Anda di halaman 1dari 25

TEORI

SASTERA BARAT

1. TEORI SEMIOTIK

A. Pendahuluan
Semiotics is the theory and analysis of signs and significations. A
semiotician like the early Barthes sees social and cultural life in terms of
signification, and therefor in terms of the non-essential nature of
objects. Semiotics also studies the way that signs signify in the
conventional literaty texts and legal documents, or in advertisements and
bodily conducts.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting dalam kehidupan
manusia.Kata-kata yang dibentuk dalam bahasa diungkap melalui satu sistem
perlambangan yang dapat difahami secara lisan mahupun tulisan. Kesemua
ini terungkap dalam perututuran, gerak laku mahupun perbuatan. Kadang-
kala, lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa agak sukar difahami
sehingga ianya memerlukan satu bentuk kajian melalui disiplin yang
tertentu. Maka, disiplin inilah yang diterapkan melalui pendekatan
semiotik.Ia adalah disiplin yang terbentuk hasil daripada gabungan beberapa
bidang ilmu lain termasuk antropologi, lingusitik, psikologi, sosiologi dan
beberapa lagi. Semiotik kemudiannya berkembang menjadi satu bentuk
kajian yang bersifat saintifik.
Teori semiotik adalah di antara teori kritikan pascamodern yang
penting dan banyak digunakan kini. Ia memahami karya sastera melalui
tanda-tanda atau perlambangan-perlambangan yang ditemui di dalam
teks. Teori ini berpendapat bahawa dalam sesebuah teks itu terdapat banyak
tanda dan pembaca atau penganalisis harus memahami apa yang
dimaksudkan dengan tanda-tanda tersebut.
Dalam pandangan semiotik yang berasal dari teori Saussure bahasa
merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili
sesuatu yang lain yang disebut makna. Bahasa sebagai suatu sistem tanda
dalam teks kesastraan tidak hanya menyaran pada sistem (tataran) makna
tingkat pertama (first-order semiotic system), melainkan terlebih pada sistem
makna tingkat kedua (second-semiotic system). Hal ini sejalan dengan proses
pembacaan teks kesastraan yang bersifat heuristik dan hermeneutik.
Teori struktural dan semiotik pada dewasa ini merupakan salah satu
teori sastra (kritik sastra) yang terbaru di samping teori estetika resepsi dan
dekonstruksi. Akan tetapi, teori ini belum banyak dimanfaatkan dalam bidang
kritik sastra di Indonesia. Pada umumnya kritik sastra atau apa yang
dinamakan kritik sastra di Indonesia dewasa ini, yang sudah ketinggalan
dalam perkembangan kemajuan studi sastra pada umumnya.
Oleh karena itu, dalam pembicaraan ini dicoba untuk menerapkan
teori tersebut dalam menganalisis sajak Indonesia untuk turut
memperkembangkan studi sastra dalam kesusastraan Indonesia.

B. Pengertian Semiotik
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti
tanda. Semieon adalah istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk
merujuk kepada sains yang mengkaji sistem perlambangan atau sistem tanda
dalam kehidupan manusia. Daripada akar kata inilah terbentuknya istilah
semiotik, iaitu kajian sastera yang bersifat saintifik yang meneliti sistem
perlambangan yang berhubung dengan tanggapan dalam karya. Menurut
Mana Sikana, pendekatan semiotik melihat karya sastera sebagai satu sistem
yang mempunyai hubungan dengan teknik dan mekanisme penciptaan
sebuah karya Ia juga memberi tumpuan kepada penelitian dari sudut ekspresi
dan komunikasi.

Semiotik adalah sebuah disiplin ilmu sains umum yang mengkaji sistem
perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem
bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, ukiran, fotografi mahupun
pementasan drama atau wayang gambar.Ia wujud sebagai teori membaca dan
menilai karya dan merupakan satu displin yang bukan sempit keupayaannya.
Justeru itu ia boleh dimandatkan ke dalam pelbagai bidang ilmu dan boleh
dijadikan asas kajian sebuah kebudayaan. Oleh kerana sosiologi dan linguistik
merupakan bidang kajian yang mempunyai hubungan di antara satu sama
lain, semiotik yang mengkaji sistem tanda dalam bahasa juga berupaya
mengkaji wacana yang mencerminkan budaya dan pemikiran. Justeru, yang
menjadi perhatian semiotik adalah mengkaji dan mencari tanda-tanda dalam
wacana serta menerangkan maksud daripada tanda-tanda tersebut dan
mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk mendapatkan makna
signifikasinya
Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat
berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain. Jadi, yang
dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan
berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini walau harus diakui bahwa
bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna. Tanda-tanda
itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk
tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rumah, pakaian, karya seni:
sastra, lukis, patung, film, tari, musik dan lain-lain yang berada di sekitar
kehidupan kita. Dengan demikian, teori semiotik bersifat multidisiplin
sebagaimana diharapkan oleh Pierce agar teorinya bersifat umum dan dapat
diterapkan pada segala macam tanda.
Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode
kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada
kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena
bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana
sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat
dianggap sebagai fenomena bahasa, semuanya dapat juga dipandang sebagai
tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri.
Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de
Saussure dan Charles Sander Peirce. Kedua tokoh tersebut mengembangkan
ilmu semiotika secara terpisah dan di antara keduanya tidak saling mengenal
satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar
belakang keilmuan Saussure adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat.
Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada
anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa
makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem
pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda
di sana ada sistem.
Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika
(semiotics). Bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia
senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar
lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika
dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dalam perkembangan
selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign),
berfungsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi
seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu
yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu,
tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa,
struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat
disebut tanda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata,
suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak
syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang
tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu,
gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk,
bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan,
semuanya itu dianggap sebagai tanda.
Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopo tanda sebagai kesatuan
dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar
kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda
(berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh
indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau bentuk dan
aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna.
Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan
konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan
ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian
fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek dan sebagainya.
Petanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari
apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua
unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili)
sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Lampu merah mengacu
pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata
mengacu pada kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu
terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul
pengertian..
Menurut Pierce, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat
mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu. Tanda akan selalu
mengacu ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut objek
(denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru
dapat berfungsi bila diinterpretasikan dalam benak penerima tanda melalui
interpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam
diri penerima tanda. Artinya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila
dapat ditangkap dan pemahaman terjadi berkat ground, yaitu pengetahuan
tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Hubungan ketiga unsur yang
dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segitiga semiotik. Selanjutnya
dikatakan, tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda
yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol.
Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan
kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada
hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti
ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk arah
bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari
akan hujan. Simbol adalah tanda yang diakui keberadaannya berdasarkan
hukum konvensi. Contoh simbol adalah bahasa tulisan.
Ikon, indeks, simbol merupakan perangkat hubungan antara dasar
(bentuk), objek (referent) dan konsep (interpretan atau reference). Bentuk
biasanya menimbulkan persepsi dan setelah dihubungkan dengan objek akan
menimbulkan interpretan. Proses ini merupakan proses kognitif dan terjadi
dalam memahami pesan iklan.
Rangkaian pemahaman akan berkembang terus seiring dengan
rangkaian semiosis yang tidak kunjung berakhir. Selanjutnya terjadi tingkatan
rangkaian semiosis. Interpretan pada rangkaian semiosis lapisan pertama,
akan menjadi dasar untuk mengacu pada objek baru dan dari sini terjadi
rangkaian semiosis lapisan kedua. Jadi, apa yang berstatus sebagai tanda
pada lapisan pertama berfungsi sebagai penanda pada lapisan kedua, dan
demikian seterusnya.
Terkait dengan itu, Barthes mengemukakan teorinya tentang makna
konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan salah
satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi
menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan
perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi
tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif.
Semuanya itu berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya
oleh penafsir dan objek atau tanda.
Bagi Barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam
tatanan pertama. penanda tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika
teori itu dikaitkan dengan bekerjanya sebuah iklan layanan masyarakat, maka
setiap pesan merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan
signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (nonverbal),
diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada
semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis
tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau
pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh.
C. Sejarah Semiotik
Semiotik adalah sains yang mengkaji sistem perlambangan yang telah
bermula sejak zaman Greek lagi, yaitu; zaman Plato dan Aristotle. Kedua-dua
tokoh tersebut telah memulakan sebuah teori bahasa dan makna. Namun
tidak lama selepas itu, teori ini dirasakan tidak wajar, lalu kegunaan dan
keunggulannya mula menjadi lemah.
Namun, pada abad ke 17, pendekatan semiotik mula mendapat perhatian
John Locke, seorang ahli falsafah Inggeris untuk menjelaskan doktrin
perlambangan ketika itu. Kali ini, kemunculan pendekatan semiotik beransur-
ansur mendapat perhatian sehingga ia mula mendapat tempat di kalangan
tokoh-tokoh yang terkemuka seperti Ferdinand de Saussure (1875-1913),
seorang ahli linguistik Eropah dan Charles Sander Pierce (1839-1914),
seorang ahli falsafah Amerika pada abad ke 19. Kedua-dua mereka telah
merintis jalan bagi mengkaji dan menilai kesusasteraan melalui pendekatan
semiotik.
Oleh kerana semiotik merupakan gabungan daripada disiplin-disiplin
lain, telah ada usaha dari Saussure untuk memantapkan kedudukannya agar
dapat mandiri dan berdiri sebagai satu disiplin yang autonomous. Sedikit
demi sedikit, semiologi mula mendapat tempat melalui tulisan-tulisan Roland
Barthes. Ia tidak lagi dilihat sebagai sebuah teori yang bersifat daerah yang
hanya dibataskan kegunaannya untuk kajian bahasa dalam kesusasteraan
sahaja. Malah, ia dapat diaplikasikan dalam semua persoalan hidup yang
penuh dengan lambang dan perlambangan.
Maka Barthes telah berjaya memperluaskan skop serta peranan
semiotik dengan mengaitkannya dengan bahasa dan kesusasteraan. Menurut
Barthes, bahasa berpengaruh dalam semua aspek kehidupan dan ia boleh
ditinjau melalui karya-karya yang terhasil.Karya merupakan cerminan realiti
sebenar yang diungkap dalam bentuk tulisan.
Selain Barthes, semiotik merupakan satu bidang yang telah memikat
ramai tokoh-tokoh serta ahli falsafah seperti Umberto Eco, Algirdas Julien
Greimas, Louis Hjelmslev, Julia Kristeva, Charles Sander Pierce dan Tzvetan
Todorov. Tokoh-tokoh tersebut menggunakan pendekatan semiotik untuk
mengkaji karya dari berbagai aspek, iaitu daripada aspek
perlambangan, imejan, ekspresi hinggalah ke aspek hermeneutik. Dari itu,
dapat dilihat bahawa pendekatan semiotik telah mendapat tempat dalam
kajian-kajian yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh tersebut sehingga
kekuatannya terbukti apabila ia dapat digunakan secara meluas di kalangan
para pengkaji.
D. Tanda (Ikon, Indeks, Simbol)
Merujuk teorinya Pierce, maka tanda-tanda dalam gambar dapat
dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotik. Di antaranya: ikon,
indeks dan simbol. Ikon adalah tanda yang mirip dengan objek yang
diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan
apa yang dimaksudkan. Misalnya, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X
sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah ikon dari Pak Sultan.
Peta Yogyakarta adalah ikon dari wilayah Yogyakarta yang digambarkan
dalam peta tersebut. Cap jempol Pak Sultan adalah ikon dari ibu jari Pak
Sultan.
Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan
apa yang diwakilinya. Atau disebut juga tanda sebagai bukti. Contohnya: asap
dan api, asap menunjukkan adanya api. Jejak telapak kaki di tanah
merupakan tanda indeks orang yang melewati tempat itu. Tanda tangan
(signature) adalah indeks dari keberadaan seseorang yang menorehkan tanda
tangan itu.
Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan, atau
perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika
seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Contohnya:
Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki
perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya
berbeda, seperti orang Eskimo, misalnya, Garuda Pancasila hanya dipandang
sebagai burung elang biasa.
E. Kode.
Kode, merujuk terminologi sosiolinguistik ialah variasi tutur yang
memiliki bentuk yang khas, serta makna yang khas pula. Sementara itu, kode
menurut Piliang, adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara
sosial, untuk memungkinkan satu pesan disampaikan dari seseorang ke orang
lainnya. Di dalam praktik bahasa, sebuah pesan yang dikirim kepada
penerima pesan diatur melalui seperangkat konvensi atau kode. Umberto Eco
menyebut kode sebagai aturan yang menjadikan tanda sebagai tampilan yang
konkret dalam sistem komunikasi.
Fungsi teks-teks yang menunjukkan pada sesuatu (mengacu pada
sesuatu) dilaksanakan berkat sejumlah kaidah, janji, dan kaidah-kaidah alami
yang merupakan dasar dan alasan mengapa tanda-tanda itu menunjukkan
pada isinya. Tanda-tanda ini menurut Jakobson merupakan sebuah sistem
yang dinamakan kode.
Kode pertama yang berlaku pada teks-teks ialah kode bahasa yang
digunakan untuk mengutarakan teks yang bersangkutan. Kode bahasa itu
dicantumkan dalam kamus dan tata bahasa. Selain itu, teks-teks tersusun
menurut kode-kode lain yang disebut kode sekunder, karena bahannya ialah
sebuah sistem lambang primer, yaitu bahasa. Sedangkan struktur cerita,
prinsip-prinsip drama, bentuk-bentuk argumentasi, sistem metrik, itu semua
merupakan kode-kode sekunder yang digunakan dalam teks-teks untuk
mengalihkan arti.
Roland Barthes dalam bukunya S/Z mengelompokkan kode-kode
tersebut menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode semantik,
kode simbolik, kode narasi, dan kode kultural atau kode kebudayaan. Uraian
kode-kode tersebut dijelaskan Pradopo sebagai berikut:
Kode Hermeneutik, yaitu artikulasi berbagai cara pertanyaan, teka-
teki, respons, enigma, penangguhan jawaban, akhirnya menuju pada jawaban.
Atau dengan kata lain, Kode Hermeneutik berhubungan dengan teka-teki
yang timbul dalam sebuah wacana. Siapakah mereka? Apa yang terjadi?
Halangan apakah yang muncul? Bagaimanakah tujuannya? Jawaban yang
satu menunda jawaban lain.
Kode Semantik, yaitu kode yang mengandung konotasi pada level
penanda. Misalnya konotasi feminitas, maskulinitas. Atau dengan kata lain
Kode Semantik adalah tanda-tanda yang ditata sehingga memberikan suatu
konotasi maskulin, feminin, kebangsaan, kesukuan, loyalitas.
Kode Simbolik, yaitu kode yang berkaitan dengan psikoanalisis,
antitesis, kemenduaan, pertentangan dua unsur, skizofrenia.
Kode Narasi atau Proairetik yaitu kode yang mengandung cerita,
urutan, narasi atau antinarasi.
Kode Kebudayaan atau Kultural, yaitu suara-suara yang bersifat
kolektif, anomin, bawah sadar, mitos, kebijaksanaan, pengetahuan, sejarah,
moral, psikologi, sastra, seni, legenda.
F. Makna (Denotatif dan Konotatif)
Kita semua seringkali menggunakan makna tetapi sering kali pula kita
tidak memikirkan makna itu. Ketika kita masuk ke dalam sebuah ruangan
yang penuh dengan perabotan, di sana muncul sebuah makna. Seseorang
sedang duduk di sebuah kursi dengan mata tertutup dan kita mengartikan
bahwa ia sedang tidur atau dalam kondisi lelah. Seseorang tertawa dengan
kehadiran kita dan kita mencari makna; apakah ia mentertawai kita atau
mengajak kita tertawa? Seorang kawan menyeberang jalan dan melambaikan
tangannya ke arah kita, hal itu berarti ia menyapa kita. Makna dalam satu
bentuk atau bentuk lainnya, menyampaikan pengalaman sebagian besar umat
manusia di semua masyarakat.
Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol.
Simbol mengacu pendapat Spradley adalah objek atau peristiwa apapun yang
menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: pertama,
simbol itu sendiri. Kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga, hubungan antar
simbol dengan rujukan. Semuanya itu merupakan dasar bagi keseluruhan
makna simbolik. Sementara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat
kita rasakan atau alami.
Menggigil bisa diartikan dan dapat pula menjadi simbol ketakutan,
kegembiraan atau yang lainnya. Mencengkeram gigi, mengerdipkan mata,
menganggukkan kepala, menundukkan tubuh, atau melakukan gerakan lain
yang memungkinkan, semuanya dapat merupakan simbol.
Salah satu cara yang digunakan para pakar untuk membahas lingkup
makna yang lebih besar adalah dengan membedakan makna denotatif dengan
makna konotatif.
Spradley menjabarkan makna denotatif meliputi hal-hal yang ditunjuk
oleh kata-kata (makna referensial). Piliang mengartikan makna denotatif
adalah hubungan eksplisit antara tanda dengan referensi atau realitas dalam
pertandaan tahap denotatif, Misalnya, ada gambar manusia, binatang, pohon,
rumah. Warnanya juga dicatat, seperti merah, kuning, biru, putih, dan
sebagainya. Pada tahapan ini hanya informasi data yang disampaikan.
Spradley menyebut makna konotatif meliputi semua signifikansi
sugestif dari simbol yang lebih daripada arti referensialnya. Menurut Piliang,
makna konotatif meliputi aspek makna yang berkaitan dengan perasaan dan
emosi serta nilai-nilai kebudayaan dan ideologi. Contohnya, gambar wajah
orang tersenyum, dapat diartikan sebagai suatu keramahan, kebahagiaan.
Tetapi sebaliknya, bisa saja tersenyum diartikan sebagai ekspresi penghinaan
terhadap seseorang. Untuk memahami makna konotatif, maka unsur-unsur
yang lain harus dipahami pula.
Menurut Williamson, dalam teori semiotika iklan menganut prinsip
peminjaman tanda sekaligus peminjaman kode sosial. Misalnya, iklan yang
menghadirkan bintang film terkenal, figur bintang film tersebut dipinjam
mitosnya, idiologinya, imagenya, dan sifat-sifat glamour dari bintang film
tersebut.
Williamson membagi a currency of sign menjadi beberapa bagian. Di
antaranya product as signified (produk sebagai petanda, konsep atau makna),
product as signifier (produk sebagai penanda, bentuk), product as generator,
and product as currency.
Hal tersebut di atas adalah teori semiotika strukturalis. Kaum
strukturalis mencoba mengungkapkan prinsip bahwa perbuatan manusia
mengisyaratkan sistem yang diterima dari berbagai hubungan, yang
diterapkan oleh Barthes kepada semua praktik sosial. Ia menafsirkan hal-hal
itu sebagai sistem tanda yang beroperasi atas model bahasa.
Dalam semiotika struktural berpegang pada prinsip Form Follows
Function, dengan mengikuti model semiotika penanda atau fungsi. Semiotika
struktural mengacu pada Saussure dan Barthes dengan signifier (penanda,
bentuk) dan signified (petanda, makna). Hubungan antara penanda dan
petanda relatif stabil dan abadi.
Pada jantung strukturalisme menurut Pradopo, ada ambisi ilmiah
untuk menemukan kode, aturan, sistem yang mendasari semua praktik sosial
dan kebudayaan manusia. Sedangkan pascastrukturalis menurut Piliang,
mengacu pada konsep intertekstualitas Julia Kristeva dan konsep
dekonstruksi dari Jacques Derrida. Julia Kristeva misalnya, ia tergabung
dalam Tel Quel Perancis menggunakan istilah intertekstualitas untuk
menjelaskan fenomena dialog antarteks, kesalingtergantungan antara suatu
teks (karya) dengan teks (karya) sebelumnya. Kristeva melihat kelemahan
dalam konsep referensi dari formalisme dan modernisme yang cenderung
melecehkan kutipan atau kuotasi. Bagi Kristeva, sebuah teks atau karya seni
tidak lebih semacam permainan dan mosaik kutipan-kutipan dari berbagai
teks atau karya masa lalu. Ia mengistilahkan semacam ruang pasca sejarah
yang di dalamnya beberapa kutipan dari berbagai ruang, waktu, dan
kebudayaan yang berbeda-beda saling melakukan dialog. Sebagaimana yang
dikemukakan Kristeva, sebuah teks (karya) hanya dapat eksis apabila di
dalamnya, beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain, silang
menyilang dan saling menetralisir satu dengan lainnya.
Sebagai proses linguistik dan diskursif, Kristeva menjelaskan
intertektualitas sebagai pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda
lainnya. Ia menggunakan istilah transposisi untuk menjelaskan perlintasan
di dalam ruang pascasejarah ini, yang di dalamnya satu atau beberapa sistem
tanda digunakan untuk menginterogasi satu atau beberapa sistem tanda yang
ada sebelumnya. Interogasi tekstual ini dapat menghasilkan ungkapan-
ungkapan baru yang sangat kaya dalam bentuk maupun makna. Interogasi ini
dapat berupa peminjaman atau penggunaan (pastiche), distorsi, plesetan,
atau permainan makna untuk tujuan kritis, sinisme, atau sekadar lelucon
(parodi), pengelabuhan identitas dan penopengan (camp), serta reproduksi
ikonis atau kitch.
Sebuah teks postmodernisme bukanlah ekspresi tunggal dan individual
sang seniman; kegelisahannya, ketakutannya, ketertekanannya,
keterasingannya, kegairahannya atau kegembiraannya, melainkan sebuah
permainan dengan kutipan-kutipan bahasa. Kecenderungan posmodernisme
adalah menerima segala macam pertentangan dan kontradiksi di dalam
karyanya, disebabkan bercampuraduknya berbagai bahasa. Teks
posmodernisme, tidak bermakna tunggal, akan tetapi adalah aneka ragam
bahasa masa lalu dan sudah ada, dengan asal muasal yang tidak pasti, yang di
dalamnya aneka macam tulisan, tak satu pun di antaranya yang orisinal,
bercampur dan berinteraksi. Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan
yang diambil dari berbagai pusat kebudayaan yang tak terhitung jumlahnya.
Ciri-ciri pascastrukturalis: pertama, tanda tidak stabil, sebuah penanda
tidak mengacu pada sebuah makna yang pasti. Dalam hal tertentu terjadi
ambiguitas, yakni sesuatu yang dianggap sah. Kedua, membongkar hirarki
makna. Pada oposisi biner, hirarki makna itu dibongkar. Ketiga, menciptakan
heterogenitas makna, terbentuk pluralitas makna, pluralitas tanda yaitu
persamaan hak dalam pertandaan.
Teori Kajian
Semiotik boleh berhadapan dengan genre apa pun. Ia boleh untuk
memberikan penilaian yang adil dan saksama. Teori Semiotik beranggapan
bahawa sebuah karya itu mempunyai sistemnya yang tersendiri, di mana, ia
dapat diperlihatkan melalui sistem tanda dan kode yang terjelma di
dalamnya. Oleh yang demikian, proses penciptaan yang melahirkan sistem
karya itu juga menjadi penelitian. Ini termasuk sistem di luar karya yang
dibawa masuk ke dalam karya; atau lebih tepat lagi kebudayaan seluruh
masyarakat yang menjadi sumber inspirasi pengkaryaan tersebut.
Terdapat beberapa pengertian asas tentang perlambangan yang
dikemukakan di kalangan ahli tokoh-tokoh semiotik terutama dalam bidang
linguistik dan kesusasteraan umum. Sebagaimana yang telah dijelaskan
sebelum ini, teori semiotik ini sangat luas dan dipelopori oleh beberapa tokoh
dengan skop yang berbeza-beza. Maka, dalam pengkajian ini, teori semiotik
yang dipelopori oleh Pierce akan digunakan. Dengan itu, prinsip-prinsip yang
seperti ikon, indeks dan simbol turut digunakan dalam kajian ini.
Pendekatan semiotik memerlukan penganalisis mencari penggunaan tanda-
tanda dalam sesebuah karya. Tanda-tanda tersebut diungkap melalui
penanda, mengikut paradoks dan kontradisksi penggunaan stail dan
mekanisme penciptaan sesebuah karya yang dikuasai oleh pengarang. Maka,
penganalisis menggunakan semiotik untuk memberikan makna bagi tanda-
tanda dalam teks yang dikaji.
Semiotik melihat karya dalam perspektif yang lebih luas. Prinsip kedua
daripada pendekatan semiotik menuntut penganalisis memperhatikan
hubungan sistem sesebuah teks yang dikaji dengan sistem yang ada di luar
teks tersebut; iaitu segala perkara yang membawa kepada lahirnya teks
tersebut. Ini merangkumi sistem hidup dan kebudayaan masyarakat yang
menjadi sumber inspirasi penghasilan teks yang dikaji.
Segala ungkapan atau tanda-tanda yang dicerakinkan dari dalam teks
memainkan peranan yang penting bagi kewujudan satu bentuk sistem dalam
pembinaan teks tersebut. Maka, prinsip ketiga dalam pendekatan semiotik
memberi penghargaan terhadap pengarang dan keperangannya. Ini
menjelaskan bahawa terdapat sebab bagi penggunaan setiap ungkapan yang
dihasilkan dalam teks kerana segalanya mempunyai pengertiannya yang
tersendiri.
G. Kesimpulan
Sebagaimana yang telah dijelaskan, kajian ini akan didasari oleh teori
semiotik yang dipelopori oleh Charles Sander Pierce. Pengkaji menganalisis
teks dengan mencari dan menilai tanda-tanda yang digunakan melalui ikon,
indeks dan simbol. Ikon merujuk kepada tanda-tanda yang menjadi
bebayang, yang mirip mahupun yang menerupai sesuatu benda atau
perkara. Indeks pula merujuk kepada tanda-tanda yang terhasil daripada
sesuatu fenomena, simptom ataupun sesuatu perkara yang bersebab.
Manakala, simbol pula merujuk kepada perlambangan yang sedia difahami
dan membawa pengertian.
Akhirnya perlu dikemukakan bahwa kajian semiotik pada dekade
terakhir ini tampak sedang mendapat pasaran. Kajian struktural, dipihak
lain, seolah-olah menjadi ketinggalan zaman, atau kurang memberikan
sumbangan yang berarti. Namun sebenarnya, seperti dikatakan Wahl,
perbedaan antara srukturalisme dengan semiotik kabur. Yang jelas, semiotik
merupakan perkembangan yang lebih kemudian dari strukturalisme. Selain
itu, dalam praktik kajian teks kesastraan, kedua pendekatan tersebut sama-
sama muncul, dan yang membedakannya barangkali hanya masalah
penekanan atau niat peneliti. Oleh karena itu, kajian yang lebih aman dapat
berupa penggabungan keduanya : struktural-semiotik, baik hanya terhadap
satu teks maupun antarteks (kesastraan), seperti yang berupa kajian
intetekstual.
Daftar Pustaka
Barthes, Roland. 1974. S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and
Wang, buku asli diterbitkan tahun 1970.
Barthes, Roland. 1998. The Semiotics Challenge. New York: Hill and Wang
Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer.
Penerjemah M. Dwi Marianto dan Sunarto. Yogyakarta: Penerbit PT
Tiara Wacana, buku asli diterbitkan tahun 1984.
Culler, Jonathan., 1977, Structuralist Poetics, Structuralism, Linguistic and
the Study of Literature, Ithaca, New York; Cornell University Press.
Eco, Umberto. l979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University
Press.
Hoed, Benny H., 1968, Dampak Komunikasi Periklanan; Sebuah Ancangan
dari Segi Semiotika, Jakarta; Makalah Seminar Semiotika.
Noth, Winfriend. 1995. Handbook of Semiotics. Blommington and
Indianapolis: Indiana University Press.
Nurgiyantoro, Burhan., 1998, Teori Pengkajian Fiksi, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Piliang, Yasraf Amir. l999. Hiper-Realitas Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS.
Pradopo, Rachmat Djoko., 1995, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan
Penerapannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Saussure, Ferdinand de. 1998. Pengantar Linguistik Umum. Penerjemah
Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjahmada University Press, buku
asli diterbitkan tahun 1973
Spradly, James, P. 1997. Metode Etnografi.Penerjemah Misbah Zulfa
Elizabeth. Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana.
Williamson, Judith. 1984. Decoding Advertisements, Ideology and Meaning
in Advertising. London: Marion Boyars Publishers Ltd, 24 Lacy Road.

2. TEORI PSIKOLOGI

Asal-Usul Psikologi Sastra
Disadari atau tidak, dunia penelitian pesikologi sastra awal adalah teori Freud.
Meskipun tidak harus dinyatakan dia sebagai pencetus teori, namun
perkembangan berikutnya memang agak tersendat. Teori psikoananalisis Freud
yang banyak mengilhami para pemerhati psikologi sastra. Dia membedakan
kepribadian menjadi tiga macam yaitu id, ego dan super ego. Ketiga ranah
psikologi ini tampaknya menjadi dasar pijakan penelitian psikologi sastra.

Bahasa dalam sastra adalah simbol psikologis. Bahasa sastra adalah bingkisan
makna psikis yang dalam. Maka , penelitian memahami bahasa estetis
menggunakan psikoanalisis. Teori Freud dimanfaatkan untuk mengungkapkan
berbagai gejala psikologis di balik gejala bahasa. Oleh karena itulah, keberhasilan
penelitian tergantung dari kemampuan dalam mengungkapkan kekhasan bahasa
yang digunakan oleh pengarang.benar, yang sangat dominan adalah tokoh-tokoh
, tetapi perludisadari bahwa keseluruhan unsur disajikan melalui bahasa.
Bagaimana tokoh-tokoh , gaya bahasa, latar, dan unsur-unsur yang muncul
secara berulang-ulang. Jelas menunjukan ketaksadaran bahasa dan memiliki arti
secara khas. Bagi Frued, asas psikologi adalah alam bawah sadar , yang didasari
secara samar-samar oleh individu yang bersangkutan.

Teori lain dikemukakan oleh Lacan (1901-1981). Apabila teori Freud
memberikan intensitas pada kesadaran individual, jung pada ketaksadaran
kolektif , Lacan lebih memutuskan perhatian pada bahasa dan sastra. Lacan
membedakan teorinya menjadi tiga macam yaitu yang imajiner, yang simbolis,
dan yang nyata menunjukan usahanya untuk menemukan konsep baru dalam
kaitannya dengan bahasa. Pada dasarnya, teori ketaksadaran Freud dapat
dianggap sebagai awal penolakan manusia terhadap dominasi subjek
sebagaimana sangat diagung-agungkan sejak zaman Pencerahan. Artinya ,
sesudah Freud, yang kemudian dilanjutkan oleh lacan , energi kreativitas
didominasi oleh ketaksadaran, bukan manusia itu sendiri. Psike adalah struktur
tanda yang dihuni oleh alteritas yang radikal, yang secara total berasal dari
sesuatu yang lain, yaitu struktur bawah sedar.

Tanpa kehadiran psikologi sastra dengan berbagai acuan kejiwaan,
kemungkinan pemahaman sastra akan timpang. Kecerdasan sastrawan yang
sering melampaui batas kewajaran mungkin bisa dideteksi lewat psikologi
sastra. Itulah sebabnya pemunculan psikologi yang masih terseok-seok ini perlu
mendapat sambutan . Paling tidak sisi lain dari sastra akan terpahami secara
proporsional dengan penelitian psikologi sastra. Apakah sastra itu sebuah
lamunan, impian, dorongan seks, dan seterusnya dapat dipahami ilmu yang satu
ini.






Pengertian Psikologi Sastra

Walgito (2004:l) menjelaskan bahwa, ditinjau dari segi bahasa, psikologi
berasal dari kata psyche yang berati Jiwa'dan logos berarti 'ilmu' atau 'ilmu
pengetahuan', karena itu psikologis sering diartikan dengan ilrnu pengetahuan
tentang jiwa. psikologi merupakan ilmu yang mempelajari dan menyelidiki
aktivitas dan tingkah laku manusia. Aktivitas dan tingkah laku tersebut
merupakan manifestasi kehidupan jiwanya. Jadi, jiwa manusia terdiri dari dua
alam, yaitu alam sadar (kesadaran) dan alam tak sadar (ketidaksadaran).
Kedua alam tidak hanya saling menyesuaikan, alam sadar menyesuaikan
terhadap dunia luar, sedangkan alam tak sadar penyesuaiannya terhadap dunia
dalam. Jadi psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa
yang mencakup segala aktivitas dan tingkah laku manusia.

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas
kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta rasa, dan karsa dalam berkarya.
Pembaca dalam menanggapi karya tidak lepas dari kejiwaan masing-masing.
Psikologi sastra juga mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan.
Pengarang akan menangkap gejala jiwa, kemudian diolah ke dalam teks dan
dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman
hidup di sekitar pengarang akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks.


Pada dasarnya kajian psikologi sudah banyak diterapkan oleh pengarang sejak
dulu, namun terkadang pengarang dengan sengaja tidak memunculkan gejala-
gejala psikologi secara terang-terangan. Berdasarkan kutipan di atas dapat
disimpulkan bahwa pendekatan psikologi pada karya sastra memusatkan
perhatian pada tokoh-tokoh, dari tokoh-tokoh tersebut maka akan ditemukan
adanya konflik batin di dalamnya. Oleh karena itu, pendekatan psikologi sastra
sangat diperlukan untuk menganalisis dan menemukan gejala-gejala yang
tidak terlihat atau bahkan dengan sengaja disembunyikan oleh pengarang pada
karya sastra.

Istilah "psikologi sastra" mempunyai empat kemungkinan pengertian.Pertama,
studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Kedua, studi proses
kreatif. Ketiga, studi dan tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan
pada karya sastra dan yang keempat, mempelajari dampak sastra pada
pembaca (psikologi pembaca). Pada penelitian ini pengertian yang ketigalah
yang digunakan untuk menganalisis karya sastra (Rene wellek dan Austin
Waren terjemahan Melani Budianta, 1989: 90).

Asumsi dasar penelitian psikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh beberapa
hal. Pertama, adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari
suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berbeda pada situasi setengah
sadar atau subconscious self dan baru dituangkan ke dalam bentuk secara
sadar (conscious). Antara sadar dan tak sadar selalu mewarnai dalam proses
imajinasi pengarang. Kekuatan karya sastra dapat dilihat seberapa jauh
pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tidak sadar itu ke
dalam sebuah cipta sastra.
Kedua, kajian psikologi sasta di samping meneliti perwatakan tokoh secara
psikologis juga aspek-aspek pemikiran dan perasaan pengarang ketika
menciptakan karya tersebut. Pengarang mampu menggambarkan perwatakan
tokoh sehingga menjadi semakin hidup. Sentuhan-sentuhan emosi melalui
dialog atau pemilihan kata, sebenarnya merupakan gambaran kekalutan dan
kejernihan batin pencipta. Kejujuran batin itulah yang menyebabkan
orisinalitas karya (Suwardi Endraswara, 2008:96).

Sastra berbeda dengan psikologi, sebab sebagaimana sudah kita pahami sasta
berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, esai yang diklasifikasikan ke
dalam seni, sedang psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku
manusia dan proses mental. Meski berbeda keduanya memiliki titik temu atau
kesamaan yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai
sumber kejadian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena
psikologi mempelajari perilaku-perilaku manusia tidak lepas dari aspek
kehidupan yang membungkusnya dan mewamai perilakunya (Siswantoro,
2005:29).

Penelitian psikologi sastra memang memiliki landasan pijak yang kokoh.
Karena, baik sastra maupun psikologi sama-sama mempelajari kehidupan
manusia. Bedanya kalau sastra mempelajari manusia sebagai ciptaan imajinasi
pengarang, sedangkan psikologi mempelajari manusia sebagai ciptaan Illahi
secara riil.

Hubungan antara Psikologi dan Sastra

Ada tiga cara yang bisa kita lakukan untuk memahami hubungan antara
psikologi dan sastra, yaitu (a) memahami unsur-unsur kejiwaan sang
pengarang sebagai penulis, (b) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh
fiksional yang ada pada karya sastra, (c) memahami unsur-unsur kejiwaan
sang pembaca. Berdasarkan penelitian ini cara yang digunakan untuk
menghubungkan psikologi dengan sastra adalah memahami unsur-unsur
kejiwaan tokoh-tokoh fiksional pada karya sastra.
Menganalisis tokoh dalam karya sastra dan perwatakannya seorang pengkaji
sastra harus berdasarkan teori dan hukum-hukum psikologi yang
menjelaskan tentang perilaku dan karakter manusia tersebut. Teori psikologi
yang sering digunakan dalam melakukan penelitian sebuah karya sastra
adalah psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmun Freud.
Hubungan antara psikologi dan sastra atau antara gejala-gejala kejiwaan dan
sastrawan, baik yang mendahuluinya maupun yang kemudian terungkapkan
dalam karyanya seolah-olah dikukuhkan penemuan psikoanalisis, Sigmund
Freud (1856-1939). Bersamaan dengan itu, C.G. Jung (1875-1961) lewat
psikologi dalam hubungannya dengan sastra. Baginya, arketipe adalah imaji asli
dari ketidaksadaran, penjelmaan yang turun temurun sejak zaman purba.
Penyair adalah manusia kolektif, pembawa, pembentuk dan pembina dari jiwa
manusia yang aktif secara tak sadar.


Psikologi dan sastra memiliki hubungan, yakni sama-sama berguna untuk sarana
mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hanya perbedaannya, gejala-gejala
kejiwaan yang ada dalam karya sastra adalah gejala-gejala kejiwaan dari
manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia
rill. Namun keduanya, dapat saling melengkapi dan saling mengisi untuk
memperoleh pemahaman lebih mendalam terhadap kejiwaan manusia.

D. Teori Penelitian Psikologi Sastra
1. Teori Dasar Psikologi Sastra
Psikologi sastra memandang bahwa sastra merupakan hasil kreativitas
pengarang menggunakan media bahasa, yang diabdikan untuk kepentingan
estetis. Sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang
berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik
suasana pikir maupun suasana rasa (emosi). Pengalaman kejiwaan sang
pengarang yang semula terendap dalam jiwa, telah beralih ke dalam karya sastra
yang diciptakannya. Karya sastra dapat didekati dengan menggunakan
pendekatan psikologi. Sastra dan psikologi terlalu dekat hubungannya. Meskipun
sastrawan jarang berpikir secara psikologis, namun karyanya tetap bisa
bernuansa kejiwaan.

Sastra maupun psikologi, kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama,
yakni kejiwaan manusia. Pengarang dan psikolog adalah sama-sama manusia
biasa. Mereka mampu menangkap keadaan kejiwaan manusia secara mendalam.
Hanya perbedaannya, sang pengarang mengemukakannya dalam bentuk karya
sastra, sedangkan psikolog, sesuai dengan keahliannya, ia mengemukakannya
dalam bentukformulasi teori-teori psikologi.

Psikologi dan karya sastra memiliki hubungan fungsional, yakni sama-sama
berguna untuk sarana mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hanya
perbedaannya, gejala-gejala kejiwaan yang ada dalam karya sastra adalah gejala-
gejala kejiwaan dari manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi
adalah manusia-manusia rill. Namun keduanya, dapat saling melengkapi dan
saling mengisi untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam terhadap
kejiwaan manusia.

Akhirnya, dapat dikatakan bahwa sastra sebenarnya dapat dijadikan objjek
penelitian kejiwaan. Sastra dapat membantu psikologi atau pun sebaliknya.
Belajar kejiwaan dari sastra mungkin jauh lebih intens disbanding dalam dunia
nyata. Lebih dari itu, sastra akan menawarkan sejumlah rekaan manusia.
Psikologi juga akan menawarkan sederet kejiwaan manusia. Titik ketemu
keduanya dapat digabung menjadi psikologi sastra. Melalui psikologi sastra,
misteri di antara dua disiplin ini dapat terjawab.

2. Teori Konvergensi

Ada tiga teori yang terdapat di dalam teori konvergensi, yaitu:
a. Teori Psikobudaya
Sastra dan psikologi tampaknya seperti berbeda jauh. Namun, jika dicermati,
sesungguhnya keduanya mirip dalam esensi penelitian, yakni manusia. Esensi
penelitian psikologi terfokus pada manusia dalam dunia nyata, sedangkan sastra
terfokus pada manusia dalam dunia khayal.

Pemahaman manusia dalam sastra, akan lengkap apabila ditunjang oleh
psikologi, begitu juga sebaliknya. Hal ini berarti bahwa teori penelitian psikologi
sastra jelas berupa konvergensi antara teori sastra dan teori psikologi. Meskipun
teori yang ditawarkan berupa gabungan, namun yang paling dominan
seharusnya teori sastra. Maksudnya, prioritas utama kerangka penelitian adalah
teori sastra, bukan teori psikologi. Lebih dari itu, penelitian supaya tetap berada
pada koridor sastra.

Langkah pemahaman teori psikologi sastra tersebut, dapat melalui tiga cara,
pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis
terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah
karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi
yang dianggap relevan untuk melakukan analisis. Ketiga, berjalan bersama
antara menemukan teori dan objek penelitian (sastra).teori konvergensi di atas
harus dibangun dalam bentuk konstruk analisis yang memadai. Konstruk akan
menjadi arahan penelitian konversi psikologi dan sastra yang handal. Konstruk
ini bukan sekadar komplikasi teori, melainkan mengakrabkan teori psikologi dan
sastra. Teori yang dibangun tidak lagi berdiri sendiri, tetapi campuran yang
halus. Kemapanan membangun konstruk analisis sebenarnya sudah setengah
berhasil dalam penelitian.

Terdapat kaitan yang erat antara aspek psikologis dengan unsur tokoh dan
penokohan, maka karya sastra yang relevan untuk dianalisis secara psikologis
adalah karya-karya yang memberikan intensitas pada aspek kejiwaan tersebut.
b. Teori Psikomimesis
Psikologi dan sastra yang dibangun halus esensinya merupakan sebuah
penelitian mimesis. Mimesis adalah tiruan. Tiruan jiwa adalah pergolakan jiwa
secara sistematis. Penelitian akan memasuki wilayah mimesis ini secara hati-
hati. Mimesis tidak hanya terjadi pada hal-hal fisik, namun juga terkait nonfisik
termasuk kejiwaan.maksudnya, jiwa akan ditiru gerak-gerik atau getarannya
dalam sastra.

Teori mimesis yang dibangun bisa amat bervariasi. Dari berbagai sisi, mimesis
dapat hadir dalam sastra. Oleh karena itu, menarik untuk disimak gagasan
Daiches (Ratna, 2004:348) bahwa prinsip-prinsip psikologi dimanfaatkan dalam
analisis karya sastra melalui tiga cara, yaitu (a) melalui pengarang, (b) melalui
semestaan tokoh-tokoh, dan (c) melalui citra arketipe. Cara yang pertama di
sebut kritik ekspresif sebab melukiskan eksistensi subjek kreator sebagai subjek
individual, khususnya kaitan antara sikap pengarang dan karya yang
dihasilkannya. Cara yang kedua disebut sebagai kritik objektif dengan
memusatkan perhatian pada psikologi tokoh-tokoh, khususnya manifestasi
karakterisasi sebagai representasi karakterologi. Cara yang ketiga disebut kritik
arketipe sebab analisis dipusatkan pada genesis psikologis, khususnya mengenai
eksistensi ketaksadaran kolektif.

Peneliti psikomimesis harus mencermati gejala jiwa. Gejala jiwa dalam memang
dipandang yang amat rumit, apalagi jika gejala itu telah diekspresikan dalam
sastra yang bernuansa absurd. Peneliti tentu perlu menguasai absurditas sastra.
Keanehan dalam sastra jelas tak bisa lepas dari aspek jiwa. Jiwa itu akan ditiru
secara estetis. Jiwa menjadi pusat mimesis yang luar biasa.

c. Teori Psikobiografis
Biografi adalah kisah pengarang. Kehidupan pengarang amat menentukan
kondisi sastra. Maka, tugas peneliti adalah memahami latar belakang pengarang
secara komprehensif. Aspek budaya, sosial, lingkungan, dan sebagainya akan
disorot secara tajam. Memang batas biografi ini perlu dipahami, yakni sejak
kapan telah memahami kunci-kunci estetis. Sejak kapan pula seorang pengarang
telah berkarya.konteks historis pribadi ini harus dilacak sedemikian rupa.

Dalam studi psikologis sebenarnya tidak akan bisa lepas dari studi pengarang
kelas apa pun. Hal ini karena aspek kejiwaan akan melanda siapa saja. Tiap-tiap
level pengarang memiliki kekhasan masing-masing. Biografi amat membantu
penelitian psikobiografis. Pencermatan biografis adalah masalah hidup dan
kreativitas.

Studi psikologis dapat mengungkap aspek biografis pengarang secara
proporsional. Tentu penekanan biografis tetap pada gejala psikis. Tumpuan
akhir dari sebuah penelitian adalah menemukan relevansi biografis dalam
kandungan nilai dalam sastra. Aspek-aspek biografis, apakah akan menciptakan
ide baru atau tidak, tergantung kemampuan peneliti mengungkapnya. Beberapa
sastrawan yang pernah mengenyam dunia jeruji besi, tentu mengalami
dentuman psikologis yang khusus. Pada tataran ini, peneliti psikologi sastra
perlu memanfaatkan biografis dari waktu ke waktu.
3. Teori Psikotekstual
Psikotekstual adalah teori psikologi sastra dari aspek teks. Teks menjadi
tumpuan utama. Penelitian teks tidak hanya membedah sastra sebagai struktur,
tetapi juga unsur pembentuk sastra itu. Gagasan ini sebenarnya mengisyaratkan
bahwa teks sastra boleh dibaca dalam sekian hal. Termasuk di dalamnya
membaca teks secara psikologis.

Barthes (Suwonndo, 2003:77) menekankan studi sastra hendaknya mengikuti
lima kode. Yaitu aksi, teka-teki. Budaya, konotasi, dan symbol. Kode-kode ini
memang tidak langsung merujuk pada konsep tekstual psikologi sastra.
Meskipun demikian, psikologi sastra pun sebenarnya tak bisa lepas dari
penelitian kode tersebut.

Teori penelitian tekstual ini telah banyak dibahas oleh Roekhan (1990:88-105).
Menurut dia penelitian yang tekstual dalam psikologi sastra, yakni penelitian
terhadap aspek psikologis sang tokoh dalam karya sastra, lebih kemudian
dibandingkan dengan dua pendekatan yang lain, yaitu pendekatan ekspresif dan
pendekatan reseptif pragmatis.

Kehadiran penelitian tekstualini bermula dari munculnya rasa tidak puas dari
sekelompok pengkaji sastra terhadap pendekatan ekspresif dan reseptif
pragmatis yang telah ada. Dengan kondisi ini, pendekatan ekspresif dan
pendekatan reseptif pragmatis yang tersisih dan nyaris hilang karena tergeser
oleh kepopuleran pendekatan tekstual, kembali terangkat dalam percaturan
studi psikologi sastra dan mendapatkan kedudukan yang proporsional, sejajar
dengan pendekatan tekstual.

Pendekatan tekstual adalah satu di antara pendekatan dalam studi psikologi
sastra. Pada mulanya pendekatan tekstual hanya bertumpu pada pendekatan
psikologi dalam, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, C. Gustav Jung, dan
kawan-kawannya.

Penelitian tekstual merupakan penelitian yang berkutat pada tokoh.
Beberapa teori analisis bisa digunakan dalam studi teks ini. Yang penting,
penelitian dengan teori tekstual lepas dari hal ihwal di balik latar belakang
psikologis pengarang. Tekstual juga memperhatikan konteks pembaca. Meskipun
sering kali ada analogi-analogi, tetapi paparan tetap tercurah pada karya sastra
itu sendiri. Sorotan masalah tokoh dipandang dari teori psikologi.

Begitulah sistem psikotekstual. Teks menjadi endapan kejiwaan. Teks selalu
dipandang sebagai simpanan jiwa. Gejolak jiwa dari yang sederhana sampai ke
kompleks, menjadi ruh teks. Jiwa akan menghidupkan teks. Maka, penelitian
psioteks bertumpu dari teks untuk mencermati derap kejiwaan.

E. Tokoh Psikologi Sastra
1. Sigmund Freud
Tokoh yang dipandang sebagai pencetus ide psikologi sastra adalah Sigmund
Freud (1856-1939). Freud lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moeavia.
Dia berasal dari keluarga Yahudi dan terkenal dengan sebutan Bapak
Psikoanalisis. Freud adalah seorang dokter yang selalu mengemukakan
pikirannya dalam bentuk ilmiah. Pada tahun 1895 Freud mulai mengemukakan
psikoanalisisnya. Ia semangkin fokus pada masalah psikologi tokoh, dengan
menganalogikan tokoh-tokoh dalam sastra lewat hubungan dokter dan pasien.
Beberapa konsep dasar teori Freud adalah kesadaran dan ketidaksadaran yang
dianggap sebagai aspek kepribadian, insting dan kecemasan. Menurut Freud
kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran dan ketidaksadaran.
Freud menganalogikan kesadaran bagaikan permukaan gunung es yang nampak,
merupakan bagian kecil dari kepribadian, sedangkan bagian ketidaksadaran
Freud menganalogikan bahwa yang ada di bawah permukaan air mengandung
insting-insting yang mendorong semua perilaku manusia

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pendekatan psikologi yang bersumber
dari gagasan Freud mencakup empat penyelidikan yakni:
1) Psikologi pengarang sebagai tipe dan individu,
2) Bagaimana terjadinya suatu proses penciptaan karya sastra,
3) Sejauh mana psikologi diterapkan dalam karya sastra dan
4) Pengaruh karya sastra pada pembacanya.

Penyelidikan yang dapat dipandang sebagai bentuk lain dari sastrawan atau
teori mimpi Freud, sebenarnya bukan wilayah ilmu sastra, tetapi termasuk ke
dalam wilayah psikologi.

Konsep Freud mengenai ketidaksadaran, yaitu tingkah laku manusia lebih
banyak digerakkan oleh aspek-aspek tak sadar dalam dirinya. Pembagian itu
dikenal dengan struktur kepribadian, dan terdiri atas tiga unsur yaitu (1) das es
(the id), yaitu aspek psikologi, (2) das ich (the ego), yaitu aspek psikologis, (3)
das ueber ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis.

Id berkaitan dengan ketidaksadaran yang merupakan bagian dari kepribadian.
Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual dan insting
agresif. Freud menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan. Ego berkaitan dengan
komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani realitas. Oleh
karena itu, Freud menyebutnya sebagai prinsip realitas. Super-ego mengontrol
perilaku yang boleh dilakukan atau tidak. Oleh karena itu, Freud menyebutnya
sebagai prinsip moral.

2. Gestalt
Gestalt adalah ahli psikologi Gestalt yang cukup dikenal. Menurut aliran Gestalt,
jiwa manusia adalah keseluruhan yang tersendiri dari bagian-bagian atau unsur-
unsur. Contohnya kepala manusia, telinga dan lainnya. Pada strukturnya,
masing-masing bagian dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam hubungan keseluruhan dan
berpengaruh terhadap tafsiran pembelajaran.
Prinsip belajar Gestalt, yakni belajar dimulai dari suatu keseluruhan,
keseluruhan merupakan permulaan, kemudian menuju ke bagian-bagian dari
hal-hal yang kompleks ke hal-hal yang sederhana.

Psikologi gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori nativistik yang
mengatakan bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu berinteraksi
dengan lingkungannya melalui cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi
gestalt adalah menyelidiki organisasi aktivitas mental dan mengetahui secara
tepat karakteristik interaksi manusia lingkungan. Psikologi Gestalt diawali dan
dikembangakan melalui tulisan-tulisan tiga tokoh penting, yaitu Max
Wertheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Hingga pada tahun 1930, gerakan
gestalt telah berhasil menggantikan model wundtian dalam psikologi Jerman.
Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak berlangsung lama kerena
munculnya hitlerisme. Sehingga para pemimpin gerakan tersebut hijrah ke
Amerika.

Hakikat pemahaman makna atau apresiasi puisi dengan pendekatan Gestalt
adalah melakukan pertemuan antara apresiator dengan puisi sehingga
muncullah nilai Gestalt yang diakibatkan oleh pertemuan itu, yaitu si apresiator
yang mempunyai pengalaman majemuk yang ingin memahami makna puisi, dan
karya puisi sebagai refleksi kehidupan penyairnya yang mempunyai pengalaman
yang majemuk pula.

Memahami makna sebuah puisi haruslah didahului dengan membaca puisi
tersebut secara menyeluruh, agar memperoleh kesan yang bulat dan padu. Jadi,
dalam memparafrasakan puisi, tidak menganalisis kata per kata, frasa per frasa,
dan kalimat per kalimat. Namun, menganalisis keseluruhan dari awal hingga
akhir.

3. Skinner
Gagasan tokoh psikologi Skinner (behavior) terfokus pada kondisonal manusia.
Pendekatan behavior berpijak pada anggapan bahwa kepribadian manusia
adalah hasil bentukan dari lingkungan tempat ia berada. Pendekatan behavioral
mengabaikan faktor pembawaan manusia yang dibawa sejak lahir, seperti
perasaan, insting, kecerdasan,bakat dan lain-lain.

Skinner membagi perilaku manusia menjadi dua, yaitu perilaku tak berkondisi
dan perilaku berkondisi. Perilaku tak berkondisi adalah perilaku manusia yang
bersifa talami, yang terbentuk dari stimulus tak berkondisi (alami). Perilaku
berkondisi adalah perilaku yang muncul sebagai respon atas stimulus berkondisi
(tidak alami).

Untuk menghasilkan perilaku yang diharapkan, Skinner memberikan prinsip
pembentukan stimulus, yaitu positif, ajeg dan berjarak. Positif, karena stimulus
yang bersifat negatife sering menimbulkan perilaku yang kurang baik, seperti
hukuman. Dengan hukuman, seseorang menjadi pendendam atau berperilaku
sesuai dengan apa yang diharapkan hanya karena takut. Ajeg, karena stimulus
yang tidak diberikan secara ajeg, tidak dapat berfungsi secara optimal dan
cenderung membuat orang kebal terhadap stimulus. Berjarak, dalam stimulus
yang diberikan harus dirancang secra tepat pada jarak pemberiannya agar lebih
efektif.

Menurut Endraswara (2008:58) konsepsi psikologi behavioral tetap jitu untuk
memahami tokoh dalam sastra. Jika dalam dunia riil stimulus respon itu masih
murni, maka dalam sastra telah lewat imajinasi sastrawan. Meskipun keduanya
memilki wilayah yang berbeda, tetapi tetap menarik dikaji karena unsur tokoh
yang akan membangun suasana sastra.

4. Coleridge

Coleridge adalah ahli sastra yang banyak disebut-sebut M.H. Abrams. M.H.
Abrams membahas psikologi sastra secara mendalam. fokus utamanya adalah
pada wawasan Coleridge dan James Beattie.
Pandangan James Beattie tentang fenomena psikologi sastra sebagai berikut:
1) unsur-unsur partikel pikiran,
2) gerakan dan kombinasi bagian-bagian organisme,
3) hukum-hukum penampilan asosiatif dan
4) masalah pertimbangan desain artistik.

Dari empat pandangan alamiah dan dan sastra di atas, peneliti dapat leluasa
masuk ke dalam wilayah psikologi sastra. Intersivitas penggunaan unsur
kejiwaan sebenarnya sejalan dengan peran unsur-unsur organik. Setiap unsur
akan menjadi wahana jiwa, karena jiwa merupakan penerang. Meskipun dalam
sastra ditampilkan dengan asosiasi dan imajinasi kritits.

F. Kajian Psikologi Sastra
1) Psikologi Pengarang
Psikologi pengarang merupakan salah satu wilayah psikologi kesenian yang
membahas aspek kejiwaan pengarang sebagai suatu tipe maupun sebagai
seorang pribadi (wellek & Werren, 1990:90). Dalam kajian ini yang menjadi
fokus aspek kejiwaan pengarang yang memiliki hubungan dengan proses
lahirnya karya sastra. Seperti dikemukakan oleh Hardjana (1984:62) kajian yang
berhubungan dengan keadaan jiwa sebagai sumber ciptaan puisi yang baik
telah dikemukakan oleh Wordsworth,seorang penyair romantik Inggris pada
awal abad sembilanbelas. Wordswort mengatakan sebagai berikut.

Penyair adalah manusia yang bicara pada manusia lain. Manusia yang benar-
benar memiliki rasa tanggap yang lebih peka, Kegairahan dan kelembutan jiwa
yang lebih besar. Manusia yang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam
tentang kodrat manusia dan memiliki jiwa yang lebih tajam dari pada manusia-
manusia lainnya.

Wordsworth menjelaskan bahwa keadaan jiwa dengan psikologi khususnya,
akan melahirkan pengungkapan bahasa puisi yang khusus. Pendirian Wordswort
mengenai proses penciptaan puisi yang di katakan sebagai pengungkapan
alamiah dari perasaan-perasaan yang meluap-luap, dari getaran hati yang
berkembang dalam kesyaduan,juga menunjukkan adanya hubungan antara
aspek psikologi dalam proses penciptaan puisi (Hardjana, 1984:62).

2) Psikologi Pembaca
Psikologi pembaca merupakan satu jenis kajian psikologi yang memfokuskan
pada pembaca, yaitu ketika membaca dan menginterprestasikan karya sastra
mengalami berbagai situasi kejiwaan. Yang menjadi objek kajian dalam psikologi
pembaca adalah pembaca yang secara nyata membaca, menghayati, dan
menginterprestasikan karya sastra. Sebagai manusia yang memiliki aspek
kejiwaan maka ketika membaca, menghayati, dan menginterprestasikan karya
sastra yang dibacanya, pembaca akan mengadakan interaksi dan dialog dengan
karya sastra yang dibacanya. Karena memiliki jiwa dengan berbagai rupa emosi
dan rasa, maka ketika membaca sebuah novel atau menonton sebuah
pementasan drama, kita ikut bersedih, gembira, jengkel, bahkan juga menangis
karena tersentuh oleh pengalaman tokoh-tokoh fiktif. Seperti di kemukakan oleh
Iser (1979) bahwa suatu karya sastra akan menimbulkan kesan tertentu pada
pembaca. Kesan ini di dapat melalui hakikat yang ada pada karya itu yang
dibaca oleh pembacanya. Dalam proses ini akan ada interaksi antara hakikat
karya itu dengan teks luar yang mungkin memberikan kaidah yang berbeda.
Bahkan dapat dikatakan bahwa kaidah dan nilai teks luar akan menentukan
kesan yang akan muncul pada seseorang sewaktu membaca sebuah teks, karena
fenomena ini akan memnentukan imajinasi pembaca dalam membaca teks itu.

Psikologi penokohan
Tokoh tidak kalah menarik dalam studi psikologi sastra.Tokoh adalah figur yang
dikenal dan sekaligus mengenai tindakan psikologis. Dia adalah eksekutor
dalam sastra. Jutaan rasa akan hadir lewat tokoh. Saya menyatakan jutaan rasa,
Karena aspek psikologis ini tak terbatas. Meskipun Ki Ageng Suryamentara
(Suastika,2000) mengemukakan aneka rasa psikis, seperti rasa unggul,rasa
takut,abadi,sama, sebenarmya lebih dari itu. Titik rasa itu bahkan ada yang
dipengaruhi oleh kramadangan (keakuan). Karena itu mempelajari tokoh,
memang akan mampu menelusiri jejak psikologisnya. Tokoh kadang-kadang juga
representasi psikis pengarangnya. Pembaca dapat memahami alur psikis
pengarang. Penelitian tokoh memang bagian dari aspek intrinsik (struktur)
sastra. Namun, penelitian tokoh yang bernuansa psikis akan berpijak pada
psikologi sastra. Gabungan psikologisastra dan struktur pun juga sah dalam studi
sastra.

Sastra dalam pandangan psikologi sastra adalah cermin sikap dan perilaku
manusia. Sikap dan perilaku hakikatnya adalah pantulan jiwa. Jiwa yang khayal,
akan dapat dimonitor lewat sikap dan perilaku. Peristiwa kejiwaan ketika
menggerutu, meratap, melamun, menangis, menghindari kenyataan yang tidak
menyenangkan, berteriak histeris, membanting pintu dan menutup diri seharian
di dalam kamar, mencabik-cabik baju, meremas kertas, duduk berkhayal dan
membunuh diri serta melukai orang lain, dan lain-lain, merupakan wujud
perilaku eksternal yang tak dapat dirubah karena sudah terlanjur terungkap dan
merupakan fakta empiris.

Data empiris itu hidup dalam jiwa pengarang. Pengarang sering mengotak-
atik data empiris itu menjadi data imajiner. Pada tataran fakta empiris inilah
diletakkan studi psikologi sebelum sampai pada tataran mental state, atau
keadaan jiwa penanggung gejala jiwa tertentu. Pada tataran tersebut, apa yang
dialami manusia, dirasakan diinternalisasi, dan dihayati sepenuh hati
merupakan peta jiwa. Peta jiwa dapat terang dan buram, tergantung suasana
yang membangun. Tugas peneliti psikologi sastra adalah menemukan metafisik
di balik data empiris tersebut. Inilah yang disebut pencarian titik temu sastra
dan psikologi.


Menurut Siswantoro (2004:31-35), Secara kategori, sastra berbeda dengan
psikologi sebab sebagaimana sudah kita pahami sastra berhubungan dengan
dunia fiksi, drama, puisi, esai yang dijkasifikasikan ke dalam seni (art),
sedangkan psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan
proses mental. Meski keduanya berbeda, tetapi memiliki titik temu atau
kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai
sumber penelitian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat karena
psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak lepas dari dari aspek
kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Pendapat ini
memberikan pemahaman luas bahwa penelitian sastra membutuhkan cara
pandang pemahaman luas bahwa penelitian sastra membutuhkan cara pandang
psikologi sastra.

Psikologi dan sastra sangat erat hubungannya, karena sama-sama berguna untuk
sarana mempelajari keadaan jiwa orang lain. Perbedaannya terletak pada gejala
kejiwaan yang ada. Dalam karya sastra adalah gejala-gejala kejiwaan dari
manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia
rill atau nyata. Namun keduanya dapat saling melengkapi dan saling mengisi
untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap kejiwaan
manusia, berdasarkan teori-teori yang ada dalam psikologi sastra. Dapat
disimpulkan bahwa sastra bisa dijadikan objek penelitian kejiwaan dan dapat
membantu psikolog atau sastrawan dalam melakukan sebuah penelitian
psikologi sastra.

Saran
Penulisan makalah mengenai Psikologi Sastra ini masih jauh dari
kesempurnaan dan memilki kekurangan, baik dari segi teori-teori tentang
psikologi, kajian atau pembahasan serta kata-kata yang digunakan didalamnya.
Kami sebagai penulis mengharap para pembaca untuk lebih menganalisis atau
mengkaji materi mengenai psikologi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media
Presindo.
Komala, Nurul. 2013. Tokoh-Tokoh Analisis Dalam Karya Sastra. (online).
(http://Nurulkomala48.blogspot.com, diunduh tanggal 11 September 2014).

Mahayana, Maman S. 2005. Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening
Publishing.

Nurjanah, Rahma. 2012. Makalah Psikologi Sastra. (Online). (Http://
rachmanjanah.blogspot.com, diunduh tanggal 12 September 2014).
Nurwahyuni. 2011. Psikologi Sastra. (Online).

(http://Oeniwahyuni.wordpress.com,
diunduh tanggal 11 Sepetember 2014).

Tarigan, Henry Guntur. 1995. Dasar-Dasar Psikosastra. Bandung. Angkasa.
Teguh, Wirwan. 2009. Analisis Psikologi Sastra Dalam Roman Larasati. (online).
(http://teguhwirwan.blogspot.com/2009/08/metode-psikologi-sastra-dalam-
roman-larasati-karya-pramoedya-ananta-toer. html, dikunjungi 11 september
2014).

Samier, Arianto. 2010. Psikologi Sastra. (Online).
(Http://sobatbaru.bligspot.com,
diunduh tanggal 11 September 2014).

Wellek, Rene Dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraaan. Jakarta: PT
Gramedia