Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS KINEMATIK DAN RMR

PADA TEBING LHOKNGA ACEH BESAR

Disusun Untuk Memenuhi Laporan Pratikum Mata Kuliah


Analisis Investigasi Lapangan Untuk Geoteknik

Kelompok 6

Mulki Gempi Malindo 1304108010002

Syahril Siddiq 1304108010003

Rocky Dimas Saputra 1304108010004

Shananda Soni 1304108010005

Wezzely Andru Siswara 1304108010045

Muhammad Rifat 1304108010078

Rianto Wibowo 1304108010079

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM, BANDA ACEH

2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
KATA PENGANTAR................................................................................................... 3
BAB I...................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN....................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 4
1.2 Tujuan.............................................................................................................. 5
1.3 Manfaat Penelitian............................................................................................... 5
BAB II..................................................................................................................... 6
LANDASAN TEORI................................................................................................... 6
2.1. Konsep Massa Batuan, Struktur Batuan, dan Bidang Diskontinu.................................6
2.2. Analisis Kinematik......................................................................................... 8
2.3. Klasifikasi Rock Mass Rating (RMR).................................................................10
BAB III.................................................................................................................. 16
METODE PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN DATA.................................................16
3.1. Metode Pengambilan data............................................................................... 16
3.2. Area Kerja Praktikum.................................................................................... 16
3.3. Peralatan.................................................................................................... 17
BAB IV.................................................................................................................. 22
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................... 22
4.1 Uji Kuat Tekan Uniaksial.................................................................................... 22
4.2 Survei Diskontinuitas......................................................................................... 24
4.4 Perhitungan Total Bobot Rock Mass Rating (RMR)....................................................29
KESIMPULAN........................................................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 34

2
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah meliMPahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan analisis
kinematik dan RMR pada tebing Lhoknga, Aceh Besar.

Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami
menyaMPaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan laporan ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
laporan ini.

Akhir kata kami berharap semoga laporan tentang analisis kinematik dan RMR pada
tebing Lhoknga, Aceh Besar ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Banda Aceh , 9 Juni 2016

Kelompok 6

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Geoteknik memiliki peran yang sangat penting dalam menganalisa dan memecahkan
permasalahan mengenai batuan maupun tanah untuk mengetahui gambaran awal mengenai
kondisi suatu batuan ataupun tanah dalam suatu daerah tertentu. Dalam dunia pertambangan,
pengujian geoteknik sangat menentukan desain dari sebuah infrastruktur di tambang, baik
berupa jalan, lereng, pabrik (plant), dan infrastruktur lainnya. Keterdapatan bidang
diskontinuitas pada batuan saat disurvei menjadi acuan untuk penggunaan batuan tersebut
serta perlakuan yang sesuai untuk batuan tersebut saat digunakan.
Geoteknik merupakan perangkat lunak (ilmu) untuk kepentingan manusia dalam
mencapai keberhasilan pembangunan fisik infrastruktur melalui penyediaan bangunan
(termasuk prasarana transportasi/jalan) yang kuat dan aman dari ancaman kerusakan. Ruang
lingkup kajian dalam geoteknik berhubungan dengan studi: 1) batuan dan/atau tanah sebagai
material bangunan (construction material); 2) massa batuan (rock mass) yang langsung
berkaitan dengan tubuh bangunan; 3) massa batuan yang tidak langsung berkaitan dengan
tubuh bangunan tetapi sebagai penyusun bangunan alami di lingkungan sekitarnya, misalnya
gunung, lereng, tebing, maupun dataran liMPah banjir yang luas, sehingga dapat saja
memendam atau berpotensi ancaman bagi keselamatan bangunan tersebut.
Ruang lingkup kajian ini nantinya untuk mengetahui tentang studi
kekuatan/kelemahan batuan dan/atau tanah dari suatu lokasi/teMPat tertentu. Selain
geoteknik, ilmu-ilmu pendukung lainnya untuk mengetahui kekuatan, klasifikasi, serta
kestabilan lereng dari batuan maupun tanah, yaitu: mekanika tanah, mekanika batuan
(mempelajari tentang kekuatan batuan, seperti RQD, RMR, SMR), hidrogeologi, geologi
teknik, geologi kebencanaan, geologi (yang secara luas membahas genesis batuan,urutan
kejadiannya, tektonik dan konfigurasi struktur geologi termasuk kegeMPaan dan bentuk-
bentuk bangunan alami yang dikenal sebagai geomorfologi).
Semua ilmu ini sangat perlu dipelajari dan dipahami karena ketika kita menganalisa
kestabilan lereng kita sangat perlu mengetahui tentang struktur geologi, proses pelapukan
batuannya, survei diskontinuitas pada batuan, kekuatan batuan, keterdapatan air di dalam
batuan maupun tanah, dll. Dari data-data tersebut nantinya kita dapat mengetahui daMPak
dari segi kebencanaan dari kestabilan lereng tersebut, baik itu longsor, dan lain-lain.

4
Survei diskontinuitas juga merupakan faktor yang sangat penting untuk memastikan
kestabilan lereng batuan dibutuhkan suatu evaluasi mengenaistruktur batuan. Keruntuhan
batuan biasanya diawali dan mengikuti diskontinuitas-diskontinuitas yang ada pada batuan,
seperti kekar (joint), rekahan (fracture), bidang perlapisan (bedding plane), sesar (fault) dan
jenisjenis retakan lain yang ada pada batuan.Oleh karena itu, hasil akhir survei
diskontinuitasini nantinya dapat digunakan untuk mendapatkan nilai RQD, RMR, dan analisa
kestabilan lereng. Analisis ini sangat berguna untuk membuat suatu penilaian kestabilan
sebuah lereng, menentukan arah pemotongan sebuah lereng, mendeteksi bidang lemah yang
berbahaya pada sebuah lereng, dan untuk memperkirakan jenis longsoran yang akan terjadi.

1.2 Tujuan
Ada pun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mahasiswa mampu mengetahui kekuatan batuan dengan alat pengujian yaitu alat kuat
tekan atau compressive strength.
2. Mahasiswa mengetahui bidang-bidang diskontinuitas pada batuan dengan data survei
diskontinuitas pada batuan.
3. Mahasiswa dapat menghitung nilai RQD (Rock Quality Desination) dan RMR (Rock
Mass Rating) dari data-data yang telah didapatkan di lapangan.
4. Mahasiswa dapat menganalisa kestabilan lereng dari data-data yang didapatkan.
5. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis longsoran yang akan terjadi akibat adanya bidang
lemah yang berbahaya pada sebuah lereng.

1.3 Manfaat Penelitian


Dengan mengadakan penelitian ini dapat diketahui kestabilan dari lereng tersebut dan
sifat-sifatnya sehingga nantinya dapat membantu mencarikan perlakuan yang tepat untuk
menguatkan batuan lereng tersebut jika akan digunakan dalam pembuatan infrastruktur.
Pembuatan laporan penelitian ini kiranya bermanfaat bagi para akademisi untuk mempelajari
dan sebagai sebuah acuan untuk mengetahui keadaan batuan yang ada di wilayah survei.
Untuk selanjutnya diketahui jenis longsoran yang mungkin terjadi di batuan tersebut, dan
dapat dihindari agar tidak terjadi bencana tersebut dan hal-hal yang merugikan lainnya.

5
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Massa Batuan, Struktur Batuan, dan Bidang Diskontinu


2.1.1 Massa Batuan

Massa batuan merupakan volume batuan yang terdiri dari material batuan berupa
mineral, tekstur, dan komposisi serta terdiri dari bidang-bidang diskontinu, membentuk suatu
material dan saling berhubungan dengan semua elemen sebagai suatu kesatuan. Menurut
Hoek dan Bray (1981), massa batuan adalah batuan insitu yang dijadikan diskontinu oleh
sistem struktur batuan seperti kekar, sesar, lipatan dan bidang perlapisan. Konsep
pembentukkan massa batuan (lihat Gambar 3.1) dituliskan oleh Palmstrom (2001) dalam
sebuah tulisan yang berjudul Measurements and Characterization of Rock Mass Joint,
yaitu :

Mineral
Tekstur MATERIAL BATUAN
Komposisi

MASSA
BATUAN

Sifat fisik kekar


Pola kekar KEKAR
Bobot isi kekar

Gambar 3.1 Konsep Pembentukkan Massa Batuan

2.1.2 Struktur Batuan

Struktur batuan adalah gambaran tentang kenaMPakan atau keadaan batuan di alam,
termasuk didalamnya bentuk atau kedudukannya. Berdasarkan keterjadiannya, struktur
batuan dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Struktur primer, yaitu struktur yang terjadi pada saat proses pembentukkan batuan.
Misalnya :

6
a) Batolit, umumnya berbentuk diskordan (memotong lapisan massa batuan),
berbentuk sangat besar, dan tidak beraturan serta kedalaman yang tidak
diketahui batasnya.
b) Retas (dike), mempunyai bentuk diskordan (memotong lapisan massa batuan),
dan mempunyai bentuk yang beraturan. Retas adalah intrusi yang memotong
bidang perlapisan batuan induknya.
c) Sill, merupakan struktur yang diintrusikan diantara dan sepanjang lapisan
batuan (konkordan) dengan ketebalan dari beberapa milimeter saMPai
beberapa kilometer.
d) Urat (vein), berbentuk tabular atau lembar dengan posisi miring hampir tegak,
yang mengisi rekahan atau kekar pada batuan.
b. Struktur Sekunder, struktur yang terjadi kemudian setelah batuan terbentuk akibat
adanya proses deformasi atau tektonik. Contohnya lipatan, sesar, kekar, dan bidang
perlapisan.
Bidang diskontinu dapat ditemukan pada struktur primer maupun struktur sekunder.

2.1.3 Bidang Diskontinuitas

Bidang diskontinuitas adalah suatu istilah untuk gabungan semua struktur


geologi pada material-material geologi yang biasanya memiliki kekuatan tarik dari 0
rendah, yang juga dapat ditanggulangi (Glossary of Geology, 1997 op cit. Hendarsin,
2003). bahwa bidang diskontinu terbentuk karena tekanan tarik yang terjadi pada
batuan. Hal ini yang membedakan antara diskontinuitas alami, yang terbentuk oleh
proses geologi, dengan diskontinuitas artifisial yang terbentuk akibat aktivitas
manusia, seperti pengeboran, dan peledakan. Keberadaan diskontinuitas akan
mempengaruhi kestabilan lereng oleh sifat-sifat diskontinuitas yang dimiliknya. Sifat-
sifat geometri yang dimiliki diskontinuitas, antara lain:
a. Kemiringan (dip/dip direction)
b. Jarak antar diskontinuitas (spacing)
c. Deskripsi permukaan (roughness)
d. Bukaan (aperture)
e. Kemenerusan (persistence)
f. Set diskontinuitas

7
Gambar 3.2 Orientasi Bidang Diskontinu

2.2. Analisis Kinematik


Analisis kinematika merupakan salah satu metode analisis kestabilan lereng
yang menggunakan parameter orientasi struktur geologi, orientasi lereng dan sudut
geser dalam batuan yang diproyeksikan pada stereonet (Hoek dan Bray, 1981). Dalam
analisis kinematika digunakan Schmidt net dengan proyeksi bidang menjadi titik
(pole plot) maupun garis lengkung (plane). Analisis longsoran baji menggunakan
prinsip proyeksi bidang menjadi garis lengkung sedangkan analisis longsoran bidang
menggunakan prinsip proyeksi bidang menjadi titik. Data yang digunakan antara lain
data line mapping dan data pemboran geoteknik. Pada data kekar perlu dilakukan
contouring untuk mengetahui arah orientasi utama selanjutnya arah orientasi utama
tersebut digunakan dalam analisis kinematika maupun analisis kesetimbangan batas.
Berdasarkan hasil analisis kinematika, dengan masukan data orientasi bidag
diskontinuitas yang berupa struktur geologi (sesar dan kekar), maka dapat diketahui
tipe longsor dan kemungkinan ketidakstabilan lerengnya.

Semua langkah langkah di atas di lakukan dengan menggunalan software


stereonet dengan input data dip angle dan dip direction yang di dapatkan di lapangan.
Output dari analisa di sebut akan di dapat jenis dan arah longsoran.

8
Secara umum perpaduan orientasi diskontinuitas batuan akan membentuk
eMPat tipe keruntuhan utama pada batuan , yaitu:

a. Keurntuhan geser melengkung (circular sliding failure)

b. Keruntuhan geser planar (planar sliding failure)

c. Keruntuhan geser baji (wedge sliding failure)

d. Keruntuhan jungkiran (toppling, failure)

2.3. Klasifikasi Rock Mass Rating (RMR)


Rock Mass Rating (RMR) disebut juga Geomechanics Classification dibuat oleh
Bieniawski (1973). RMR terdiri dari enam parameter dan pembobotan untuk

9
mengklasifikasi massa batuan, yaitu kuat tekan batuan utuh (Uniaxial Compressive
Strength dan Point Load Index), Rock Quality Designation (RQD), jarak/spasi kekar,
kondisi kekar, kondisi air tanah dan orientasi kekar.
a. Kuat Tekan Batuan Utuh (Strength of Intact Rock Material)
Kuat tekan batuan utuh adalah kemampuan dari material batuan untuk dapat bertahan
terhadap gaya yang bekerja padanya. Nilai kuat tekan batuan utuh dapat diperoleh
dari uji kuat tekan uniaksial (Uniaxial Compressive Strength) dan uji Point Load
Index (PLI). Pengujian kuat tekan uniaksial (UCS) menggunakan mesin tekan
(compression machine) untuk menekan contoh batuan yang berbentuk silinder, balok
atau prisma dari satu arah (uniaxial) hingga contoh batuan mengalami keruntuhan.
Dari hasil pengujian UCS, didapatkan nilai kuat tekan uniaksial batuan, yaitu :

P X D
Kuat tekan(c) = A ;A= 4

Dimana c = Kuat tekan (MPa)


P = Tekanan maksimum (Kg)
A = Luas penaMPang (cm2)
= Konstanta (3,14)

D = Diameter contoh (mm)

Sedangkan pengujian Point Load Index menggunakan mesin tekan untuk menekan
contoh batuan pada satu titik hingga mengalami keruntuhan. Percontoh yang
disarankan untuk pengujian ini adalah yang berbentuk silinder dengan diameter 50
mm. Dari hasil pengujian PLI, didapat :
P
D2
Is =
Dimana Is = Point Load Strength Index (MPa)
P = Beban maksimum saMPai contoh pecah (Kg)
D = Diameter contoh (mm)

Pada perhitungan RMR, parameter kekuatan batuan utuh diberikan pembobotan


berdasarkan nilai UCS dan PLI-nya seperti tertera pada Tabel 3.4 berikut :

Tabel 3.4 Kekuatan Batuan Utuh (Bieniawski, 1989)

Deskripsi Kualitatif UCS PLI (MPa) Pembobotan

10
(MPa)
Sangat kuat sekali (extremely strong) 250 > 10 15
Sangat kuat (very stong) 100 250 10 4 12
Kuat (strong) 50-100 42 7
Sedang (medium strong) 25-50 21 4

Lemah (weak) 25-5 2


Diperlukan
Sangat lemah (very weak) 5-1 pengujian 1

Sangat lemah sekali (extremely weak) <1 UCS 0

b. Rock Quality Designation (RQD)


Rock Quality Designation dikemukakan oleh Deere dan kawan-kawan (1960),
didefinisikan sebagai persentase dari inti bor yang diperoleh dengan panjang lebih
dari 10 cm (lihat Gambar 3.7) dan jumlah inti bor tersebut umumnya diukur pada inti
bor sepanjang 2 meter.

RQD=
xi x 100
L

Keterangan :
xi = Total panjang inti bor > 10 cm
L = Panjang total inti bor (m)

11
Gambar 3.7 Pengukuran Rock Quality Designation (Deere, 1960)

Apabila inti bor tidak tersedia, RQD dapat dihitung secara tidak langsung dengan
menggunakan pengukuran orientasi dan jarak antar diskontinuitas pada singkapan
batuan. Priest dan Hudson (1976) mengajukan sebuah persamaan untuk menentukan
RQD dari data scan line sebagai berikut :

RQD = 100 x e-0.1 x (0.1 + 1)

Dimana merupakan rasio antara jumlah kekar dengan panjang scan line
(kekar/meter).
Pada perhitungan RMR, parameter RQD diberikan pembobotan berdasarkan
persentase recovery pada inti bor seperti tertera pada Tabel 3.5 berikut :

Tabel 3.5 Kualitas Massa Batuan berdasarkan RQD (Bieniawski, 1989)

RQD Kualitas Massa Batuan Pembobotan

< 25 % Sangat buruk 3

25 50 Buruk 8

50 75 Sedang 13

75 90 Baik 17
90 100 Sangat baik 20

c. Jarak Kekar (Spacing of discontinuities)


Jarak kekar adalah jarak tegak lurus antara dua bidang kekar yang saling berurutan
sepanjang garis bentangan.
Pada perhitungan RMR, parameter jarak kekar diberikan pembobotan berdasarkan
nilai jarak antar kekarnya seperti tertera pada Tabel 3.6 berikut :

Tabel 3.6 Jarak Kekar (Bieniawski, 1989)

12
Deskripsi Jarak Kekar (m) Pembobotan
Sangat lebar (very
>2 20
wide)
Lebar (wide) 0,6 2 15

Sedang (moderate) 0,2 0,6 10


Rapat (close) 0,006 0,2 8
Sangat rapat (very
< 0,006 5
close)

d. Kondisi Kekar (Condition of discontinuities)


Untuk menentukan kondisi kekar pada massa batuan, terdapat lima karakteristik kekar
yang harus diidentifikasi, meliputi :
a) Persistensi atau kemenerusan (persistence/continuity)
Persistensi kekar dapat diukur secara langsung di lapangan dengan mengamati
panjang persistensi kekar pada massa batuan yang tersingkap. Deskripsi dan
pembobotan persistensi atau kemenurusan kekar dapat dilihat pada Tabel 3.7.
b) Kekasaran (roughness)
Kekasaran permukaan kekar akan mempengaruhi tergelincirnya suatu blok
massa batuan. Deskripsi dan pembobotan kekasaran kekar dapat dilihat pada
Tabel 3.8.
c) Pemisahan (separation/aperture)
Pemisahan adalah lebar celah antara dua permukaan kekar yang terbuka.
Deskripsi dan pembobotan pemisahan kekar dapat dilihat pada Tabel 3.9.
d) Material Pengisi (filling/gouge)
Material pengisi berada pada celah yang terbuka antara dua dinding kekar
yang saling berdekatan. Material pengisi tersebut berupa hard filling (kuarsa,
kalsit, pasir, dll) dan soft filling (lempung, lanau, mika, dll). Deskripsi dan
pembobotan material pengisi dapat dilihat pada Tabel 3.10.
e) Pelapukan (weathering)
Penentuan tingkat pelapukan kekar dapat dilihat dari perbedaan warna pada
batuan dan terdekomposisinya batuan atau tidak. Semakin besar tingkat
perubahan warna dan terdekomposisi, maka batuan akan semakin lapuk.
Deskripsi dan pembobotan tingkat pelapukan dapat dilihat pada Tabel 3.11.

Tabel 3.7 Klasifikasi Persistensi (ISRM, 1978)

Deskripsi Panjang Kekar (m) Pembobotan

13
Sangat rendah <1 6

Rendah 13 4

Sedang 3 10 2

Tinggi 10 20 1
Sangat tinggi > 20 0

Tabel 3.8 Klasifikasi Kekasaran Kekar (ISRM, 1981)

Deskripsi Keterangan Pembobotan


Bentuk mendekati
vertikal, dan terdapat
Sangat kasar banyak undulasi 6
pada permukaan
kekar
Beberapa undulasi
Kasar terlihat, permukaan 5
kekar sangat abrasif
Permukaan kekar
Sedikit kasar terasa sedikit kasar 3
dan sedikit halus
Permukaan kekar
Halus 1
terasa halus
Terdapat bekas
Slickensided apabila kekar di 0
poles

Tabel 3.9 Pemerian Pemisahan Kekar (ISRM, 1978)

Pembobota
Deskripsi Pemisahan (mm)
n
Tertutup (close) Tidak ada 6
Sangat tertutup (very
< 0,1 5
close)

14
Sebagian terbuka
0,1 - 1 4
(moderately open)
Terbuka (open) 1-5 1
Sangat terbuka (very
>5 0
open)

Tabel 3.10 Pemerian Material Pengisi (Bieniawski, 1989)

Pembobota
Material Pengisi
n
Tidak ada 6
Hard filling< 5 mm 4
Hard filling> 5 mm 2
Soft filling < 5 mm 2
Soft filling> 5 mm 1

BAB III
METODE PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN DATA

3.1. Metode Pengambilan data


Untuk mendapatkan data diskontinuitas, tahapan tahapan yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
1) Membuat scan line pada lereng
2) Tentukan Daerah sampel yang memiliki joint set pada batuan yang dilewati Scan
Line
3) Pada setiap titik sampel yang didapatkan, dilakukan pengukuran dip angle dan dip
direction yang ditentukan dengan menggunakan kompas geologi
4) Kemudian hasil dari dip angle dan dip direction dicatat pada tabel pengukuran yang
nantinya berguna nuntuk pengolahan data di software stereonet
5) Mengukur parameter parameter bidang diskontinuitas, yaitu :
a) Kemenerusan / Persistence
b) Kekasaran / Roughness

15
c) Bukaan Aperture
d) Isian / lnfilling
e) Luahan Air / Seepage
f) Derajat Pelapukan

3.2. Area Kerja Praktikum

Area lokasi pada area Garis Lintang : 526'25.06"U dan Garis Bujur : 9514'31.02"T.
Pengambilan data di lakukan pada tanggal 21 Mei 2016 pukul 11.00 WIB.

3.3. Peralatan

Peralatan yang di gunakan pada pratikum ini adalah sebagai berikut :


a. Kompas Geologi
Kompas Geologi digunakan untuk mengambil data berupa dip angle dan dip
direction dari bidang diskontinuitas

16
b. Tali Ukur
Tali Ukur digunakan untuk membuat scan line pada lereng, data akan akan ambil
mengikuti bidang diskontinuitas yang di lewati scan line.

c. Palu Geologi
Palu Geologi di gunakan untuk mengambil sampel batuan pada lereng yang
kemudian akan di gunakan untuk melakukan uji kuat tekan.

d. Papan
Papan berfungsi sebagai perwakilan area diskontinutas yang akan di ukur dengan
kompas geologi. Papan di masukan dalam area bidang diskontinuitas lalu papan
dengan kemiringan yang sama akan di ukur oleh kompas geologi.

17
e. Buku dan Alat Tulis
Buku dan alat tulis ini digunakan untuk mencatat semua hasil dari survei yang
dilakukan. Mulai dari hasil data ukur, sketsa, deskripsi, letak singkapan dan lain-
lain yang perlu dicatat.

3.4. Uniaxial Compressive Strength


Untuk mengetahui kekuatan batuan dapat dilakukan uji kuat tekan salah satunya dengan
Uniaxial Compressive Strength ( UCS ), dengan tahapan sebagai berikut :
1) Persiapkan sampel batuan yang di ambil pada lereng tempat praktikum dilakukan
2) Sampel kemudian di potong dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm

3) Sampel diberikan beban dengan mesin Compressive Strength dengan beban 100
ton.

18
4) Total beban yang di berikan saat sampel hancur (dalam ton) di catat, kemudian
akan diolah untuk mendapatkan nilai kuat tekan dalam MPa.

3.5. Pengolahan Data

Pengolahan data terbagi dua, yaitu pengolahan data diskontinuitas dan pengolahan data
kekerasan batuan. Pengolahan data diskontinuitas menggunakan software stereonet,
sedangkan untuk mengolah data kekuatan batuan dilakukan dengan menggunakan rumus
hubungan beban dan kekuatan batuan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

19
4.1 Uji Kuat Tekan Uniaksial
Tujuan uji kuat tekan adalah untuk mengukur kuat tekan uniaksial sebuah contoh
batuan dalam geometri yang beraturan baik dalam bentu silinder, balok atau prisma dalam
satu arah (uniaksial).

Adapun jenis batuan yang kami dapatkan di lokasi Lhok Nga merupakan jenis batuan
gamping lempungan, dimana dari data-data yang kami dapat batu gamping lempungan
mempunyai nilai tekanan berkisar antara 30-250 MPa. Dan untuk membuktikan bahwa batu
gamping lempungan yang kami dapatkan sesuai dengan data yang kami dapatkan
sebelumnya, kami melakukan pengujian kuat tekan di laboratorium struktur Teknik Sipil
Unsyiah. Langkah-langkah pengujian kuat tekan tersebut adalah sebagai berikut:

Batu gamping lempungan yang didapatkan di lapangan dipotong dalam bentuk kubus
dengan ukuran 5x5x5 cm.

20
Setelah itu, kita memilih sisi mana yang akan diuji kuat tekan, dimana untuk uji kuat tekan
harus pada sisi yang benar-benar datar dan tidak mengandung rekahan.

Kemudian dilakukan pengujian kuat tekan dengan menggunakan alat Compressive


Strength, dimana hasil yang didapat dari uji kuat tekan adalah massanya yang bernilai 29
ton.

Setelah dilakukan uji kuat tekan, kita menghitung nilai tekanan (P) yang ada pada batu
gamping lempungan yang kami dapatkan di lapangan, dimana data-data yang kami
dapatkan serta perhitungannya adalah sebagai berikut:
Data yang didapat:

21
Sisi D : 5 cm x 5 cm = 25 cm2 = 2.500 mm2
Massa : 29 ton = 29.000 kg
g : 9,8 m/s2

massa x percepatan gravitasi


Tekanan ( P )=
Jadi, Luas Penampang

29.000 x 9,8
Tekanan ( P )=
2.500

Tekanan ( P )=113 MPa

Dari hasil pengujian kuat tekan yang dilakukan, nilai tekanan (P) pada batuan gamping
lempungan yang kami dapatkan di lapangan sesuai dengan standar tekanan batu gamping
lempungan. Sehingga untuk penentuan nilai RMR tetap menggunakan nilai tekanan dari hasil
pengujian di laboratorium.

4.2 Survei Diskontinuitas


Survei diskontinuitas adalah suatu kegiatan observasi dan analisis sampel pada outcrop
(singkapan) batuan pada bagian yang mengalami diskontinuitas. Analisis tersebut
menggunakan sistem Scan-line untuk memetakan kekar dan patahan pada suatu massa
batuan. Berikut hasil survei diskontinuitas yang didapatkan di lapangan:

Dari data yang didapatkan berdasarkan hasil survei diskontinuitas yang sudah didapat
kemudian dimasukan ke dalam software pengolahan data yaitu stereonet. Untuk pertama
kami menggunakan stereonet 246 untuk mendapatkan nilai joint dari data yang telah kami
ambil, dari hasil yang kami masukan kedalam software, kami mendapatkan 4 buah joint set.

Join Set

J1 222 78

J2 249 46

J3 307 14

J4 328 45

Berikut tutorial menggunakan software Stereonet :

22
1. Buka software, lalu klik open dan masukan data yang telah didapatkan dilapangan, agar
lebih mudah data dilapangan dimasukan dalam Notepad terlebih dahulu.

2. Jika berhasil akan muncul tampilan seperti ini. Data yang disajikan software lengkap
dengan data azimuth serta dip nya.

23
3. Tampak ada beberapa joint set yang dapat dianalisis dari gambar tersebut. Kami
mengambil 4 joint set dengan tampilan kontur seperti berikut.

4. Penting diingat pengambilan data Dip Direction dan Dip pada software ini masih dalam
bentuk pole, yang mana kita harus merubahnya kedalam bentuk planar dengan melihat
angka yang muncul di setiap titik tengah dari masing-masing join set yang mana
kemudian akan diubah kedalam bentuk planar. Seperti pada joint set satu DD/D pole
adalah 42/12. Dirubah kedalam planar yaitu DD = 42+180 = 222, D = 90-12 = 78. Maka
DD/D planar untuk joint set 1 yaitu 222/78.
5. Lalu Setelah nilai joint didapatkan, langkah selanjutnya adalah memasukan nilai tersebut
ke dalam software stereonet windows.

24
Setelah itu di dapat 4 buah joint set pada tebing batuan dengan arah kemiringan
N281E dan sudut kemiringan lereng sebesar 70. Setelah itu kami cari sudut antara
scanline dengan jurus joint set dimana scan line dapat di umpamakan dengan jurus dari
tebing. Lalu dicari sudutnya sebagai berikut:
Dengan ketentuan jika planar >180 maka jurus joint set akan dikurang -180 begitu
juga sebaliknya jika nilai planar kurang dari <180 maka akan ditambah +180 sedangkan
untuk dip angle jont set nilai dari dip angle akan di kurang 90 karena hasil yang di dapat
masih dalam bentuk pole akan diubah ke planar.
Joint Set 1 dengan nilai 42/12

Jurus joint set 1: 180+ 42 = 222 Dip angle joint set : 90-12 = 78

Joint Set 2 dengan nilai 69/44

Jurus joint set 2 ; 180+ 69 = 249 Dip angle joint set : 90- 44 = 46

Joint Set 3 dengan nilai 127/76

Jurus joint set 3 : 180+ 127 = 307 Dip angle joint set : 90-76 = 14

Joint Set 4 dengan nilai 148/45

Jurus joint set 4 : 180+ 148 = 328 Dip angle joint set : 90- 45 = 45

25
Jurus Tebing

JurusTebing : 281-90 = 191 Jurus Joint set = 70

Tahap selanjutnya adalah mengukur Spasi Semu Bidang dengan rumus sebagai
berikut:
panjang scanline
Spasi Semu bidang ( Xp )=
n joint set

Joint set DD D n Unit Simbol Simbol Value (Xp)


J1 222 78 5 R Rp 6
J2 249 46 3 T Tp 10
J3 307 14 3 Z Zp 10
J4 328 45 16 Y Yp 1,8

Jurus = DD 90

= Jurus lereng Jurus bidang

= planar

Joint set Simbol Jurus


J1 R 132 59 78
J2 T 159 32 46
J3 Z 217 26 14
J4 Y 238 47 45

Untuk mencari Xtrue:

X True = Xp Sin Sin

Joint Set True


J1 4,94
J2 3,69
J3 1,03
J4 0,91

Total Spasi Rekahan Sebenarnya = Rtrue+Ttrue+Ztrue+Ytrue

= 4,94+3,69+1,03+0,91

= 10,57

26
Total spasi rekahan sebenarnya

Spasi Rata-Rata Sebenarnya n Joint set

= 10,57/4

= 2,64

4.3 Menghitung Nilai RQD

Perhitungan RQD (Rock Quality Designation) menggunakan rumus sebagai berikut:


Jv = Frekuensi = 1/spasi rata-rata sebenarnya

= 1/2,64

= 0,37

= 1/frekuensi

= 1/0,37

= 2,70

RQD = 100 e(-0,1)(0,1+1)

= 100 e(-0,1 x 2,70)(0,1 x 2,70+1)

= 96,52

Berdasarkan nilai RQD yang didapat dan mengacu pada tabel Bieniaswki tahun 1989
maka hasil dari kualitas batuan untuk tebing sepanjang scanline 30 meter adalah bagus
dengan bobot nilai 20.

4.4 Perhitungan Total Bobot Rock Mass Rating (RMR)


Rock Mass Rating adalah metode untuk menilai atau mengevaluasi ketahanan suatu
massa batuan dan disajikan berupa kualifikasi kualitas suatu massa batuan. Ada 6 parameter
yang digunakan dalam klasifikasi massa batuan menggunakan Sistem RMR, yaitu:
UCS
RQD
Spasi Diskontinuitas
Kondisi Bidang Diskontinuitas

27
Kealiran
Berdasarkan hasil penyelidikan dan perhitungan diatas, didapat hasil dari 6 parameter
tersebut sebagai berikut:
Nomor Parameter Hasil yang Didapat
1 UCS 113 MPa
2 RQD 96,52
3 Spasi Diskontinuitas 2,64
4 Kondisi Bidang Diskontinuitas 13,37
5 Kealiran 7,30

Dari hasil yang didapat dilakukan pembobotan berdasarkan tabel Bieniaswki tahun
1989 berikut:

Berdasarkan pembobotan tabel Bieniaswki tahun 1989 diatas, maka didapat hasil
pembobotan parameter dari hasil penyelidikan dan pengujian yang dilakukan adalah sebagi
berikut:
Nomor Parameter Pembobotan
1 UCS 12
2 RQD 20
3 Spasi Diskontinuitas 20

28
4 Kondisi Bidang Diskontinuitas 13,37
5 Kealiran 7,30
Nilai RMR 72,67

Penentuan kelas batuan dapat dilihat pada tabel Rekomendasi Penyangga


(Bieniawski,1989) sebagai berikut:

Ground Rock Support


Excavation (drill & blast)
class Rock Bolt Shotcrete Steelsets
Very good
Full face:
rock No support
3m advance
81-100
Locally
bolts in
Full face: crown, 3m 50mm in
Good rock 1.0-1.5m advance; long, crown
None
61-80 Complete support 20 m spaced where
from face 2.5m with required
occasional
wire mesh
Systematic
Top heading and bench: bolts 4m
1.5 - 3m advance in top long,
50 - 100mm
heading; spaced 1.5 -
Fair rock in crown,
Commence support after 2m in None
41-60 and 30mm
each blast; crown and
in sides
Commence support 10 m walls with
from face wire mesh
in crown
Poor rock Top heading and bench: Systematic 100 - Light ribs
21-40 1.0 - 1.5m advance in top bolts 4 - 5m 150mm in spaced 1.5m
heading; Install support long, crown and where
concurrently with spaced 1 - 100mm in required
excavation - 10 m from 1.5m in sides

29
crown and
face walls with
wire mesh
Systematic Medium to
Multiple drifts: bolts 5 - 6m 150 - heavy ribs
0.5 - 1.5m advance in top long, 200mm in spaced
Very poor heading; Install support spaced 1 - crown, 0.75m with
rock concurrently with 1.5m in 150mm in steel lagging
< 21 excavation; shotcrete as crown and sides, and and
soon as possible after walls with 50mm on forepoling if
blasting wire mesh. face required.
Bolt invert Close invert

Jadi, berdasarkan hasil perhitungan RMR yang dilakukan bernilai 72,67, maka
penentuan kelas batuan berdasarkan tabel Rekomendasi Penyangga (Bieniawski,1989) yang
didapat dari perhitungan RMR yang dilakukan termasuk kedalam kelas Good Rock (61-80),
dengan kohesi antara 200 300 kPa dan sudut geser dalam berkisar antara 25o 35o.

Dari hasil pengolahan dengan software, kami menyimpulkan bahwa arah


pemotongan lereng dan jenis longsoran yang akan terjadi adalah tipe Baji, dikarenakan suatu
batuan jika lebih dari satu bidang lemah (joint set) yang bebas dan saling berpotongan.
Sudut perpotongan antara bidang lemah tersebut lebih besar dari sudut geser dalam
batuannya. Bidang lemah ini dapat berupa bidang sesar, rekahan maupun bidang perlapisan.
Berikut gambar hasil perhitungan dalam software stereonet246 dan stereonet windows.

30
Contoh Gambar Longsoran tipe Baji

KESIMPULAN

Dari hasil pengujian kuat tekan yang dilakukan, nilai tekanan (P) pada batuan
gamping lempungan yang kami dapatkan di lapangan sesuai dengan standar tekanan batu
gamping lempungan. Lalu dari analisis bidang diskontinutas untuk pembobotan RMR yang
di lakukan di lapangan dapat di simpulkan berdasarkan hasil perhitungan RMR yang
dilakukan bernilai 72,67, maka penentuan kelas batuan berdasarkan tabel Rekomendasi
Penyangga (Bieniawski,1989) yang didapat dari perhitungan RMR yang dilakukan termasuk
kedalam kelas Good Rock (61-80), dengan kohesi antara 200 300 kPa dan sudut geser
dalam berkisar antara 25o 35o.
Untuk hasil analias kinematik, orientasi bidang diskontinuitas dan lereng yang di
olah dengan software, kami menyimpulkan bahwa arah pemotongan lereng dan jenis
longsoran yang akan terjadi adalah tipe Baji, dikarenakan suatu batuan jika lebih dari satu
bidang lemah (joint set) yang bebas dan saling berpotongan. Sudut perpotongan antara
bidang lemah tersebut lebih besar dari sudut geser dalam batuannya. Bidang lemah ini dapat
berupa bidang sesar, rekahan maupun bidang perlapisan. Berikut gambar hasil perhitungan
dalam software stereonet246 dan stereonet windows.

31
DAFTAR PUSTAKA

2011. Laporan Investigasi Geoteknik Kantor Terpadu Pelabuhan Tarahan. Bandung.


PT. Bita Enarcon.
https://www.academia.edu/6201850/93896584-Metode-Rock-Mass-Rating
https://www.academia.edu/12526103/Kemantapan_lereng_batuan_Rock_Slope_Stab
ility_
https://www.academia.edu/5284913/KLASIFIKASI_MASSA_BATUAN

32