Anda di halaman 1dari 31

Makalah Radiologi Kedokteran Gigi I

EFEK RADIASI IONISASI


TERHADAP SISTEM BIOLOGI

Oleh: Kelompok B5
1. Agnes Melinda Wong 021511133078
2. Sheila Amalia Balamash 021511133079
3. Astila Fitriana 021511133080
4. Alfanny Ramadhani Putri 021511133081
5. Ryan Andika Pratama 021511133082
6. Ridha Rasyida Arif 021511133083

RADIOLOGI I - DEPARTEMEN RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA

Semester Genap 2017


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya, yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul Efek Radiasi Ionisasi terhadap Sistem Biologi.
Ungkapan tulus dan ucapan terimakasih yang mendalam penulis sampaikan
kepada Dr. Eha Renwi Astuti, drg., M.Kes., SpRKG(K) selaku Dosen pembimbing
mata kuliah Radiologi Kedokteran Gigi I yang telah mempercayakan tugas ini
kepada penulis.
Penulis sangat berharap makalah ini berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan mahasiswa mengenai Efek Radiasi Ionisasi terhadap
Sistem Biologi. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
masih terdapat kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik, saran dan usulan
dari pembaca.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi pembaca. Penulis
memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan. Akhir
kata semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Surabaya, 26 April 2017

Kelompok B5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan............................................................................................................1
1.3 Manfaat.........................................................................................................1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kimia Radiasi................................................................................................2
2.1.1 Efek Langsung.......................................................................................2
2.1.2 Efek Tidak Langsung.............................................................................3
2.1.3 Perubahan DNA....................................................................................4
2.2 Efek Deterministik dan Stokastik.................................................................5
2.3 Efek Deterministik pada Sel.........................................................................7
2.3.1 Struktur Intraseluler...............................................................................7
2.3.2 Replikasi Sel..........................................................................................8
2.4 Efek Deterministik pada Jaringan dan Organ...............................................9
2.4.1 Efek Jangka Pendek...............................................................................9
2.4.2 Efek Jangka Panjang.............................................................................10
2.4.3 Faktor yang dapat dimodifikasi.............................................................11
2.5 Radioterapi pada Rongga Mulut...................................................................12
2.5.1 Efek pada Jaringan Mulut......................................................................12
2.6 Efek Deterministik Iradiasi pada Tubuh.......................................................18
2.6.1 Sindrom Radiasi Akut...........................................................................18
2.6.2 Efek Radiasi pada Embrio dan Fetus....................................................20
2.6.3 Efek Lambat..........................................................................................21
2.7 Efek Stokastik...............................................................................................22
2.7.1 Karsinogenesis.......................................................................................22
2.7.2 Efek yang dapat diwariskan..................................................................25
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................27
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Radiosensitivitas pada berbagai organ.....................................................10

Gambar 2. Prinsip dasar genetik radiasi....................................................................25


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini, radiasi ionisasi dalam bidang kedokteran maupun kedokteran
gigi semakin banyak digunakan. Radiasi ionisasi digunakan untuk melihat
keadaan atau penyakit pada jaringan atau organ tubuh yang tidak bisa dilihat
dengan kasat mata. Tetapi, radiasi ionisasi tersebut tentunya memiliki efek pada
sistem biologis pada tubuh manusia. Jika sistem biologis manusia diberikan
paparan radiasi ionisasi terus menerus sampai melebihi batas klinis, maka akan
timbul adanya kerusakan pada sel-sel tubuh. Hal ini merupakan hal yang perlu
diperhatikan, karena penggunaan radiasi ionisasi nantinya akan semakin banyak
digunakan dan kita sebagai manusia harus menjaga sistem biologis kita sebaik
mungkin.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami efek radiasi
ionisasi terhadap sistem biologis tubuh manusia mulai dari tingkat molekuler
sampai tingkat jaringan.

1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari pembuatan makalah ini adalah
pemahaman efek radiasi ionisasi terhadap sistem biologis tubuh manusia.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Radiasi Kimia
Radiasi bereaksi pada lingkungan hidup dapat menimbulkan efek secara
langsung maupun tidak langsung. Ketika energi foton atau elektron sekunder
mengionisasi makromolekul biologis, hal tersebut termasuk efek yang secara
langsung. Cara lainnya, foton dapat diserap oleh air di suatu organisme,
mengionisasi beberapa molekul airnya. Ion yang dihasilkan membentuk radikal
bebas yang berinteraksi dan menghasilkan perubahan molekul biologis. Karena
perubahan yang melibatkan molekul air diperlukan untuk mengubah molekul
biologis, rangkaian hal tersebut merupakan efek secara tidak langsung (White &
Pharoah, 2014, pp. 16).

2.1.1 Efek Langsung

Pada direct effects, molekul biologis (RH, di mana R adalah


molekul dan H adalah atom hidrogen) menyerap energi dari radiasi
ionisasi dan membentuk radikal bebas yang stabil (atom atau molekul
memiliki elektron tidak berpasangan dalam valensi orbital).
Pembentukan radikal bebas terjadi dalam waktu kurang dari 10 -10 detik
setelah interaksi dengan foton. Radikal bebas sangat reaktif dan
memiliki hidup sangat pendek, secara cepat reformasi ke dalam
konfigurasi yang stabil dengan disosiasi (disosiasi atau cross linking
yang akan menggabungkan dua molekul). Radikal bebas memainkan
peran yang dominan dalam memproduksi perubahan molekul di
molekul biologis. Karena molekul biologis berubah secara struktural
dan fungsional dari molekul asli, akibatnya adalah perubahan biologis
dalam organisme yang diradiasi (White & Pharoah, 2014, pp. 16). Sel
yang rusak yang bertahan dan kemudian dapat menyebabkan
karsinogenesis atau kelainan lainnya. Proses ini menjadi lebih parah
dengan adanya radiasi tinggi LET seperti -partikel dan neutron, dan
dosis radiasi yang tinggi (Desouky et al, 2015, pp. 248).

Produksi radikal bebas :


x-radiation + RH R +H+ + e

Pembentukan radikal bebas :


Dissociation:
R X + Y
Cross-linking:
R + S RS

2.1.2 Efek Tidak Langsung

Indirect effects adalah efek dimana hidrogen dan radikal bebas


hidroksil yang diproduksi oleh aksi di atas air berinteraksi dengan
molekul organic. Interaksi hidrogen dan radikal bebas hidroksil
menghasilkan molekul organik pada pembentukan radikal bebas
organik. Sekitar duapertiga dari radiation induced biologis
menghasilkan kerusakan biologis dari efek tidak langsung. Hal tersebut
memungkinkan penghapusan hidrogen:

RH + OH R + H2O
RH + H R + H2
Radikal-radikal H, OH dan HO2 yang dibentuk oleh radiasi pada
molekul air dapat menimbulan bermacam-macam efek pada molekul
lainnya terdapat pada sistem biologis. Radikal H merupakan suatu
reduktan yang sangat kuat dan dengan mudah melepaskan elektron
yang tidak berpasangan. Radikal H lebih kuat sebagai reduktan dari
pada radikal OH sebagai suatu oksidan. Oksidan-oksidan yang lebih
kuat yaitu radikal OH dan HO2 yang berasal dari interaksi O2 dengan
radikal H. Radikal H dapat menyebabkan polimerisasi atau
menghilangkan atom H dari molekul organik (White & Pharoah, 2014,
pp. 17).

Reaksi utama dari radikal OH berupa oksidasi, yaitu


menghilangkan sebuah elektron dari molekul lainnya menjadi
berpasangan. Radikal hidroksil bertanggung jawab atas sebagian besar
kerusakan yang terjadi pada DNA dan pada membran oleh radiasi
pengion. Kerusakan yang sangat penting adalah putusnya berkas
tunggal maupun ganda dari DNA, khususnya putusnya berkas ganda
yang tak dapat diperbaiki oleh sel (White & Pharoah, 2014, pp. 17).

Selain kerusakan yang disebabkan oleh radiolisis air, kerusakan sel


mungkin juga melibatkan spesies reaktif nitrogen (RNS) dan spesies
lainnya dan dapat terjadi juga ionisasi atom pada molekul kunci
konstitutif (misalnya DNA). Hasilnya, efek langsung dan tidak
langsung adalah pengembangan dari perubahan biologis dan fisiologis
yang dapat bermanifestasi sendiri nantinya. Perubahan genetik dan
epigenetik mungkin terlibat dalam evolusi perubahan ini (Desouky et
al, 2015, pp. 248).

2.1.3 Perubahan DNA

Kerusakan pada asam deoksiribonukleat sel (DNA) adalah


penyebab utama kematian sel akibat radiasi, mutasi genetik (genetik),
dan pembentukan kanker (karsinogenesis). Radiasi menghasilkan
berbagai jenis perubahan DNA, yaitu:

a. Kerusakan satu atau kedua untai DNA

b. Cross-linking untai DNA di dalam heliks ke untai DNA


atau protein lainnya

c. Mengubah atau menghilangkan dasarnya

d. Gangguan ikatan hidrogen antar untai DNA

Yang paling penting dari jenis kerusakan ini adalah kerusakan pada
untai tunggal dan untai ganda. Kebanyakan kerusakan untai tunggal
adalah konsekuensi biologis karena untai yang rusak tersebut mudah
diperbaiki dengan menggunakan untai kedua utuh sebagai templat.
Radiasi juga dapat menyebabkan gugus kerusakan untai ganda pada
DNA. Cluster didefinisikan sebagai dua atau lebih untai ganda dalam
dua putaran DNA. Kerusakan untai ganda seperti ini dipercaya
bertanggung jawab atas banyak pembunuhan sel, sangat baik untuk
membunuh sel tumor. Namun, bila tidak ada cukup banyak kelompok
penyebab pembunuhan sel, ada risiko bahwa mereka akan menginduksi
mutasi yang dapat menyebabkan kanker (White & Pharoah, 2014, pp.
17).

2.2 Efek Deterministik dan Stokastik

Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek
radiasi dibedakan atas efek stokastik dan efek deterministik (non-stokastik).
Efek Stokastik adalah efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis
radiasi dan diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai
akibat paparan radiasi dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan
pada sel. Radiasi serendah apapun selalu terdapat kemungkinan untuk
menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik pada tingkat molekul
maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak membunuh sel tetapi
mengubah sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang berubah ini
mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha
untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi atau
transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek
stokastik terjadi tanpa ada dosis ambang dan baru akan muncul setelah masa
laten yang lama. Semakin besar dosis paparan, semakin besar peluang
terjadinya efek stokastik, sedangkan tingkat keparahannya tidak ditentukan oleh
jumlah dosis yang diterima. Bila sel yang mengalami perubahan adalah sel
genetik, maka sifat-sifat sel yang baru tersebut akan diwariskan kepada
turunannya sehingga timbul efek genetik atau pewarisan. Apabila sel ini adalah
sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka waktu yang relatif lama,
ditambah dengan pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat toksik lainnya, akan
tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas atau kanker.

Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek stokastik antara lain:

a. Tidak mengenal dosis ambang


b. Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
c. Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
d. Tidak ada penyembuhan spontan
Efek ini meliputi: kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit
keturunan (efek genetik).

Efek Deterministik (non-stokastik) adalah efek yang kualitas keparahannya


bervariasi menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek
ini terjadi karena adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi yang
mengubah fungsi jaringan yang terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai
akibat dari paparan radiasi pada seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik
timbul bila dosis yang diterima di atas dosis ambang (threshold dose) dan
umumnya timbul beberapa saat setelah terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek
deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis
ambang yang bervariasi bergantung pada jenis efek. Pada dosis lebih rendah dan
mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya efek deterministik dengan
demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis ambang, peluang terjadinya efek
ini menjadi 100%.

Adapun ciri-ciri efek non-stokastik antara lain:

a. Mempunyai dosis ambang


b. Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi
c. Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan)
d. Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis radiasi

Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas atau kemandulan, katarak (efek
somatik).

2.3 Efek Deterministik pada Sel


2.3.1 Struktur Intraseluler
Efek radiasi pada struktur intraselular:
a. Kerusakan dan Perbaikan Kerusakan DNA
DNA dapat mengalami kerusakan akibar radiasi baik melalui
efek langsung maupun tak langsung. Kerusakan DNA dapat berupa
putusnya salah satu atau kedua untai pasangan DNA (single atau
double strand break), perubahan gula atau basa, perubahan struktur
DNA, dan sebagainya. Untuk menanggulangsi kerusakan DNA ini,
sel mempunyai mekanisme perbaikan yang melibatkan kerja enzim-
enzim. Bila terjadi pemutusan untai tunggal maka tempat terjadi
kerusakan semacam itu dapat diperbaiki tanpa kesalahan, sehingga
struktur DNA dapat pulih seperti sedia kala tanpa menimbulkan
akibat pada faal dan kehidupan sel.
Namun ada kalanya proses perbaikan kerusakan dapat
mengalami kesalahan; meskipun struktur DNA secara keseluruhan
utuh kembali, terdapat perubahan urutan basa penyusunnya (mutasi
titik) pada tempat yang mengalami kerusakan atau bahkan terjadi
perubahan lebih besar lagi seperti misalnya hilangnya gen atau
perubahan susunan gen sehingga dapat menimbulkan akibat pada faal
atau kehidupan sel.
b. Kerusakan Kromosom Akibat Radiasi
Pada saat pembelahan sel, benang-benang kromatin pada inti sel
terkondensasi menjadi kromosom. Kromosom terdiri dari dua lengan
yang dihubungkan satu sama lain dengan suatu penyempitan yang
disebut sentromer. Dalam matriks protein pada kromosom ini terdapat
molekul-molekul DNA.
Kerusakan kromosom akibat radiasi dapat berupa perubahan
struktur sebuah atau beberapa buah kromosom, ataupun perubahan
jumlah kromosom.

c. Efek Radiasi yang Mematikan Sel


Kematian sel karena kerusakan struktur penting dalam sel yang
tidak dapat diperbaiki, sering kali dapat segera terlihat (kematian
segera atau kematian interfase) atau baru dapat teramati setelah
selang waktu yang lamanya sangat bervariasi dari beberapa jam hari
(untuk populasi sel yang cepat membelah) hingga beberapa bulan
(untuk poluasi sel yang lambat membelah). Kematian yang tertunda
ini disebut kematian mitosis karena baru terjadi setelah sel memasuki
fase M. Banyaknya sel yang mati karena radiasi akan meningkat
sesuai dengan penambahan dosis. Bila sel yang mengalami kematian
berjumlah sedikit maka fungsi jaringan dan alat tubuh yang tersusun
oleh sel-sel itu tidak dapat terpengaruh, namun jika sel yang mati
berjumlah banyak maka akan terjadi efek yang merugikan yang
berupa gangguan fungsi jaringan atau alat tubuh. Pada keadaan
ekstrim maka organisme itu sendiri dapat mengalami kematian.
Peluang untuk menimbulkan gangguan fungsi jaringan atau alat
tubuh itu praktis sama dengan nol pada dosis rendah, namun di atas
dosis tertentu (dosis ambang) peluang itu menjadi 100%. Di atas
dosis ambang, keparahan efek juga akan meningkat dengan
pertambahan dosis. Efek semacam itu disebut efek deterministik atau
efek non stokastik.

2.3.2 Replikasi Sel

Interaksi radiasi dengan kromosom, kromosom terdiri dari dua lengan


(telomer) yang dihubungkan satu sama lain dengan suatu penyempitan yang
disebut sentromer. Pada salah satu fase dari siklus sel yaitu fase S (sintesa
DNA), kromosom mengalami penggandaan untuk kemudian masuk ke dalam
fase mitosis yaitu fase pembelahan dari satu sel menjadi dua sel anak.

Radiasi menyebabkan terjadinya perubahan pada jumlah dan struktur


kromosom (aberasi kromosom). Perubahan jumlah kromosom, misalnya
menjadi 47 buah pada sel somatik yang memungkinkan timbulnya kelainan
genetik. Sedangkan kerusakan struktur kromosom berupa patahnya lengan
kromosom yang terjadi secara acak dengan peluang yang semakin besar
dengan meningkatnya dosis radiasi.

Bentuk aberasi kromosom yang dapat timbul akibat radiasi adalah:

1. Kromosom asentrik (fragmen asentrik), adalah potongan kecil kromosom


yang tidak mengandung sentromer. Kromosom ini merupakan hasil dari
terjadinya delesi atau pematahan pada lengan kromosom, baik terminal
atau interstisial.
2. Kromosom cincin (ring), merupakan hasil penggabungan lengan
kromosom dari dari satu kromosom yang sama.
3. Kromosom disentrik, adalah kromosom dengan dua buah sentromer
sebagai hasil dari penggabungan dua kromosom yang mengalami patahan
4. Translokasi yaitu terjadinya perpindahan fragmen antar lengan dari
kromosom yang sama atau dari dua kromosom.

2.4 Efek Deterministik pada Jaringan dan Organ


Radiosensitivitas suatu jaringan atau organ diukur dari responnya terhadap
penyinaran. Hilangnya beberapa sel tidak mempengaruhi fungsi dari sebagian
besar organ. Tetapi, jika sel yang hilang jumlahnya banyak, pada organisme
yang dipengaruhi menunjukkan hasil yang dapat diobservasi. Keparahan
perubahan ini tergantung pada dosis yang nantinya akan menghilangkan
sejumlah sel. Nanti akan dibahas mengenai paparan yang terbatas pada area
yang kecil, seperti terapi radiasi.

2.4.1 Efek Jangka Pendek


Efek radiasi jangka pendek pada jaringan (beberapa minggu setelah
paparan) ditentukan terutama oleh sensitivitas sel parenkimnya. Jika
jaringan yang aktif berproliferasi, seperti sumsum tulang dan membran
mukosa mulut, dilakukan penyinaran dengan dosis sedang, sel-selnya mati
terutama oleh kematian pada saat produksi sel, efek pengamat, dan
apoptosis. Kematian sel berikutnya tergantung pada kerusakan tampungan
stem cell dan laju proliferatif dari populasi sel. Efek penyinaran pada
jaringan proliferatif jelas terlihat sebagai berkurangnya jumlah sel dewasa.
Sedangkan, jaringan yang tidak aktif berproliferasi, seperti neuron atau
otot, menunjukkan efek hipoplasia yang kecil atau bahkan tidak ada sama
sekali.
Gambar 1. Radiosensitivitas pada berbagai organ (White, 2014)

2.4.2 Efek Jangka Panjang


Efek radiasi jangka panjang pada jaringan dan organ (beberapa bulan
atau beberapa tahun setelah paparan) adalah hilangnya sel-sel parenkim
yang tergantikan oleh jaringan ikat fibrous. Perubahan ini disebabkan oleh
kematian sel pada saat berreplikasi dan kerusakan pada pembuluh darah
yang kecil. Kerusakan kapiler akan menyebabkan penyempitan dan
obliterasi sepenuhnya lumen pembuluh darah, yang nantinya akan
mengganggu transport oksigen, nutrisi, dan produk-produk buangan
sehingga segala tipe sel yang divaskularisasi pembuluh darah tersebut
akan mati. Jadi, sel-sel parenkim yang aktif membelah (radiosensitive)
maupun yang tidak aktif membelah (radioresistant) akan digantikan oleh
jaringan ikat fibrous.

2.4.3 Faktor yang dapat dimodifikasi


a. Dosis
Parahnya kerusakan jaringan atau organ tergantung dari jumlah
radiasi yang diterima. Jika dosis yang diberikan tidak melebihi batas klinis
(clinical threshold), maka tidak akan terlihat efek yang membahayakan.
Jika dosis yang diberikan melebihi batas klinis, maka jumlah kerusakan
sebanding dengan banyaknya dosis yang diberikan.
b. Laju Dosis
Laju dosis menunjukkan kecepatan paparan. Misalnya dosis total
sebanyak 5 Gy dapat diberikan pada laju dosis tinggi (1 Gy/menit)
ataupun pada laju dosis rendah (1 mGy/menit). Paparan dengan laju tinggi
menunjukkan kerusakan yang lebih besar daripada paparan dengan laju
rendah walaupun total dosisnya sama. Hal ini terjadi karena pada paparan
dengan laju rendah, sel-sel yang rusak memiliki waktu untuk
memperbaiki kerusakannya.
c. Oksigen
Radioresistensi dari berbagai sistem biologi meningkat dua sampai
tiga kali lipat jika paparan dengan oksigen yang dikurangi (hipoksia).
Kerusakan sel yang lebih besar akan berlanjut dengan adanya oksigen
berhubungan dengan peningkatan jumlah pembentukan radikal bebas
hidrogen peroksida dan hidroperoksil. Secara klinis, hal ini sangat penting
karena terapi hiperbarik oksigen dapat digunakan selama terapi radiasi
tumor dengan sel-sel hipoksia.
d. Perpindahan Energi Linear
Secara umum, dosis yang diperlukan untuk menimbulkan efek
biologis tertentu dikurangi karena radiasi perpindahan energi linear (LET)
ditingkatkan. Radiasi LET yang tinggi, seperti partikel, akan lebih
merusak sistem biologi oleh karena densitas ionisasinya yang tinggi dapat
merusak rantai ganda DNA. Radiasi LET yang rendah seperti x ray
mengeluarkan energi lebih jarang dan tersebar secara merata dalam
absorber sehingga akan menyebabkan kerusakan rantai tunggal dan
kerusakan biologis yang lebih rendah.
2.5 Radioterapi pada Rongga Mulut
2.5.1 Efek pada Jaringan Mulut
1. Mukositis
Reaksi akut pada mukosa terjadi dalam bentuk kematian sel yang
sedang mengadakan mitosis dalam epithelium mukosa mulut dan faring.
Mucositis ini merupakan reaksi jaringan lunak yang paling
menimbulkan masalah selama radioterapi. Perubahan akibat radiasi pada
epithelium mukosa mulut dan faring terjadi sekitar 12 hari pascaradiasi
dan tidak tergantung pada dosis maupun teknik radiasi. Mula-mula
terjadi eritema pada mukosa dengan pembentukan eksudar fibrinous.
Bila radiasi diberikan dalam dosis tinggi dan waktu singkat, maka akan
terjadi ulserasi dengan membran fibrinous. Mucositis mula-mula terjadi
pada satu tempat, tetapi bila radiasi sudah mencapai dosis tinggi, maka
mucositis dapat terjadi pada seluruh mukosa. Faring, palatum lunak,
dasar mulut, dan bagian lateral lidah merupakan daerah yang sensitive
terhadap radiasi.
Mucositis menimbulkan rasa sakit yang keparahannya berhubungan
dengan keadaan nutrisi pasien, dalam hal ini perlu dilakukan perawatan
secara konservatif agar epithelium dapat beregenerasi. Pasien dianjurkan
untuk diet makanan lunak, menghindari iritan misalnya makanan pedas
dan merangsang, tidak merokok, menjaga kebersihan mulut,
menggunakan obat kumur air garam fisiologis. Zat anti inflamasi dan
analgesic dapat digunakan untuk meringankan rasa sakit. Lamanya
mucositis tergantung pada intensitas dosis radioterapi, biasanya akan
sembuh 3 minggu pasca radioterapi.
2. Hilangnya rasa
Radioterapi akan menimbulkan gangguan untuk merasa meskipun
sel reseptor perasa bersifat radioresisten. Hilangnya kemampuan merasa
terjadi pada pasien dengan nutrisi yang buruk. Keadaan ini sering
ditemukan pada radiasi kelenjar parotis. Perubahan komposisi dan
volume saliva merupakan salah satu mekanisme komplikasi radioterapi
yang menyebabkan gangguan hilangnya kemampuan merasa. Fungsi
merasa dapat kembali secara perlahan, beberapa bulan setelah
radioterapi selesai, namun dapat pula menetap.
3. Xerostomia
Kelenjar saliva dan mukosa merupakan daerah yang rentan terhadap
radioterapi yang menyebabkan turunnya produksi saliva beberapa hari
pasca radioterapi. Setelah 5 minggu, produksi saliva akan terhenti sama
sekali dan keadaan ini bersifat menetap. Kadang-kadang xerostomia
dapat berkurang setelah beberapa bulan, hal ini mungkin terjadi karena
penyesuaian terhadap penurunan produksi saliva dan bukan merupakan
kompensasi dari hipertrofi kelenjar saliva yang terkena radiasi.
Xerostomia tidak menimbulkan stress, biasanya pasien hanya
mengeluh mulut kering pada malam hari, tetapi dengan berlanjutnya
perawatan, xerostomia menjadi keluhan sepanjang hari. Xerostomia
dapat menjadi parah dan kronik tergantung pada tipe, dosis, dan lokasi
radioterapi. Pada radioterapi dengan keganasan kelenjar liur, sedapat
mungkin menghindari kelenjar kontralateral agar tidak menyebabkan
xerostomia. Radioterapi pada keganasan nasofaring pada umumnya
dapat merusak kelenjar parotis sehingga menyebabkan xerostomia berat
yang permanen.
4. Infeksi
Infeksi bacterial akut selama radioterapi jarang terjadi. Infeksi
sekunder spesies candida dapat terjadi mengikuti mucositis dan
xerostomia. Keadaan ini dapat berakibat meningkatnya rasa sakit dan
eritema yang meluas pada mukosa yang bermanifestasi sebagai plak
putih (thrush). Untuk mencegah hal ini, dianjurkan penggunaan obat
kumur antiseptik.
5. Karies
Karies rampan sering terjadi pasca radioterapi karena adanya
perubahan lingkungan dalam mulut. Karise terjadi mengikuti pola
tertentu dan disebut karies radiasi. Daerah gigi yang sering terkena
adalah permukaan bukal, lingual, insisal, cusp, dan servikal yang
sebelumnnya telah mengalami atrisi email, khususnya permukaan
lingual dan proksimal gigi depan bawah. Keadaan ini dimulai dengan
terjadinya bercak putih pada gigi karena terjadi demineralisasi email
bagian bukal dan lingual, yang bila tidak dirawat akan menjadi karies
yang mengelilingi gigi dan memotong mahkota. Bagian insisal dan
oklusal menjadi lunak dan berwarna coklat. Proses karies radiasi ini
berlangsung cukup lambat sehingga memberi cukup waktu bagi pulpa
untuk mendeposit dentin sekunder.
6. Kerusakan Jaringan Periodontium
Gigi yang terkena radiasi langsung akan memperlihatkan
disorientasi ligament periodontal, di mana terjadi penebalan membrane
dan hilangnya vaskularisasi dari ligament periodontal. Repon ini
mengurangi kemampuan jaringan periodontium untuk mengadakan
regenerasi dan perbaikan. Kemampuan regenerasi sementum menjadi
sangat rendah. Hilangnya vaskularisasi ligament periodontal
menyebabkan terhambatnya perlekatan kembali sel sesudah dilakukan
prosedur periodontal seperti skeling, kuretase, dan bedah. Pembentukan
poket periodontal dan adanya daerah epithelium yang tidak menempel
pada leher gigi menyebabkan terjadinya infeksi yang menuju pada
nekrosis tulang.
7. Edema dan Trismus
Edema pada mukosa bukal, daerah submental, submandibular, dan
lidah seringkali merupakan tanda karakteristik pasca radioterapi. Edema
menyebabkan lidah dan pipi mudah tergigit, khususnya di daerah molar.
Adanya edema menyebabkan pasien yang memakai geligi tiruan tidak
dapat menggunakannya sampai keadaan edema sembuh.
Trismus umumnya terjadi secara bertahap setelah radioterapi kanker
nasofaring, tumor daerah retromolar, dan palatum posterior. Terjadinya
trismus berkaitan dengan menurunnya sekresi dan rendahnya pH saliva.
Trismus dapat menjadi parah bila radioterapi dilakukan bersamaan
dengan tindakan operasi.

8. Kepekaan Gigi
Peningkatan kepekaan gigi biasanya terjadi selama dan pasca
radioterapi. Aplikasi topical fluoride mungkin dapat bermanfaat untuk
mengurangi gejala.
9. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi selama radioterapi, disebabkan karena
trombositopenia dan atau koagulopati. Pada gigi dengan kelainan
periodontal dapat terjadi perdarahan hanya karena akibat trauma yang
minimal. Tanda adanya perdarahan yang bersifat ringan dalam mulut
tampak sebagai petechiae di daerah bibir, palatum lunak, dasar mulut.
Perdarahan yang lebih parah dapat terjadi pada daerah gusi.
10. Osteoradionecrosis
Sel jaringan tulang yang bersifat sensitive terhadap radiasi adalah
endotel pembuluh darah dan osteosit. Pada orang dewasa, aktivitas
mitosis jaringan tulang menurun, sehingga nekrosisi tulang hanya dapat
terjadi bila ada trauma dan radiasi dosis tinggi.
Osteroradionekrosis didefinisikan sebagai kematian tulang akibat
radiasi. Secara klinis, kematian tulang akibat hilangnya permukaan
tulang yang menyebabkan tulang terbuka. Osteroradionekrosis adalah
komplikasi yang jarang terjadi, biasanya terjadi beberapa tahun pasca
radioterapi, umumnya tergantung pada dosis radiasi, dan lebih sering
terjadi pada rahang bawah dibandingkan dengan rahang atas.
Osteroradionekrosis merupakan komplikasi yang paling serius yang
dapat terjadi berbulan-bulan sampai bertahun-tahun pascaradioterapi.
Osteroradionekrosis berhubungan dengan dosis, daerah yang teradiasi,
kondisi tulang, dan mukosa sebelum radiasi. Gejala klinis berawal
dengan adanya rasa sakit, eksfolasi bagian tulang, dan akhirnya
pernanahan yang terus menerus.
11. Nekrosis jaringan lunak
Nekrosis jaringan lunak pascaradioterapi bermanifestasi sebagai
ulser radionekrotik yang berbentuk datar dengan sedikit pengerasan di
sekelilingnya.
12. Iskemia dan fibrosis
Sel endotel pembuluh darah sensitive terhadap radiasi. Dilatasi vena
bermanifestasi sebagai telangiectasia. Proses ini dimulai beberapa bulan
sampai beberapa tahun setelah radiasi. Devaskularisasi yang terjadi
tergantung pada dosis radiasi dan jumlah jaringan yang terkena radiasi.
Sel nekrosis pada jaringan penyokong akan menginduksi fibroblast
untuk beregenerasi menjadi kolagen yang bermanifestasi sebagai
fibrosis.
13. Tulang
Pengobatan kanker di daerah mulut sering melibatkan penyinaran
pada daerah mandibula ataupun maksila. Kerusakan utama pada tulang
dewasa dihasilkan dari radiasi terhadap pembuluh darah periosteum dan
tulang kortikal, biasanya sudah jarang terjadi. Radiasi juga
menghancurkan osteoblas dan osteoklas. Selain itu, endosteum
mengalami atrofi, dilihat dari aktivitas osteoblas dan osteoklas yang
menurun. Derajat mineralisasi dapat dikurangi, yang dapat menyebabkan
kekasaran. Biasanya, mukosa rongga mulut hancur dengan paparan
tulang yang mendasarinya. Kondisi ini disebut dengan
osteoradionekrosis. Kondisi ini merupakan komplikasi klinis paling
berat yang terjadi pada tulang setelah terkena penyinaran. Penurunan
pembuluh darah pada mandibula membuatnya mudah terinfeksi oleh
mikroorganisme dari rongga mulut. Infeksi tulang ini mungkin terjadi
karena hasil dari kerusakan akibat radiasi dari membran mukus rongga
mulut, dari kerusakan mekanis pada membran mukus rongga mulut yang
lemah oleh karena gigi tiruan atau ekstraksi gigi, melalui lesi
periodontal, ataupun dari karies radiasi. Infeksi ini dapat menyebabkan
luka yang tidak dapat sembuh pada tulang yang terkena penyinaran yang
diobat dengan pembenahan yang mempunyai berbagai tingkat
keberhasilan. Kondisi ini lebih sering terjadi pada mandibular daripada
maksila, kemungkinan karena pasokan pembuluh darah yang lebih pada
maksila dan mandibula lebih sering terkena penyinaran. Semakin tinggi
dosis radiasi yang diserap oleh tulang, terutama dengan dosis lebih dari
60 Gy, maka semakin tinggi pula resiko osteoradionekrosis. Resiko
tersebut juga dapat diperbesar dengan adanya penyakit odontogen atau
periodontal dan pada individu dengan oral hygiene yang buruk. Pasien
dengan osteoradionekrosis biasanya mempunyai komplikasi lain seperti
trismus, kehilangan rasa pengecap, kesulitan menelan, dan xerostomia.

Pasien sebaiknya dirujuk ke perawatan gigi terlebih dahulu sebelum


melakukan terapi radiasi agar resiko karies radiasi dan
osteoradionekrosis dapat diminimalisir. Karies radiasi dapat
diminimalisir dengan cara mengganti semua lesi karies sebelum terapi
radiasi dan memulai teknik pencegahan dengan oral hygiene yang baik.
Resiko terjadinya osteoradionekrosis dan infeksi dapat diminimalisir
dengan cara menyingkirkan gigi dengan karies yang luas atau gigi yang
kurang mendapat tumpuan jaringan periodontal dan menyesuaikan gigi
tiruan untuk mengurangi resiko nyeri oleh karena gigi tiruan.
Pencabutan gigi setelah penyinaran harus dihindari bila memungkinkan.

Pasien yang sudah menjalani terapi radiasi biasanya membutuhkan


pemeriksaan radiografi untuk melengkapi pemeriksaan klinisnya.
Radiograf sangat penting untuk mendeteksi karies lebih awal. Jumlah
radiasi dari paparan diagnostik semacam itu dapat diabaikan
dibandingkan dengan jumlah yang diterima selama terapi. Namun, bila
memungkinkan, akan lebih baik untuk menghindari pengambilan
radiograf selama 6 bulan pertama setelah radioterapi selesai. Hal ini
dilakukan untuk menghindari kerusakan pada membran mukus.

14. Otot
Radiasi dapat menyebabkan inflamasi dan fibrosis yang akan
menghasilkan kontraktur dan trismus pada otot mastikasi. Otot masseter
atau pterygoid biasanya terlibat. Hambatan dalam membuka mulut
biasanya dimulai sekitar 2 bulan setelah radioterapi selesai dan akan
berkembang lebih lanjut. Program latihan akan sangat membantu dalam
meningkatkan jarak buka mulut.

2.6 Efek Deterministik Iradiasi pada Tubuh


2.6.1 Sindrom Radiasi Akut

Sindroma radiasi akut adalah beberapa tanda dan gejala yang dialami
individu setelah paparan tubuh secara keseluruhan terhadap radiasi.
Informasi tentang sindrom ini berasal dari eksperimen hewan dan
eksposur manusia dari radioterapi medis, ledakan bom atom pada tahun
1945, dan kecelakaan radiasi.
a. Periode Prodormal
Dalam menit pertama sampai beberapa jam setelah terpapar
iradiasi seluruh tubuh sekitar 1,5 Gy, seseorang mungkin mengalami
anoreksia, mual, muntah, diare, lemah, dan kelelahan. Gejala awal ini
merupakan periode prodromal dari sindroma radiasi akut. Semakin
tinggi dosisnya, onsetnya semakin cepat, dan semakin parah tingkat
keparahan gejala.
b. Periode Laten
Setelah reaksi prodromal terjadi periode laten, di mana orang
yang terpapar tidak menunjukkan tanda atau gejala penyakit radiasi.
Tingkat periode laten juga terkait dosis, jam atau hari setelah paparan
supralethal (kira-kira> 5 Gy) sampai beberapa minggu setelah
paparan sekitar 2 Gy.
c. Sindrom Hematopoietik
Eksposur seluruh tubuh dari 2 sampai 7 Gy menyebabkan luka
pada stem cell hematopoietik mitotik aktif di sumsum tulang dan
limpa. Dosis dalam kisaran ini menyebabkan penurunan jumlah
granulosit, platelet, dan pada akhirnya eritrosit dengan cepat.
Meskipun granulosit, platelet, dan eritrosit yang matang bersifat
radioresisten, sel yang tidak berreplikasi, kekurangannya pada darah
perifer setelah iradiasi mencerminkan radiosensitifitas prekursor
mereka. Granulosit, dengan waktu hidup pendek beredar di sirkulasi,
mati dalam beberapa hari, sedangkan sel darah merah, dengan umur
panjang yang beredar, mati perlahan.
Tanda klinis dari sindrom hematopoietik meliputi infeksi (dari
lymphopenia dan granulocytopenia), perdarahan (dari kehilangan
platelet), dan anemia (dari deplesi eritrosit). Probabilitas kematian
rendah setelah paparan pada ujung rendah kisaran ini namun jauh
lebih tinggi pada high end. Saat kematian diakibatkan oleh sindrom
hematopoietik, biasanya terjadi 10 sampai 30 hari setelah penyinaran.

d. Sindrom Gastrointestinal
Sindrom gastrointestinal disebabkan oleh eksposur seluruh tubuh
dari 7 sampai 15 Gy. Eksposur dalam rentang ini menyebabkan
kerusakan parah pada sistem gastrointestinal di samping kerusakan
hematopoietik yang dijelaskan sebelumnya. Paparan dalam kisaran
dosis ini menyebabkan luka yang cukup parah pada sel epitel basal
yang cepat berproliferasi pada villi usus dan menyebabkan hilangnya
lapisan epitel mukosa usus secara cepat. Karena permukaan mukosa
yang bergerigi, ada kehilangan plasma dan elektrolit, hilangnya
penyerapan usus yang efektif, dan ulserasi lapisan mukosa dengan
pendarahan ke dalam usus. Perubahan ini bertanggung jawab atas
diare, dehidrasi, dan penurunan berat badan. Bakteri usus endogen
mudah menyerang permukaan yang bergerigi, menyebabkan
septikemia.
Pada waktu perkembangan kerusakan pada sistem
gastrointestinal mencapai maksimum, efek depresi sumsum tulang
mulai terwujud. Hasilnya adalah penurunan pertahanan tubuh yang
terhadap infeksi bakteri dan penurunan efektivitas mekanisme
penggumpalan darah. Efek gabungan dari kerusakan pada sistem sel
induk hematopoietik dan gastrointestinal ini menyebabkan kematian
dalam waktu 2 minggu dari kehilangan cairan dan elektrolit, infeksi,
dan kemungkinan gangguan nutrisi. Dari staf pabrik dan petugas
pemadam kebakaran pada kecelakaan Chernobyl, 28 meninggal
dalam beberapa bulan pertama perkembangan sindrom hematopoietik
atau gastrointestinal.

e. Sindrom Kardiovaskular dan Sistem Saraf Pusat


Eksposur lebih besar dari 50 Gy biasanya menyebabkan
kematian dalam 1 sampai 2 hari. Beberapa manusia yang telah
terpapar pada tingkat ini menunjukkan kolapsnya sistem peredaran
darah dengan penurunan tekanan darah terjal pada jam-jam sebelum
kematian. Otopsi mengungkapkan nekrosis otot jantung. Korban juga
dapat hadir dengan pingsan, inkoordinasi, disorientasi, dan kejang
yang menyengat yang menunjukkan kerusakan parah pada sistem
saraf. Meskipun mekanisme yang tepat tidak sepenuhnya dipahami,
gejala terakhir ini kemungkinan akibat kerusakan pada neuron dan
pembuluh darah halus otak.
f. Penatalaksanaan Sindrom Radiasi Akut
Masalah klinis yang ada menentukan pengelolaan berbagai
bentuk sindroma radiasi akut. Antibiotik diindikasikan saat jumlah
granulosit menurun. Penggantian cairan dan elektrolit digunakan
seperlunya. Transfusi darah utuh digunakan untuk mengobati anemia,
dan platelet dapat diberikan untuk menghentikan perdarahan.

2.6.2 Efek Radiasi pada Embrio dan Fetus

Efek radiasi pada embrio manusia dan janin telah dipelajari pada
hewan, wanita terpapar radiasi diagnostik atau terapeutik selama
kehamilan, dan wanita yang terpapar radiasi dari bom atom terjatuh di
Hiroshima dan Nagasaki. Embrio dan janin jauh lebih radiosensitif
daripada orang dewasa karena kebanyakan sel embrio relatif tidak
berdiferensiasi dan cepat mengalami mitosis.
Eksposur 1 sampai 3 Gy selama beberapa hari pertama setelah
pembuahan diduga menyebabkan kematian embrio yang tidak terdeteksi
karena embrio ini gagal menempel di dinding rahim. Periode
organogenesis, ketika sistem organ utama terbentuk, adalah 3 sampai 8
minggu setelah pembuahan. Kelainan yang paling umum di antara anak-
anak Jepang yang terpajan pada awal kehamilan adalah berkurangnya
pertumbuhan yang bertahan sepanjang kehidupan dan berkurangnya
ukuran otak (microcephaly), yang sering dikaitkan dengan retardasi
mental. Kelainan lain termasuk ukuran kelahiran kecil, katarak,
malformasi genital dan skeletal, dan mikropthalmia. Masa sensitivitas
maksimal otak adalah 8 sampai 15 minggu setelah pembuahan. Efek ini
bersifat deterministik dan dipercaya memiliki ambang batas sekitar 0,1
Gy. Dosis ambang ini 400 kali lebih tinggi daripada paparan janin dari
pemeriksaan gigi (0,25 mGy dari pemeriksaan mulut penuh saat apron
bertimbal digunakan). Sebagai perbandingan, dosis ke embrio dan janin
dari radiasi latar alami sekitar 2250 mGy selama 9 bulan masa kehamilan.
Radiasi telah terbukti meningkatkan kemungkinan leukemia dan
jenis kanker lainnya (lihat nanti) selama masa kanak-kanak pada individu
yang terpapar dalam rahim. Diasumsikan bahwa embrio dan janin
memiliki risiko yang hampir sama untuk efek karsinogenik seperti anak-
anak (sekitar tiga kali lipat dari populasi secara keseluruhan). Tidak
diketahui ambang batas untuk leukemia atau kanker lainnya. Karena
pertimbangan ini, penting untuk mempertimbangkan efek pada embrio
dan janin saat memesan radiograf gigi untuk pasien hamil. Dianjurkan
untuk menunda pencitraan opsional sampai akhir kehamilan (misal
Bitewing hanya ditunjukkan oleh lamanya waktu sejak pemeriksaan
sebelumnya) namun untuk membuat radiografi bila ada indikasi spesifik
berdasarkan riwayat pasien atau temu klinis.

2.6.3 Efek Lambat


Berbagai efek deterministik lambat telah ditemukan pada korban
selamat dari pemboman atom Hiroshima dan Nagasaki.
a. Pertumbuhan dan perkembangan
Anak-anak yang terpapar dalam pemboman menunjukkan
penurunan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk penurunan
tinggi badan, berat badan, dan perkembangan kerangka. Semakin
muda individu pada saat terpapar, semakin terasa efeknya.

b. Katarak
Ambang batas induksi katarak (kekeruhan pada lensa mata)
tidak jelas, namun sekarang diyakini berada pada kisaran 0,5 Gy.
Meskipun katarak ini terdeteksi secara klinis, individu yang
mengalami katarak tidak menyadari kehadirannya. Meskipun
paparan ke mata dari radiografi gigi cukup kecil, namun harus
dihindari bila memungkinkan selama pemeriksaan radiografi.

c. Rentang Kehidupan Pendek


Orang yang selamat dari pemboman atom menunjukkan
penurunan yang jelas dalam harapan hidup rata-rata dengan
peningkatan dosis radiasi (selain harapan hidup yang dipersingkat
yang disebabkan oleh kanker). Pengurangan rentang hidup berkisar
antara 2 bulan sampai 2,6 tahun dengan kelompok dosis, dengan
rata-rata keseluruhan 4 bulan. Korban selamat menunjukkan
peningkatan frekuensi penyakit jantung, stroke, dan penyakit
nonkanker pada sistem pencernaan, pernafasan, dan hematopoietik.
Hal ini diyakini bahwa jumlah kematian non kanker yang
disebabkan oleh paparan radiasi adalah sekitar setengah dari
kematian akibat kanker.

2.7 Efek Stokastik

Efek stokastik diakibatkan oleh perubahan sublethal pada sel DNA individu.
Konsekuensi yang paling penting dari kerusakan tersebut adalah kanker. Tingkat
keparahan kanker akibat radiasi ini tidak mengenal dosis ambang, baik itu ada
maupun tidak. Banyak penelitian menunjukkan peningkatan kejadian kanker pada
manusia setelah terkena paparan radiasi. Paparan efek radiasi yang dapat
diwariskan meski jauh lebih kecil kemungkinannya, bisa juga terjadi.

2.7.1 Karsinogenesis
Radiasi menyebabkan kanker dengan memodifikasi DNA. Mekanisme
yang paling mungkin adalah proses multistep termasuk akumulasi mutasi gen
yang diinduksi radiasi. Mutasi ini biasanya merupakan substitusi dasar, insersi
dan delesi basa, penataan ulang yang disebabkan oleh kerusakan dan
abnormal bergabung kembali untai DNA, atau perubahan jumlah salinan
segmen DNA. Ketika mutasi melibatkan pertumbuhan yang mengatur
aktivasi gen onkogen atau inaktivasi gen supresor tumor, mereka dapat
melakukan deregulasi pertumbuhan sel atau diferensiasi atau keduanya dan
pada akhirnya menyebabkan perkembangan neoplastik. Pada prinsipnya,
bahkan satu foton radiasi pun bisa memulai pembentukan kanker.
Perkiraan jumlah kanker akibat radiasi sulit dilakukan. Kanker yang
diinduksi radiasi tidak dapat dibedakan dari kanker yang disebabkan oleh
penyebab lainnya. Dapat disimpulkan bahwa jumlah kanker hanya dapat
diperkirakan sebagai jumlah kasus yang berlebih ditemukan di kelompok
orang yang terpapar dibandingkan dengan jumlah kelompok orang yang tidak
terpapar. Kelompok individu yang dipelajari secara intensif untuk
memperkirakan resiko kanker akibat radiasi adalah korban bom atom jepang.

Berikut akibat organ yang terpapar dalam radiografi gigi :

1. Leukimia
Kejadian leukemia (selain leukemia limfositik kronis) meningkat
setelah terpapar sumsum tulang terhadap radiasi. Korban bom atom dan
pasien ankylosing spondylitis ( peradangan kronis tulang belakang)
diiridiasi, menunjukkan gejala awal leukimia setelah terpapar,
Memuncak sekitar 7 tahun, dan berhenti setelah sekitar 30 tahun.
2. Kanker Thyroid
Kejadian karsinoma tiroid (timbul dari epitel folikel) meningkat
pada manusia setelah terpapar. Hanya sekitar kurang lebih 10%
individu menderita kanker ini meninggal karena penyakit tersebut.
Kerentanan terhadap radiasi akibat kanker tiroid lebih dini diusia anak-
anak di kemudian hari, dan anak-anak lebih rentan daripada orang
dewasa. Dan wanita lebih rentan terkena kanker tiroid dibandingkan
laki-laki.

3. Kanker Esofagus
Kebanyakan jumlah kanker esofagus ditemukan pada korban bom
atom di Jepang dan dijumpai pada pasien ankylosing spondylitis yang
diobati dengan radiasi sinar x.
4. Kanker Otak dan Sistem Saraf
Pasien yang terpapar pemeriksaan sinar-x diagnostik dalam rahim
dan dosis terapeutik pada masa anak-anak atau saat dewasa (dosis rata-
rata otak tengah sekitar 1 Gy) jumlah kelebihan menunjukkan tumor
otak ganas dan jinak. Selain itu, kontrol studi kasus telah menunjukkan
hubungan antara meningioma intrakranial dan radiografi gigi
sebelumnya. Jika asosiasi itu benar, kemungkinan besar bahwa sifat
asosiasi itu lebih banyak menggunakan gambar gigi dalam menanggapi
nyeri wajah yang disebabkan tumor dibandingkan radiasi yang lebih
banyakmenyebabkan meningioma.
5. Kanker Kelenjar Ludah
Kejadian tumor kelenjar ludah meningkat pada pasien yang diobati
dengan iradiasi untuk penyakit kepala dan leher, pada korban bom atom
Jepang, dan pada orang yang terpapar radiasi diagnostik. Hubungan
antara tumor kelenjar liur dan radiografi gigi telah ditunjukkan. Seperti
meningioma, kemungkinan besar asosisasi dijelaskan oleh radiograf
gigi yang dibuat sebagai respons terhadap kehadiran tumor.
6. Organ Lainnya
Organ lain, seperti kulit, sinus paranasal, dan sumsum tulang, juga
menunjukkan kelebihan neoplasia setelah terpapar. Namun, tingkat
mortalitas dan morbiditas yang diharapkan setelah paparan kepala dan
leher jauh lebih rendah daripada organ yang telah dijelaskan
sebelumnya.
2.7.2 Efek yang dapat diwariskan

Efek yang dapat diwariskan adalah perubahan yang terlihat pada


keturunan individu yang diiradiasi. Menyebabkan kerusakan pada bahan
genetik dari sel reproduksi. Temuan dasar dari pengaruh efek yang
disebabkan radiasi ditunjukkan pada Box 2-3. Pada tingkat paparan rendah,
seperti ditemui dalam kedokteran gigi, obat ini jauh lebih penting daripada
karsinogenesis.

Gambar 2. Prinsip dasar genetika radiasi (White, 2014)

Pengetahuan kita tentang efek keturunan terhadap radiasi pada


manusia menjadi meluas sejak adanya orang-orang yang selamat dari bom
atom. Sejauh ini, tidak ada kaitan radiasi terhadap keruaakan genetika
yang telah terbukti. Tidak ada peningkatan yang terjadi kerugian pada
hasil kehamilan yang merugikan, leukemia, atau kanker lain, atau
rusaknya (impairment) pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak
yang selamat dari bom atom. Sama halnya, studi pasien anak-anak yang
menerima radioterapi menunjukkan tidak adanya bukti tentang kenaikan
frekuensi dari penyakit genetik. Penemuan ini bukan berarti menunjukkan
bahwa bahaya tidak mungkin terjadi, melainkan bisa saja terjadi pada
frekuensi yang sangat rendah.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Radiasi memiliki beberapa efek samping yang dapat mengubah fungsi dan
struktural dari sel makhluk hidup. Keadaan tersebut dapat membuat sel dalam
makhluk hidup tidak dapat menjalankan fungsinya atau bahkan menyebabkan
kematian sel. Hubungan biologis dari tiap efek terhadap sel bergantung pada
jenis dan jumlah sel yang terkena radiasi, dosis radiasi, serta kemampuan
organisme untuk memperbaiki atau mengganti sel-sel yang terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Tenaga Nuklir Nasional. Efek Deterministik dan Stokastik.


http://www.batan.go.id/index.php/id/. diakses tanggal 22 April 2017.

Desouky, Omar, Nan Ding and Guangming Zhou. 2015. Targeted and non Targeted Effects of
Ionizing Radiation. Vol 8: 247-254.

White SC, Pharoah MJ. 2014. Oral Radiology Principles and Interpretation. 7 th ed.CV. Mosby Co.
St. Louis.