,
atau kemungkinan perkebunan pohon-pohon besar.
7. Lokasi/situs
Setiap objek umumnya berlokasi atau di tempatkan pada lokasi yang sesuai.
Oleh karena itu ada hubungan antara lokasi dengan sesuatu jenis objek tertentu.
Contohnya, semua bangunan yang melintas di atas sungai akan dinamakan jembatan.
Universitas Sumatera Utara
8. Asosiasi
Keterkaitan antara objek yang satu dengan yang lain dan adanya suatu objek
merupakan petunjuk adanya objek yang lain. Sering bentuk, rona, pola, tekstur dan
lokasi diasosiasikan dengan satu kelas objek yang tidak terekam atau kurang jelas
tergambar pada citra (Hardjoprajitno dan Saleh, 1995).
2.3.4 Prinsip Perekaman Sensor Satelit
Prinsip perekaman oleh sensor dalam pengambilan data melalui metode
penginderaan jauh dilakukan berdasarkan perbedaan daya reflektansi energi
elektromagnetik masing-masing objek di permukaan bumi. Daya reflektansi yang
berbeda-beda oleh sensor akan direkam dan didefinisikan sebagai objek yang berbeda
yang dipresentasikan dalam sebuah citra.

Gambar 2.1 Proses perekaman permukaan bumi oleh sensor Penginderaan Jauh

Gelombang elektromagnetik yang dipantulkan permukaan bumi akan


melewati atmosfer sebelum direkam oleh sensor. Awan, debu, atau partikel-partikel
lain yang berada di atmosfer akan membiaskan pantulan gelombang ini. Atas dasar
pembiasan yang terjadi, sebelum dilakukan analisa terhadap citra diperlukan kegiatan
koreksi radiometrik.PANDUAN APLIKASI Penginderaan Jauh Tingkat Dasar 4.
2.3.5 Karakteristik Data Citra

Gambar 2.2 Karakteristik data citra

Data Citra satelit sebagai hasil dari perekaman satelit memiliki beberapa
karakter-karakter yaitu:
1. Karakter spasial atau yang lebih dikenal sebagai resolusi spasial, bahwa data
citra penginderaan jauh memiliki luasan terkecil yang dapat direkam oleh
sensor. Sebagai contoh untuk Landsat TM memiliki luasan terkecil yang
mampu direkam adalah 30 x 30 m dan mampu merekam daerah selebar 185
km. 1 Scene citra Landsat memiliki luas 185 km x 185 km.
2. Karakteristik spektral atau lebih sering disebut sebagai resolusi spektral, Data
penginderaan jauh direkam pada julat panjang gelombang tertentu. Masing-
masing satelit biasanya membawa lebih dari satu jenis sensor dimana tiap
sensor akan memiliki kemampuan untuk merekam julat panjang gelombang
tertentu.
3. Karakteristik Temporal, Bahwa citra satelit dapat merekam suatu wilayah
secara berulang dalam waktu tertentu, sebagai contoh satelit Landsat 3 dapat
melakukan perekaman ulang terhadap satu wilayah setelah selang 18 hari.
Sedangkan data penginderaan jauh berdasarkan jenis produk datanya dapat dibagi
menjadi dua yaitu:
1. Citra foto. Citra foto dihasilkan oleh alat perekam kamera dengan detektor
berupa film, dengan mekanisme perekaman serentak, biasanya direkam dalam
spektrum tampak atau perluasannya, dewasa ini berkembang teknologi digital
yang dapat menggantikan peran film sebagai media penyimpanan obyek.
2. Citra non foto. Citra non foto dihasilkan oleh sensor non kamera mendasarkan
pada penyiaman atau kamera yang detektornya bukan film, proses
perekamannya parsial dan direkam secara elektronik.PANDUAN APLIKASI
Penginderaan Jauh Tingkat Dasar 5
2.3.6 Konsep Pengolahan Citra
Secara umum pengolahan citra terbagi kedalam:
1. Pre-processing citra, merupakan pengolahan awal sebelum proses pengklasifikasian.
Dalam kegiatan ini, koreksi citra (geometrik dan radiometrik) dilakukan.

Gambar 2.3 Diagram pre-prosesing citra

2. Klasifikasi citra, merupakan tahap intrepretasi informasi pada citra yang dibuat
berdasarkan klas katagori tertentu.

Gambar 2.4 Diagram klasifikasi citra

Metode klasifikasi secara umum terbagi menjadi dua:


a. Klasifikasi tidak terbimbing (un-supervised classification), merupakan metoda
klasifikasi yang memberikan keleluasaan bagi computer untuk mengklasifikasikan
citra secara mandiri.
b. Klasifikasi terbimbing (supervised classification), merupakan metoda klasifikasi yang
memberikan bimbingan kepada komputer dalam proses klasifikasinya.

2.4 Landsat 8

Landsat 8 merupakan kelanjutan dari misi Landsat yang untuk pertama kali
menjadi satelit pengamat bumi sejak 1972 (Landsat 1). Landsat 1 yang awalnya
bernama Earth Resources Technology Satellite 1 diluncurkan 23 Juli 1972 dan mulai
beroperasi sampai 6 Januari 1978. Generasi penerusnya, Landsat 2 diluncurkan 22
Januari 1975 yang beroperasi sampai 22 Januari 1981. Landsat 3 diluncurkan 5 Maret
1978 berakhir 31 Maret 1983; Landsat 4 diluncurkan 16 Juli 1982, dihentikan 1993.
Landsat 5 diluncurkan 1 Maret 1984 masih berfungsi sampai dengan saat ini namun
mengalami gangguan berat sejak November 2011, akibat gangguan ini, pada tanggal
26 Desember 2012, USGS mengumumkan bahwa Landsat 5 akan dinonaktifkan.
Berbeda dengan 5 generasi pendahulunya, Landsat 6 yang telah diluncurkan 5
Oktober 1993 gagal mencapai orbit. Sementara Landsat 7 yang diluncurkan April 15
Desember 1999, masih berfungsi walau mengalami kerusakan sejak Mei 2003
(http://geomatika.its.ac.id, 2013).

Landsat 8 lebih cocok disebut sebagai satelit dengan misi melanjutkan landsat
7 dari pada disebut sebagai satelit baru dengan spesifikasi yang baru pula. Ini terlihat
dari karakteristiknya yang mirip dengan landsat 7, baik resolusinya (spasial, temporal,
spektral), metode koreksi, ketinggian terbang maupun karakteristik sensor yang
dibawa. Hanya saja ada beberapa tambahan yang menjadi titik penyempurnaan dari
landsat 7 seperti jumlah band, rentang spektrum gelombang elektromagnetik terendah
yang dapat ditangkap sensor serta nilai bit (rentang nilai Digital Number) dari tiap
piksel citra.
Seperti dipublikasikan oleh USGS, satelit landsat 8 terbang dengan ketinggian
705 km dari permukaan bumi dan memiliki area scan seluas 170 km x 183 km (mirip
dengan landsat versi sebelumnya). NASA sendiri menargetkan satelit landsat versi
terbarunya ini mengemban misi selama 5 tahun beroperasi (sensor OLI dirancang 5
tahun dan sensor TIRS 3 tahun). Tidak menutup kemungkinan umur produktif landsat
8 dapat lebih panjang dari umur yang dicanangkan sebagaimana terjadi pada landsat 5
(TM) yang awalnya ditargetkan hanya beroperasi 3 tahun namun ternyata sampai
tahun 2012 masih bisa berfungsi.

Satelit landsat 8 memiliki sensor Onboard Operational Land Imager (OLI)


dan Thermal Infrared Sensor (TIRS) dengan jumlah kanal sebanyak 11 buah.
Diantara kanal-kanal tersebut, 9 kanal (band 1-9) berada pada OLI dan 2 lainnya
(band 10 dan 11) pada TIRS. Sebagian besar kanal memiliki spesifikasi mirip dengan
landsat 7. Jenis kanal, panjang gelombang dan resolusi spasial setiap band pada
landsat 8 dibandingkan dengan landsat 7 seperti tertera pada tabel di bawah ini :

Gambar 2.5 Perbandingan band landsat 7 dan 8


(Sumber gbr : NASA. Landsat Data Continuity Mission Brochure)

Dibandingkan versi-versi sebelumnya, landsat 8 memiliki beberapa


keunggulan khususnya terkait spesifikasi band-band yang dimiliki maupun panjang
rentang spektrum gelombang elektromagnetik yang ditangkap. Sebagaimana telah
diketahui, warna objek pada citra tersusun atas 3 warna dasar, yaitu Red, Green dan
Blue (RGB). Dengan makin banyaknya band sebagai penyusun RGB komposit, maka
warna-warna obyek menjadi lebih bervariasi. Ada beberapa spesifikasi baru yang
terpasang pada band landsat ini khususnya pada band 1, 9, 10, dan 11. Band 1 (ultra
blue) dapat menangkap panjang gelombang elektromagnetik lebih rendah dari pada
band yang sama pada landsat 7, sehingga lebih sensitif terhadap perbedaan reflektan
air laut atau aerosol. Band ini unggul dalam membedakan konsentrasi aerosol di
atmosfer dan mengidentifikasi karakteristik tampilan air laut pada kedalaman
berbeda.

2.4.1 Cara Kerja Satelit Landsat


Setiap benda atau obyek mempunyai karakteristik pantulan atau pancaran
yang unik dan berbeda apabila jenis depresi atau kondisi lingkungan berbeda.
Penginderaan jauh adalah suatu teknologi untuk mengidentifikasi dan memahami
benda atau kondisi lingkungan melalui keunikan pantulan atau pancaran. Citra
sebagai keluaran suatu sistem perekaman data penginderaan iauh dapat bersifat optik
berupa foto, bersifat analog berupa sinyal-sinyal video seperti gambar pada monitor
televisi atau bersifat digital yang dapat langsung disimpan pada suatu pita magnetik.
Komputer digital bekerja dengan angka-angka presisi terhingga, sehingga
hanya citra dan kelas Diskrit-Oiskrit yang dapat diolah dengan komputer yang lebih
dikenal sebagai citra digital yang merupakan suatu array dua dimensi atau sebuah
matriks. Pengenalan pola sering juga merupakan bagian dan pengolahan citra seperti
misalnya proses klasifikasi. Karakteristik suatu obyek pada pengamatan secara
spektral biasanya mempunyai pola tertentu sebagai contoh diambil citra hasil
pengamatan sistem satelit sumber daya alam Landsat , sedangkan teknik-teknik
peningkatan citra meliputi konversi skala keabuan (Grey Scale) biasanya diterapkan
pada keluaran citra untuk menginterprestasikan sebuah citra. Atmosfer terdiri dari
berbagai partikel yang selain bersifat sebagai penghantar energi matahari dapat juga
menimbulkan gangguan pada data yang direkarn, sasarannya dalam hal ini adalah
suatu daerah pada permukaan bumi, pengolahan citra secara digital pada aplikasi ini
baru berkembang setelah digunakan sistem satelit dalam teknik penginderaan jauh.
Data penginderaan jauh diolah secara otomatis oleh komputer dan atau secara
manual ditafsirkan oleh seseorang dan akhirnya dimanfaatkan dalam bidang
kedokteran, pertanian, kehutanan, ilmu kelautan, pemetaan, lingkungan, tata ruang
kota dan lain-lain. Data penginderaan jauh yang diperoleh dari satelit TM-Landsat S
oleh stasiun bumi dalam bentuk data digital High Dencity Digital Tape (HDDT)
ditransfer ke dalam Computer Compatible Tape (CCT) agar dapat disimpan di dalam
sebuah disket atau hardisk pada komputer PC.

2.5 Metode Penulisan


Metode parametric Metode scoring merupakan salah satu metode dalam
menentukan kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan lahan. Metode scoring atau
pengharkatan adalah teknik analisis data kuantitatif yang digunakan untuk
memberikan nilai pada masing-masing krakteristik parameter dari sub-sub variable
agar dapat dihitung nilainya serta dapat ditentukan peringkatnya. Pendekatan
parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai pada tingkat
pembatas yang berbeda pada sifat lahan, dalam skala normal diberi nilai maksimum
100 hingga nilai minimum 0. Nilai 100 diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe
penggunaan lahan yang dipertimbangkan (Sys et al., 1991).
Pendekatan parametrik mempunyai berbagai keuntungan yaitu kriteria yang
dapat dikuantifikasikan dan dapat dipilih sehingga memungkinkan data yang
obyektif; keandalan, kemampuan untuk direproduksikan dan ketepatannya tinggi.
Masalah yang mungkin timbul dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal
pemilihan sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu yang diperlukan untuk
mengkuantifikasikan sifat serta kenyataan bahwa masing-masing klasifikasi hanya
diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu. Metode faktor penghambat
Pendekatan pembatas adalah suatu cara untuk menyatakan kondisi lahan atau
karakteristik lahan pada tingkat kelas, dimana metode inimembagi lahan berdasarkan
jumlah dan intensitas pembatas lahan. Pembatas lahan adalah penyimpangan dari
kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk
untuk berbagai penggunaan lahan.
Pada umumnya dalam menilai kesesuaian lahan untuk pembangunan non-
pertanian menggunakan metode scoring atau parametric, hal tersebut karena yang
berperan menjadi faktor penghitungan lebih mudah jika dianalisis menggunakan
metode parametric dan asumsi yang menjadi dasar dalam penggunaan lahan non-
pertanian.